Minggu, 16 Maret 2014

Muslim Show ke Bandung

Komikus Perancis Le Muslim' Show yang telah mendunia lewat FB versi bahasa Inggrisnya, menyelenggarakan lokakarya di FSRD ITB serta bincang-bincang di Pasar Komik Bandung, dalam rangka mengusung penerbitan dua bukunya yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Beberapa kiat menarik:
  • Sebagai muslim harus lebih mengikuti akal, bukan rasa. Ada banyak cara mencari ide melalui berbagai media, tapi yang lebih penting adalah pengalaman sendiri. Lalu dipastikan kebenarannya, misalnya dibahas dengan ulama atau orang tepercaya.
  • Le Muslim Show bertujuan dakwah, komik hanya sebagai alat. Maka apa pun gaya gambarnya, baik gaya khas Perancis maupun terpengaruh manga Jepang layaknya anak zaman sekarang, bukan masalah. Persoalannya adalah bagaimana supaya pesan tersampaikan.
  • Keahlian Le Muslim' Show adalah cara mengungkapkan pesan melalui metafora, tanpa terlalu gamblang apa adanya, supaya gambar itu sendiri bisa menjelaskan melalui lambang, penanda warna, cerita dan perbandingan, kalau perlu sekalian dilebih-lebihkan (hiperbola), tanpa kesan sok tahu menggurui.
  • Setelah itu temukan 'punchline', kunci kelucuan, 'tukgling'nya, pelengkap untuk membuat pembaca mengerti apa yang ingin disampaikan.
  • Supaya nggak salah sasaran, pengarang harus menggambarkan dulu keseluruhan peristiwa, tapi lalu dihapus bagian tengahnya. Hasil yang disuguhkan ke pembaca cukup bagian awal dan akhir saja, biarkan pembaca mengkhayalkan apa yg terjadi di balik itu semua.
  • Mereka menciptakan komik ini bertiga, tapi bagi tugas masing-masing. Sang Abang Noredine yang mencari ide dan menyusun alur storyboard, Greg bule berjambul penggemar dragonball yang meninta dan menentukan keputusan akhir bentuk ilustrasinya, lalu si adik Karim mewarnai.
  • Greg ini non-muslim, dipekerjakan karena latar belakangnya memang resmi berpendidikan desain (sedangkan Allam bersaudara belajar otodidak) tapi merasa cocok bekerja sama dengan dua saudara ini karena kebetulan memang nyambung, di samping itu menurut dia kisah kehidupan muslim dalam komik ini cukup universal bisa dinikmati semua orang.
  • Hasil riset tentang ungkapan perasaan di seluruh dunia ternyata rata-rata sama, cukup digambarkan lewat perubahan mata dan bibir, walaupun bisa juga dipertegas dengan gerak-gerik tubuh keseluruhan. Kali ini sang trio mengambil tantangan menggambar enam macam ungkapan perasaan. Tapi mereka jadi bingung sendiri karena para peserta meminta contoh rumit, semacam galau, miris dll... Sungguh peserta yang kejam.

Pihak penerbit dari DAR Mizan menerangkan bahwa komik tentang muslim di Indonesia sebenarnya tidak asing lagi. Misalnya, sudah pernah terbit komik sindiran pedas karya Aji Prasetyo, Hidup itu Indah, dll. Menanggapi permintaan hadirin untuk menggambar tentang Islam Indonesia, rekan-rekan The Muslim Show menepisnya, karena perlu hidup 20 tahun di lokasi atau menikah dengan pribumi supaya bisa menangkap kelucuan sehari-hari yang ada. Komik tentang Indonesia, sebaiknya digambar oleh komikus lokal, pesan mereka.

Saya sendiri sempat menanyakan tentang bagaimana proses mereka menampilkan tokoh perempuan dalam komik ini, berhubung mereka bertiga laki-laki semua, apakah mengamati perempuan di sekeliling mereka atau ada informan khusus soal ini? Dan, bagaimana kedudukan perempuan dalam dunia profesi komikus Perancis?
Mereka menjawab, tentu saja mereka mendapatkan ilham lewat pergaulan dengan ibu, saudara, istri dan anak-anak mereka sendiri. Kaum perempuan dan laki-laki pada dasarnya mengalami tantangan yang sama sebagai muslim yang ingin menunjukkan identitas, bedanya sesuai jenis kelamin, perempuan bermasalah dalam berhijab, laki-laki bermasalah dalam menumbuhkan janggut, atau kedudukan dalam rumah tangga, namun di luar itu sama-sama kesulitan mencari tempat shalat, memilih makanan halal, misalnya.
Mengenai perempuan komikus, jangankan di Perancis, di seluruh Eropa saja hampir tidak ada, sementara komikus Muslim tidak sampai sepuluh orang. Namun seorang peserta meralat, ada beberapa komikus perempuan yang ia kenal di Jerman. Barangkali profesi komikus tidak menjanjikan bagi perempuan di Perancis? Atau ada semacam pernyataan sikap terkait feminisme? Hahaha. Menarik juga, sementara di Jepang ada generasi 24nen gumi sejak tahun 1970an sedangkan di Indonesia juga cukup banyak komikus perempuan.

Senin, 03 Maret 2014

Lahong dan Elai

Akhirnya jumpa lagi, buah langka yang didamba.
久しぶりに幻の珍果物。
At last I found the desired rare fruits once again.


Sepupu Durian. Ketika matang jalur belahan muncul sehingga mudah dibuka tanpa menggunakan pisau.
ドリアンの従弟達。成熟すると切断経路は表れて、ナイフも使用せずに簡単に開けることができる。
Cousins of Durian. When mature some pathway appears so that it is easily opened without a knife.

Lahong: kulit merah gelap, duri panjang runcing. Daging tipis tapi wanginya agak khas, eksotis. Tidak dibudidayakan, tumbuh liar di hutan.

ラホン:赤黒い皮、長くて尖った刺。果肉は薄いが、香りは典型的エキゾチックなもの。あまり耕作されなく、森の中に自生。

Lahong: Dark red skin, long pointed spines. The meat is thin but with more exotic fragrance. Not cultivated, grows wild in the forest.

...

Elai: warna daging jingga, duri kecil. Rasanya ajaib, manis sedikit asam, entah kenapa mengingatkan pada rasa dodol buah kesemek jepang.

ライ:果肉は橙色、刺が小さく。甘くて少し酸っぱい、不思議な味で、何となく日本の干柿を連想させる。

Elai: orange meat, small spines. Wonderful taste, slightly sour sweet, somehow remind me of the flavor of dried Japanese persimmon fruit.

...

Rabu, 28 Agustus 2013

Untel

Barusan dapat diseminasi bahwa IT Telkom, IM Telkom, STISI Telkom dan Poltek Telkom kini bergabung menjadi Telkom University.
"Demi pengabdian kepada bangsa dan negara," kata mereka. Lambang yang dulunya didominasi warna biru pun kini menjadi bendera merah putih. Nasionalis... Tapiiiii, kenapa namanya 'University' ya. Bukan 'Universitas'. Atau kenapa nggak sekalian ganti nama jadi 'Telecom' kalau mau go international...
***

Setelah menjadi "Teaching University", kini mereka memasuki tahap "Research University" yang akan mulai melakukan kegiatan penelitian multidisiplin. Itulah salah satu alasan penggabungan, supaya dapat peluang kucuran dana lebih banyak dan laboratoriumnya bisa lebih beragam, tidak usah dobel-dobel yang sama. Lalu di masa depan akan mengincar "Entrepreneur University" yang akan juga terlibat dalam bidang "Public Services" (hadeuh kenapa harus boso enggres semua istilahnya).
Komentar pihak industri (yang ternyata asal-usulnya beragam bukan hanya keluarga Telkom, melainkan ada yang dari bidang perkapalan, kehutanan, sampai satelit penginderaan jarak jauh), semoga tidak naik tingkat menjadi Entrepreneur University, karena kalau mahasiswanya siap merintis usaha sendiri, mereka akan kekurangan tenaga kerja. Haaaaaaaaaaaaaaa.
***
Juga ada yang mengeluh bahwa walaupun lulusan Telkom tidak diragukan kemampuan teknisnya, punya kelemahan di sisi psikologisnya. Mengatasi hal ini, menurut pihak TU, kini asrama yang disediakan untuk 2500an mahasiswa baru, sudah sepaket dengan kegiatan rutin peningkatan kemampuan hubungan antarmanusia dan kesiapan dunia kerja, katanya (yakin bukan plonco?)
Nah apakah kepercayaan diri untuk menggunakan jati diri kebudayaan sendiri termasuk bahasa asli atau yang dilokalkan, tidak termasuk dalam kegiatan itu? (Masih jengkel sama nama baru dan presentasi yang penuh bahasa londo hihihi.)
***
Oh ya, untuk program beasiswa jalur unggulan ada dibuka setiap bulan Maret tuh, bagi yang berminat.
***
Yang lucu adalah ketika mereka menyatakan bahwa walaupun kini telah berinduk ke Kemdiknas, bukan sebagai sekolah dinas di bawah Kemkominfo lagi, tapi mereka bertahan untuk tetap menjadi swasta, tanpa mengindahkan tawaran Pemda maupun Kemdiknas untuk beralih menjadi negeri. Guru-guru BK utusan SMA/SMK bersorak sorai, pertahankan saja sebagai swasta, soalnya universitas negeri tidak ada yang pernah mengundang kami diseminasi seperti ini (oooh ya? Kasihan juga atuh ya, pada kamarana eta nu negeri).
***
Mendukung MP3EI (kenapa nggak sebut MP3KI, MP3LI dan MP3 lainnya sekalian ya?) sasaran usahanya adalah Telematika, Pariwisata, Tekstil (kriya, bukan teknologinya biar ngga saingan sama IT Tekstil katanya) daaan... Pertambangan Energi, karena kebutuhan menambah nilai ekspor minerba melalui pengolahan, sebagai kekayaan alam Indonesia yang menjanjikan (Eeeeh? Yakin tuh cadangan masih tersisa begitu mahasiswanya berlulusan nanti? Secara kebijakan baru pemerintah memutuskan untuk tetap mengobralnya mentah-mentah saat ini juga?)
***
Faktor gegar budaya ini memang sungguh menyedihkan. Yang jelas, Dikti dan Kemhukham tidak mungkin mengizinkan lembaga bernama asing. Pasti nama resmi di akta notarisnya tetap "Universitas Telkom", sedangkan sebutan gaulnya ngga jauh-jauh dari "Untel".

Jumat, 31 Mei 2013

Cerita Panji

1pan·ji n, pan·ji-pan·ji n 1 bendera (terutama yg berbentuk segitiga memanjang); 2 tanda kebesaran (kebanggaan dsb); pedoman hidup: jadikan Pancasila sbg -- mu dl berjuang; 3 naungan (dilindungi oleh): di bawah -- revolusi, Indonesia merdeka;
spt -- , ditiup angin berkibar-kibaran, pb
tidak tetap pendirian, ikut pihak yg kuat
2pan·ji n gelar bangsawan di Jawa lebih tinggi dp gelar raden, tetapi lebih rendah dp gelar raden mas l
3pan·ji n Sas tokoh cerita sastra nusantara lama yg dl pengembangannya menunjukkan sifat kepahlawanan yg mampu mengatasi segala tantangan

"Cerita Panji" adalah lingkup budaya tutur yang beredar luas di kalangan masyarakat Jawa dan Melayu, disebut-sebut oleh ahli sastra sebagai gubahan khas nusantara, bahkan sudah merambah ke berbagai penjuru Asia Tenggara. Cerita Panji meliputi misalnya dongeng Ande-ande Lumut atau Keong Mas, ketoprak Panji Asmara Bangun, ludruk Panji Semirang, Tari Topeng Cirebon, dsb.



Kebetulan, Chandra Kirana (Ajip Rosidi), sebuah saduran modern dari lingkup ini adalah novel Indonesia pertama yang saya baca lengkap, jauh sebelum masuk sekolah. Tak lama sesudahnya, pada suatu acara peringatan hari sumpah pemuda di Departemen P&K, saya memperoleh secara gratisan sebuah catatan penelitian terstruktur tentang tujuan dan penokohan dalam naskah kuno Hikayat Galuh Digantung (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa).



Sejak membaca kedua buku itu, tercetus rasa tidak puas terhadap bagaimana kisah cinta dan kepahlawanan diatur demi kepentingan politis tertentu, apalagi setelah di kemudian hari menemukan antitesis cerita ini dalam "Arok Dedes" (PAT). Tiba-tiba saya punya cita-cita besar, yakni merekayasa dongeng petualangan Panji versi baru yang merangkum aneka ragam budaya tutur di berbagai penjuru Indonesia ke dalam satu rajutan yang berkelindan, dengan visi dan misi yang sesuai dengan nilai-nilai kerakyatan yang saya anut. Dalam rencana saya ini, tokoh Panji akan membuka kisah sebagai anak yang manja, cengeng dan galau. Yang pasti penampilannya beda jauuuh dari tokoh komik Panji Koming, mungkin malah lebih seperti Pailul. Sedangkan cerita akan mengalir pada petualangan tokoh-tokoh cewek di sekitarnya.
Cita-cita itu sempat terhambat ketika saya menemukan diri saya masih terlalu picik, saklek, kurang gaul, belum mampu mengembangkan sudut pandang yang berbeda dalam tema-tema kemanusiaan sebagaimana semestinya pengarang handal.
Di tengah keraguan itu, saya berkenalan dengan Panji-Pandji di dunia nyata yang cukup membuyarkan sosok Panji yang sedang saya rancang. Tepatnya, hanya dua orang dalam daftar teman saya yang biasa dipanggil Pan(d)ji, sih. Semula saya kira nama Panji ini nama yang segenerik Budi atau Indra, tapi terbukti masih cukup langka...

***
Yang pertama adalah Pandji besar, pakai d seperti dodol. Saya temui di suatu acara antarsekolah saat kelas 5 SD. Duduk dengan tenang di seberang saya, mengoprek sesuatu rangkaian elektronik entah apa yang mengeluarkan bunyi lebah bzzz bzzz yang cukup mencengangkan orang-orang dewasa yang menghampiri. Saat itu saya sendiri berkutat melukis dengan pastel bergaya impresionistis pemandangan sungai Martapura dengan pantulan bayangan di air, berdasarkan foto buram guntingan koran sambil mengingat-ingat gambaran dari Ibu saya yang baru berkunjung ke sana (kebetulan, baru minggu lalu untuk pertama kalinya saya benar-benar melihat sungai Martapura dengan mata kepala sendiri, sehingga peristiwa ini terkenang kembali).

Sebenarnya saat itu suasana hati tidak nyaman, sedangkan itu bukan pekerjaan yang mudah diselesaikan terburu-buru dalam waktu satu jam pelajaran. Semua orang sudah keluar ruangan, sementara si Pandji ini selesai berkemas-kemas sempat-sempatnya menegur saya, "Makan tuh gambar!"
Kekurangan pengalaman bergaul, saya tergagap harus menimpali apa, menimbang-nimbang dulu apakah sebenarnya ini hinaan atau sekadar ungkapan sirik tanda tak mampu, karena aslinya gambar saya lumayan bagus? (Ge-eR adalah usaha melipur minder). Saya sendiri bukanlah orang yang punya semangat bersaing. Tapi, bukankah semestinya kecanggihan teknologi tidaklah layak diperbandingkan dengan kepekaan karya seni?
Kemudian kami masuk SMP-SMA yang sama berturut-turut tapi tidak pernah sekelas ataupun satu ekskul, kayaknya tidak ada hal cukup penting yang terjadi selain wisuda SMP.
Sampai tibalah kehebohan pendaftaran universitas, kebetulan dia mengantri mendaftar sesuatu Fakultas Seni Rupa dan Desain tepat sebaris dengan saya. Sekilas terkenang kembali peristiwa masa SD itu, saya mendapati diri saya mengutuk-ngutuk dia, mana bisa orang yang tidak menghargai karya saya lulus ujian masuk FSRD. Agaknya kutukan itu terkabul, tapi sayang saya sendiri juga tidak lulus FSRD (karma? Tohohoho...)
Masing-masing masuk ke jurusan teknik yang berbeda, ingatan saya terakhir adalah pernah pergi bersama melayat Kepala Sekolah yang wafat, ramai-ramai dengan teman-teman alumni seangkatan, masih berseragam putih-putih sepulang penataran P4.

Saya sendiri meninggalkan kampus tersebut untuk mengejar beasiswa S1 ke Jepang. Suatu saat ada kabar bahwa dia melakukan riset pertukaran atau entah apa di Jepang juga, di kota yang berjauhan. Saya mencoba menyapa di internet, tapi mungkin karena sibuk, dia seakan-akan tidak kenal dan tidak peduli. Di kemudian hari, melalui kontak maya dengan istrinya, teman se-SMA yang saya kenal samar-samar karena pernah kursus bahasa Inggris satu triwulan bersama, saya tahu bahwa dia melanjutkan belajar lagi ke Jepang saat saya sudah pulang.
Barulah akhir-akhir ini, karena saya sibuk mendata teman satu SMP dan SMA ke grup FB, Pandji tampak cukup mengenali saya. Dan sempat menertawakan lagi waktu saya nyaris ditolak bergabung di forum angkatan kuliahan, katanya saya tidak pantas seangkatan dengannya. Yah, mungkin itu sekadar pujian terselubung bahwa saya awet muda (Ge-eR lagi).
Bulan lalu Pandji sekeluarga baru kembali dari Jepang, meninggalkan jabatan asisten profesornya untuk merintis bisnis teknologi yang dikuasainya ke kampung halaman. Tamu Jepang yang kebetulan sedang saya antar sangat bersemangat untuk menemui dia. Menurut mereka, wajahnya menyiratkan seolah-olah akan mengatakan sesuatu yang lucu, tapi kok serius saja.
Ternyata dia sedang terkenal sebagai "samurai sampah". Baca wawancaranya di Tribun News atau tonton di Youtube:
Samurai Sampah 01 - Samurai Sampah 02 - Samurai Sampah 03



***
Yang kedua adalah Panji kecil, tanpa d seperti dodol, kepanjangannya “Fortuna”! Setiap mendengar nama itu saya selalu berpikir betapa tidak sepadannya dua nama itu disandingkan, bahwa kesannya seperti nama perempuan, sambil terpicu untuk menyanyikan Carmina Burana (tentu saja itu jauuuh sebelum saya sempat ketiban bos yang punya nama Fortuna juga, kuhuhuhu). Tapi Panji Fortuna sangat bangga dengan namanya yang membawa keberuntungan.
Panji sempat sekelas dengan saya di kelas 3 SMP, orangnya asyik, tampak selalu gembira. Sosoknya yang mungil mirip Nobita sepintas lalu membuatnya seolah akan sering kita dapati tampil di konvensi komik. Di setiap saat istirahat bisa terlihat dia “headbang” sambil menirukan gerak jemari memainkan gitar terhadap lagu-lagu Queen semacam Bohemian Rhapsody, dan sepanjang ingatan saya, menjadi pewaris Freddie Mercury adalah mimpinya saat itu.
Suatu liburan kuliah pulang ke Indonesia, saya menemukan sosok Panji yang agak berbeda. Dia sudah menjadi seorang mahasiswa kedokteran yang bergiat di klinik Yayasan Ikatan Alumni SMA kami, cukup beken di antara angkatan bawah. Dalam suatu kesempatan traktiran teman, Panji cerita panjang lebar betapa dia terjerumus ke dalam arus ilmu yang sekarang ini, padahal aslinya dia mengincar jurusan informatika. Saya tanya kenapa tidak memfokuskan ke bioinformatika saja melalui jalur kedokteran, ujung-ujungnya nanti kan informatika juga, bahwa bukankah multidisiplin itu penting? Dia menampik bahwa pilihan informatika itu adalah spesifik untuk menggapai cita-citanya yang tak kesampaian yakni menjadi programmer game... Ow, baiklah.
Setelah itu kabarnya dia terlibat di riset NaMRU yang kontroversial itu, pasti kesal kalau diledek ‘antek amerika’, zehahaha, terbukti dia memang mendarat di sana. Terakhir Panji sempat mampir ketika saya mengadakan kongkow dadakan dengan segelintir alumni SMA, kebetulan dia baru lulus pascasarjana di Amerika, sedang liburan sambil bersiap melanjutkan studi ke... Harvard, gitu loch.
Baru-baru inilah saya tahu dari pernyataannya sendiri, bahwa cita-citanya di masa SD jauh lebih heboh lagi: Menjadi Menko Ekuin memimpin rapat seperti yang ditayangkan di TVRI dulu itu. (Mungkin kalau sesuai jalur sekarang, menjadi Menkokesra akan lebih tepat?)
Bulan lalu Panji tampil di majalah beasiswa Harvard School of Public Health, A Man with a Plan.


Dia jelaskan bahwa artikel ini menjual profilnya untuk menarik orang menyumbang lebih banyak, agar banyak orang lain yang mendapatkan manfaat beasiswa. Kemarin Panji memperoleh penghargaan di kampusnya atas kerja terkemuka dalam ilmu kesehatan, dan musim panas kali ini dia akan berlibur mengambil data tesis ke kampung halaman sambil menyelenggarakan lokakarya penulisan esai untuk melamar beasiswa, sebagaimana diumumkan pada blognya http://panjifh.wordpress.com/.
Panji bersyukur akan pencapaiannya dan tidak sungkan membaginya. Tahap-tahap mendaftar beasiswa dia tuliskan dengan terperinci di blog tersebut. Wah, saya sendiri sering bingung kalau ditanya tentang cara menembus beasiswa dulu itu. Setelah membahas hal-hal teknis yang membuat para penanya ternganga dan menyimpulkan “susah juga ya”, ujung-ujungnya saya akan menjawab, untung-untunganlah, toh saya memang pintar, wihihihi. Tapi Panji menjelaskan dengan seksama segamblang-gamblangnya sehingga orang seakan merasakan kemudahan, dan terdorong untuk mendaftar. Saya sendiri tidak berminat ke Amerika (maaf ya khususnya buat Pak Hanan, kehehehe) tapi alangkah senang jika semakin banyak orang mengikuti jejak Panji.

***
Ada benang merah dari kedua kawan Pandji besar dan Panji kecil kita ini: prihatin terhadap Indonesia, mereka turun tangan dengan cara tekun menempuh jalur ilmiah, dan bersedia pamer pasang badan, demi menyampaikan idealisme cemerlangnya kepada masyarakat dan mengejawantahkannya ke tataran praktis. Mungkin memang sesuai namanya, yang juga bermakna pedoman hidup, narsisme sangat tepat diterapkan oleh mereka berdua.
Dalam kesempatan ini izinkanlah saya menyampaikan PENAFIAN:
Kalau tokoh komik Panji saya nanti pribadinya bertentangan dengan keteladanan kalian, dan masih saja bermain kelereng, yakinlah bahwa dia pasti tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian.
Yang jelas, suatu saat saya pasti akan menjadikan sosok kalian sebagai salah dua tokoh komik saya, walaupun mungkin bukan bernama Panji.

Minggu, 26 Mei 2013

Pasar Terapung

Pasar terapung yang meriah, tujuan wisata wajib di Kalimantan Selatan. Mendorong kita untuk merenungkan kembali, mengapa kita mengabaikan adat-istiadat kuno yang membanggakan sebagai putra samudra dan putri sungai, kini malah memuja jalan beton membosankan yang melindas kura-kura menyeberang.
*Belasungkawa atas gepengnya kura-kura di tengah jalan (;_;)

The wonderful Floating Market. A definite must see in South Kalimantan. Makes us ponder on why we have since neglected...
Posted by Kanti Anwar on Satarrrday, Month o' May 25, 2013