Kamis, 03 Desember 2009

Hujan Darah dan Kusarigama

Gara-gara terimbas suasana "hujan deras dengan air mata", hujan bintang jatuh dan hujan durian runtuh selama November kemarin, juga sebagai pelampiasan gondok setelah dipanas-panasi menonton konser gak penting dengan tiket seharga 3 juteng yang jelas-jelas gak terjangkau, akhirnya bela-belain menonton Ninja Assassin mumpung harga tiket bioskopnya cuma 8 rebu rupiah. Ugh kesenjangan sosial...

Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk mengamati sisi lain sosok yang (terutama menurut khalayak Asia dan Amerika) termasuk satu dari Seratus Manusia yang "Membentuk Dunia Kita" mungkin karena mata indah tanpa lipatan kelopak yang bahkan sempat membuat Stephen Colbert tersaingi itu hua ha ha ha haaa.

Sesuai info awal yang hanya diperoleh dari teman-teman sana-sini (karena sialnya gak sempat nonton trailer, internet kantor diblokir), belum muncul judul, layar sudah dipenuhi serpihan tubuh dan cipratan saos tomat, gileee dahsyatlah walaupun konon masih belum se"afgan" happy tree friends.
Seharusnya ini bukan film yang perlu dipikirkan panjang lebar, tapi tetap saja kepikiran jugaaa sialaaan.



Wajah Asia

Hal pertama yang terbersit di kepala: Yakuza yang muncul di adegan pertama saja sudah jelas tidak ada yang berwajah Jepang sama sekali walaupun masih dalam ras Mongoloid. Sementara ninja-ninjanya, ternyata digambarkan sebagai kumpulan manusia berbagai suku bangsa, ada yang bule dan negro juga, walaupun tidak disorot lebih dekat. Mungkin semuanya juga dibaptis dengan nama Jepang.
Tapi apakah orang Amerika tidak berminat mempelajari lebih jauh kebudayaan Asia lainnya, sehingga yang ada pasti dari jepang ke jepang lagi? Ataukah untuk menampilkan sesuatu yang melibatkan kekerasan, dengan pertimbangan kejahatan di masa perang dunia II, hanya Jepanglah yang dianggap layak menjadi kambing hitam?
Kalau sesungguhnya film ini dirancang khusus untuk menampilkan sang seniman kesayangan kita yang satu itu, kenapa tidak menggali kebudayaan Korea yang sejenis, masakah tidak ada?
Indonesia saja katanya punya "Kakehan"...

Dilema Stockholm Syndrome

Entah bagaimana, hal paaaling penting yang terasa kurang di sini adalah konflik batin sang tokoh utama.
Yeah okelah, dia menuntut balas dendam terhadap kematian sang kekasih yang dihukum oleh klannya karena melarikan diri. Namun apa pun yang terjadi, dia dibesarkan di klan tersebut, masakah tidak ada semacam stockholm syndrome yang tersisa terhadap sang guru dan kelompoknya? Padahal sudah banyak teladan film-film kungfu China yang sukses mengangkat dilema ini. (Dalam Kill Bill, misalnya, terlepas dari aksi gila kekerasan yang norak habis lengkap dengan segala elemen otaku, adegan berhadapan antara Black Mamba vs Bill cukup menusuk jantung dan menguras air mata.)
Dan masakah dia hanya memberontak seorang diri tanpa berusaha terlebih dahulu membisiki rekan-rekan seperguruannya untuk berkomplot menyelenggarakan kudeta? Padahal dia sendiri dibisiki oleh sang pacar. Bukankah bersama menghadapi kesulitan seharusnya mempererat rasa kesetiakawanan.
Dia berhasil pula meminta bantuan Europol untuk menyerang klannya itu, bukankah ini semacam pelanggaran batas negara? Atau jangan-jangan dojo ninjanya bukan di Jepang tapi di pegunungan Alpen?
Yang jelas adegan ini serupa dengan berbagai peristiwa perebutan kekuasaan Nusantara yang meminta bantuan pihak asing dan selanjutnya membuka peluang penjajahan di tanah air.

Senjata Canggih

Sejak seribu tahun yang lalu, selain disiplin pendidikan sebagaimana diamati oleh Ibn Battuta (halah bawa-bawa Battuta segala), organisasi rahasia ini juga mempunyai kemampuan memproduksi senjata tercanggih pada masanya, dengan keahlian metalurgi tingkat tinggi yang berhasil membuat shuriken dan kyoketsu shoge dengan ketajaman, kelenturan, kekuatan dan kesetimbangan yang pas.
Ketika mereka disinyalir sudah bersedia menerima pembayaran senilai seribu pon emas dalam bentuk modern: nilai euro melalui transfer bank internasional, masakah mereka belum sudi merangkul persenjataan modern juga?
Ketika tiba-tiba diserbu oleh helikopter, panser dan senapan mesin, walaupun pertarungan sempat tampak seimbang, akhirnya kalah juga dalam sesaat, sangat mengenaskan apalagi jika dibandingkan dengan reputasi mereka selama seribu tahun tersebut. Masakah mereka tidak punya peralatan yang setara dengan deteksi radar satelit dan sebagainya; kalaupun bukan dalam bentuk teknologi modern, dalam bentuk ilmu sihir kek gitu...

Filosofi Antibonsai

Satu hal yang bagus dalam film ini adalah cara pandang yang menolak untuk mengelu-elukan adat pendidikan ninja yang kenyataannya membentuk orang secara paksa menjadi alat pembunuh. Sebagaimana pandangan Kiriko ketika menyabot pembuatan bonsai, "jantung setiap pohon pasti tahu ke arah mana ia harus tumbuh."
Tapi sayangnya, sang tokoh utama kita tetap memanfaatkan kemampuan membunuh yang ia peroleh selama ini hanya untuk membantai klan tempat dia dibesarkan, bukannya berpikir dalam bingkai lebih luas; seperti misalnya membasmi orang-orang yang mungkin berminat untuk memanfaatkan jasa mereka, orang-orang yang mampu memberi imbalan senilai 1000 pon emas.
Akar kejahatan pun belum tertumpas.

Nilai: Satu setengah bintang.

Satu bintang: demi melihat si Jung Ji-hoon alias Pi/Bi/Yu/Rain dan kouhainya si siapa itu pamer otot (dan bekas-bekas luka) sembari mengucapkan dialog-dialog aneh berbahasa inggris. Semoga saja film ini tidak menjadi pembunuhan karir mereka.

Setengah bintang: untuk filosofi bonsainya, setidaknya dengan ini sedikit lebih baguslah daripada Dragonball the movie (halah ngapain juga diperbandingkan ya).

***
Pelajaran yang bisa dipetik:

  • ninja ternyata tidak mengendap-endap dalam senyap, tapi sambil mengancam-ancam dalam bisikan seperti basilisk di harry potter.
  • ninja sejati akan tahu kalau seorang cewek berbohong mengenai ukuran celana jinsnya.
  • kalau ada cewek asia bertubuh sintal yang minta bantuan melipat seprai di tempat cuci di pelosok berlin, hati-hati dengan senjata tajam yang dipegangnya, dia pasti seorang ninja.
  • tidak akan ada yang bisa selamat dari serbuan ninja kecuali kalau dia terlahir dengan jantung di sebelah kanan.


Setelah menonton ini, mungkin ada baiknya memutar ulang drama seri Full House, MV-MV breakdance atau setidaknya merenungi kembali rangkaian persaingan dengan Stephen Colbert dulu itu, demi mengejar unicorn memulihkan citra yang terpatri di otak... :p

Menonton lagi gemerlapan Speed Racer juga lumayan tuh, terutama dialog:
"Was that a ninja?!"
"More like a nonja. It's sad what'll pass for a ninja these days..."

3 komentar:

dui mengatakan...

halo :) salam kenal... kekekek pas baca bagian wajah asia...diantara mereka ada beberapa pelajar dari indonesia loh (dari yang jadi ninja, pedagang asongan sampe cewe yang di dalam bilik bambu yang disorot belakangnya aja)... kekekekekekek...

filmnya terlalu banyak saos tomat...

but sometimes, you have to kill before being killed^^

cselvalva mengatakan...

ntar Ninja Asassin II atau Ninja Assassins (sequelnya,jadi jamak hehe) paling ada ceritanya yang sampe ngusut sumber yang nyewa mereka. Hmm udah kebayang lah secara standard pisan ceritanya.

Lilis Mulyani mengatakan...

tipenya seperti Kill Bill-nya Quentin Tarantino, bener2 mandi darah, lebih dr setengah film aku nutup mata Kan, he,,he...rugi 15rb...
Bener akhirnya ga suka, emang ada berapa banyak org yg punya jantung di kanan di dunia ini? kl mau hidup ya hidup aja, kalau mau dibuat mati Mika nya ya mati aja ya, heeuuuhh...