Tampilkan postingan dengan label riung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label riung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Mei 2023

ZookMiz

Karyawisata Kepala Dusun Sukagaya Desa Konoha Negeri Wakanda beserta segenap jajaran keparat demi memperoleh kiat-kiat WTP

"Jalan menuju neraka tidak hanya diaspal, tetapi juga ditembok, diatap, dan dilengkapi perabotannya dengan niat baik"

@slugger96_official

Minggu, 16 Oktober 2022

Darah itu Merah

Dua minggu lalu, saya ditolak.
Pedih walaupun hasilnya bisa ditebak. Sebenarnya saya sudah maklum tidak memenuhi syarat, dan hanya datang untuk cek kesehatan, sehingga tidak berencana mengajukan diri, tapi didorong oleh Ndew sebagai pejabat keluarga alumni untuk tetap mendaftar. "Yang penting ada niat berpartisipasi. Siapa tahu boleh. Kalau memang tidak layak nanti juga tidak bakal lolos penyaringan, saya pun lolos karena boosting bit, kurma, buah naga," katanya. Memang, begitu melihat pergelangan tangan saya yang terkena CTS memar-memar masih dibebat, Dokter melarang saya menambah pegal lengan. Cewek-cewek lain juga ditolak, antara lain karena kadar Hb rendah, atau dianggap kelelahan sehabis lari pagi ngos-ngosan.
Tapi Moskow diterima.
Dia menyatakan habis bergadang tapi sudah sempat tidur pagi sehingga masih jumawa. Padahal ternyata itu akibat jetlag sepulang mengantar misi perdamaian di Afrika. Di formulir donor darah, jelas-jelas ada pertanyaan apakah pernah keluar negeri dalam setahun terakhir, dan secara khusus ditanyakan juga apakah baru dari Afrika. Pastinya dia sengaja mencentang "tidak" di semua baris pada saat mengisi, karena tidak mungkin ada dokter yang mengizinkan dia lolos penyaringan jika centangnya berada di kotak "ya". Barangkali sengaja demi meramaikan kegiatan teman seangkatannya.
Donor darah di almamater.
Konon besoknya dia tumbang, masuk RS yang tidak terbiasa menangani kasus malaria ganas, dan tadi malam dia berpulang.


Menurut Selvy, pekerja yang pulang dari Afrika pasti dibekali test kit dan pil serta diberi cuti untuk karantina. Mereka dapat menguji sendiri sehingga jika ada indikasi penularan dapat mencegah dan mengobati sejak dini, begitu demam langsung minum pilnya. Apakah petugas logistik lalai membekali? Atau Moskow lalai melaksanakannya demi pulang ke Bandung menemui keluarga dan teman-teman? Seandainya dia tidak bergadang lalu donor darah, mungkinkah tubuhnya cukup bugar untuk melawan penyakit yang menggerogotinya?
Seandainya tidak mampir ke sekolahan, mungkin saya juga tidak akan sempat bertemu dia lagi. Dia masih sempat menyapa saya sebagai instruktur galak dalam kenangan (padahal saat diklat angkatan dia, saya hanya pelengkap penderita yang bertugas sebagai utusan danlap dan pengawal lari, tidak kebagian posko, tidak mengangkat suara sama sekali). Saya pun sempat menceritakan kedudulan tiga orang polisi milenial yang minggu sebelumnya membayar pesanan Airbnb ke rumah saya untuk dinas di Bandung tapi di hari H-1 disuruh atasan menginap di mess polisi.
Padahal kami semua tentu mengandalkan dan menaruh harapan kepadanya sebagai calon pemimpin polisi masa depan (?) Kami berkumpul tepat setelah tragedi Kanjuruhan bergulir, soal kasus Kadiv Propam masih menjadi topik yang tidak habis-habis dibahas.
Dan ketika tiba giliran dia donor darah, saya pun ikut yang lain, menyemangatinya tanpa menyadari konsekuensi yang menyertai. Sampai berfoto bersama!

Mungkin memang perilaku KKN ini perlu diredam selamanya. Kalau bukan teman sendiri, saya bakal curiga jangan-jangan dia juga merupakan bagian dari lingkaran kriminal terstruktur berkedok penegak hukum pengayom masyarakat. Secara dia sudah pernah menjabat Kapolres di pelosok dan sepulang dari Afrika bertugas di Mabes Polri.
Barangkali mampir ke sekolah dan berjumpa teman-teman lama membuat dia kembali ke masa-masa saat menjadi nakal, melanggar peraturan kaku tidak masuk akal, adalah suatu keniscayaan demi menempa pribadi yang kreatif.
Namun, kali ini yang dilanggar adalah prosedur operasi standar kesehatan dan keselamatan diri sendiri. Jika itu saja diabaikan, bagaimana kita berharap prosedur operasi standar untuk menjaga dan melindungi masyarakat bisa diterapkan?
Konon darahnya sudah ditarik dari peredaran, tapi bagaimana jika tertukar dan menularkan ke orang lain? Sepatutnya PMI memboikot sekolah kami sebagai putra-putri harapan bangsa yang nekad melakukan kelalaian berbahaya (?)

Tapi siapa tahu andaipun kelalaian itu tidak terjadi, maut tetap menjemput. Barangkali dia merasa ajal sudah dekat sehingga memilih mengucapkan perpisahan melalui tindakan gila yang tak dapat terlupakan. Barangkali kehendak Tuhan menghindarkan dia dari badai yang mengombangambingkan lembaganya.
Teman-teman seangkatannya mewanti-wanti saya bahwa tertular wabah dalam mengemban tugas negara berarti mati syahid. Semoga dia mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.

Ini adalah panggilan untuk bangun.

Semua kita perlu tekun mengawal revolusi mental kepolisian.

Rabu, 22 Juni 2022

Teman Sebangku

Subuh tadi N, teman sebangku saya SMP kelas 2 semester 3, berpulang ke rahmatullah, tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya.
Saya ingat orangnya cukup ambis, selalu sibuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan dan ujian, ketika saat itu saya masih dalam moda santai, baru saja mengalami layang puntir di kelas satu, dari malas hadir sekolah sampai mendapat peringkat pertama bintang kelas di akhir tahun ajaran. Barangkali karena tidak senada seirama itulah kami pun bertukar pasangan di semester 4.
Sejak kenal dengan saya, dia sudah berjilbab dengan rapi, termasuk rombongan awal pelopor pengguna jilbab di sekolah. Sungguh panutan.
Terakhir saya bertemu langsung adalah saat mengadakan reuni kelas 2, saat itu N sangat gembira, ditemani suami tercinta yang menjadi fotografer pribadi.

Keluarganya bahagia, kariernya tentu lancar sebagai ASN bea cukai. N juga sempat melanjutkan belajar ke Jepang. Saya agak sirik mungkin.
Padahal nomornya selalu tersimpan, cuma karena jarang muncul di media sosial saya lalai menyapa rutin via japri.
Saya hanya sempat berbalas pesan semangat ketika diberi tahu oleh Umar bahwa dia sakit dan sudah keburu parah. Saya baru memesan pratistha untuk ibu saya dan membeli juga untuk N, sedang berpikir bagaimana mengemas dan mengirimkannya sekalian sebagai hadiah ultah, ketika kabar duka itu tiba.
Karena pemakamannya di sore hari kerja di ujung dunia, dari teman SMP sepertinya hanya saya yang menyempatkan hadir, sedih sekali bahwa hanya ini yang bisa saya lakukan di saat terakhir.

Jadi ingat teman sebangku saya yang lain, D, di SMP kelas 1 semester 2. D adalah salah satu pemicu titik balik layang puntir yang saya sebutkan itu, selain adanya pelajaran Seni Rupa. Menjadi sekelompok belajar dengan D (dan A) saat itu membuat saya mulai menikmati sekolah yang tadinya terasa membosankan. Tugas-tugas yang tidak penting dikerjakan bersama dengan gembira.
Lalu saat naik kelas kami ikut ekstrakurikuler silat entah-entah yang pendirinya baru meninggal awal tahun ini. Namun tak lama, D segera berpindah aliran ke PD. Dengan kelas yang terpisah, tidak ada lagi kesempatan kami berhubungan. Saya ingin mengajak mengobrol tapi tidak tahu harus mulai dari mana karena saya malu. Saat SMA, D punya pacar pula, ke mana-mana berdua. Saya makin segan bertegur sapa jika berpapasan.
D menikah setelah lulus kuliah dengan pacar SMA-nya namun meninggal kanker yang terlambat diketahui, karena sakit perutnya terasa ketika sedang hamil. Anaknya lahir selamat, namun tak lama D berpulang. Anaknya kemudian dicarikan ayahnya ibu tiri, adik kelas 5 tahun di bawah yang merupakan anak dari Guru Fisika saya. Dia memperoleh banyak adik, dan sang Ibu berkiprah membahas pengalaman sebagai orang tua menyelenggarakan sekolah rumah.

Daftar teman sebangku akan dilengkapi kalau ternyata ada yang terlewat.
Pertama kali punya teman sebangku adalah dengan S. S ketua kelas 2 SD, orangnya sangat berjiwa kepemimpinan menyambut anak baru. Dia mau saja adlib menemani saya menyanyikan lagu yang sebenarnya impromptu diciptakan di tempat: "hujan di hari yang mendung sungguh deras membasahi bumi, lihatlah oh kawan lumpur berserakan di jalan".
Lalu saya sebangku dengan L, cucu kepala sekolah yang rambutnya panjang tergerai. Saya tidak tahu di mana dia sekarang.
Sebentar kemudian saya loncat kelas dan sebangku dengan cowok, Z, yang sampai sekian waktu lalu saya salah ingat nama. Dia sudah menjadi seniman musik, sudah menikah tiga kali.
Naik kelas lagi saya sebangku dengan K cowok yang cukup cerdas, utusan senam pagi sekolah, sempat jadi bankir lalu tobat berjuang menegakkan ekonomi nonriba.
Kemudian ditukar dengan I, preman kampung yang sabar kalau saya gebukin karena saya anggap nakal. Duh maafkan ya.
Masuk SMP saya sebangku dengan Y. Y anak yang sangat vokal, sehingga mungkin menjadi penyebab saya terdiam. Terakhir jumpa sesaat di dekat rumah saat beda SMA dia bersama rombongan teman. Lalu ketemu lagi setelah sekian lama dengan Y lewat Medsos, sempat membantu saya memberi penyewa rumah sesaat, lalu kami pun ikut menjadi panitia menyelenggarakan beberapa kali reuni. Dia sempat bercerai karena diabaikan oleh suami, namun sudah memperoleh pasangan baru. Anaknya tampaknya cukup manis sehingga dia tidak terlalu kerepotan.
Karena saya sering bolos, Y pindah ke lain hati. Saya pun kebagian sebangku dengan W yang baru pulih dari sakit. Dari dulu anaknya sibuk sendiri, sehingga dengan saya yang mendapatkan medali juara terdiam di kelas, kami diam-diaman saja. Ketika hendak reuni, bingung karena tidak ditemukan di medsos. Saya mengontak kakak dan adiknya yang punya nama keluarga sama, akhirnya mendapatkan nomornya, namun belum pernah sempat ketemu di reuni, barangkali dia tak berminat hadir.
Setelah bersama N, di semester 4 saya sebangku dengan R, anak baru pindahan yang merupakan anak guru Bahasa Indonesia. Kami tidak begitu akrab, tapi cukup saling mendukung keseharian di kelas. Seharusnya saya menjalin lagi persahabatan lebih erat setelah lulus dan reunian.
Kelas tiga, saya sebangku dengan teman sekelompok belajar kelas dua, T. Agak keder sama T karena dia ditaksir banyak orang dan sibuk menaksir orang lain lagi. Dia ini bintang iklan sabun semasa bayi, berarti jauh lebih dulu tampil di koran dan majalah daripada saya yang baru tenar setelah menjelang usia 7. Karena ketertarikannya lebih ke hal-hal duniawi, kami bertukar pasangan di semester terakhir.
E anak yang ceria, banyak tersenyum dan cukup membuat saya terbuka untuk cerita apa saja, ultah kemarin. Kini bersama keluarganya membuka studio foto.
Kelas 1 SMA semester 1, saya sebangku dengan saingan saat SMP kelas 2. B adalah anak yang sangat berbakat, gambarnya pun bisa bersaing dengan saya. Dia sedang dalam pencarian tentang Tuhan dan kebingungan menyelaraskannya dengan kegemarannya akan artis idola. Waktu naik kelas, serombongan menemani dia menonton film terakhir yang akan dia tonton sebelum berjilbab katanya. Setelah beberapa kali kongkow gaje, waktu reunian saya seret untuk ikut menjadi perwakilan angkatan, tapi dia sibuk mengurus anak banyak.
Semester 2 saya bertukar pasangan jadi sebangku dengan J, yang punya komputer dengan gim Prince of Persia. Betapa sulitnya menahan keinginan menumpang main di tengah mengerjakan tugas kelompok. Terakhir ketemuan waktu reunian itu sudah 6 tahun yang lalu. Kariernya bagus, anaknya lucu, saya tidak tahu tentang kabar suaminya.
Kelas 2 dan 3 saya awet dengan F, anak pindahan waktu kelas 1, anak guru fisika yang kebetulan tidak kebagian mengajar saya. Dia sengaja bertukar kelas dengan teman seangkot saya, A, alasannya karena A tidak mau sekelas dengan AB. F setuju karena di kelas awal dia tidak punya kenalan sekelas. Entah bagaimana kelas kami banyak teman sekelas kelas 1 termasuk AB. Sebelum pandemi saya sempat ditraktir makan di mal bersama F oleh juragan kelas kami. Saat pandemi, sempat sangat cemas karena kondisi F termasuk cukup parah. Semoga F kini sudah pulih total seperti sedia kala.

Senin, 30 Mei 2022

Ayah dan Syafii Maarif

Entah ada angin apa, Pak Hamid Basyaib menyelipkan kenangan tentang ayah saya dalam obituari Syafii Maarif di Facebook kemarin, Senyum Mujahid Syafii Maarif. Ayahnya Fira dan Ary juga disebut. 

Barangkali ada yang mencoleknya untuk ikut memenuhi permintaan saya dalam pengumuman tahun lalu? 


"Di ruang tamu rumah Kiai Hamam Dja’far di Pabelan, kadang ada Mas Dawam Rahardjo, Arief Budiman, Aldy Anwar, Armahedi Mahzar. Dua yang terakhir adalah tokoh-tokoh ITB, yang punya persambungan dengan Pabelan karena dihubungkan dengan para aktifis Yayasan Mandiri, sekumpulan aktifis mahasiswa ITB, antara lain Sugeng dan Mochtar Abbas, orang Aceh yang kemudian jadi lurah Pabelan berkat dukungan Kiai Hamam.
Aldy Anwar adalah kerabat Haji Agus Salim yang terkenal pintar sebagai mahasiswa Fisika, tapi tidak menyelesaikan studinya, namun menekuni peluang mengembangkan helio energy (sumber matahari) sebagai bagian penting dari ambisi besarnya untuk melahirkan masyarakat yang "hemat energi, kaya nilai"."

Selasa, 10 Mei 2022

Antigratifikasi

Saat saya berusia 6 tahun kalau tidak salah, adik saya masih balita, keluarga kami berhalalbihalal ke rumah seorang arsitek adiknya Tuo (nenek saya), yakni paman dari ayah saya, di Kebayoran Baru, Jakarta.

Sepertinya saat itu abang sepupu satu-satunya tinggal di Balikpapan, sedangkan sepupu dua kali kami kebanyakan lebih tua beberapa tahun, tiap kumpul keluarga mereka selalu melipir ke ruang kerja di depan, entah membahas hiburan musik atau gim yang saya belum paham. Yang seumur saya hanya ada dua-tiga orang, masih culun-culun menempel pada orang tua masing-masing.

Ayah saya entah menyelinap ke mana mengobrol dengan saudara siapa, saya duduk manis saja termangu bersama adik saya di sofa depan televisi yang dimatikan, di tengah lalu-lalang kerabat yang bersilaturahmi.

Seorang bapak entah oom-oom atau aki-aki yang sepertinya lebih tua daripada ayah saya tapi lebih muda daripada Tuo, cengar-cengir menyapa kami, menanyakan umur dan basa-basi lainnya, lalu mengulurkan dua gepok berisi berlembar-lembar sepuluh ribuan rupiah masing-masing untuk saya dan adik saya.

Saya dan adik saya bertatapan, saling mengangguk, lalu saya mengambil gepokan yang dipegang adik saya dan menyodorkan semuanya kembali ke hadapan bapak tersebut di dudukan sofa lalu menyatakan,

"Maaf, kami tidak dapat menerima uang dari ORANG ASING ..."

Sang bapak terkejut, wajahnya sekejap pucat pasi lalu berubah merah padam, tapi karena tidak tega menghadapi anak kicik beralih mengadu kepada nenek saya, "apa-apaan ini cucunya kurang ajar, duit angpau yang saya kasih malah dilempar pakai tangan kiri pula!" Ditambah serentetan tuduhan yang tidak berdasar.

Tuo pun memarahi ayah saya. Ayah saya kecewa tidak kebagian uang sebanyak itu padahal jumlahnya lumayan buat beli baju dan sepatu baru anak-anaknya.

Beliau sedikit membela bahwa orang kidal memang nyatanya ada di dunia walaupun langka. Namun, di belakang, beliau berusaha membujuk saya untuk belajar bergerak dengan tangan kanan demi sopan-santun menghindari kecanggungan, yang tentunya saya tolak mentah-mentah.

Juga beliau mewanti-wanti bahwa di acara kumpul keluarga seperti ini pastinya tidak ada orang asing, semua ada hubungan darah, kalau belum kenal ya wajib berkenalan. Lah siapa juga yang membiarkan anaknya terlunta-lunta tersesat di kerumunan.

Coba itu keluarga bikin silsilah lengkap disertai kliping foto-foto supaya orang bisa mempelajarinya terlebih dulu sebelum menghadiri acara macam ini.

Demikianlah pengalaman kami menjadi pegiat antigratifikasi di usia dini.

Selasa, 05 April 2022

Pesan Kepala Suku


Kawan-kawan Tri96ers!


Merayakan kelahiran Badak Sumatra yang langka di dunia pada jelang Ramadan kemarin, semoga mengingatkan kita untuk melaksanakan puasa dari hal-hal yang menimbulkan sampah, limbah, dan ghibah yang sia-sia demi kelestarian makhluk-makhluk Tuhan yang indah ini!

Kamis, 28 Oktober 2021

Persaksian tentang Ayah

Hanya segelintir pihak yang mengetahui nama asli ayah saya. Selain lingkaran keluarga, paling-paling hanya pejabat yang terlibat keperluan legalisir dan tentunya jarang sekali. Satu-satunya catatan sejarah tentang nama beliau adalah sebagai penulis mahasiswa yang bersanding dengan Soe Hok Gie dan Amien Rais pada masanya, melakukan demistifikasi kultus individu terhadap Soekarno terkait peran dalam Proklamasi dan perumusan Pancasila. Selebihnya beliau dikenal dalam nama pena, dan itu pun di dalam lingkaran tertentu saja walaupun sempat cukup bergaung di jajaran elite pusat kekuasaan.
...
Tahun ini sepertinya sudah digariskan untuk kembali melakukan kalibrasi terhadap berbagai niat awal. Tiba-tiba keluarga kami dipanggil oleh semesta untuk mengurus amanat beban tanggung jawab yang telantar cukup lama.
Di tengah pandemi, ruang gerak terbatas, seolah hanya bisa megap-megap. Pihak yang menawarkan bantuan ternyata mengincar untuk kepentingan pribadi dan menusuk dari belakang.
Hampir saja kami terjebak untuk mengambil jalan pintas yang hanya akan memurukkan dalam perangkap ketidakpastian. Namun, suatu kegiatan merawat seekor kucing saya yang parah berlarut-larut tak bisa disembuhkan, menyadarkan akan betapa fana semua permainan dunia. Untungnya sekeluarga sepakat untuk tetap menelusuri jalan yang lurus membedakan yang hak dari yang batil.
Mungkin memang ada malaikat penjaga ayah saya yang masih melakukan tugasnya.

Merenungkan seperempat abad berpulangnya Ayah saya, komentar-komentar di bawah foto FB berikut adalah sebagian kesan-pesan yang terjaring dari beberapa rekan tentang sekelumit kehidupan beliau.



Tertaut juga beberapa tulisan lama rekan-rekan beliau yang pernah dipajang misalnya

Hemat materi dan energi, kaya nilai dan informasi. (Mengenang Aldy Anwar, aktivis peradaban) - BTS



Laman ini akan diperbarui seketemunya naskah-naskah lain. Terima kasih

Jumat, 24 Mei 2019

Kingkong dan Kaiju

Kabita oleh cerita sepintas lalu seorang teman, sebut saja Bunga, yang menembus kerumunan pengamanan demo sekitar gedung bisul demi berbuka dengan cheese cake ... Pekan kemarin saya bela-belain mampir juga dengan alasan kebetulan melewati jalan yg sama saat belanja keran, walaupun dari tempat tujuan letaknya ujung ke ujung, sedangkan untuk pulang ada jalan pintas belok di tengah 🍰🥧🍮 Sepotong matcha chiizu keeki terasa asam, tetap saya habiskan karena mengira memang begitu rasanya. Dampaknya, saya diare tiga hari berturut-turut. Sungguh kurang ajar penjaga toko tega menjual penganan basi tanpa kortingan harga pula, tapi kok ya saya pun bego amat bisa tergiur oleh ramuan bid'ah. Jelas-jelas teh hijau matcha adalah padanan ronde putih shiratama dan kacang merah adzuki 🍵🤢😩 Minggu ini saya sudah waras kembali ke selera asal, menu iftar colénak beuleum peuyeum digulaan. Kapan ketemu si Bunga lagi saya mesti joged-joged "aku anak singkong, kau anak keju, uwooow uwooow" 🍠🧀🎼🎵🎶💃🏾🕺🏻

Minggu, 17 Juni 2018

Sajak Utas Kantih


yang kapas mari dipintal,
yang benang mari dirajut,
yang silang mari ditenun,
yang polos mari disulam,
yang lepas mari disimpul,
yang putus mari disambung,
yang kusut mari diurai,
yang burai mari diikat,
yang rumbai mari diobras,
yang cabik mari dijahit,
yang aus mari ditisik,
yang bolong mari ditambal,
🍀👘🎀😇🙏


© Idulfitri 1439 H BambuMuda

Sabtu, 02 Desember 2017

Pandai Besi dan Kamar Gema

Penafian: Harap maklum bahwa keluhan ini saya lontarkan sebagai seorang mantan pandai besi berijazah dari sekolah luar negeri ternama, yang di sisi lain sempat kebingungan ketika dihadiahi minyak wangi eropah oleh ibu bos di tempat kerja lama.

Tersebutlah kisah, kira-kira di akhir tahun lalu, hawa-hawa perpecahan yang merebak di dunia maya terendus sampai ke depan hidung saya.
Seorang kawan lama, kalau tak boleh menyebut sahabat, seminggu sebelumnya masih bertegur sapa dengan akrab di halaman maya. Kenalan semasa kuliah, kini ibu dari tiga anak lucu, wiraswasta andal, tulisannya pernah dikemas tampil di layar lebar. Tiba-tiba beliau mengumumkan niat bebersih daftar teman, untuk memilah dan memilih siapa saja yang sehaluan atau tidak dengan sikapnya terhadap agama.
Yang menggelitik saya adalah bahwa sebagai dasar hukum dari tindakan tersebut, beliau mengutip hadits yang diterjemahkan seperti ini.
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mencium harumnya. Sedangkan berteman dengan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) membakar pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau mencium bau asapnya yang tak sedap.”
(HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Secara belum khatam kitab hadits, dan sesuai penafian di atas tadi, saya pun langsung mempertanyakan.
  • Pertama, pandai besi memang pekerjaan berbahaya, tapi bukan berarti sia-sia, 'kan? Kenapa berteman dengan pandai besi tidak dimaknai akan kebagian hadiah panci gratis? Atau setidaknya, bisa beli obralan sendok garpu murah?
  • Kedua, apakah itu berarti Islam punya kasta berdasarkan jenis pekerjaan? Kalau di Hindu, pandai besi mungkin tergolong waisya atau minimal sudra; masa dalam Islam terhempas menjadi setingkat dengan kaum pariah yang tak dapat disentuh?
  • Ketiga, bukankah teman yang buruk justru selayaknya dirangkul agar kembali ke jalan yang benar, jangan malah dijauhi dengan membakar jembatan pertemanan yang mungkin suatu saat akan menyelamatkannya sekaligus menjadi ladang pahala bagi kita?


Saya kira pertanyaan seperti ini layak untuk dibahas dengan nalar kepala dingin, justru untuk memperkuat pemahaman terhadap alasan yang diberikan agar tidak terganggu gugat. Tetapi malah saya dianggap layak untuk disingkirkan dari daftar teman karena dituduh ingkar terhadap hadits, tidak sami'na wa atha'na.

Tentu saja berdasarkan latar belakang saya, saya serta-merta menilai bahwa keberadaan seorang pandai besi dalam peradaban umat manusia jauh lebih penting daripada penjual minyak wangi ...

Saya suka wangi pandan, melati, cendana, dan rempah-rempah: tapi untuk memakai minyak wangi sehari-hari, belum merasa perlu. Minyak wangi adalah hasil keluhuran peradaban, tapi sama sekali bukanlah kebutuhan utama. Hanya perhiasan penghibur duniawi. Tanpa minyak wangi, manusia masih dapat hidup aman tentram kertaraharja. Lagi pula setahu saya musk itu berasal dari kelenjar rusa jantan; apakah sudah dipertimbangkan hak asasi hewannya?

Sebaliknya, tanpa pandai besi, bukankah takkan ada aneka perkakas rumah tangga? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada kendaraan canggih masa kini? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada tiang beton untuk gedung bertingkat? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada pedang tajam maupun senjata api? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada kebesaran kerajaan Daud dan Sulaiman?

Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada konflik pertambangan? #eh
#gimana #nahlho 🙀

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ
فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً
وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Setelah memeriksa sumber bahasa aslinya dan mengulik beberapa hadits tandingan, saya simpulkan bahwa yang harus dihindari dalam perumpamaan itu adalah angin dari ububan (kipas peniup api untuk tungku kegiatan penempaan besi) bukan pekerja pandai besinya. Bagaimanapun juga, mustahil hadits meremehkan pekerjaan penting di masyarakat.

Jika memang mengibaratkan manusianya, seharusnya hadits ini bermakna ada karya yang penting bagi penghidupan tapi kita mau tak mau harus menanggung hal-hal yang tidak nyaman dalam pengolahannya.
***

Pada dasarnya sih tidak ada salahnya mengatur pertemanan media sosial, daripada habis hidup berbasa-basi tanpa keintiman. Dalam beberapa hal, saya sendiri mengelompokkan daftar teman berdasarkan latar belakang perkenalan: keluarga, tetangga, teman sekolah, kawan kuliah, rekan kerja, orang berbahasa daerah, orang berbahasa asing, dst; agar kesan-pesan khusus dapat saya arahkan langsung kepada kelompok tertentu tanpa perlu memenuhi dinding atau disalahpahami oleh kelompok lainnya. Namun, tentu hal itu saya lakukan dengan pertimbangan sendiri tanpa maksud berkoar-koar menyinggung para pihak.

Sebaliknya, fenomena "kamar gema" perlu kita waspadai. Kita harus tetap membuka diri terhadap berbagai informasi dari pihak yang berbeda pandangan, agar kita tidak mudah terpancing, agar semua pembenaran selalu ada pembanding.
Menutup jalur pembahasan hanyalah langkah terakhir ketika upaya menengahinya secara ilmiah dari dua arah sudah buntu, demi menghindari debat kusir caci maki yang tidak berkejuntrungan; itu pun harus ditindaklanjuti dengan pendekatan yang lebih intensif untuk meredakan perselisihan pendapat agar setidaknya setuju untuk berbeda; tidak dapat dibiarkan menjadi api dalam sekam.
Ketika algoritma jejaring sudah cukup mempersempit langganan umpan berita kita, jangan sampai kita pula yang memasang kacamata kuda!

Selasa, 02 Mei 2017

Beasiswa MEXT untuk lulusan SMA

Menyambut penghardikan nasional.

Kartini mengalihkan beasiswa Hindia Belanda karena memilih menikah dapat dana dan kuasa untuk buka sekolah sendiri daripada keburu tua di menara gading, sedangkan Agus Salim menolak tidak sudi menerima lungsuran yang tidak menghargai prestasi pribadinya dan memutuskan bahwa pendidikan kolonial adalah doktrin berbahaya yang harus dihindari oleh anak-anaknya.

Berbeda dari kawan lain yang menjadikannya titik tolak membangun karier, saya sendiri menyambut hasil pampasan perang, remah-remah tebusan dari kesengsaraan leluhur ini dengan niat awal sekadar butuh dana kuliah yang belum tentu mampu disediakan oleh keluarga, ingin mampir ke Disneyland (halah), dan terutama tertarik mengakses manga dari sumber asli. Selain itu karena telanjur lolos saringan, harus menghindarkan sekolah saya kejeblos daftar hitam seandainya saya berkecut hati mengundurkan diri.

Mungkin saya salah satu yang sangat beruntung kebagian berangkat bersama teman angkatan yang lucu-lucu dan berjumpa dengan rekan-rekan negeri lain, sempai-kohai dkk, sehingga ketiga cita-cita saya yang cemen rendahan itu pun segera terkabul, walaupun sebaliknya mungkin justru merugi kehilangan momen-momen masa remaja yang jauh lebih layak dialami di tanah air gara-gara berangkat terlalu cepat. Kalau soal akses ilmu, lah zaman sekarang mestinya sih bisa diperoleh dari berbagai sumber dengan lebih leluasa. Tapi bukankah hidup adalah bagaimana menikmati pilihan?

Beasiswa Monbukagakusho pemerintah Jepang kembali dibuka bagi program S1, D3, dan D2. Silakan disebarkan kepada siapa saja yang punya saudara, anak cucu, keponakan, teman, tetangga sebelah, dll lulusan SMA dan sederajat tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya yang barangkali berminat dan bernyali untuk mengikuti jejak kami :-*

Informasi lengkap http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_slta2018.html




Senin, 03 Oktober 2016

Champagne Supernova

How many special people change?
How many lives are living strange?
Where were you while we were getting high?

Slowly walking down the hall
Faster than a cannonball
Where were you while we were getting high?

Someday you will find me
Caught beneath the landslide
In a champagne supernova
A champagne supernova in the sky

Wake up the dawn and ask her why
A dreamer dreams she never dies
Wipe that tear away now from your eye

'Cause we don't believe
That they're gonna get away from the summer
But you and I will never die
The world's still spinning around we don't know why
Why-why-why-why-y-y


Rabu, 17 Agustus 2016

Putaran Pandang

Sedang hangat-hangatnya mengunggah kamera tiga ratus enam puluh derajat di media sosial. Saya sendiri baru kebagian satu foto 360°, menyambut 17 Agustusan dengan narsis bersama tim hore ikatan alumni sekolah. Sayang versi interaktifnya tidak dibagi ke publik. Hanya orang yang berteman FB dengan saya atau rekan lain di foto tersebut yang bisa mengaksesnya, klik di bawah ini.

Istana negara pun tidak mau ketinggalan menggunakan teknologi ini dalam video #upacara360° peringatan 17 Agustusan, walaupun mutu rekaman masih rendah.




Tampaknya lebih menarik diterapkan untuk merekam pemandangan alam, tapi kalau untuk foto manusia mengakibatkan distorsi potongan badan ya huhuhuhuhu.

Di PopCon Asia 2016 kemarin, kami- 360Indonesia, mendapat kesempatan berkolaborasi seru dengan Comicrewyuk/Berakar Komunikasi.

Sebuah terobosan baru menampilkan komik dalam dimensi 360 derajat; kiri-kanan-atas-bawah semua sudut bisa dinikmati.

Karena pamerannya sudah selesai, saatnya kita bisa menikmati lagi komik 360 tersebut di sini.

(terimakasih menyeluruh kepada teman-teman Berakar Komunikasi)

http://qubicle.id/story/revolusi-komik-360-di-angkringan-malioboro

Dikirim oleh Diki Satya pada 14 Agustus 2016
Komik 360°, untuk saat-saat acara khusus tentu keren, tapi untuk diterapkan sepanjang alur cerita rasanya akan memecah konsentrasi. Karena, bagi saya pada dasarnya teknologi komik adalah soal pembingkaian. Setidaknya, perlu diperhatikan pembingkaian pertama, kesan apa yang lebih dulu terlihat sebelum gambarnya mulai diputar ...

Selasa, 12 Juli 2016

Mohon maaf lahir batin

Masih dalam suasana lebaran, muncul perdebatan tentang hoax pemberitaan menteri energi Jepang membungkuk selama 20 menit untuk meminta maaf atas pemadaman listrik. Adalah fakta bahwa Jepang tidak memiliki jabatan menteri energi, adanya Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri yang membawahi Badan SDA dan Energi; sedangkan foto yang digunakan mendampingi berita tersebut adalah foto direktur Honda menyapa pers.
Namun jangan sampai kita serta-merta menampik fakta bahwa ruku' (御辞儀 ojigi) memang merupakan salah satu cara pengungkapan permohonan maaf dalam adat jepang, dalam tahap sebelum sujud (土下座 dogeza).



Membungkuk dilakukan oleh berbagai pihak demi menenangkan hati masyarakat umum, mulai dari direktur perusahaan yang harus menarik produk cacat dari peredaran, kepala cabang makanan cepat saji yang ditemukan gigi dalam hidangannya, sampai boyband tenar yang nyaris berpisah. Kondektur kereta akan membungkuk pada para pelanggan kalau kereta terlambat 5 menit. Eksekutif Tokyo Electric Power Company (Tepco) membungkuk atas terjadinya pelelehan reaktor nuklir Fukushima.



Dalam masyarakat patriarki Jepang, bahkan ada aturan khusus permintaan maaf untuk perempuan!
Untuk kesalahan paling fatal seperti menghabiskan simpanan pacar di pasar berjangka; atau mendaftarkan pacar kultus tanpa permisi.



Pada 2013, film Raja Permohonan Maaf (謝罪の王様 shazai no oosama) menampilkan berbagai kasus yang perlu diselesaikan dengan teknik-teknik canggih dalam meminta maaf, disesuaikan dengan peristiwa dan tingkat keparahan masing-masing.
Ada permohonan maaf disertai salto, piramida, dll sesuai situasi dan kondisi.








Cerita tersebut adalah versi lebay dari kenyataan saat ini.

Permohonan maaf adalah masalah yang kita semua harus hadapi pada titik tertentu hidup kita. Walaupun kita ingin menganggap diri sempurna dan telah memperhitungkan semuanya, pada kenyataannya tidak ada yang lepas dari kesalahan dalam kehidupan pribadi dan profesi. Melalui permaluan menebus kesalahan tersebut kepada orang-orang yang telah kita dzalimi, kita tumbuh sedikit dewasa dan hasilnya menjadi manusia yang lebih baik.
Namun, berkat jalur baru bisnis di Jepang, kita tidak perlu lagi dipermalukan! Mengapa harus menempuh semua rasa takut dan jijik menghadapi kenyataan tersebut, ketika kita mampu membayar orang lain melakukannya untuk kita? Dengan demikian kita dapat kembali kepada hal-hal penting dalam hidup, seperti menangkap Pokemon atau menonton sinetron.

Bukan serta-merta berarti jasa ini hanya untuk orang yang bermaksud melalaikan tanggung jawab. Banyak orang cemas akan ketidakmampuan mengungkapkan penyesalan, dan di sanalah sepatah "maaf" yang diwakilkan dapat lebih ampuh ketimbang ucapan langsung yang buruk.
Cara lembaga ini menangani situasi beraneka ragam tergantung kebutuhan klien. Misalnya, mereka mungkin mengirim seseorang berpura-pura menjadi orang tua untuk meletakkan aturan dan putus dengan kekasih manja yang tidak memahami pertanda yang kita tunjukkan. Mereka juga mungkin hanya menelepon ke kantor berpura-pura menjadi istri kita pada hari kita ingin bolos dan payah meniru suara orang sakit jika menelepon sendiri.
Beberapa agen maaf yang ada di internet:
  • Shazaiya Aiga Pro: 25,000 yen (US$240) untuk permintaan maaf tatap muka dan 10,000 yen ($96) untuk permintaan maaf melalui surat atau telepon; Buka 24 jam per hari, 7 hari seminggu.
  • Yokohama Benriya Natchan: Perkiraan harga disampaikan melalui konsultasi telepon dan mereka menawarkan permintaan maaf sambil menangis yang khususnya manjur terhadap orang marah.
  • Nihon Shazai Daikokao: Harga dasar 3,500 yen ($33) per jam.

Yang terakhir sepintas tampak cukup murah, tapi menurut wawancara NHK, satu sesi antara bakal mantan yang bertengkar dan pemeran orang tua pasangannya bisa berlangsung sampai 12 jam.
Bisnis alaminya mengundang kritik. Di luar fakta bahwa mereka memungkinkan orang untuk mengambil jalan pintas pengalaman manusia yang mendasar, mereka menganyam jaring kebohongan yang dapat mempersulit kehidupan seseorang di jalan. Walaupun demikian, sejauh pemantauan NHK belum ada keluhan terhadap dampak kegiatan tersebut. Menurut perusahaan, ini adalah karena pertimbangan yang matang terhadap situasi klien melalui konsultasi. Sekitar 40 persen dari basis pelanggan dikatakan perempuan berusia antara 20 dan 40 tahun, dan alasan yang paling laris untuk menggunakan jasa lembaga ini adalah masalah uang dan/atau pasangan.
Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa layanan ini menggerogoti kelemahan kemanusiaan, tapi saya ingin berpikir mereka di luar sana berjuang melawan yang baik dan memikul beban dosa kita seperti juru selamat pribadi kita.
Ah, sesungguhnya saya mohon maaf ... Jika Anda tersinggung dengan komentar terakhir, saya berharap Anda dapat menemukan belas kasih dalam diri Anda untuk memaafkan saya.
Lebih penting lagi, jika menurut Anda permintaan maaf barusan sangat meyakinkan maka saya bermaksud menawarkan jasa saya untuk berperan sebagai orang tua atau atasan Anda. Upah akan dirundingkan setelah konsultasi tapi saya pastikan seseorang di dalam hidup Anda akhirnya akan jauh lebih membenci saya daripada mereka membenci Anda.

Sabtu, 04 Juni 2016

Lélé Handuk dan Cakcak Bodas

Baca komik ini sering lucu:

Ah abis Deadline error dikit boleh dong.. Yak Arigato Macaroninya boleh lho kak.
Dikirim oleh Erfan Fajar pada 3 Juni 2016


***

Kemarin ada kehebohan ngga penting ketika gunjingan di kalangan kelompok tertentu bocor ke kelompok lain tempat orang yang dibahas sehingga menimbulkan ketegangan. Dalam bahasa sunda, orang yang mengadukan secara berlebihan sambil pura-pura tidak tahu disebut "cakcak bodas" alias cicak putih.


Mengapa putih ya?

Jadi ingat lambang kampanye KPK
"cicak merah lawan buaya hitam".
Apa yang membuat merah lebih baik daripada putih?

Sebelumnya juga baru dapat informasi dari Erika bahwa gaya cicak adalah salah satu panduan foto arisan sosialita Jakarta.
Syaratnya gampang. Cari latar belakang paling mendukung, seperti wallpaper di hotel bintang lima, tempelkan badan ke tembok, dan tengok ke belakang. Ekspresi yang cocok adalah seksi menggoda dengan rambut terurai. Dengan catatan, jangan terlalu lama bergaya begini, karena bisa menyebabkan sakit leher.


Kembali ke masalah utama, umpatan yang didasari oleh dengki dan dendam sebaiknya dijauhi.
Namun, ada juga yang bilang boleh jadi cakcak bodas untuk beberapa hal:

  • Membuka aib pelaku penganiayaan kepada hakim, polisi, tokoh masyarakat, agar keadilan bisa ditegakkan;
  • Menceritakan keburukan orang dengan harapan mencegah atau menghindarkan orang lain dari kemungkaran & kemaksiatan;
  • Meminta fatwa/nasehat Ulama, Seorang istri bisa menceritakan bahwa suaminya KDRT atau tidak menafkahi;
  • Mencela orang yang melakukan kefasikan dan kezaliman, sebatas kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan itu saja.
Mungkin kalau begitu namanya bukan cakcak bodas kali ya, cakcak héjo atau apalah.

Rabu, 27 Agustus 2014

Tiga kesempatan, tiga perjumpaan ・「三期三会」

(Maksudnya pelesetan Ichi Go, Ichi E ...
Euh tapi dibaca apa ya? mitsugo mitsue atau sanki sankai? 8|)

Kebetulan kemarin ini kebagian jadwal mengamen di tiga sesi, kepergok tiga kenalan lama yang tidak disangka-sangka.


  1. Pagi-pagi di antara tamu-tamu, kok ada yang cengar-cengir menyapa. Saya melongo saja, lah siapa pula ini? Padahal, dia ternyata senior yang memang sudah lama saya kontak melalui FB kalau-kalau suatu saat punya kegiatan yang nyambung. Sialnya, saya sama sekali gak hafal tampangnya karena orangnya jarang pasang foto narsis. Baru menyadari setelah pembawa acara menyebutkan namanya. Duh, sungguh malu banget.
    Ah, baiklah perlu dicatat... JANGAN sekali-kali lagi SKSD sok kenal sok dekat sebelum sempat ngopi darat. Atau setidaknya, kebagian pas foto dulu lah ya.

  2. Siang-siang pindah ke tujuan berikutnya, melewati segerombolan makhluk berseragam yang sedang bersandar di pagar beranda. Ujug-ujug ada yang menyapa lirih, "MBAK Kanti?" Lah siapa pula anak sekolahan berondong di pelosok kota ini yang bisa-bisanya mengenal saya? Eeeh bayi tetangga semasa kuliah yang dulu saya asuh, cubit-cubit, kejar-kejar, keloni, kini telah menjadi seorang remaja SMA ganteng! Dan bisa-bisanya berpapasan tanpa sengaja! Waaah...
    Tapi hei ujang, jang, coba itu ya, secara saya sama sekali bukan mbak-mbak, tapi BIBI KANTI gitu loh! Tanteu! XD

  3. Keesokan harinya, salah satu pendamping tamu ternyata adalah teman nongkrong bergadangan minum kopi nonton bioskop 10 tahun yang lalu! Tapi saya salami senyumi colek-colek di sela acara, kok dia malah kabur menghindar? Menghilang pula di setiap acara istirahat! Salah apa saya ya? Tanya teman-teman nongkrong yang lain yang masih terdampar di belahan bumi lain, katanya memang terakhir tiba-tiba dia menarik diri dari pergaulan, gak sudi lagi beramah-tamah. Berarti bukan persoalan pribadi dengan saya? Semoga tidak ada masalah khusus, yang penting syukurlah dia tampak sehat-sehat saja.


Rasanya, jadi ingin menyanyi ...
wasure nai yo tooku hanare te mo 忘れないよ 遠く離れても
mijikai hibi mo asai enishi mo 短い日々も 浅い縁も
wasure nai de watashi no koto yori 忘れないで 私のことより
anata no egao wo wasure nai de ... あなたの笑顔を 忘れないで

Tak akan kulupakan, walau jauh terpisah
hari-hari yang singkat pun, ikatan yang dangkal pun
janganlah kaulupakan, daripada diriku
senyumanmu itu tolong, janganlah kaulupakan

Rabu, 12 Desember 2012

121212

Seorang nenek-nenek penjaga parkiran tempat hedon, terpana memandang seorang abang-abang yang menitipkan helm, heboh membongkar berlapis-lapis jas hujan dan jaket yang penuh label sponsor.




Nenek: "Dik, kemari mau ikut lomba panjat tebing?"
Abang: "Nggak Bu, hanya menonton. Saya pendaki gunung."
Nenek: "Sudah ke mana saja?"
Abang: "Itu yang di spanduk foto saya, waktu ke Everest."
(Dengan bangga dia menunjuk umbul-umbul yang menghiasi setiap sudut jalan raya kota Bandung selama seminggu terakhir.)
Nenek: "Ke Everest lewat mana?"
Abang: "Lewat Nepal, terus ke Tibet."
Nenek: "Oh, sendirian? Pakai Sherpa-sherpa gitu ngga?"
Abang: "Bareng teman. Pakai Sherpa lah Bu, pastinya."
Nenek: "Pasti biayanya besar ya, berapa?"
Abang: "Iya bu, 400 juta per orang."
Nenek: "Wah itu masih ada pegangan uang pas pulang?"
Abang: "Nggak, pas-pasan saja habis pulang tidak ada uang lagi."
Nenek: "Besar banget ya."
Abang: "Iya, di gunungnya aja dua bulan."
Nenek: "Pengen dong saya ke sana juga, di bawah saja..."
Abang: "Silakan Bu, mumpung banyak promo cuma 4 juta PP."
Nenek: (Sirik dalam hati, huh kalau pakai Sherpa mah semua juga bisa nyampe everest kali, asal ada cukup duitnya... Memang kalau wajah goreng patut, orang butuh pembuktian di bidang lain, makanya susah payah bela-belain naik gunung. Mendingan itu fotonya pakai kacamata hitam, kelihatan rada keren...)

Catatan:
  • Standar ganteng bagi sang nenek adalah cowok-cowok intelek rumahan yang puluhan tahun lebih tua, berwajah manis, berkulit cerah, lemah gemulai, dan menekuni cabang olahraga di seputar catur dan permainan kartu.
  • Sang nenek sendiri jauh lebih senang berselancar di internet daripada lari-lari senam pagi, sementara seluruh cita-citanya bertualang kini telah terbelenggu oleh gembok halaman parkir yang dia jaga.
  • Si abang ini sih memang bertampang kampung, ngga ada sentuhan indo a la seleb sinetron, tapi yaaah eksotik lah masih lumayan enak buat dipandang, padahal mah.

Jumat, 09 September 2011

Kemarin


So when you think of yesterdaaay ♪♫ (huu lala ♪)
Remember aaall the thiiings weee said ♫♪ (huu lala ♫)
And through the course of hiiistoooryyy ♪♪♫
I hope you'll stiiill... remember me... ♫♪♪

And there can't be no ooother waaay ♪♫ (huu lala ♪)
There's nothing left for us to saaay ♫♪ (huu lala ♫)
I've got to see this through alooone ♪♪♫
I've got to do this... on my own... ♫♪♪

Alkisah ada seorang teman. 
Anaknya, usia 4 tahun, bertanya, "kapan terjadi masa depan?"
Abang si anak, usia 6 tahun, menjawab, "besok adalah masa depan."
Hari berikutnya, si adik berseru, "horee!! ... kita ada di masa depan!"
Abangnya menimpali, "Tidak, belum."
Adik: "Lho tapi kemarin kamu bilang hari ini adalah masa depan!"
Abang: "Saya bilang, BESOK adalah masa depan..."
Adik: "aaaaaugh, kamu bikin bingung saja!"

Minggu, 10 Oktober 2010

Pasar Seni ITB 2010

Kali ini teman saya si Naomi dengan Simpul Jamilnya buka gerai. Banyak lagi yang lain tapi saya tidak menemukan semua, karena arus desak-desakan manusia kurang terkendali.

Katanya juga Pasar Seni akan diusahakan ramah lingkungan, tapi ternyata gerai-gerai makanan semua menggunakan styrofoam.

Senin, 04 Oktober 2010

Yotsuba & Angklung!

Baru pertama kali lihat uang receh seribu rupiah baru yang tipisnya seperti koin game center. Tapi secara gambarnya angklung (dan Gedung Sate), jadi gak tega mencela...



Bicara tentang angklung, ada pandangan menarik dari teman SMP saya yang pewaris Koesoemadinata, bahwa...
Memainkan angklung dengan tangga nada barat artinya belum merdeka!
Apalagi ilmuwan Indonesia sudah pernah meneliti "laras sejati" yaitu tangga nada salendro-17 yang kabarnya mencakup seluruh tangga nada di dunia sehingga lebih memenuhi unsur rasa manusia secara universal, seperti diterapkan pada gamelan Ki Pembayun (yang kini hilang tak berjejak?)

Ah, tapi apakah tangga nada diatonis milik barat dan pentatonis milik timur? Bukankah nada itu sebenarnya universal?

Selamat ulang tahun ke-30 untuk KPA SMAN 3 Bandung.
Semoga sering-sering tampil di luar negeri tidak jadi lupa akan perlunya mengembangkan kebudayaan di dalam negeri.
Ayo dukung angklung di AngklungisIndonesia.com/



Semoga dukungan pemerintah Indonesia terhadap angklung juga semakin besar (tanpa harus mengaransemen lagu-lagu SBY).

Bonus, ini foto Yotsuba waktu tampil di Festival Bambu Nusantara kemarin...