Jumat, 14 Agustus 2009

Merantau

Bintang Satu: Setidaknya mendinganlah daripada Dragonball Evolution.
Bintang Dua: Tokoh utamanya lumayan gantenglah, boleh dibilang berwajah asli Indonesia (kata si Davi ini lho ya).


http://www.merantau-movie.com

Tersebutlah bahwa merantau merupakan keharusan yang ditempuh oleh setiap pemuda minang, seakan "genpuku shiki" bagi mereka. Orang yang enggan melakukannya akan dicerca oleh niniak mamak sekampung tujuh turunan.

Tapi oh tapi oh tapi, selebihnya, tidak ada pengolahan alur cerita yang patut diandalkan. Ternyata film ini hanya sekadar film kacangan a la Hollywood berating B yang dipoles segelintir bumbu adat minang --dan beberapa bingkai latar belakang Ngarai Sihanok yang indah permai-- pada sekelumit adegan pembuka dan penutupnya saja.

Banyak hal-hal yang seharusnya masih bisa dilengkapi dengan mudah demi memperkuat kekhasan film, mulai dari nama tokoh utama Yuda dan abangnya Yayan yang malah terkesan Jawa/Sunda... Bukan tidak mungkin orang Minang bernama seperti itu, tapi kenapa tidak memasang nama khas Minang yang biasa mengandung huruf Z, W atau R, atau sekalian yang sok kebarat-baratan, yang dipakai oleh orang Minang yang mengalami gegar budaya?

Jangan Remehkan Mafia Minang dong!


Menemukan alamat tempat tujuannya mengajar silat ternyata sudah dibongkar, sang perantau pun luntang-lantung ke... tukang sate Madura. Aduh secara itu kan di Jakarta booow, di setiap kelokan jalan pasti ada warung nasi padang atau tukang sate pariaman. Hampir setiap supir angkot jurusan blok-M pasar minggu akan saling memaki dalam bahasa minang, tukang kain di Tenabang pastilah ada separuhnya para perantau yang urang awak. Secara mereka pun masih menghargai saya yang generasi dua-tiga di perantauan, tidak mungkin mereka mengabaikan sang perantau sejati yang manis dan sopan ini sampai nyaris kehilangan akal bertahan hidup di negeri orang. Coba ambil latar belakang kota lain, Semarang atau Surabaya, mungkin bisa dimaafkan karena probabilitas bertemu sesama orang minang akan sedikit lebih rendah, tapi itu pun gak sampai sebegitunya lah.

Dan sebagai Muslim sejati, logikanya tentu sejak awal berusaha mencari masjid. Selain bisa minta petunjuk dari pengurus masjid tentang ke mana harus melamar sebagai guru silat, walaupun mungkin tetap tidak diizinkan menumpang tidur, setidaknya pasti bolehlah menumpang mandi supaya suci. Demikianlah sang jagoan kita ini pun tampak terluntang-lantung tidak mandi berhari-hari. Adegan mengambil wudhu pun tak tampak. Padahal kalaupun sebegitu paniknya susah menemukan masjid, dengan bayar seribu-dua ribu perak orang bisa menumpang mandi di pom bensin yang melakukan CSR penyediaan air bersih...

Silat Harimau


Siapa yang wara-wiri menyatakan bahwa adegan laga film ini bagus, pasti:
- terlalu memandang sebelah mata pada film-film Barry Prima, sehingga tidak membayangkan bahwa kalau dia sekarang bikin film, yah kualitasnya bakal segini-gini juga.
- atau sama sekali belum pernah menonton dengan seksama film-film Muay Thai karya Tony Jaa.
Koreografi yang dibanggakannya, juga hanya muncul di adegan perkenalan tapi tidak dipertahankan dalam kekerasan demi kekerasan baku hantam klise full-body contact yang menjiplak sana-sini, tidak tersisa lagi jurus-jurus berkelit khas pencak silat yang dapat ditampilkan dengan indah melalui sorotan gerak lambat. Jelas-jelas pudar di balik bayang-bayang Muay Thai, apalagi Kung Fu.
Yang remeh-temeh dan sebenarnya bisa dimaafkan tapi sekalian saja saya keluhkan di sini, adalah pakaian dengan celana gombrong, baju kaos ditutup kemeja, dan tas sandang, Tony Jaa wannabe banget! Kenapa tidak berusaha tampil beda dengan pakai baju taqwa, atau memanggul ransel, sekalian?
Lalu orang-orang lewat yang terlibat, kok sama sekali tidak berbuat apa-apa? Bahkan yang handuknya direbut sampai kecemplung lumpur, hanya bengong terpaku tanpa protes apa pun.
Dan warna darah yang bercipratan itu, entah kenapa kalau bukan warna fanta, ya sekalian jadi warna coca-cola... Kenapa bukan warna sambel tomat sekalian supaya nyambung sama kampung halamannya! Apakah ada larangan menggunakan warna darah yang lebih mirip aslinya, ya? Atau sekadar malas saja melakukan proses ubah warna secara digital? Hmmm...
Sementara bukankah dalam pedoman silat 101, jurus pertama yang harus bisa dikuasai seharusnya adalah jurus langkah seribu. Dan sejujur-jujurnya orang bersilat, tetaplah mencari waktu untuk menyusun taktik dengan lihai. Menghadapi lawan secara frontal tanpa perhitungan kepastian menang dan tanpa persiapan memadai, tidaklah termasuk di dalam kamus rimba persilatan.

Main Hakim Sendiri


Ada nilai-nilai yang sangat tidak pantas dihargai di sini, yaitu semangat bertindak main hakim sendiri, karena ketidakpercayaan terhadap aparat yang berwajib. Kalau Yudha bisa menggunakan telepon umum sampai ke kampungnya, mengapa tidak segera menelepon untuk minta bantuan Satpol PP??? Juga ada adegan yang membangkitkan rasa ketidakpercayaan terhadap tetangga yang tega-teganya mengadukan orang lemah kepada preman, seburuk itukah kepribadian orang Jakarta?

Selain itu, stereotip rasialis: germo keturunan India, penjahat Bule. Orang Indonesia di sini hanyalah korban, atau paling-paling preman tukang pukul bayaran. Kalau terhadap polisi saja tidak percaya, masa tidak sekalian melakukan kritik sosial yang berani dan tajam dalam menuding Departemen Tenaga Kerja, atau Dinas Sosial, atau Bea Cukai, atau siapa pun perut-perut buncit pribumi?
Indonesia adalah negara sishankamrata yang birokratis. Selayaknyalah melibatkan pejabat yang berwenang dalam setiap peristiwa: baik sebagai peran protagonis maupun antagonis.

Khas Indonesia


Bandingkan dengan Tom Yum Goong yang menyelamatkan gajah langka, sementara dalam Ong Bak dia mengejar kepala patung Buddha. Sesuatu yang kalau bukan khas Thai banget, setidaknya bisa diklaim khas Asia Tenggara. Mengapa Indonesia tidak bisa dicarikan sesuatu yang tidak kalah khas? Menyelamatkan Orang Utan --atau Harimau kek supaya sesuai dengan jurus silatnya, ataupun arca-arca yang diselundupkan Hasjim Djojohadikusumo-- tentu akan lebih menarik.

Bukan maksud saya menutup mata pada kenyataan perdagangan wanita masih bercokol dengan parah di Jakarta, tapi tetap saja itu isu yang umum, bisa terjadi di negara manapun juga. Atau kalau memang bermaksud membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai kasus perdagangan perempuan, mengapa cari gampangan mengambil Jakarta? Mengapa bukan di Medan saja yang sudah metropolis tapi gak terlalu jauh dari kampungnya? Atau sekalian jauh ke daerah Singkawang, misalnya, yang memang punya kasus sosial khusus dalam masalah ini.

Gerakan anti Perantauan


Saya agak curiga, jangan-jangan ini adalah konspirasi tersembunyi antara Gubernur Sumbar dengan Gubernur Jakarta untuk meredam arus urbanisasi yang mengganggu agenda pemerataan penduduk dan pengembangan daerah tertinggal. Apalagi Christine Hakim sebagai sang ibu jelas-jelas menyatakan kepada anaknya, "tak perlu peduli anggapan orang sekampung, kalau ingin pulang, segera pulang sajalah, jangan malu-malu."

Daripada Nggak


Bagi yang bersikap optimis terhadapnya, entah dengan alasan untuk variasi dari film hantu dan komedi jorok, ataupun sebagai pendorong munculnya film sejenis, ataupun demi melestarikan budaya nasional, rasanya argumen tersebut tidak cukup kuat.
Mau membekenkan pencak silat di kalangan orang dewasa, toh sudah terlambat bagi mereka untuk mulai belajar. Sementara jelas-jelas film ini bukan untuk konsumsi anak-anak. Kalau ternyata film dengan niat baik tapi kepalang tanggung begini sukses di pasaran, film-film yang lebih tidak terjamin mutunyalah yang akan menyampah mengekornya.

Kesimpulannya, dengan mengesampingkan masa lalu saya yang (mengaku-aku) jago silat dan ketergila-gilaan saya terhadap Jet Li, Stephen Chow ataupun Tony Jaa, saya terpaksa sedikit munafik di sini untuk menegaskan bahwa berendah hati sajalah dengan ilmu bela diri yang kita punya, terapkan ilmu tersebut secara langsung di dunia nyata. Para sineas Indonesia TIDAK PERLU mengejar ketertinggalan dalam film laga dan berhentilah berusaha membuat film untuk rating dewasa. Lebih baik memanjakan para penonton dengan film cerdas mendidik yang bisa aman dikonsumsi oleh SEMUA UMUR, penuh damai dan ketenteraman, dan mempromosikan niat baik tanpa perlu menempuh jalur kekerasan baik dengan sengaja maupun terpaksa.



Trailer Merantau (YouTube)

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Yuniarti Nurihsan
at 10:12 on 17 August 2009
jadi taragak pulang kampuang.. halah, ke Minang aja belom pernah gue Nti.. hihihi
diganti deh, jadi pengen liat Minang tuh kayak apaa..

Ciptadi
at 10:19 on 17 August 2009
heeeyyyy, dari sabtu malam mau nonton belum kesampaian. Ini lagi merayu riri untuk mau ditinggal nonton, secara dia nggak mau ikut..
Nggak akan aku baca nih Kant, note-mu, sampai aku nonton dulu, dan baru setelah itu aku baca... he he he..

Kanti
at 10:31 on 17 August 2009
@ yuni: yuuuu
@ cip: sebenarnya sih ga perlu ditonton.

Ciptadi
at 10:32 on 17 August 2009
he he he... banyak yang bilang jangan nonton.. makanya jadi mau nonton..

Kanti
at 10:37 on 17 August 2009
sudah nonton ong bak atau tom yum goong belum?
kalau belum nonton yang itu, ya silakan nonton merantau, mungkin bisa lebih menghargainya... ;p

Ciptadi
at 10:42 on 17 August 2009
udah kant ong bak, tom yum belon.. juga nonton chocolate?btw aku jadi baca notemu, sekalian tahu jelek2nya. merah putih dengan semua idealisme-nya juga banyak mengandung kelemahan skenario dan eksekusi..

Rionita Amir
at 12:39 on 17 August 2009
Wah Kanti note kamu penuh kemarahan dan kritik ya, rileks aja knapa sih, take it easy lah, ntar cepat tua lho....;-) atau bikin aja sdr ya bsa lbh puas

Evy Nizhamul
at 13:54 on 17 August 2009
aah Kanti.. terlalu bijak engkau menilai.. Kok ndak bisa menghargai sesuatu yang baru dibuat dan terpikir oleh sineas kita. Always thinking...????? Ada apa denganmu..??? capek deh....

Rini Nasution
at 14:10 on 17 August 2009
ini maksudnya ngetag aku karena aku merantau atau aku ada bakat jd org Padang yg berpikiran kalo ga merantau ga keren? hehehe ;) Ga berminat merantau (lagi?), Kan?
ada satu lagi inisial nama yg sering dipake org Padang, F! *pengalaman pribadi.com*

Nada Taufik
at 20:20 on 17 August 2009
temenku dari awal shooting ini udah pernah kasih beberapa behind the scenes nya,, banyak crew nya temen-temenku sih un..

tapi belom sempet nonton sih aku nya.. masih di perantauan soalnya..

Aslim Nurhasan
at 11:48 on 18 August 2009
banyak lagi orang yang berpandangan sama dengan Kanti; mungkin juga da yang berpandangan sebaliknya;

saya sangat tertarik dengan analisis2 Kanti; BAGAIMANA KALAU QTA BIKIN SEBUAH FILM, SEBAGAIMANA INTI ANALISIS YANG KANTI DIINGINKAN ?

Ramala Pualamsari
at 14:47 on 18 August 2009
Yaah namanya apresiasi film, bebas mengritik atau memuji. Kritikus bukan berarti mesti pembuat juga. kalau yang ngritik yang membuat film juga, bisa-bisa karena ngerasa film buatannya lebih bagus.
@Tante Evi: bukannya ini film sutradara & sinematografernyanya bule? dua unsur penting dalam output produk film apa keitung sebagai sineas kita?
Waktu liat trailernya udah aga kecewa karena keliatan banyakan berantemnya tuh daripada budaya minangnya. Mana gayanya Ong-Bak banget, secara Ong-Bak asli pun eyke ga suka, apalagi yang ikut-ikutan.

Pada dasarnya diriku gak suka nonton film berantem kecuali krn ceritanya ada yang bikin tertarik. Jet Li pun kalau filmnya teu kaharti jadi males nonton.
Jadi, krn saya belum nonton Merantau, gak bisa ngasi komentar sebenernya tapi gara-gara liat trailernya justru jadi gak berminat hehe...
Bagusnya kalau film Indonesia banyakan yang mencontoh film-film dengan latar belakang sosial budaya khas setempat a-la Zhang Yimou.
Zhang Yimou pun pernah membuatku kuciwah super duper dengan filmnya House of Flying Dagger

Anonim mengatakan...

Rionita Amir
at 18:32 on 18 August 2009
Kritk itu baik apabila sifatnya membangun n konstruktif, namun apabila menghujat, sama saja mematikan semangat. Walaupun film org bule namun pemain2 n sutradaranya pribumi. Malah filim "Merah Putih' disponsor pribumi. Utk mencapai filim sekaliber Zhang Yimou butuh sebah process pembelajaran, tidak bisa terjadi dalam semalam. Maka upaya sekecil apapun adalah sebuah permulaan, silahkan kritik dengan beri saran utk memperbaikinya, bukan mencela upaya orang. Segala sesuatu mulai dari kecil utk capai sukses besar.
@Evi: Setuu, MENGHARGAI itu memang sulit krn membutuhkan kedewasaan, kerendahan hati, kebesaran jiwa dan mau mengaku usaha orang lain. Kritik yg destruktif mudah,modal cuma cuap2 dan dapat dilakukan dari sofa yg empuk tanpa mengeluarkan keringat dll.
Saya prihatin melihat fenomena dinegeri ini, kita gemar mengkritik lihat saja talkshow2 di TV, namun jarang sekali ada yg mau memberi solusi atau berbuat sesuatu......kok rasanya jauh ya dari sifat2 yg diajarkan olehagama kita.

Kanti
at 18:55 on 18 August 2009


@ ciptadi: trus ga jadi nonton? malah nonton merah putih?

oh iya chocolate... kalau di situ, kayaknya orang thai ga pengen dianggap punya gen autis, makanya si tokoh utamanya dijadikan keturunan jepang haaa hahahaha.

@ rini: hahaha
aku ngetag karena kirain kamu penggemar kung fu... tapi ingat lagi sekarang, kayaknya yang digemari itu aktor leslie cheung yang gay dan bunuh diri itu kan ya.

@ minot: oh ya? di youtube banyak tuh diupload behind the scenesnya, cukup menarik.

@ Pak Aslim: tawaran yang menarik. Bapak dari aliran silat mana? Tahu jurus cicak lawan buaya?
Sayangnya saya sudah terlanjur menyimpulkan secara munafik seperti di atas, sebaiknya tidak buang2 sumber daya untuk film laga... Tidak dapat menjilat ludah sendiri... heuheuheu

@ t nico & t evy:
Yeee siapa yang marah? Coba tunjukkan apa di atas ada saya gunakan kosakata binatang --selain harimau tentunya-- seperti yg dilontarkan tokoh cewe di film itu? ;p
Tulisan di atas jelas-jelas saya jejali saran apa yang bisa dilengkapi dalam film tersebut.

- agar latar belakang budaya dan agama tidak hanya sekadar tempelan pembuka dan penutup, tapi terintegrasi, dari mulai pemilihan nama sampai filosofi hidup. biarpun "cuma" dalam film laga.

- jangan memberi teladan yang salah kaprah seperti main hakim sendiri. Indonesia ini negara sishankamrata dan birokratis, maka libatkanlah pihak yang berwenang
(apakah sebagai protagonis ataupun antagonis terserah)

- silat sebaiknya digunakan untuk kehidupan nyata, bukan sekadar hiburan rating dewasa yang penuh kekerasan, dan tidak mendidik pula. Buang-buang sumber daya. Kasihan anak-anak. Kenapa tidak buat film silat untuk anak-anak?

t nico lagi:
biar begitu2 juga film indonesia tidak muncul dalam semalam, sejarahnya panjang sejak tahun 1920an.
bahwa tidak terjadi pembelajaran, itulah yang aneh. masalahnya ada di ketidakmampuan masyarakat menghargai sejarah dan belajar dari kesalahan, tidak sudi mendengar kritik dengan hati lapang, dan tampaknya memang ada konspirasi pembodohan masyarakat di kalangan pemerintah dan pemodal.

apakah di atas saya mempermasalahkan sutradaranya bule atau bukan? sama sekali tidak. ini kan zaman globalisasi. siapa pun yang berniat menampilkan budaya indonesia dengan baik, anggap saja dia orang indonesia.

tapi kalau t evy bilang saya tidak menghargai, apa gunanya saya relakan menguras tenaga dan pikiran menulis panjang lebar kalau bukan untuk apresiasi? kalau saya tidak peduli, gak usah saya bahas saja sama sekali, gampang kan.
tapi yah apalah yang patut dipuji dari sebuah eksploitasi KEKERASAN???

Yuniarti Nurihsan mengatakan...

jadi taragak pulang kampuang.. halah, ke Minang aja belom pernah gue Nti.. hihihi
diganti deh, jadi pengen liat Minang tuh kayak apaa..

Ciptadi mengatakan...

heeeyyyy, dari sabtu malam mau nonton belum kesampaian. Ini lagi merayu riri untuk mau ditinggal nonton, secara dia nggak mau ikut..
Nggak akan aku baca nih Kant, note-mu, sampai aku nonton dulu, dan baru setelah itu aku baca... he he he..

Kanti mengatakan...

@ yuni: yuuuu
@ cip: sebenarnya sih ga perlu ditonton.

Ciptadi mengatakan...

he he he... banyak yang bilang jangan nonton.. makanya jadi mau nonton..

Kanti mengatakan...

sudah nonton ong bak atau tom yum goong belum?
kalau belum nonton yang itu, ya silakan nonton merantau, mungkin bisa lebih menghargainya... ;p

Ciptadi mengatakan...

udah kant ong bak, tom yum belon.. juga nonton chocolate?btw aku jadi baca notemu, sekalian tahu jelek2nya. merah putih dengan semua idealisme-nya juga banyak mengandung kelemahan skenario dan eksekusi..