Selasa, 02 Mei 2017

Beasiswa MEXT untuk lulusan SMA

Menyambut penghardikan nasional.

Kartini mengalihkan beasiswa Hindia Belanda karena memilih menikah dapat dana dan kuasa untuk buka sekolah sendiri daripada keburu tua di menara gading, sedangkan Agus Salim menolak tidak sudi menerima lungsuran yang tidak menghargai prestasi pribadinya dan memutuskan bahwa pendidikan kolonial adalah doktrin berbahaya yang harus dihindari oleh anak-anaknya.

Berbeda dari kawan lain yang menjadikannya titik tolak membangun karier, saya sendiri menyambut hasil pampasan perang, remah-remah tebusan dari kesengsaraan leluhur ini dengan niat awal sekadar butuh dana kuliah yang belum tentu mampu disediakan oleh keluarga, ingin mampir ke Disneyland (halah), dan terutama tertarik mengakses manga dari sumber asli. Selain itu karena telanjur lolos saringan, harus menghindarkan sekolah saya kejeblos daftar hitam seandainya saya berkecut hati mengundurkan diri.

Mungkin saya salah satu yang sangat beruntung kebagian berangkat bersama teman angkatan yang lucu-lucu dan berjumpa dengan rekan-rekan negeri lain, sempai-kohai dkk, sehingga ketiga cita-cita saya yang cemen rendahan itu pun segera terkabul, walaupun sebaliknya mungkin justru merugi kehilangan momen-momen masa remaja yang jauh lebih layak dialami di tanah air gara-gara berangkat terlalu cepat. Kalau soal akses ilmu, lah zaman sekarang mestinya sih bisa diperoleh dari berbagai sumber dengan lebih leluasa. Tapi bukankah hidup adalah bagaimana menikmati pilihan?

Beasiswa Monbukagakusho pemerintah Jepang kembali dibuka bagi program S1, D3, dan D2. Silakan disebarkan kepada siapa saja yang punya saudara, anak cucu, keponakan, teman, tetangga sebelah, dll lulusan SMA dan sederajat tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya yang barangkali berminat dan bernyali untuk mengikuti jejak kami :-*

Informasi lengkap http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_slta2018.html




Senin, 20 Maret 2017

Harimau Bahagia



Entahlah ... belasungkawa mendengar ada patung maung soméah tak bersalah yang telah berdiri tegar ceria sepanjang 6 tahun bertugas, tiba-tiba diruntuhkan hanya gara-gara pemiliknya tersinggung tak sudi dijadikan bahan tertawaan yang viral di media sosial.
Sumber: Brilio, Detik, BBC Indonesia, Tribun, Hai, Kompas.
English: BBC UK, Mashable, Jakpost, Independent



Mojok menyayangkan penghancuran oleh Pangdam yang mengabaikan selera humor demi menjaga citra kegarangan, padahal dapat meneladani Ibu Susi yang merangkul meme justru demi menaklukkan internet (bahkan salah satu fotonya telah dipajang dengan sang macan lucu untuk merayakan hari π sedunia 14 Maret).

Sementara itu, Petnyaku mengingatkan kita untuk lebih memperhatikan nasib harimau yang sesungguhnya, terutama harimau Sumatera yang terancam punah karena ruang hidupnya di hutan terganggu oleh pembangunan infrastruktur dan perluasan tambang atau kebun sawit.




Bagi saya, sebagai sebuah karya seni, sang harimau telah layak memenuhi syarat. Dia mampu menggugah beraneka ragam luapan perasaan mengharu-biru. Bahwa rupanya dinilai tidak sesuai sebagai perlambangan Siliwangi, itu semestinya disikapi oleh pihak Koramil sendiri sejak 6 tahun yang lalu, bukan tunduk pada penghakiman masyarakat internet. Tentu sejak awal perlu ada pertimbangan prosedur pengadaan lambang, apakah terjadi penggelapan anggaran, apakah seniman ditunjuk secara KKN atau malah tidak dibayar dengan semestinya? Kabarnya ini sumbangan pribadi seorang pensiunan tentara dari rayon tersebut, sehingga justru perlu dihargai sebagai kenang-kenangan ...
Terlepas dari hal tersebut, seberapa mendesakkah perbaikan wajah garang sebuah patung? Dibandingkan dengan segala ketidakwarasan perencanaan dan penerapan pembangunan di sekitar kita? Daripada penyelamatan harimau asli di habitatnya sendiri?

Andai saja tindakan sesigap itu dilakukan juga dalam menanggapi dengan cepat keluhan masyarakat terhadap masalah pengadaan sarana-prasarana publik dan kinerja pelayanan dasar ...


Untuk melipur lara, mari ikut buat kaos, lukisan, patung, dan hastakarya kertas lipatnya.





***"Harimau Bahagia" mengingatkan pada judul cerpen kegemaran saya tentang sebuah patung lain, "The Happy Prince" yang pernah saya ungkit sebelumnya.

Selasa, 01 November 2016

Pena, Buah, dan Catatan Kematian

Kegilaan PPAP, lagu absurd yang telah memecahkan rekor dunia sebagai lagu terpendek yang masuk 100 besar tangga billboard, rupanya menular ke tokoh shinigami satu ini ...



Entah apakah lagu ini terilhami pelajaran bahasa Inggris di Jepang, atau asli meledek Steve Jobs (yang katanya tidak merekomendasikan stylus tapi setelah kematiannya Apple Pencil diperkenalkan), atau ada muatan esek-esek yang hanya dapat dipahami kalangan tertentu, yang jelas nada dan tariannya telah menjangkau berbagai lapisan khalayak dengan beragam tanggapan, geli ataupun jengkel.

Kebetulan, Death Note memang sering bertemakan pena dan apel dalam ilustrasinya. Sementara nanas? Boleh dibilang pengejawantahan sosok Ryuuku. Hihihi. Kesempatan ini pun dipakai untuk memperkenalkan sekuel generasi baru Death Note: Light Up the New World.

Kabarnya DN versi holiwut ada pemutihan, cari Yagami Light dapat White Salami. Eh tapi yang jadi L orang negro, berarti bukan pemutihan juga sih ... Layakkah sebagai pilihan tontonan?

Saya belum menamatkan Death Note versi drama, dengan pendekatan baru watak Light dan L sebagai "manusia biasa" seorang wota (penggemar idola yang kena risak) dan seorang obosama (anak juragan yang manis manja)...

Kemarin dulu sempat menonton di pesawat Garuda manga dari pengarang yang sama, tampil sebagai film orang Bakuman (2015). Sayang, tokoh utama, Saiko dan Akito diperankan oleh pemeran Kenshin dan Sojiro dari Rurouni Kenshin! Seolah-olah tidak ada aktor lain saja yang bisa diandalkan. Entahlah rasanya peran Sato Takeru menjadi anak SMA terlalu tua walaupun saat sebagai Kenshin terlalu muda masih cukup berterima (seperti dulu itu, Fujiwara Tatsuya bagi saya tidak pantas memerankan Yagami Light walaupun juara saat memerankan Shishio).

Namun, seperti apa pun ceritanya, selama itu karya Jepang, mari kita coba hargai. Dan tidak terbayangkan juga bagaimana mengholiwutkan Bakuman, secara pertarungan bisnis manga, apalagi di lingkaran Shonen Jump, adalah tema yang sangat khas Jepang ... Kalau a la holiwut, pasti harus berubah menjadi pertarungan bisnis DC vs Marvel vs komik independen.

Masalahnya, kita kan masih trauma DB Evolution hiks. Walaupun penulis naskah setelah 7 tahun akhirnya minta maaf, produser tetap harus menebusnya dengan karya yang lebih baik! Karena semangat DB adalah pertumbuhan watak dan penemuan jati diri. Ahaha haha ... Sebagai hiburan, mari nikmati saja pilot episode Trunks karya adaptasi dari penggemar, "Dragon Ball Z: Light of Hope" (2015). Konon sekuel berikutnya kembali mengalami gangguan perubahan campur tangan produser ... lingkaran setan tak berujung.

Berhubung kita sudah membicarakan tiga manga Shonen Jump, kepalang tanggung sekalian saja lanjut ke yang lain.
Gosipnya One Piece film orang mulai digarap, Luffy diperankan oleh pemeran Yagami Light dari DN versi drama. Cari-cari berita, yang ketemu hanya iklan game One Piece (Ener dan Croc? Kekuatan petir dan pasir berbenturan menjadi kaca?)
Sementara itu, Naruto tampil di panggung Jepang, dan sudah mulai diolah Lionsgate untuk versi holiwut. cx ,xcy`.

Senin, 03 Oktober 2016

Champagne Supernova

How many special people change?
How many lives are living strange?
Where were you while we were getting high?

Slowly walking down the hall
Faster than a cannonball
Where were you while we were getting high?

Someday you will find me
Caught beneath the landslide
In a champagne supernova
A champagne supernova in the sky

Wake up the dawn and ask her why
A dreamer dreams she never dies
Wipe that tear away now from your eye

'Cause we don't believe
That they're gonna get away from the summer
But you and I will never die
The world's still spinning around we don't know why
Why-why-why-why-y-y


Selasa, 27 September 2016

Teh Zaman Edan

::: Zaman ini zaman edan: teh botol dikotakin, teh gelas dibotolin :::
(& teh poci disasetin ...) 󾇎󾀼󾔵☕󾀾󾦄󾁃



Teh Hijau

Baru dua minggu lalu saya mengoreksi teman bahwa teh hijau (ryokucha) itu belum tentu adalah matcha.
Pada dasarnya, teh hijau adalah teh yang dikonsumsi tanpa melalui prosedur pelayuan/pengeringan dan oksidasi. Jenisnya dibedakan antara mutu dan cara tumbuh: yang terpapar matahari dengan yang tumbuh di bawah bayangan pohon lain.
Matcha adalah teh bubuk yang dihidangkan dengan cara dikocok sampai kental berbusa, sedangkan teh hijau bening adalah jenis lain: bisa sencha, gyokuro, kabusecha, tamaryokucha, bancha, kamairicha, macam-macam.


Teh Gula

Kebetulan baru kemarin berteman FB dengan seseorang yang pernah menceritakan anekdot ini kepada saya enam tahun yang lalu.
Kabarnya, orang Sunda kalau pergi ke timur kebingungan kenapa minum teh saja harus bayar. Saking melimpahnya kebun teh di tanah priangan, air teh biasanya menjadi layanan gratisan bagi orang yang membeli sepiring makanan. Sebaliknya, orang Jawa kalau pergi ke barat kebingungan kenapa kalau teh pakai gula harus bayar lebih. Saking melimpahnya kebun tebu, penambahan gula biasanya menjadi layanan gratisan bagi orang yang membeli segelas teh.
Semacam teori kelangkaan terkait perbandingan antara pasokan dan permintaan.


Teh Kaca

Menghindari minuman bersoda, teh botol kaca adalah jajanan masa remaja saya. Namun, ada masanya beli teh botol bukan karena mau diminum melainkan untuk dipecahkan dasar botolnya melalui tekanan dari mulut botol. Sulap yang lebih ajaib daripada kemampuan para keramat yang dipuja-puji oleh orang-orang putus asa itu.

Masa tersebut berlalu karena kini semakin jarang beredar teh botol dari kaca. Kemasan minuman komersial, apa pun bentuknya, telah menyumbang cukup banyak pada gunungan sampah sehingga sebisa mungkin dihindari konsumsinya.


Teh Edan

Bukan sekadar bungkus teh. Ini berlaku pula pada penunjukan jabatan orang yang mempunyai keahlian berbeda, atau penerapan kebijakan seperti mengobral bahan yang seharusnya dihemat sementara membela pihak yang seharusnya dibasmi.

amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada ...