Minggu, 23 November 2008

Pesta tanpa Fiesta

Perjalanan menuju pesta blogger sempat dirundung rasa kesal. Dalam undangan, dikatakan bahwa demi menghindari antrian panjang di pagi hari, tiket bisa diambil di suatu tempat nongkrong sebelum pukul sepuluh malam. Karena banyak acara pagi hari, saya datang ke sana pukul sembilan malam, ternyata tersia-siakan karena seluruh panitia pergi rapat. Tega nian. Kalau memang ada jadwal rapat, tidak perlu bilang ada kesempatan mengambil tiket jam segitu dong!

Besoknya untung saya hadir tepat sebelum pesta dimulai. Ketinggalan beberapa bonus, sih. Dan entah karena ruangannya memang terlalu besar, rasanya yang datang belum mencapai seribu orang seperti harapan. Dari komunitas saya pun tidak ada yang hadir (memangnya yang mana, ya). Hanya segelintir yang saya kenali: Enda tentunya, Sawung, beberapa teman dari pesta tahun lalu, dan di akhir acara sempat menyapa teh Nita. Mungkin yang lain tidak berpapasan karena lost in the crowd. Menteri yang menyambut pun parah: Pak Kus. Tapi mungkin ngalor-ngidulnya memang serasi dengan suasana santai para blogger.

Moderator dari keseluruhan acara diskusi pleno ternyata mantan ketua pesta blogger sebelumnya. Dia, lagi. Enda ini organisatoris yang matang, penulis yang brilian, dan jelas menguasai masalah perblogan, namun sialnya belum berhasil menjadi orator yang memukau. Garing! Diskusi di depan berjalan cukup hangat, namun tidak benar-benar menyerap perhatian penonton. Semua sibuk dengan teman di sebelah masing-masing, ada beberapa wartawan yang mencuri-curi kesempatan mewawancarai pentolan-pentolan komunitas, sementara yang masih tulus ingin mendengar tenggelam di balik keributan di sekelilingnya.

Makan siangnya... Oalah mak jaaang, ini pesta apa pesta sih? Sudah mah seumprit, tidak ada sayur hijaunya sama sekali, kusam pula. Kita kan sudah bayar iuran 50 rebu untuk ini! Mungkin gunungan gurilem dan bernampan-nampan rujak akan lebih meriah daripada nasi kotak yang menyedihkan ini. Apalagi karena tidak boleh makan di dalam aula, bergeletakanlah kami di lorong-lorong dengan sengsara...

Sesuai niat awal, saya mengambil sesi turisme. Beberapa blogger dalam dan luar negeri menjadi narasumber, berbagi pengalaman menarik mereka dalam menulis mengenai perjalanan dan wisata. Namun sesi tanya jawab malah didominasi oleh keluhan-keluhan terhadap pelayanan dan sarana prasarana wisata di Indonesia, dibalas pula dengan tanggapan ngeles berulang-ulang oleh pihak sponsor, Depbudpar yang tak sudi dipersalahkan. Wajaaaw...

wisata

Saya sendiri bertanya tentang penayangan peta dalam berita perjalanan. Kebanyakan mereka memanfaatkan google maps, ternyata bisa dibuat jalur perjalanan juga. Namun setahu saya google maps tidak menyampaikan info ketinggian tempat, sehingga untuk peta naik-turun gunung-lembah, tentunya kita mesti membuat peta manual lagi...?

Partisipasi bertanya ternyata membuat saya berhak atas sekantung oleh-oleh dari Depbudpar berupa dua macam kaos dan sebuah gantungan tas visit indonesia, dua buah buku besar hardcover licin berwarna serta beberapa lembar peta dan brosur promosi wisata Indonesia. Horeee, cukuplah untuk membuat kelompok diskusi lain sirik...

Kesimpulan sesi ini sih, bahwa sebagai travelblogger, subjektivitas justru adalah daya tariknya. Tak perlu ragu kalau tulisan kita tidak profesional, yang penting berusaha menampilkan informasi dan tips-tips khusus dari hasil pengalaman sendiri.
Nantinya orang yang berselera mirip dengan kita dapat memanfaatkan dan mengolahnya dengan melakukan perbandingan info dari pihak-pihak berkepentingan ataupun blog lain. Sayang sekali saat diskusi ini menghangat, waktunya keburu habis.

Setelah acara pengumuman pemenang lomba foto dan pembahasan hasil diskusi, pesta berlanjut dengan berbagai undian berhadiah, diselingi hiburan blogger artis. Sayangnya semua hadiah diundi satu persatu, membuat seluruh perhatian terpusat pada MC, bising dan melelahkan sekali. Padahal ini kesempatan untuk lebih beramah-tamah, atau seharusnya waktu yang ada dapat dimanfaatkan untuk perpanjangan diskusi tematik. Sementara orang yang memilih membuat acara sendiri antarsesama mereka gak bakal bisa mendengar nomor dipanggil, sehingga gak kebagian hadiah. Gak adil. Dan entahlah apa kaitannya undian berhadiah ini dengan tema mengeblog untuk masyarakat. Rasanya gak nyambung, dan terlalu hedon.

Moral cerita ini: kalau mau bikin pesta meriah yang menyangkut banyak kepentingan, daripada memperbanyak hadiah undian, lebih baik menghebohkan menu makanan!!!