木曜日, 12月 10, 2009

Hari HAM, 24 tahun lalu

Majalah TEMPO 4 Januari 1986 "Pilihan Lain: Pendidikan Di Rumah"

Baru sadar bahwa hari ini 24 tahun lalulah, saya melejit menjadi tenar sesaat.
Gara-gara diseret tampil membicarakan perlindungan hak anak bersama tukang koran dan entahlah siapa lagi itu ya. Lalu diserbu oleh wartawan berbagai media massa nasional, diliput dengan berlebihan belum tentu sesuai kenyataannya. Kenyataannya seperti apa? Akan saya ceritakan kalau sempat.

Ihihi ternyata 10 Desember ya, lupa uy. Saya kira selama ini, seminar LBH itu diadakan tanggal 23 Juli. Pantas saja mencari-cari koran dan majalah sekitar tanggal itu kok sayanya tidak tampak. Cari lagi aah sekarang...

Satu hal yang saya ingat betul, adalah bahwa saya tidak diizinkan berbicara sebagaimana yang saya kehendaki. Saya hanya boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana saja, dan pertanyaan yang sulit dialihkan ke ayah saya. Padahal moderatornya sudah saya colak-colek ketika saya ingin komentar, tapi beliau melarang.

Nah kebetulan, takdir menyuratkan bahwa sekitar beberapa bulan lalu, saya terlibat dengan sang moderator itu lagi dalam beberapa urusan pekerjaan. Beliau sudah sangat sepuh tapi masih giat. Beliau bilang kepada saya, "kamu saya perlukan untuk mengetik-ngetik saja, tidak usah berpikir..."

Ohhh trauma masa lalu kembali bergema... ;p

木曜日, 12月 03, 2009

Hujan Darah dan Kusarigama

Gara-gara terimbas suasana "hujan deras dengan air mata", hujan bintang jatuh dan hujan durian runtuh selama November kemarin, juga sebagai pelampiasan gondok setelah dipanas-panasi menonton konser gak penting dengan tiket seharga 3 juteng yang jelas-jelas gak terjangkau, akhirnya bela-belain menonton Ninja Assassin mumpung harga tiket bioskopnya cuma 8 rebu rupiah. Ugh kesenjangan sosial...

Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk mengamati sisi lain sosok yang (terutama menurut khalayak Asia dan Amerika) termasuk satu dari Seratus Manusia yang "Membentuk Dunia Kita" mungkin karena mata indah tanpa lipatan kelopak yang bahkan sempat membuat Stephen Colbert tersaingi itu hua ha ha ha haaa.

Sesuai info awal yang hanya diperoleh dari teman-teman sana-sini (karena sialnya gak sempat nonton trailer, internet kantor diblokir), belum muncul judul, layar sudah dipenuhi serpihan tubuh dan cipratan saos tomat, gileee dahsyatlah walaupun masih belum se"afgan" happy tree friends.
Seharusnya ini bukan film yang perlu dipikirkan panjang lebar, tapi tetap saja kepikiran jugaaa sialaaan.

Wajah Asia


Hal pertama yang terbersit di kepala: Yakuza yang muncul di adegan pertama saja sudah jelas tidak ada yang berwajah Jepang sama sekali walaupun masih dalam ras Mongoloid. Sementara ninja-ninjanya, ternyata digambarkan sebagai kumpulan manusia berbagai suku bangsa, ada yang bule dan negro juga, walaupun tidak disorot lebih dekat. Mungkin semuanya juga dibaptis dengan nama Jepang.
Tapi apakah orang Amerika tidak berminat mempelajari lebih jauh kebudayaan Asia lainnya, sehingga yang ada pasti dari jepang ke jepang lagi? Ataukah untuk menampilkan sesuatu yang melibatkan kekerasan, dengan pertimbangan kejahatan di masa perang dunia II, hanya Jepanglah yang dianggap layak menjadi kambing hitam?
Kalau sesungguhnya film ini dirancang khusus untuk menampilkan sang seniman kesayangan kita yang satu itu, kenapa tidak menggali kebudayaan Korea yang sejenis, masakah tidak ada? Indonesia saja katanya punya "Kakehan"...

Dilema Stockholm Syndrome


Entah bagaimana, hal paaaling penting yang terasa kurang di sini adalah konflik batin sang tokoh utama.
Yeah okelah, dia menuntut balas dendam terhadap kematian sang kekasih yang dihukum oleh klannya karena melarikan diri. Namun apa pun yang terjadi, dia dibesarkan di klan tersebut, masakah tidak ada semacam stockholm syndrome yang tersisa terhadap sang guru dan kelompoknya? Padahal sudah banyak teladan film-film kungfu China yang sukses mengangkat dilema ini. (Dalam Kill Bill, misalnya, terlepas dari aksi gila kekerasan yang norak habis lengkap dengan segala elemen otaku, adegan berhadapan antara Black Mamba vs Bill cukup menusuk jantung dan menguras air mata.)
Dan masakah dia hanya memberontak seorang diri tanpa berusaha terlebih dahulu membisiki rekan-rekan seperguruannya untuk berkomplot menyelenggarakan kudeta? Padahal dia sendiri dibisiki oleh sang pacar. Bukankah bersama menghadapi kesulitan seharusnya mempererat rasa kesetiakawanan.
Dia berhasil pula meminta bantuan Europol untuk menyerang klannya itu, bukankah ini semacam pelanggaran batas negara? Atau jangan-jangan dojo ninjanya bukan di Jepang tapi di pegunungan Alpen?
Yang jelas adegan ini serupa dengan berbagai peristiwa perebutan kekuasaan Nusantara yang meminta bantuan pihak asing dan selanjutnya membuka peluang penjajahan di tanah air.

Senjata Canggih


Sejak seribu tahun yang lalu, selain disiplin pendidikan sebagaimana diamati oleh Ibn Battuta (halah bawa-bawa Battuta segala), organisasi rahasia ini juga mempunyai kemampuan memproduksi senjata tercanggih pada masanya, dengan keahlian metalurgi tingkat tinggi yang berhasil membuat shuriken dan kyoketsu shoge dengan ketajaman, kelenturan, kekuatan dan kesetimbangan yang pas.
Ketika mereka disinyalir sudah bersedia menerima pembayaran senilai seribu pon emas dalam bentuk modern: nilai euro melalui transfer bank internasional, masakah mereka belum sudi merangkul persenjataan modern juga?
Ketika tiba-tiba diserbu oleh helikopter, panser dan senapan mesin, walaupun pertarungan sempat tampak seimbang, akhirnya kalah juga dalam sesaat, sangat mengenaskan apalagi jika dibandingkan dengan reputasi mereka selama seribu tahun tersebut. Masakah mereka tidak punya peralatan yang setara dengan deteksi radar satelit dan sebagainya; kalaupun bukan dalam bentuk teknologi modern, dalam bentuk ilmu sihir kek gitu...

Filosofi Antibonsai


Satu hal yang bagus dalam film ini adalah cara pandang yang menolak untuk mengelu-elukan adat pendidikan ninja yang kenyataannya membentuk orang secara paksa menjadi alat pembunuh. Sebagaimana pandangan Kiriko ketika menyabot pembuatan bonsai, "jantung setiap pohon pasti tahu ke arah mana ia harus tumbuh."
Tapi sayangnya, sang tokoh utama kita tetap memanfaatkan kemampuan membunuh yang ia peroleh selama ini hanya untuk membantai klan tempat dia dibesarkan, bukannya berpikir dalam bingkai lebih luas; seperti misalnya membasmi orang-orang yang mungkin berminat untuk memanfaatkan jasa mereka, orang-orang yang mampu memberi imbalan senilai 1000 pon emas.
Akar kejahatan pun belum tertumpas.

Nilai: Satu setengah bintang.


Satu bintang: demi melihat si Jung Ji-hoon alias Pi/Bi/Yu/Rain dan kouhainya si siapa itu pamer otot (dan bekas-bekas luka) sembari mengucapkan dialog-dialog aneh berbahasa inggris. Semoga saja film ini tidak menjadi pembunuhan karir mereka.

Setengah bintang: untuk filosofi bonsainya, setidaknya dengan ini sedikit lebih baguslah daripada Dragonball the movie (halah ngapain juga diperbandingkan ya).

***
Pelajaran yang bisa dipetik:
- ninja ternyata tidak mengendap-endap dalam diam, tapi sambil mengancam-ancam dalam bisikan seperti basilisk di harry potter.
- ninja sejati akan tahu kalau seorang cewek berbohong mengenai ukuran celana jinsnya.
- kalau ada cewek asia bertubuh sintal yang minta bantuan melipat seprai di tempat cuci di pelosok berlin, hati-hati dengan senjata tajam yang dipegangnya, dia pasti seorang ninja.
- tidak akan ada yang bisa selamat dari serbuan ninja kecuali kalau dia terlahir dengan jantung di sebelah kanan.

Setelah menonton ini, mungkin ada baiknya memutar ulang drama seri Full House, MV-MV breakdance atau setidaknya merenungi kembali rangkaian persaingan dengan Stephen Colbert dulu itu, demi mengejar unicorn memulihkan citra yang terpatri di otak... ;p

Menonton lagi gemerlapan Speed Racer juga lumayan tuh, terutama dialog ini:
"Was that a ninja?!"
"More like a nonja. It's sad what'll pass for a ninja these days..."

土曜日, 10月 17, 2009

Lapau Minangkabau

Titipan Ibunda, saya tampilkan di mari...

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Seni kuliner adalah warisan Minang, seperti batik warisan Jawa. Bagi pemuda Minangkabau yang terkena wajib merantau demi mencari kemuliaan melalui ilmu dan harta, kecanggihan budaya boga daerahnya menyebabkan tak betah dengan selera setempat. Rindu kampung terpuaskan dengan memasak sendiri resep ibunda, mencoba bersama, sampai buka warung untuk kepentingan perantau dalam jumlah yang kian meningkat. Ternyata, citarasa masakan Minang itu begitu istimewa, langsung disuka di seluruh pelosok rantau Nusantara. Akhirnya membuka "lapau" atau bekerja dari lapau ke lapau sambil "menari piring" menjadi cara mudah untuk alasan dan andalan memulai perantauan.

Unggulnya kuliner Minangkabau, mungkin karena lebih dulu mengisi rapat pojok-pojok, tempat setiap orang pasti kelaparan, dengan niat egaliter menolong selera sesama perantau malang. Harga bisa jadi murah, karena makan enak bisa dengan kuah-kuah. Tak pandang kelas sosial, nan paralu pitih dari omzet berlipat ganda. Baik Nasi Padang dengan hidangan khas pesisir maupun Nasi Kapau dengan keahlian pengawetan daging dan jeroan, Lapau Minangkabau adalah garda depan kuliner Nusantara, dinikmati oleh berbagai kalangan dari elit hingga jelata.

Orkes Gumarang yang berhasil mengantar lagu Minang era '60-an ke Jakarta, berjasa besar menaikkan pamor restoran Padang di ibukota, Kramat dan Puncak, lalu berkumandang ke seluruh Nusantara. Para sopir taksi atau bus yang memutar kaset lagu Minang, pembawa konsumen potensial, selalu dapat jatah makan gratis. Yang sudah akrab jo induak samang lapau, tak lupa diberi oleh-oleh "samba induak bako" dan "bubua kampiun", keduanya sebenarnya sisa-sisa makanan hari kemarin. "Samba induak bako" adalah sisa-sisa serba sedikit dari lauk pauk dan sayur berkuah yang dikeringkan jadi "rendang campur" beraroma khas nan lamaknyo sensasional dimakan jo nasi angek-angek. "Bubur kampiun" adalah aneka bubur, aneka kolak, ketan dan sarikaya yang tak laku, tinggal sedikit, disajikan dalam kombinasi kreatif. Betapa ramah dan murah meriah promosi pengambil hati. Arti "kampiun" adalah juara, champion. Bubur untuk para "juara" silek harimau, atau maksudnya bubur yang juara nomor satu enaknya (nak capek laku habih sampai ka dadak-dadaknyo, sampai ka karak-karaknyo).

Yang bukan Minang, akan terbuai lagu-lagu di bus-bus dan taksi-taksi itu, terdorong masuk ke restoran. Atau yang lidahnya sudah pacak dengan pedas dan harumnya komposisi bumbu, akan makin larut dalam lagu-lagu sendu atau lucu. Bukan kebetulan kalau selain lagu kerinduan perantau, sang pengelola restoran (Kampuang nan Jauah di Mato, Teluk Bayur Permai, Marapi- Singgalang, Laruik Sanjo ...mabuak untuang jo parasaian, patang disangko pagi hari) juga berkumandang lagu-lagu berjudul makanan atau menyindir masalah "lambuang":

Urang gaek mancilok lamang, luko bibianyo dek sambilu...
(Si Nandi-nandi)

Lompong sagu bagulo lawang, sadang katuju diambiak urang...
(Lompong Sagu)

Bareh baru makan jo pangek, indak tampak mintuo lalu...
(Bareh Solok)

Bia tarumuak badan di rantau, rinuak di kampuang takana juo...
(Palai Rinuak)

Kawin saya sama orang Jawa, tahu ka tahu... tempe ka tempe...
(Oslan Husen taragak patai jo jariang)
Oooii lamaaaang..... lamaaaang tapaaai.


Apalagi ya, lagu-lagu lambuang yang jenaka? Apa nama restoran-restoran awal di Kramat dan Puncak? Apa sebab dan sejak kapan sistem "franchise" melanda Simpang Raya, Sederhana, Salero Bagindo, Ampera yang jadi mahal dan eksklusif, yang sifatnya sudah sampiliiik, baretong bana?

Untuak sataguak aia putiah palanca rangkungan sajo, awak musti mambali nan 'kemasan'. Ado 'kemasan' boto, ado 'kemasan' galeh, kaduonyo dari plastik janiah. Dan itu alah jaleh ado haragonyo... masuak ka dalam rekening. Dari rekening 'ko, awak kanai pajak pulo 10%. Yo, sansai badan den. Dunsanak nan ambo baok makan, agak tacangang dek pajak 10%. Jadi sabalun mamasan, harus diputa di kapalo, bara harago nan tacetak di daftar menu dan bara jatuahnyo nan ka di bayia di meja kasir. Kasadonyo kini 'ko... pitih... pitih... pitih. Ba'a ka ba'a lah... caronyo.


Beryl C. Syamwil
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++


gulai-gulai

月曜日, 10月 05, 2009

Kompas, Balon, dan Rossiya Matushka

Entah kenapa, déjà vu berturut-turut dengan kompas dan balon. Selalu muncul dalam apa yang aku baca, aku tonton, dan aku mainkan dalam beberapa hari terakhir. Heh, sedang ngetrend kah kompas dan balon sebagai elemen dalam komik, film dan game minggu ini?


Little Mosque on the Prairie musim 4
28 September = Hadiah pernikahan anonim kompas plastik murahan;
5 Oktober = Balon-balon dalam acara kerja sama masjid-gereja...

hiro
Heroes musim 4
21 September = kompas rusak, tatoo kompas, dan balon karnaval.

yotu2yotu1
Yotsuba&! babak 61
31 Agustus - 29 September = kegiatan menghadiri festival balon udara
yotu4yotu3


Farmville up, up and away
19 September 2009 = balon udara warna pelangi
litefbfarmville
Facebook lite yang dipakai di kantor
pertengahan September = berlogo balon udara biru muda...


pixarup
Up animasi 3D pixar
yang dipasang si Danu berulang-ulang di DVD...

captjack

Pirates of the Caribbean yang tertonton di televisi pada sekitar libur lebaran, dengan kompas ajaib Kapten Jack...

Lalu karena sebulan ini sering mampir berbuka di Indische Tafel, restoran tetangga bergaya kuno yang baru buka, terkenang komik Jo Zette & Jocko seri penerbangan stratosfer, si Jocko tersangkut di penunjuk arah angin berbentuk ayam, karena terbawa balon pengukur cuaca...

Bahkan beus antarkota memutar karaoke Iwan Fals, berlatar belakang cuplikan bajakan video National Geographic meliput Greenland dari balon udara! dst...

Selain itu, tentu saja yang ini merupakan pilihan, pikiran juga sedang disesaki oleh Rusia. Sebenarnya sekitar dua tahun yang lalu sempat juga terkena "Russia Rush" ini, ketika tiba-tiba kangen mendengar musik/lagu seperti Ochi Chornie dan Hymn to Red October... Tapi rasanya belum separah sekarang.

Sejak wara-wiri Mafia Wars: Moscow, ingatan melayang ke manga Eroica yori Ai wo Komete yang kental dengan suasana Rusia masa perang dingin sampai postglasnost & perestroika: Major Klaus Heinz von dem Eberbach vs. Mikhail Potapych Toptygin, berhadap-hadapan di lapangan merah...

Apalagi kebetulan juga baru sempat membaca Superman: Red Son dan baru mulai mengumpulkan scanlation Yotsuba&! berbahasa Rusia...

Mari kita hubung-hubungkan kembali dengan kompas dan balon. Tentu ini pertanda, saya harus segera mengarahkan diri mengapung melayang-layang ke Rusia?! p(^o^)q

Superman: Red Son


Karya apik Mark Millar (pencipta tokoh yg bisa mengeras sekeras s@mb@lit dan mencair seencer m@ncr@t itu lhooo... pengarang "Wanted" yang akhirnya difilmkan dengan alur berbeda oleh seorang sutradara Rusia...)
Kisah ini mengandaikan apa yang terjadi ketika ada selisih waktu, sehinga pesawat yang membawa bayi Kal El ke bumi jatuh di pedalaman Rusia:

redsonLambang yang diusung sang manusia super di dadanya pun menjadi bentuk Palu dan Arit. Wonder Woman adalah mitra kerjanya yang memperjuangkan feminisme ke seluruh penjuru dunia. Lois Lane menjadi istri setia Lex Luthor, sedangkan Batman muncul sebagai anarki berjubah hitam yang memilih mati demi membela kekacauan daripada hidup bosan dalam keteraturan otoriter di bawah perintah sang Putra Merah.

Lucu juga.

水曜日, 9月 23, 2009

The Anwars (we are not related!)

No, I am not related to a Joko Anwar.

... except that we ingloriously shared the same birthdays, I guess.

(I only go to Circle K for some exclusive crispy seaweed snack.)




(And in fact, I am not related to most of the Anwars in this whole small world after all).