日曜日, 3月 08, 2009

Perempuan, Pelawak, dan Politisi

Beberapa waktu lalu, kawan-kawan LFM membahas sebuah fenomena menarik, mengenai pelawak perempuan.
Kesimpulannya, perempuan yang lucu, pasti terkesan maskulin, atau ternyata lesbian. Lucu dan cerdas sebagai sifat perempuan dianggap ancaman yang mengganggu. Perempuan yang lucu akan kehilangan daya tarik di mata lelaki. Sedemikian rupa, bahwa lucu adalah sifat lelaki; lawak adalah dunia lelaki.

Karena yang dibahas berkaitan dengan fenomena perfilman dan televisi, saya belum tahu apakah ini nilai-nilai ini hanya berlaku di dunia Barat atau juga di dunia Timur. Apakah menjadi lucu juga merupakan tabu bagi perempuan Indonesia? (Kalau di Jepang sih sudah jelas, pelawak lelaki hampir pasti berhasil memperistri selebriti perempuan tercantik yang pernah ada...)

Tapi bukankah menurut Teori Pagliacci, justru pelawak itu yang hidupnya paling tertekan? Terbukti, pelawak rata-rata cepat mati!!! Apa salahnya kaum perempuan cukup menjadi pihak yang menikmati tertawa dengan bahagia tanpa harus melucu sampai menderita.

Begitu pula dengan politik. Katanya oh katanya oh katanya,

  • Politik itu seharusnya adalah perihal saling mengalah, tarik ulur kebijakan agar memuaskan semuanya, namun karena terlalu didominasi kaum lelaki, kerangka tersebut bergeser menjadi perihal menang dengan segala cara.
  • Sementara itu,
  • Lelaki yang sebenarnya berpihak kepada hak-hak perempuan dan anak-anak mungkin segan bersuara karena takut disangka banci, kalaupun nekad lantang membela akan dianggap remeh dan diabaikan lelaki lainnya.
  • Sehingga,
  • Banyak gerakan solidaritas beranggapan bahwa perempuan perlu turun tangan memperjuangkan hak kaumnya sendiri, sekaligus memberi 'sentuhan feminin' untuk menetralkan politik kembali kepada khittahnya.
  • Sebaliknya,
  • Perempuan terlanjur jengah masuk ke dunia politik yang kepalang penuh kekerasan persaingan kekuasaan, merasa itu bukan dunia mereka.

Dengan demikian, perempuan yang berhasil masuk dengan sukses ke dunia politik hanyalah:
  • Perempuan yang sanggup memenuhi tuntutan untuk bersikap maskulin, setara dengan rekan dan lawan mereka yang lelaki;
  • Perempuan yang mengumbar sisi feminin untuk dilecehkan lelaki sekitar, yang penting tenar, tak ada kaitan dengan kinerja;
  • Perempuan yang berada di bawah bayang-bayang sosok maskulin lain; ayah, abang, atau suami...

Baik dalam politik maupun karier, calon perempuan menghadapi tantangan dari dua arah:
  • Lelaki (dan sebagian besar kaum perempuan) cenderung tidak memilih perempuan walaupun sesungguhnya mereka punya kemampuan yang memadai, semata karena alasan emosional; sayang sekali mereka adalah perempuan...
  • Sesama perempuan (dan lelaki yang sadar kesetaraan) cenderung tidak memilih perempuan karena alasan rasional; kebetulan kemampuan mereka masih sedikit di bawah lelaki akibat sempitnya kesempatan mengasah diri.

Oleh karena itulah, menurut sebagian kalangan, aksi afirmasi dalam hal gender masih dibutuhkan di Indonesia. Ini perlu dimulai dari pemilihan anggota legislatif.
Katanya oh katanya oh katanya, rekam jejak anggota legislatif perempuan cenderung lebih bersih dari lelaki. Entahlah karena:
  • Perempuan cenderung lebih jujur dan alim daripada lelaki;
  • atau
  • Perempuan yang hanya segelintir ini berhati-hati, takut ketahuan macam-macam karena disorot khusus;
  • atau
  • Perempuan bekerja cukup lihai dan cerdik, sehingga jejak kebusukan segera tertutupi dengan rapi jali. Nah lho!


Y: The Last Man


(Sudah pada baca belum? Bagus sekali lho, bintang 5 lah.)
Dalam serial komik asyik yang saya tamatkan akhir tahun lalu ini, digambarkan sebuah dunia di mana nyaris semua makhluk berkromosom Y musnah karena satu atau lain hal (ada cukup banyak penjelasan mengenai penyebabnya,yang bisa dipilih sesuai selera, baik secara ilmiah, politis, ataupun religius).
Inti ceritanya adalah bahwa dari sudut pandang seorang cowok pecundang yang tersisa bersama seekor monyet jantan piaraannya, kita melihat bagaimana perempuan-perempuan berjuang untuk bertahan hidup tanpa belahan jiwanya.
  • Politisi yang juga merangkap ibu rumah tangga (euh, tegaan).
  • Ilmuwati yang menyaingi kejeniusan ayahnya (brilian!).
  • Tentara yang tak sudi mati di tangan sesama cewek (perkasa).
  • Supermodel yang ganti profesi jadi tukang gali kuburan (cihuy).
  • ... dan seterusnya.
ythelastmanKalian pikir, dengan musnahnya kaum lelaki, gen si pengacau sudah lenyap dari atas bumi? Tapi yang terjadi justru kekacauan di sana-sini. Apakah ini karena para perempuan terlanjur terdoktrin sistem patriarki, sehingga mereka hanya bisa melanjutkan sistem tersebut dalam menggerakkan dunia? Ataukah pada dasarnya manusia ditakdirkan untuk mengacau, tanpa pandang jenis kelamin?
(Perlu dicatat bahwa skenarionya ditulis oleh lelaki, walaupun mendapat campur tangan perempuan ilustratornya juga...)

***

Perjuangkan nasib kaummu!


Seorang ibu-ibu caleg yang juga aktivis tiba-tiba bertanya, "Kenapa kamu tidak melakukan kajian mengenai perempuan? Sebagai elemen penting kedaulatan rakyat, perempuan kan perlu disorot secara khusus."
"Ha? Saya?" saya gelagapan dan mencari-cari alasan sok pintar. "Eugh, dalam hemat saya, keterpinggiran perempuan adalah masalah yang integral, sehingga tidak perlu dibahas khusus, bisa saja dicarikan jalan keluarnya dengan mengkaji persoalan sosial ekonomi politik secara menyeluruh."
"Kamu itu, belum pernah turun ke lapangan kali, ya?" tuduhnya. "Coba kamu lihat betapa sengsaranya PSK. Coba bayangkan nasibnya perempuan yang menikah dengan warganegara asing, lalu bercerai, mereka bisa kehilangan kewarganegaraannya kalau tidak kita advokasi. Belum lagi soal terpisah dari anak kandung..."
"Wah, tapi seperti saya bilang, itu kan masalah-masalah 'kecil' yang terjerumus lingkaran setan dengan persoalan kesejahteraan umum dan tingkat peradaban. Saya pribadi sih tidak pernah merasa tertindas... tohohoh..." ketawa pahit.
"Ini bukan main-main! Sebagai orang yang dapat privilege pendidikan tinggi, kamu wajib ikut terjun langsung. Lain kali coba menghadap saya secara khusus, kamu perlu saya TATAR untuk belajar memperjuangkan harkat dan martabat kaummu sendiri!"
... Duh. Kenapa jadi saya yang kena.

Padahal saya pribadi lebih merasa tertindas ketika menghadapi ibu-ibu yang cerewet, histeris, berlimpah estrogen dan progesteron, sedikit-sedikit pms, dan kebanyakan lemot pula. Huaaa, bisa habislah saya menjambak-jambak ujung kerudung. Bagaimana saya bisa diharapkan untuk peduli dengan kaum saya sendiri?

Sungguh, saya tidak (belum) pernah merasa tertindas oleh kaum lelaki. Entahlah itu karena:
  • Saya beruntung hidup di antara para lelaki yang menghargai dan menjunjung tinggi hak-hak perempuan;
  • atau jangan-jangan malah
  • Saya sial hidup di antara para lelaki pecundang yang lebih rendah mutunya daripada perempuan di sekeliling mereka;
  • mungkin juga
  • Saya memilih lahan-lahan kegiatan yang tidak dilirik perempuan karena tanpa sadar takut kalah bersaing dengan sesama perempuan;
  • lebih parah lagi
  • Saya terbebas dari penindasan, hanya semata-mata karena kaum lelaki tidak menganggap saya perempuan;
  • tapi siapa tahu justru
  • Saya diam-diam mengalami sindroma Putri Padang Pasir... (merasa bangga menjadi luar biasa dengan kedudukan langka setara dengan para lelaki, sehingga saya tidak ingin berusaha membantu perempuan lain mencapai kedudukan yang sama, karena itu akan menurunkan derajat saya menjadi biasa-biasa saja...)


prankSeandainya turun berpolitik, jelas yang akan saya perjuangkan, tidak khusus soal perempuan.
  • Hak asasi orang-orang kidal.
  • Anak kucing dan hewan terlantar dipelihara oleh kelurahan sekitar.
  • Jalur sepeda di jalan raya dan tol lintas kota.
  • Pelarangan peredaran MSG.
  • Penghijauan pemandangan kota, baik dengan daun, lumut, jamur, atau apa pun yang tumbuh dan berkembang.
Dan saya akan mulai berkampanye sederhana. Tak perlu banyak gaya.
Cukup sebut nama saya tiga kali!
Lalu koarkan janji sakti, "Pastikan Perubahan!!!"
Yang mana pada dasarnya bisa saja menuju perbaikan, tapi bisa juga pemburukan. Yang penting, berubah itu kan tidak membosankan.
***
Eh, sebentar. Kenapa jadi seurieus? Padahal maksudnya melucu.
Hm, tak apalah. Tandanya saya masih layak sebagai perempuan, kan?

水曜日, 2月 04, 2009

Lanjutan Topeng Kaca ・「ガラスの仮面43」

Mbbbwahahaha!
Setelah lebih dari 5 + 6 + 4 tahun penantian? Hah 15 tahun???
Kelanjutan manga yang berusia lebih tua dari saya ini terbit juga.
topengkaca43

Untuk siapa? Untuk apa? Mengapa? Kamu berusaha memerankan tokoh Bidadari Merah? Untuk siapa? Untuk apa? Mengapa? Aku bercita-cita mementaskan panggung Bidadari Merah?
Aku juga sama denganmu. Kini baru kusadari. Di kota besar ini, tak seorang pun mau -atau mampu- percaya akan keberadaan Bidadari Merah. Bidadari Merah hanya ada di atas panggung sandiwara. Ketika pentas selesai, semua lenyap bagaikan mimpi malam hari. Hati dan ucapan Bidadari Merah, di hadapan dunia nyata tidak memiliki realita.
Buatlah aku percaya akan Bidadari Merah! Buatlah orang merasakan kenyataan akan Bidadari Merah. Bahwa di dunia nyata ini, Bidadari Merah itu ada. Untukku, dan untuk semua orang yang menontonmu. Yang bisa melakukan itu, hanyalah...
--- Hayami Masumi, di atas jembatan penyeberangan ---

Jilid 1 terbit awal tahun 1976, bahkan saya pun belum lahir.
Jilid 40 terbit September 1993, menyambut bunkoubon...
Jilid 41 terbit akhir tahun 1998, menyambut animasi video.
Jilid 42 terbit akhir tahun 2004, menyambut panggung Noh.
Dannn jilid 43 terbit awal tahun 2009, demi Opera Topeng Kaca.

Ternyata dibandingkan dengan naskah yang sejak Agustus lalu dimuat bersambung di majalah, ketika dikemas ke dalam buku jilid 43 alias "Kedua Akoya jilid 2", yang terbit beberapa hari yang lalu, masih tetap ada beberapa perubahan yang cukup signifikan, antara lain melibatkan bintang-bintang jatuh (secara Leonid dan Geminid lagi happening, kali ya).
Ringkasannya kira-kira (SPOILER ALERT! Highlight kotak di bawah):
  • Sakurakouji Yuu memutuskan hubungan dengan Mai karena ingin jujur pada diri sendiri, dan menyatakan akan tabah menunggu Kitajima Maya yang berjanji akan menjawab perasaannya selesai pentas percobaan;
  • Hayami Masumi di bawah hujan deras (deuh dramatis banget) di atas jembatan penyeberangan, mengilhami Maya dalam memahami perannya, bahwa untuk membuat orang percaya, ia harus terlebih dahulu percaya, dan berusaha 'menjadi';
  • Himekawa Ayumi melakukan olah tubuh hebat dengan alat-alat senam indah, dan dipuja-puji oleh media massa yang sebaliknya merendahkan Maya yang berkubang lumpur;
  • Kedatangan seikat besar mawar ungu disertai ungkapan gombal "aku percaya padamu lebih dari siapa pun di dunia ini" mencerahkan kembali hati Maya yang patah semangat;
  • Takamiya Shiori heran melihat reaksi Masumi yang sangat ekstrim terhadap mawar ungu, dan mulai curiga;
  • Dari tempat menyepi beliau, Tsukikage Sensei (Ibu Mayuko) malah menyatakan bahwa saat ini Maya masih lebih unggul, dan turun gunung untuk melihat persiapan kedua murid kesayangannya itu (Wah, adegan ini, kalau dihitung halaman terbitan majalah 12 tahun lalu, seharusnya bari muncul di 5-7 buku kemudian!!!)

Setelah buku ini, ternyata masih ada lanjutan yang terbit lagi di majalah... Baguslah, semoga benar-benar ditamatkan, bukan sekadar promosi opera.

Cukup menggelikan melihat si Hayami Masumi berlagak polos -setelah sekian tahun generasi berganti, masih begitu-begitu sajakah tingkahnya? Terlebih lagi mempertimbangkan jajaran shojo manga lainnya yang sudah menganut pola pikir yang berbeda. Penggunaan alat canggih seperti telepon genggam pun tidak membuat komik ini bisa mengejar ketinggalan (atau justru degradasi penurunan moral) dari yang lainnya. Mungkin bagus juga tetap demikian.

Kalau dibandingkan dengan ribuan lembar kisah bertele-tele(novela) versi majalah tahun 90-92 yang batal dibukukan itu, para pengemar hendaknya memaklumi kerja perfeksionis bertahun-tahun untuk menggantinya. Betapa setelah 17 tahun menerbitkan komik secara teratur, dan tersendat selama 15 tahun berikutnya --berarti 32 tahun berkubang dalam komik satu ini!!!-- sepantasnyalah sang pengarang ingin melepaskan karyanya dari jebakan cerita-cerita picisan. Upaya beliau kali ini, mengarahkan sebuah kisah cinta terlarang dan perjuangan karir menjadi hikayat pencarian akan ketuhanan, patut dihargai.

火曜日, 1月 27, 2009

Rembang Petang

Mulai membaca karena heran sama filmnya, perasaan gak terlalu hebat. Tapi kenapa fans-fansnya segitu heboh, siapa tahu bukunya memang lebih menarik?

Twilight



Ternyata, hampir semua hal esensial yang ingin disampaikan sudah tampil di film.
Sepintas lalu, kelihatannya model kisah cinta ini menggunakan pola shojo manga, tapi ternyata bukan. Cewek mana di shojo manga yang semanja, selemah dan segeblek Bella? Sama sekali gak pantas dielu-elukan sebagai teladan.

jacobblackPerwatakan tokoh cowoknya seharusnya Byronic, tapi tidak demikian, sehingga dengan serta merta kehilangan daya tariknya. Semula saya sangka itu salah peran di film, ternyata dari bukunya sudah kayak begitu. Apa gunanya dipasang jadi vampir kalau sok alim begini. Masih mendingan si berondong Indian itu, gantengan... Lebih muda sedikit bukan masalah.

Bagus juga ide tentang kulit yang berkilau pelangi. Tapi kenapa hanya sinar matahari yang membuat begitu? Lalu apa bedanya dengan lampu listrik biasa? Maksa banget, ya.


New Moon



Katanya diterjemahkan menjadi "Dua Cinta", kenapa bukan "Bulan Baru"? Jadi geuleuh. Dan uh, ketololan pasangan ini semakin memuakkan. Mungkin saya lupa, bahwa walaupun si culun Edward itu sudah hidup seabad, dia masih remaja konyol. Tapi tetap saja, Romeo-Juliet kan masih 14 tahun! Sebagai 18 ke atas, lebih dewasa sedikit dong! Romantika mati bersama kan sudah sejak lama dipatahkan oleh film Titanic (yang sebenarnya hueks juga) gituh...

Ide menyambung-nyambungkan ke dongeng zombie kali ini, bolehlah.

Bahwa si Jake berubah jadi serigala, sudah diduga sejak semula. Tapi yang mengejutkan adalah, kenapa dia sampai segitu sayangnya pada Bella? Apakah karena terlanjur kepincut flirtingnya di buku pertama? Atau hanya semangat bersaing dengan musuh bebuyutannya yang dingin dan sombong ituh?

Yang lebih menyebalkan lagi, adalah masalah rasialis yang mendasar. Ada kesan bahwa vampir-vampir penjajah ini lebih tinggi derajatnya daripada serigala-serigala yang notabene adalah penduduk asli. Huh.


Eclipse



Melanjutkan baca karena apa boleh buat, suka saja sama judulnya. Pengibaratan inti kisah cinta segitiganya dengan gerhana, cukup bisa diterima. Bacanya kebetulan juga pas dekat-dekat jadwal gerhana.

Akhirnya ada latar belakang cerita tentang anggota keluarga vampir lainnya, yang cukup dikait-kaitkan dengan sejarah dan kondisi sosial ekonomi Amrik zaman dulu. Tentang suka-duka perang sipil Utara-Selatan, tentang status perempuan, dst.

Juga kisah-kisah menarik di antara para serigala jejadian. Walaupun kurang padat!!! Aaaah! Kalah jumlah sama gombal-gombalan dan basa-basi gak penting di kepala abg ini. Kerumitan yang terjadi dalam hubungan antarserigala di dalam gerombolan serigala bagi saya sangat jauh lebih menarik daripada vampir-vampir yang membosankan itu. Tapi entah kenapa, mungkin karena terhanyut akan keserigalaannya, Jake semakin licik lihai seakan big bad wolf.


Breaking Dawn



Jilid yang ini rasanya agak lebih kaya akan teori-teori pervampiran khas seri ini, dan biarpun sepintas lalu, cukup menyingkap hal-hal yang terkesan agak lebih, apa ya, global gituh... Setidaknya Drakula asli Rumania muncul juga sebagai figuran... Vladimir dan Stefan? Pasangan Waiting for Godot kali ye.

'Logika dalam'nya cukup jalan, dan si Bella selalu tahu memanfaatkan orang yang mana untuk setiap kepentingannya; ternyata itulah kelebihannya, ya. Juga baguslah, definisi tentang serigala jadi-jadiannya diklarifikasi. Betul, itu mah bukan werewolf ateuh. Pakailah istilah lain.

Penyelesaian cinta segitiganya kayak Legenda Suriyothai... Banyak masalah yang selesai dengan hanya melakukan simulasi pikiran. Yang ini cuma layak dibaca di buku, karena kalau difilmkan, pasti yang ditampilkan justru aksi kekerasan setingkat Dragonball. Atau, seperti kata Yuni, Angling Dharma.

Saya suka bagian tengah-tengah yang dilabeli "buku Jacob", karena gaya cerita dan perwatakan para serigalanya asyik, gaul, gue banget. Judul bab bagian ini panjang-panjang tapi bagus-bagus. Seperti
10. WHY DIDN'T I JUST WALK AWAY? OH RIGHT, BECAUSE I'M AN IDIOT.

atau
17. WHAT DO I LOOK LIKE? THE WIZARD OF OZ? YOU NEED A BRAIN? YOU NEED A HEART? GO AHEAD. TAKE MINE. TAKE EVERYTHING I HAVE.


Geli juga tentang apa yang akhirnya bikin Bella kalap sama Jake...
"You nicknamed my daughter after the Loch Ness Monster?" I screeched.
And then I lunged for his throat.


Buku ini cukup mengusahakan semacam teladan bagi pasangan-pasangan muda untuk berani menikah dini sesuai anjuran agama.
Taaaapi-tapi-tapi... Entah kenapa kalau coba-coba diasosiasikan dengan dunia nyata, ini malah seakan menjadi panduan terhadap istri-istri berusia muda yang rela menerima KDRT dengan alasan klise yaitu cintrong? Walah-walah-walah, mengerikan. Jangan ditiru ya, anak-anak!!!


Midnight Sun



http://www.stepheniemeyer.com/midnightsun.html

Judulnya cukup puitis tapi aneh: Di buku-buku sebelumnya, "matahari" jelas-jelas adalah perumpamaan Jacob oleh Bella, sementara di sini digunakan sebagai perumpamaan Bella oleh Edward. Masa gak ada istilah lain ya? Komet, kek gitu. Atau, supernova. Atau, apalah.

Draft ini hanya menegaskan kecurigaan saya pada perwatakan si Edward culun yang sok alim dan dituduh sempurna ituh. Berlagak terlalu baik! Selera abg-abg miihaa. Tidak sebagaimana seharusnya seorang vampir. Kalah charming dari Lestat. Apalagi Vlad Dracul. Bahkan mendingan si Anton drakula cilik. Atau Edward Rochester!!!

Sesungguhnya gak perlu diterbitkan, karena kesan saya sih kurang cowok. Kalau beredar gratisan boleh-boleh saja lah kali ya, tapi gak pantas dijual.

Sisi bagusnya: Yah, sementara ini alurnya masih sinkron dengan buku pertama. Ketelitian yang patut dihargai, karena jarang ditemui pada penulis ngepop setingkat ini... apalagi di Indo.


Catatan lain:
Ketertarikan pengarang terhadap model-model otomotif yang ditampilkan melalui selera masing-masing tokoh terhadap mobil mereka, terasa mengada-ada. Satu-satunya alasan yang dikemukakan adalah bahwa vampir itu pada dasarnya pemangsa yang biasa bergerak cepat, sehingga gemar dengan percepatan. Andaikan saja ditelusuri lagi beberapa latar belakang yang sesuai, bahwa mereka tidak perlu bernafas, sehingga tidak terlalu peduli dengan polusi udara, misalnya, mungkin lebih pas.

Okelah, buku-buku ini ditulis dengan cukup teratur, tapi terlalu tebal untuk menyampaikan cerita yang agak kosong melompong. Seharusnya masih bisa diringkas lagi... Atau mungkin ini adalah cerminan dari anak remaja zaman sekarang.

日曜日, 1月 04, 2009

Surga, Sekarang (الجنّة الآن)

Al-Jannah Al-Aan (2005) saya tonton pada suatu Golden Week 2006.
Benar-benar sangat amat patut direkomendasikan.


"... jika para penindas itu berhasil meyakinkan dunia --dan diri mereka sendiri-- bahwa merekalah korban, maka tak ada jalan lain bagi kami, korban sesungguhnya, untuk juga merangkap sebagai pembunuh"...

http://wip.warnerbros.com/paradisenow/


Said dan Khalid, dua orang montir di Nablus yang menjadi relawan untuk melaksanakan tindakan bom bunuh diri, berkenalan dengan Suha yang baru kembali dari pengasingan. Perjumpaan ini mengubah cara pandang masing-masing terhadap apa yang mereka hadapi.

Bagusnya film ini, dalam ketegangan tingkat tinggi, hanya ada dialog perdebatan dan sorotan pemandangan.
Tanpa perlu menampilkan kekerasan, tetap saja tegang. Hanya melalui persiapan bercukur, berdandan, berfoto, berbaring di dipan...
Deuh, seakan semua remeh-temeh masalah kehidupan sehari-hari kita selama ini tak ada artinya sama sekali.

Bagi kita-kita yang sering ketiban pertanyaan dari sana-sini mengenai masalah yang diangkat, film ini cukup menampilkan aneka argumentasi dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Khalid orang menyebalkan yang tadinya senang bisa kabur dari dunia ini, di saat-saat terakhir malah termakan pendapat Suha bahwa pasti ada jalan keluar selain kekerasan.
Suha sendiri, di satu pihak seorang putri syuhada, di pihak lain perempuan modern didikan luar negeri, mulai mencoba memahami keadaan negaranya, apa saja yang menjegal perjuangan ayahnya selama itu, melalui obrolannya dengan Said.
Sementara Said yang tadinya tampak ragu, dalam petualangannya seharian penuh malah mencapai keyakinan teguh mengenai apa yang harus ia lakukan; bahkan cintanya pada Suha pun takkan menghalanginya meneruskan misi...

Ada yang protes, kok tingkah lakunya tidak Islami, adzan Shubuh malah bertamu ke rumah cewek, tapi di situlah yang ingin diangkat, bahwa kaitan antara kealiman dengan bom bunuh diri sesungguhnya tidak relevan. Yang mungkin pantas dikaitkan adalah antara perjuangan hak asasi manusia dengan bom bunuh diri.

Memang Bahasa Film itu universal, sehingga walaupun ada kendala bahasa, namun sorotan kamera, pemandangan latar belakang, raut wajah, gerak-gerik, tekanan suara, semua bercerita. Cukup untuk membuat penonton terkesima, tegang, gemas, ketawa miris dan menangis tersedu... Para pemerannya menurut saya bermain sangat bagus, walaupun mungkin juga karena saya memang belum memahami intonasi bahasanya. Selebihnya tinggal menekuni huruf-huruf putih yang berbaris di bawah (^-^;)

火曜日, 12月 30, 2008

Perubahan ・「変」

Perubahan. Kanji yang dipilih untuk menggambarkan tahun ini.
Semboyan calon pemimpin negeri kahyangan di balik bumi.

kanjihen

Perubahan. Cuaca, citra, tata kelola, harga.
Dalam ilmu ramalan, perubahan setara dengan kematian.
Akhir dari sesuatu, untuk menyongsong pembaruan.
(Wah, boleh juga. Terlalu banyak yang wafat di sekitar.
Tahun ini lebih sering dari biasa harus melayat berbelasungkawa.
Tetangga sebelah rumah. Mantan pejabat negara.
Para cerdik cendekia. Penopang hidup keluarga.
Heath Ledger...)


kotoshinokanji 2008Perubahan.
Juga perlambang keanehan.
Menggoncangkan kemapanan,
mengelu-elukan ketidakpastian.
Boleh jadi membawa kebaikan,
jangan-jangan malah keburukan.

Sebuah pertaruhan.

Tidak masalah, bukan?
Yang penting,
menguak secercah harapan.
Menyongsong masa depan.



kitsunekitsuna

Menyambut tahun baru,
alangkah asyiknya mengunjungi
RUBAH-RUBAH lucuuu di balik
puluhan ribu gerbang jingga
yang berjajar kokoh perkasa
menuju Fushimi Inari Jinja \(^o^)/


Kotoshi no Kanji 2007

Kotoshi no Kanji 2004