Kamis, 10 Desember 2009

Hari HAM, 24 tahun lalu

Majalah TEMPO 4 Januari 1986 "Pilihan Lain: Pendidikan Di Rumah"

Baru sadar bahwa hari ini 24 tahun lalulah, saya melejit menjadi tenar sesaat.
Gara-gara diseret tampil membicarakan perlindungan hak anak bersama tukang koran dan entahlah siapa lagi itu ya. Lalu diserbu oleh wartawan berbagai media massa nasional, diliput dengan berlebihan belum tentu sesuai kenyataannya. Kenyataannya seperti apa? Akan saya ceritakan kalau sempat.

Ihihi ternyata 10 Desember ya, lupa uy. Saya kira selama ini, seminar LBH itu diadakan tanggal 23 Juli. Pantas saja mencari-cari koran dan majalah sekitar tanggal itu kok sayanya tidak tampak. Cari lagi aah sekarang...

Satu hal yang saya ingat betul, adalah bahwa saya tidak diizinkan berbicara sebagaimana yang saya kehendaki. Saya hanya boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana saja, dan pertanyaan yang sulit dialihkan ke ayah saya. Padahal moderatornya sudah saya colak-colek ketika saya ingin komentar, tapi beliau melarang.

Nah kebetulan, takdir menyuratkan bahwa sekitar beberapa bulan lalu, saya terlibat dengan sang moderator itu lagi dalam beberapa urusan pekerjaan. Beliau sudah sangat sepuh tapi masih giat. Beliau bilang kepada saya, "kamu saya perlukan untuk mengetik-ngetik saja, tidak usah berpikir..."

Ohhh trauma masa lalu kembali bergema... ;p

Kamis, 03 Desember 2009

Hujan Darah dan Kusarigama

Gara-gara terimbas suasana "hujan deras dengan air mata", hujan bintang jatuh dan hujan durian runtuh selama November kemarin, juga sebagai pelampiasan gondok setelah dipanas-panasi menonton konser gak penting dengan tiket seharga 3 juteng yang jelas-jelas gak terjangkau, akhirnya bela-belain menonton Ninja Assassin mumpung harga tiket bioskopnya cuma 8 rebu rupiah. Ugh kesenjangan sosial...

Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk mengamati sisi lain sosok yang (terutama menurut khalayak Asia dan Amerika) termasuk satu dari Seratus Manusia yang "Membentuk Dunia Kita" mungkin karena mata indah tanpa lipatan kelopak yang bahkan sempat membuat Stephen Colbert tersaingi itu hua ha ha ha haaa.

Sesuai info awal yang hanya diperoleh dari teman-teman sana-sini (karena sialnya gak sempat nonton trailer, internet kantor diblokir), belum muncul judul, layar sudah dipenuhi serpihan tubuh dan cipratan saos tomat, gileee dahsyatlah walaupun konon masih belum se"afgan" happy tree friends.
Seharusnya ini bukan film yang perlu dipikirkan panjang lebar, tapi tetap saja kepikiran jugaaa sialaaan.



Wajah Asia

Hal pertama yang terbersit di kepala: Yakuza yang muncul di adegan pertama saja sudah jelas tidak ada yang berwajah Jepang sama sekali walaupun masih dalam ras Mongoloid. Sementara ninja-ninjanya, ternyata digambarkan sebagai kumpulan manusia berbagai suku bangsa, ada yang bule dan negro juga, walaupun tidak disorot lebih dekat. Mungkin semuanya juga dibaptis dengan nama Jepang.
Tapi apakah orang Amerika tidak berminat mempelajari lebih jauh kebudayaan Asia lainnya, sehingga yang ada pasti dari jepang ke jepang lagi? Ataukah untuk menampilkan sesuatu yang melibatkan kekerasan, dengan pertimbangan kejahatan di masa perang dunia II, hanya Jepanglah yang dianggap layak menjadi kambing hitam?
Kalau sesungguhnya film ini dirancang khusus untuk menampilkan sang seniman kesayangan kita yang satu itu, kenapa tidak menggali kebudayaan Korea yang sejenis, masakah tidak ada?
Indonesia saja katanya punya "Kakehan"...

Dilema Stockholm Syndrome

Entah bagaimana, hal paaaling penting yang terasa kurang di sini adalah konflik batin sang tokoh utama.
Yeah okelah, dia menuntut balas dendam terhadap kematian sang kekasih yang dihukum oleh klannya karena melarikan diri. Namun apa pun yang terjadi, dia dibesarkan di klan tersebut, masakah tidak ada semacam stockholm syndrome yang tersisa terhadap sang guru dan kelompoknya? Padahal sudah banyak teladan film-film kungfu China yang sukses mengangkat dilema ini. (Dalam Kill Bill, misalnya, terlepas dari aksi gila kekerasan yang norak habis lengkap dengan segala elemen otaku, adegan berhadapan antara Black Mamba vs Bill cukup menusuk jantung dan menguras air mata.)
Dan masakah dia hanya memberontak seorang diri tanpa berusaha terlebih dahulu membisiki rekan-rekan seperguruannya untuk berkomplot menyelenggarakan kudeta? Padahal dia sendiri dibisiki oleh sang pacar. Bukankah bersama menghadapi kesulitan seharusnya mempererat rasa kesetiakawanan.
Dia berhasil pula meminta bantuan Europol untuk menyerang klannya itu, bukankah ini semacam pelanggaran batas negara? Atau jangan-jangan dojo ninjanya bukan di Jepang tapi di pegunungan Alpen?
Yang jelas adegan ini serupa dengan berbagai peristiwa perebutan kekuasaan Nusantara yang meminta bantuan pihak asing dan selanjutnya membuka peluang penjajahan di tanah air.

Senjata Canggih

Sejak seribu tahun yang lalu, selain disiplin pendidikan sebagaimana diamati oleh Ibn Battuta (halah bawa-bawa Battuta segala), organisasi rahasia ini juga mempunyai kemampuan memproduksi senjata tercanggih pada masanya, dengan keahlian metalurgi tingkat tinggi yang berhasil membuat shuriken dan kyoketsu shoge dengan ketajaman, kelenturan, kekuatan dan kesetimbangan yang pas.
Ketika mereka disinyalir sudah bersedia menerima pembayaran senilai seribu pon emas dalam bentuk modern: nilai euro melalui transfer bank internasional, masakah mereka belum sudi merangkul persenjataan modern juga?
Ketika tiba-tiba diserbu oleh helikopter, panser dan senapan mesin, walaupun pertarungan sempat tampak seimbang, akhirnya kalah juga dalam sesaat, sangat mengenaskan apalagi jika dibandingkan dengan reputasi mereka selama seribu tahun tersebut. Masakah mereka tidak punya peralatan yang setara dengan deteksi radar satelit dan sebagainya; kalaupun bukan dalam bentuk teknologi modern, dalam bentuk ilmu sihir kek gitu...

Filosofi Antibonsai

Satu hal yang bagus dalam film ini adalah cara pandang yang menolak untuk mengelu-elukan adat pendidikan ninja yang kenyataannya membentuk orang secara paksa menjadi alat pembunuh. Sebagaimana pandangan Kiriko ketika menyabot pembuatan bonsai, "jantung setiap pohon pasti tahu ke arah mana ia harus tumbuh."
Tapi sayangnya, sang tokoh utama kita tetap memanfaatkan kemampuan membunuh yang ia peroleh selama ini hanya untuk membantai klan tempat dia dibesarkan, bukannya berpikir dalam bingkai lebih luas; seperti misalnya membasmi orang-orang yang mungkin berminat untuk memanfaatkan jasa mereka, orang-orang yang mampu memberi imbalan senilai 1000 pon emas.
Akar kejahatan pun belum tertumpas.

Nilai: Satu setengah bintang.

Satu bintang: demi melihat si Jung Ji-hoon alias Pi/Bi/Yu/Rain dan kouhainya si siapa itu pamer otot (dan bekas-bekas luka) sembari mengucapkan dialog-dialog aneh berbahasa inggris. Semoga saja film ini tidak menjadi pembunuhan karir mereka.

Setengah bintang: untuk filosofi bonsainya, setidaknya dengan ini sedikit lebih baguslah daripada Dragonball the movie (halah ngapain juga diperbandingkan ya).

***
Pelajaran yang bisa dipetik:

  • ninja ternyata tidak mengendap-endap dalam senyap, tapi sambil mengancam-ancam dalam bisikan seperti basilisk di harry potter.
  • ninja sejati akan tahu kalau seorang cewek berbohong mengenai ukuran celana jinsnya.
  • kalau ada cewek asia bertubuh sintal yang minta bantuan melipat seprai di tempat cuci di pelosok berlin, hati-hati dengan senjata tajam yang dipegangnya, dia pasti seorang ninja.
  • tidak akan ada yang bisa selamat dari serbuan ninja kecuali kalau dia terlahir dengan jantung di sebelah kanan.


Setelah menonton ini, mungkin ada baiknya memutar ulang drama seri Full House, MV-MV breakdance atau setidaknya merenungi kembali rangkaian persaingan dengan Stephen Colbert dulu itu, demi mengejar unicorn memulihkan citra yang terpatri di otak... :p

Menonton lagi gemerlapan Speed Racer juga lumayan tuh, terutama dialog:
"Was that a ninja?!"
"More like a nonja. It's sad what'll pass for a ninja these days..."

Sabtu, 17 Oktober 2009

Lapau Minangkabau

Titipan Ibunda, saya tampilkan di mari...

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Seni kuliner adalah warisan Minang, seperti batik warisan Jawa. Bagi pemuda Minangkabau yang terkena wajib merantau demi mencari kemuliaan melalui ilmu dan harta, kecanggihan budaya boga daerahnya menyebabkan tak betah dengan selera setempat. Rindu kampung terpuaskan dengan memasak sendiri resep ibunda, mencoba bersama, sampai buka warung untuk kepentingan perantau dalam jumlah yang kian meningkat. Ternyata, citarasa masakan Minang itu begitu istimewa, langsung disuka di seluruh pelosok rantau Nusantara. Akhirnya membuka "lapau" atau bekerja dari lapau ke lapau sambil "menari piring" menjadi cara mudah untuk alasan dan andalan memulai perantauan.

Unggulnya kuliner Minangkabau, mungkin karena lebih dulu mengisi rapat pojok-pojok, tempat setiap orang pasti kelaparan, dengan niat egaliter menolong selera sesama perantau malang. Harga bisa jadi murah, karena makan enak bisa dengan kuah-kuah. Tak pandang kelas sosial, nan paralu pitih dari omzet berlipat ganda. Baik Nasi Padang dengan hidangan khas pesisir maupun Nasi Kapau dengan keahlian pengawetan daging dan jeroan, Lapau Minangkabau adalah garda depan kuliner Nusantara, dinikmati oleh berbagai kalangan dari elit hingga jelata.

Orkes Gumarang yang berhasil mengantar lagu Minang era '60-an ke Jakarta, berjasa besar menaikkan pamor restoran Padang di ibukota, Kramat dan Puncak, lalu berkumandang ke seluruh Nusantara. Para sopir taksi atau bus yang memutar kaset lagu Minang, pembawa konsumen potensial, selalu dapat jatah makan gratis. Yang sudah akrab jo induak samang lapau, tak lupa diberi oleh-oleh "samba induak bako" dan "bubua kampiun", keduanya sebenarnya sisa-sisa makanan hari kemarin. "Samba induak bako" adalah sisa-sisa serba sedikit dari lauk pauk dan sayur berkuah yang dikeringkan jadi "rendang campur" beraroma khas nan lamaknyo sensasional dimakan jo nasi angek-angek. "Bubur kampiun" adalah aneka bubur, aneka kolak, ketan dan sarikaya yang tak laku, tinggal sedikit, disajikan dalam kombinasi kreatif. Betapa ramah dan murah meriah promosi pengambil hati. Arti "kampiun" adalah juara, champion. Bubur untuk para "juara" silek harimau, atau maksudnya bubur yang juara nomor satu enaknya (nak capek laku habih sampai ka dadak-dadaknyo, sampai ka karak-karaknyo).

Yang bukan Minang, akan terbuai lagu-lagu di bus-bus dan taksi-taksi itu, terdorong masuk ke restoran. Atau yang lidahnya sudah pacak dengan pedas dan harumnya komposisi bumbu, akan makin larut dalam lagu-lagu sendu atau lucu. Bukan kebetulan kalau selain lagu kerinduan perantau, sang pengelola restoran (Kampuang nan Jauah di Mato, Teluk Bayur Permai, Marapi- Singgalang, Laruik Sanjo ...mabuak untuang jo parasaian, patang disangko pagi hari) juga berkumandang lagu-lagu berjudul makanan atau menyindir masalah "lambuang":

Urang gaek mancilok lamang, luko bibianyo dek sambilu...
(Si Nandi-nandi)

Lompong sagu bagulo lawang, sadang katuju diambiak urang...
(Lompong Sagu)

Bareh baru makan jo pangek, indak tampak mintuo lalu...
(Bareh Solok)

Bia tarumuak badan di rantau, rinuak di kampuang takana juo...
(Palai Rinuak)

Kawin saya sama orang Jawa, tahu ka tahu... tempe ka tempe...
(Oslan Husen taragak patai jo jariang)
Oooii lamaaaang..... lamaaaang tapaaai.


Apalagi ya, lagu-lagu lambuang yang jenaka? Apa nama restoran-restoran awal di Kramat dan Puncak? Apa sebab dan sejak kapan sistem "franchise" melanda Simpang Raya, Sederhana, Salero Bagindo, Ampera yang jadi mahal dan eksklusif, yang sifatnya sudah sampiliiik, baretong bana?

Untuak sataguak aia putiah palanca rangkungan sajo, awak musti mambali nan 'kemasan'. Ado 'kemasan' boto, ado 'kemasan' galeh, kaduonyo dari plastik janiah. Dan itu alah jaleh ado haragonyo... masuak ka dalam rekening. Dari rekening 'ko, awak kanai pajak pulo 10%. Yo, sansai badan den. Dunsanak nan ambo baok makan, agak tacangang dek pajak 10%. Jadi sabalun mamasan, harus diputa di kapalo, bara harago nan tacetak di daftar menu dan bara jatuahnyo nan ka di bayia di meja kasir. Kasadonyo kini 'ko... pitih... pitih... pitih. Ba'a ka ba'a lah... caronyo.


Beryl C. Syamwil
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++


gulai-gulai

Senin, 05 Oktober 2009

Kompas, Balon, dan Rossiya Matushka

Entah kenapa, déjà vu berturut-turut dengan kompas dan balon. Selalu muncul dalam apa yang aku baca, aku tonton, dan aku mainkan dalam beberapa hari terakhir. Heh, sedang ngetrend kah kompas dan balon sebagai elemen dalam komik, film dan game minggu ini?


Little Mosque on the Prairie musim 4
28 September = Hadiah pernikahan anonim kompas plastik murahan;
5 Oktober = Balon-balon dalam acara kerja sama masjid-gereja...

hiro

Heroes musim 4
21 September = kompas rusak, tatoo kompas, dan balon karnaval.

yotu1yotu2

Yotsuba&! babak 61
31 Agustus - 29 September = kegiatan menghadiri festival balon udara
yotu3yotu4



Farmville up, up and away
19 September 2009 = balon udara warna pelangi
farmvillelitefb


Facebook lite yang dipakai di kantor
pertengahan September = berlogo balon udara biru muda...


pixarup

Up animasi 3D pixar
yang dipasang si Danu berulang-ulang di DVD...

captjack


Pirates of the Caribbean yang tertonton di televisi pada sekitar libur lebaran, dengan kompas ajaib Kapten Jack...

Lalu karena sebulan ini sering mampir berbuka di Indische Tafel, restoran tetangga bergaya kuno yang baru buka, terkenang komik Jo Zette & Jocko seri penerbangan stratosfer, si Jocko tersangkut di penunjuk arah angin berbentuk ayam, karena terbawa balon pengukur cuaca...

Bahkan beus antarkota memutar karaoke Iwan Fals, berlatar belakang cuplikan bajakan video National Geographic meliput Greenland dari balon udara! dst...

Selain itu, tentu saja yang ini merupakan pilihan, pikiran juga sedang disesaki oleh Rusia. Sebenarnya sekitar dua tahun yang lalu sempat juga terkena "Russia Rush" ini, ketika tiba-tiba kangen mendengar musik/lagu seperti Ochi Chornie dan Hymn to Red October... Tapi rasanya belum separah sekarang.

Sejak wara-wiri Mafia Wars: Moscow, ingatan melayang ke manga Eroica yori Ai wo Komete yang kental dengan suasana Rusia masa perang dingin sampai postglasnost & perestroika: Major Klaus Heinz von dem Eberbach vs. Mikhail Potapych Toptygin, berhadap-hadapan di lapangan merah...

Apalagi kebetulan juga baru sempat membaca Superman: Red Son dan baru mulai mengumpulkan scanlation Yotsuba&! berbahasa Rusia...

Mari kita hubung-hubungkan kembali dengan kompas dan balon. Tentu ini pertanda, saya harus segera mengarahkan diri mengapung melayang-layang ke Rusia?! p(^o^)q







redson

Superman: Red Son


Karya apik Mark Millar (pencipta tokoh yg bisa mengeras sekeras s@mb@lit dan mencair seencer m@ncr@t itu lhooo... pengarang "Wanted" yang akhirnya difilmkan dengan alur berbeda oleh seorang sutradara Rusia...)
Kisah ini mengandaikan apa yang terjadi ketika ada selisih waktu, sehinga pesawat yang membawa bayi Kal El ke bumi jatuh di pedalaman Rusia:

Lambang yang diusung sang manusia super di dadanya pun menjadi bentuk Palu dan Arit. Wonder Woman adalah mitra kerjanya yang memperjuangkan feminisme ke seluruh penjuru dunia. Lois Lane menjadi istri setia Lex Luthor, sedangkan Batman muncul sebagai anarki berjubah hitam yang memilih mati demi membela kekacauan daripada hidup bosan dalam keteraturan otoriter di bawah perintah sang Putra Merah.

Lucu juga.

Rabu, 23 September 2009

The Anwars (we are not related!)

No, I am not related to a Joko Anwar.

... except that we ingloriously shared the same birthdays, I guess.

(I only go to Circle K for some exclusive crispy seaweed snack.)




(And in fact, I am not related to most of the Anwars in this whole small world after all).

Minggu, 20 September 2009

Gomen de Sundara Keisatsu Iranee

御免で済んだら警察要らねえ。。。

だから「済みません」と言うんだろうが p(^o^)q

Kamis, 17 September 2009

Bualan sang Buaya Muara

Semakin marak saja akhir-akhir ini gerakan cicak lawan buaya...

cicak buaya Duh, kasihan, kena salah kaprah lagi makhluk satu ini, kembali disebut-sebut sebagai istilah yang penuh huru-hara...
Walaupun setelah itu muncul pula Godzilla, entahlah apakah mereka tahu atau tidak bahwa godzilla = gorila + kujira (paus).

Quis custodiet ipsos custodes?

Padahal seharusnya nama baik buaya sudah pulih berkat kampanye Steve Irwin... Sayangnya beliau tewas tiga tahun yang lalu, justru oleh ikan pari, sama sekali bukan seekor buaya pun (huhuhu hu hu kayaknya dulu mendengar kabar kematian beliau jauh lebih sedih daripada waktu Heathy atau MJ)...

dilarang melempar buaya dengan benda apa pun

Walaupun dalam fabel-fabel kuno terlecehkan sebagai makhluk lugu yang mudah tertipu oleh musuh bebuyutannya, si kancil yang cerdik, buaya tetap saja harus tabah diibaratkan sebagai pendusta...

Lelaki Buaya Darat, apa ada hubungannya dengan peristiwa G30SPKI, Lubang Buaya dan Angkatan Darat?
Di Flores, Buaya Darat merujuk kepada Komodo si Reptil Purba.
Mungkin karena dekat dengan makna lintah darat penghisap darah, pemamah daging, predator sigap, sampai menjadi istilah untuk playboy gombal.
penangkaran buaya buaya muara

Tentu juga terkait istilah yang sering dipakai dalam syair-syair kuno, Air Mata Buaya: karena sebagaimana reptil umumnya, bisa meleleh tanpa rasa sedih, sehabis memangsa dengan kejamnya. Tapi kan buaya tak pernah bermaksud menipu, lah air matanya keluar secara alami untuk membersihkan bola mata, kok diprotes...
Trivia lain adalah bahwa jenis kelamin buaya ditentukan oleh faktor suhu lingkungan. Hanya suhu tertentu saja yang akan menghasilkan buaya jantan, lebih rendah atau lebih tinggi dari itu akan menghasilkan buaya betina... halah...
Lalu kenapa harus Buaya Darat? Buaya Muara di Kalimantan ternyata pernah menggemparkan dengan peristiwa menelan manusia. Dalam penangkaran mereka dikembangbiakkan dengan perbandingan 1 jantan : 4 betina. Jika demikian bisalah orang poligini dihina dengan istilah "buaya muara" sekalian...

rotibuayaPadahal menurut sudut pandang lain, secara biologis buaya boleh dikatakan termasuk salah satu jenis hewan paling setia di muka bumi, tidak berganti-ganti pasangan... Makanya di beberapa daerah seperti di sekitar Betawi, roti buaya dipakai sebagai seserahan nikah, perlambang kesetiaan pengantin seumur hidup (walaupun di rumah saya roti buaya malah biasa dimakan sebagai hidangan ulang tahunan, kuhahaha).

Yang agak bagus paling-paling istilah Lidah Buaya: Sementara lidah reptil umumnya diasosiasikan kepada lidah bercabang, lidah beracun, lidah yang mengucapkan kata-kata bohong atau kejam, namun lidah buaya dalam bahasa Indonesia malah menjadi istilah bagi tumbuhan yang sangat bergizi bagi kesehatan kulit dan rambut, aloe vera, walaupun bentuknya lebih mirip ekor buaya daripada lidah buaya asli.

Yang jelas, contoh teladan memperlakukan perempuan secara setara di dunia One Piece ternyata adalah Sir Crocodile alias Mr Zero sang manusia pasir.
Cobalah bandingkan: dari kesembilan kru bajak laut Topi Jerami (Mugiwara Kaizokudan) ada dua perempuan (Nami dan Robin), dari Tujuh Panglima Laut (Ouka Shichibukai) hanya ada Boa Hancock, dari Empat Kaisar (Yonkou) pun hanya ada satu perempuan lagi, bahkan di antara ketiga Laksamana Angkatan Laut (Kaigun Saikyou Kyouryoku) dan lima Tetua Bintang (Gorousei) semua lelaki; sementara di dalam struktur organisasi kriminal rahasia Baroque Works milik Crocodile, hampir setiap agen pasti punya mitra lawan jenis masing-masing (kecuali Bentham alias Mr2 Bon Kurei yang waria mengganda sendirian). Apa pun tujuannya memasang-masangkan sedemikian rupa, betul-betul Croc menghargai potensi perempuan! p(^o^)q

crocoboy(Maaf kalau ngelantur, kebetulan selama rentang waktu April-September ini hampir setiap minggu memang kasuat-suat terus dengan kembalinya si keren Crocoboy ke kancah pertarungan One Piece, kali ini tampil sebagai sekutu tak terduga Luffy bersama Badut Buggy, Raja Waria Ivankov dan Manusia Hiu Jinbei... Iyeeei~!)

Oh iya sepatu crocs buruk rupa yang sering bikin celaka itu kabarnya mau bangkrut ya, sejak obral besar-besaran sekitar hari Kartini lalu? Tapi kelihatannya masih banyak dijual di tempat-tempat tertentu. Kalau memang benar akan berhenti produksi, saya mau juga satu...

Kuha ha ha ha ha ternyata lumayan sering blog bambumuda membahas makhluk melata berdarah dingin:
Ular, Kodok, Kura-kura, Bunglon, apa lagi ya...


P.S. (Seurieus mode off)
Ngomong-ngomong soal emansipasi dan hari Kartini, kebetulan berdekatan pada 21 April lalu, saya mendapat kabar seorang teman gugur lagi pada saat berjuang melahirkan, padahal saat kehamilannya, yang kedua pula, tampak sehat tidak ada keluhan yang berarti. Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun.

Memang sudah bergema tudingan beberapa pengamat ahli, bahwa sepantasnya yang diperingati sebagai Hari Kartini bukanlah hari lahirnya 21 April, melainkan 17 September, hari wafatnya putri Indonesia tersebut pada usia 25 tahun lebih sedikit, setelah melahirkan putra pertama. Hal ini untuk mengingatkan kita selalu, betapa melahirkan itu mempunyai risiko kematian, sehingga kesehatan ibu hamil dan melahirkan mendapatkan perhatian khusus, dan agar kaum lelaki juga bersiap mengambil peran lebih besar melakukan langkah-langkah tertentu demi menjaga keselamatan istri, putri, dan perempuan di sekitar mereka.

buayamuarasamarinda

Rabu, 16 September 2009

Mengemas Bingkai-bingkai Kebinekaan Bangsa

Bingkai I: Mantra berbunyi Bhinneka Tunggal Ika



Kebetulan suatu hari sekitar dua bulan yang lalu, seorang rekan fb memasang status, "Anak-anak kalau ditanya bapaknya, apa semboyan bangsa? Pasti bilang Bhinneka Tunggal Ika. Rasanya di konstitusi kok enggak ada yakh tercantum Bhinneka Tungga Ika ... ada pendapat?"

Beberapa orang membalas bahwa sebagai doktrin yang ditanamkan untuk saling menghormati SARA, semboyan akan lebih masuk bila diajarkan dari mulut ke mulut, dan yang penting bukanlah tercantum secara tertulis atau tidak, melainkan apakah semboyan tersebut menjiwai pembentukan konstitusi atau tidak. Toh katanya, yang penting adalah improvisasi. (Wah setuju!)

Ada juga yang justru mempertanyakan, bukankah semboyan bhinneka tunggal ika itu cukup diwakili oleh pernyataan "bangsa yang satu bangsa Indonesia", tanpa perlu merinci (keberagaman) suku-suku tertentu? Ada lagi yang menuding betapa mantra itu tidak sakti lagi, terbukti dengan kerusuhan akibat benturan-benturan SARA dan kesenjangan ekonomi...

Saya pun tergelitik bertanya-tanya. Haruskah semboyan bangsa masuk resmi ke dalam konstitusi, tidak sebagai norma umum belaka? Kemudian teringat saya pernah mengunduhkan UUD 1945 untuk bahan PR anak penjaga kantor perwakilan universitas saya, maka dengan segenap ketulusan hati saya bongkar kembalilah berkas tersebut.

Ternyata semboyan negara saya temukan telah tercantum di dalam UUD 1945 versi baru, di amandemen perubahan kedua, pasal 36A.
(Untuk membandingkan perubahan tiap kalimatnya, silakan telaah UUD 1945 Amandemen. Untuk membaca hasil amandemen secara utuh, telaah UUD 1945 dalam satu naskah.)
BAB XV
BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN

Pasal 36A
Lambang negara ialah Garuda Pancasila
dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.


Sementara sebelumnya, semboyan tersebut diresmikan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951,
bersamaan dengan pengukuhan lambang negara Garuda Pancasila.
Pasal 5
Di bawah lambang tertulis dengan huruf latin
sebuah semboyan dalam bahasa Jawa-Kuno, yang berbunyi:
BHINNEKA TUNGGAL IKA.

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 66 TAHUN 1951
Pasal 5
Perkataan Bhinneka itu ialah gabungan dua perkataan: bhinna dan ika. Kalimat seluruhnya itu dapat disalin: berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Pepatah ini dalam sekali artinya, karena menggambarkan persatuan atau kesatuan Nusa dan Bangsa Indonesia, walaupun ke luar memperlihatkan perbedaan atau perlainan. Kalimat itu telah tua dan pernah dipakai oleh pujangga ternama Empu Tantular dalam arti:
di antara pusparagam adalah kesatuan.


Nah bahwa apakah semboyan dalam konstitusi "induk" ini telah dijabarkan dengan baik ke dalam pasal-pasal perundang-undangan yang lebih praktis, masih perlu kita perhatikan lebih teliti.

Demikianlah betapa angkatan saya ke atas, termasuk saya juga pastinya, tidak melek konstitusiiiii.
(Perlu dimaklumi bahwa saya kebetulan meninggalkan Indonesia tepat sebelum Soeharto turun, dan kembali setelah SBY naik, sehingga tidak ambil pusing binatang apa itu Amandemen UUD ataupun Mahkamah Konstitusi.)
Namun seberapa jauh anak-anak sekolah sekarang diberikan pemahaman yang lebih baik daripada kami, mengenai latar belakang dan posisi legal semboyan ini?

Bingkai II: Bercermin kepada sang Adidaya


Penasaran saya berkelanjutan, bagaimana dengan E Pluribus Unum?

Entahlah negara kita cuma ikut-ikutan ataukah apa boleh buat memang satu pemikiran, semboyan ini sama-sama dipegang oleh burung (dalam hal ini Elang Botak) tapi jelas kedudukan pita yang memuat semboyan ini lebih terhormat, karena dicotok oleh patuknya, bukan dicengkeram oleh cakar seperti yang dilakukan sang Garuda kita hia ha ha...

Tahapan-tahapan diskusi sampai terjadinya segel AS bisa diakses di www.greatseal.com, sayangnya tahapan sampai diputuskannya Sang Garuda menjadi lambang Indonesia belum saya dapatkan, kecuali secuil info bahwa Sultan Hamid II dari Pontianak yang merancangnya.

Diambil dari puisi anonim Moretum abad sekian sebelum masehi, color est e pluribus unus menggambarkan penyatuan warna-warni, dipatri sebagai segel negara sejak 1782 bersama dengan Annuit cœptis (Usaha yang Diberkati-Nya) dan Novus ordo seclorum (Zaman Orde Baru). Tidak pernah tercantum dalam undang-undang, E pluribus unum dianggap semboyan de facto oleh Amerika Serikat sampai 1956 ketika Kongres AS mengesahkan undang-undang mengambil "In God We Trust" sebagai semboyan resmi.

Hah, betapa negara adidaya pun ternyata oh ternyata lebih memilih sentimen keagamaan daripada sebuah semboyan pluralisme?

Bukankah masih lebih rendah hati semboyan kita, yang wujud aslinya dalam Kakawin Sutasoma (sebuah dongeng aneh abad 14 tentang pangeran peniru sang Buddha melawan raksasa pemakan manusia) adalah secara khusus merujuk pada toleransi antar umat Buddha dan Hindu Syiwa?
Pupuh 139, bait 5.
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu.
Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.


Bingkai III: Pluralisme dalam Kebinekaan MAKNA


Kini setelah kita punya Bhinneka Tunggal Ika, apa lagi perlunya sebuah istilah yang entah kenapa sulit dilafalkan bernama pluralisme? Jargon politik?

KBBI daring
Cari kata dasar dalam KBBI sama dengan bhineka
Tidak menemukan kata yang sesuai dengan kriteria pencarian!!!

bi·ne·ka /binéka/ a beragam; beranekaragam;
ke·bi·ne·ka·an n keberagaman: tampak sekali -nya dan inilah ciri kelebihan negara kita

plu·ra·lis·me n keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan politiknya);
-- kebudayaan berbagai kebudayaan yg berbeda-beda dl suatu masyarakat


Wikipedia Indonesia ternyata mempunyai laman khusus mengenai Polemik pluralisme di Indonesia. Di sana tercantum definisi pluralisme dalam ilmu sosial yang katanya diambil dari wikipedia Inggris yaitu
Pluralisme ialah sebuah kerangka kerja saling mempengaruhi, di mana masing-masing kelompok menunjukkan rasa hormat dan toleransi yang cukup satu sama lain, bahwa mereka bermanfaat hidup berdampingan dan berhubungan tanpa perselisihan atau pembauran.


Namun ketika kroscek ke laman Pluralism, kalimat tersebut tidak serta-merta saya temukan, yang ada malah terkait penyalahgunaan sistem Benefice:
Berhubung benefice (penghasilan) datang kepada para imam karena patronasi feodal dan pertimbangan politik, imam kadang-kadang memegang lebih dari satu penghasilan, yang disebut pluralisme. Pluralisme ini sering mengakibatkan ketidakhadiran, di mana imam tidak akan mengurus daerah tanggung jawabnya.
Pluralisme sering dianggap sebagai investasi bagus untuk keluarga yang mampu membeli sebuah posisi (simoni) untuk anak yang lebih muda atau anak didik lainnya. Posisi akan memungkinkan keluarga untuk menjilat Gereja dan menjamin masa depan yang ditunjuk.
Kedudukan "gemuk" lain - bahkan kepala biara - kadang-kadang diserahkan kepada para imam yang disewa dengan sebagian kecil penghasilan, sementara keluarga memegang penghasilan "nominal". Praktik ini mendorong penggunaan imam pengganti yang berkualitas meragukan; kurangnya pelatihan yang tepat (sampai ditemukannya seminari) menyebabkan imam buta huruf, beberapa bahkan khotbah bidah.

Wah, dengan begini bukankah istilah "pluralisme" telah tercemar???

Sementara Majelis Ulama Indonesia pada 2005 telah mengeluarkan Fatwa tentang Pluralisme bahwa haram diikuti ketika definisinya
Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.


Padahal kalau merujuk pada Harvard Pluralism Project (teori tahun 1997 yang direvisi tahun 2006 dari Diana L. Eck):

  1. Pluralisme bukan sekadar kenyataan akan kebinekaan, melainkan keterlibatan yang giat dengan kebinekaan. Kebinekaan bisa berarti pengucilan agama dengan sedikit lalu lintas antar- atau di antara mereka. Di masa kini, kebinekaan agama adalah kenyataan, tetapi pluralisme adalah sebuah prestasi.
  2. Pluralisme bukan sekadar tenggang rasa, tetapi giat mencari pemahaman melintasi garis perbedaan. Tenggang rasa diperlukan sebagai kebajikan umum, tetapi tidak mengharuskan untuk mengenal dan menghilangkan ketidakpedulian satu sama lain, sehingga menyisakan stereotip, kebenaran yang setengah-setengah, dan rasa takut yang mendasari pola lama perpecahan dan kekerasan.
  3. Pluralisme bukan relativisme, tetapi perjumpaan tanggung jawab. Paradigma baru pluralisme tidak mengharuskan kita meninggalkan jati diri dan tanggung jawab kita di belakang. Ini berarti berpegang teguh pada perbedaan kita yang terdalam, bahkan agama, bukan dalam pengasingan, tetapi dalam berhubungan satu sama lain.
  4. Bahasa pluralisme adalah dialog dan perjumpaan, memberi dan menerima, kritik dan introspeksi. Berbicara dan mendengarkan dua arah, dan proses itu mengungkapkan baik pemahaman umum dan perbedaan nyata. Dialog tidak berarti semua orang di "meja" akan setuju satu sama lain. Pluralisme melibatkan tanggung jawab untuk berada di meja - dengan tanggung jawab masing-masing.

Menimbang keempat poin tersebut, saya pikir saya siap mengusungnya, karena saya rasa itu juga sejalan dengan pandangan Islam. Pernyataan angkuh "bagimu agamamu, bagiku agamaku," memang terlebih dahulu perlu disertai dengan pemahaman mendalam akan apa-apa yang dinyatakan. Juga dengan demikian tidak berarti masing-masing agama harus menghindari berdakwah sejauh dalam damai dan niat baik. Saling menjelaskan dan memperluas wawasan, tentu akan mengangkat manusia menuju derajat akal sehat dan meningkatkan kesejahteraan.


Bingkai IV: Agama, Igama, Ugama, Egama, Ogama


Dalam kaitan pluralisme, jelas yang paling sensitif diangkat adalah persoalan agama. Ketika agama seharusnya punya andil dalam menghapuskan diskriminasi ras, status sosial, dan kesenjangan ekonomi, justru diskriminasi agama itu sendiri yang jadi masalah. Seorang teman mengeluh, tidak diluluskan PNS karena tidak bisa mengisi pilihan kolom agama, karena dia telah memutuskan secara sadar dan tanggung jawab untuk menganut Deisme. Entahlah apa pula itu. Dan banyak pula yang protes mengapa KTP harus memuat kolom agama, itu dianggap diskriminasi.

Menilik konsep agama, banyak yang mengesampingkan bahwa ternyata agama itu pada dasarnya adalah hubungan manusia dengan negara, sementara hubungan manusia dengan Tuhan adalah igama, sedangkan ugama adalah mencakup hubungan sesama manusia. (Entahlah apa itu egama dan ogama kalaupun ada... weks)

Jadi sebagai warganegara yang baik, mungkin memang kita perlu mengikat diri pada salah satu agama yang diakui negara, untuk pertimbangan hukum yang akan diterapkan. Termasuk masalah perkawinan, hak waris, dsb. Hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia selain itu, tentu ada dalam matra yang berbeda.

Yang jadi masalah, adalah kaum adat yang pertimbangan hukumnya diabaikan. Mungkin karena hukum mereka dinilai belum sinkron dengan hukum modern, mungkin juga karena kebetulan hukum mereka tidak mengenal konsep kenegaraan. Dalam hal demikian, artinya bukan agama atau adat yang salah, tapi konsep kenegaraan sok modern itu sendiri tentunya ha ha ha ha ha.


Bingkai V: cin(T)a dalam Menara Gading


Satu masalah yang sering diungkit juga, mengapa ada banyak hambatan untuk menikah beda agama. Seperti yang baru-baru ini diangkat oleh film indies yang cukup kontroversial berjudul cin(T)a.
(Kebetulan, produsernya adalah teman berkemah saya, dan penulis skenarionya juga pernah menghabiskan berpuluh malam beratap langit dengan saya. Latar belakang yang diambil pun cukup saya kenal, karena beberapa anggota keluarga saya kuliah di AR ITB.)

Kesan pertama menonton ini, pemeran cowonya cakep! Pengambilan gambarnya cukup indah. Pemeran cewenya, kok rasanya perwatakannya tidak pas dengan konsep yang ditampilkan, nggak mahasiswa teknik banget, tapi mungkin memang sengaja dibentuk demikian?
Ceritanya adalah perjumpaan dua manusia dari latar belakang berbeda: seorang anak cerdas miskin ceria keturunan Cina dari Tarutung beragama Kristen, dengan seorang artis terkenal keturunan ningrat Jawa Islam pemurung kesepian yang nilai-nilainya jeblok.
Pergaulan mereka kontan dipenuhi bahasan "stupid conversation" (istilah saya dan teman-teman zaman mahasiswa dulu) tentang apakah Tuhan itu arsitek ataukah sutradara. Kebetulan masa itu tahun 2001, saatnya waktu lebaran dan natal berdekatan, namun juga sempat terjadi ketegangan antarumat beragama di Indonesia.
Dialog dan konflik antarkeduanya entah kenapa diselingi dengan testimoni dari berbagai pasangan beda agama, yang berhasil nikah maupun yang gagal.

Rasanya cari jalan mudah memilih tema mahasiswa arsitektur, karena memang mereka sekali waktu bermain sebagai Tuhan. Seandainya bergeser sedikit saja ke latar belakang teknik sipil, pasti cara pandang terhadap dunia dan Tuhan akan berbeda. Apalagi teknik mesin. Dan seterusnya. Apalagi, kalau mengambil sudut pandang rakyat biasa yang bukan anak sekolahan, di mana agama dan sara lainnya adalah hal yang mengurat mengakar dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu disadari dan direnungkan secara mendalam. Tentu akan lebih rumit dan menantang daripada membedah pola pikir mahasiswa-mahasiswi sok tahu yang terkurung di menara gading ini.

Tapi dalam hemat saya, pluralisme sesungguhnya bukan isu di sini. Kalau mengacu pada poin "berpegang teguh pada perbedaan terdalam", artinya kita tetap menganut agama dan kepercayaan masing-masing. Sementara dalam agama, aturan pernikahan jelas telah dijabarkan satu persatu. Ketika ada rekan yang mengklaim, "seandainya tokoh cowo yang muslim dan tokoh cewe ahli kitab, tidak akan kontroversial karena dalam Islam itu dihalalkan!" tapi bagaimana dengan aturan pernikahan ahli kitab? Pastinya tidak tercantum aturan membolehkan menikah dengan cowo muslim! Apalagi, bukankah pernikahan adalah suatu proses pembauran?

Beberapa dialog yang terselip dalam film sendiri menyatakan betapa agama justru punya andil dalam menghapuskan diskriminasi ras dan status sosial. Seperti tokoh cewenya siap menikah dengan seorang cina muslim yang dijodohkan kepadanya.

Yang pantas dipermasalahkan di sini bukanlah hambatan dalam perbedaan agama, melainkan bagaimana mereka menyikapi jati diri masing-masing. Annisa yang tampak rajin shalat, tapi santai saja ngelaba adik kelas yang polos? Cina yang alim dan bersemangat dakwah, tapi di saat-saat terakhir bilang tak peduli lagi kalaupun harus pindah agama?

Rasanya memang tidak bisa dikaitkan secara langsung hambatan bercinta dengan aksi kebencian yang melanda, karena masing-masing sesungguhnya ada pada ranah yang berbeda.

Bingkai VI: Isu Pluralisme dalam Perspektif Media


Hampir saja terlupakan, ini adalah penelitian rekan-rekan di sebelah saya. Mereka mengangkat dua isu pluralisme yang marak pada 2008, yaitu RUU Pornografi dan kasus Ahmadiyah. Mereka memperbandingkan liputan di berbagai media (tepatnya lima media: Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Republika, dan Gatra), keberpihakan dan kecenderungan masing-masing media dalam menyikapi dua isu tersebut.

Dari hasil pengamatan mereka, disimpulkan bahwa selain Gatra belum ada yang benar-benar berimbang dalam menyampaikan berita-berita tersebut. Ada media yang memberi bobot sepihak dalam jumlah narasumber, ada media yang membuat penegasan kalimat-kalimat tertentu secara berulang sehingga mengarahkan pola pikir pembaca ke satu sudut pandang. Berbagai kepentingan terlibat di dalamnya, tentu.

Sayangnya para peneliti abai terhadap kenyataan bahwa media adalah proyeksi dari perbedaan masyarakat, dan ada saatnya media juga perlu mengambil sikap pemihakan. Saatnya media membentuk diskursus, dan secara tegas menyatakan pendiriannya. Media mana yang pro, media mana yang kontra, tinggal masyarakat yang memilih ingin mendengar yang mana, bukankah begitu?

Bingkai VII: Indonesia Kreatif


Minggu-minggu lalu saya sempat juga menghadiri penjelasan tentang proyek Indonesia Kreatif Departemen Perdagangan. Terkait kasus bajak-membajak, sikat-sikut dengan Malaysia, dan kenyataan bahwa belum ada gerakan terpadu yang menyeluruh untuk mengusung Industri Kreatif di Indonesia. Sang panelis pun menjelaskan konsep yin-yang yang akan dipakai dalam mensinergikan situs-situs online pendukung gerakan tersebut. Seorang penonton pun nyeletuk, kenapa menggunakan konsep yin-yang? Kenapa tidak menggunakan padanannya yang dimiliki oleh Bali?
Tukgling.
Demikianlah adanya, bagaimana mau berkoar-koar menerapkan pluralisme, ketika nilai kebinekaan masih belum kita hargai sebagaimana mestinya? Tentulah kreativitas Indonesia yang dikembangkan perlu berlandaskan kebinekaan kita, sebagai jati diri, harta karun yang kita miliki bersama.

Bingkai VIII: Masjid Mungil di Padang Ilalang


Dalam pencarian definisi pluralisme, saya mendarat di sebuah situs Global Center for Pluralism yang didirikan atas kerja sama dengan Aga Khan, Imam Ismaili keturunan ke-49. Lembaga ini didirikan tahun 2006. Situsnya sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda kegiatan selanjutnya, namun yang jelas, Kanada tampaknya memang merupakan tempat yang lebih menyokong pluralisme dibandingkan Amerika Serikat.
Sebuah komedi situasi yang mengambil tema kehidupan sekelompok muslim di kota terpencil Kanada dengan berbagai dinamikanya dengan masyarakat sekitar, Little Mosque on the Prairie, adalah kegemaran saya yang rasanya cukup menggambarkan kehidupan ideal pluralisme. Bisa ditonton di sini.

Menanamkan semangat pluralisme melalui dunia hiburan sudah bukan barang baru.
Star Trek dan Heroes, One Piece, Harry Potter adalah contoh teladan dalam menampilkan isu-isu sejenis melalui dunia perumpamaan, sehingga tidak perlu menyinggung satu sama lain secara langsung.
Menyesuaikan dengan kenyataan dunia, sejak pasca 9/11 X-Men juga mulai menampilkan seorang tokoh remaja muslim bercadar pula, Dust. Dari pihak DC Comics Amerika, kini juga sedang dinantikan kolaborasi antara tokoh komik islami the 99 (komik dengan tokoh-tokoh superhero remaja islam dari berbagai negara) dengan Justice League of America.
Di Indonesia model cerita seperti itu belum cukup digarap. Dulu kayaknya ada novel-komik Olin yang menampilkan persahabatan tokoh-tokoh beda agama, tapi sepintas lalu tampaknya masih digambarkan dalam sebatas toleransi, dan belum sampai kepada tingkat "keterlibatan yang giat". Dan dengan keterlibatan yang giat, mau tidak mau ada gesekan juga di sana-sini sebagai salah satu bentuk dialog, dengan harapan tidak perlu sampai menjadi bom waktu yang tiba-tiba meletupkan perselisihan besar.
Tantangan menarik bagi kalangan Indonesia Kreatif.

Bingkai IX: Pluralisme itu ibarat Mengeblog


Dari keempat poin yang telah dijabarkan di Bingkai III, untuk mudahnya mungkin Pluralisme itu bisa diibaratkan saja dengan kita mengeblog.
Kita berhak punya pendirian seperti dalam kiriman tulisan masing-masing, dan tak seorang pun yang dapat mengubahnya selain kita sendiri. Tapi kita tetap memberikan ruang bagi orang lain untuk berdialog lewat ajang komentar. Apakah kita setuju atau tidak, terpengaruh atau tidak oleh masukan-masukan tersebut, semua terserah kita. Seberapa pun tekanan atau kepungan yang dilancarkan, tidak akan mendikte atau menyakiti kita secara langsung.
Hanya admin, yang kemudian akan berperan sebagai takdir Tuhan, atau setidaknya sebagai hukum legal formal yang berlaku, yang dapat menghapus atau menjatuhkan larangan terhadap blog kita -alias prinsip hidup kita itu.
Sebaliknya, kita juga giat memberi komentar pada blog orang lain; seberapa pun gencarnya kita membual di sana, mereka pasti mendengar namun belum tentu setuju ataupun terpengaruh, kalaupun akhirnya tergerak untuk menyunting, itu sepenuhnya ada pada kehendak masing-masing. Yang penting, proses komunikasi itu berjalan.
Bagaimana, apakah lebih mudah dicerna?

Bingkai X: Binekaisme!


Bagaimanapun juga untuk menyebarluaskan pluralisme dengan definisi yang sedemikian rupa seperti idealisme di atas, dipermudah seperti apa pun, tentu masih memerlukan perjuangan panjang, mengingat betapa beragam dan simpang siurnya penggunaan istilah pluralisme ini, dan sudut pandang orang yang berbeda-beda pula. Mendorong media untuk melek pluralisme juga suatu usaha yang tak kunjung henti. Kalangan blogger atau pengguna internet secara umum mungkin mudah terjangkau pola pikir ini, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak punya akses? Perlu pendidikan yang layak mencapai kedewasaan untuk bisa menerapkan poin-poin pluralisme tersebut, ketika sesungguhnya pluralismelah yang diharapkan akan mendorong manusia meraih pendidikan yang layak mencapai kedewasaan. Lingkaran setaaaaaaaaaaaaaan.

Jangan-jangan, pengusungan istilah pluralisme inilah justru yang menimbulkan masalah baru, alih-alih menuntaskan masalah. Sementara masing-masing pribadi belum memahami jati diri dan agamanya, mereka terlanjur pusing dituntut untuk memahami konsep-konsep pluralisme ini.

Sedangkan, pluralisme itu sendiri harus menerima kenyataan bahwa dia disikapi secara plural; ada yang menganggap pembauran, ada yang menganggap bukan pembauran. Ada yang pro ada yang kontra. Rancu.

Hanya usul asal-asalan,
AGAR TIDAK KEPALANG TANGGUNG,
BAGAIMANA KALAU KITA BUAT ISTILAH BARU
SEKALIAN, BHINNEKAISME MISALNYA???
(setidaknya lebih meng-Indonesia ya gak sih)

Senin, 17 Agustus 2009

Merdeka Merdeka Merdeka

Cuplikan kejadian tanggal 16 Agustus 1945 (youtube).
Iklan layanan masyarakat kali maksudnya ini? Menarik...


Belum sempat nonton film MERAH-PUTIH... Katanya trilogi, jadi tunggu keluar tiga-tiganya saja? Kayaknya bermaksud sarat muatan pluralisme ya.
Gosipnya sih dialog-dialognya aneh. Ada ucapan "Merindukanku?" dan meledek ibu pacaran dengan tukang susu...? Duh seharusnya kan aktornya boleh protes kenapa harus mengucapkan yang aneh begitu. Artinya tidak bersinergi untuk memuluskan peran tuh.

Dulu juga sempat ada film kontroversial MURUDEKA 17805 (2001)... yang dibuat oleh orang Jepang. Kayaknya tidak masuk Indonesia sih.


Propaganda "Saudara Tua" yang membebaskan Asia dari penjajahan itu begitu sukses sampai merasuk sedemikian rupa pada diri lapisan bawah tentara Jepang, sehingga mereka benar-benar tulus berjuang bahu-membahu dengan tentara Indonesia dalam perang kemerdekaan. Inilah yang diangkat dalam film tersebut. Nah masalahnya, lapisan atasnya padahal punya visi-misi lain lagi.

***

Kemarin ini ada satu penjelasan dari Prof. Kurasawa dari Keio, mengenai hal yang tidak dapat diabaikan dalam membahas hubungan Jepang dengan ASEAN, yakni sejarah "perang" dan invasi militer Jepang ke negara-negara tersebut. Orang Jepang tidak dapat melarikan diri dari masa lalu yang tidak menyenangkan ini dalam membina hubungan baru dengan negara-negara ASEAN.

Dalam halnya Indonesia, baru pada 1958 Indonesia dan Jepang membina hubungan diplomatik, setelah ditandatanganinya perjanjian pampasan perang. Jepang diperintah oleh Pakta Perdamaian San Francisco 1951 untuk membayar negara-negara yang telah dirusaknya selama masa perang, salah satunya adalah Indonesia. Negosiasi bilateral dimulai segera setelah Konferensi San Francisco, namun baru disetujui akhir 1957.

Alasan-alasan mengapa persetujuan tersebut butuh waktu lama, adalah:
  • Kesalahpahaman atau ilusi Tentara Jepang sekeluarga yang terdoktrin secara fanatik bahwa mereka berjuang demi membela kemerdekaan negara-negara Asia dari penjajah Barat. Apalagi doktrin tersebut seakan terbukti ketika di akhir masa perang Indonesia benar-benar berhasil memproklamasikan kemerdekaannya.
  • Jumlah yang diminta oleh pemerintah Indonesia terlalu besar untuk dibayar oleh Jepang masa itu.

Bagaimana sampai akhirnya perjanjian ini disetujui?

  • Pemerintah Jepang membujuk opini publik masyarakat Jepang dengan dalih bahwa pembayaran pampasan perang sesungguhnya adalah investasi untuk pasar baru Jepang di masa depan, sebagai alternatif ideal menggantikan pasar Cina yang hilang pascaperang.
  • Seiring waktu, Pemerintah Indonesia juga setuju mengurangi tuntutannya sampai jumlah yang disetujui hanya 3% dari yang aslinya. Sekecil itu??? Karena butuh dukungan finansial dan moral untuk segera mengambil alih aset Belanda. Dalam waktu yang bersamaan Indonesia tidak mau menerima bantuan atau utang luar negeri yang cenderung menciptakan ketergantungan negara. Pampasan perang adalah bentuk ideal dalam mendukung ekonomi Indonesia tanpa kehilangan kemerdekaannya. Indonesia sangat membutuhkannya secepat mungkin. Maka persetujuan dibuat akhir 1957, beberapa hari sebelum penyitaan aset-aset Belanda dilakukan.


Dengan demikianlah dimulai hubungan diplomatik kedua negara. Walaupun awalnya dihiasi beraneka ragam maksud dan tujuan tersembunyi dari kedua belah pihak, hubungan ini berkembang dengan lancar.

  • Dana pampasan perang tidak dibayarkan dengan uang, tetapi dengan bentuk layanan oleh orang Jepang, contohnya membangun bendungan, jembatan, hotel (a.l. HI) dll. Dalam konstruksinya, perusahaan Jepanglah yang ditugaskan. Curang ya? Dengan demikian, proyek perbaikan memang memberikan kesempatan bagus kepada perusahaan Jepang untuk mengolah keuntungan dan memantapkan landasan bagi ekspansi pasar mereka selanjutnya di Indonesia pada zaman orde baru.
  • Beasiswa Monbu(kagaku)sho yang saya peroleh dulu itu, selama tahun 1960an ternyata disebut sebagai “beasiswa pampasan perang” (hoaaa hahahaha hidup pampasan perang!)
    Tapi tentu saja beasiswa ini pada dasarnya juga adalah untuk mendidik putra (-putri) Indonesia sebagai pasukan dan agen-agen industri Jepang...


Pemahaman bahwa Jepang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia perlahan lenyap ketika generasi baru ahli sejarah Jepang muncul melakukan riset objektif, walaupun pemahaman tersebut kadang-kadang masih juga menyelinap dalam pidato dan makalah para politisi sayap kanan. Memang sangat sulit untuk menyingkirkannya sampai habis.

Pemahaman ini pada dasarnya mirip dengan penafian terhadap sejarah Korea di bawah koloni Jepang, bahwa Korea sukses dalam industrialisasi berkat kebijakan industri Jepang di sana memasok landasan untuk membangunnya. Yang mencemaskan adalah ketika pemahaman-pemahaman seperti ini tidak hanya dianut oleh veteran perang ataupun para penjajah praperang, tapi juga oleh generasi muda yang tidak mengalami masa tersebut sama sekali. JAS MERAH.

  • Kalau dikatakan bahwa Jepang-lah yang mendidik tentara nasional negara-negara ASEAN, bagaimana jika diperbandingkan dengan kenyataan bahwa Amerika-lah yang melatih tentara Mesir menggempur Israel, dan menggembleng tentara Afghanistan dan Al Qaeda ketika menggempur Uni Soviet? Hi hi hi hi hi.
  • Apalagi ketika mereka mengaku-aku Saudara Tua. Apakah teruji secara genetik bahwa ras mereka lebih dahulu muncul ke dunia dibandingkan dengan ras-ras Asia lainnya?
  • Sebaliknya, apakah Indonesia merasa masih berhak menuntut lebih banyak, menebus sisa yang 97% itu? Tidak juga. Keputusan saat itu telah bulat, dan salah kita sendiri tidak dapat memanfaatkan 3% yang kita peroleh dengan optimal: aset Belanda yang diambil alih tidak berhasil dikelola dengan baik, sementara infrastruktur yang dibangun justru mendukung perekonomian negara lain...


Novus Ordo Seclorum... (youtube)

Terkait:
50 Tahun (Emas) Indonesia-Jepang ・日本インドネシア友好年 2008
Normalisasi Jepang
Jepang-Jerman 2005-2006



Jumat, 14 Agustus 2009

Merantau

Bintang Satu: Setidaknya mendinganlah daripada Dragonball Evolution.
Bintang Dua: Tokoh utamanya lumayan gantenglah, boleh dibilang berwajah asli Indonesia (kata si Davi ini lho ya).


http://www.merantau-movie.com

Tersebutlah bahwa merantau merupakan keharusan yang ditempuh oleh setiap pemuda minang, seakan "genpuku shiki" bagi mereka. Orang yang enggan melakukannya akan dicerca oleh niniak mamak sekampung tujuh turunan.

Tapi oh tapi oh tapi, selebihnya, tidak ada pengolahan alur cerita yang patut diandalkan. Ternyata film ini hanya sekadar film kacangan a la Hollywood berating B yang dipoles segelintir bumbu adat minang --dan beberapa bingkai latar belakang Ngarai Sihanok yang indah permai-- pada sekelumit adegan pembuka dan penutupnya saja.

Banyak hal-hal yang seharusnya masih bisa dilengkapi dengan mudah demi memperkuat kekhasan film, mulai dari nama tokoh utama Yuda dan abangnya Yayan yang malah terkesan Jawa/Sunda... Bukan tidak mungkin orang Minang bernama seperti itu, tapi kenapa tidak memasang nama khas Minang yang biasa mengandung huruf Z, W atau R, atau sekalian yang sok kebarat-baratan, yang dipakai oleh orang Minang yang mengalami gegar budaya?

Jangan Remehkan Mafia Minang dong!


Menemukan alamat tempat tujuannya mengajar silat ternyata sudah dibongkar, sang perantau pun luntang-lantung ke... tukang sate Madura. Aduh secara itu kan di Jakarta booow, di setiap kelokan jalan pasti ada warung nasi padang atau tukang sate pariaman. Hampir setiap supir angkot jurusan blok-M pasar minggu akan saling memaki dalam bahasa minang, tukang kain di Tenabang pastilah ada separuhnya para perantau yang urang awak. Secara mereka pun masih menghargai saya yang generasi dua-tiga di perantauan, tidak mungkin mereka mengabaikan sang perantau sejati yang manis dan sopan ini sampai nyaris kehilangan akal bertahan hidup di negeri orang. Coba ambil latar belakang kota lain, Semarang atau Surabaya, mungkin bisa dimaafkan karena probabilitas bertemu sesama orang minang akan sedikit lebih rendah, tapi itu pun gak sampai sebegitunya lah.

Dan sebagai Muslim sejati, logikanya tentu sejak awal berusaha mencari masjid. Selain bisa minta petunjuk dari pengurus masjid tentang ke mana harus melamar sebagai guru silat, walaupun mungkin tetap tidak diizinkan menumpang tidur, setidaknya pasti bolehlah menumpang mandi supaya suci. Demikianlah sang jagoan kita ini pun tampak terluntang-lantung tidak mandi berhari-hari. Adegan mengambil wudhu pun tak tampak. Padahal kalaupun sebegitu paniknya susah menemukan masjid, dengan bayar seribu-dua ribu perak orang bisa menumpang mandi di pom bensin yang melakukan CSR penyediaan air bersih...

Silat Harimau


Siapa yang wara-wiri menyatakan bahwa adegan laga film ini bagus, pasti:
- terlalu memandang sebelah mata pada film-film Barry Prima, sehingga tidak membayangkan bahwa kalau dia sekarang bikin film, yah kualitasnya bakal segini-gini juga.
- atau sama sekali belum pernah menonton dengan seksama film-film Muay Thai karya Tony Jaa.
Koreografi yang dibanggakannya, juga hanya muncul di adegan perkenalan tapi tidak dipertahankan dalam kekerasan demi kekerasan baku hantam klise full-body contact yang menjiplak sana-sini, tidak tersisa lagi jurus-jurus berkelit khas pencak silat yang dapat ditampilkan dengan indah melalui sorotan gerak lambat. Jelas-jelas pudar di balik bayang-bayang Muay Thai, apalagi Kung Fu.
Yang remeh-temeh dan sebenarnya bisa dimaafkan tapi sekalian saja saya keluhkan di sini, adalah pakaian dengan celana gombrong, baju kaos ditutup kemeja, dan tas sandang, Tony Jaa wannabe banget! Kenapa tidak berusaha tampil beda dengan pakai baju taqwa, atau memanggul ransel, sekalian?
Lalu orang-orang lewat yang terlibat, kok sama sekali tidak berbuat apa-apa? Bahkan yang handuknya direbut sampai kecemplung lumpur, hanya bengong terpaku tanpa protes apa pun.
Dan warna darah yang bercipratan itu, entah kenapa kalau bukan warna fanta, ya sekalian jadi warna coca-cola... Kenapa bukan warna sambel tomat sekalian supaya nyambung sama kampung halamannya! Apakah ada larangan menggunakan warna darah yang lebih mirip aslinya, ya? Atau sekadar malas saja melakukan proses ubah warna secara digital? Hmmm...
Sementara bukankah dalam pedoman silat 101, jurus pertama yang harus bisa dikuasai seharusnya adalah jurus langkah seribu. Dan sejujur-jujurnya orang bersilat, tetaplah mencari waktu untuk menyusun taktik dengan lihai. Menghadapi lawan secara frontal tanpa perhitungan kepastian menang dan tanpa persiapan memadai, tidaklah termasuk di dalam kamus rimba persilatan.

Main Hakim Sendiri


Ada nilai-nilai yang sangat tidak pantas dihargai di sini, yaitu semangat bertindak main hakim sendiri, karena ketidakpercayaan terhadap aparat yang berwajib. Kalau Yudha bisa menggunakan telepon umum sampai ke kampungnya, mengapa tidak segera menelepon untuk minta bantuan Satpol PP??? Juga ada adegan yang membangkitkan rasa ketidakpercayaan terhadap tetangga yang tega-teganya mengadukan orang lemah kepada preman, seburuk itukah kepribadian orang Jakarta?

Selain itu, stereotip rasialis: germo keturunan India, penjahat Bule. Orang Indonesia di sini hanyalah korban, atau paling-paling preman tukang pukul bayaran. Kalau terhadap polisi saja tidak percaya, masa tidak sekalian melakukan kritik sosial yang berani dan tajam dalam menuding Departemen Tenaga Kerja, atau Dinas Sosial, atau Bea Cukai, atau siapa pun perut-perut buncit pribumi?
Indonesia adalah negara sishankamrata yang birokratis. Selayaknyalah melibatkan pejabat yang berwenang dalam setiap peristiwa: baik sebagai peran protagonis maupun antagonis.

Khas Indonesia


Bandingkan dengan Tom Yum Goong yang menyelamatkan gajah langka, sementara dalam Ong Bak dia mengejar kepala patung Buddha. Sesuatu yang kalau bukan khas Thai banget, setidaknya bisa diklaim khas Asia Tenggara. Mengapa Indonesia tidak bisa dicarikan sesuatu yang tidak kalah khas? Menyelamatkan Orang Utan --atau Harimau kek supaya sesuai dengan jurus silatnya, ataupun arca-arca yang diselundupkan Hasjim Djojohadikusumo-- tentu akan lebih menarik.

Bukan maksud saya menutup mata pada kenyataan perdagangan wanita masih bercokol dengan parah di Jakarta, tapi tetap saja itu isu yang umum, bisa terjadi di negara manapun juga. Atau kalau memang bermaksud membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai kasus perdagangan perempuan, mengapa cari gampangan mengambil Jakarta? Mengapa bukan di Medan saja yang sudah metropolis tapi gak terlalu jauh dari kampungnya? Atau sekalian jauh ke daerah Singkawang, misalnya, yang memang punya kasus sosial khusus dalam masalah ini.

Gerakan anti Perantauan


Saya agak curiga, jangan-jangan ini adalah konspirasi tersembunyi antara Gubernur Sumbar dengan Gubernur Jakarta untuk meredam arus urbanisasi yang mengganggu agenda pemerataan penduduk dan pengembangan daerah tertinggal. Apalagi Christine Hakim sebagai sang ibu jelas-jelas menyatakan kepada anaknya, "tak perlu peduli anggapan orang sekampung, kalau ingin pulang, segera pulang sajalah, jangan malu-malu."

Daripada Nggak


Bagi yang bersikap optimis terhadapnya, entah dengan alasan untuk variasi dari film hantu dan komedi jorok, ataupun sebagai pendorong munculnya film sejenis, ataupun demi melestarikan budaya nasional, rasanya argumen tersebut tidak cukup kuat.
Mau membekenkan pencak silat di kalangan orang dewasa, toh sudah terlambat bagi mereka untuk mulai belajar. Sementara jelas-jelas film ini bukan untuk konsumsi anak-anak. Kalau ternyata film dengan niat baik tapi kepalang tanggung begini sukses di pasaran, film-film yang lebih tidak terjamin mutunyalah yang akan menyampah mengekornya.

Kesimpulannya, dengan mengesampingkan masa lalu saya yang (mengaku-aku) jago silat dan ketergila-gilaan saya terhadap Jet Li, Stephen Chow ataupun Tony Jaa, saya terpaksa sedikit munafik di sini untuk menegaskan bahwa berendah hati sajalah dengan ilmu bela diri yang kita punya, terapkan ilmu tersebut secara langsung di dunia nyata. Para sineas Indonesia TIDAK PERLU mengejar ketertinggalan dalam film laga dan berhentilah berusaha membuat film untuk rating dewasa. Lebih baik memanjakan para penonton dengan film cerdas mendidik yang bisa aman dikonsumsi oleh SEMUA UMUR, penuh damai dan ketenteraman, dan mempromosikan niat baik tanpa perlu menempuh jalur kekerasan baik dengan sengaja maupun terpaksa.



Trailer Merantau (YouTube)

Sabtu, 08 Agustus 2009

Consociatio Nationis Austerorientalis Asianus

Sebagai lingua franca internasional modern, adalah bahasa Inggris -bukan Melayu- yang terpilih untuk menjadi bahasa pengantar dan pemersatu antarnegara Asia Tenggara. Maka dari mulai nama ASEAN, segenap pasal-pasal piagam perjanjian, sekaligus himne (anthem)nya, menggunakan bahasa Inggris.

Apakah lagu ini sudah mulai dimasyarakatkan ke anak-anak sekolah dasar? Setiap menonton gratis pentas seni, sejak tahun ini kita diwajibkan menyanyikan lagu tersebut dengan penuh khidmat. Versi bahasa Thai dan versi musik tradisional Thai juga ada, tapi belum dengar ada versi Indonesia ya? Kalaupun ada, kira-kira terjemahannya...?


The ASEAN Way
Raise our flag high, sky high === Kibarkan bendera
พลิ้วลู่ลม โบกสะบัด = Phlîw lū̀ lm bok s̄abạd
Embrace the pride in our heart === Camkan bangga di dada
ใต้หมู่ธงปลิวไสว = Tı̂ h̄mū̀ ṭhng pliw s̄ịw
ASEAN we are bonded as one === ASEAN satu rumpun bangsa
สัญญาณแห่งสัญญาทางใจ = S̄ạỵỵāṇ h̄æ̀ng s̄ạỵỵā thāng cı
Look-in out-ward to the world. === Membuka pada dunia.
วันที่เรามาพบกัน = Wạn thī̀ reā mā phb kạn
For peace, our goal from the very start === Untuk tujuan perdamaian
อาเซียนเป็นหนึ่งดังที่ใจเราปรารถนา = Xāseīyn pĕn h̄nụ̀ng dạng thī̀ cı reā prārt̄hnā
And prosperity to last === dan kesejahteraan
เราพร้อมเดินหน้าไปทางนั้น = Reā phr̂xm dein h̄n̂ā pị thāng nận
We dare to dream, we care to share === menggapai cita, berbagi rasa
หล่อหลอมจิตใจ ให้เป็นหนึ่งเดียว = H̄l̀x h̄lxm citcı H̄ı̂ pĕn h̄nụ̀ng deīyw
Together for ASEAN == bersama untuk ASEAN
อาเซียนยึดเหนี่ยวสัมพันธ์ = Xāseīyn yụdh̄enī̀yw s̄ạmphạnṭh̒
We dare to dream, we care to share === menggapai cita, berbagi rasa
ให้สังคมนี้ มีแต่แบ่งปัน = H̄ı̂ s̄ạngkhm nī̂ Mī tæ̀ bæ̀ngpạn
for it's the way of ASEAN === itulah jalan ASEAN
เศรษฐกิจมั่นคงก้าวไกล = Ṣ̄ers̄ʹṭ̄hkic mạ̀nkhng k̂āw kịl


Skor Musiknya
Versi Orkestra
Versi-versi yang ada



Regionalisme itu bisa dikembangkan sampai segimana yak. Sementara sinetron-sinetron seperti Tangisan Isabela sedang merebak dan meramaikan acara sinis-sinisan dengan negeri seberang... heuheuheuh...

Ngomong-ngomong Ibunda ultah hari ini, tentu dirayakan di berbagai penjuru Asia Tenggara... Kalau boleh sih makan pagi dengan nasi hainan, siang dengan Tom Yum Goong, dan malam dengan roti jala atau pratha...

Selasa, 07 Juli 2009

Sang Raja, Garuda, dan Singgasana

Tadinya mau membahas film Garuda di Dadaku.
Kejanggalan konflik antara cita-cita sang Kakek untuk menjadikan cucunya "seniman" dan cita-cita sang Cucu sendiri untuk menjadi "olahragawan"... (Lalu diletakkan di mana "ilmuwan", seakan-akan tersingkirkan dari persaingan ini? Dan petuah-petuah bahwa kejujuran harus didahulukan... Hmmm, bukankah Christiano Ronaldo bisa bermain baik justru karena pintar tipu-tipu, cam mana pula...)

Karena temanya sama, saya bermaksud sekalian meresensi film King di balik segala kontroversi sponsor rokoknya.

Tentu saja saya akan memperbandingkannya dengan berbagai macam manga supokon yang cukup sukses, seperti Ashita no Jou tentang tinju profesional yang merupakan kritik sosial terhadap kondisi anak-anak terlantar di daerah kota besar. Yawara! dan Happy! (Urasawa Naoki), Touch/Rough/H2/Katsu! (Adachi Mitsuru), Ace wo Nerae, Kapten Tsubasa, Slam Dunk, Ping-Pong, Shiko Funjatta, Waterboys, bahkan termasuk Swan dan Topeng Kaca. Oh bisa juga sekalian dengan kupasan dunia sponsor dari Speed Racer.

Tapi ketika masih berputar-putar mengenai apakah olahraga itu alat, tujuan, atau gaya hidup? Bukankah asal-usulnya sekadar simulasi tentara, beranjak menjadi hiburan? Antara bakat, minat, dan kesempatan; antara pencapaian puncak dan komersialisasi... tahu-tahu eMJeh meninggal. Bisa dikatakan beliau adalah korban nyata dari segenap perdebatan tersebut...

Bla-bla-bla, semakin gak fokus, dan tiba-tiba rasanya gak ada yang terlalu penting untuk dinyatakan...

Maka lebih baik kita nikmati saja reaksi der Untergang Hitler terhadap berita ini...
http://www.youtube.com/watch?v=ELyTBXzfQJ8
"all we're going to hear on Radio One watch on TV for the next 2 months will be play after play of Heal the World until we're all shitting rainbows!!!
Hmmm benar juga... ini sudah dua minggu, berarti ada sekitar satu setengah bulan lagi kita harus bertahan? ;p



halloweenjacko

Selasa, 07 April 2009

Pluto (bukan Planet) + Billy Bat (belibet)

Akhirnya, Pluto (bukan planet) tamat euy.

Pluto manga

Reinterpretasi terhadap "Robot terbesar di Dunia", satu babak legendaris karya Tezuka Osamu oleh Urasawa Naoki, yang diterbitkan menyambut 7 April 2003, bertepatan dengan "hari kelahiran" Tetsuwan ATOM*, robot kesayangan Jepang (ATOM si lengan besi, singkatan dari Astro Tech Omni Modality Project, karena istilah atom dalam kamus slang punya makna yang tidak menyenangkan, secara internasional Atom dikenal sebagai Astroboy).

Dimulai dengan seorang robot polisi, Gesicht di Jerman (lagi-lagi Jerman, ya) yang harus menyelidiki pembunuhan berantai sadis terhadap robot-robot terkuat dunia dan manusia di sekitarnya -dan Atom termasuk salah satu di dalam daftar tersebut.

Kisah ini pun beranjak mempertanyakan, rumus-rumus seperti apa yang akan dapat mewujudkan perasaan kecewa, sedih, benci dan dendam, dalam inteligensia artifisial?

Adalah sebuah beban untuk memberi nilai tambah terhadap sebuah adikarya yang sudah baku. Ancaman bahwa para penggemarnya mungkin tidak suka, tentu merupakan beban tersendiri.
Kutipan dari Urasawa: "Ini bukan kisah tentang robot pembela kebenaran yang mengalahkan robot-robot jahat, melainkan tentang kehampaan peperangan. Waktu saya membacanya di masa balita, saya merasa diceritakan sesuatu yang bermakna dalam, yang diperuntukkan bagi orang dewasa." Halah.

Capai juga memeras jantung dan menguras air mata menungguinya selama 5-6 tahun ini. Drama robot-robot sok sensitif, banyak yang harus dimaknai sendiri (dan untuk beberapa saat ini kayaknya cara pandang saya terhadap beruang Teddy akan berubah drastis.)

Versi Bahasa Inggrisnya, (entahlah kelayakan terjemahannya bagaimana, belum saya periksa tapi yang pasti diolah dengan penuh cinta) ada online di onemanga.com/Pluto/


BILLY BAT


Judulnya kayak belibet...
billy bat
Proyek bung Urasawa selanjutnya ternyata mengolah komik a la Amerika, dengan gaya goresan sederhana a la Disney's Mickey Mouse + Felix the Cat + Tezuka's Astroboy + Batman + Dick Tracy + Sin City.
Ceritanya komik dan manga tahun '50an bertokoh kelelawar serupa tapi tak sama, menjadi kunci misteri pembunuhan yang membayang-bayangi ketegangan Jepang-Amerika pascaperang dunia II... 

Kisah ini pun beranjak mempertanyakan, seperti apakah wujud Tuhan dalam pikiran masing-masing manusia??? (Uwoooh sok daleummm...)

Asyik juga suasana jadulnya tergambar cukup terasa...
Yang pasti pemeran utamanya, si Kevin Yamagata itu tokoh yang Urasawa banget.

Versi Bahasa Inggrisnya (entahlah kelayakan terjemahannya bagaimana, belum saya periksa tapi yang pasti diolah dengan penuh cinta) juga ada di onemanga.com/Billy_Bat/

Senin, 30 Maret 2009

Kembalikan Masa Remajakuuu! ・私の青春を返せぇぇ

Ini adalah pengakuan saya.

Yang pertama kali mencetuskan semangat saya belajar Nihongo,
setelah lama bersentuhan dengan serpihan budayanya di sana-sini,
bukanlah sanggul Oshin yang sejak kecil saya tiru tiap hari Kartini.
Bukan katana Musashi yang tegangannya saya ukur dengan teliti.
Bukan Kokoro no Tomo yang begitulah bunyinya,
bukan pula hitungan senam pagi.

Yang pertama kali mencetuskan semangat saya belajar Nihongo,
walaupun sekadar sepintas lalu iseng-iseng berhadiah,
tanpa ada bayangan akhirnya benar-benar akan mampir ke sana
dan berkutat dengan huruf-huruf keriting yang meliuk-liuk meriah,
hanyalah sederet katakana sederhana. ド・ラ・ゴ・ン・ボ・ー・ル・
Oh, bahkan itu pun bukan Bahasa Jepang!

Apalah yang bisa diharapkan, dari sebuah cerita iseng
dengan tokoh-tokoh yang diberi nama aneka jenis nasi goreng,
celana dalam, alat musik ditambah sayur-mayur?
Saya mengerti betul, ini manga picisan.
Parodi Star Wars dan komik superhero, dikemas legenda Cina.
Hah, bahkan itu pun bukan cerita Jepang!

Tapi apa boleh buat, justru nama-nama gak penting yang aneh,
unik, dan tanpa penjelasan terjemahan lebih lanjut itulah
yang membuat saya penasaran, mengeja huruf mengulik kamus.
Semacam pelampiasan pemberontakan masa remaja.

dbmovie









!!!



Ini juga adalah dunia tempat segala permasalahan fana
baik persaingan, permusuhan ataupun kisah cinta,
urusan keluarga, politik kekuasaan, sampai agama,
cukup diselesaikan dalam satu lapangan olah raga.

Dengannya kita mempermainkan istilah "Tuhan telah Mati."
dan diam-diam membentuk semacam pola pikir yang berani
melabrak batasan-batasan langit, dengan kekuatan sendiri,
terlepas dari keajaiban yang disuguhkan mustika naga.

Demikianlah, film komik (dan manga) sedang jaya di dunia.
Baik yang mantap tokoh ceritanya, maupun yang keren pemerannya.
Dragonball perlu dapat kesempatan.

Saya menyerah, bahwa sudah tidak mungkin manga ini ditampilkan
dengan setia mengikuti panel demi panel sentuhan artistik aslinya
sebagaimana diusahakan oleh 20th Boys, Death Note, atau Watchmen.
Semua itu manga/komik yang digambar dengan proporsi realistis,
sementara Dragonball jelas terdistorsi.

Saya siap merelakan seandainya film ini disusun seperti Wanted,
yang walaupun mengubah habis alur demi menyesuaikan nilai moral,
dan mengabaikan wajah "Eminem" dan "Halle Berry" berganti menjadi
(eurgh) wajah James McAvoy dan Anjijo, bisa tampil prima
menyentuh hati dengan tetap menangkap intisari komiknya.
(Memang saya agak kehilangan tokoh brilian Kepala Tahi yang bisa
"mengeras sebebal s@mb@lit atau melunak seencer m@ncr@t",
tapi toh dengan ketiadaannya, kita tidak perlu mengorbankan
selera makan demi menontonnya.)


Dengan demikian, saya tidak mempertanyakan ke mana Awan Kinto,
galah penjemur, kacang ajaib, Menara Karin atau Tenka Ichi Budokai,
walaupun garuk-garuk kepala mempertanyakan sepotong ekor.
Saya terima jurus bayangan bangau menjadi milik kakeknya Goku,
bukan Tsurusennin, Ten Shin Han, Chaozu atau Tao Bai-Bai,
walaupun sedikit merasa kehilangan Klilyn, Woolong dan Puaru.
Saya menghargai pilihan babak yang melibatkan Piccolo Daimao,
karena dari sanalah inti cerita Dragonball yang serius dimulai,
walaupun tak habis pikir mengapa dia jadi yang mengutus Oozaru.

Saya abaikan bocoran-bocoran naskah yang membuat kecut,
sembari masih berharap sia-sia untuk bisa dibuat terkejut,
selain penampilan Bulma yang rambut biru mudanya hanya sejumput
dan tampak cantik cerdas dan sigap tanpa masalah lemak perut.
Saya kuatkan hati untuk menontonnya, mengantarkannya,
sambil bersaksi, How Low can You Go???

http://dragonball.saiyanisland.com/

Chichi tampak lebih ahli bela diri, dan malah mengajar Goku.
Bolehlah. Suatu usaha mengangkat harga diri cewek.
Tapi oh tapi oh tapi...
Dragonball itu, biarpun penuh kekerasan dan tindak pelecehan,
paling parah juga hanya dihias cipika-cipiki anak kecil!
Sikap sang pengarang yang menjaga tabu Asia, dilanggar di sini!

piccoloshock Sungguh teganya-teganya-teganya
sang penulis skenario,
menimpa kisah cinta Goku-Chichi yang lugu
ke situasi teenflick a la Gohan-Fidel versi holiwut.
Goku yang seharusnya polos jujur blak-blakan,
menjadi tokoh kaku, garing, gak gaul,
dan digencet di sekolah?
Ini penghujatan! Bid'ah!!!
***

Sangat bersyukur ketika menemukan Piccolo Daimao tetap hijau,
karena diperjuangkan habis-habisan oleh pemerannya yang sok tahu.
Tapi oh tapi oh tapi...
Latar belakang cerita yang kacau-balau!!!
Dan pakaian norak apaan itu, kevlar plus tudung rapper?
Mana arsitektur khas makhluk Namec?

piccoloshockSungguh teganya-teganya-teganya
sang penulis skenario,
memampatkan watak penjahat Pilafu dan Freeza
sekaligus ke tokoh kharismatik paduan Spock-Yoda!
Pantasan, film ini ternyata diwujudkan
berdasarkan stok skenario gagal,
demi mengisi kekosongan pekerja film
akibat writer's strike.
***

Apa yang bisa dihargai dalam film ini?
Full body contactnya tidak hebat amat. Kalah jauh dari Tony Jaa.

Baiklah, bahwa si Goku dipanggil Geeko,
itulah satu-satunya terobosan yang berhasil dalam cerita ala Amerika.
Bintang satu, hanya untuk itu saja.

Holiwut! 20th century fox! KEMBALIKAN MASA REMAJAKUUU!!!

Terkait:
http://bambumuda.blogspot.com/2008/06/mangaz-movies.html