
Tidak banyak saya berinteraksi dengan orang Malaysia, bertetangga di asrama pun jarang berjumpa. Dan selama berada di negeri jauh, kebersamaan selalu lebih penting daripada perbedaan. Bisa jadi rasa kebangsaan saya tidak terasah lebih kuat daripada rasa kebersamaan Asia Tenggara. Namun boleh jadi panasnya hubungan ini hanya dimanfaatkan sebagai agenda politik oknum-oknum tertentu kedua negara...
Yang jelas, setidaknya ada seorang yang sangat saya kagumi (tentu BUKAN yang ada di gambar di atas ini lah). Yang saya maksud adalah LAT alias Mat alias Mohammad Noor Khalid, kartunis.
Jauh sebelum penetrasi manga alias komik Jepang ke dalam kehidupan saya, karya beliau menjadi bacaan seluruh anggota keluarga. Saya menikmatinya bersama ibu-ayah, paman-bibi, dan kakek-nenek. Mulai dari Keluarga si Mamat, Budak Kampung, Budak Kota, Kampung Boy Yesterday and Today, Mat Som, serta puluhan judul kumpulan karikatur beliau di media massa... Kami sekeluarga ternyata juga berbagi beberapa pengalaman, nilai kehidupan, dan selera humor yang diceritakan di sana. Apalagi beliau seangkatan ibu saya.

Bisa dibilang, belum ada karya Indonesia yang mampu menandingi karya Malaysia satu ini. Diterjemahkan ke 34 bahasa, termasuk Jepang! Dan Amerika pun kini meluncurkan dua buku unggulan beliau dengan laris manis, rekomendasi dari Matt Groening pencipta The Simpsons (baru tahun lalu sih, terlambat 30an tahun, padahal Lat sendiri sudah beberapa kali mengunjungi Amerika).
Bukan berarti komik Indonesia kalah secara mutu. Karya-karya Dwi Koen, Ganes TH, Taguan Hardjo dkk, jelas membuktikan keahlian komikus Indonesia. Namun di saat jaya-jayanya komik Indonesia dengan beraneka ragam kisah fantasi yang melayang ke awan, Lat bertahan mengakar di bumi, dan menampilkan kenyataan Malaysia apa adanya, dengan berbagai perbenturan budaya antargolongan dalam goresan khas beliau tanpa perlu menyakiti pihak tertentu.
Dengannya beliau berhasil mengangkat apa yang dianggap orang 'norak' atau 'kampungan' menjadi "seronok" dan "eksotis". Hasilnya, siapa pula yang bakal menyadari dan mengakui bahwa percobaan pembuatan teh tarik di angkasa merupakan salah satu teknik eksperimen mutakhir mengenai gaya gravitasi, kalau bukan orang Malaysia?
Beliau juga menjadi pejuang lingkungan dengan caranya sendiri, dan pulang ke kampung halaman di Ipoh, meninggalkan carut-marut metropolitan Kuala Lumpur. Memang enak jadi penggambar, bisa berkarya di mana saja selama ada tinta, kertas, secangkir kopi dan pasokan informasi.
Namun sebagai duta budaya bangsa Malaysia ke dunia, kegiatan beliau cukup padat: Bulan Oktober kemarin ke Amerika berbicara di International Comic Arts Forum. Kalau di masa debutnya sering dibayar tiket bioskop, kini istilah beliau menggambar untuk memperoleh tiket pesawat (sebuah pesawat Air Asia juga meriah dihiasi lukisan beliau).

Waktu saya pertama kali buat situs pribadi di geocities dulu, saya membuat taut ke rumah maya beliau di http://www.lathouse.com/my. Sayangnya sekarang tampaknya sedang ditutup... Semoga suatu saat aktif kembali.
P.S. Untuk komik-komik Malaysia lainnya bisa diperiksa di http://ra-cd.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar