Sabtu, 21 April 2007

Serban Noguchi dan Sanggul Kartini

Noguchi Hideyo (1876-1928, hmmm hidup nyaris sezaman dengan ibu kita Kartini, 1879-1904) bisa dipastikan sebagai sosok teladan yang menggugah Kiriko, Yamane dan Fukubee sejak sekolah dasar untuk mulai melakukan penelitian terhadap aneka ragam kuman (walaupun tak pernah terang-terangan disebut dalam cerita mereka).

noguchihideyoBeliau adalah ahli mikrobiologi Jepang pertama yang mendunia. Meneruskan kuliah ke Amerika, beliau mempelajari racun ular, vaksin cacar, diagnosa trakoma, kemudian menemukan bakteri penyebab siphilis, serta meletakkan dasar berbagai metoda ilmiah dalam bidang imunologi. Sempat masuk nominasi penerima hadiah Nobel. Tragisnya, beliau meninggal di Ghana Afrika gara-gara tertular saat meneliti penyakit kuning. Ucapan terakhirnya, "aku tak mengerti."

Biografi masa kecil Noguchi Hideyo mudah kita temukan di buku-buku teks pelajaran bahasa Jepang. Bagaimana Seisaku (nama lahirnya) kecil belajar keras dengan tangan kirinya yang cacat terbakar api di usia dua tahun, sambil menahan cemoohan dan gencetan.
Berkat bantuan guru dan teman-temannya di sekolah menengah,
ia berhasil dioperasi sehingga tangan kirinya bisa bergerak lagi.
Peristiwa itu mendorong dirinya untuk mempelajari ilmu kedokteran.

noguchihahaKebanyakan narasi yang beredar menggambarkan betapa besarnya sosok sang ibu dalam membentuk sang putra menjadi orang hebat, dan menghapus sosok ayah yang pemabuk dan penjudi.
Ada yang mengatakan, seperti halnya kisah Kartini disebarluaskan oleh para pendukung politik etis Belanda, kisah keteguhan hati ibunda Noguchi ini dimanfaatkan pemerintah untuk propaganda "ryousaikenbo" baik di zaman sebelum maupun sesudah perang.
Sebagai sarana memperkuat perempuan untuk menjadi ibu yang bertanggung jawab, dan memberikan perempuan status sosial yang mengabaikan dasar-dasar otoritas patriarki... tsaah.

Menurut Sensei Bahasa Jepangku dulu, sebenarnya Noguchi Hideyo tidak pantas dianggap sebagai pahlawan patriot bangsa karena beliau adalah tipikal ilmuwan yang pikirannya hanya terkonsentrasi ke penelitian yang ada di hadapannya. Andaikan saja sang ibu yang cenderung tunaaksara tidak memaksakan diri menulis surat ke Amerika dengan huruf katakana dan hiragana, beliau pasti lupa mudik dari pengembaraan selama 15 tahun itu.

noguchitegami
Orang-orang kagum dengan kesuksesanmu. Saya sangat bangga.
Kepada Kannon Nakata, setiap tahun saya bertapa. Sebagaimanapun belajar, takkan ada habisnya.
Ada masalah kah di Iboshi? Kalau kau datang, buatlah alasan.
Di musim semi, semua pergi ke Hokkaido, saya kesepian.
Saya mohon, kembalilah segera.
Saya tidak bilang ke siapa pun dapat uang.
Kalau saya beritahu akan ditelan oleh mereka.
Kembalilah segera. Kembalilah segera kembalilah segera.
Kembalilah segera. Ini keinginan sekali seumur hidup.
Saya berdoa ke arah Barat. Saya berdoa ke arah Timur.
Saya berdoa ke arah Utara. Saya berdoa ke arah Selatan.
Tanggal satu saya puasa garam.
Dan kepada eisho-sama, tanggal satu saya juga berdoa.
Walaupun melupakan yang lain, yang ini tidak dilupakan.
Saya melihat foto. Kembalilah segera.
Beritahu saya kapan kau akan pulang.
Saya menunggu jawaban, sampai-sampai tak dapat tidur.

Kata-kata yang sungguh menyayat hati.
Masih untung setelah menerima surat itu, beliau tergerak pulang, walaupun hanya sekali namun disorot heboh oleh media Jepang, sehingga beliau tak perlu menyandang gelar Malin Kundang.

Bagaimanapun juga tetap saja, pengaruh sosok Noguchi Hideyo telah mengakar di dalam hati "anak-anak abad 20" itu.
Maka demi memperingati beliau, kabarnya mulai tahun depan Jepang bermaksud menyelenggarakan Hideyo Noguchi Prize for Africa, yaitu sebuah penghargaan bergengsi sekaliber Nobel, dikhususkan pada bidang kedokteran dan pelayanan medis melawan penyakit infeksi, dengan hadiah sebesar 100 juta yen.

Sedikit terlambat dari Kartini yang telah beberapa kali muncul dalam lembaran mata uang rupiah, wajah Noguchi juga mulai menghiasi lembaran 1000 yen, menggantikan Natsume Souseki sejak 2004.

touryounoguchigananoguchi

Dan entahlah karena tergelitik oleh bentuk rambutnya yang aneh nyaris sekaliber Einstein, orang-orang Jepang tiba-tiba bersemangat melipat uang seribuan itu untuk membentuk serban atau tutup kepala lain yang unik-unik bagi Noguchi. Istilah kerennya, Turban Noguchi.
Koleksi gaya Noguchi (dkk) bisa dilihat di sini.
Buku panduan teknik melipat berbagai macam serban untuk beliau, Osatsu de Origami: Tuerban Noguchi no Tsukurikata terbit bulan lalu.



video: cara membuat Tuerban Noguchi, dengan bonus:
parodi origami oleh Rahmenz Japan Culture Club, dan
liputan 3 besar origami tercanggih dunia karya Kamiya Satoshi


Sayangnya, pada kebanyakan uang rupiah lembaran, rata-rata penghuninya sudah berserban ataupun berpeci.
Seandainya uang rupiah bergambar Kartini masih banyak beredar, tentu aku akan berusaha menutupi keningnya yang nongnong dan memasangkan selendang, kerudung, ataupun topi petani...

Senin, 09 April 2007

Menara Matahari ・「太陽の塔」

Seharusnya minggu ini aku menelusuri jejak langkah tahun 1997, sepuluh tahun yang lalu (!!!) mengenang saat pertama kali mendarat di bandar udara internasional Kansai, dan berjumpa dengan benda menyeramkan yang sering menghantui mimpiku: Taiyou-no-Tou.

taiyounotouTerutama tahun pertama, selama masa bertapa di asrama gunung Minou, Banpaku Kinen Kouen (Expo'70 Memorial Park) nyaris menjadi tempat wisata satu-satunya.
Di sana ada museum, taman bermain, sarana olahraga dan kebun bunga. Untuk mencapainya, kita menggunakan monorel.
Berbagai kegiatan yang diselenggarakan di sini sering aku ikuti, namun saking seramnya pada wajah yang mirip lukisan Picasso itu, tanpa sadar aku selalu menghindari menara matahari ini.

Bahkan sampai lupa bahwa ternyata di antara selemari foto-fotoku, aku sempat juga beberapa kali dijepret dengan latar belakang menara matahari ini. Misalnya foto sebelah dipaksa bergaya oleh Pak Baskoro AR-ITB di sela-sela acara barbecue musim gugur bersama PPI Osaka dan Konjen RI, foto di tengah merayakan selesai ujian bahasa bersama Surya dan Caroline, dan foto paling bawah saat jelang musim panas mengunjungi museum etnologi bersama host family dan rekan seasrama.

taiyouumeBarulah sejak terbenam dalam ketegangan horor manga 20th Century Boys, dan merasakan euforia antre berdesak-desakan di Aichi Banpaku (Expo'05), aku bisa mulai memahami dan menghargai betapa pentingnya keberadaan monumen surealis karya Okamoto Taro ini bagi masyarakat Jepang pada umumnya, dan anak-anak masa itu pada khususnya: dalam romantisme mengangankan Abad 21.

Selain itu, kesan seram yang aku peroleh dari Menara Matahari membuktikan keberhasilan sang seniman menerapkan teori beliau: seni masa kini itu tak boleh rapi, tak boleh indah, tak boleh nyaman.

Sesuai dengan tema Expo'70, "kemajuan dan keselarasan manusia", menara ini punya wajah picasso di muka (masa kini), wajah hitam di punggung (masa lalu), wajah keemasan di puncak (masa depan), lalu kabarnya pernah ada wajah tambahan yang telah hilang di dasar bangunan.
Di dalamnya ada "pohon kehidupan" yang menampilkan berbagai tingkatan keanekaragaman hayati.
Entahlah kalau memang ada Bom Antiproton tersembunyi di sana... (eh itu sih di menara matahari versi tokyo 2015 yah)



banpakukoen

Ngomong-ngomong soal masa lalu: jadi ingat bahwa sastra pertama yang menjadi kegemaranku di masa balita adalah karya Ajip Rosidi (sastrawan yang kebetulan juga pernah di Minou) lama bermukim, buku kumpulan puisi berjudul "Sajak-sajak Anak Matahari".

Ngomong-ngomong soal masa kini: gagal napak tilas 10 tahun, aku mundur 3 tahun lagi ke belakang, kembali bergadang di gunung untuk menunggui anak-anak itu menyambut pagi sambil terharu biru menyanyikan lagu "Mentari, menyala di sini..."

Ngomong-ngomong soal masa depan: kebetulan aku baru mendoakan, semoga film karya seorang teman tak perlu bernasib harus mengulang penjelasan judulnya berkali-kali di tengah cerita gara-gara kebagian digarap oleh sutradara film "Mengejar Matahari".