Sabtu, 13 November 2010

Tujuh Hari untuk Saat Ini

Gara-gara obrolan dengan Alia, jadi tertantang menggambar. Sekalian saja ikutan acara "Seven: Draw Your Days". http://www.facebook.com/event.php?eid=164635440234531 Padahal tahun lalu juga pernah ingin ikut, kebetulan memang hari-hari itu padat sekali acara asyik yang bisa diceritakan: menjuri lomba debat, menyelenggarakan pertunjukan wayang, menonton pagelaran seni kontemporer... Tapi saking repotnya tak cukup menggambarkannya dalam sehari, sehingga tak ada yang terunggah saat itu. Kapan-kapanlah kalau sketsanya terkumpul lagi. Kalau minggu ini rasanya malah tidak banyak peristiwa unik, benar-benar hanya keseharian rutin yang ada, terjebak dalam lingkaran setan yang tak pernah tuntas. Mengasah teknik pun belum sempat, alat gambar terbatas, pakai kertas bekas. Yang penting kita mulai.

Minggu, 07 November 2010

Harus selalu diingatkan kembali bahwa saya makhluk seberang cermin. minggu

Senin, 08 November 2010

Kembali ke ibukota yang sangat menyesakkan, inilah hiburannya. Malah belum pernah lihat buah lontar di Bandung, kenapa ya? senin

Selasa, 09 November 2010

Anak-anak ini putih seperti emaknya orang Sukabumi, tapi berwajah antik jiplakan bapaknya orang Makassar. Ingin menggambar wajah itu dengan terperinci tapi terlambat berangkat. Sampai sekarang pun saya masih belum tahu nama mereka siapa, hiks... curang... selasa

Rabu, 10 November 2010

Pulang hampir tengah malam gara-gara keterusan kerja sambil berkhayal nyanyi-nyanyi. rabu

Kamis, 11 November 2010

Pelampiasan ketegangan, menggiling sesuatu itu memang asyik, memuaskan lho. kamis

Jumat, 12 November 2010

Omnia mutantur, nihil interit. jumat

Sabtu, 13 November 2010

Akhir pekan masih harus berkutat di depan komputer adalah hal yang menyebalkan. Hanya kucing yang dapat membuat saat-saat itu menyenangkan. sabtu

Kamis, 28 Oktober 2010

Sumpah Zynga

Perkembangan teknologi gawai internet rupanya membuat orang mulai pasrah dan sabar menikmati macet. Padahal seharusnya tidak. Bukankah macet adalah kesalahan sistem yang harus dicari solusinya!
Saya tidak percaya dengan iming-iming kalau kita membeli suatu barang, artinya kita menyumbang sekian untuk ke mana. Itu seharusnya urusan langsung pemilik industri. Apalagi iming-iming terhadap permainan virtual, karena kontribusinya terlalu sedikit tapi seakan dapat membebaskan kita dari tanggung jawab sosial.

Saya bersumpah akan...
Berhenti main Mafia Wars, dan turut serta membasmi mafia peradilan.
Berhenti main Treasure Isle, bertualang di laut yang sesungguhnya.
Berhenti main Poker, dukung pemberantasan korupsi sampai akarnya.
Berhenti main Vampires, turut menanggulangi wabah demam berdarah.
Berhenti main Cafe World, masak 4 sehat 5 sempurna demi keluarga ceria.
Berhenti main FarmVille, merawat tanaman rempah-rempah di halaman.
Berhenti main FishVille, mulai memperjuangkan nasib para nelayan.
Berhenti main FrontierVille, mencoba mengatasi banjir Bandung/Jakarta.
Berhenti main YoVille, berberes kamar lalu silaturahmi ke para tetangga.
(Banyak banget ya...)
... Pokoknya saya akan,,, berhenti main segala game Zynga,
separah-parahnya kembali mengisi waktu luang dengan menekuni manga.

Rabu, 20 Oktober 2010

Polisi dan Seragam Satpam

Kebijakan pertama Kapolri baru????? Para satpam kantor, selama 10 tahun ini berseragam keren, kalau gak tangan panjang biru muda/biru tua, tangan pendek hitam-hitam. Tapi kemarin dapat surat edaran dari kepolisian harus pakai seragam satpam asli, putih-biru, jadilah hari ini kembali muda kayak anak SMP.



Jadi ingat sekali-kalinya pengalaman diinterogasi polisi, 20 Oktober 1999, pelantikan presiden kapan tahu, aku sedang bergoler nyaman di siang bolong di rerumputan pinggir kali Kamo (Kyoto), eh polisi yang patroli curiga lihat sepedaku kinclong... Untung sepeda ini bukan yang dipungut dari pinggir jalan. Ada nomornya, begitu dia cek pakai HT ke markasnya ketahuan bahwa surat-suratnya lengkap pakai namaku. Tapi dia kira aku orang Korea bermarga "Kan" pula, karena tidak percaya namaku hanya satu kata.
Huh polisi ga ada kerjaan, laporan kriminalitas yang terjadi hanya sebatas kehilangan sepeda?

Tapi ada juga pengalaman baik dengan polisi Kyoto, 22 Oktober kapan tahu, ketika aku melaporkan barang tercecer ketika mengantri nonton festival api Kurama... (Pikir-pikir, kenapa kalau aku punya cerita sama polisi, mesti bulan oktober ya)

Oh ya kalau di Jepang bukan hanya polisi yang berseragam. Supir taksi dan supir bus juga, rapi, lengkap dengan topi dan sarung tangan, lho.



Ngomong-ngomong manga paling lama tahan bersambung adalah komedi polisi di Shonen Jump, Kochira Katsushika-ku Kameari Kōen-mae Hashutsujo こちら葛飾区亀有公園前派出所(disingkat Kochi-Kame). Ada animenya juga.

Minggu, 10 Oktober 2010

Pasar Seni ITB 2010

Kali ini teman saya si Naomi dengan Simpul Jamilnya buka gerai. Banyak lagi yang lain tapi saya tidak menemukan semua, karena arus desak-desakan manusia kurang terkendali.

Katanya juga Pasar Seni akan diusahakan ramah lingkungan, tapi ternyata gerai-gerai makanan semua menggunakan styrofoam.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Manga Michi [漫画道]

Baru sadar perlu cari bacaan baru, gara-gara sempat bingung waktu One Piece libur sebulan. Pertama kali mengubek-ubek Kinokuniya Grand Indonesia, sepulang menyeret Naomi dan Upik menonton Shinkai Makoto.

Yang langsung mencolok mata adalah sepasang nama pengarang dan penggambar Death Note, kali ini kembali berkolaborasi membuat "cerita yang sama sekali bukan fantasi!!!" Judulnya membingungkan: BAKUMAN. Tidak ada hubungannya dengan "bakugan" ternyata.


Sudah terbit 9 jilid... Oooooh ke mana saja saya selama dua tahun ini, kok ketinggalan berita? Ajaibnya ternyata hari dan jam saya menyentuh manga ini, adalah tepat saat pertama kali diputar animenya di NHK. Jadi geer, jangan-jangan ada teman di Jepang yang menonton ini lalu mengingat saya dan mengirimkan sinyal-sinyal telepati! Tapi siapa ya? Kok gak ada yang ceritaaaa. Lagian saya baca Death Note pun setelah di Indonesia...


Manga ini bisa jadi sumber info di balik layar pembuatan manga (khususnya manga Shonen Jump tentu), tapi lebih dari sekadar itu, juga teladan keseharian anak muda yang berjuang keras meraih mimpinya. Yang jelas, di sini terasa betul betapa beratnya menjadi mangaka... Sesuai judulnya BAKUMAN, menjadi pengarang manga adalah sebuah pertaruhan menyabung nyawa. Bukan hanya perlu bakat minat dan semangat, tapi juga perlu keberuntungan.


Walaupun mungkin tidak termasuk arus utama manga terbitan Jump (yang, dalam manga ini dirumuskan harus ada menampilkan pedang/katana!), tapi tetap muncul elemen khas shonen manga: "sports konjou", semangat bersaing untuk menang dalam perlombaan yang sehat antarsahabat, dan "etos kerja" ditunjukkan dengan kerelaan mengorbankan segalanya demi ketekunan. Tanpa perlu menampilkan secara klise lawan yang curang dan jahat, tanpa perlu ada tentangan dari orang tua atau pacar, modal pun sudah lengkap (studio dan peralatan warisan paman), bukankah kehidupan yang aman dan penuh dukungan ternyata tetap penuh tantangan! Oh yaa seperti inilah seharusnya cerita yang cerdas tanpa perlu intrik cengeng a la telenovela.


Apakah begini cara membuat manga yang baik dan benar? Atau begitu? Tidak ada jawaban yang tepat. Yang ada hanyalah perbedaan pendapat dan kesenjangan kemampuan. Tarik ulur antara berusaha profesional memenuhi tuntutan bisnis, dan menurutkan selera sendiri. Tarik ulur antara meningkatkan jumlah komoditas industri dan mempertahankan mutu karya seni. Tarik ulur antara realita yang serius dan fantasi yang lucu. Tarik ulur antara perlunya bersekolah untuk menambah ilmu dengan mengatur jadwal memenuhi tenggat waktu. Tarik ulur antara selera penggambar, pengarang, penyunting, dan pembeli (pembaca). Tidak ada yang paling benar, masing-masing punya alasan yang layak untuk mempertahankan pendapatnya dan melakukan tindakannya. Yang jadi masalah adalah bagaimana mengkompromikan semua itu. (Mungkin itu sebabnya pola judul tiap bab umumnya juga memasangkan dua hal yang bisa dianggap berlawanan.)


Tersingkap juga bahwa walaupun sepertiga pembacanya perempuan, ternyata Shonen Jump tetap dipertahankan dari sudut pandang anak cowok, sehingga mangaka perempuan menemui berbagai rintangan untuk berkarya di sana... (Walaupun ada pilihan kerja di shojo manga saja, Shonen Jump kabarnya adalah majalah terlaris yang lebih menjanjikan. Heee jadi kepingin juga kerja di Shonen Jump, tampaknya tempat yang tepat untuk mengusung emansipasi dan memberantas p*rn*grafi, hahaha...)
Selain itu yang asyik adalah mengkhayalkan berbagai genre manga yang dikarang oleh tokoh-tokoh kita di sini. Kira-kira itu parodi dari manga yang mana ya? Ceritanya tentang apa? Apakah itu yang dialami oleh pengarang manga sejenis?
Apalagi ternyata para penyunting di sini kebanyakan digambar berdasarkan penyunting di kehidupan nyata di majalah Shonen Jump. Mungkin juga ada referensi dari kehidupan pengarang/penyunting/penerbit manga kelompok majalah selain Shueisha, walaupun tidak menyebut merek.



Jalan Komik


Akhir Oktober ini kabarnya anak muda Indonesia juga menerbitkan komik sejenis. Bisa diintip di http://jalankomik.blogspot.com/.

Tentu alur ceritanya akan melangkah di jalur berbeda, secara proses penerimaan naskah dan penyuntingan di Koloni M&C pasti berbeda dengan Shonen Jump Shueisha. Tapi mengintip lembar-lembar awalnya, mirip juga... walaupun mengambil sudut pandang yang berbeda (BAKUMAN diceritakan melalui si penggambar, sementara Jalan Komik diceritakan melalui si pengarang). Menemukan buku tulis Fajar/Saiko yang tercecer di kelas berisi sketsa-sketsa indah, Bayu/Shujin mulai membujuknya menjadi mitra duet menggambar komik Indonesia/manga Jepang.


Bahkan sosok tokoh utamanya, mirip pula! (Mirip dari penampilan, tapi bukan dari perwatakan. Shujin adalah siswa unggulan yang cukup sehat dan selalu menyabet nilai sempurna, sementara Bayu mengabaikan nilai matematikanya yang buruk sedangkan penyakit berat mengancam hidupnya... halah tragis banget sih? Saiko anak manis yang awalnya ingin hidup biasa saja menjadi pegawai kantoran, sementara Fajar tampak berandalan hidup penuh kekerasan.)

jalan komik

Sayangnya, baru bab pertama sudah menggunakan bahasa Inggris; kenapa tidak memelihara Bahasa Indonesia? Harapan saya, semoga di halaman-halaman berikutnya tampil lebih banyak segi ke-Indonesia-an daripada sekadar lambang OSIS di dada.
(Latar belakang harimau dan naga juga terlalu berasosiasi ke penunjuk arah barat-timur budaya China, kenapa naganya tidak diganti banteng kayak di gunungan wayang? Atau badak? Atau komodo? Kenapa bukan hiu dan buaya? dll.)

Satu lagi yang saya tangkap dari intipan ini, AKSI MENGGAMBAR itu sendiri sama sekali belum terlihat di Jalan Komik. Di sinilah keunggulan artistik Obata Sensei dalam BAKUMAN. Tanpa terjebak alur cerita klise dengan aksi kekerasan ataupun tragedi yang menguras air mata, sejak awal panel-panel BAKUMAN telah menampilkan gerak-gerik sehari-hari menggambar -dan mengarang- dengan sangat dinamis dan heroik. Sementara dilihat dari iklan Jalan Komik, hanya satu panel yang tampak bergaya heboh norak, itu pun ketika si tokoh meniru gerakan tokusatsu di televisi... rada maksa.


Yeah sebagai pemula amatiran dengan dewa profesional, apalagi antara komik Indonesia dengan manga Jepang yang sudah punya pola rutin khasnya, belum sebanding pastinya. Kalau memang ada resep-resep ampuh yang patut ditiru, saya rasa tidak ada salahnya dilakukan dengan terang-terangan sampai suatu saat bisa melampaui yang asli. Yang perlu dicamkan, asal jangan sampai menjiplak plek panel-panelnya tapi malah berkelit lepas tanggung jawab dengan alasan "tribut ke mangaka kegemarannya" kayak kasus yang dilakukan anaknya Gene Simmons terhadap "Bleach" (dan beberapa manga tenar lainnya) dalam komik "Incarnate".

Oh ya, padahal seandainya dibahas juga tentang sejarah megap-megapnya komik Indonesia selama ini ditenggelamkan oleh arus "soft power" Jepang -dan Korea -dan Taiwan, bagaimana para muda-mudi Indonesia di Koloni berjuang melawan arus tersebut, tentu akan menarik. Yah kita lihat saja nanti.

***
Karena penerbit-penerbit utama (Shueisha dkk) mulai melakukan razia unggahan manga berbahasa asli dalam jejaring, saya beli sendiri BAKUMAN. Saya belum tahu apakah sudah diterbitkan secara resmi di Indonesia. Tapi bagi yang mau intip-intip dulu, pindai-terjemahnya ternyata masih bisa dilihat di sini:
- BAKUMAN bahasa Inggris: sampai #100an
- BAKUMAN bahasa Indonesia: sampai #50an

Senin, 04 Oktober 2010

Yotsuba & Angklung!

Baru pertama kali lihat uang receh seribu rupiah baru yang tipisnya seperti koin game center. Tapi secara gambarnya angklung (dan Gedung Sate), jadi gak tega mencela...



Bicara tentang angklung, ada pandangan menarik dari teman SMP saya yang pewaris Koesoemadinata, bahwa...
Memainkan angklung dengan tangga nada barat artinya belum merdeka!
Apalagi ilmuwan Indonesia sudah pernah meneliti "laras sejati" yaitu tangga nada salendro-17 yang kabarnya mencakup seluruh tangga nada di dunia sehingga lebih memenuhi unsur rasa manusia secara universal, seperti diterapkan pada gamelan Ki Pembayun (yang kini hilang tak berjejak?)

Ah, tapi apakah tangga nada diatonis milik barat dan pentatonis milik timur? Bukankah nada itu sebenarnya universal?

Selamat ulang tahun ke-30 untuk KPA SMAN 3 Bandung.
Semoga sering-sering tampil di luar negeri tidak jadi lupa akan perlunya mengembangkan kebudayaan di dalam negeri.
Ayo dukung angklung di AngklungisIndonesia.com/



Semoga dukungan pemerintah Indonesia terhadap angklung juga semakin besar (tanpa harus mengaransemen lagu-lagu SBY).

Bonus, ini foto Yotsuba waktu tampil di Festival Bambu Nusantara kemarin...

Jumat, 01 Oktober 2010

Kutukan Zaman Modern

Lontong pakai lembar aluminium (okeeey) itu apa boleh buat dong, saat di luar negeri tidak ada daun pisang.
Ketupat pakai plastik (ngngng...) ditemukan di tukang ketoprak di pengkolan Salihara. Huh padahal kan lebaran sudah berlalu, pasti banyak sisa janur...
Putu bambu pakai... pipa pvc??? (Ehalah gubraggg!) Warnanya hijau emberrr pula!

Alasan bahwa bambu susah dapatnya, itu sangat tidak bisa diterima. Bukankah bambu dalam sehari bisa tumbuh 30 cm?

Untunglah setelah trauma horor itu, masih ketemu tukang putu yang cukup waras, tetap menggunakan bambu asli, daun pandan dan daun suji alami.

yotsuba & putu!

Jumat, 24 September 2010

Shinkai Makoto

Hayuuu kita nonton?
Film-filmnya Shinkai Makoto di Jak Japan Matsuri...

Yang akan diputar adalah kumo no mukou, yakushoku no basho/the place promised in the early days (2005) dan Byosoku 5 cm/5 cm per second (2007)...
Saya suka sekali lagu latar One More Time, One More Chance ini, mengingatkan pada awal datang ke Jepang. Lagu pertama yang saya dengar di sana adalah karya penyanyi yang sama ("Serori" yang kemudian dinyanyikan oleh SMAP).



Sebagai pemancing satu lagi, simaklah film pendek Shinkai Makoto "She and Her Cat"...

Jumat, 10 September 2010

Hard for Me to Say


Mohon dengan hormat untuk parcel-parcel selanjutnya kirimkan buah-buahan pribumi... Cintailah hasil dalam negeri! Dukung kemandirian bangsa... Demi kemajuan para petani... Dan, supaya bisa enak dirujak... NGAREPPP... Trims p(^o^)q

Rabu, 01 September 2010

Iklim!

Baru mengecek statistik blog, ternyata yang paling sering dikunjungi selama enam bulan terakhir adalah Malaysia dalam Kartun. Tapi tidak ada yang berkomentar. Mungkin yang meluncur ke sana orang Malay, cari-cari kalau ada kartun Indon yang menjelek-jelekkan Malay; bisa juga orang Indon yang perlu bahan untuk hina-hinaan dengan Malay. Sayangnya saya gak ngebahas itu sama sekali, cuman membahas pengarang komik Malaysia kegemaran saya, LAT. ;p

Bagaimanapun juga secara wawasan nusantara bangsa Indonesia masih kurang melaut, jelas kita harus introspeksi.

Ya sudah ntuk melipur lara, saya persembahkan lagu yang sempat ngetop waktu saya SD... Tariiik!

suuuatuuu harrriii nantiii paaasti kaaan berrrcaaahaya ♪♪♫ piiintu aaakan terrrbuka ♪ kiiita langkah berrrsama ♫♪♪ (Suci dalam Debu)

laaaluuu tersentak diriku sedari lamunan ♪♪ kini sebenarnya aku telaaah kau tiiinggalkaaan ♫♪(Hakikat Sebuah Cinta)

Oooh retro retro hahaha



Kamis, 12 Agustus 2010

Cobaan Ramadhan #1

Mungkin, ini karma beruntun dari peristiwa-peristiwa minggu lalu:
  1. Mempermasalahkan kenapa bertelanjang kaki disebut kaki ayam, ketika kemarin membahas manga Hadashi-no-Gen. Kenapa bukan kaki monyet (berbentuk tangan?), kaki bebek (ada selaputnya?), kaki kuda (ada ladamnya?), kaki sapi (untuk disop), kaki kucing (istilah balet), kaki buaya...???
  2. Menganggap Ibunda saya kurang kerjaan ketika iseng memasang dan mengomentari lukisan satu ini.
  3. Menertawakan Pak Farid Gaban yang mengaku kehilangan MacBook Pro dua kali: satu rusak tenggelam saat berperahu antarpulau ekspedisi zamrud khatulistiwa, satu dicuri di bus antarkota saat bersiap-siap pindah ke kampungnya.
  4. Merasa diri ini cukup s.a.k.t.i sehingga tidak bakal ada copet yang tegaan, terbukti belum pernah seumur hidup kecurian barang, apalagi barang penting, yang ada hanyalah barang penting tersebut terselip ataupun rusak kena bencana alam.
  5. Juga kebetulan tiga minggu lalu, baru membahas keutamaan lari nyeker (a.l. memperlancar peredaran darah, anggap saja pijat refleksi) kepada angkatan terakhir KANST yang mengeluhkan beratnya tugas tersebut dibebankan oleh angkatan atasnya (yang mungkin sesungguhnya memang hanya berniat menyusahkan mereka, bukan karena mempertimbangkan keutamaan tersebut...)
  6. Tapi mungkin ada peristiwa lain yang mempengaruhi yang tidak saya sadari sama sekali.

D I C A R I

alas kaki saya tercinta, sepatu sandal pantai ukuran anak-anak nomor 36, warna abu-abu dengan pita merah, sol hitam-merah. Merek reebok, harga beli kortingan 270 ribu rupiah. Sudah dipakai habis-habisan setiap hari selama enam bulan terakhir di semua medan pertempuran: lari pagi, bersepeda, berkuda, lintas alam, panjat gunung, arung jeram, kelelep di sungai, berenang di laut... ke kantor, ke pasar, ke dokter gigi, ke masjid, ke mushala, ke upacara pemakaman, ke pesta kawinan, naik kereta api, naik pesawat, naik perahu, keliling Indonesia... Hilang di Jakarta pada tanggal 11 Agustus 2010, pukul 21.00 WIB, saat bubaran acara tarawihan eksklusif memperingati ulang tahun Almarhum Mantan Ibu Negara, dihadiri oleh tamu-tamu VVIP dan dijaga oleh paspampres. Saya masih berharap bahwa sandal ini tidak dicuri orang, hanya mengalami pergeseran tempat, karena saya sangat terlambat keluar ruangan, setelah karpet digulung lampu dimatikan dan pintu depan dikunci. Pastinya sepatu tersebut diamankan ke tempat lain. Selain itu mengingat ukurannya yang kecil, warnanya yang kusam penuh debu lumpur bahkan lubang-lubang udaranya masih mampat dipenuhi pasir sisa petualangan lalu, tentunya tidak akan ada yang berminat secara khusus. Perlu diketahui bahwa sepatu ini bukanlah sepatu termahal yang saya miliki, namun yang lain sedang tidak ada yang dapat dipergunakan sebagai alas kaki karena sedang jebol ataupun solnya sudah aus. Tinggal yang sepasang inilah sepatu saya yang tahan banting dan tahan banjir... Dan bahwa repotnya memilih sepatu yang pas di muka itu sama sulitnya dengan memilih jodoh; belum tentu juga model ini masih dijual di pasaran, apalagi saya harus tabah menunggu THR turun. Saya sempat kehilangan sebelah sepatu bulan November 2009, di mushala stasiun Gambir, kemungkinan terseret koper orang ke restoran seberang. Minggu berikutnya saya berhasil memperolehnya kembali berkat bantuan petugas pembersih di sana. Makanya saya yakin jika memang hak milik, pasti akan kembali, dan jika memang bukan rezeki, pada akhirnya saya akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Saya hanya berharap sepatu tersebut tidak sia-sia hilang dari hadapan saya, agar siapa yang mengambil dapat menggunakannya dengan pas dan nyaman, bukan karena tersapu masuk tong sampah karena kelalaian belaka. Omnia Mutantur, Nihil Interit. Bagi yang menemukan, mohon kabari Kanti di tempat biasa.
PS: Terima kasih kepada rekan-rekan baik di Patra Kuningan maupun yang baru kenal di di busway, angkot, dan sepanjang jalan, atas belas kasihan dan tawarannya meminjamkan sandal jepit. Namun saya pahami jika takdir menggariskan bahwa sandal saya harus hilang, berarti takdirnya saya pulang nyeker. Pada dasarnya nyeker bukan masalah bagi saya, yang masalah adalah kenyataan bahwa bagian hidup saya hilang saat ini (sungguh bukan lebay).
Semoga saja tulisan ini cukup sampai di mari, tidak bersambung lagi esok hari menjadi Cobaan Ramadhan #2 dan selanjutnya. *** UPDATE 14/08: Alhamdulillah, cobaan nyeker sepanjang hari telah berakhir, usaha menempelkan selebaran di setiap pos satpam berhasil, sepasang sandal saya telah kembali ke kaki.

Rabu, 04 Agustus 2010

Beta Kanti, Rujak, wa, ne

... irama ganggang dan api membakar pulau...

Bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi kota-kota teluk yang daerahnya punya sejarah konflik: Ambon dan Palu, untuk proyek Literasi Media. Foto-fotonya bisa diintip di album BayWatch Ultimate Adventure.

Yang saya prihatin, adalah penyelenggaraan acara internasional Sail Banda. Dari posternya saja mereka menggunakan font comic sans gitu lho! Ban Comic Sans!
Belum lagi komposisi warna dan latar belakangnya. Benar-benar kegagalan fungsi, pengabaian desain.


Oh ya saya masuk televisi pas lagi makan nasi kelapa ikan bakar sambal colo-colo di pengkolan Batu Merah... Katanya ditayangkan kemarin di acara Koki Cilik. Gara-gara sedang berusaha melek media, saya mengomeli yang menyorot mengambil gambar para pelanggan tanpa permisi, ehhh ternyata orangnya kenal tim kami, karena dia pernah tugas meliput acara bincang-bincang. Supaya gak protes, malah diwawancara soal makanannya... Hahaha gak penting.

Jumat, 23 Juli 2010

Fighting for Nothing

... kita sama-sama manusia...
"... Yang ada di sini cuma dua jenis orang, yang belagu sama yang solider. Indonesia yang beragam? Heh, kejauhan! Buatku, itu adanya cuma di awang-awang! Sampai, ada kejadian yang benar-benar mengguncang semuanya..."




Film pendek berdurasi 13 menit ini merupakan salah satu materi kegiatan lokakarya Cerdas Bermedia untuk Toleransi yang diselenggarakan THC di tiga kota, yaitu Depok, Palu, dan Ambon.
Paduan antara dokumentasi wawancara dan animasi bergaya stilomasi ini menceritakan tentang dampak media pada remaja dan interaksi antarkelompok.

Produser Eksekutif: Andi Makmur Makka, Wenny Pahlemy;
Produser: Aryati Dewi Hadin, Kanti;
Sutradara: Sony Budi Sasono;
Naskah: Ifan Adriansyah Ismail;
Gambar Penokohan: Ganes;
Musik: Ardanti Andiarti;
Lagu: Koil, Homicide, Zeke and the Popo;
Animator: Sembilan Matahari Animation
Narasumber: Rinaldi, Juned, Asep, Meilia, Dian, Angga, Ires, Affan, Suqma, Wawan, Saiful, Ibet, Oming, Nango

http://www.literasimedia.org

*** Ada yang punya usul judul dalam bahasa Indonesia?

Jumat, 18 Juni 2010

Hanya Satu Bola

"Why is there only one ball for 22 players? If you gave a ball to each of them, they'd stop fighting for it."
Komentar seorang janda sepakbola,
dipajang di sebuah laman anti-Piala Dunia.
(Anonim: Daily Telegraph 28 Desember 1998 "kutipan olahraga tahun ini")


"Because there's also only one lonely planet for us to live in. And yet if there's already enough BALL for each, I'm sure they'll start fighting for a BOX. Or a pyramid. Or a cylinder, a cone, etc..."
(Kanti: blog bambumuda)



Minggu, 30 Mei 2010

Lucky Luke dan Rokok

Lucky Luke adalah cinta pertama saya terhadap tokoh komik. Sayangnya segera kandas terpatahkan oleh nasihat orang-orang di sekitar bahwa dia bukan contoh yang baik, secara perokok berat dan menggunakan senjata api sembarangan, hiks.
luckyluke jean dujardinWaktu itu saya juga sudah kenal Tintin, Asterix, dan beberapa tokoh lokal lainnya (Si Buta, Mandala, dll), tapi tentu yang masuk kesan "kereeen" bagi balita saat itu, ya citra koboi kita semacam "Shane" inilah, semasa belum ada "Brokeback Mountain"...

Setelah menonton animasi 2D-nya yang cukup apik,
Tous à l'Ouest: Une aventure de Lucky Luke (2007),
saya benar-benar ketinggalan berita, entahlah karena sedang sibuk memuja One Piece, mencaci maki DB Evolution, atau mengunduh bajakan komik amerika demi menghemat uang jajan. Makanya sangat kaget bercampur takjub melihat judul ini sedang diputar di bioskop Blitzmegaplex. FILM ORANG!

http://www.lucky-luke-le-film.com/

Bintang 1: Kampanye Antirokok


Menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia, film ini adalah sarana yang cukup tepat, karena Morris sang pengarang komiknya juga pernah mendapat penghargaan dalam peluncuran pertama World No Tobacco Day oleh WHO tahun 1988 karena keputusannya menghentikan kebiasaan merokok sang tokoh setelah sekian puluh tahun batangan tembakau itu menjadi jati diri yang tak terpisahkan, demi teladan bagi pembaca anak-anak (walaupun mungkin itu hanya strategi untuk menembus pasar Amerika yang sangat ketat dalam sensor rokok... tapi kenapa justru kebiasaannya bermain senjata api tidak diwaspadai siapa tahu akan ditiru anak-anak???)

Ketika film ini dimulai, sang jagoan kita sudah mengulum batang alang-alang dan menggunakan "a-pache" sebagai terapi berhenti merokok, walaupun masih belum menghentikan kebiasaannya melinting untuk menenangkan diri.
(Namun namanya film komedi, jangan lewatkan sindiran apa yang akan terjadi dengan batang alang-alang yang biasa ia kunyah, dan tunggulah kejutan pada end-creditnya...)

luckylukejeandujardin

Bintang 2: Busana dan Latar


Suasana Wild-wild West cukup terasa di tengah padang-padang terbentang ini.
Warna pakaian yang dikenakan juga sesuai komiknya, celana jins biru, sepatu bot cokelat, kemeja tangan panjang kuning, rompi kulit hitam, topi putih, syal merah... Tampak sangat meyakinkan dari jenis bahan, sedikit kucel, sobek dan bolong-bolong, lusuh karena tidak diganti-ganti, sesuai gaya hidup di masa itu. Walaupun dagunya tidak klimis, yang pasti jambulnya bisa persis komik.
Apalagi bila dibandingkan dengan adaptasi film sebelumnya, versi Terence Hill (1991) yang sama sekali tidak sesuai gambar, dan versi Til Schweiger yang muncul sekilas sebagai pemeran sampingan dalam film konyol Les Dalton (2004), yang walaupun orangnya tercukur rapi tapi busananya tampak seperti kostum boneka.
Mungkin inilah film pertama yang benar-benar pas dalam menampilkan desain grafis komiknya ke dunia manusia.

Bintang 3: Sisi Kemanusiaan


Tentunya wajar jika ada perbedaan yang khas antara film dan daftar komik yang dilibatkan. Dan kali ini yang ditampilkan cukup membuat saya merasa gegar budaya. Tapi anggap saja sesungguhnya mereka dua hal yang terpisah. Kali ini, yang kita temui bukanlah lagi Lucky Luke yang kalem, misterius dan selalu menguasai situasi. Kita akan menemui Lucky Luke yang cemas, masa lalu dan nama aslinya tersingkap, dan ternyata tidak pernah memotong kuku.
Dia lahir dari ayah petani, ibu pribumi. Dia gemar mengoleksi medali penghargaan di seluruh pelosok amerika, tapi akan tega membuang yang sama dengan yang sudah dia punya. Misi kepresidenan mengawal perintisan rel kereta api menyeretnya kembali ke kota kelahirannya, Daisy, berhadapan dengan gembong preman Pat Poker. Namun suatu peristiwa yang membangkitkan trauma membuatnya galau, menggantungkan senjata, mempertimbangkan untuk pensiun dari kegiatan kepahlawanan, mulai membangun rumah tangga dan kabur ke Eropa jadi komikus. Halah!



Tokoh Sejarah


Sebagai tribut terhadap Goscinny, pengarang Lucky Luke di zaman keemasannya, yang sangat terperinci dalam memparodikan tokoh sejarah, rekanan Lucky dari beberapa jilid berbeda tampil sekaligus. Sempat-sempatnya ia main mata dengan Belle Starr yang menjadi bintang kabaret di sana. Calamity Jane teman tapi mesra dan Jesse James sang musuh bebuyutan, terpaksa sama-sama turun tangan menegakkan hukum di kota Daisy. Billy the Kid pun ikut-ikutan bergabung karena merasa tersaingi.
Mereka kira-kira memang hidup di masa yang sama, pertengahan abad 19 di sekitar Missouri, namun belum tentu berjumpa di kehidupan nyata. Malah Belle yang kalau tidak salah aslinya satu geng dengan Jesse tidak tampak mengenal satu sama lain di sini.

Antara Perempuan dan Kuda


Lucky Luke yang biasanya "got nothing against women, but wave them all goodbye" akhirnya sempat punya pacar yang mengejar-ngejar dia sejak kecil! Sudah uzur? (Oh ya, pemeran Belle di sini adalah istri dari pemeran Lucky di kehidupan nyata, pentingkah trivia ini?)
Film ini juga menampilkan kekerasan terhadap perempuan, yang anehnya tidak ditanggapi dengan acuh oleh sang korban.
Perlakuan Lucky terhadap perempuan sekonyol perlakuan terhadap kudanya tersayang yang setia dan pandai bicara, Jolly Jumper.

Tapi memang pada dasarnya ini adalah cerita lucu-lucuan. Dan setelah muak melihat berbagai film berbagai etnis yang diamerikanisasi ataupun didisneyisasi, sebagai film berlatar amerika yang diperancisisasi (???), segala kejanggalan yang mungkin ada dalam film ini bisa segera saya abaikan dengan hati lapang.

Trailer-trailer:


Lain-lain tentang Bang Lucky, dan tak lupa juga tentang rokok:

Minggu, 02 Mei 2010

3G vs. 3 Idiots: kaum insinyur sedunia, ber-3-lah!

Dua film yang beredar di Indonesia awal tahun ini, kebetulan sama-sama mengambil tema seputar kehidupan mahasiswa teknik: Institut Teknologi (Bandung vs. India).
Satu film lokal "yang sedang-sedang saja", serba kepalang canggung, diproduksi sebagai nostalgia kebanggaan almamater.
Satu lagi film khas Bollywood yang "sungguh terlalu-terlalu-terlalu" lebay pangkat tiga, namun mengusung kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang mengutamakan persaingan nilai.

3G -Bahwa Cinta itu Ada- (2010)


http://www.3g-cinta.com
Diangkat dari sejilid buku garing (Gading-gading Ganesha) karya dosen bisnis, memperingati 50 tahun ITB secara birokratis dengan penuh titipan politis, film ini perlu ditonton setidaknya oleh para alumni demi mendukung industri kreatif yang masih merangkak tertatih-tatih. Tampil dengan keseharian rutin mahasiswa di kampus, berlatar sudut-sudut kota Bandung awal dekade 1980-an, kemudian menyorot kesuksesan para tokohnya 20 tahun ke depan, dengan sentuhan musik khas nusantara dan tutur pedalang.

3G-gading2ganesha

3 Idiots - थ्री इडीयट्स (2009)


http://idiotsacademy.zapak.com/idiotsmain.php
Berdasarkan pada buku karya insinyur IIT Delhi, Five Points Someone, film ini dimodifikasi dengan semua adegan dangdut yang mungkin ada, melankolis tragis tapi tetap ceria, penuh kebetulan-kebetulan seakan Deus Ex Machina... Lengkap dengan tarian nyanyian norak, dua upacara pemakaman, dua upacara pernikahan yang dikacaukan, dua rawat inap di rumah sakit, dan satu persalinan darurat.
Salah seorang penutur cerita menyatakan bahwa ia lahir tahun 1978, berarti kira-kira tokoh-tokohnya seangkatan saya.
3 idiots

Perbandingan, Persamaan, Perbedaan



    Alur kilas balik:
  • Dikemas dalam kisah perjalanan (mencari vs. menemui) seorang teman lama, mengenang masa muda sambil melintasi pemandangan indah di pelosok negara masing-masing (Sawahlunto vs. Shimla-Ladakh).

  • Bhinneka Tunggal Ika:
  • Tokoh-tokohnya tampak bercampur dari latar belakang yang berbeda (asal-usul dari Siantar/Padang/Jakarta/Ciamis/Trenggalek/Madura vs. adat agama Hindu/Islam/Buddha{?})


  • Sistem kasta:
  • Sampai akhir 3G, tetap ada kesenjangan gaya hidup antara anak-anak kota yang bisa dapat kos di tempat elit, dengan empat kurcaci yang mengontrak satu petakan beramai-ramai. Sebuah jurang yang lebar, tak juga terjembatani oleh sistem pendidikan... maupun cinta.
  • Setidaknya di 3 Idiots kasta lebur dalam kehidupan asrama dan perploncoan yang menggelikan, walaupun lalu memunculkan "sistem kasta" baru berdasarkan peringkat nilai.
    (hmmm adegan perploncoan tak ada di 3G, kenapa ya.)

  • Pemuda kritis:
  • 3G terbebas dari tahap olok-olokan tak sopan terhadap "golongan tua" (dosen, orang tua dkk) ini, mungkin karena para penyusunnya (alumni ITB angkatan 80-an) rata-rata sudah mencapai kedudukan/jabatan tersebut sehingga tidak hendak "menepuk air di dulang". Ada demo yang segera surut, dan sedikit sindiran terhadap pemerintah secara luas.
  • 3 Idiots berisi cemoohan habis-habisan "golongan tua" terfokus kepada apa yang ada di hadapannya, yaitu tirani pendidikan kampus yang terpatok pada nilai sehingga mengesampingkan sisi kemanusiaan, namun sampai melakukan tindakan ekstrim yang tergolong pelanggaran wilayah pribadi, vandalisme, kriminal yang tidak patut. Pembenaran terhadap joki gelar?

  • Kondangan Makan Gratis:
  • Yang unik adalah, 3G sengaja menghapus satu adegan di buku mungkin supaya tidak ditiru, sementara 3 Idiots justru malah menambahkannya sebagai elemen cerita yang cukup vital. Adegan tentang usaha perbaikan gizi ke upacara pernikahan dengan hanya bermodal amplop kosong dan seragam pesta (kemeja batik vs. sorban merah jambu norak ituuuh).
    *Mahasiswa Asia sebelah manapun sama saja kelakuannya, ya*.



  • Para pembelot jurusan:
  • Kedua film menggambarkan orang-orang yang harus membelot ketika mengetahui dunianya tidak di jalur insinyur. Mereka tetap berusaha lulus pas-pasan, kemudian sukses menekuni karier di bidang hobi (musik vs. fotografi).
  • Tapi tidak ada pengaruh *ekstrakurikuler* terhadap nasib para mahasiswa ini. Dalam buku 3G, disebut sepintas lalu siapa masuk klub mana, namun tidak diperinci. Dalam 3 Idiots kehidupan mereka terkuras pada pengejaran nilai, sehingga hobi dilakukan sendirian di waktu senggang, tidak berkembang di lingkungan sesama teman kampus.

  • Agama dan Ibadah:
  • 3G meletakkan nuansa keagamaan pada ranah pribadi. Padahal tahun tersebut seharusnya cukup kental dengan gerakan Islamisasi kampus, ataupun agama lainnya. Namun mungkin semangat toleransi membuatnya memilih bersikap netral agar tidak menyinggung siapa pun.
    Kalau seorang alumni berdosa, bukan takut Tuhan, tapi "mencoreng nama baik almamater!!!"
  • 3 Idiots tampil dengan tokoh berbagai macam agama, yang dituduh akan terlupakan dalam setahun berkuliah, tapi kemudian membuat pernyataan: "tak perlu meminta macam-macam dalam doa, cukup berterima kasih kepada Tuhan karena hidup saja merupakan anugerah terindah". Oh
    bahkan tokoh utamanya merumuskan mantera/dzikir sendiri:
    Sebut AAL IZZ WELL tiga kali!!!

  • Penanggulangan putus asa:
  • 3G, tampil sebagai teladan memandang hidup lebih positif. Tidak ada tokoh yang diperlihatkan sampai bunuh diri hanya karena kegagalan akademis. Cukuplah terjun ke lapangan mengambil alih usaha (dan putri) MERTUA.
  • 3 Idiots, di sela humor heboh, mengambil jalur terapi kejut dengan mencatat tiga kasus bunuh diri, dilakukan oleh orang yang menghadapi tenggat waktu TA, ancaman dikeluarkan, maupun ujian masuk. Mungkin memang kasus seperti ini dianggap perlu mendapat perhatian khusus.


  • Alumni Sukses:
  • 3G menyeret nama-nama besar lulusan ITB yang berhasil wirausaha ataupun naik ke tampuk-tampuk kepemimpinan, tanpa ada yang dijadikan teladan contoh dikutip biografinya. Tokoh utama hanyalah alumni rata-rata yang tidak istimewa: yang pintar jadi profesor, yang pas-pasan pegawai kantor, yang bodoh jadi pedagang.
  • 3 Idiots di lain pihak menyatakan bahwa lulusan ICE terbaik sudah jelas jalan hidupnya: mereka akan meneruskan ke MBA lalu direkrut kerja ke Amerika. Dan itulah yang dikecam oleh para tokoh utama kita di sini.

  • Telekonferens:
  • Adegan awal 3G adalah berkerubungnya lima sahabat di depan layar menemui seorang lagi sahabat lama yang dengan sombongnya mengumumkan rencana masa depan. Terobosan teknologi yang menakjubkan bagi angkatan 80an, yang pasti kebanyakan masih gaptek sampai sekarang.
  • Klimaks 3 Idiots adalah proses persalinan aneh, yang terpaksa dilaksanakan oleh mahasiswa mesin dengan instruksi mahasiswa kedokteran melalui webcam sinyal wifi, dan mempelajari simulasi konyol melalui YouTube! Sesuatu yang semestinya belum ada di masa mereka kuliah, jika benar seangkatan saya.

  • Pemeran Bangkotan:
  • Dalam 3G, para pemeran berusia sekitar 27-35an, secara gaya, tampang, gerak-gerik masih cukup imut sebagai remaja 18an. Tapi gagal total ketika mulai melafalkan naskah: mereka tampak tidak yakin terhadap makna kata-kata mutiara yang mereka ucapkan (yang memang meragukan). Apalagi ketika mereka kemudian harus tampil berusia setengah baya, semakin tampak kurang matang.
  • Sutradara 3 Idiots nekad memilih pemeran "tua" usia 40an, sehingga mereka sanggup mantap menghayati filosofinya. Cukup kuruskan tubuh dan rias wajah, selebihnya serahkan pada efek visual, voila, beralih rupa sebagai pemuda culun
    (toh mahasiswa India rata-rata bertampang boros!)



  • Emansisapi di Dunia Insinyur


  • Di dunia 3G, ada tokoh utama perempuan insinyur, cerdas, cantik, dan berasal dari Padang. Tapi dia jual mahal, punya ketertarikan khusus terhadap lelaki yang dianggap berderajat "lebih rendah" (lebih muda/miskin/jelek/bodoh?) daripadanya. Semakin jatuh derajat sang lelaki (mis. pincang) sesungguhnya itu hanya menambah ketertarikannya (jadi ingat Jane Eyre). Oookey, apakah itu cinta sejati, atau obsesi untuk mewujudkan *apa yang dia pandang sebagai* cinta sejati???

  • Dunia 3 Idiots hitam-putih dalam hal pengarusutamaan gender. Yang menjadi insinyur hanyalah lelaki. Perempuan pastilah jadi dokter yang siap dinikahkan dengan insinyur yang sukses kaya, dan itu belum tentu cinta, boleh jadi sekadar alat untuk meningkatkan derajat dalam pandangan orang banyak.

  • Sebagai satu dari segelintir perempuan langka yang mengecap pendidikan insinyur, memang kasus ini juga saya alami sendiri.
    Mendiknas RI menyatakan bahwa beliau dulu sempat membuka PMDK khusus untuk MAHASISWI jurusan teknik mesin, sekadar siasat jitu memicu mahasiswa kucel agar RAJIN MANDI!!! Gaaaaah...


  • Si Jenius


  • Apa yang bisa dicapai oleh lulusan terbaik ITB? Menurut 3G, hanya suatu semangat baru eksploatasi sumber daya alam alternatif, yang masih tergantung pada kerja sama dengan pihak akademisi dari negara penjajah. Ahahahahha.
  • Tokoh yang digambarkan paling pintar ceritanya adalah yang paling kampungan, pendiam, kalem, tapi bisa menyelesaikan soal-soal rumus tersulit dengan tangkas dan cekatan.
  • Kasih tak sampai karena minder terhadap cewek independen (juga gara-gara diwanti-wanti emak dan segan ke teman). Akhirnya dia menyia-nyiakan pacar pelampiasannya di kota demi dinikahkan dengan saudara sepupu di kampung.
    (Yang jelas, dialog dengan sang calon istri di buku pantas saya lempari tomat, untunglah dalam film diganti konteksnya.)
  • Dan beberapa tahun kemudian dia bertemu kembali dengan kecengan lama, OMG WTH DNA the old flame is still there!?? Ahaha Ariyo Wahab berhasil jadi tokoh yang itebeh banget...

  • Di lain pihak, 3 Idiots berhasil menampilkan insinyur ideal, yang ahli mencipta, bisa mencari jalan keluar dari masalah yang rumit dan mendesak, punya banyak paten, dan mendirikan sekolah kreatif untuk mendidik anak-anak menjadi MacGyver atau Master Keaton (yang dua ini sih bukan insinyur: satu ahli fisika terapan, satu lagi arkeolog, tapi siapa lagi dong insinyur yang bisa jadi teladan?)
  • Tokoh utamanya ini fenomena yang aneh bin ajaib, sudah mah ganteng, baik hati, setia kawan, cerdas teliti, inovatif pula. Tapi secara dia banyak mengkritik sistem perkuliahan kampus, apakah kehebatannya ini hasil didikan orang tua yang berasal dari ***sensor***, atau memang dia terlahir sebagai malaikat?
  • Sayangnya dalam urusan cinta, walaupun blak-blakan memberi perhatian terhadap gadis yang ditaksirnya, dia baru berani menyatakan cinta demi memenangkan taruhan dan menjadi teladan bagi teman-temannya.
  • Lalu karena satu dan lain hal menyia-nyiakan sang gadis tanpa kabar selama sekian tahun, hanya menyimpan helm kenangan, tenteram di kampung menunggu dikejar dengan skuter. GEEEH
    Tipikal calon profesor pikun. Untung cakep si Aamir Khan, ya.

macgyver...
Hmmmmm, kayaknya saya mau cerita tentang sistem pendidikan keinsinyuran, tapi kok malah terjebak ngomongin gombal-gombalan cinta dan perjuangan nasib perempuan lagi yak.
Yang jelas belum dapat dipastikan, siapa yang bisa duluan di antara insinyur Indonesia dan India, mencanangkan perngumuman semacam Anthony E. Stark...
"I have successfully privatized World Peace!!!"


Yah daripada 3G yang terasa hanya setengah hati menawarkan solusi (dan mungkin juga sudah tidak beredar lagi di bioskop) tentu mendingan film-film itebeh lain yang lebih jelas arahnya seperti
JomBlo (mahasiswa sipil yang lebih repot cari pacar daripada kuliah) atau cin(T)a (mahasiswa arsitektur yang sibuk mengklaim Tuhan, mumpung sudah keluar DVDnya)...

Atau film terbaru Deddy Mizwar "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)", usaha para sarjana memecahkan masalah kronis kemiskinan.
Sayangnya karena mereka bukan insinyur, tidak sempat saya bahas di sini. (Silakan tonton sendiri, dijamin tidak rugi...)

Ada lagi bagi perempuan lajang usia 30-an yang mungkin berminat mengejar insinyur, bisa sekalian menonton pameran angkutan kota Thailand di รถไฟฟ้า..มาหานะเธอ (BTS: Bangkok Traffic love Story)... Moral cerita ini, rusakkan peralatan canggih di sekitar sang insinyur, itu bisa membuka peluang pedekate, asalkan mereka nggak bete; tabahlah ditinggal-tinggal pergi; gunakanlah angkutan kota; dan bersiaplah menyesuaikan jadwal kerja yang tidak biasa, hohoho hoho.

Bagaimanapun juga film 3 Idiots sangat layak tonton di bioskop, mumpung masih ada di Blitz, atau bisa diakses di YouTube...
Film ini akan membuat kalian pulang dengan mata sembap tapi cengar-cengir sambil berjoged-joged, kemudian bersenandung lirih,
"Give me some sunshine, give me some rain... ♫♪
Give me another chance, I wanna grow up once again... ♪♪♫
naa naa nanana, nananana... "


Rabu, 21 April 2010

Cinderella (ella-ella, eh-eh-eh-ooo)

"Cinderella Complex" adalah sebuah istilah yang dikemukakan oleh Colette Dowling, bukunya terbit pada awal 1980an, entah ayah atau ibu saya kebetulan punya, diletakkan di rak sebelah atas koleksi dongeng-dongeng peri saya sehingga judulnya saja sudah cukup menghantui mimpi-mimpi masa balita saya.

cinderellacomplexIsinya tentang suatu keinginan tak sadar perempuan untuk diurus oleh orang lain, terutama didasarkan pada ketakutan akan kemerdekaan. Masalah ini akan tampak semakin nyata seiring dengan bertambah usia. Aspek penting dari karya ini dapat dijelaskan sebagai identifikasi salah satu pencetus sindrom yang menyebabkan fenomena yang lebih besar seperti mengapa perempuan memilih untuk mempertahankan hubungan yang gagal.

Kompleks ini dinamai seperti tokoh dongeng peri Cinderella, yang menggambarkan citra perempuan sebagai cantik, anggun dan sopan tetapi tidak sanggup berdiri sendiri sebagai tokoh yang kuat dan merdeka sehingga harus diselamatkan oleh suatu gaya dari luar, biasanya seorang laki-laki (Pangeran Tampan).
Dowling berusaha menjelaskan betapa kondisi tersebut bukanlah sifat yang alami, melainkan endapan budaya, hasil didikan masyarakatlah yang menuntut perempuan untuk bersikap ketergantungan dan laki-laki untuk tidak demikian.

Sayangnya pendapat tersebut hanya berdasarkan satu pengalaman pribadi sang penulis, dan tentunya tidak dapat disamaratakan sebagai pengalaman perempuan yang dibesarkan dengan cara yang berbeda. Apakah perempuan yang tidak dididik demikian sudah pasti terbebas dari kompleks tersebut? Atau, jangan-jangan sebenarnya itu sudah terpatri dalam naluri perempuan pada asalnya, mau dibesarkan dengan cara apa pun?

Apalagi, pendapat tersebut hanya berlandaskan penggambaran Cinderella dalam karya Perrault, yang mendoktrin perempuan beradab "kalangan atas" bahwa mereka haruslah penurut, menunggu dengan sabar untuk diselamatkan, berkaki kecil jarang jalan-jalan, pasif tidak punya inisiatif sendiri, menyerah dihina dan ditindas oleh saudara tiri tanpa mengeluh, bergantung kepada ibu peri, dan kemudian menerima pelindung yang lebih permanen, yaitu suami. Sebagai seorang perawan, dia tidak punya kewajiban memperjuangkan dunianya agar menjadi lebih baik. Dia rela diperbudak dengan tertekan dan penuh penderitaan, terampil dalam urusan rumah tangga namun tidak menikmatinya.

Masih mendingan Cinderella dalam catatan Grimm bersaudara yang dikumpulkan dari kabar rakyat jelata, digambarkan bahwa perempuan itu cerdik, punya banyak gagasan dan daya upaya untuk membebaskan dirinya sendiri. Walaupun saudara-saudara tiri melakukannya dengan cara yang gore sampai mengiris kaki ... Namun tetap saja seperti di adat-istiadat negeri asalnya (Cina?) kisah ini masih sarat dengan pemilahan antara perempuan bangsawan (dengan ciri berkaki kecil karena sengaja dibebat sejak lahir) yang tidak pantas diserahi pekerjaan rumah, dan perempuan rakyat jelata yang kakinya pastilah tak muat di sepatu kaca.

Confessions of an Ugly Stepsister menceritakan sudut pandang lain dari kisah ini dengan lebih membumi. Cinderella adalah anak yang cantik dan besar dimanja, sedangkan ibu tirinya kerepotan menanggung suami yang sakit dan usaha yang bangkrut. Turunnya Cinderella ke dapur adalah tuntutan hidup. Dia sengaja memoles wajah dengan arang agar tidak diganggu oleh lelaki sembarangan. Sementara saudara tirinya berbakat seni dan bisa menemukan kebahagiaan hidup sendiri.

***

Di masa kini, Cinderella berlagak sebagai seorang tante-tante berambut pirang pemilik toko sepatu, yang tidak mengelolanya dengan baik, malah asyik jalan-jalan belanja ke luar negeri. Dia masih berkeluh-kesah menyesali pernikahannya di masa lalu dengan Prince Charming, karena sebagai istri resmi ketiga (!) dia kehabisan manis sepahnya.

Di antara perkumpulan arisan mantan-mantan Prince Charming (Snow White dan Sleeping Beauty), si pegawai toko "The Glass Slipper" yang kerja keras dan ide cemerlangnya selalu dipandang sebelah mata (Crispin Cordwainer, pembuat sepatu dalam kisah the Elves and the Shoemaker), maupun penduduk lain di pelosok Fabletown (tempat para tokoh dari cerita peri kini mengungsi), tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya selama ini Cinderella punya kegiatan utama yang sangat rahasia, sebagai mata-mata paling handal yang menikmati pekerjaannya.

Demikianlah sosok ini ditampilkan dalam dunia FABLES - komik Amerika milenium yang cukup menarik dalam menampilkan intrik-intrik politik. Seperti tokoh-tokoh cerita peri lain di komik ini, perwatakan Cinderella masih sesuai dengan cerita asli: kegiatan mata-mata adalah urusan penyamaran yang tepat, pemanfaatan alat, senjata sepatu, serta kepatuhan akan tenggat waktu. Namun di dunia "nyata" ini, "bahagia selamanya" tidak ada dalam kamusnya.

Komik yang terlalu Amerika, namun patut untuk diperiksa sesekali.

from fabletown with loveBabak berikut berkisah dalam satu misinya, Cinderella bertemu saingan yang setara dari negara "sahabat": orang yang berlatar belakang kurang lebih sama, naik derajat dari tanah penuh abu dan debu ke singgasana bangsawan melalui kekuatan sihir (Aladdin).
Dia pun harus menghadapi pertanyaan dan kecaman tentang gaya hidupnya yang sekarang dari sang makcomblangnya dulu (Fairy Godmother) yang pernah menjerumuskannya dalam perjodohan dengan pangeran yang telah menduda dua kali...

Menurut sang pengarang, cerita ini seperti "On Her Majesty's Secret Service meets Sex in the City" yang masih sejalan dengan alur utama "Fables".

From Fabletown with Love 01 02 03 04 05 06

Untuk serial Fables selengkapnya, kalau berkantong kempes seperti saya sekarang, cari saja bajakan pindaian di situs-situs Rusia...

***
Kaki saya sendiri termasuk kecil (ukuran 35/22 cm, beli sepatu harus model anak-anak) tapi bentuk kaki petualang tak kan sanggup dikurung sepatu kaca. Makanya saya pribadi kalau diperbolehkan, akan pilih Snow White Complex. Bukankah rambut saya tidak pirang melainkan hitam, kulit saya juga sedikit lebih putih daripada rata-rata, dan bibir saya pastinya akan merah sehabis makan sambal. Mungkin bukan Putih Salju seperti yang digambarkan di komik tersebut, tapi yang jelas tentu saya akan lebih suka berhaha-hihi dengan tujuh kurcaci, seandainya untuk menemukan pangeran tampan berarti harus pingsan dulu menelan racun apel. Apalagi saya tidak suka apel, jauh lebih enak buah-buahan pribumi seperti pepaya mangga pisang jambu duku durian salak dari Pasar Minggu. Belimbing, alpukat dan nanas juga boleh deh... Atau, kedondong. Seandainya tertelan biji kedondong kan lumayan heboh dan memalukan tuh.

Oh ya, tahu tidak, ternyata kedondong itu bahasa Inggrisnya Ambarella (ella-ella, eh-eh-eh-ooo)?

Tulisan-tulisan sebelumnya terkait urusan perempuan:

Minggu, 28 Maret 2010

Tugu Jemuran Terendam Comberan

For friends who love strolling around Bandung, we recommend you to visit this glorious landmark, at the elite intersection of the Jalan Pahlawan and Surapati - Hasan Mustafa (a.k.a. Suci, the primary artery road of Bandung). Emerged around new year 2010, its existence has since been competing with the statue of the notorious Barry Soetoro boy at Menteng Park.

But this monument is a lot more valuable so that it is heavily guarded by a police post and surrounded by strong barbed wire. No common people allowed to go near enough to touch it, so there are some assumptions that it's built from a very precious material that is rarely found on earth. It is also that important to replace some shading trees with tasteless garden and shove away creative public space for street musicians to make room for this thing.

There's no written explanation anywhere around the monument regarding the symbols that the local government or the unknown mysterious artist intended to display. Some debates already spread around among the citizens of Bandung about what this monument stands for and what kind of meaning or interpretation is to be communicated to the society through its unique shape. So there are some possibilities on how it is called.

(a) Monumen Cucian (Laundry)
(b) Monumen Jemuran (Hang & Dry)
(c) Monumen Kelantangan (The Bleach)
(d) Monumen Baju Loakan (Second-hand)
(e) Monumen Terendam Comberan (Submerged in Sewer)
(f) Monumen Korban Banjir (Flood Casualty)
(g) ...

You can suggest what title is most appropriate for this monument. We might even make a poll for it.

So, don't miss taking your photos with this important landmark of Bandung, before some people become sane enough to tear it down.

Dikirim oleh Kanti pada 27 Maret 2010


Bagi kawan-kawan yang gemar berjalan-jalan seputar Bandung, kami menganjurkan untuk menyambangi tugu megah ini, di perempatan teras Jalan Pahlawan dan Surapati - Hasan Mustafa (alias Suci, jalan arteri primer Bandung). Muncul di sekitar tahun baru 2010, keberadaannya telah menyaingi patung tenar bocah Barry Soetoro yang baru digusur dari Taman Menteng.

Namun, monumen ini jauh lebih bernilai sehingga diberi pengamanan penuh oleh pos polisi di sebelahnya dan dikelilingi oleh kawat berduri yang sangat kuat. Tidak ada khalayak umum yang diizinkan menyentuhnya, sampai beredar dugaan bahwa tugu keren ini dibangun dengan bahan amat berharga yang jarang ditemukan di bumi. Betapa pentingnya mengganti pohon peneduh dengan taman tak berselera dan menggusur ruang publik kreatif bagi pengamen demi memberi tempat bagi benda ini.

Tidak ada penjelasan tertulis di mana pun sekitarnya terkait perlambangan yang dimaksudkan oleh pemerintah daerah ataupun seniman misterius yang menciptakannya. Beberapa debat telah beredar di kalangan warga Bandung tentang untuk apa monumen ini didirikan serta apa makna atau penafsiran yang ingin disampaikan kepada masyarakat melalui keunikan bentuknya. Ada beberapa pilihan panggilan yang telah tersaring:

(a) Monumen Cucian (Laundry)
(b) Monumen Jemuran (Hang & Dry)
(c) Monumen Kelantangan (The Bleach)
(d) Monumen Baju Loakan (Second-hand)
(e) Monumen Terendam Comberan (Submerged in Sewer)
(f) Monumen Korban Banjir (Flood Casualty)
(g) ...

Anda dapat mengusulkan judul apa yang paling tepat bagi monumen ini. Kita akan mengumpulkan suara terbanyak. Jadi, jangan ketinggalan mengambil foto dengan tugu penting Bandung ini, sebelum datang orang yang cukup waras untuk membongkarnya.


Jumat, 19 Maret 2010

Kisah Kain Pengantin 「乙嫁語り・布支度」

Mengunduh episode sepuluh Otoyomegatari karya Mori Kaoru, tiba-tiba bangkitlah kembali rangkaian kenangan masa lalu.

persiapan kain pengantin
"Trousseau" - scanlation read online chapter 10 (via MangaReader)


Suatu sore yang cerah ketika menghabiskan liburan di Indonesia dengan mampir nongkrong di pelataran LFM-ITB, Bang Tegar pentolan kineklub saat itu menyodorkan kepada saya sebuah kaset VHS berisi film dokumenter berbahasa Jepang. Katanya ini adalah jatah pembagian dari Departemen Penerangan untuk unit kegiatan mahasiswa.

Isi film hitam-putih itu mengenai suatu desa di pelosok Jawa yang mandiri dalam memproduksi kain batik, mulai dari menanam kapas dan nila, memintal benang, menenun kain, merancang gambarnya, mencanting dan mencelup, sampai menjadi siap pakai. Masing-masing anak gadis melakukan hal itu sendiri, untuk kemudian dipakai sendiri sebagai kain pengantin mereka.

Semangat yang seirama dengan adegan menyulam yang saya baca dalam manga di atas. Hmmm sejak kapankah semangat mengerjakan keterampilan hastakarya seperti itu mulai luntur di kebudayaan kita, tereduksi menjadi selera untuk sekadar "berbelanja" pilih sana-sini tunjuk sana-sini pesan sana-sini tahu beres dan bayar dengan uang?

pola-pola sulam jalur sutra

Menurut kabar berita, tante-tante saya masih rajin menyulam selendang pengantin mereka masing-masing. Ibu saya sendiri tidak, tampaknya sih bukan karena sudah termodernisasikan atau kenapa, melainkan karena kepepet tidak punya uang modal membeli benangnya, hihihi. Lalu bagaimana dengan saya? Setelah menonton film dokumenter itu terpikir juga untuk melakukannya tapi tidak pernah sempat. Seandainya memulai sekarang, mungkin tidak akan keburu waktu, huh. Yang jelas, saya ingiiiiiiin sekali bisa membuat komik kebudayaan Indonesia seperti buku ini. Atau kalau ada siapa pun juga yang bersedia, saya berjanji akan mendukung sekuat tenaga... :p

otoyomegatari

Otoyomegatari (Kisah Pengantin Muda)



Saat adik sepupu menyodorkan Emma, romantika "maid" Inggris abad 19, saya hanya memandang sebelah mata pada Mori Kaoru. Okelah, renda-renda dan pita-pitanya digambar dengan indah, tapi bukankah alur novel-novel Jane Austen, bahkan drama Shakespeare sekian abad sebelumnya, jauh lebih rumit daripada cerita ini. Mana ada manusia yang sesederhana dan sepolos tokoh-tokoh utama manga ini? Raut wajah mereka membosankan. Dan huh, lagi-lagi berlatar belakang Eropa. (Walaupun, diam-diam dalam hati saya mengagumi cara dia menggambar BAJING yang menjadi figuran cerita tersebut.)

Otoyomegatari, dalam hal kesederhanaan dan kepolosan secara garis besar masih sejajar dengan pola pikir dalam "Emma". Namun, entah mengapa, kenyataan bahwa kali ini latar belakang yang diangkat bukan Eropa melainkan Asia Tengah sepanjang jalur sutra, dengan nama-nama tokohnya yang eksotik, adalah suatu daya tarik tersendiri. Berbagai kekeliruan sejarah dan budaya seperti pencampuradukan gaya pakaian, penggunaan busana istimewa dalam kegiatan sehari-hari, menarik panah tanpa pelindung jari (sementara sang pengarang menggambar komik saja jelas-jelas menggunakan pelindung jari), dan kesalahan penafsiran lainnya, semua termaafkan!

penunggang kudaSeorang gadis usia 20 dari suku pemburu yang berpindah-pindah, Amiru Hergal, berjumpa untuk pertama kalinya dengan bujang usia 12 dari suku petani yang menetap, Karluk Ayhan, tepat pada hari upacara pernikahan mereka.
Ada "kesenjangan yang lebih lebar daripada sekadar perbedaan potongan baju", namun mereka tulus berusaha menjembataninya agar pernikahan ini berhasil. Apakah dunia membiarkan?

Episode sebelumnya yang paling menarik bagi saya:
"Jimat" (ep. 2) tentang ukiran kayu...

***

Beberapa contoh keanggunan busana jalur sutra ada di sini:
http://www.chinahush.com/2009/12/06/family-portraits-of-all-56-ethnic-groups-in-china/

Proses Menggambar Manga a la Mori Kaoru (via YouTube)


Ini sudah lama beredar, tapi siapa tahu ada yang belum sempat menonton...


http://natalie.mu/comic/pp/otoyomegatari

  • Saat menggambar sketsa, perhatikan bahan-bahan dengan baik, supaya tidak menyimpang.
  • Jangan terlalu banyak garis dalam sketsa, nanti sulit memberi tinta.
  • Tata letak, besar tokoh, sudut pandang, termasuk balon suara, sudah diputuskan secara terperinci sebelum mulai ditinta.
  • Ketika konsentrasi pada gambar, cenderung hening. Hanya kalau dekat tenggat waktu, terpaksa memutar musik agar tidak panik.
  • Mengerjakan satu bingkai jangan lebih dari 15 menit. Kalau tersangkut di satu bingkai saja gambar itu tak ada artinya.
  • Garis yang digambar, disesuaikan tergantung adegannya.
  • Alat: Pensil cetet 0.3 mm dan 0.5 mm. Untuk penamaan dengan 0.9 mm. Kehitaman 2B agar cukup lunak bisa dihapus dalam sekejap, tidak terlalu diserap oleh kertas.
    Penintaan terutama dengan pena Cabra (Sazhidov), lalu pena bulat. Akhir-akhir ini untuk gambar yang besar menggunakan pena G. Pena kuas untuk sketsa luar. Spidol biasa dengan tiga jenis ketebalan. Tinta gambar Pilot. Sarung tangan yang dipotong jarinya. Gradasi.

meja gambar

Kamis, 18 Februari 2010

Seputar PRT dan TKI



Jadi bukan hanya pekerja rumah tangga saja yg perlu sertifikat lulus pelatihan. Majikannya juga perlu sertifikat lulus...
Posted by Kanti Anwar on Day o' the Sun, Februarrry 14, 2010


TKI (tenaga kerja Indonesia) adalah istilah hukum yg dipakai oleh perundang2an untuk buruh migran kita. jadi profesi yg...
Posted by Kanti Anwar on Windsday, Februarrry 17, 2010