Ketika saya menyambi menerjemahkan Yotsuba&! di sela kegiatan yang melibatkan berbagai lapisan sosialita seputar Kemang Jakarta, sungguh kagum pada pola hidup seperti Pak Koiwai kok tampak nyaman ya. Saya pun kepingin berhenti mengantor, cukup duduk santai di rumah menerima pesanan terjemahan saja sambil menampung anak orang, lalu membiarkannya beredar (((cari nafkah))) sendiri ke rumah sebelah, diasuh para tetangga cantik ...
Sayangnya tidak semudah itu Pulgoso!!!
Anak-anak cepat sekali besar, belum apa-apa sudah menimbulkan masalah sebagai abege remaja, lebih baik segera dikembalikan kepada orang tuanya masing-masing. Kalau begitu sih mendingan punya anak sendiri saja.
Tidak seperti Yotsuba, yang dalam setiap tahun hidup kita, mungkin hanya menempuh rentang waktu tiga hari sampai seminggu ... sehingga nyaris selamanya berusia lima tahun ...
Siapa sangka, berkat pandemi, ternyata gaya hidup yang diidamkan bisa juga terkabul (???)
Hanya saja anak-anak tampungan yang beredar (((cari nafkah))) ke rumah tetangga manis adalah ... UCING-UCING saya
***
Kalau dipikir-pikir Yotsuba&! mengandung dilema.
Rasanya ini kisah yang bagus tentang lingkungan RT/RW yang cocok dan aman untuk anak kecil. Namun, menurut latar belakang yang disusun, Yotsuba adalah anak adopsi. Keberadaan orang tua kandung tidak diketahui. Yotsuba berarti saat ini tinggal dengan *bukan mahram*. Lalu dia akan mengajak sesama anak-anak pergi jalan-jalan bersama oom-oom mencurigakan, teman ayah angkatnya ... Apalagi Jepang punya Hikayat Genji, jangan-jangan suatu saat begitu besar Yotsuba disetel menjadi kekasih Pak Koiwai?
Bagaimanapun juga, bukankah kebanyakan kisah kepahlawanan memang didominasi oleh anak yatim piatu. Situasi tersebut mungkin membuat mereka lebih tertempa untuk "nothing to lose & everything to gain" ...
Berbeda dengan anak yang punya orang tua masih berpengharapan dipiara disayang dimanja dan sebaliknya jadi punya beban untuk balik memiara menyayangi memanjakan ortu yang beranjak lansia, sehingga kekurangan waktu luang untuk menaklukkan dunia.
Kemarin ada rekan yang membahas tentang doa "Tuhanku ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku waktu kecil."
Barangkali tak terelakkan lagi bahwa menjadi orang tua itu otomatis akan penuh kesalahan dan pelanggaran, sementara begitu anaknya besar, naluri kasih sayang malah lenyap. Seperti si Kumi tidak sungkan-sungkan menggeram dan menggaplok Graci atau Kunyil ketika mereka sendiri sudah beranak pinak.
Anak yang menjadi dewasa, setara, adalah saingan baru dalam berebut jatah makan.
***
Namun, semenjengkelkan apa pun, titah dan sabda orang tua tidak diragukan tetap masih bertuah. Kemarin Joenia cerita betapa ortunya ingin dia masuk FK Unpad, tidak usah jadi dokter kalau repot, cukup jadi dosen, tapi dia memilih masuk Farmasi ITB. Ternyata selesai S3 holondo dan masuk jajaran 500 ilmuwan produktif Indonesia, dapat juga dia posisi dosen di jurusan incaran ortunya.
Sementara saya, setelah bersitegang soal konsentrasi kerja yang buyar gara-gara ricuh urusan penyortiran benda-benda dan berkas seloteng akibat pengabaian selama berabad-abad, ujug-ujug Ibu saya mengalihkan pembicaraan dengan berceletuk bahwa saya sebaiknya melukis saja.
Lahhh terus melukis apa, memangnya siapa yang mau beli??? Para penggali harta karun SDA perusak lingkungan? Mana sudi.
Tapi tiba-tiba dapat juga limpahan kerjaan gagambaran teknis entah-entah walaupun sama sekali bukan melukis betulan
Semua ini berkat ucing-ucing yang (((cari nafkah))) bisa-bisanya mereka membawa mata pencaharian baru, ajaib ya
Tampaknya marga temu-temuan (Curcuma sp.) pada janjian jadwal bermekaran minggu ini, seperti yang di kebun Pak Farid Gaban
Bahkan temulawak di lemari mamanya Deta Ratna Kristanti tetap setia tepat waktu meskipun tersembunyi dalam kegelapan 🙀
Kalau yang serumpun ini sedang berkembang di pinggir balongnya Ram Ala Pualamsari seberang rumah Bray Supriatna
Betapa semesta tunduk pada perintah-Nya
Maklum, sebagai orang kotaan norak yang jarang menyaksikan pemandangan bunga ini, saya mesti ikut-ikutan mengabadikannya jugalah ya 😽
N.B. Temu putih (Curcuma zedoaria) ini semarga dengan kunyit (Curcuma sp.), tapi berbeda dari koneng bodas yang semarga dengan kencur (Kaempferia sp.) ... bingung ya
Tapi bentuk bunganya memang sangat berbeda
Mumpung menurut Ari Hapsari hari ini Hari Oeang ke-75, sekalian pamer lembar 75 rebu rupiah yang saya tukar tahun lalu lewat budi baik Rita Haeni Rusdi
Berlebaran di tengah pandemi ini sungguh menyedihkan ya, tidak bisa memeluk keluarga, tidak bisa berkumpul ramai-ramai, tidak bisa mencicipi hidangan tetangga, tidak bisa mudik ataupun berbelanja ...
Namun setidaknya ada hikmah untuk semakin mengingatkan kita agar selalu melakukan anjuran agama paling mendasar, yaitu ... bebersih
Dengan demikian, Yotsuba & BambuMuda mengucapkan 🙏🥥🌴
::: Zaman ini zaman edan: teh botol dikotakin, teh gelas dibotolin :::
(& teh poci disasetin ...)
☕
Teh Hijau
Baru dua minggu lalu saya mengoreksi teman bahwa teh hijau (ryokucha) itu belum tentu adalah matcha.
Pada dasarnya, teh hijau adalah teh yang dikonsumsi tanpa melalui prosedur pelayuan/pengeringan dan oksidasi. Jenisnya dibedakan antara mutu dan cara tumbuh: yang terpapar matahari dengan yang tumbuh di bawah bayangan pohon lain. Matcha adalah teh bubuk yang dihidangkan dengan cara dikocok sampai kental berbusa, sedangkan teh hijau bening adalah jenis lain: bisa sencha, gyokuro, kabusecha, tamaryokucha, bancha, kamairicha, macam-macam.
Teh Gula
Kebetulan baru kemarin berteman FB dengan seseorang yang pernah menceritakan anekdot ini kepada saya enam tahun yang lalu.
Kabarnya, orang Sunda kalau pergi ke timur kebingungan kenapa minum teh saja harus bayar. Saking melimpahnya kebun teh di tanah priangan, air teh biasanya menjadi layanan gratisan bagi orang yang membeli sepiring makanan. Sebaliknya, orang Jawa kalau pergi ke barat kebingungan kenapa kalau teh pakai gula harus bayar lebih. Saking melimpahnya kebun tebu, penambahan gula biasanya menjadi layanan gratisan bagi orang yang membeli segelas teh.
Semacam teori kelangkaan terkait perbandingan antara pasokan dan permintaan.
Teh Kaca
Menghindari minuman bersoda, teh botol kaca adalah jajanan masa remaja saya. Namun, ada masanya beli teh botol bukan karena mau diminum melainkan untuk dipecahkan dasar botolnya melalui tekanan dari mulut botol. Sulap yang lebih ajaib daripada kemampuan para keramat yang dipuja-puji oleh orang-orang putus asa itu.
Masa tersebut berlalu karena kini semakin jarang beredar teh botol dari kaca. Kemasan minuman komersial, apa pun bentuknya, telah menyumbang cukup banyak pada gunungan sampah sehingga sebisa mungkin dihindari konsumsinya.
Teh Edan
Bukan sekadar bungkus teh. Ini berlaku pula pada penunjukan jabatan orang yang mempunyai keahlian berbeda, atau penerapan kebijakan seperti mengobral bahan yang seharusnya dihemat sementara membela pihak yang seharusnya dibasmi.
amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada ...
Hampir setiap minggu berpapasan dengan patung duyung tanpa keterangan ini, kami pun dengan semena-mena menyimpulkannya sebagai jelmaan Vaslav Nijinsky, pebalet terhebat sepanjang masa yang berjaya pada awal abad XX.
Kesimpulan tersebut bukan tanpa alasan. Boleh dibilang, busananya mengingatkan kami pada Le Spectre de la Rose (pertunjukan yang musiknya menjadi lagu bangun tidur kami semasa kecil) sedangkan sosok tegaknya pada wujud beliau dalam L'après-midi d'un faune (koreografi inovatif kontroversial yang menampilkan kejeniusan sang penari) ...
Setelah dua tahun bertanya-tanya dalam kegelapan, akhirnya berhasil juga mencari jawabannya dengan kata kunci yang tepat:
Karya alumni FSRD ITB asal Bali yang diprakarsai oleh Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) memperingati kota Bandung penghasil cendekiawan.
Nah, sebelah mananya yang tampak cendekiawan ya?
- mata terpejam tanda merenung (bandingkan raut wajah oom vaslav)
- api pelita ilmu (rada miriplah dengan anggur yang dipegang Pan)
- air kehidupan (mirip banget kan dengan selendang peri yang ditarik Pan)
- tanaman merambat berwawasan lingkungan (ai sugan teh kupu-kupu)
- piramida kontruksi kokoh (euh, bukannya lambang penindasan orde baru?)
Penempatan sang patung mungkin memang belum tepat sehingga wali kota mempertimbangkan relokasi.
Menurut beberapa warga Bandung patung ini sepintas seperti sosok cowok cosplay pakaian wanita yang tak punya unsur sejarah bermakna, sementara ada pula seniman yang sempat mengancam menumbangkannya jika karya seni Asia-Afrika diperlakukan semena-mena.
Bahkan di sebagian kalangan, perlambangan ini berkaitan dengan penggambaran dajjal dalam hadits-hadits: sebelah matanya buta, bersamanya sungai air dan sungai api yang tertukar, sedangkan piramida terkait dengan isu iluminati ahhhahahahahahahahah.
Namun, dapat diperbandingkan sendiri dengan dokumentasi Nijinsky, memang potongan tegakan badan dan kaki si patung cendekiawan yang kekar semampai ini sangat balet Eropah ukuran golden ratio. Layaknya Ozymandias di komik Watchmen, atlet tercerdas sedunia.
Mengapa tidak merekayasa lambang cendekiawan Asiah yang sudah lama melekat di ITB, yakni si gendut buncit lembam dewa Ganesha?
Atau agar lebih adil, ungkapan budaya Sunda, Cepot Astrajingga misalnya?
Sebenarnya sih lebih menantang ulang tahun penanggalan bulan, karena berubah terus musimnya setiap tahun. Apalagi tahun 2011 lalu jadinya saya berulang tahun dua kali, hahaha. Tapi kenapa ya yang dipakai buat berkas-berkas resmi (Akte, KTP, Paspor, Rapor, SIM dll) dan yang dirujuk untuk layanan gratisan hari ulang tahun, semua memakai penanggalan matahari.
Saya tidak pernah merayakan ulang tahun dengan kue tart dan lilin. Apalagi karena perlu mendukung ketahanan pangan nasional (terigu bahan kue itu impor, bo! Mari dukung petani lokal!) Kecuali kalau ada yang bela-belain membuatkan atau membelikan ya apa boleh buat terpaksa dinikmati juga tentunya. Biasanya sih ibu saya membuatkan ketan durian, tapi berhubung usia sudah bertambah, perlu hati-hati terhadap gangguan kolesterol hiks... Maka kali ini mari kita memotong tumpeng awug dari tetangga sebelah.
Selamat ulang tahun juga buat JRR Tolkien... Kami sangat menantikan film Hobbit-nya tapi masih lama banget ya...
Ken®, yang baruuu saja awal tahun ini CLBK dengan Barbie®, panik ketika dihadapkan kepada bukti-bukti dari Greenpeace bahwa selama ini sang kekasih membungkus diri dengan kemasan kardus hasil penebangan hutan hujan tropis di Indonesia, yang artinya turut andil dalam merusak tempat kediaman satwa langka orangutan dan harimau Sumatera.
Berikut wawancara dan liputan eksklusifnya (youtube).
Namun, muncul tanda tanya, bagaimana dengan Ken® sendiri? Mengapa mempermasalahkan kemasan pembungkus, sementara gaya hidup makhluk yang dibungkusnya jauh lebih tidak berkelanjutan? Padahal, baru saja dia berjuang merebut kembali hati Barbie® (setelah berkenalan 50 tahun dan sempat berpisah selama 7 tahun), buang energi demi berkampanye besar-besaran sambil melempar pernyataan gombal semacam "aku ingin kau kembali" "kaulah satu-satunya boneka untukku" "kita mungkin hanya plastik tapi cinta kita sejati!" cieee...
Walaupun mungkin tidak tepat sasaran, dan bisa membuat salah paham kalau tidak menelusuri masalahnya lebih dalam, jelas gembar-gembor ini sangat keren.
Cukup menyentak perhatian orang, termasuk saya.
Mattel pun tampak berusaha turun tangan walaupun sambil protes bahwa mereka tidak secara langsung terlibat. Apa pengaruhnya terhadap pemerintah Indonesia, yang melaksanakan moratorium penebangan hutan dengan enggan, patut kita nantikan.
Karir Tahun Ini: Barbie® Arsitek
Kebetulan, musim panas tahun ini akan menandai pertama kalinya Barbie meniti karir arsitek dalam barisan "I Can Be..." setelah sekian lama ia terjun dalam beragam profesi mulai dari model, aktris, dokter, astronot, pembalap, tentara, kasir McD maupun pengantin (eh, lho, kenapa itu dihitung karir, bukan ibu rumah tangga?)
Arsitektur sempat terpilih oleh masyarakat sebagai cita-cita Barbie pada 2002, namun saat itu Mattel memutuskan bahwa profesi ini terlalu rumit untuk dipahami anak kecil. Tahun lalu ia kalah suara dari Insinyur Komputer, dan baru tahun ini diterima. Dua orang arsitek perempuan yang selama ini memperjuangkan Barbitect, diangkat sebagai penasihat untuk menjaga boneka ini otentik terhadap karirnya.
Ada yang bilang, mungkin sesungguhnya Barbie memang cocok menjadi seorang arsitek, karena boleh dikatakan dengan ukurannya yang tidak seimbang itu, wujudnya sendiri merupakan hasil penguasaan kemustahilan struktural.
Seperti Apa Sih Penampilan Arsitek Sejati?
Mattel menyebut penampilan Barbitect sebagai "gaya simetris dengan warna tegas dan garis bersih" dengan gaun biru dan pink bergambar gedung pencakar langit, sepatu bot hitam hak tinggi dan jaket hitam pendek. Dia memanggul tabung gambar pink untuk cetak biru, membawa serta helm pengaman, sementara kacamata berbingkai hitam bertengger di kepalanya.
Bagaimana penampilan ini mewakili arsitek perempuan?
Stereotip standar busana arsitek adalah celana panjang dan baju berkerah kura-kura berwarna hitam, selain kacamata berbingkai hitam yang kebetulan dia miliki.
Warna pink pasti selayaknya dihindari karena cenderung menimbulkan kekacauan komunikasi di lokasi konstruksi. Sebab, pada umumnya para kontraktor membenci warna banci.
Rambut pendek agar mudah disisir, wajah tanpa rias dan ada kantung mata dan kerutan kening sisa bergadang berhari-hari. Selalu siap dengan segelas kopi hangat.
Pakaiannya perlu ditambah seragam olahraga pink kinclong yang adem ayem untuk bergaul bersama keluarga di hari libur. Juga harus ada scarf.
Dan walaupun punya helm pengaman (yang kebetulan tidak pink!) sesuai pedoman pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku, rok pendek dan sepatu hak tinggi jelas belum memenuhi syarat karena menyulitkan naik tangga. Sayangnya, bentuk kaki Barbie tidak memungkinkan dia memakai sepatu bersol rata!
Beberapa orang lain menyinggung bahwa tabung gambar cetak biru sudah ketinggalan zaman. Bukankah kini arsitek menggunakan iPad dan inFocus untuk menampilkan rancangannya?
Sebaliknya ada juga yang mengacungkan jempol, bahwa sudah saatnya citra arsitek perempuan yang selama ini seakan harus tunduk kepada gaya maskulin diberi sentuhan feminin. Dan bahwa selain di lapangan, banyak kok arsitek perempuan yang mengenakan sepatu hak tinggi dengan leluasa. Kenapa harus berbaju hitam kayak mau berkabung, siapa bilang arsitek tidak boleh pakai pink?
Kenyataannya, Barbitect bukanlah sebuah terobosan di dunia boneka. Sebagai tandingan Barbie, sepuluh tahun yang lalu, pada 2000, sebenarnya Smartees sudah memproduksi Amanda arsitek, dengan aksesori lengkap helm pengaman, kalkulator, penggaris, jangka, koper, bahkan ada meja gambarnya segala! Namun sayangnya proporsi sang boneka belum jauh dari Barbie, dan tentu saja Barbie sebagai ikon budaya pop yang mendunia dianggap akan berdampak lebih jauh terhadap pandangan masyarakat umum.
Kalau menurut pengalaman saya sendiri sih, aksesoris yang kurang pada Barbitect maupun Amanda adalah apa itu namanya pita pengukur/meteran gulung.
Anggota PCP (Perfect Crime Party, manga karya tokoh-tokoh utama Bakuman) saja selalu membawa meteran gulung itu ke mana-mana (jadi gantungan HP), adik saya sendiri bahkan menamai meteran gulungnya 'Legolas', masa si Barbitect ini tidak.
Yang lebih penting, apakah ketepatan gaya penampilan dan perlengkapan sang boneka akan mempengaruhi pandangan anak-anak terhadap profesi tersebut?
Pengaruh Budaya Pop terhadap Cita-cita Anak-anak
Patut dipertanyakan, seberapa besar sih peran Barbie terhadap kesempatan kerja di kehidupan nyata dan keputusan karir masa depan sang anak yang memainkannya, saat ia dewasa nanti?
Adakah survei mengenai peran-peran Barbie sebelumnya, seperti astronot, yang membuktikan pengaruhnya terhadap cita-cita anak-anak generasi tersebut?
Apakah dengan memainkan Barbitect, anak-anak pasti akan senang membuat cetak biru bangunan?
Atau hanya sekadar menggonta-ganti baju tanpa tertarik pada aspek arsitekturalnya?
...
Lebih banyak lagi yang protes, bahwa Barbitect memberikan kesan yang salah kepada anak-anak, seakan-akan bukan otaklah yang diperlukan, melainkan tampang dan gaya yang utama. Seakan-akan kalau mau jadi profesional, intelektual, sarjana, pintar saja tidak cukup, kamu tetap harus cantik. Sejak insiden pengakuan Barbie kesulitan matematika 11 tahun berlalu, apakah kini Barbie terjamin telah lebih cerdas? Apakah dengan menyaksikan tokoh kecantikan ini tampil sebagai intelektual, anak kecil akan terberdayakan?
Untuk mendorong anak kecil jadi arsitek tentu lebih cocok main balok, lego, dll yang memberi sensasi desain dan konstruksi, mengasah kemampuan spasial, rasa estetik, keterampilan merencanakan, dan kebiasaan kerja sama.
Namun mungkin, selama orang tua masih memilih mainan dengan bias gender, adanya Barbie arsitek sudah lumayan menguak pengalaman dunia alternatif dan penyelesaian masalah, dengan memilih apa yang akan dia pakai ke kantor, belanja di toko material, menyambangi tukang, menghadap klien, dll
(walaupun tentu lebih bagus lagi bila anak-anak perempuan mulai tertarik main balok).
Seseorang menyoroti bahwa sesungguhnya masalah yang dihadapi dunia arsitektur saat ini bukanlah dalam tahapan merayu para gadis agar tergiur menjadi arsitek, buktinya jumlah mahasiswi arsitektur cukup tinggi, melainkan dalam tahapan bagaimana membuat para arsitek perempuan bertahan di dalam profesinya dan mengambil izin arsitek.
Jika tujuannya promosi, sebenarnya yang harus jadi sasaran untuk membuat profesi ini tampak menarik adalah remaja.
Harus ada peringatan di kotaknya "mainan ini bagus untuk anak kecil tapi tidak dapat dijadikan gambaran akurat untuk remaja usia 16-22 yang sedang serius mempertimbangkan mengejar profesi ini."
Lomba Merancang Rumah Impian Ramah Lingkungan
Sorotan paling kritis adalah terhadap maket yang menyertai Barbitect. Dengan bahan plastik pink yang sedemikian, bagaimana Barbitect diandalkan merancang rumah masa depan berkelanjutan?
Apalagi mengamati seleranya selama ini, dari rumah impian Ken® di Toy Story 3 yang bernuansa ungu, kuning krem dan biru muda elektrik, toko di Shanghai, sampai rancangan Jonathan Adler di Malibu menyambut ulang tahun ke-50 Barbie®, hanya lagak kemewahan pink norak dengan sentuhan dewasa narsis hedon hura-hura yang tampak, belum ada bayangan sosok perempuan mandiri yang tekun, apalagi konsep hijau sertifikasi LEED® (Leadership in Energy and Environmental Design).
Mereka menekankan agar tidak terlalu serius menghadapi boneka ini, cukuplah sambil "bermain dan bersenang-senang" dan "think pink" sesuai dengan panduan dari Barbie sendiri:
Sebuah rumah kantor yang rapi dan cerdas adalah penting untuk setiap boneka. Dengan lebih dari 125 karir, saya perlu kantor luas yang dapat menampung peralatan canggih saya untuk pertemuan, kunjungan klien dan presentasi.
Saya suka menghibur maka saya perlu ruang duduk dan ruang makan yang terbuka dan terhubung, memungkinkan untuk berbaur dan mudah menghibur dari satu ruangan ke ruangan lain.
Dapur harus fungsional dan keren dengan peralatan mutakhir, meja besar dan banyak ruang untuk memasak. Saya juga suka cahaya alami di dapur saya sehingga wajib ada jendela. Saya koki yang lumayan ahli, lho!
Sebagai "fashionista" sejati, Anda bisa bayangkan perlu seberapa besar lemari saya! Saya memiliki busana dan perhiasan tak terbatas, maka saya perlu banyak ancak, rak sepatu dan kabinet yang dapat mudah diatur – berdandan setiap hari tidak boleh menjadi kerepotan.
Kamar mandi impian: ruang yang besar dan bergaya, dapat diakses dari kamar tidur utama dan ruangan lainnya.
Saya suka hewan dan saya memiliki lima ekor hewan peliharaan (termasuk jerapah) setiap saat. Sebuah halaman belakang yang luas sangat penting agar mereka dapat berkeliaran dan bermain!
Sebagai "Gadis California" asal Malibu, saya mengutamakan lokasi, lokasi, lokasi! Rumah saya harus memiliki pemandangan yang menakjubkan di halaman belakang dan menghadap laut.
"Alangkah jarang seorang perempuan tahu apa yang dia inginkan!"
Apalagi sebagai klien!
Eh? Kok malah jadi klien?
Lho lho lho, Barbie, bukankah kamu tahun ini lulus ujian jadi Arsitek bersurat izin, kenapa tidak merancangnya sendiri???
Tentu banyak rumah boneka yang dikategorikan ramah lingkungan, seperti ini, ini dan ini, tapi pastilah tak ada yang sudi memenuhi syarat-syarat di atas.
Lomba Merancang Busana Barbie Perusak Hutan Hujan
(25/06/2011) Tambahan pilihan 126 profesi, Greenpeace menawarkan karir yang lebih tepat, yaitu Barbie "perusak hutan hujan", lengkap dengan aksesori gergaji mesin dan buldoser pink.
Tak kepalang tanggung menyaingi AIA, mereka juga membuka CONTEST: Design a Rainforest Destroyer look for Barbie.
Pemenang akan memperoleh hadiah selembar kaos pink "Barbaric", bergambar siluet Barbie memegang gergaji mesin...
Kelemahan lomba ini, untuk mengikutinya peserta harus punya Barbie dulu, dong... Atau mungkin memang sasarannya adalah meningkatkan kesadaran para pemilik Barbie. Yang jelas saya tidak bisa ikutan.
Arsitek (dan Boneka) Ramah Lingkungan?
Karena dulu sibuk mengurus adik (yang mengaku-aku arsitek), dan adik-adik sepupu (juga kuliah arsitektur), saya sebenarnya tidak terlalu peduli terhadap boneka, hanya kebetulan menikmati pemberitaannya saja.
Kalau anak-anak Anda membutuhkan teladan boneka, saya usulkan Yotsuba&! yang memang kisahnya beredar di seputar isu ramah lingkungan:
- Pemanasan Global
- Daur Ulang
- Ruang Terbuka
- Penghijauan
- Hemat Energi
- Bebas Polusi...
Nyaris hanya dialah satu-satunya boneka yang saya rela beli sendiri.
...
Masalahnya, berdasarkan peringatan di kotaknya, Yotsuba&! ini mainan untuk usia 15 tahun ke atas walaupun aslinya berusia 5 (tepatnya 10) tahun, sementara Barbie tercantum untuk usia 3 tahun ke atas walaupun aslinya berusia 20an (tepatnya 52) tahun... Aneh ya?
Kalau teladan arsitek, selebritas Bandung yang dielu-elukan oleh ikatan alumni SMA saya kayaknya sih sering juga pakai kaos kerah kura-kura dan kacamata berbingkai hitam, tapi sayangnya ia juga menjadi bintang iklan rokok, hal yang menurut saya bertentangan dengan konsep ramah lingkungan. Yang jelas, belum ada yang saya kenal terpikir untuk merancang rumah boneka.
Saya pun ingin membangun rumah Yotsuba, dan saya rasa IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) perlu juga menyelenggarakan lomba merancang rumah Unyil, rumah Cepot atau rumah siapalah boneka lainnya yang akan lebih mendukung pelestarian hutan hujan Indonesia.
Baru pertama kali lihat uang receh seribu rupiah baru yang tipisnya seperti koin game center. Tapi secara gambarnya angklung (dan Gedung Sate), jadi gak tega mencela...
Bicara tentang angklung, ada pandangan menarik dari teman SMP saya yang pewaris Koesoemadinata, bahwa...
Memainkan angklung dengan tangga nada barat artinya belum merdeka! Apalagi ilmuwan Indonesia sudah pernah meneliti "laras sejati" yaitu tangga nada salendro-17 yang kabarnya mencakup seluruh tangga nada di dunia sehingga lebih memenuhi unsur rasa manusia secara universal, seperti diterapkan pada gamelan Ki Pembayun (yang kini hilang tak berjejak?)
Ah, tapi apakah tangga nada diatonis milik barat dan pentatonis milik timur? Bukankah nada itu sebenarnya universal?
Selamat ulang tahun ke-30 untuk KPA SMAN 3 Bandung. Semoga sering-sering tampil di luar negeri tidak jadi lupa akan perlunya mengembangkan kebudayaan di dalam negeri. Ayo dukung angklung di AngklungisIndonesia.com/
Semoga dukungan pemerintah Indonesia terhadap angklung juga semakin besar (tanpa harus mengaransemen lagu-lagu SBY).
Bonus, ini foto Yotsuba waktu tampil di Festival Bambu Nusantara kemarin...
Lontong pakai lembar aluminium (okeeey) itu apa boleh buat dong, saat di luar negeri tidak ada daun pisang. Ketupat pakai plastik (ngngng...) ditemukan di tukang ketoprak di pengkolan Salihara. Huh padahal kan lebaran sudah berlalu, pasti banyak sisa janur... Putu bambu pakai... pipa pvc??? (Ehalah gubraggg!) Warnanya hijau emberrr pula!
Alasan bahwa bambu susah dapatnya, itu sangat tidak bisa diterima. Bukankah bambu dalam sehari bisa tumbuh 30 cm?
Untunglah setelah trauma horor itu, masih ketemu tukang putu yang cukup waras, tetap menggunakan bambu asli, daun pandan dan daun suji alami.
Mohon dengan hormat untuk parcel-parcel selanjutnya kirimkan buah-buahan pribumi... Cintailah hasil dalam negeri! Dukung kemandirian bangsa... Demi kemajuan para petani... Dan, supaya bisa enak dirujak... NGAREPPP... Trims p(^o^)q
Entah kenapa, déjà vu berturut-turut dengan kompas dan balon. Selalu muncul dalam apa yang aku baca, aku tonton, dan aku mainkan dalam beberapa hari terakhir. Heh, sedang ngetrend kah kompas dan balon sebagai elemen dalam komik, film dan game minggu ini?
Little Mosque on the Prairie musim 4
28 September = Hadiah pernikahan anonim kompas plastik murahan;
5 Oktober = Balon-balon dalam acara kerja sama masjid-gereja...
Heroes musim 4
21 September = kompas rusak, tatoo kompas, dan balon karnaval.
Yotsuba&! babak 61
31 Agustus - 29 September = kegiatan menghadiri festival balon udara
Farmville up, up and away
19 September 2009 = balon udara warna pelangi
Facebook lite yang dipakai di kantor
pertengahan September = berlogo balon udara biru muda...
Up animasi 3D pixar
yang dipasang si Danu berulang-ulang di DVD...
Pirates of the Caribbean yang tertonton di televisi pada sekitar libur lebaran, dengan kompas ajaib Kapten Jack...
Lalu karena sebulan ini sering mampir berbuka di Indische Tafel, restoran tetangga bergaya kuno yang baru buka, terkenang komik Jo Zette & Jocko seri penerbangan stratosfer, si Jocko tersangkut di penunjuk arah angin berbentuk ayam, karena terbawa balon pengukur cuaca...
Bahkan beus antarkota memutar karaoke Iwan Fals, berlatar belakang cuplikan bajakan video National Geographic meliput Greenland dari balon udara! dst...
Selain itu, tentu saja yang ini merupakan pilihan, pikiran juga sedang disesaki oleh Rusia. Sebenarnya sekitar dua tahun yang lalu sempat juga terkena "Russia Rush" ini, ketika tiba-tiba kangen mendengar musik/lagu seperti Ochi Chornie dan Hymn to Red October... Tapi rasanya belum separah sekarang.
Sejak wara-wiri Mafia Wars: Moscow, ingatan melayang ke manga Eroica yori Ai wo Komete yang kental dengan suasana Rusia masa perang dingin sampai postglasnost & perestroika: Major Klaus Heinz von dem Eberbach vs. Mikhail Potapych Toptygin, berhadap-hadapan di lapangan merah...
Apalagi kebetulan juga baru sempat membaca Superman: Red Son dan baru mulai mengumpulkan scanlation Yotsuba&! berbahasa Rusia...
Mari kita hubung-hubungkan kembali dengan kompas dan balon. Tentu ini pertanda, saya harus segera mengarahkan diri mengapung melayang-layang ke Rusia?! p(^o^)q
Karya apik Mark Millar (pencipta tokoh yg bisa mengeras sekeras s@mb@lit dan mencair seencer m@ncr@t itu lhooo... pengarang "Wanted" yang akhirnya difilmkan dengan alur berbeda oleh seorang sutradara Rusia...)
Kisah ini mengandaikan apa yang terjadi ketika ada selisih waktu, sehinga pesawat yang membawa bayi Kal El ke bumi jatuh di pedalaman Rusia:
Lambang yang diusung sang manusia super di dadanya pun menjadi bentuk Palu dan Arit. Wonder Woman adalah mitra kerjanya yang memperjuangkan feminisme ke seluruh penjuru dunia. Lois Lane menjadi istri setia Lex Luthor, sedangkan Batman muncul sebagai anarki berjubah hitam yang memilih mati demi membela kekacauan daripada hidup bosan dalam keteraturan otoriter di bawah perintah sang Putra Merah.
Selamat Idul Adha. Di Jepang, entah mengapa, konsumsi bahan-bahan dasar dari kambing tidak dikenal. Paling-paling ada satu-dua bungkus daging cincang bercap halal, dijual melalui toko impor anggur dan minuman keras.
Hari Bebas dari Tembakau sedunia!!!... Bebaskan putra-putri keponakan dan cucu-cucu kita dari asap rokok!!! Tema tahun ini: Mengimbau pelarangan iklan dan sponsor rokok... Wah, susah juga ya secara iklan yang paling bagus saat ini iklan rokok, sponsor yang paling kencang aliran dananya adalah dari perusahaan rokok... Walah-walah-walah...
Yotsuba & Rokok! Kutipan dari bab 15 "Yotsuba & Oleh-oleh".... Nah ini nih contoh perokok yang tidak bertanggung jawab.
Morris, tentang Rokok Morris (Maurice de Bevedere), pengomik Perancis yang menggambar Lucky Luke, pada tahun 1983 memutuskan untuk menyuruh Bang Lucky berhenti merokok, dan mengganti rokok di bibir dower sang jagoan kita ini dengan batang alang-alang.
"Mengapa saya menghapus rokok Lucky Luke, adalah karena kenyataannya anak-anak cenderung meniru pahlawan-pahlawan yang petualangannya mereka baca. Adalah penting untuk memberi mereka teladan yang baik."
Apa gak telat, Oom? Setelah sekian puluh tahun Bang Lucky gak berhenti-berhenti? Oke, gak ada kata telat untuk tobat tentunya. Tapi ngomong-ngomong gimana dong cara meneladani keahlian menembak Bang Lucky?