Selasa, 23 Oktober 2007

On the G Way

Suatu hari sebelum buku 7 keluar...
Miss N, seorang abege sebelah kubik saya senyam-senyum bertanya, "Kanti, menurut elo mendingan mana, Harry-Ginny atau Harry-Hermione?"
K: "Lho, bukannya itu udah tersirat jelas di ceritanya?"
N: "Yang gue tanya itu preferensi elo, elo shippernya siapa..."
K: :"Ah ga rame lagi kalee, shipper-shipperan... Hmmm saya mah cuma peduli sama bagaimana Prof Snape bakal memulihkan nama baiknya... Hmmm yaa paling juga saya cenderung Severus-Sirius shipper. Saya rasa ada cinta bertepuk sebelah tangan makanya Sev sirik ama James gitu loch... Ketika Harry muncul, Sirius seakan mendapat pengganti, tambah siriklah dia..."
N: "..." (ngambek)
K: (menyadari kesenjangan generasi, berusaha menyamakan level) "Atau... atau apakah Draco ngeceng Harry makanya sebel ama Ron yang ngerebut duluan..."
N: "..." (tambah ngambek)
K: "..." ;p


Ya, saya juga sudah pernah menebak-nebak siapa tokoh yang gay di dalam buku Harpot, pertamanya saya menuduh Sirius atau Severus. Memang tidak pernah menduga itu adalah Albus.
Yes, so it's official honey, dear old APWBD is gay.
Dan ketujuh tanda-tandanya bisa dilihat di sini.
  1. Jenis hewan piaraan beliau.
  2. Anagram dari nama beliau.
  3. Selera berbusana beliau.
  4. Kehalusan perasaan beliau.
  5. Keterbukaan dan toleransi beliau terhadap segenap ras.
  6. Kemiripan beliau dengan Leonardo Da Vinci.
  7. Betapa sedikitnya orang yang menyadari beliau gay.

Saya memang cenderung mengabaikan tindak-tanduk orang bijak. Selama ini saya menyangka di masa mudanya Dumbly pernah punya kisah kasih dengan kaptennya Hollywood Harpies atau apalah...
Lev Nikolajevič TolstojSemacam Lev Nikolajevič Tolstoj, yang melampiaskan segenap hawa nafsunya di masa muda dan memperoleh segalanya: istri yang cantik dan cerdas, 13 orang anak, kekayaan dan ketenaran (selebriti internasional!), menginspirasi orang-orang hebat lainnya (Gandhi dkk) namun di masa tuanya berusaha menjadi 'nabi' yang bijak, bertapa dari segenap daya tarik dunia (termasuk keluarga sendiri), demi mencari kebahagiaan abadi... Lagian janggut Dumbly mirip pun dengan beliau, ya kan.

Tapi ternyata, persamaan beliau bukan terhadap Oom Lev NT tersebut, melainkan terhadap Oom Leo yang satu lagi (lho memangnya Oom Leo DV itu gay???)

Sebenarnya saya tidak peduli, tidak kaget seperti waktu beberapa tahun lalu membaca kisah si Ageha dalam manga BASARA. Dan seputar tokoh fiktif lainnya, toh salah satu manga kesayangan saya adalah Eroica yori Ai wo Komete. Yang saya heran, mengapa hal itu tidak dituliskan oleh JKR secara terang-terangan di dalam bukunya? Apakah memang masih tersensor, dianggap tidak kontekstual, atau memang rencananya akan diungkapkan setelah buku terakhir laris manis sehingga dampaknya lebih luar biasa?

Jangan-jangan kalau mau menjadi orang (pengarang) yang bijak, harus melewati fase 'berbeda' dan 'tidak normal' dalam kehidupannya, untuk mencapai suatu pemahaman yang visioner. HC Andersen dan Oscar Wilde, para pengarang dongeng-dongeng yang sangat menginspirasi saya di masa kecil, ternyata juga dituduh gay.

Menurut dokter Taiwan yang menangani masalah AIDS, mereka punya tanda-tanda khusus. Waktu SMA, banyak juga cowok angklung yang saling menuding ke-gay-an mereka, tapi mungkin itu sekadar gurauan, karena mereka terlalu banyak bergaul dengan cewek. Tentu beda lagi yang namanya gay dengan 'kecewek-cewekan', lemah gemulai, panci, ataupun perubahan gender. Dan mungkin jatuh cinta dengan sesama jenis punya dimensi lain lagi masalahnya dengan penyimpangan seksual.

Saya sendiri belum tahu seberapa mampu saya bertenggang rasa dengan kalangan itu di kehidupan sehari-hari. Namun saya tahu rasanya dianggap tidak normal (hanya karena kidal) dan toh manusia masa kini sudah terbiasa hidup mengesampingkan kisah Nabi Luth sebagai sekadar dongengan masa kanak-kanak, bahkan kabarnya beberapa alur pemikiran Islam tertentu berusaha mencari celah untuk menerima kenyataan akan adanya orang gay yang Islam, misalnya. Kita sudah menelan film-film hollywood bahwa gay itu adalah women's best friend. Tentu saja: kebanyakan mereka beredar di dunia kreatif, dan lebih termarjinalkan daripada perempuan pada umumnya, sehingga akan sangat sensitif, serta punya toleransi besar terhadap histeria, sindrom dan segenap gangguan hormonal perempuan. Siapa pula yang bakal menolak punya sahabat sekeren Rupert Everett? (Eh nolak juga kali ya)

Saya sih malah merasa agak lebih nyaman berteman dengan cowok, karena merasa enggak ribet; lebih logis, dan kalaupun mereka emosional justru bisa jadi sasaran ledekan, idih kok kayak cewek aja! Tapi kemachoan cowok pun tidak bisa menjadi jaminan, teori itu sudah runtuh di film Brokeback Mountain misalnya. Nah, masalahnya: saya belum pernah memperhatikan, apakah ada yang tersinggung ataupun tersungging dengan bahasan saya ini? Apakah ada di antara lingkaran pergaulan saya rekan yang gay, atau merasa gay, atau berniat mengaku-aku gay? Kalau ternyata ada, mohon maafkan ketumpulan saya, dan tolong ngacung yaaa!

Tidak ada komentar: