Tampilkan postingan dengan label manga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 April 2017

Kuartet Petrushka

Petrushka sisihkan hasrat cemburu
Kasihmu pilih moro berlagu
Damaikan kalbu abaikan seteru
Duduk termangu bertopang dagu

= penggal kuartet
Soneta Astrajingga
@bambumuda 2015

Mengenang Vaslav Fomitch Nijinski
(12 Maret 1889 - 8 April 1950)
💃 🎭 🃏

: sosok yg kami curigai sebagai ilham patung monumen cendekiawan Bandung itu lho
...

http://bambumuda.blogspot.co.id/2016/07/ari-anjeun-saha-lain-nijinsky.html

Selasa, 01 November 2016

Pena, Buah, dan Catatan Kematian

Kegilaan PPAP, lagu absurd yang telah memecahkan rekor dunia sebagai lagu terpendek yang masuk 100 besar tangga billboard, rupanya menular ke tokoh shinigami satu ini ...



Entah apakah lagu ini terilhami pelajaran bahasa Inggris di Jepang, atau asli meledek Steve Jobs (yang katanya tidak merekomendasikan stylus tapi setelah kematiannya Apple Pencil diperkenalkan), atau ada muatan esek-esek yang hanya dapat dipahami kalangan tertentu, yang jelas nada dan tariannya telah menjangkau berbagai lapisan khalayak dengan beragam tanggapan, geli ataupun jengkel.

Kebetulan, Death Note memang sering bertemakan pena dan apel dalam ilustrasinya. Sementara nanas? Boleh dibilang pengejawantahan sosok Ryuuku. Hihihi. Kesempatan ini pun dipakai untuk memperkenalkan sekuel generasi baru Death Note: Light Up the New World.

Kabarnya DN versi holiwut ada pemutihan, cari Yagami Light dapat White Salami. Eh tapi yang jadi L orang negro, berarti bukan pemutihan juga sih ... Layakkah sebagai pilihan tontonan?

Saya belum menamatkan Death Note versi drama, dengan pendekatan baru watak Light dan L sebagai "manusia biasa" seorang wota (penggemar idola yang kena risak) dan seorang obosama (anak juragan yang manis manja)...

Kemarin dulu sempat menonton di pesawat Garuda manga dari pengarang yang sama, tampil sebagai film orang Bakuman (2015). Sayang, tokoh utama, Saiko dan Akito diperankan oleh pemeran Kenshin dan Sojiro dari Rurouni Kenshin! Seolah-olah tidak ada aktor lain saja yang bisa diandalkan. Entahlah rasanya peran Sato Takeru menjadi anak SMA terlalu tua walaupun saat sebagai Kenshin terlalu muda masih cukup berterima (seperti dulu itu, Fujiwara Tatsuya bagi saya tidak pantas memerankan Yagami Light walaupun juara saat memerankan Shishio).

Namun, seperti apa pun ceritanya, selama itu karya Jepang, mari kita coba hargai. Dan tidak terbayangkan juga bagaimana mengholiwutkan Bakuman, secara pertarungan bisnis manga, apalagi di lingkaran Shonen Jump, adalah tema yang sangat khas Jepang ... Kalau a la holiwut, pasti harus berubah menjadi pertarungan bisnis DC vs Marvel vs komik independen.

Masalahnya, kita kan masih trauma DB Evolution hiks. Walaupun penulis naskah setelah 7 tahun akhirnya minta maaf, produser tetap harus menebusnya dengan karya yang lebih baik! Karena semangat DB adalah pertumbuhan watak dan penemuan jati diri. Ahaha haha ... Sebagai hiburan, mari nikmati saja pilot episode Trunks karya adaptasi dari penggemar, "Dragon Ball Z: Light of Hope" (2015). Konon sekuel berikutnya kembali mengalami gangguan perubahan campur tangan produser ... lingkaran setan tak berujung.

Berhubung kita sudah membicarakan tiga manga Shonen Jump, kepalang tanggung sekalian saja lanjut ke yang lain.
Gosipnya One Piece film orang mulai digarap, Luffy diperankan oleh pemeran Yagami Light dari DN versi drama. Cari-cari berita, yang ketemu hanya iklan game One Piece (Ener dan Croc? Kekuatan petir dan pasir berbenturan menjadi kaca?)
Sementara itu, Naruto tampil di panggung Jepang, dan sudah mulai diolah Lionsgate untuk versi holiwut. cx ,xcy`.

Senin, 18 Juli 2016

Ari anjeun saha, lain Nijinsky?

Hampir setiap minggu berpapasan dengan patung duyung tanpa keterangan ini, kami pun dengan semena-mena menyimpulkannya sebagai jelmaan Vaslav Nijinsky, pebalet terhebat sepanjang masa yang berjaya pada awal abad XX.


Kesimpulan tersebut bukan tanpa alasan. Boleh dibilang, busananya mengingatkan kami pada Le Spectre de la Rose (pertunjukan yang musiknya menjadi lagu bangun tidur kami semasa kecil) sedangkan sosok tegaknya pada wujud beliau dalam L'après-midi d'un faune (koreografi inovatif kontroversial yang menampilkan kejeniusan sang penari) ...



Setelah dua tahun bertanya-tanya dalam kegelapan, akhirnya berhasil juga mencari jawabannya dengan kata kunci yang tepat:
Karya alumni FSRD ITB asal Bali yang diprakarsai oleh Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) memperingati kota Bandung penghasil cendekiawan.



Nah, sebelah mananya yang tampak cendekiawan ya?
- mata terpejam tanda merenung (bandingkan raut wajah oom vaslav)
- api pelita ilmu (rada miriplah dengan anggur yang dipegang Pan)
- air kehidupan (mirip banget kan dengan selendang peri yang ditarik Pan)
- tanaman merambat berwawasan lingkungan (ai sugan teh kupu-kupu)
- piramida kontruksi kokoh (euh, bukannya lambang penindasan orde baru?)



Penempatan sang patung mungkin memang belum tepat sehingga wali kota mempertimbangkan relokasi.
Menurut beberapa warga Bandung patung ini sepintas seperti sosok cowok cosplay pakaian wanita yang tak punya unsur sejarah bermakna, sementara ada pula seniman yang sempat mengancam menumbangkannya jika karya seni Asia-Afrika diperlakukan semena-mena.

Bahkan di sebagian kalangan, perlambangan ini berkaitan dengan penggambaran dajjal dalam hadits-hadits: sebelah matanya buta, bersamanya sungai air dan sungai api yang tertukar, sedangkan piramida terkait dengan isu iluminati ahhhahahahahahahahah.



Namun, dapat diperbandingkan sendiri dengan dokumentasi Nijinsky, memang potongan tegakan badan dan kaki si patung cendekiawan yang kekar semampai ini sangat balet Eropah ukuran golden ratio.
Layaknya Ozymandias di komik Watchmen, atlet tercerdas sedunia.

Mengapa tidak merekayasa lambang cendekiawan Asiah yang sudah lama melekat di ITB, yakni si gendut buncit lembam dewa Ganesha?
Atau agar lebih adil, ungkapan budaya Sunda, Cepot Astrajingga misalnya?



Sekadar catatan, Nijinsky jarang dibahas di Indonesia tapi cukup terkenal di Jepang melalui manga, khususnya yang bertema balet.
  • Bokushin no Gogo (2008 oleh Yamagishi Ryoko pengarang Arabesque)
  • Nijinsky Guuwa (1993 oleh Ariyoshi Kyoko pengarang Swan)
  • Eve no Musukotachi (1976 Aoike Yasuko pengarang Eroica Yori Ai wo Komete;
    manga absurd menampilkan Nijinsky berkostum Swan Lake hahaha)

Jumat, 03 Agustus 2012

Jafunisun: Tahu Sumedang




Tahu sumedang, tahu nu matak sono

ceuk kuring can aya anu bisa ngelehan
Tahu sumedang tahu nu pangraosna
komo dicengekan, komo lamun disambelan

Sanes harewos, karasa ku sorangan
nu ieu, can aya anu bisa ngelehan
Tahu sumedang tahu nu pangeunahna
arek disanguan, raos oge ditambulan

Ngeunah ceuk murangkalih, ceuk nu kolot, ceuk nu ngora
Ti peuting nepi ka hayam kongkorongok angger ngeunah ah euuuhhhh

Ceuk sayah (mbeeee) tahu ieu anu ngeunah
Ceuk sayah (mbeeee) tahu nu pangraosna huhuyeee
Ceuk sayah (mbeeee) nu ieu karasa gurih
Ceuk sayah (mbeeee) tahuna teh (mbee) matak hadeeeee


Terjemahan:


Tahu sumedang, tahu yang bikin kangen
kata saya belum ada yang bisa mengalahkan
Tahu sumedang tahu yang paling lezat
pakai cabe rawit, ataupun pakai sambal

Bukan bergosip, dirasakan sendiri
yang ini, belum ada yang bisa mengalahkan
Tahu sumedang tahu yang paling enak
mau dipakai nasi, enak juga jadi camilan

Enak kata anak-anak, kata orang tua dan pemuda
Sejak senja sampai ayam berkokok tetap enak ah euuuhhhh

Kata saya (mbeeek) Tahu ini yang enak
Kata saya (mbeeek) tahu yang paling lezat huhuyeee
Kata saya (mbeeek) yang ini terasa gurihh
Kata saya (mbeeek) tahunya (mbeeek) paling okeeee


Catatan koreksi bahasa Sunda dari Teh Dydy:


ngelehan = mengalah, seharusnya ngelehkeun = mengalahkan
sanes harewos (lemes), karasa (loma). campur-campur dalam satu kalimat
Ga konsisten untuk satu arti pake 2 tingkat (loma-lemes): ngeunah & raos.
Basa Sunda yang benar ngga ada kata 'sayah', agak dipaksakan supaya mirip sama Saint Seiya

Bagi yang belum ngeuh, ini parodi dari lagu OST anime "Saint Seiya".
Aslinya, "Pegasus Fantasy" bisa didengarkan di sini ...

Minggu, 01 April 2012

Fire Boys Hyper Rescue 「め組の大吾」

Yang jadi bintang iklan adalah anggota tim hyper rescue Tokyo, Matsuda-san yang biasa dipanggil Nihon-no Naryo-san oleh rekan-rekan Indonesia karena mengambil peran Pak Naryo yang melatih di Ciracas.

Jumat, 20 Mei 2011

20 Mei: Drama Dokter

Terlepas dari kontroversi apakah Boedi Oetomo benar layak dianggap sebagai tonggak kebangkitan nasional atau tidak (sementara banyak orang Indonesia yang belum bisa membedakan antara Bung Tomo dengan dr. Soetomo), ilmu kedokteran memang termasuk ilmu yang paling membuka wawasan kemanusiaan, globalisasi, kesetaraan dan perdamaian, dan menggerakkan roda sejarah.

dokter jawa

Dulu, pendidikan kedokteran modern di Indonesia diterapkan hanya sekadar untuk meluluskan tenaga Mantri Cacar yang dibutuhkan Belanda mengatasi wabah penyakit di daerah terpencil. Namun begitu memperoleh sedikit pencerahan, para ilmuwan Indonesia ini tentulah menuntut kesempatan menggapai cahaya yang lebih luas dan merata.
Sebagai golongan yang paling terdahulu bersentuhan dengan modernisasi, mereka pun berjuang meningkatkan kesejahteraan rakyat bukan hanya di bidang kesehatan, melainkan juga melalui jalur pendidikan dan politik.
Sedemikian mulianya tugas berat ini. Jangan sampai peristiwa seperti kasus Prita terulang lagi. Untuk menggalang kesadaran di kalangan masyarakat maupun profesi, tentulah sejarah dan sepak terjang kedokteran perlu mendapat sorotan khusus...

teknologi canggih

Seorang rekan dokter (Panji) kemarin mengusulkan sinetron tentang "dokter perempuan tanpa make up di puskesmas daerah terpencil dengan pasien tak beralas kaki, jangan dokter spesialis ganteng dan kaya yang pasiennya cantik pakai BMW."
Uh, rasanya sudah pernah ada sinetron TVRI di masa keemasannya tentang itu. Dokter Sartika, diperankan oleh Dewi Yul. Tapi saat itu Dokter Sartika masih hidup di dalam suasana ideal: menjalankan tugas dengan mulus, obat selalu tersedia, sarana dan prasarana puskesmas cukup memadai. Kisahnya juga mungkin lebih ke soal cinta, belum jauh merinci hambatan/tantangan yang dihadapi di tempat terpencil, bagaimana mengatasinya dengan jiwa petualang yang tahan banting, dst.

terdampar di edo

Untuk membuat komik/sinetron kedokteran Indonesia yang menarik, patutlah meneladani resep manga/drama medis Jepang yang sukses.
Salah satu yang naik daun, J I N. Diangkat dari 20 jilid manga karya Murakami Motoka (2001-2010) hanya dengan sedikit koreksi alur cerita, drama ini tayang seri pertama di musim gugur 2009 dan pada musim semi ini berlanjut ke seri kedua. Bisa dibilang gabungan antara drama sejarah (a la Indiana Jones), misteri sedikit horor, fiksi ilmiah, kedokteran, chanbara (film samurai), dan... dibumbui taktik penyelesaian masalah a la MacGyver!

Seorang dokter bedah otak yang sedang kehilangan kepercayaan diri, menemukan sebuah tumor misterius berbentuk janin di dalam kepala seorang pasien gawat darurat, membuatnya menyelinap melalui waktu mendarat di zaman Edo, (20 Mei) 1862-1868!!!

di bawah sinar lilin

Walaupun masih merasa aneh dengan lingkungan sekeliling, ia segera mengikuti nalurinya untuk menyelesaikan berbagai masalah medis penyakit, cedera dan wabah yang muncul di hadapannya dengan memanfaatkan segenap pengetahuan medis modern yang ia miliki dan menyesuaikan diri dengan keterbatasan peralatan. Dan kita pun dikejutkan dengan adegan-adegan penanganan medis yang ajaib, yang membuat kita penasaran akan kebenaran ilmiahnya (antara lain membuka batok kepala layaknya membuka batok kelapa...)

batok kepala

Tidak ketinggalan ia tekun berinovasi melakukan rekayasa alat infus dengan teknologi yang ada saat itu, maupun produksi penicillin sekian puluh tahun mendahului penemuan antibiotika tersebut di dalam sejarah kedokteran Eropa!
(Walaupun saya sendiri jadi bertanya-tanya, bukankah di satu sisi antibiotika justru menimbulkan berbagai masalah kesehatan? Seandainya antibiotika tak pernah ditemukan, misalnya langsung mengembangkan probiotika atau meningkatkan kekebalan tubuh dengan cara lain, apakah kedokteran saat ini bisa mengatasi masalah yang dihadapi di masa itu?)

penemuan penicillin

Ketulusan hati dan kesungguhannya segera membuat warga kota Edo terutama kalangan dokter di sana memandangnya dengan rasa takjub dan hormat, dan ia pun mulai nyaman hidup di zaman itu.
Perkenalan dan persahabatannya dengan Sakamoto Ryoma, seorang tokoh revolusi Meiji, membuatnya semakin mempertanyakan, apa tujuan nasib mendamparkannya di masa ini, apakah pisau bedahnya mampu mengukir sejarah baru? Apa dampak terhadap hidupnya sendiri? Terhadap masa depan pelayanan kesehatan Jepang?
(Tentu saja, pertanyaan itu sebenarnya hanya penyederhanaan dari sebuah pertanyaan paling mendasar dalam sejarah umat manusia... Untuk apa kita menjalani hidup dan memutuskan berbagai pilihan, seandainya garis takdir ternyata sudah ditentukan sampai terperinci di langit ketujuh?)

foto bersejarah

Kisah cinta juga digarap dengan serius, walaupun hanya bumbu dari ketegangan kasus medis dan sejarah yang melingkupinya, namun menjadi bagian tak terpisahkan dari alur cerita pencarian jati diri...
(Seolah menyadarkan kita kembali, dokter yang tulus tidak akan hanya "bermain-main dengan pasien wanitanya sebagai pengisi waktu dan melakukan aborsi sebagai usaha mencari nafkah yang mudah" -pendapat Ikatan Dokter Eropa terhadap dokter akademis Indonesia zaman kolonial...)
Cinta segitiga platonik yang terjegal rentang waktu, antara sang dokter dengan sang tunangan di masa depan yang mati suri akibat kegagalannya mengoperasi, dan dengan sang asisten, seorang putri samurai yang setia membantu sambil belajar di sampingnya. Uuu mengharukan!

terbenam

Drama ini cukup indah dari segi artistik, sorotan yang menawan, musik yang sendu, cerita yang memukau... Para pemeran benar-benar tampil handal dan "alat peraga" operasi yang tampak sangat nyata berdarah-darah dan membuat kita turut merasakan ngilu-ngilu menontonnya.
Dokter Jin dalam manga sebenarnya brewokan, namun pemilihan Osawa Takao yang sudah cukup lihai memerankan tokoh semacam ini (lihat "Hoshi no Kinka" di bawah ;p), saya rasa adalah keputusan yang sangat tepat.

Kesimpulan dalam drama ini, "Tuhan hanya memberikan kepada manusia cobaan yang dapat diatasinya..." (#eh: jadi kalau tidak dapat diatasi, artinya bukan cobaan lagi, tapi azab kan ya heheheh.)

usus buntu

Di Jepang kisah medis sangat dinikmati dan menjadi genre standar budaya manga, kabarnya kurang lebih ada 173 judul manga yang menyoroti dokter dan pekerja medis lainnya, isu-isu malpraktik, dll. Alur cerita cukup nyata karena diproses melalui studi pustaka dan lapangan yang cermat, penggambaran terperinci dan hasilnya diperiksa oleh dokter asli. 10 persen telah diangkat sebagai drama, film dan animasi.
Orang pun berempati dan merasa dekat dengan dokter, tidak lagi memandang mereka sebagai ahli pekerjaan yang suci. Diharapkan juga kepopuleran karya semacam ini berpengaruh terhadap pilihan karir anak muda dan membantu mengisi kekurangan tenaga kedokteran. Karena mengagumi tokoh tertentu bisa mencetuskan ketertarikan terhadap profesi medis...

andonat

Seandainya bisa mengolah sejarah kedokteran Indonesia dijalin dengan pergerakan kebangsaan sumpah pemuda dan proklamasi kemerdekaan, dengan alur cerita semacam tetralogi Bumi Manusia (si Raden Mas Minke sempat sekolah di STOVIA juga kan?) melalui resep "an-donat"nya Jin (yang manjur menyembuhkan beriberi, wabah penyakit di Indonesia yang sempat mengantarkan Eijkman meraih Nobel) ini, hmmm... Alangkah...
***

Beberapa manga/drama kedokteran lain yang patut disebutkan:
Jin, Black Jack, Monster

Black Jack (Manga 1973-83, Anime 2004-06)

Karya fiksi ilmiah dewa manga Jepang, Tezuka Osamu, mencerminkan latar belakang pendidikan tingginya di bidang Kedokteran Universitas Osaka, dan impiannya untuk menjadi seorang dokter tanpa surat izin yang bebas menyembuhkan gratis dan menolong orang lain tanpa terikat pakem peraturan modern. Persaingannya dengan seorang dokter euthanasia menyampaikan bahasan menarik tentang pilihan hidup atau mati.

Black Jack ni Yoroshiku (Manga 2002-..., Drama 2003)

Saitou adalah seorang dokter muda yang baru lulus. Memulai karirnya sebagai seorang dokter ia menemukan ada lebih banyak hal di balik profesi ini daripada apa yang dikira orang. Sebuah drama yang menegangkan tentang sisi gelap dari dunia medis.

Iryu- Team Medical Dragon (Manga 2002-2011, Drama 2006, 07, 10)

Kisah ini menyelami kerja keras dokter bedah jenius, Asada Ryutaro, yang dianggap sebagai pembelot karena metodenya yang tidak biasa, dan perjuangannya merevolusi cacat cela pada sistem rumah sakit Jepang yang korup dan tidak efisien, tidak dirancang untuk benar-benar merawat pasien.

Code Blue (Drama 2008, 09, 10)

Sistem Dokter Helikopter telah diresmikan di Jepang bulan Juni 2007. Satu tim medis dikirim ke pasien dengan helikopter untuk memberikan perawatan di lapangan secepat mungkin. Empat dokter muda ditugaskan di sini dan mengalami situasi traumatis, menyaksikan kerapuhan hidup, dan tumbuh sebagai pribadi dan profesional.

Nurse no Oshigoto (Drama 1996, 97, 2000, 02)

Sebuah drama komedi tentang hubungan perawat ceroboh Asakura Izumi dengan senior pengawas dan rekan kerjanya. Kegagalan demi kegagalan dia alami, namun keceriaannya memberikan dorongan semangat hidup bagi para pasien (perwatakannya semacam Candy-candy lah kali ya.) Lambat laun Izumi semakin terbiasa dengan profesinya dan memperoleh kepercayaan diri.

Dr. Koto Shinryojo (Manga 2000-..., Drama 2003, 06)

Dokter bedah muda terkemuka meninggalkan rumah sakit bergengsi di Tokyo dan pindah ke klinik di pulau terpencil di selatan Jepang. Para penduduk desa punya pengalaman buruk dengan dokter-dokter sebelumnya sehingga tidak menyambutnya dengan baik. Namun dengan sikap tulus dan bertanggung jawab dia dapat menjalin hubungan baik dengan satu per satu pasiennya.

Hoshi no Kinka -Die Sterntaler- (Drama 1995, 96)

Di sini Osawa Takao muda juga berperan sebagai dokter bedah otak yang kehilangan ingatan ketika pulang ke Tokyo dari tempat kerjanya di desa terpencil. Tunangannya, seorang perawat tunarungu mencarinya dan malah berkenalan dengan adiknya (Takenouchi Yutaka), seorang dokter juga yang selama ini merasa tersaingi oleh sang abang. Intrik perebutan kepemimpinan rumah sakit dibalut pengkhianatan dan perselingkuhan mewarnai sinetron cengeng ini.

Shiroi Kyotō (Novel 1965, Film 1966, Drama 1978 & 2003)

Perbandingan kontras antara kehidupan dua dokter mantan teman sekelas yang kini bersaing sebagai asisten profesor di Rumah Sakit Universitas Naniwa Osaka. Dokter bedah brilian Zaizen Goro berambisi meraih jabatan kemahsyuran dan kewenangan, sementara Satomi Shuji yang ramah dan rendah hati menyibukkan diri dengan para pasien dan risetnya.

Monster (Manga 1994-2001, Anime 2004-05)

Kisah thriller seorang dokter bedah otak Jepang jenius yang meniti karir menjanjikan di Jerman. Ketika ia memilih untuk menyelamatkan nyawa seorang pemuda daripada sang walikota, ia kehilangan segalanya: reputasi, karir, tunangan, kehidupan normal, malah menjadi buronan tertuduh pelaku serangkaian pembunuhan misterius. Untuk menebus kebimbangan akan apakah keputusannya saat itu benar atau salah, ia mengikuti jejak sang pasien dan menyingkap rahasia konspirasi besar di balik runtuhnya tembok Berlin, sambil menemukan betapa diskriminasi SARA masih tegak di antara batas-batas kenegaraan di seluruh dunia.

infus
dst... Saya belum memperbandingkan dengan komik maupun serial televisi Amerika karena jam terbang menonton masih kurang. Tapi saya rasa setidaknya ini saja sudah cukup menjadi referensi yang bagus untuk *dijiplak* sebaik-baiknya...

Bagi peminat menonton JIN bisa unduh (musim 1 - 11 episode) dan (musim 2 - 11 episode).

NB. Tulisan ini disusun sekalian mengenang Alm. Dr. Saiful Anwar (1905-1976), Alm. Prof. MW Haznam (1924-2008), dan seluruh warga sekampung yang berdedikasi terhadap profesi kedokteran.
dokter-dokter KG

Kamis, 28 Oktober 2010

Sumpah Zynga

Perkembangan teknologi gawai internet rupanya membuat orang mulai pasrah dan sabar menikmati macet. Padahal seharusnya tidak. Bukankah macet adalah kesalahan sistem yang harus dicari solusinya!
Saya tidak percaya dengan iming-iming kalau kita membeli suatu barang, artinya kita menyumbang sekian untuk ke mana. Itu seharusnya urusan langsung pemilik industri. Apalagi iming-iming terhadap permainan virtual, karena kontribusinya terlalu sedikit tapi seakan dapat membebaskan kita dari tanggung jawab sosial.

Saya bersumpah akan...
Berhenti main Mafia Wars, dan turut serta membasmi mafia peradilan.
Berhenti main Treasure Isle, bertualang di laut yang sesungguhnya.
Berhenti main Poker, dukung pemberantasan korupsi sampai akarnya.
Berhenti main Vampires, turut menanggulangi wabah demam berdarah.
Berhenti main Cafe World, masak 4 sehat 5 sempurna demi keluarga ceria.
Berhenti main FarmVille, merawat tanaman rempah-rempah di halaman.
Berhenti main FishVille, mulai memperjuangkan nasib para nelayan.
Berhenti main FrontierVille, mencoba mengatasi banjir Bandung/Jakarta.
Berhenti main YoVille, berberes kamar lalu silaturahmi ke para tetangga.
(Banyak banget ya...)
... Pokoknya saya akan,,, berhenti main segala game Zynga,
separah-parahnya kembali mengisi waktu luang dengan menekuni manga.

Rabu, 20 Oktober 2010

Polisi dan Seragam Satpam

Kebijakan pertama Kapolri baru????? Para satpam kantor, selama 10 tahun ini berseragam keren, kalau gak tangan panjang biru muda/biru tua, tangan pendek hitam-hitam. Tapi kemarin dapat surat edaran dari kepolisian harus pakai seragam satpam asli, putih-biru, jadilah hari ini kembali muda kayak anak SMP.



Jadi ingat sekali-kalinya pengalaman diinterogasi polisi, 20 Oktober 1999, pelantikan presiden kapan tahu, aku sedang bergoler nyaman di siang bolong di rerumputan pinggir kali Kamo (Kyoto), eh polisi yang patroli curiga lihat sepedaku kinclong... Untung sepeda ini bukan yang dipungut dari pinggir jalan. Ada nomornya, begitu dia cek pakai HT ke markasnya ketahuan bahwa surat-suratnya lengkap pakai namaku. Tapi dia kira aku orang Korea bermarga "Kan" pula, karena tidak percaya namaku hanya satu kata.
Huh polisi ga ada kerjaan, laporan kriminalitas yang terjadi hanya sebatas kehilangan sepeda?

Tapi ada juga pengalaman baik dengan polisi Kyoto, 22 Oktober kapan tahu, ketika aku melaporkan barang tercecer ketika mengantri nonton festival api Kurama... (Pikir-pikir, kenapa kalau aku punya cerita sama polisi, mesti bulan oktober ya)

Oh ya kalau di Jepang bukan hanya polisi yang berseragam. Supir taksi dan supir bus juga, rapi, lengkap dengan topi dan sarung tangan, lho.



Ngomong-ngomong manga paling lama tahan bersambung adalah komedi polisi di Shonen Jump, Kochira Katsushika-ku Kameari Kōen-mae Hashutsujo こちら葛飾区亀有公園前派出所(disingkat Kochi-Kame). Ada animenya juga.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Manga Michi [漫画道]

Baru sadar perlu cari bacaan baru, gara-gara sempat bingung waktu One Piece libur sebulan. Pertama kali mengubek-ubek Kinokuniya Grand Indonesia, sepulang menyeret Naomi dan Upik menonton Shinkai Makoto.

Yang langsung mencolok mata adalah sepasang nama pengarang dan penggambar Death Note, kali ini kembali berkolaborasi membuat "cerita yang sama sekali bukan fantasi!!!" Judulnya membingungkan: BAKUMAN. Tidak ada hubungannya dengan "bakugan" ternyata.


Sudah terbit 9 jilid... Oooooh ke mana saja saya selama dua tahun ini, kok ketinggalan berita? Ajaibnya ternyata hari dan jam saya menyentuh manga ini, adalah tepat saat pertama kali diputar animenya di NHK. Jadi geer, jangan-jangan ada teman di Jepang yang menonton ini lalu mengingat saya dan mengirimkan sinyal-sinyal telepati! Tapi siapa ya? Kok gak ada yang ceritaaaa. Lagian saya baca Death Note pun setelah di Indonesia...


Manga ini bisa jadi sumber info di balik layar pembuatan manga (khususnya manga Shonen Jump tentu), tapi lebih dari sekadar itu, juga teladan keseharian anak muda yang berjuang keras meraih mimpinya. Yang jelas, di sini terasa betul betapa beratnya menjadi mangaka... Sesuai judulnya BAKUMAN, menjadi pengarang manga adalah sebuah pertaruhan menyabung nyawa. Bukan hanya perlu bakat minat dan semangat, tapi juga perlu keberuntungan.


Walaupun mungkin tidak termasuk arus utama manga terbitan Jump (yang, dalam manga ini dirumuskan harus ada menampilkan pedang/katana!), tapi tetap muncul elemen khas shonen manga: "sports konjou", semangat bersaing untuk menang dalam perlombaan yang sehat antarsahabat, dan "etos kerja" ditunjukkan dengan kerelaan mengorbankan segalanya demi ketekunan. Tanpa perlu menampilkan secara klise lawan yang curang dan jahat, tanpa perlu ada tentangan dari orang tua atau pacar, modal pun sudah lengkap (studio dan peralatan warisan paman), bukankah kehidupan yang aman dan penuh dukungan ternyata tetap penuh tantangan! Oh yaa seperti inilah seharusnya cerita yang cerdas tanpa perlu intrik cengeng a la telenovela.


Apakah begini cara membuat manga yang baik dan benar? Atau begitu? Tidak ada jawaban yang tepat. Yang ada hanyalah perbedaan pendapat dan kesenjangan kemampuan. Tarik ulur antara berusaha profesional memenuhi tuntutan bisnis, dan menurutkan selera sendiri. Tarik ulur antara meningkatkan jumlah komoditas industri dan mempertahankan mutu karya seni. Tarik ulur antara realita yang serius dan fantasi yang lucu. Tarik ulur antara perlunya bersekolah untuk menambah ilmu dengan mengatur jadwal memenuhi tenggat waktu. Tarik ulur antara selera penggambar, pengarang, penyunting, dan pembeli (pembaca). Tidak ada yang paling benar, masing-masing punya alasan yang layak untuk mempertahankan pendapatnya dan melakukan tindakannya. Yang jadi masalah adalah bagaimana mengkompromikan semua itu. (Mungkin itu sebabnya pola judul tiap bab umumnya juga memasangkan dua hal yang bisa dianggap berlawanan.)


Tersingkap juga bahwa walaupun sepertiga pembacanya perempuan, ternyata Shonen Jump tetap dipertahankan dari sudut pandang anak cowok, sehingga mangaka perempuan menemui berbagai rintangan untuk berkarya di sana... (Walaupun ada pilihan kerja di shojo manga saja, Shonen Jump kabarnya adalah majalah terlaris yang lebih menjanjikan. Heee jadi kepingin juga kerja di Shonen Jump, tampaknya tempat yang tepat untuk mengusung emansipasi dan memberantas p*rn*grafi, hahaha...)
Selain itu yang asyik adalah mengkhayalkan berbagai genre manga yang dikarang oleh tokoh-tokoh kita di sini. Kira-kira itu parodi dari manga yang mana ya? Ceritanya tentang apa? Apakah itu yang dialami oleh pengarang manga sejenis?
Apalagi ternyata para penyunting di sini kebanyakan digambar berdasarkan penyunting di kehidupan nyata di majalah Shonen Jump. Mungkin juga ada referensi dari kehidupan pengarang/penyunting/penerbit manga kelompok majalah selain Shueisha, walaupun tidak menyebut merek.



Jalan Komik


Akhir Oktober ini kabarnya anak muda Indonesia juga menerbitkan komik sejenis. Bisa diintip di http://jalankomik.blogspot.com/.

Tentu alur ceritanya akan melangkah di jalur berbeda, secara proses penerimaan naskah dan penyuntingan di Koloni M&C pasti berbeda dengan Shonen Jump Shueisha. Tapi mengintip lembar-lembar awalnya, mirip juga... walaupun mengambil sudut pandang yang berbeda (BAKUMAN diceritakan melalui si penggambar, sementara Jalan Komik diceritakan melalui si pengarang). Menemukan buku tulis Fajar/Saiko yang tercecer di kelas berisi sketsa-sketsa indah, Bayu/Shujin mulai membujuknya menjadi mitra duet menggambar komik Indonesia/manga Jepang.


Bahkan sosok tokoh utamanya, mirip pula! (Mirip dari penampilan, tapi bukan dari perwatakan. Shujin adalah siswa unggulan yang cukup sehat dan selalu menyabet nilai sempurna, sementara Bayu mengabaikan nilai matematikanya yang buruk sedangkan penyakit berat mengancam hidupnya... halah tragis banget sih? Saiko anak manis yang awalnya ingin hidup biasa saja menjadi pegawai kantoran, sementara Fajar tampak berandalan hidup penuh kekerasan.)

jalan komik

Sayangnya, baru bab pertama sudah menggunakan bahasa Inggris; kenapa tidak memelihara Bahasa Indonesia? Harapan saya, semoga di halaman-halaman berikutnya tampil lebih banyak segi ke-Indonesia-an daripada sekadar lambang OSIS di dada.
(Latar belakang harimau dan naga juga terlalu berasosiasi ke penunjuk arah barat-timur budaya China, kenapa naganya tidak diganti banteng kayak di gunungan wayang? Atau badak? Atau komodo? Kenapa bukan hiu dan buaya? dll.)

Satu lagi yang saya tangkap dari intipan ini, AKSI MENGGAMBAR itu sendiri sama sekali belum terlihat di Jalan Komik. Di sinilah keunggulan artistik Obata Sensei dalam BAKUMAN. Tanpa terjebak alur cerita klise dengan aksi kekerasan ataupun tragedi yang menguras air mata, sejak awal panel-panel BAKUMAN telah menampilkan gerak-gerik sehari-hari menggambar -dan mengarang- dengan sangat dinamis dan heroik. Sementara dilihat dari iklan Jalan Komik, hanya satu panel yang tampak bergaya heboh norak, itu pun ketika si tokoh meniru gerakan tokusatsu di televisi... rada maksa.


Yeah sebagai pemula amatiran dengan dewa profesional, apalagi antara komik Indonesia dengan manga Jepang yang sudah punya pola rutin khasnya, belum sebanding pastinya. Kalau memang ada resep-resep ampuh yang patut ditiru, saya rasa tidak ada salahnya dilakukan dengan terang-terangan sampai suatu saat bisa melampaui yang asli. Yang perlu dicamkan, asal jangan sampai menjiplak plek panel-panelnya tapi malah berkelit lepas tanggung jawab dengan alasan "tribut ke mangaka kegemarannya" kayak kasus yang dilakukan anaknya Gene Simmons terhadap "Bleach" (dan beberapa manga tenar lainnya) dalam komik "Incarnate".

Oh ya, padahal seandainya dibahas juga tentang sejarah megap-megapnya komik Indonesia selama ini ditenggelamkan oleh arus "soft power" Jepang -dan Korea -dan Taiwan, bagaimana para muda-mudi Indonesia di Koloni berjuang melawan arus tersebut, tentu akan menarik. Yah kita lihat saja nanti.

***
Karena penerbit-penerbit utama (Shueisha dkk) mulai melakukan razia unggahan manga berbahasa asli dalam jejaring, saya beli sendiri BAKUMAN. Saya belum tahu apakah sudah diterbitkan secara resmi di Indonesia. Tapi bagi yang mau intip-intip dulu, pindai-terjemahnya ternyata masih bisa dilihat di sini:
- BAKUMAN bahasa Inggris: sampai #100an
- BAKUMAN bahasa Indonesia: sampai #50an

Jumat, 19 Maret 2010

Kisah Kain Pengantin 「乙嫁語り・布支度」

Mengunduh episode sepuluh Otoyomegatari karya Mori Kaoru, tiba-tiba bangkitlah kembali rangkaian kenangan masa lalu.

persiapan kain pengantin
"Trousseau" - scanlation read online chapter 10 (via MangaReader)


Suatu sore yang cerah ketika menghabiskan liburan di Indonesia dengan mampir nongkrong di pelataran LFM-ITB, Bang Tegar pentolan kineklub saat itu menyodorkan kepada saya sebuah kaset VHS berisi film dokumenter berbahasa Jepang. Katanya ini adalah jatah pembagian dari Departemen Penerangan untuk unit kegiatan mahasiswa.

Isi film hitam-putih itu mengenai suatu desa di pelosok Jawa yang mandiri dalam memproduksi kain batik, mulai dari menanam kapas dan nila, memintal benang, menenun kain, merancang gambarnya, mencanting dan mencelup, sampai menjadi siap pakai. Masing-masing anak gadis melakukan hal itu sendiri, untuk kemudian dipakai sendiri sebagai kain pengantin mereka.

Semangat yang seirama dengan adegan menyulam yang saya baca dalam manga di atas. Hmmm sejak kapankah semangat mengerjakan keterampilan hastakarya seperti itu mulai luntur di kebudayaan kita, tereduksi menjadi selera untuk sekadar "berbelanja" pilih sana-sini tunjuk sana-sini pesan sana-sini tahu beres dan bayar dengan uang?

pola-pola sulam jalur sutra

Menurut kabar berita, tante-tante saya masih rajin menyulam selendang pengantin mereka masing-masing. Ibu saya sendiri tidak, tampaknya sih bukan karena sudah termodernisasikan atau kenapa, melainkan karena kepepet tidak punya uang modal membeli benangnya, hihihi. Lalu bagaimana dengan saya? Setelah menonton film dokumenter itu terpikir juga untuk melakukannya tapi tidak pernah sempat. Seandainya memulai sekarang, mungkin tidak akan keburu waktu, huh. Yang jelas, saya ingiiiiiiin sekali bisa membuat komik kebudayaan Indonesia seperti buku ini. Atau kalau ada siapa pun juga yang bersedia, saya berjanji akan mendukung sekuat tenaga... :p

otoyomegatari

Otoyomegatari (Kisah Pengantin Muda)



Saat adik sepupu menyodorkan Emma, romantika "maid" Inggris abad 19, saya hanya memandang sebelah mata pada Mori Kaoru. Okelah, renda-renda dan pita-pitanya digambar dengan indah, tapi bukankah alur novel-novel Jane Austen, bahkan drama Shakespeare sekian abad sebelumnya, jauh lebih rumit daripada cerita ini. Mana ada manusia yang sesederhana dan sepolos tokoh-tokoh utama manga ini? Raut wajah mereka membosankan. Dan huh, lagi-lagi berlatar belakang Eropa. (Walaupun, diam-diam dalam hati saya mengagumi cara dia menggambar BAJING yang menjadi figuran cerita tersebut.)

Otoyomegatari, dalam hal kesederhanaan dan kepolosan secara garis besar masih sejajar dengan pola pikir dalam "Emma". Namun, entah mengapa, kenyataan bahwa kali ini latar belakang yang diangkat bukan Eropa melainkan Asia Tengah sepanjang jalur sutra, dengan nama-nama tokohnya yang eksotik, adalah suatu daya tarik tersendiri. Berbagai kekeliruan sejarah dan budaya seperti pencampuradukan gaya pakaian, penggunaan busana istimewa dalam kegiatan sehari-hari, menarik panah tanpa pelindung jari (sementara sang pengarang menggambar komik saja jelas-jelas menggunakan pelindung jari), dan kesalahan penafsiran lainnya, semua termaafkan!

penunggang kudaSeorang gadis usia 20 dari suku pemburu yang berpindah-pindah, Amiru Hergal, berjumpa untuk pertama kalinya dengan bujang usia 12 dari suku petani yang menetap, Karluk Ayhan, tepat pada hari upacara pernikahan mereka.
Ada "kesenjangan yang lebih lebar daripada sekadar perbedaan potongan baju", namun mereka tulus berusaha menjembataninya agar pernikahan ini berhasil. Apakah dunia membiarkan?

Episode sebelumnya yang paling menarik bagi saya:
"Jimat" (ep. 2) tentang ukiran kayu...

***

Beberapa contoh keanggunan busana jalur sutra ada di sini:
http://www.chinahush.com/2009/12/06/family-portraits-of-all-56-ethnic-groups-in-china/

Proses Menggambar Manga a la Mori Kaoru (via YouTube)


Ini sudah lama beredar, tapi siapa tahu ada yang belum sempat menonton...


http://natalie.mu/comic/pp/otoyomegatari

  • Saat menggambar sketsa, perhatikan bahan-bahan dengan baik, supaya tidak menyimpang.
  • Jangan terlalu banyak garis dalam sketsa, nanti sulit memberi tinta.
  • Tata letak, besar tokoh, sudut pandang, termasuk balon suara, sudah diputuskan secara terperinci sebelum mulai ditinta.
  • Ketika konsentrasi pada gambar, cenderung hening. Hanya kalau dekat tenggat waktu, terpaksa memutar musik agar tidak panik.
  • Mengerjakan satu bingkai jangan lebih dari 15 menit. Kalau tersangkut di satu bingkai saja gambar itu tak ada artinya.
  • Garis yang digambar, disesuaikan tergantung adegannya.
  • Alat: Pensil cetet 0.3 mm dan 0.5 mm. Untuk penamaan dengan 0.9 mm. Kehitaman 2B agar cukup lunak bisa dihapus dalam sekejap, tidak terlalu diserap oleh kertas.
    Penintaan terutama dengan pena Cabra (Sazhidov), lalu pena bulat. Akhir-akhir ini untuk gambar yang besar menggunakan pena G. Pena kuas untuk sketsa luar. Spidol biasa dengan tiga jenis ketebalan. Tinta gambar Pilot. Sarung tangan yang dipotong jarinya. Gradasi.

meja gambar

Minggu, 20 September 2009

Gomen de Sundara Keisatsu Iranee

御免で済んだら警察要らねえ。。。 だから「済みません」と言うんだろうが p(^o^)q

Selasa, 07 April 2009

Pluto (bukan Planet) + Billy Bat (belibet)

Akhirnya, Pluto (bukan planet) tamat euy.

Pluto manga

Reinterpretasi terhadap "Robot terbesar di Dunia", satu babak legendaris karya Tezuka Osamu oleh Urasawa Naoki, yang diterbitkan menyambut 7 April 2003, bertepatan dengan "hari kelahiran" Tetsuwan ATOM*, robot kesayangan Jepang (ATOM si lengan besi, singkatan dari Astro Tech Omni Modality Project, karena istilah atom dalam kamus slang punya makna yang tidak menyenangkan, secara internasional Atom dikenal sebagai Astroboy).

Dimulai dengan seorang robot polisi, Gesicht di Jerman (lagi-lagi Jerman, ya) yang harus menyelidiki pembunuhan berantai sadis terhadap robot-robot terkuat dunia dan manusia di sekitarnya -dan Atom termasuk salah satu di dalam daftar tersebut.

Kisah ini pun beranjak mempertanyakan, rumus-rumus seperti apa yang akan dapat mewujudkan perasaan kecewa, sedih, benci dan dendam, dalam inteligensia artifisial?

Adalah sebuah beban untuk memberi nilai tambah terhadap sebuah adikarya yang sudah baku. Ancaman bahwa para penggemarnya mungkin tidak suka, tentu merupakan beban tersendiri.
Kutipan dari Urasawa: "Ini bukan kisah tentang robot pembela kebenaran yang mengalahkan robot-robot jahat, melainkan tentang kehampaan peperangan. Waktu saya membacanya di masa balita, saya merasa diceritakan sesuatu yang bermakna dalam, yang diperuntukkan bagi orang dewasa." Halah.

Capai juga memeras jantung dan menguras air mata menungguinya selama 5-6 tahun ini. Drama robot-robot sok sensitif, banyak yang harus dimaknai sendiri (dan untuk beberapa saat ini kayaknya cara pandang saya terhadap beruang Teddy akan berubah drastis.)

Versi Bahasa Inggrisnya, (entahlah kelayakan terjemahannya bagaimana, belum saya periksa tapi yang pasti diolah dengan penuh cinta) ada online di onemanga.com/Pluto/


BILLY BAT


Judulnya kayak belibet...
billy bat
Proyek bung Urasawa selanjutnya ternyata mengolah komik a la Amerika, dengan gaya goresan sederhana a la Disney's Mickey Mouse + Felix the Cat + Tezuka's Astroboy + Batman + Dick Tracy + Sin City.
Ceritanya komik dan manga tahun '50an bertokoh kelelawar serupa tapi tak sama, menjadi kunci misteri pembunuhan yang membayang-bayangi ketegangan Jepang-Amerika pascaperang dunia II... 

Kisah ini pun beranjak mempertanyakan, seperti apakah wujud Tuhan dalam pikiran masing-masing manusia??? (Uwoooh sok daleummm...)

Asyik juga suasana jadulnya tergambar cukup terasa...
Yang pasti pemeran utamanya, si Kevin Yamagata itu tokoh yang Urasawa banget.

Versi Bahasa Inggrisnya (entahlah kelayakan terjemahannya bagaimana, belum saya periksa tapi yang pasti diolah dengan penuh cinta) juga ada di onemanga.com/Billy_Bat/

Senin, 30 Maret 2009

Kembalikan Masa Remajakuuu! ・私の青春を返せぇぇ

Ini adalah pengakuan saya.

Yang pertama kali mencetuskan semangat saya belajar Nihongo,
setelah lama bersentuhan dengan serpihan budayanya di sana-sini,
bukanlah sanggul Oshin yang sejak kecil saya tiru tiap hari Kartini.
Bukan katana Musashi yang tegangannya saya ukur dengan teliti.
Bukan Kokoro no Tomo yang begitulah bunyinya,
bukan pula hitungan senam pagi.

Yang pertama kali mencetuskan semangat saya belajar Nihongo,
walaupun sekadar sepintas lalu iseng-iseng berhadiah,
tanpa ada bayangan akhirnya benar-benar akan mampir ke sana
dan berkutat dengan huruf-huruf keriting yang meliuk-liuk meriah,
hanyalah sederet katakana sederhana. ド・ラ・ゴ・ン・ボ・ー・ル・
Oh, bahkan itu pun bukan Bahasa Jepang!

Apalah yang bisa diharapkan, dari sebuah cerita iseng
dengan tokoh-tokoh yang diberi nama aneka jenis nasi goreng,
celana dalam, alat musik ditambah sayur-mayur?
Saya mengerti betul, ini manga picisan.
Parodi Star Wars dan komik superhero, dikemas legenda Cina.
Hah, bahkan itu pun bukan cerita Jepang!

Tapi apa boleh buat, justru nama-nama gak penting yang aneh,
unik, dan tanpa penjelasan terjemahan lebih lanjut itulah
yang membuat saya penasaran, mengeja huruf mengulik kamus.
Semacam pelampiasan pemberontakan masa remaja.

dbmovie









!!!



Ini juga adalah dunia tempat segala permasalahan fana
baik persaingan, permusuhan ataupun kisah cinta,
urusan keluarga, politik kekuasaan, sampai agama,
cukup diselesaikan dalam satu lapangan olah raga.

Dengannya kita mempermainkan istilah "Tuhan telah Mati."
dan diam-diam membentuk semacam pola pikir yang berani
melabrak batasan-batasan langit, dengan kekuatan sendiri,
terlepas dari keajaiban yang disuguhkan mustika naga.

Demikianlah, film komik (dan manga) sedang jaya di dunia.
Baik yang mantap tokoh ceritanya, maupun yang keren pemerannya.
Dragonball perlu dapat kesempatan.

Saya menyerah, bahwa sudah tidak mungkin manga ini ditampilkan
dengan setia mengikuti panel demi panel sentuhan artistik aslinya
sebagaimana diusahakan oleh 20th Boys, Death Note, atau Watchmen.
Semua itu manga/komik yang digambar dengan proporsi realistis,
sementara Dragonball jelas terdistorsi.

Saya siap merelakan seandainya film ini disusun seperti Wanted,
yang walaupun mengubah habis alur demi menyesuaikan nilai moral,
dan mengabaikan wajah "Eminem" dan "Halle Berry" berganti menjadi
(eurgh) wajah James McAvoy dan Anjijo, bisa tampil prima
menyentuh hati dengan tetap menangkap intisari komiknya.
(Memang saya agak kehilangan tokoh brilian Kepala Tahi yang bisa
"mengeras sebebal s@mb@lit atau melunak seencer m@ncr@t",
tapi toh dengan ketiadaannya, kita tidak perlu mengorbankan
selera makan demi menontonnya.)


Dengan demikian, saya tidak mempertanyakan ke mana Awan Kinto,
galah penjemur, kacang ajaib, Menara Karin atau Tenka Ichi Budokai,
walaupun garuk-garuk kepala mempertanyakan sepotong ekor.
Saya terima jurus bayangan bangau menjadi milik kakeknya Goku,
bukan Tsurusennin, Ten Shin Han, Chaozu atau Tao Bai-Bai,
walaupun sedikit merasa kehilangan Klilyn, Woolong dan Puaru.
Saya menghargai pilihan babak yang melibatkan Piccolo Daimao,
karena dari sanalah inti cerita Dragonball yang serius dimulai,
walaupun tak habis pikir mengapa dia jadi yang mengutus Oozaru.

Saya abaikan bocoran-bocoran naskah yang membuat kecut,
sembari masih berharap sia-sia untuk bisa dibuat terkejut,
selain penampilan Bulma yang rambut biru mudanya hanya sejumput
dan tampak cantik cerdas dan sigap tanpa masalah lemak perut.
Saya kuatkan hati untuk menontonnya, mengantarkannya,
sambil bersaksi, How Low can You Go???

http://dragonball.saiyanisland.com/

Chichi tampak lebih ahli bela diri, dan malah mengajar Goku.
Bolehlah. Suatu usaha mengangkat harga diri cewek.
Tapi oh tapi oh tapi...
Dragonball itu, biarpun penuh kekerasan dan tindak pelecehan,
paling parah juga hanya dihias cipika-cipiki anak kecil!
Sikap sang pengarang yang menjaga tabu Asia, dilanggar di sini!

piccoloshock Sungguh teganya-teganya-teganya
sang penulis skenario,
menimpa kisah cinta Goku-Chichi yang lugu
ke situasi teenflick a la Gohan-Fidel versi holiwut.
Goku yang seharusnya polos jujur blak-blakan,
menjadi tokoh kaku, garing, gak gaul,
dan digencet di sekolah?
Ini penghujatan! Bid'ah!!!
***

Sangat bersyukur ketika menemukan Piccolo Daimao tetap hijau,
karena diperjuangkan habis-habisan oleh pemerannya yang sok tahu.
Tapi oh tapi oh tapi...
Latar belakang cerita yang kacau-balau!!!
Dan pakaian norak apaan itu, kevlar plus tudung rapper?
Mana arsitektur khas makhluk Namec?

piccoloshockSungguh teganya-teganya-teganya
sang penulis skenario,
memampatkan watak penjahat Pilafu dan Freeza
sekaligus ke tokoh kharismatik paduan Spock-Yoda!
Pantasan, film ini ternyata diwujudkan
berdasarkan stok skenario gagal,
demi mengisi kekosongan pekerja film
akibat writer's strike.
***

Apa yang bisa dihargai dalam film ini?
Full body contactnya tidak hebat amat. Kalah jauh dari Tony Jaa.

Baiklah, bahwa si Goku dipanggil Geeko,
itulah satu-satunya terobosan yang berhasil dalam cerita ala Amerika.
Bintang satu, hanya untuk itu saja.

Holiwut! 20th century fox! KEMBALIKAN MASA REMAJAKUUU!!!

Terkait:
http://bambumuda.blogspot.jp/2008/06/mangaz-movies.html