Senin, 26 Desember 2005

Saiyuuki Backpackers: Recycled

西遊記 Xī Yóu Jì alias Saiyuuki, artinya Perjalanan ke Barat, adalah epik Cina abad 16 dengan tokoh Raja Kera SunWuKong alias SonGoKuu (孫悟空) dan kawan-kawannya menemani guru mereka, seorang pendeta Buddha, melakukan ziarah ke India untuk mencari kitab-kitab Sutra.


Kisah ini, terkenal sebagai satu dari empat karya termahsyur Cina, adalah bentuk fiksi dari pengalaman pendeta sungguhan, mungkin dibuat sebagai sindiran kepada pemerintahan Cina masa itu, sementara tokoh Raja Kera diilhami oleh tokoh dalam Ramayana, Hanuman.
Selanjutnya, entah mengapa, di Jepang kisah ini menjadi sangat merakyat, lebih tenar dari Ramayana itu sendiri.
Osamu Tezuka menampilkan serial sang raja kera di antara deretan kisah legenda dan sejarah yang beliau angkat.
Patalliro si raja gag dalam sebuah serial panjang gag manga yang tenar sejak tahun 70an, juga gak mau kalah dengan memunculkan versinya sendiri, パタリロ西遊記 yang tahun ini dianimasikan segala.
Ada juga anime lain yang menyadap tokoh cerita ini, 幻想魔伝最遊記 (Gensomaden Saiyuki, aku belum pernah nonton sih) tapi huruf Sai "Barat" nya diganti menjadi "Ekstrim".

Yang paling berkesan adalah ketika "disadur bebas" menjadi gebrakan manga akhir abad 20 kesayanganku, Dragonball Z dari Jump Comics.



Dan gak bosan-bosannya, di awal 2006 nanti, pada primetime Senin pula, Fuji terebi akan menayangkan versi dorama Saiyuuki diperankan Katori Shingo sebagai Songoku... Penasaran juga kan, bagaimana cerita yang sedemikian panjang di sinetron Cina dirangkum dalam kerangka drama musiman Jepang?

Jadi membahas ini, karena dalam Perjalanan ke Barat versiku, ada satu jepretan yang membuat terkenang pada karya di atas...
Posted by HelloHihihi, gak nyambung kah?


Jumat, 16 Desember 2005

Project X: Bintang di Muka Bumi

Mengikuti renungan Hayami Masumi, manusia masa kini terlalu tersilaukan oleh gemerlap lampu-lampu kota, sehingga lupa akan cahaya sejati dari bintang-bintang di balik awan.
Namun lain lagi perumpamaan dari ProjectX: chousenshatachi.

projectxMenurut lirik OSTnya, manusia masa kini pun masih cenderung hanya memandangi langit dan melupakan adanya bintang di muka bumi.
...

Project X adalah acara dokumenter mingguan televisi NHK yang punya masa tayang cukup lama, lebih dari lima tahun. Program ini menampilkan tokoh-tokoh di balik layar peristiwa yang terkait dengan kesuksesan dalam proses penciptaan, terobosan teknologi, pengambilan keputusan di saat kritis, karya seni, penanggulangan bencana alam, dan sebagainya.
Sayangnya, karena berbagai hal antara lain kehabisan berita, pemotongan dana dan restrukturisasi, akhirnya dikabarkan bahwa program acara ini akan berakhir tahun ini! Zannen deshitaaa.

Sebagai sebuah program dokumenter, acara ini juga mencatat sebuah rekor dalam soundtracknya. Chijou no Hoshi ・「地上の星」, lagu pembukanya yang dinyanyikan oleh Nakajima Miyuki, sangat digemari terutama oleh orang-orang setengah baya dan lanjut usia, bertahan di top 100 lagu pilihan di daftar Oricon selama hampir 4 tahun (180an minggu), dan karena ditampilkan secara langsung di acara tahun baruan paling beken, Kohaku Utagassen pada penghujung 2002 (walaupun sang penyanyi salah baca lirik), akhirnya di minggu ke-130, awal 2003, melejit mencapai nomor satu.
Kabarnya sih sebagai tayangan terakhir minggu-minggu depan, sang penyanyi bersuara khas ini akan menjadi sorotan.

Patut dicatat bahwa lirik untuk reffrain OST ini, wahai burung layang-layang / dari ketinggian langit / tunjukkan padaku / bintang di muka bumi / ternyata punya latar belakang sebuah cerpen terkenal abad silam karya Oscar Wilde yang saya gemari di masa kecil:

Kalau belum tahu ceritanya, aduh... saya anjurkan baca dulu, sila unduh sendiri, banyak di mana-mana karena hak ciptanya sudah masuk ranah publik, antara lain di taut di atas, di sini, di sini, di sini atau di sini!
Singkat kok, namanya juga cerpen. Kira-kira...
Seekor burung layang-layang yang siap bermigrasi menghindari musim dingin, yang kebetulan hinggap di pundak patung seorang pangeran. Pangeran ini termanjakan oleh kekayaan, bahagia sepanjang hayatnya. Namun setelah wafat dan patungnya ditegakkan di alun-alun kota, barulah ia memperhatikan keadaan sekeliling dan menyadari kesengsaraan rakyatnya.
Untuk menebus ketakpeduliannya selama ini, ia meminta tolong sang burung untuk membagikan permata yang menghiasi pedangnya kepada orang-orang pekerja keras yang layak diberi hadiah.
Semula sang burung melakukannya dengan enggan, namun lambat laun ikut puas akan hasil kerja sukarelanya sebagai utusan pangeran, dan ketika sang pangeran menjadi buta karena berlian untuk matanya habis terbagikan juga, burung layang-layang jatuh hati dan tak tega meninggalkannya, sehingga tetap membantu sang pangeran membagikan selembar demi selembar emas pelapis patungnya, menyisakan sosok patung yang lusuh kusam, walaupun angin kutub yang menusuk tulang sudah berhembus tak tertahankan lagi...

Uwaaah setidaknya bagiku kisah ini lumayan ampuh untuk melenyapkan selera pada benda-benda berkilau bling-bling seperti emas permata, asli mengharu-biru.


Chijou no Hoshi (Nakajima Miyuki)




Lirik selengkapnya beserta terjemahan coba-coba:

風の中の昴  kaze no naka no Subaru
砂の中の銀河  suna no naka no Ginga
みんな何処へ行った  minna doko he itta
見送られることもなく  miokurareru koto mo naku

Bintang Tujuh di dalam angin, Bimasakti di dalam pasir
semua entah ke mana, berlalu tanpa diantar

草原のペガサス  sougen no Pegasasu
街角のヴィーナス  machikado no Viinasu
みんな何処へ行った  minna doko he itta
見守られることもなく  mimamorareru koto mo naku

Pegasus di padang ilalang, Venus di kelokan jalan
semua entah ke mana, berlalu tanpa dijaga

地上にある星を  chijou ni aru hoshi wo
誰も覚えていない  dare mo oboete inai
人は空ばかり見てる  hito ha sora bakari miteru

bintang yang ada di muka bumi
tak ada yang mengingat
manusia hanya memandang langit

つばめよ 高い空から  tsubame yo takai sora kara
教えてよ 地上の星を  oshiete yo chijou no hoshi wo
つばめよ 地上の星は  tsubame yo chijou no hoshi ha
今何処に あるのだろう  ima doko ni aru no darou

wahai burung layang-layang, dari ketinggian langit
tunjukkan padaku bintang di muka bumi
wahai burung layang-layang, bintang di muka bumi
sekarang ini ada di mana

崖の上のジュピター  gake no ue no Jupitaa
水底のシリウス  minasoko no Shiriusu
みんな何処へ行った  minna doko he itta
見守られることもなく  mimamorareru koto mo naku

Yupiter di atas tebing, Sirius di dasar laut
semua entah ke mana, berlalu tanpa dijaga

名立たるものを追って  nadataru mono wo otte
輝くものを追って  kagayaku mono wo otte
人は氷ばかり掴む  hito wa koori bakari tsukamu

mengejar ketenaran,
mengejar kegemilangan,
manusia hanya menggenggam bongkah es

つばめよ高い空から  tsubame yo takai sora kara
教えてよ 地上の星を  oshiete yo chijou no hoshi wo
つばめよ地上の星は  tsubame yo chijou no hoshi ha
今何処にあるのだろう  ima doko ni aru no darou

wahai burung layang-layang, dari ketinggian langit
tunjukkan padaku bintang di muka bumi
wahai burung layang-layang, bintang di muka bumi
sekarang ini ada di mana


Senin, 12 Desember 2005

Putri Padang Pasir


opnamirobinNgomong-ngomong soal Iraq.
Di tengah pencarian dasar rancangan tokoh-tokoh di komik OP tersayang,
Nami sang navigator dan
arkeolog Nico Robin,
yang bisa berkatsuyaku dengan baik di dalam "otoko no roman maron"...

Kenangan tersangkut pada Gertrude Bell (1868-1926), yang secara tak sengaja tertonton dalam salah satu episode dari National Geographic Channel: Treasure Seekers.

Rasa ketertarikan akan dunia timur tengah timbul dari bacaan Alf Laila wa Laila, kisah seribu satu malam yang magis dan eksotik.
Lahir dari keluarga pandai besi, gadis berambut merah ini disekolahkan oleh orang tuanya, mungkin sekedar untuk menambah kenalan, namun memenangkan peringkat pertama di jurusan sejarah modern di Oxford tahun 1890 hanya dalam dua tahun. Namun setelah debut ke pergaulan sosial selama tiga tahun, ia tidak juga berhasil menemukan jodoh yang punya intelijensia dan selera petualang yang mengimbangi, maka ia memilih berwisata ikut bibinya seorang istri diplomat ke persia. Di Tehran ia jatuh cinta dengan diplomat muda yang berbagi minat akan puisi sufi Hafiz yang diterjemahkannya dengan tekun. Namun tidak disetujui oleh keluarganya karena penjudi, dan kemudian meninggal karena pneumonia.

Menjelang pergantian abad ia melakukan perjalanan keliling dunia, termasuk Indonesia (jakarta, bogor, gunung salak, jogjakarta, borobudur, prambanan) dan Jepang (nagasaki, kyoto, tokyo, nikko, atami, enoshima), beberapa pendakian gunung di daerah Alps, dan terutama bolak-balik ke daerah timur tengah, syria dan irak, khususnya situs arkeologi. Mengenai daerah ini, beberapa catatan dan surat-suratnya terbit sebagai buku dan menjadi panduan yang cukup bermanfaat sampai sekarang.

Kabur dari pingitan zaman victoria, di negeri antah berantah ini ia justru dihormati oleh para kepala suku setempat, bisa ikut mengopi dan merokok bersama di dalam tenda mereka, tidak dipandang dalam konteks gender sebagai perempuan melainkan sebagai figur otoritas. Pemahaman yang mendalam terhadap peta, sejarah dan budaya, pengalamannya bertualang serta jaringan perkenalannya dengan penguasa wilayah membuat ia dimanfaatkan sebagai agen intel untuk daerah timur tengah.
Ia berada di balik layar pergerakan Lawrence of Arabia.
Pada Agustus 1921, ialah yang menyelenggarakan penobatan raja Faisal di Bagdad, dan menjadi pengarah selama beberapa waktu, sampai ia melaksanakan tugas mendirikan Musium Nasional Iraq, memperjuangkan artefak Babilon, Niniveh dan Ur yang telah terpajang di musium Inggris agar dikembalikan ke tanah airnya di Mesopotamia.

Ke dunia Arab ia melebur, namun dari dunia asalnya ia terkucilkan. Ia sangat anti terhadap gaya hidup istri-istri diplomat yang ia temui, yang menurutnya tidak peduli terhadap lingkungan sekitar, tidak bergaul dengan masyarakat asing sekeliling... Lebih dari itu, ia juga menentang perjuangan hak suara untuk wanita, karena menurutnya kebanyakan perempuan tidak memiliki kecerdasan dan pengalaman yang cukup untuk ambil bagian dalam pemilu.

Komentator film dokumenter ini menjelaskan dengan miris: Sebagai perempuan yang diakui sejajar di dunia lelaki, mungkin ia takut, andai perempuan lain diberi hak yang sama, ia kehilangan keunikan..???

gertrudebellSetelah semua sepak terjangnya yang sedemikian rupa melanglang buana sebagai ilmuwan, penulis, penerjemah, pakar dunia arab, pendaki gunung, arkeolog, fotografer, penjelajah, politisi, agen intel dan pendiri musium, bahkan digelari sebagai ratu iraq yang tak pernah dinobatkan...
Namun hidupnya berakhir dalam kesepian, penuh keraguan mengenai jalan hidup yang telah ditempuh selama ini, menenggak pil tidur overdosis tiga hari sebelum ulang tahun ke-58...

Pikir-pikir, pantas saja Iraq sekarang hancur lebur. Negara boneka yang didirikan dengan legasi labil sedemikian rupa...

Moshi man ga ichi, watashi mo sou iu joukyou ni semararete kitara, NINGEN no petto demo katte koyo.. tto.

Sabtu, 10 Desember 2005

Nirgendwo im Cisarua

Bandara Denpasar, suatu petang Ramadhan.
"Assalamualaikum," sapaan kulayangkan pada seorang ibu setengah baya berwajah asing yang berwajah lesu dan kebingungan yang menatapku dari jajaran seberang sambil tersenyum pahit.
"Wa alaikum salam. The guys make me scared. They offer me massage, but they are all men!"
"Oh, yahaha, maybe there are some girl massagers inside, if you are really interested?"
"Oh, tidak, terima kasih. Jadwal berangkat sudah dekat. Hanya saja saya lelah, mengangkut barang sendirian dari rumah di desa sampai Melbourne, perjalanannya cukup lama, sampai tujuh jam."
"Oh, orang Australia? Tidak ada yang menemani?"
"Iya, tapi saya keturunan Irak, lahir di London. Mau bertemu suami, dia tak punya visa untuk menjemput. Lah kamu, kok pergi sendirian? Tidak bersama ayah-ibu? Bersekolah?"
"Haaa? Saya sudah lama lulus master gitu loh..."
"... Wah... Hihihi maaf, saya kira kamu baru berusia enambelasan..."
"Oke, saya anggap itu pujian awet muda."
"Tapi mungkin cuma karena kamu pendek dan mungil, jadi terkesan masih anak-anak..."
"Yahaha, yah terserah lah."
"Kamu naik pesawat ini juga? Do you think it's gonna be light?"
"Why light?"
"Laid, you know, laid, when it goes not in time..."
"Oh sorry, I misheard. Late? I hope not, but it is possible. Nowadays they place importance on safety. Maka pemeriksaan mesinnya mungkin menghabiskan waktu lama. Yah, better late than failure... Tenang saja, kalau keburu maghrib, saya bawa bekal."
"Oh, saya terlalu lelah, tidak puasa. Memang belum makan, tapi tidak mau. Takut muntah. Dulu saya pernah muntah. Nanti saja kalau sudah sampai, suami saya pasti memasakkan untuk saya."
(Melihat sosok semampai seperti ini berlagak lemah, nandaka chotto mukatsuku naa)
"Tapi kalau saluran pencernaan dibiarkan kosong, asam lambung akan membuat perut mual!"
"Yah, nanti saya coba makan di pesawat. Yang saya paling inginkan sekarang, sebenarnya mandi. Saya hanya takut kalau ditinggal. Terakhir saya ke Jakarta, telat satu jam dan suami saya tidak menunggu, keburu pulang. Repot deh, saya sebenarnya tak tahu jalan."
"Heee? Masa sampai begitu? Tega amat! Tapi tenang saja, nanti saya tunggui deh sampai dijemput."
(Dengan lagak jauh lebih tegar dan mandiri, padahal kalau sendirinya gak dijemput, malam-malam di bandara yah berabe juga)
"Eh ngomong-ngomong ruang tunggu ini kosong ya, selain kita cuma ada tiga orang. Mungkin pada takut bepergian karena bom kemarin? Kalau pesawat kosong, nanti pindah duduk yang berdekatan ya."
...
(Ternyata itu dugaan ini meleset. Pesawat dengan segera penuh sesak oleh para pelancong tak kenal takut. Tapi berhasil juga barter tempat duduk dengan seorang wisatawan Jepang yang memaksa bicara bahasa Inggris dengan payahnya, nihongo dekiru noni.)
...
"Suami kerja apa di Indonesia? Tugas diplomasi? Bisnis?"
"Uhm, tidak, tidak kerja apa-apa."
"He?"
"Dia sedang menunggu izin ikut saya ke Australia, tapi sulit memperolehnya. Jadi saya yang harus menjenguknya."
"Oh begitu? Dia bukan orang Australia?"
"Dia orang Iraq. Pengungsi."
"Wah... Masih parahkah kondisi Iraq?"
"Tentu. Perang belum benar-benar usai. Kalau mau aman, ke Iran. Tapi susah juga mendapat izin masuk ke sana."
"Oh ya, saya tahu, mereka tidak menerima visa wisata ya. Harus ada kenalan."
"Suami sudah tiga tahun di Indonesia. Tapi kami baru menikah enam bulan. Sebulan pertama saya ikut tinggal di Cisarua Bogor, tapi habis itu saya sakit dan stress, muntah-muntah, jadi lari pulang ke Australia. Sekarang ini baru balik lagi."
"Haaa masih baru bulan madu???"
"Iya. Huhuhu, ini orangnya."
(Dengan wajah merona seperti anak remaja, ia mengeluarkan liontin berisi guntingan foto, memuat sosok yang menghapus pandangan stereotipku bahwa pria Iraq equal Saddam Husein, yang ini kriting lebih mirip Kaddhafi, dengan mata belo Nicholas Cage gitu loh...)
"Hieee... Kelihatannya jauh lebih muda, ya?"
(Masih dengan seksama meneliti foto sambil ternganga atas kejutan bertubi-tubi ini...)
"Masa? Usianya sudah tiga delapan kok. Mungkin karena ia menyepuh uban, dan agak kurus karena sengsara, jadi kelihatan muda. Tentu saja saya memang sedikit lebih tua... Apakah menurutmu kami tidak sepadan???"
"Eh, bukan begitu, serasi juga kok, hanya saja meleset dari bayangan saya semula..."
"Yah, pertama dikenalkan oleh teman, saya sebenarnya memang tidak tertarik, menganggap He is such a baby! Tapi setelah lama berkorespondensi, tutur katanya baik, ( gombal, kali, maksudnya?) maka saya pikir kenapa tidak? Selain dia, yang pendekatan pada saya kebanyakan orang kaya dan pintar tapi botak dan buncit, uh nggak deh! Tentu saja dalam memilih lelaki tampang tetap penting."
"Yahaha, setuju saja deh. Lalu, memangnya waktu di Iraq, apa pekerjaannya?"
"Tukang cukur."
"Kenapa tidak mencukur saja di Indonesia?"
"Entah, sebagai pengungsi mungkin susah melamar ke mana-mana. (Oh, just say tukang cukur melimpah di Indonesia.) Tapi rambut saya kemarin dia yang potong, hihihi..."
"Hmmm, di Australia laris manis kali yah, mencukur biri-biri. Kalau pekerjaan sister di Australia selama ini apa?"
"Saya mengajar bahasa Inggris. Untuk belajar di lembaga resmi, orang asing sulit mendapat izin, jadi saya mengajar khusus untuk pengungsi. Siapa lagi yang melakukan kalau bukan kita-kita juga. Putri saya juga sudah bekerja urusan layanan sosial."
"Oh, sudah punya anak besar?"
"Yah, saya menikah muda, dan sayangnya pernikahan kami gagal. Sepanjang hidup saya digunakan untuk menikah, menikah dan menikah. Hey, do you find Indonesian men bossy?"
"Bossy? Hue, mungkin ada, tapi yang jelas tidak di lingkungan saya."
(What, ikinari, hendak mengangkat masalah feminisme kah?)
"Kalau pria Iraq berlagak ngebos. Jadi kami perempuan takut pada mereka. Saya juga takut pada suami saya yang sekarang. Makanya saya kabur kemarin itu. Tapi setelah cukup lama berpisah, yah kangen juga."
"Jauh di mata dekat di hati lah, ya?"
"Kalau dipikir-pikir, dia sebenarnya baik kok. Hanya saja udara Bogor saat itu mungkin tidak sesuai untuk saya. Tapi untuk tiga bulan ini saya akan bertahan."

"Yah, semoga bahagia."
"Ugh, saya tidak akan makan lauk! Nanti mulut saya bau. Makan kueh saja deh. Tak lupa disemprot pewangi mulut. Coba lihat lipstik saya, sudah rapi belum? ..."

(Toka nantoka, kebahagiaan perempuan itu adalah terletak pada kerelaannya mau dibos-in keli ye...)
Untuk sister Leslie, selamat menempuh hidup baru, semoga sukses.



Putri Padang Pasir