Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2022

Hosteladan Rumah Yotsuba

Setelah tertatih-tatih menjalankan bisnis ini di tengah pandemi, akhirnya kami mendapatkan medali kebanggaan HosTeladan 🏅
Terima kasih kepada para tamu yang memberi ulasan bagus, serta kepada para keluarga, tetangga, maupun kolega yang turut wara-wara tentang penginapan kami kepada rekan-rekan masing-masing 😽

Banyak cerita kalang-kabutnya pindahan gusuran setiap ada tamu keluar-masuk, kami cenderung tetap bermarkas di sini karena rumah ini masih paling strategis untuk bekerja, letak persis di belakang kantor dan mudah akses ke tengah kota. Kucing-kucing pun masih merasa ini daerah kekuasaan mereka, sehingga walaupun diajak ke tempat lain akan selalu mencari peluang untuk kembali ke dalam. Untuk itu, sejak awal ada peringatan bahwa rumah kami terjajah kucing. Untungnya banyak juga tamu yang senang dengan keberadaan mereka.
Ada pula cerita menolak-nolak calon tamu yang berencana datang bersama pacar. Walaupun ada ketentuan indiskriminasi, kami bisa berpegang pada peraturan kota yang melarangnya.

Tamu terakhir, Dewi, kebetulan adalah anak LFM sahabat dari rekan-rekan geng KineMala. Dia sekeluarga menjadikan rumah kami sebagai pengalaman pertama menggunakan AirBnB. Anak-anaknya sangat menikmati membaca koleksi komik kami terutama Yotsuba&! lalu penasaran ingin ikut mencoba menyapu jalan sehingga kami menyelenggarakan AirBnB experience baru: sweep away.
Sebelumnya di tahun lalu ada juga Angga sekeluarga, adik angkatan di KANST, untuk berlebaran tanpa terlalu merepotkan orang tua. Mulanya sulit mengenali karena dia memesan dengan nama aslinya yang panjang a la bangsawan.
Semuanya hanya kebetulan menemukan rumah ini lewat pencarian dan mengenali kami sebagai tuan rumah. Berarti sudah saatnya lebih mengiklankan rumah ini ke lingkaran-lingkaran dekat yang barangkali berminat, karena tentunya ada perasaan lebih aman menitipkan barang pribadi kita kepada teman sendiri.
Sebenarnya ini juga merupakan kesempatan bagus untuk menambah kenalan baru, namun karena pandemi kami meminimalkan interaksi, dan masih ada perasaan bahwa seharusnya saya mencurahkan perhatian lebih banyak kepada kenalan yang sudah lebih akrab ...

Kamis, 18 Februari 2021

Maneh ge Calo!



Karena sedang perlu ungkat-angkut meja kursi ke sana kemari, saya disopiri opang langganan berangkat menguruskan kir mobil bak terbuka milik adik saya yang minggu lalu keburu habis masa berlaku.
Balai pengujiannya jauh di ujung dunia, gara-gara melamun melulu mesti bolak-balik pula cari bolpen dan fotokopi.
"Kenapa ngga nitip aja Téh?" tanya calo preman yang patroli keliling parkiran.
Setelah lepas dari kejaran tiga calo lain, yang satu ini keukeuh nggak kapok memepet saya sejak balikan kedua. Susah juga kalau dilengosin saja, terpaksa saya balas sekenanya.
"Ah da ngga ada duit."
"Bisa disesuaikan bujet aja berapa Téh."
"Ya gak punya."
Aslinya sih memang saya hanya punya uang 90 ribu rupiah, konon biaya kir maksimal tidak akan lebih dari itu. Untuk biaya calo konon tahun lalu adik saya pernah ditawari 170 ribu, entah buat apa secara prosedurnya itu-itu doang sepertinya nggak terlalu repot.
"Tétéh 'kan calo juga 'kan jauh-jauh ke sini. Saya putra daerah, kita tahu sama tahu saja lah bagi-bagi."
*Calo juga* dari mananya Hong Kong??? Daerah mana pula, Kekaisaran Gedebage Merdeka??? Bukannya ini masih di kota. Saya juga orang kelahiran kota ini gitu loh!
"Bukan lah, saya utusan yang mau memeriksa prosedur layanan di sini kalau ada korupsi atau penyalahgunaan wewenang," bual saya saking kesalnya.
"Woiya, memang di sini banyak pungli, adukan saja Téh!" tantang dia.
"Ya iya mau."
"Halah banyak gaya ... M A N É H G É C A L O OOO O O !!!"
jerit sang preman putra daerah menggema sak parkiran balai.
Entah maksudnya mempermalukan saya atau apa gitu. Yah setidaknya belum kelihatan dia bertindak yang merusak seperti menggores cat mobil atau mengempeskan ban.

Petugas-petugas Dishub cuma cengar-cengir kasih jempol menyaksikan peristiwa ini, da mereka mah ngga ada ruginya, toh bakal kebagian persekot kalau jadi dicalo, kalau nggak pun masih digaji ini.

Sialnya saya tu sebetulnya memang mencalo, secara hanya meminjam KTP adik tanpa surat kuasa karena dia sedang kalang-kabut ngeprint ini itu mau kirim segala macam, supaya gampang saya bermaksud mengaku-aku sebagai adik sendiri, apa gunanya bersaudara kalau nggak bisa mirip-miripin muka yekan.
Tapi mungkin secara tampang cucok juga untuk mulai menjabani profesi calo sebagai sampingan 🚛🚛🚛

Kamis, 21 Januari 2021

Sabtu, 24 Oktober 2020

Hellokiti Hell

Saya biasa dijajah ucing dengan sukacita. Tapi ucing antrofomorfik yang tidak punya mulut yang mampu memerahjambukan berbagai gawai elektronik, apa yang bisa disukai dari makhluk macam tu?

Jumat, 11 Januari 2019

Sampah Angkot

Suatu kali sempat lagi saya memergoki seorang ibu berhijab, usia 50 tahun ke atas dengan gincu cemerlang 💄 dan baju model safari merah jambu pucat entah seragam kantor apa, melempar gelas kopi keluar jendela angkot saat ngetém di depan Stadion 🏟️ Kali ini santai tidak membawa barang tapi sakit gigi, saya turun memungutnya dan melempar balik ke haribaan si ibu sambil menegur, "Bu, jangan buang sampah sembarangan. Itu di pinggir trotoar 'kan ada tongnya." 🚮 Si Ibu minta maaf dengan malu, tapi masih termangu bingung harus bagaimana. Pantatnya berat, sementara di luar hujan rintik-rintik ☔ Ehhh yang ribut kok malah Pak Supir. Mungkin maksudnya membela penumpang. "Wah, tungguin ajah di sini Néng, nanti yang lain lewat buang sampah sembarangan juga." 🚯 "Oh ya kalau begitu silakan ditegur semua Pak. Saya mah mana yang kelihatan di depan mata dulu saja saya protés." 👀 "Semua juga melakukan, sudah biasa itu mah Néng..." 👨🏾‍🏫 "Lah itu kan tindak pelanggaran, remeh-temeh juga menimbulkan kerusakan! Masa karena semua melanggar, kita boleh ikutan? Nih saya mengotori tangan dengan memungut dari lumpur mengembalikan ke yang punya, itulah bentuk tanggung jawab saya! 👐🏽 Bapak sendiri mana tanggung jawabnya, tidak sedia tempat sampah di dalam angkot??? Kan ada kewajibannya tercantum di Perda 11/2005 tentang K3!" 📜 "Yaaa sudah sajaaa biar saya yang pungut," Pak Supir memungut gelas kopi yang masih tergelétak di lantai angkot dan melemparnya lagi keluar jendela, bermaksud memeragakan rékonstruksi ☕ "Oh ngga bisa begitu Pak. Kenapa ngga sekalian dibawa saja langsung ke tong sampah?" Saya yang lebih sigap turun pungut ulang dan kembalikan ke Si Ibu 🧕🏽 "Sampahnya tetap tanggung jawab penumpang lah, kalau tidak ada tempatnya di dalam angkot bukan malah dilempar ke jalan raya! Biar Ibunya menyelesaikan sendiri, kenapa pula Bapak bela segala? Bereskan kewajiban Bapak sendiri!" 😡 "Atuhlaaah buang sampah sajaaa kok dibawa répot, Néng." 🤷🏾‍♂️ Ya ampun cari masalah betul Pak Supir ini. Ingin saya tampiling tapi nanti pelanggaran tindak kekerasan. Saya turun, pengumuman mau cari Satpol PP, angkotnya pun buru-buru melaju 🚌

Dikirim oleh Kanti Anwar pada Jumat, 11 Januari 2019

Jumat, 29 Desember 2017

Tugu Maung Kolonial Bandung

Di Kota Bandung tiba-tiba bermunculan tugu-tugu dan gapura-gapura asing, diduga demi mengejar penyerapan sisa anggaran akhir tahun. Konon, desainnya berlanggam "kolonial" merayakan arsitektur bersejarah warisan zaman Hindia Belanda (yang ironisnya justru pada runtuh tersia-siakan) 🏛️🏰

Kehebohan terjadi akibat kebingungan akan makhluk yang menghuni kubah-kubahnya. Niat awal menampilkan "MAUNG" hewan suci urang Sunda, semacam harimau jejadian 🐯🐅
Namun, terbukti sejak di atas kertas yang tergambarkan hanya perpaduan beruang kutub dan serigala kecebur got, entah menjiplak dari kastil kampung di pelosok eropah bagian mana 🐻🐺 

Pikiran Rakyat 27-12, 19:14: RK Ingin Patung Maung, Malah Mirip Anjing Laut
Kompas 28-12, 12:19: RK Kritik Tugu Maung Bandung yang Mirip Anjing Laut
Detik, 28-12, 17:10: Patung Maung Bandung Mirip Anjing Laut Ada di Tiga Lokasi


Mengecek salah satu TKP, kami menyimpulkan bahwa patung ini berbahan resin bolong, sehingga dapat dengan mudah diganti. Secara keseluruhan, memang terkesan murahan, barangkali bisa digolongkan sebagai KITSCH. Jam tugu pun hanya memakai batre biasa, kaca patrinya mungkin plastik 🕚🔋

Katanya para maung berfungsi untuk menandai empat penjuru mata angin. Wah, bukankah ada pakem Asia Timur bahwa harimau putih menandai arah Barat saja, sementara Selatan, Timur, dan Utara masing-masing ditandai oleh burung merah, naga biru, dan kura-kura hitam berkepala ular? 


Andaipun tercapai bentuk yang dicita-citakan, mari pertanyakan lagi apa perlunya memajang makhluk kesayangan kita semua di sini? Bukankah kolonialisme harus dibasmi dari muka bumi karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan? Lalu bagaimana dengan perikemaungan? Tentu lebih baik anggaran dialihkan untuk meningkatkan mutu trotoar, atau merawat bangunan pusaka aslinya, atau melestarikan maung dengan menjaga hutan rimba 🌳🌲

Serahkan sajalah pertigaan atau perempatan jalan kepada para seniman kreatif kota, untuk dirancang dengan melibatkan masyarakat sekitar dalam kritik saran maupun penciptaannya, sebagai sarana edukasi mengasah selera mencari ciri khas jati diri nusantara 🎍🎋

Minggu, 20 Agustus 2017

Catatan Harian Angkot #1

Tim @kukulintingan dan @transportasiumum bersepakat untuk membuat catatan tentang pengalaman keseharian naik angkot.
Catatan ini diharapkan dapat menjadi panduan untuk menjajaki usulan paling jitu demi menyelaraskan kebijakan angkot bagi para pengguna sejati dan para supir penyedia layanan. Tujuannya agar tercapai kenyamanan perjalanan sebelum impian para elite Bandung dalam membangun infrastruktur transportasi umum yang ajaib bisa betul-betul kesampaian.
Saya mulai deh dari pengalaman kemarin.
Sebagian besar jalur angkot Bandung sudah dapat dilacak melalui fitur transportasi umum google maps, walaupun kadang-kadang penomoran dan trayek angkot masih simpang siur antara versi lama dengan versi baru.
Angkot Abdul Muis Cicaheum via Aceh, angkutan kota yang menjadi andalan saya selama masa sekolah, berangkat pertama sekitar pukul 5.30 dan terakhir sekitar pukul 18.30 wib, demikian menurut informasi jalur angkot di google maps yang masih mungkin tepat mungkin juga ngarang.
Alternatifnya adalah angkot Stasiun-Sadang Serang yang dikabarkan berangkat pertama pukul 4.50 dan terakhir pukul 19.50 wib.

 

Bagi yang pulang di atas jam malam, harus cukup fasih melacak lokasi halteu perantara karena belum tersedia informasi ganti jalur yang lengkap.

Karena bubar ngopi cantik sudah lewat dari pukul 21.30 wib, dari jalan Sunda akhirnya naik Abdul Muis Dago untuk ganti arah ke Cicaheum di Simpang Dago. Angkot-angkot ini biasa beroperasi selama 24 jam sehari. Penumpang kali ini adalah serombongan muda-mudi NTT yang sedang mengunjungi temannya mahasiswi baru di Bandung. Obrolan mereka seputar lokasi misa pagi yang kecengabel.

#diaryangkot #angkotbandung

Senin, 18 Juli 2016

Ari anjeun saha, lain Nijinsky?

Hampir setiap minggu berpapasan dengan patung duyung tanpa keterangan ini, kami pun dengan semena-mena menyimpulkannya sebagai jelmaan Vaslav Nijinsky, pebalet terhebat sepanjang masa yang berjaya pada awal abad XX.


Kesimpulan tersebut bukan tanpa alasan. Boleh dibilang, busananya mengingatkan kami pada Le Spectre de la Rose (pertunjukan yang musiknya menjadi lagu bangun tidur kami semasa kecil) sedangkan sosok tegaknya pada wujud beliau dalam L'après-midi d'un faune (koreografi inovatif kontroversial yang menampilkan kejeniusan sang penari) ...



Setelah dua tahun bertanya-tanya dalam kegelapan, akhirnya berhasil juga mencari jawabannya dengan kata kunci yang tepat:
Karya alumni FSRD ITB asal Bali yang diprakarsai oleh Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) memperingati kota Bandung penghasil cendekiawan.



Nah, sebelah mananya yang tampak cendekiawan ya?
- mata terpejam tanda merenung (bandingkan raut wajah oom vaslav)
- api pelita ilmu (rada miriplah dengan anggur yang dipegang Pan)
- air kehidupan (mirip banget kan dengan selendang peri yang ditarik Pan)
- tanaman merambat berwawasan lingkungan (ai sugan teh kupu-kupu)
- piramida kontruksi kokoh (euh, bukannya lambang penindasan orde baru?)



Penempatan sang patung mungkin memang belum tepat sehingga wali kota mempertimbangkan relokasi.
Menurut beberapa warga Bandung patung ini sepintas seperti sosok cowok cosplay pakaian wanita yang tak punya unsur sejarah bermakna, sementara ada pula seniman yang sempat mengancam menumbangkannya jika karya seni Asia-Afrika diperlakukan semena-mena.

Bahkan di sebagian kalangan, perlambangan ini berkaitan dengan penggambaran dajjal dalam hadits-hadits: sebelah matanya buta, bersamanya sungai air dan sungai api yang tertukar, sedangkan piramida terkait dengan isu iluminati ahhhahahahahahahahah.



Namun, dapat diperbandingkan sendiri dengan dokumentasi Nijinsky, memang potongan tegakan badan dan kaki si patung cendekiawan yang kekar semampai ini sangat balet Eropah ukuran golden ratio.
Layaknya Ozymandias di komik Watchmen, atlet tercerdas sedunia.

Mengapa tidak merekayasa lambang cendekiawan Asiah yang sudah lama melekat di ITB, yakni si gendut buncit lembam dewa Ganesha?
Atau agar lebih adil, ungkapan budaya Sunda, Cepot Astrajingga misalnya?



Sekadar catatan, Nijinsky jarang dibahas di Indonesia tapi cukup terkenal di Jepang melalui manga, khususnya yang bertema balet.
  • Bokushin no Gogo (2008 oleh Yamagishi Ryoko pengarang Arabesque)
  • Nijinsky Guuwa (1993 oleh Ariyoshi Kyoko pengarang Swan)
  • Eve no Musukotachi (1976 Aoike Yasuko pengarang Eroica Yori Ai wo Komete;
    manga absurd menampilkan Nijinsky berkostum Swan Lake hahaha)

Kamis, 10 April 2014

Vandalisme Taman Vanda

Sebuah huruf yang bernilai penting -namun masih terdengar asing- itu lenyap, hanya beberapa hari setelah dipasang sebagai judul taman sejak awal tahun ini.
Taman Vanda @ Jalan Merdeka, pascavandalisme

Entah karena pitnah bahwa orang Sunda sentimen terhadap huruf V mewujud nyata, atau ada pejuang bahasa yang ingin menjunjung kosakata Indonesia, atau ada yang takut daerah ini salah disangka Kebun Binatang Langka...
Entah semata kegagalan konstruksi, atau ada yang bermaksud meloakkannya sebagai besi tua gara-gara kepepet secara ekonomi -sialnya hanya satu saja yang paling rapuh mudah tercerabut- atau sekadar alay-alay nekad pompa adrenalin dengan tantangan maksimal penggarongan terencana...
Entah barangkali memang kutukan nama bekas bioskop penuh kenangan itulah yang kebetulan terlalu mirip dengan istilah "vandal" (atau jangan-jangan tadinya di ujung memang ada huruf L yang juga ikut hilang)...

Ironis, letaknya tepat di pusat kota, delta pertigaan antara Bank Indonesia Jabar-Banten, Markas Kepolisian Resor Kota Besar Bandung, dan Balai Kota Bandung. Apalagi, taman ini direncanakan menjadi percontohan penataan taman Kota Bandung (PR) untuk dikelola oleh BI sebagai semacam taman tematik uang (Detik). Apakah ini pertanda dari apa yang akan terjadi dengan UANG RAKYAT Bandung, bisa raib tanpa jejak meskipun sudah berada dalam pengawasan segitiga strategis Bank Sentral, Polisi dan Pemda?

Yang mengherankan saya, kenapa sih semua taman harus dipasang judul mencrang berhuruf kapitalis begini? Menjiplak dari kota londo belah mananya hongkong tuh? Dan kenapa lebih heboh buang energi demi benda-benda pajangannya daripada mengatur jenis daun bunga umbi apa yang layak ditanam di sana? Saya sendiri diam-diam berharap ada yang mencabut semua judul taman di seluruh penjuru kota ini sekalian supaya dipertimbangkan ulang penataan dan perlambangannya. Masa orang Bandung ngga punya ide kreatif lain untuk menghias taman dengan sentuhan budaya khas milik sendiri?

Tampaknya warga Bandung masih salah kaprah dengan istilah "Kota Kreatif", sehingga yang ada malah menambah sampah bukannya menyelesaikan masalah (Baca: Kota Kreatif dan Ekonomi Kreatif -Marco Kusumawijaya). Beberapa bukti lain, walaupun meraih penghargaan Kemendagri sebagai kota terbaik sektor infrastruktur, masih banyak kebingungan seperti dalam pembangunan halteu-halteu di bawah ini.

@ Kolong Pasupati
@ Jalan Tamansari

Minggu, 28 Maret 2010

Tugu Jemuran Terendam Comberan

For friends who love strolling around Bandung, we recommend you to visit this glorious landmark, at the elite intersection of the Jalan Pahlawan and Surapati - Hasan Mustafa (a.k.a. Suci, the primary artery road of Bandung). Emerged around new year 2010, its existence has since been competing with the statue of the notorious Barry Soetoro boy at Menteng Park.

But this monument is a lot more valuable so that it is heavily guarded by a police post and surrounded by strong barbed wire. No common people allowed to go near enough to touch it, so there are some assumptions that it's built from a very precious material that is rarely found on earth. It is also that important to replace some shading trees with tasteless garden and shove away creative public space for street musicians to make room for this thing.

There's no written explanation anywhere around the monument regarding the symbols that the local government or the unknown mysterious artist intended to display. Some debates already spread around among the citizens of Bandung about what this monument stands for and what kind of meaning or interpretation is to be communicated to the society through its unique shape. So there are some possibilities on how it is called.

(a) Monumen Cucian (Laundry)
(b) Monumen Jemuran (Hang & Dry)
(c) Monumen Kelantangan (The Bleach)
(d) Monumen Baju Loakan (Second-hand)
(e) Monumen Terendam Comberan (Submerged in Sewer)
(f) Monumen Korban Banjir (Flood Casualty)
(g) ...

You can suggest what title is most appropriate for this monument. We might even make a poll for it.

So, don't miss taking your photos with this important landmark of Bandung, before some people become sane enough to tear it down.

Dikirim oleh Kanti pada 27 Maret 2010


Bagi kawan-kawan yang gemar berjalan-jalan seputar Bandung, kami menganjurkan untuk menyambangi tugu megah ini, di perempatan teras Jalan Pahlawan dan Surapati - Hasan Mustafa (alias Suci, jalan arteri primer Bandung). Muncul di sekitar tahun baru 2010, keberadaannya telah menyaingi patung tenar bocah Barry Soetoro yang baru digusur dari Taman Menteng.

Namun, monumen ini jauh lebih bernilai sehingga diberi pengamanan penuh oleh pos polisi di sebelahnya dan dikelilingi oleh kawat berduri yang sangat kuat. Tidak ada khalayak umum yang diizinkan menyentuhnya, sampai beredar dugaan bahwa tugu keren ini dibangun dengan bahan amat berharga yang jarang ditemukan di bumi. Betapa pentingnya mengganti pohon peneduh dengan taman tak berselera dan menggusur ruang publik kreatif bagi pengamen demi memberi tempat bagi benda ini.

Tidak ada penjelasan tertulis di mana pun sekitarnya terkait perlambangan yang dimaksudkan oleh pemerintah daerah ataupun seniman misterius yang menciptakannya. Beberapa debat telah beredar di kalangan warga Bandung tentang untuk apa monumen ini didirikan serta apa makna atau penafsiran yang ingin disampaikan kepada masyarakat melalui keunikan bentuknya. Ada beberapa pilihan panggilan yang telah tersaring:

(a) Monumen Cucian (Laundry)
(b) Monumen Jemuran (Hang & Dry)
(c) Monumen Kelantangan (The Bleach)
(d) Monumen Baju Loakan (Second-hand)
(e) Monumen Terendam Comberan (Submerged in Sewer)
(f) Monumen Korban Banjir (Flood Casualty)
(g) ...

Anda dapat mengusulkan judul apa yang paling tepat bagi monumen ini. Kita akan mengumpulkan suara terbanyak. Jadi, jangan ketinggalan mengambil foto dengan tugu penting Bandung ini, sebelum datang orang yang cukup waras untuk membongkarnya.


Jumat, 12 Desember 2008

Aksara Sunda

jl.belitungSuatu pemandangan yang cukup mencolok di Bandung tahun ini adalah dipasangnya plang nama jalan dengan huruf-huruf melenting yang unik dan asing.

(Hwaduh, awalnya saya kira huruf Mongol atau Thai, untuk kepentingan visit Indonesia 2008...

Tapi anehnya kenapa tidak didampingi huruf yang lebih umum, China ataupun Arab?

Setelah dipelong-pelong baru sadar, ternyata inilah yang namanya Aksara Sunda.)


***

Pemasyarakatan Aksara Sunda di tahun-tahun belakangan ini diperkuat dengan terobosan yang dilakukan oleh paguyuban-paguyuban pasundan, antara lain oleh kawan Dian TN yang mengurus pencantumannya ke dalam jajaran unicode sehingga aksara ini dapat dipergunakan secara meluas di dunia komputer.

Lalu, dengan sarana yang telah disediakan Dian dkk tersebut, mau dibawa ke mana aksara ini? Apakah hanya akan menjadi pengisi museum fosil, atau memang akan mulai diterapkan lagi di berbagai segi kehidupan urang Sunda?

Dari dua huruf keriting kriwul arus utama yang berpengaruh dalam peradaban dunia saat ini, dan yang telah mencapai tingkat pembakuan tertentu serta pakem-pakem penulisan kaligrafis, sejauh yang saya pelajari, masing-masing punya perwatakan khas, yang kemudian mencerminkan pola pikir budaya tertentu, dan selanjutnya menjadi sarana ampuh dalam menanamkan pola pikir tersebut.

Kanji adalah pencitraan makna; seiring perjalanan sejarah, telah puluhan ribu tercatat, dikemas dari berbagai sudut pandang terhadap alam, dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya takkan sanggup dipahami seluruhnya oleh sesosok manusia hanya dalam satu masa kehidupannya; dan manusia yang menggunakannya akan cenderung menilai ataupun mengungkapkan sesuatu melalui pandangan, gambar dan gerak-gerik mata.

Yang satu lagi, hijaiyah lebih merupakan pencitraan suara, namun cukup luwes untuk diregang dan dimampatkan sebagai hiasan dekoratif, cenderung abstrak tapi juga bisa dianggap memiliki filosofi: alif yang melangit, ba yang membumi, lam yang menunjuk, mim yang menukik, dst; dan manusia yang menggunakannya akan cenderung menilai ataupun mengungkapkan sesuatu melalui pendengaran, tekanan suara dan gerak-gerik bibir.

Di antara kedua jenis huruf ini, juga dengan huruf romawi yang jelas cenderung hedon, ada nuansa khas yang tidak akan pernah dapat diterjemahkan langsung secara utuh satu sama lain.

Akan halnya pemasyarakatan aksara sunda yang baru dibakukan ini, modernisasi beberapa lafaznya jelas memberi peluang penyerapan bahasa asing. Ini menandakan urang sunda siap membuka diri menerima pola pikir kontemporer. Namun sebelum itu, seperti apa watak budaya asli yang diusungnya?

Kalau ini masih merupakan serapan dari kebudayaan India, tidakkah ada sisa-sisa masa lalu semacam 'sistem kasta' yang terpatri di dalamnya? Jangan-jangan aksara ini hanya milik raja-raja? Dengan menggunakannya, akankah terlahir ahli-ahli bahasa angkatan muda yang mahir baca-tulis ngalagena? Atau hanya untuk mempermudah mesin-mesin robot melakukan pemindaian dan penerjemahan serpihan-serpihan daluang yang nyaris membusuk di perpustakaan secara mekanik tanpa perasaan?

Berapa banyak sih sebenarnya karya sastra --maupun sekadar daftar belanja-- sepanjang sejarah pasundan telah menggunakan aksara ini? Dari semua yang ada, mampukah kita menemukan kembali "kearifan lokal" urang Sunda? Dapatkah lekuk-lekuk aksara ini mewakili, katakanlah, falsafah sabilulungan?

***
Suku saya sendiri, mungkin lebih mahir menggunakan huruf jawi alias arab melayu, kemudian dengan mudah (atau terpaksa) pindah haluan ke huruf romawi, tapi jelas mereka cukup pede dan besar mulut untuk tidak merasa perlu terikat satu bentuk huruf (ataupun gaya bahasa).
Apakah kami pernah juga punya huruf asli sebelumnya?
Entahlah, tak penting, adakah yang peduli (???)
***