Tampilkan postingan dengan label x topeng kaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label x topeng kaca. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2009

Lanjutan Topeng Kaca ・「ガラスの仮面43」

Mbbbwahahaha!
Setelah lebih dari 5 + 6 + 4 tahun penantian? Hah 15 tahun???
Kelanjutan manga yang berusia lebih tua dari saya ini terbit juga.
topengkaca43
Untuk siapa? Untuk apa? Mengapa? Kamu berusaha memerankan tokoh Bidadari Merah? Untuk siapa? Untuk apa? Mengapa? Aku bercita-cita mementaskan panggung Bidadari Merah?
Aku juga sama denganmu. Kini baru kusadari. Di kota besar ini, tak seorang pun mau -atau mampu- percaya akan keberadaan Bidadari Merah. Bidadari Merah hanya ada di atas panggung sandiwara. Ketika pentas selesai, semua lenyap bagaikan mimpi malam hari. Hati dan ucapan Bidadari Merah, di hadapan dunia nyata tidak memiliki realita.
Buatlah aku percaya akan Bidadari Merah! Buatlah orang merasakan kenyataan akan Bidadari Merah. Bahwa di dunia nyata ini, Bidadari Merah itu ada. Untukku, dan untuk semua orang yang menontonmu. Yang bisa melakukan itu, hanyalah...
--- Hayami Masumi, di atas jembatan penyeberangan ---

Jilid 1 terbit awal tahun 1976, bahkan saya pun belum lahir.
Jilid 40 terbit September 1993, menyambut bunkoubon...
Jilid 41 terbit akhir tahun 1998, menyambut animasi video.
Jilid 42 terbit akhir tahun 2004, menyambut panggung Noh.
Dannn jilid 43 terbit awal tahun 2009, demi Opera Topeng Kaca.

Ternyata dibandingkan dengan naskah yang sejak Agustus lalu dimuat bersambung di majalah, ketika dikemas ke dalam buku jilid 43 alias "Kedua Akoya jilid 2", yang terbit beberapa hari yang lalu, masih tetap ada beberapa perubahan yang cukup signifikan, antara lain melibatkan bintang-bintang jatuh (secara Leonid dan Geminid lagi happening, kali ya).
Ringkasannya kira-kira (SPOILER ALERT! Highlight kotak di bawah):
  • Sakurakouji Yuu memutuskan hubungan dengan Mai karena ingin jujur pada diri sendiri, dan menyatakan akan tabah menunggu Kitajima Maya yang berjanji akan menjawab perasaannya selesai pentas percobaan;
  • Hayami Masumi di bawah hujan deras (deuh dramatis banget) di atas jembatan penyeberangan, mengilhami Maya dalam memahami perannya, bahwa untuk membuat orang percaya, ia harus terlebih dahulu percaya, dan berusaha 'menjadi';
  • Himekawa Ayumi melakukan olah tubuh hebat dengan alat-alat senam indah, dan dipuja-puji oleh media massa yang sebaliknya merendahkan Maya yang berkubang lumpur;
  • Kedatangan seikat besar mawar ungu disertai ungkapan gombal "aku percaya padamu lebih dari siapa pun di dunia ini" mencerahkan kembali hati Maya yang patah semangat;
  • Takamiya Shiori heran melihat reaksi Masumi yang sangat ekstrim terhadap mawar ungu, dan mulai curiga;
  • Dari tempat menyepi beliau, Tsukikage Sensei (Ibu Mayuko) malah menyatakan bahwa saat ini Maya masih lebih unggul, dan turun gunung untuk melihat persiapan kedua murid kesayangannya itu (Wah, adegan ini, kalau dihitung halaman terbitan majalah 12 tahun lalu, seharusnya bari muncul di 5-7 buku kemudian!!!)

Setelah buku ini, ternyata masih ada lanjutan yang terbit lagi di majalah... Baguslah, semoga benar-benar ditamatkan, bukan sekadar promosi opera.

Cukup menggelikan melihat si Hayami Masumi berlagak polos -setelah sekian tahun generasi berganti, masih begitu-begitu sajakah tingkahnya? Terlebih lagi mempertimbangkan jajaran shojo manga lainnya yang sudah menganut pola pikir yang berbeda. Penggunaan alat canggih seperti telepon genggam pun tidak membuat komik ini bisa mengejar ketinggalan (atau justru degradasi penurunan moral) dari yang lainnya. Mungkin bagus juga tetap demikian.

Kalau dibandingkan dengan ribuan lembar kisah bertele-tele(novela) versi majalah tahun 90-92 yang batal dibukukan itu, para pengemar hendaknya memaklumi kerja perfeksionis bertahun-tahun untuk menggantinya. Betapa setelah 17 tahun menerbitkan komik secara teratur, dan tersendat selama 15 tahun berikutnya --berarti 32 tahun berkubang dalam komik satu ini!!!-- sepantasnyalah sang pengarang ingin melepaskan karyanya dari jebakan cerita-cerita picisan. Upaya beliau kali ini, mengarahkan sebuah kisah cinta terlarang dan perjuangan karir menjadi hikayat pencarian akan ketuhanan, patut dihargai.

Jumat, 29 Agustus 2008

Opera Topeng Kaca

Manga Topeng Kaca berlanjut kembali, kini terbit di Bessatsu Hana to Yume nomor 8-11. Seperti biasa manga ini diterbitkan 'hanya' demi kepentingan promosi... Panggung Opera!!!

bessatsuhanatoyume

Opera ini tampil di Saitama 8-24 Agustus, Osaka 29-31 Agustus, Kyushu 5-7 September. Tentu asyik juga melihat bagaimana manga ini tampil dalam format opera. Semua menyanyi, pun! Apalagi, para pemeran yang diperoleh melalui audisi kemarin cukup menarik: Maya yang berasal dari keluarga biasa, diperankan oleh putri pasangan selebritis berusia 24 tahun yang telah lumayan berpengalaman; sementara Ayumi yang seharusnya putri pasangan seleb, adalah gadis biasa 19 tahun yang belum berpengalaman di dunia seni peran, walaupun tampaknya telah dibekali ilmu kesenian yang mencukupi seperti balet klasik.

hayamimasumimayatoayumi

Dulu tahun 1997, sisa-sisa genkou yang semakin terlarut oleh suasana telenovela diluncurkan juga demi meramaikan Drama Seri. Padahal tankoubon yang diterbitkan, sejak edisi dua putri sudah lumayan banyak digambar ulang supaya jadi lebih ringkas dan padat dan tidak terlalu sering mengulang neta. Pada saat dramanya berlanjut ke seri 2, hasil gambar ulang nomor 41 terbit, dan muncul sebagai tankoubon demi meramaikan OVAnya.
Setelah tujuh tahun berlalu dalam sepi, tiba-tiba nomor 42 muncul demi meramaikan panggung Noh Bidadari Merah: sebuah terobosan nyata dalam mengangkat kebudayaan Jepang, cita-cita sang pengarang banget memang, sih. Kini, empat tahun kemudian, demi opera, muncullah lembar-lembar calon nomor 43 (yang oh siapa tahu masih akan berubah lagi pada saat diterbitkan jadi buku). Ceritanya... hmmm, gak perlu spoiler kan?
***

Kalau sudah begini, saya bongkar-bongkar lagi deh satu kardus fotokopian "maboroshi no garakame", ribuan halaman genkou yang sudah terlanjur terbit sia-sia di majalah Hana to Yume, yang telah tersimpan sepuluh tahun di laci saya. Ingin sih menscan-kan, tapi gempor. Dijumlah-jumlah bisa mencapai jilid 48, ceritanya tidak terlalu penting. Tapi menjadi bukti nyata suatu proses berkarya yang terbelah dua antara tuntutan konsumerisme dan pencapaian haute-couture. Barang langka yang sering jadi rebutan orang. Jangan-jangan mahal juga dilelang. Siapa berminat?

Walaupun usahanya untuk menggaet lapisan pembaca masa kini terlihat terlalu memaksa, bagaimanapun juga saya salut terhadap keteguhan Miuchi Suzue untuk memelihara manganya. Pada saat fokus perhatiannya sedang di gerakan keagamaan dan tidak sempat mengolah manga ini dengan serius, daripada membiarkan karya terakhir terbit begitu saja dengan setengah hati antara "ingin cepat berlanjut namun tidak ingin cepat tamat", beliau memilih memeramnya sekian puluh tahun dan mengabaikan jeritan para penggemar (sampai pada titik yang menyadarkan mereka bahwa ada kehidupan lain bagi mereka di luar manga...)

Apalagi ternyata proyek adikarya Bidadari Merah yang digambarkan dalam manga ini sesungguhnya layak dimanfaatkan untuk menelusupkan ide besar Miuchi Suzue sendiri mengenai bentuk keagamaan khas Asia Timur yang beliau anggap paling tepat bagi Jepang: "Perkawinan" antara Buddha dan Shinto. Salah-salah menggambarkan, nanti bisa-bisa malah merusak kepercayaan para pengikutnya.

Siapa tahu, dengan melibatkan diri pada proses produksi format-format lain dari manga ini (drama, animasi, panggung tradisional noh, opera, dll, apa lagi nih yang bakal keluar), beliau memperoleh umpan balik yang dapat digunakan untuk mempermulus alur cerita, dan menghasilkan argumen yang lebih mantap mengenai agama yang beliau idam-idamkan.



Bagi yang penasaran sama komiknya, dapat melipur lara dengan memainkan boneka kertas Maya dan Masumi:
http://homepage2.nifty.com/suzu/doll/doll_1.htm
http://homepage2.nifty.com/suzu/masumidoll/masumidoll_1.htm

Rabu, 19 September 2007

Audisi-Audisi!

Audisi-audisi untuk para gadis manis penggemar manga.

Audisi Topeng Kaca


Bagi yang berminat menjadi tokoh utama (Maya atau Ayumi) dalam opera sandiwara musikal Garasu no Kamen (Topeng Kaca)...

Syarat: Pada bulan Agustus 2008 berusia sekitar 16-25 tahun, percaya diri dalam olah suara, siap latihan mulai Juni 2008 dan tampil di panggung mulai September 2008.

Batas waktu pendaftaran: 21 September 2007. Silakan klik di sini...
audisitopengkaca

Audisi 20th Century Boys


Bagi yang berminat menjadi tokoh utama Endou Kanna, sang primadona dalam film layar lebar 20th Century Boys...

Syarat: Usia berapa pun, asal mampu memerankan Kanna yang berusia sekitar 17-21 tahun. Bisa menyesuaikan jadwal pengambilan gambar sepanjang tahun 2008.

Batas waktu pendaftaran: 31 Oktober 2007. Silakan klik di sini...

audisi20thcenturyboys

Mohon maklum kalau segenap proses penerimaan berlangsung dalam bahasa Jepang... heuheuheu heuheu heuheu!

Senin, 04 Juni 2007

Kutukan sang Mawar Ungu ・紫のバラの呪い

Tersebutlah suatu hari, saya mengantar adik sepupu ke lokakarya terjemahan yang dipandu oleh Nalti Kikuchi. (Perhatian: Walaupun namanya Kiku- berarti serunai, judul tulisan ini gak ada hubungan dengan film keren Kutukan Serunai Emas Gong Li - Chow Yun Fat!)

Nalti Kikuchi ini adalah orang Indonesia bersuami Jepang, guru bahasa yang menyambi sebagai penerjemah komik Topeng Kaca... Towewew.

Tentu saja serta-merta saya menanyakan, mengapa murasaki no bara dalam manga itu diterjemahkan menjadi mawar jingga oleh Elex. Padahal dilihat dari ujung dunia manapun, murasaki itu artinya ungu. Dia membela diri, awalnya dia menerjemahkan sebagai mawar ungu. Tetapi menurut editor, mawar ungu itu tidak ada di Indonesia, sehingga agar mudah dimengerti, diputuskan ganti jadi jingga saja. Toh jingga mirip dengan ungu, katanya... BUTA WARNA KAH?
Sudah jelas warna ungu itu adalah campuran dari merah dan biru, sedangkan warna jingga adalah campuran dari merah dan kuning, tidak ada tawar-menawar. Mirip apanya!!!

Sebuah keputusan yang sembarangan. Bukankah warna ungu itu dipilih oleh pengarang justru karena kelangkaannya di tahun 75-an (saat manga tersebut dimulai), membuat sang mawar sedemikian berharga mahal dan istimewa sebagai pusat cerita.
Di tahun 90-an (saat manga ini mulai diterjemahkan ke bahasa Indonesia sedangkan kelanjutannya mulai tersendat di negeri asal), mawar ungu sudah lumayan menjadi barang obralan di mana-mana. Saya sendiri sering melihatnya di pasar kembang dan kota bunga.

murasakinobara





(Gambar dari flickr kikij)







Seandainya, ada pendapat bahwa judul bab "Bayang-bayang Jingga" terdengar lebih berima daripada "Bayang-bayang Ungu", maka seharusnya tindakan itu disertai usaha penggantian warna dalam semua gambar sampul ataupun sisipan yang melukiskan mawar ungu sebagai latar belakang sosok Hayami Masumi.

Lalu saya usulkan, agar aman gunakan istilah mawar lembayung saja. Bukankah lembayung adalah bunga berwarna ungu (hyacinth), sedangkan di dalam kamus dia juga bisa berarti jingga.
Lembayung adalah satu-satunya penghubung warna ungu dan jingga, karena ia menjadi kosakata yang menggambarkan warna langit saat fajar menyingsing dan senja menjelang: Ungu bersemburat jingga.

"Hee, yah tapi 'mawar lembayung', kedengarannya tidak enak 'kan?"

Siapa bilang tidak enak! Inilah kesalahan para penerjemah bahasa Jepang, di saat mereka fasih dengan aiueo kakikukeko yang kaku, mereka tidak sempat menghargai keluwesan bahasa Melayu-Indonesia sendiri.

masumimawarBayang-bayang Lembayung

Kurang liris puitis apa coba.
Apalagi, warna ungu (ataupun lembayung, kalau setuju pakai istilah ini) adalah suatu pengungkap suasana hati melankolis si Hayami Masumi. Kesalahan penerjemahan merusak suasana tersebut: Jingga adalah warna yang panas, penuh semangat.
***

Purple Rose Theatre: Kelompok sandiwara di Amerika.
Mungkin berafiliasi dengan Kitajima Maya yang kabur keluar negeri...

Purple Rose of Cairo: Film yang disutradarai Woody Allen.
Satu dari seratus film terbaik sepanjang masa edisi majalah Time.

Mawar Ungu Galaksi Virgo: Ketika langit terbelah.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? O:-)


= roses are (sometimes) red, but violets are (not really) blue =

biancarosaMawar ungu masih bisa muncul dari kawin silang, sementara mawar biru masih nyaris mustahil diperoleh tanpa rekayasa genetika yang tepat untuk penyesuaian derajat pH dan penyuntikan pigmen biru delphinidin.


Cakrawala Pikiran Rakyat: Mawar Biru

CSIRO Australia: Penelitian Mawar Biru Pertama Dunia (masih ungu)

Blue Roses: Sajak Rudyard Kipling mengenai mawar biru


***

sweetcandyBtw on the way busway, saya sendiri suka ungu, tapi selalu heran mengapa banyak yang menyanjung pria yang berungu-ria seperti si Hayami Masumi ataupun bapak bermotor ungu dulu itu.
Selain itu memang saya tidak menikmati romantisme bunga mawar, entahlah itu biru, ungu, jingga, kuning, putih ataupun merah jambu.

Tentu saja bagi saya masih lebih menarik hijaunya pelepah bambu...

=== stat rosa pristina nomine, nomine nuda tenemus ===

Sabtu, 25 Februari 2006

Kurenai Tennyo

tenjinsannoharu

Entah mengapa, pohon ume mendapat peringkat ketiga dalam budaya Jepang, setelah Cemara dan Bambu (shou-chiku-bai).
Awal musim semi Kyoto disemarakkan oleh bunga ume yang berwarna aneka nuansa warna merah muda sampai putih. Tempat paling menarik untuk menikmatinya, terletak di Kitanotenmangu, yang setiap tanggal 25 Februari menyelenggarakan Baikasai (festival ume).


kurenaiume
Sambil memandangi hamparan pepohonan ume yang sedang mekar-mekarnya berbunga, pengunjung bisa menukarkan potongan tiket untuk secangkir teh hijau dan sepotong kue di salah satu sudut taman, atau membayar lebih demi menikmati upacara minum teh.

Tiap bulan tanggal 25, kuil ini juga menyelenggarakan bazaar Tenjinsan, maka hari ini pun bisa sekalian berputar-putar seharian penuh di sana, mengagumi barang loakan antik murah meriah.

umeboshi
...
Selain bunganya, buahnya yang sudah dijadikan asinan, Umeboshi, merupakan santapan sehari-hari penambah vitamin di Jepang. Biasa diletakkan di tengah nasi dalam bento, menampilkan lambang khas Jepang: Hinomaru.

umenishikikoji
Karena gemar mengulum rasa asam, saya menobatkan umeboshi sebagai pengganti asam jawa, asam kandis ataupun asam sunti. Saat belanja pun selalu mengasyikkan, mampir di pelosok pasar tradisional "Nishiki" di pusat kota Kyoto, tenggelam dalam suasana.



sumomomusume
Sekadar tambahan informasi gak penting:
Ume, biasanya diterjemahkan sebagai plum, sebenarnya sejenis aprikot. Plum sendiri di Jepang disebut lain lagi, sumomo.
Foto di samping ini, Sumomo Musume, gadis bayi penjual (???) buah plum di pedalaman jalur sutra Urumqi yang dikirim oleh salah seorang mantan murid bahasa Indonesia saya...


kurenaitennyo
Kebetulan pohon ume kini sedang beken sebagai perwujudan Dewi Perdamaian (semacam Kannon/Kwan-Im) dalam karya Noh kontemporer Bidadari Merah, yang diturunkan dari komik Topeng Kaca.
Pemerannya juga bernama-panggung "Umewaka"...
Dasar dari hutan bunga ume merah yang disebut dalam kisah ini kira-kira terletak di pelosok Nara.
When Manga meets Noh;
A touch of Takarazuka extravaganza

Sabtu, 21 Januari 2006

FAQ Bidadari Merah

Sebagai salah satu neverending story manga yang cukup fenomenal, saya sudah pernah membahas dalam bambumuda: FAQ Topeng Kaca (yang owtch, menjadi posting paling laris di blog saya selama setahun kemarin! Setiap saat pasti ada saja yang mengakses... Masih tenar ternyata komik ini).

Maka inilah info terbaru: Sang pengarang, Miuchi Suzue sedang terlibat menyutradarai proyek spesial: Pentas Noh Bidadari Merah, live action!!!

nohgarakameAkan diselenggarakan pada

Hari/tanggal :
@ Jumat, 24 Februari 2006
---jam 13.00 dan jam 6.30,
@ Sabtu, 25 Februari 2006
---jam 13.00

Tempat :
Kokuritsu Nourakudou,
Tokyo-to Shibuya-ku
Sendagaya 4-18-1

Sejak 9 Januari, tiket sudah dapat dipesan lewat telepon
(+81)-570-03-3333,
jam 10 pagi - jam 3 sore.


tennyodukaInilah kesempatan Miuchi Suzue mewujudkan idealismenya mengenai kehidupan panggung yang selama ini tertuang di atas lembaran kertas ke dunia nyata panggung dengan diperankan oleh manusia sungguhan.
Maka tentu gerakan ini patut didukung sebagai salah satu studi banding beliau demi dapat melanjutkan karya yang telah lama terkatung-katung ini; usaha untuk membuktikan segala teori Ketuhanan yang selama ini beliau rumuskan dalam komik dan beliau ceramahkan berkeliling selama jeda penerbitan yang menahun.

rokuroMelihat dokumentasinya, secara artistik busana yang disiapkan memang mewah.
Tapi… tralala trilili trululu, yang berperan sebagai Bidadari Merah, KAKEK-KAKEK bow!!!
Seorang seniman profesional Noh, bernama Umewaka Rokuro.

Aslinya Noh yang adatnya mengakar kuat di Jepang, memang gak ada tuh pemeran perempuan. Lha, jadi, pentas Bidadari Merah yang sesuai dengan komik, yang diperankan oleh ibu Tsukikage Chigusa (a.k.a Mayuko) itu, bentuknya apa dong kalau bukan Noh? Yahahahaha pasti ini problematika posmodernisme dah, gubrag.

plummerahGarakame memang telah mengalami lintas generasi yang cukup drastis:
Berawal dari masa di mana komunikasi dengan telepon umum masih digambarkan secara romantis, sampai ketika kini tokohnya bertelepon genggam, yang ada kamera dan gps pula:
Berawal dari masa di mana norma-norma sosial masih cukup dipegang teguh, sampai ke masa di mana tema perselingkuhan yang dibanggakan atas nama cinta, pertunangan yang dibatalkan, atau kabur dari altar pernikahan ala The Graduate-nya Dustin Hoffmann, semua menyampah di novel, komik, film, dan dorama musiman Juni atau Desember... di mana kebimbangan salah seorang tokoh bahwa "ceweknya 11 tahun lebih muda" itu, selain hanya mengulang romantika Genji, sesungguhnya sama sekali tidak revolusioner dibandingkan kisah manga lainnya, yang menampilkan cewek dewasa berpasangan dengan cowok seumuran SD, dan seterusnya.

Bagi penggemar yang masih penasaran atau berniat mengumpulkan gambarnya, sila mengakses dan download langsung dari situs resminya, Olive-no-happa (Daun Zaitun).
Oya, bahkan ada character goods Hello Kitty Garakame version segala! Yare-yare, apa saja lah asal bisa dijual.

Juga ada rubrik baru wawancara, penggemar dapat mengirimkan berbagai pertanyaan untuk masing-masing tokoh komik, atau sang pengarang sendiri (selama BUKAN mengenai kapan lanjutannya terbit, soal itu sih gak bakal dijawab, pasrah saja lah hay):
Beberapa masalah gak penting yang sudah dijawab, antara lain...

Tanya: Apakah rambut pirang Ayumi-san dicat? Soalnya saya juga mengecat rambut pirang.
Ayumi: Apakah terlihat pirang? Sebenarnya bukan pirang, melainkan coklat pucat. Ini warna rambut asli, tapi kadang-kadang saya mewarnai juga, untuk perawatan saya serahkan ke salon. Rambut kamu pirang? Pasti bagus yaaa.
(nb: jadi ingat di komik CH, si Saeba Ryo protes terhadap generasi muda Jepang yang rambutnya warna-warni ala komik, kalau dia sih setia sama hitam... red)

Tanya: Dari komik, Hayami-san terlihat sebagai perokok berat yah. Saya paham kalau pekerjaan dan gaya hidup anda menimbulkan stress yang cukup berat. Namun, demi para pembaca penggemar anda, demi tunangan yang bertubuh lemah, dan demi orang yang anda dukung seumur hidup secara diam-diam dari balik layar, apakah tidak ada rencana untuk mengurangi jumlah batang yang dihisap?
Masumi: Terima kasih atas kekhawatirannya. Anda berbicara seperti Mizuki-kun, sekertaris saya saja.
Yah dulu sih bahkan cerutu pun pernah saya hisap, tapi akhir-akhir ini saya usahakan untuk tidak melakukannya lagi. Dan tidakkah anda perhatikan, kalau sejak jilid 30 saya telah mengurangi rokok? Hanya saja memang di akhir jilid 42, saya perlu merokok lagi untuk menenangkan hati...


Selain itu ada jawaban tentang gaun hitam Tsukikage sensei, kemajuan Genzo sebagai pemeran panggung, di mana mawar ungu bisa diperoleh, nama kecil sekertaris Mizuki, asal-usul dan keadaan keluarga Rei, nasib Norie yang menjerumuskan Maya di kisah lalu, dan lain-lain... Lumayan menghibur lah.

Olive no Happa / Daun Zaitun



Sabtu, 25 Desember 2004

FAQ Topeng Kaca

Setelah dinanti oleh para penggemar setianya dari sejak remaja sampai keburu jadi nenek-nenek beruban, Topeng Kaca 42 versi asli Jepang (yang entah akan diterjemahkan di Indonesia sebagai Bidadari Merah 9 atau sesuai dengan subjudul bahasa Jepangnya, Kedua Akoya 1), akhirnya terbit...

Dan inilah penjelasan yang paling pantas menjawab rasa penasaran yang sudah sering ditanyakan teman-teman sampai bosan mendengarnya: "Mengapa sampai sedemikian lama?" ...
Miuchi Suzue mengalami krisis ketuhanan.


Miuchi Suzue, seorang veteran Mangaka, sudah cukup dikenal dengan cerpen-cerpennya sebelum kemudian di tahun 1975 meluncurkan saga panjang Garasu no Kamen, kisah perjuangan para pemain drama menapak jalan menuju panggung pementasan dibalut ketegangan antara persaingan bisnis dan ketulusan cinta.

Kelanjutan cerita terkatung-katung pada penggambaran konflik asmara antara Bidadari Merah (semacam perwujudan Kwan-Im /Kannon) dan Isshin sang pemahat (teladan manusia sejati sesuai ajaran Buddha). Singkatnya, lakon ini mengangkat sinkretisme dua ajaran yang sangat berpengaruh dalam keagamaan Jepang, Buddha dan Shinto ke atas panggung.

Dan masing-masing berusaha berperan sebagai... [Tuhan]...
dalam segenap perwujudannya...
[alam semesta raya]... dan [berhala]...

Sang Pengarang sendiri, mungkin dalam penelitiannya baik di lapangan maupun terhadap bahan-bahan kepustakaan menemukan beberapa pemahaman terhadap agama di negaranya sendiri yang tak dapat diungkapkan melalui lakon-lakon di Topeng Kaca, dan berusaha menyalurkan konsep-konsep tersebut melalui media lain, sehingga terbitlah komik Sci-Fi, Amaterasu (Dewi Matahari), dengan sangaaaat hati-hati mengingat sensitivitas tema religius (buktinya dalam rentang waktu 20 tahun, hanya terbit 4 jilid dan sejilid bangaihen).

Selain itu, demi memuluskan jalan cerita dan logika yang ingin ia sampaikan, lanjutan Topeng Kaca sejak bab 10, Fuyu no Seiza (episode "Gugus Bintang Musim Dingin", kalau di Indonesia terbit dalam beberapa judul terakhir "Sejuta Pelangi") beliau memutuskan untuk menggambar ulang draft komiknya yang sudah pernah dipaksakan terbit mingguan di majalah shojo-manga "Hana-to-yume" era 90-an.
Dilakukanlah koreksi gambar dan dialog sedikit demi sedikit sampai pada satu titik berubah total juwauuuuuuuuuuh terutama di nomer 41 kemarin, ada adegan a la Tanabata segala.

Mungkin yang selanjutnya akan bertahan, hanya plot utama:
Maya sempat kehilangan raison d'etrenya karena perubahan sikap Murasaki no Bara no Hito alias Mawar Jingga (sebenarnya sih, Ungu); Ayumi akan berjuang melawan kebutaan; dan Hayami Masumi mengambil keputusan tak terduga demi kelangsungan pementasan...
Perbedaan-perbedaan tersebut bisa dibandingkan di
fansclub Garakame ini
(sayang kabarnya akan ditutup pertengahan tahun depan).

Walhasil, sang tankoubon hanya bisa mengejar waktu setahun sekali, dan tersendat lama karena beberapa kali dirombak oleh sang pengarang, akhirnya terbitlah nomer 40 tahun 1993 dan nomer 41 tahun 1999: rentang 5 tahun! Dalam selang waktu ini, para fans hanya terhibur oleh drama serial tv yomiuri 1997 yang dibintangi si imut Adachi Yumi, dengan didukung alunan OST karya B'z: Calling, dan beberapa jilid video animasi yang terbit menyambut milenium.

Dan entah karena media komik belum cukup memuaskan misi keagamaan beliau, apalagi prihatin dalam menghadapi berbagai bencana alam, Aum Shinri Kyo, dan segala bentuk krisis kepercayaan yang melanda Jepang, tersebutlah beliau pun mengelola organisasi

Kegiatannya: karyawisata ke situs religius bersejarah, terutama di daerah asal-usul pembentukan Jepang yang berkenaan dengan kultus Amaterasu: Yamato (seputar Isei-Nara Jepang Tenggara), dan tampil dalam berbagai ceramah dan diskusi, dengan tekad menggali dan menampilkan kembali mitos-mitos Jepang Kuno yang menjadi dasar kepercayaan Shinto, mengembalikannya ke dalam desah nafas sehari-hari para murid. Tak lupa beliau juga menciptakan sendiri lagu-lagu puja-puji yang dimainkan oleh seniman-seniman terpilih.

Kemunculan yang ditunggu-tunggu mungkin mengecewakan, karena berkutat di penampilan lakon tradisional Jepang, sehingga tidak dekat di hati kaum modern. Namun dalam jilid terbaru ini, Sakurakoji mengambil tindakan yang sangat bercirikan "remaja Jepang masa kini" dengan kamera telepon genggam (yang dikecam oleh para fanatik jetlag dengan jilid sebelumnya yang seakan berada di dunia gaib).

Setidaknya, perubahan dari rensai yang dulu pernah terbit di majalah, cukup signifikan meredam melodrama telenovela berlarut-larut...
Dan kembali kepada pemahaman ketuhanannya:
"Apakah kau percaya akan adanya dewa-dewi dan alam gaib?"
"Tidak..."
"Tentu saja, karena tak ada satu pun di antara kita, termasuk aku, yang pernah melihatnya. Tapi tugas kalian dalam pentas kali ini adalah, membuat penonton percaya! Tak perlu memaksakan diri untuk percaya, namun ciptakanlah oleh diri kalian sendiri. Itulah gunanya imajinasi. Dengan begitu, keberadaannya di atas panggung bisa punya realita."