Kamis, 01 Juni 2017

Ekaharita Marakata

Pada penataran P4 terakhir yang saya ikuti di masa sweet seventeen, saya meraih peringkat 30 dari 2000 sekian pelajar unggulan --berkat senjata pamungkas hapalan ngolotok ekaprasetia pancakarsa sejak SD sewaktu masih 36 butir dan naskah andalan laporan presentasi berjudul "Fanatisme Berlebihan Mengancam Perikehidupan Berbangsa dan Bernegara" yang isinya menguraikan kemustahilan penerapan paragraf-paragraf GBHN-- seolah-olah bocah orde baru sejati cemana pula.

Tapi kini keluhan saya, Pancasila sejauh mengusung kebinekaan manusia, ternyata belum menghargai kebinekaan hayati, sehingga tidak secara tegas langsung menganjurkan tindakan-tindakan ramah lingkungan.

Apalagi ketika gerakan pemuliaan alam semesta dituduh bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa karena dianggap menjurus syirik; dilupakan bahwa bumi adalah amanat Allah swt, dikira sekadar batu loncatan menuju surga yang bisa diinjak semena-mena, cepat atau lambat toh kiamat akan tiba …

Sedangkan kemajuan peradaban untuk kemanusiaan dinilai dari berbagai rekayasa pendirian aspal beton besar-besaran dan pembakaran energi habis-habisan, ketika sesungguhnya yang dibutuhkan sudah bukan lagi kritik membangun melainkan kritik menanam …

Kecintaan dan kebanggaan terhadap tanah dan air digiatkan dalam kerangka penguasaan dan penaklukan, tidak mempertimbangkan upaya perlindungan dan pemeliharaan …

Musyawarah untuk mufakat dipimpin oleh elite-elite menara gading yang tidak mampu menyimak suara-suara rakyat pinggiran yang sehari-hari menikmati bertahan hidup di tengah hutan rimba atau samudra raya.

Barangkali yang paling mendekati seputar butir-butir yang berbunyi "tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain, pemborosan dan gaya hidup mewah, atau hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum" …
Padahal para perusak darat laut dan udara itu justru memanfaatkan hak negara (?) dengan alasan keadilan sosial berupa pemerataan pengerukan sumber daya …

Boleh jadi kita masih mengamalkan ekaprasetia pancakarsa, tapi pasti lebih banyak yang tidak tahu perbedaan antara burung garuda, elang botak, dan rajawali; pohon beringin dengan kelapa sawit; banteng dengan sapi perah; padi dengan gandum; kain katun dengan poliester.

Sementara itu, cahaya bintang kecil di langit yang tinggi pudar oleh silaunya kerlap-kerlip neon di kota …
Rantai pemersatu pun menjadi belenggu.

Selasa, 02 Mei 2017

Beasiswa MEXT untuk lulusan SMA

Menyambut penghardikan nasional.

Kartini mengalihkan beasiswa Hindia Belanda karena memilih menikah dapat dana dan kuasa untuk buka sekolah sendiri daripada keburu tua di menara gading, sedangkan Agus Salim menolak tidak sudi menerima lungsuran yang tidak menghargai prestasi pribadinya dan memutuskan bahwa pendidikan kolonial adalah doktrin berbahaya yang harus dihindari oleh anak-anaknya.

Berbeda dari kawan lain yang menjadikannya titik tolak membangun karier, saya sendiri menyambut hasil pampasan perang, remah-remah tebusan dari kesengsaraan leluhur ini dengan niat awal sekadar butuh dana kuliah yang belum tentu mampu disediakan oleh keluarga, ingin mampir ke Disneyland (halah), dan terutama tertarik mengakses manga dari sumber asli. Selain itu karena telanjur lolos saringan, harus menghindarkan sekolah saya kejeblos daftar hitam seandainya saya berkecut hati mengundurkan diri.

Mungkin saya salah satu yang sangat beruntung kebagian berangkat bersama teman angkatan yang lucu-lucu dan berjumpa dengan rekan-rekan negeri lain, sempai-kohai dkk, sehingga ketiga cita-cita saya yang cemen rendahan itu pun segera terkabul, walaupun sebaliknya mungkin justru merugi kehilangan momen-momen masa remaja yang jauh lebih layak dialami di tanah air gara-gara berangkat terlalu cepat. Kalau soal akses ilmu, lah zaman sekarang mestinya sih bisa diperoleh dari berbagai sumber dengan lebih leluasa. Tapi bukankah hidup adalah bagaimana menikmati pilihan?

Beasiswa Monbukagakusho pemerintah Jepang kembali dibuka bagi program S1, D3, dan D2. Silakan disebarkan kepada siapa saja yang punya saudara, anak cucu, keponakan, teman, tetangga sebelah, dll lulusan SMA dan sederajat tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya yang barangkali berminat dan bernyali untuk mengikuti jejak kami :-*

Informasi lengkap http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_slta2018.html




Sabtu, 08 April 2017

Kuartet Petrushka

Petrushka sisihkan hasrat cemburu
Kasihmu pilih moro berlagu
Damaikan kalbu abaikan seteru
Duduk termangu bertopang dagu

= penggal kuartet
Soneta Astrajingga
@bambumuda 2015

Mengenang Vaslav Fomitch Nijinski
(12 Maret 1889 - 8 April 1950)
💃 🎭 🃏

: sosok yg kami curigai sebagai ilham patung monumen cendekiawan Bandung itu lho
...

http://bambumuda.blogspot.co.id/2016/07/ari-anjeun-saha-lain-nijinsky.html

Senin, 20 Maret 2017

Harimau Bahagia



Entahlah ... belasungkawa mendengar ada patung maung soméah tak bersalah yang telah berdiri tegar ceria sepanjang 6 tahun bertugas, tiba-tiba diruntuhkan hanya gara-gara pemiliknya tersinggung tak sudi dijadikan bahan tertawaan yang viral di media sosial.
Sumber: Brilio, Detik, BBC Indonesia, Tribun, Hai, Kompas.
English: BBC UK, Mashable, Jakpost, Independent



Mojok menyayangkan penghancuran oleh Pangdam yang mengabaikan selera humor demi menjaga citra kegarangan, padahal dapat meneladani Ibu Susi yang merangkul meme justru demi menaklukkan internet (bahkan salah satu fotonya telah dipajang dengan sang macan lucu untuk merayakan hari π sedunia 14 Maret).

Sementara itu, Petnyaku mengingatkan kita untuk lebih memperhatikan nasib harimau yang sesungguhnya, terutama harimau Sumatera yang terancam punah karena ruang hidupnya di hutan terganggu oleh pembangunan infrastruktur dan perluasan tambang atau kebun sawit.




Bagi saya, sebagai sebuah karya seni, sang harimau telah layak memenuhi syarat. Dia mampu menggugah beraneka ragam luapan perasaan mengharu-biru. Bahwa rupanya dinilai tidak sesuai sebagai perlambangan Siliwangi, itu semestinya disikapi oleh pihak Koramil sendiri sejak 6 tahun yang lalu, bukan tunduk pada penghakiman masyarakat internet. Tentu sejak awal perlu ada pertimbangan prosedur pengadaan lambang, apakah terjadi penggelapan anggaran, apakah seniman ditunjuk secara KKN atau malah tidak dibayar dengan semestinya? Kabarnya ini sumbangan pribadi seorang pensiunan tentara dari rayon tersebut, sehingga justru perlu dihargai sebagai kenang-kenangan ...
Terlepas dari hal tersebut, seberapa mendesakkah perbaikan wajah garang sebuah patung? Dibandingkan dengan segala ketidakwarasan perencanaan dan penerapan pembangunan di sekitar kita? Daripada penyelamatan harimau asli di habitatnya sendiri?

Andai saja tindakan sesigap itu dilakukan juga dalam menanggapi dengan cepat keluhan masyarakat terhadap masalah pengadaan sarana-prasarana publik dan kinerja pelayanan dasar ...


Untuk melipur lara, mari ikut buat kaos, lukisan, patung, dan hastakarya kertas lipatnya.





***"Harimau Bahagia" mengingatkan pada judul cerpen kegemaran saya tentang sebuah patung lain, "The Happy Prince" yang pernah saya ungkit sebelumnya.