Tampilkan postingan dengan label kulinting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kulinting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2022

Hosteladan Rumah Yotsuba

Setelah tertatih-tatih menjalankan bisnis ini di tengah pandemi, akhirnya kami mendapatkan medali kebanggaan HosTeladan 🏅
Terima kasih kepada para tamu yang memberi ulasan bagus, serta kepada para keluarga, tetangga, maupun kolega yang turut wara-wara tentang penginapan kami kepada rekan-rekan masing-masing 😽

Banyak cerita kalang-kabutnya pindahan gusuran setiap ada tamu keluar-masuk, kami cenderung tetap bermarkas di sini karena rumah ini masih paling strategis untuk bekerja, letak persis di belakang kantor dan mudah akses ke tengah kota. Kucing-kucing pun masih merasa ini daerah kekuasaan mereka, sehingga walaupun diajak ke tempat lain akan selalu mencari peluang untuk kembali ke dalam. Untuk itu, sejak awal ada peringatan bahwa rumah kami terjajah kucing. Untungnya banyak juga tamu yang senang dengan keberadaan mereka.
Ada pula cerita menolak-nolak calon tamu yang berencana datang bersama pacar. Walaupun ada ketentuan indiskriminasi, kami bisa berpegang pada peraturan kota yang melarangnya.

Tamu terakhir, Dewi, kebetulan adalah anak LFM sahabat dari rekan-rekan geng KineMala. Dia sekeluarga menjadikan rumah kami sebagai pengalaman pertama menggunakan AirBnB. Anak-anaknya sangat menikmati membaca koleksi komik kami terutama Yotsuba&! lalu penasaran ingin ikut mencoba menyapu jalan sehingga kami menyelenggarakan AirBnB experience baru: sweep away.
Sebelumnya di tahun lalu ada juga Angga sekeluarga, adik angkatan di KANST, untuk berlebaran tanpa terlalu merepotkan orang tua. Mulanya sulit mengenali karena dia memesan dengan nama aslinya yang panjang a la bangsawan.
Semuanya hanya kebetulan menemukan rumah ini lewat pencarian dan mengenali kami sebagai tuan rumah. Berarti sudah saatnya lebih mengiklankan rumah ini ke lingkaran-lingkaran dekat yang barangkali berminat, karena tentunya ada perasaan lebih aman menitipkan barang pribadi kita kepada teman sendiri.
Sebenarnya ini juga merupakan kesempatan bagus untuk menambah kenalan baru, namun karena pandemi kami meminimalkan interaksi, dan masih ada perasaan bahwa seharusnya saya mencurahkan perhatian lebih banyak kepada kenalan yang sudah lebih akrab ...

Kamis, 18 Februari 2021

Maneh ge Calo!



Karena sedang perlu ungkat-angkut meja kursi ke sana kemari, saya disopiri opang langganan berangkat menguruskan kir mobil bak terbuka milik adik saya yang minggu lalu keburu habis masa berlaku.
Balai pengujiannya jauh di ujung dunia, gara-gara melamun melulu mesti bolak-balik pula cari bolpen dan fotokopi.
"Kenapa ngga nitip aja Téh?" tanya calo preman yang patroli keliling parkiran.
Setelah lepas dari kejaran tiga calo lain, yang satu ini keukeuh nggak kapok memepet saya sejak balikan kedua. Susah juga kalau dilengosin saja, terpaksa saya balas sekenanya.
"Ah da ngga ada duit."
"Bisa disesuaikan bujet aja berapa Téh."
"Ya gak punya."
Aslinya sih memang saya hanya punya uang 90 ribu rupiah, konon biaya kir maksimal tidak akan lebih dari itu. Untuk biaya calo konon tahun lalu adik saya pernah ditawari 170 ribu, entah buat apa secara prosedurnya itu-itu doang sepertinya nggak terlalu repot.
"Tétéh 'kan calo juga 'kan jauh-jauh ke sini. Saya putra daerah, kita tahu sama tahu saja lah bagi-bagi."
*Calo juga* dari mananya Hong Kong??? Daerah mana pula, Kekaisaran Gedebage Merdeka??? Bukannya ini masih di kota. Saya juga orang kelahiran kota ini gitu loh!
"Bukan lah, saya utusan yang mau memeriksa prosedur layanan di sini kalau ada korupsi atau penyalahgunaan wewenang," bual saya saking kesalnya.
"Woiya, memang di sini banyak pungli, adukan saja Téh!" tantang dia.
"Ya iya mau."
"Halah banyak gaya ... M A N É H G É C A L O OOO O O !!!"
jerit sang preman putra daerah menggema sak parkiran balai.
Entah maksudnya mempermalukan saya atau apa gitu. Yah setidaknya belum kelihatan dia bertindak yang merusak seperti menggores cat mobil atau mengempeskan ban.

Petugas-petugas Dishub cuma cengar-cengir kasih jempol menyaksikan peristiwa ini, da mereka mah ngga ada ruginya, toh bakal kebagian persekot kalau jadi dicalo, kalau nggak pun masih digaji ini.

Sialnya saya tu sebetulnya memang mencalo, secara hanya meminjam KTP adik tanpa surat kuasa karena dia sedang kalang-kabut ngeprint ini itu mau kirim segala macam, supaya gampang saya bermaksud mengaku-aku sebagai adik sendiri, apa gunanya bersaudara kalau nggak bisa mirip-miripin muka yekan.
Tapi mungkin secara tampang cucok juga untuk mulai menjabani profesi calo sebagai sampingan 🚛🚛🚛

Jumat, 11 Januari 2019

Sampah Angkot

Suatu kali sempat lagi saya memergoki seorang ibu berhijab, usia 50 tahun ke atas dengan gincu cemerlang 💄 dan baju model safari merah jambu pucat entah seragam kantor apa, melempar gelas kopi keluar jendela angkot saat ngetém di depan Stadion 🏟️ Kali ini santai tidak membawa barang tapi sakit gigi, saya turun memungutnya dan melempar balik ke haribaan si ibu sambil menegur, "Bu, jangan buang sampah sembarangan. Itu di pinggir trotoar 'kan ada tongnya." 🚮 Si Ibu minta maaf dengan malu, tapi masih termangu bingung harus bagaimana. Pantatnya berat, sementara di luar hujan rintik-rintik ☔ Ehhh yang ribut kok malah Pak Supir. Mungkin maksudnya membela penumpang. "Wah, tungguin ajah di sini Néng, nanti yang lain lewat buang sampah sembarangan juga." 🚯 "Oh ya kalau begitu silakan ditegur semua Pak. Saya mah mana yang kelihatan di depan mata dulu saja saya protés." 👀 "Semua juga melakukan, sudah biasa itu mah Néng..." 👨🏾‍🏫 "Lah itu kan tindak pelanggaran, remeh-temeh juga menimbulkan kerusakan! Masa karena semua melanggar, kita boleh ikutan? Nih saya mengotori tangan dengan memungut dari lumpur mengembalikan ke yang punya, itulah bentuk tanggung jawab saya! 👐🏽 Bapak sendiri mana tanggung jawabnya, tidak sedia tempat sampah di dalam angkot??? Kan ada kewajibannya tercantum di Perda 11/2005 tentang K3!" 📜 "Yaaa sudah sajaaa biar saya yang pungut," Pak Supir memungut gelas kopi yang masih tergelétak di lantai angkot dan melemparnya lagi keluar jendela, bermaksud memeragakan rékonstruksi ☕ "Oh ngga bisa begitu Pak. Kenapa ngga sekalian dibawa saja langsung ke tong sampah?" Saya yang lebih sigap turun pungut ulang dan kembalikan ke Si Ibu 🧕🏽 "Sampahnya tetap tanggung jawab penumpang lah, kalau tidak ada tempatnya di dalam angkot bukan malah dilempar ke jalan raya! Biar Ibunya menyelesaikan sendiri, kenapa pula Bapak bela segala? Bereskan kewajiban Bapak sendiri!" 😡 "Atuhlaaah buang sampah sajaaa kok dibawa répot, Néng." 🤷🏾‍♂️ Ya ampun cari masalah betul Pak Supir ini. Ingin saya tampiling tapi nanti pelanggaran tindak kekerasan. Saya turun, pengumuman mau cari Satpol PP, angkotnya pun buru-buru melaju 🚌

Dikirim oleh Kanti Anwar pada Jumat, 11 Januari 2019