Kamis, 12 Agustus 2010

Cobaan Ramadhan #1

Mungkin, ini karma beruntun dari peristiwa-peristiwa minggu lalu:

  1. Mempermasalahkan kenapa bertelanjang kaki disebut kaki ayam, ketika kemarin membahas manga Hadashi-no-Gen. Kenapa bukan kaki monyet (berbentuk tangan?), kaki bebek (ada selaputnya?), kaki kuda (ada ladamnya?), kaki sapi (untuk disop), kaki kucing (istilah balet), kaki buaya...???

  2. Menganggap Ibunda saya kurang kerjaan ketika iseng memasang dan mengomentari lukisan satu ini.

  3. Menertawakan Pak Farid Gaban yang mengaku kehilangan MacBook Pro dua kali: satu rusak tenggelam saat berperahu antarpulau ekspedisi zamrud khatulistiwa, satu dicuri di bus antarkota saat bersiap-siap pindah ke kampungnya.

  4. Merasa diri ini cukup s.a.k.t.i sehingga tidak bakal ada copet yang tegaan, terbukti belum pernah seumur hidup kecurian barang, apalagi barang penting, yang ada hanyalah barang penting tersebut terselip ataupun rusak kena bencana alam.

  5. Juga kebetulan tiga minggu lalu, baru membahas keutamaan lari nyeker (a.l. memperlancar peredaran darah, anggap saja pijat refleksi) kepada angkatan terakhir KANST yang mengeluhkan beratnya tugas tersebut dibebankan oleh angkatan atasnya (yang mungkin sesungguhnya memang hanya berniat menyusahkan mereka, bukan karena mempertimbangkan keutamaan tersebut...)

  6. Tapi mungkin ada peristiwa lain yang mempengaruhi yang tidak saya sadari sama sekali.



D I C A R I


alas kaki saya tercinta, sepatu sandal pantai ukuran anak-anak nomor 36, warna abu-abu dengan pita merah, sol hitam-merah. Merek reebok, harga beli kortingan 270 ribu rupiah.

Sudah dipakai habis-habisan setiap hari selama enam bulan terakhir di semua medan pertempuran: lari pagi, bersepeda, berkuda, lintas alam, panjat gunung, arung jeram, kelelep di sungai, berenang di laut... ke kantor, ke pasar, ke dokter gigi, ke masjid, ke mushala, ke upacara pemakaman, ke pesta kawinan, naik kereta api, naik pesawat, naik perahu, keliling Indonesia...

Hilang di Jakarta pada tanggal 11 Agustus 2010, pukul 21.00 WIB, saat bubaran acara tarawihan eksklusif memperingati ulang tahun Almarhum Mantan Ibu Negara, dihadiri oleh tamu-tamu VVIP dan dijaga oleh paspampres.

Saya masih berharap bahwa sandal ini tidak dicuri orang, hanya mengalami pergeseran tempat, karena saya sangat terlambat keluar ruangan, setelah karpet digulung lampu dimatikan dan pintu depan dikunci. Pastinya sepatu tersebut diamankan ke tempat lain.

Selain itu mengingat ukurannya yang kecil, warnanya yang kusam penuh debu lumpur bahkan lubang-lubang udaranya masih mampat dipenuhi pasir sisa petualangan lalu, tentunya tidak akan ada yang berminat secara khusus.

Perlu diketahui bahwa sepatu ini bukanlah sepatu termahal yang saya miliki, namun yang lain sedang tidak ada yang dapat dipergunakan sebagai alas kaki karena sedang jebol ataupun solnya sudah aus. Tinggal yang sepasang inilah sepatu saya yang tahan banting dan tahan banjir...

Dan bahwa repotnya memilih sepatu yang pas di muka itu sama sulitnya dengan memilih jodoh; belum tentu juga model ini masih dijual di pasaran, apalagi saya harus tabah menunggu THR turun.

Saya sempat kehilangan sebelah sepatu bulan November 2009, di mushala stasiun Gambir, kemungkinan terseret koper orang ke restoran seberang. Minggu berikutnya saya berhasil memperolehnya kembali berkat bantuan petugas pembersih di sana.

Makanya saya yakin jika memang hak milik, pasti akan kembali, dan jika memang bukan rezeki, pada akhirnya saya akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Saya hanya berharap sepatu tersebut tidak sia-sia hilang dari hadapan saya, agar siapa yang mengambil dapat menggunakannya dengan pas dan nyaman, bukan karena tersapu masuk tong sampah karena kelalaian belaka. Omnia Mutantur, Nihil Interit.

Bagi yang menemukan, mohon kabari Kanti di tempat biasa.

PS: Terima kasih kepada rekan-rekan baik di Patra Kuningan maupun yang baru kenal di di busway, angkot, dan sepanjang jalan, atas belas kasihan dan tawarannya meminjamkan sandal jepit. Namun saya pahami jika takdir menggariskan bahwa sandal saya harus hilang, berarti takdirnya saya pulang nyeker.
Pada dasarnya nyeker bukan masalah bagi saya, yang masalah adalah kenyataan bahwa bagian hidup saya hilang saat ini (sungguh bukan lebay).


Semoga saja tulisan ini cukup sampai di mari, tidak bersambung lagi esok hari menjadi Cobaan Ramadhan #2 dan selanjutnya.
***
UPDATE 14/08: Alhamdulillah, cobaan nyeker sepanjang hari telah berakhir, usaha menempelkan selebaran di setiap pos satpam berhasil, sepasang sandal saya telah kembali ke kaki.

Rabu, 04 Agustus 2010

Beta Kanti, Rujak, wa, ne

... irama ganggang dan api membakar pulau...

Bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi kota-kota teluk yang daerahnya punya sejarah konflik: Ambon dan Palu, untuk proyek Literasi Media. Foto-fotonya bisa diintip di album BayWatch Ultimate Adventure.

Yang saya prihatin, adalah penyelenggaraan acara internasional Sail Banda. Dari posternya saja mereka menggunakan font comic sans gitu lho! Ban Comic Sans!
Belum lagi komposisi warna dan latar belakangnya. Benar-benar kegagalan fungsi, pengabaian desain.


Oh ya saya masuk televisi pas lagi makan nasi kelapa ikan bakar sambal colo-colo di pengkolan Batu Merah... Katanya ditayangkan kemarin di acara Koki Cilik. Gara-gara sedang berusaha melek media, saya mengomeli yang menyorot mengambil gambar para pelanggan tanpa permisi, ehhh ternyata orangnya kenal tim kami, karena dia pernah tugas meliput acara bincang-bincang. Supaya gak protes, malah diwawancara soal makanannya... Hahaha gak penting.