Senin, 06 Agustus 2007

Mata Hijau dan Sang Pangeran

Candy-Candy vs Harry Potter


Beberapa pengunjung pernah meminta pendapat saya tentang serial Candy. Setelah pusing merenungkannya, saya rasa akan lebih menarik ini: JK Rowling ternyata menulis Harry Potter terinspirasi dari Candy-Candy!!!

Gak percaya? Buktinya, Candice White Ardlay punya tiga persamaan dengan Harry James Potter.
  1. Mereka sama-sama anak yatim piatu.
  2. Mereka sama-sama bermata hijau.
  3. Mata hijau itulah yang membuat pangeran-pangeran melindungi mereka.

Candy bermata hijau seperti ibunya Anthony, Rosemary Brown, membuat "Prince of the Hill", sang paman, bersedia untuk selalu menyelamatkannya setiap saat, bahkan mengadopsinya.
Harpot bermata hijau seperti ibunya sendiri, Lily Evans, membuat "Half-Blood Prince", sang teman lama, bersedia untuk selalu menyelamatkannya setiap saat, bahkan mengorbankan nyawa.

Lalu apa dong yang membuat Harpot dan Candy jadi sama-sama yatim piatu, bermata hijau dan dilindungi sang "Prince"?
Mungkin, jawabannya, Anne of Green Gables.
Anne seorang gadis yatim piatu yang ceria, berambut merah dan bermata hijau, pipinya berbintik-bintik, dan tinggal di "Prince Edward Island". Baik Candy maupun Harpot mengambil elemen penampilan tokoh dari kisah ini.

Pengarang Candy-Candy sendiri mengakui, bahwa Anne adalah sumber inspirasi dia. Dan tentu Harpot mereferensi dari sana juga. Sementara pipi Candy berbintik-bintik, ibu Harpot berambut merah. Ron Weasley berbintik-bintik dan berambut merah.

Anne si Rambut Merah, obsesi nasional Jepang


Anne of Green Gables adalah cerita Kanada yang sangat digemari oleh orang Jepang. Terjemahan buku ini menjadi bahan bacaan dalam kurikulum sekolah umum di masa setelah perang dunia kedua, sejak tahun 1952. Hampir tidak ada orang Jepang yang tidak kenal Anne. Bahkan 6 tahun sebelum kisah Anne diserialisasikan di drama televisi Kanada (1985, 1987), Jepang telah membuat serial animasi (1979) karya Takahata Isao (sutradara Kuburan Kunang-kunang, Ghibli). Latar dari beberapa episode awalnya dirancang oleh Miyazaki Hayao (sutradara Sen to Chihiro, Ghibli).

"Anne" ditulis pada awal abad 20 sebelum perang dunia I, mengambil masa penuh kedamaian dan kepolosan di pulau Prince Edward Kanada, di sebuah lahan pertanian di Cavendish. Banyak orang Jepang yang menggemari cerita ini, sampai bela-belain menikah di sana.
Menurut para pengamat, semangat dan sifat blak-blakan Anne menjadi daya tarik bagi perempuan Jepang yang berbudaya pendiam dan sok sopan.

Video dokumenter CBC, kegilaan fans Jepang terhadap Anne

Dua bersaudara petani lanjut usia bermaksud memungut seorang anak laki-laki, namun malah memperoleh Anne. Daya khayalnya yang tinggi penuh pesona, membuat mereka memutuskan untuk menerimanya.
Pada awalnya, Anne sangat benci dengan rambut merahnya. Setidaknya, menurutnya, mata hijau dan pipi berbintik (yang juga agak membuat dia merasa jelek) tak perlu dipedulikan karena dia sendiri tidak bisa melihatnya tanpa cermin. Tapi rambut merah itu setiap saat bisa terlihat. Dan dia marah besar ketika Gilbert, teman sekelasnya yang ganteng meledek rambutnya sebagai "wortel". Berbagai usaha Gilbert untuk meminta maaf selalu diabaikannya. Kemarahan itu dilampiaskan ke dalam persaingan nilai di sekolah, dan mereka berdua lulus menjadi nomor satu dengan nilai seri.
Kesetiaan Gilbert pada Anne yang "cerdas walaupun tidak cantik", dan kekeukeuhan hati Anne untuk tidak juga memaafkannya, menjadikan kisah cinta ini tetap digemari selama seabad, baik dalam bentuk sandiwara panggung maupun sinetron televisi. Kisah lengkap bisa diunduh melalui Project Gutenberg.

bersambung...

P.S.: Ngomong-ngomong kenapa ya mata hijau jadi khas untuk ketiga tokoh utama kita kali ini. Padahal dalam peribahasa Inggris, bermata hijau adalah istilah untuk orang tamak, rakus, seperti Shakespeare menuliskannya sebagai green-eyed monster. $-)
Budi Rahardjo membayangkan Gadis Bermata Hijau, Berambut Pirang sebagai Dewi Kematian. (Lho, Death itu kan kalau di komik Sandman, cewek keren bergaya gothic serba hitam?)
Kabarnya sih mata hijau adalah yang paling langka, dibandingkan dengan cokelat atau biru. Dewa-dewi Cina dan Yunani digambarkan bermata hijau saking langkanya. Kebanyakan orang bermata hijau adalah orang Keltik, Slav, Jerman, dan segelintir Turki atau Spanyol.

1 komentar:

Kanti mengatakan...

nesiari 2007/09/08 06:15
bambumuda juga bermata hijau?

bambumuda 2007/09/08 11:00
hahaha... soal rakusnya, kali ya. Kalau lihat dedaunan yang ijoooo memang enak buat istirahat mata lho...

nesiari 2007/09/08 21:49
ah iya, bambumuda suka memilih hijau... blognya yang dulu itu, juga foto profilenya. fresh. blum pernah rasanya lihat langsung orang bermata hijau. pasti menakjubkan itu ya.

bambumuda 2007/09/11 18:11
blog saya tetap di tempat kok. Yang di sini cuma kopi pes.
mata hijau katanya sih tergantung pencahayaan juga, kadang bisa terlihat kelabu. Teman saya SMA, Leoni Silalahi, kalau gak salah sih matanya hijau kelabu begitu, dan dia juga ngeles bahwa "dulu aslinya biru lho, cuman terbakar matahari tropis, jadi deh pigmennya bereaksi"...

nesiari 2007/09/11 18:14
o gitu ya. tergantung pencahayaan... baru tahu.

allegrocantabile 2007/10/05 16:42
iya, betul jarang ketemu mata hijau, paling sering melihat mata biru, pernah baca bahwa mata anak bisa berubah seiring kedewasaan, entah apakah berlaku pada para mata-mata hijau juga.

ummuraisah 2008/01/15 20:45
"bukannya mata ijo itu mata duitan ??" ^_^#

bambumuda 2008/01/18 11:11
Seperti saya jelaskan sebelumnya di ujung PS, "monster bermata hijau" memang menjadi istilah untuk orang rakus/tamak $-)
Jangan-jangan ada nuansa rasial juga dengan pengistilahan ini???
Tapi pada saat istilah tersebut dikoinkan oleh Shakespeare, kayaknya warna duit satu dolar juga belum jadi hijau deh.
Kalau kriterianya cuma duit, zaman sekarang sih mata duitan tuh mata ungu, merah. Hijau mah dah kagak level atuh $-)