Tampilkan postingan dengan label kenang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2022

Darah itu Merah

Dua minggu lalu, saya ditolak.
Pedih walaupun hasilnya bisa ditebak. Sebenarnya saya sudah maklum tidak memenuhi syarat, dan hanya datang untuk cek kesehatan, sehingga tidak berencana mengajukan diri, tapi didorong oleh Ndew sebagai pejabat keluarga alumni untuk tetap mendaftar. "Yang penting ada niat berpartisipasi. Siapa tahu boleh. Kalau memang tidak layak nanti juga tidak bakal lolos penyaringan, saya pun lolos karena boosting bit, kurma, buah naga," katanya. Memang, begitu melihat pergelangan tangan saya yang terkena CTS memar-memar masih dibebat, Dokter melarang saya menambah pegal lengan. Cewek-cewek lain juga ditolak, antara lain karena kadar Hb rendah, atau dianggap kelelahan sehabis lari pagi ngos-ngosan.
Tapi Moskow diterima.
Dia menyatakan habis bergadang tapi sudah sempat tidur pagi sehingga masih jumawa. Padahal ternyata itu akibat jetlag sepulang mengantar misi perdamaian di Afrika. Di formulir donor darah, jelas-jelas ada pertanyaan apakah pernah keluar negeri dalam setahun terakhir, dan secara khusus ditanyakan juga apakah baru dari Afrika. Pastinya dia sengaja mencentang "tidak" di semua baris pada saat mengisi, karena tidak mungkin ada dokter yang mengizinkan dia lolos penyaringan jika centangnya berada di kotak "ya". Barangkali sengaja demi meramaikan kegiatan teman seangkatannya.
Donor darah di almamater.
Konon besoknya dia tumbang, masuk RS yang tidak terbiasa menangani kasus malaria ganas, dan tadi malam dia berpulang.


Menurut Selvy, pekerja yang pulang dari Afrika pasti dibekali test kit dan pil serta diberi cuti untuk karantina. Mereka dapat menguji sendiri sehingga jika ada indikasi penularan dapat mencegah dan mengobati sejak dini, begitu demam langsung minum pilnya. Apakah petugas logistik lalai membekali? Atau Moskow lalai melaksanakannya demi pulang ke Bandung menemui keluarga dan teman-teman? Seandainya dia tidak bergadang lalu donor darah, mungkinkah tubuhnya cukup bugar untuk melawan penyakit yang menggerogotinya?
Seandainya tidak mampir ke sekolahan, mungkin saya juga tidak akan sempat bertemu dia lagi. Dia masih sempat menyapa saya sebagai instruktur galak dalam kenangan (padahal saat diklat angkatan dia, saya hanya pelengkap penderita yang bertugas sebagai utusan danlap dan pengawal lari, tidak kebagian posko, tidak mengangkat suara sama sekali). Saya pun sempat menceritakan kedudulan tiga orang polisi milenial yang minggu sebelumnya membayar pesanan Airbnb ke rumah saya untuk dinas di Bandung tapi di hari H-1 disuruh atasan menginap di mess polisi.
Padahal kami semua tentu mengandalkan dan menaruh harapan kepadanya sebagai calon pemimpin polisi masa depan (?) Kami berkumpul tepat setelah tragedi Kanjuruhan bergulir, soal kasus Kadiv Propam masih menjadi topik yang tidak habis-habis dibahas.
Dan ketika tiba giliran dia donor darah, saya pun ikut yang lain, menyemangatinya tanpa menyadari konsekuensi yang menyertai. Sampai berfoto bersama!

Mungkin memang perilaku KKN ini perlu diredam selamanya. Kalau bukan teman sendiri, saya bakal curiga jangan-jangan dia juga merupakan bagian dari lingkaran kriminal terstruktur berkedok penegak hukum pengayom masyarakat. Secara dia sudah pernah menjabat Kapolres di pelosok dan sepulang dari Afrika bertugas di Mabes Polri.
Barangkali mampir ke sekolah dan berjumpa teman-teman lama membuat dia kembali ke masa-masa saat menjadi nakal, melanggar peraturan kaku tidak masuk akal, adalah suatu keniscayaan demi menempa pribadi yang kreatif.
Namun, kali ini yang dilanggar adalah prosedur operasi standar kesehatan dan keselamatan diri sendiri. Jika itu saja diabaikan, bagaimana kita berharap prosedur operasi standar untuk menjaga dan melindungi masyarakat bisa diterapkan?
Konon darahnya sudah ditarik dari peredaran, tapi bagaimana jika tertukar dan menularkan ke orang lain? Sepatutnya PMI memboikot sekolah kami sebagai putra-putri harapan bangsa yang nekad melakukan kelalaian berbahaya (?)

Tapi siapa tahu andaipun kelalaian itu tidak terjadi, maut tetap menjemput. Barangkali dia merasa ajal sudah dekat sehingga memilih mengucapkan perpisahan melalui tindakan gila yang tak dapat terlupakan. Barangkali kehendak Tuhan menghindarkan dia dari badai yang mengombangambingkan lembaganya.
Teman-teman seangkatannya mewanti-wanti saya bahwa tertular wabah dalam mengemban tugas negara berarti mati syahid. Semoga dia mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.

Ini adalah panggilan untuk bangun.

Semua kita perlu tekun mengawal revolusi mental kepolisian.

Sabtu, 17 September 2022

Tetaplah dalam jangkauan

Saya ingin melarang berangkat 
tapi saya tidak berhak mematahkan semangat. 
Semua harus punya kesempatan untuk melebarkan sayap. 
Saya hanya bisa berjanji untuk mempersiapkan tempat kembali. 
Agar ke mana pun terbang, kemarilah pulang. 
Saya ingin memiliki namun saya tidak boleh mengekang. 

Kamis, 23 Juni 2022

Esok tak pernah Mati


Gambar ini saya corat-coret dengan bolpoin pilot biasa, seperempat abad yang lalu saat masih remaja culun galau, pelampiasan sehabis mampus ujian Matematika yang susah muntah di sekolah bahasa persiapan kuliah. Meniru foto yang kebetulan muncul di sampul majalah yang tersedia di ruang santai, lalu saya pajang di depan pintu kamar untuk menyombongkan ke teman-teman seasrama 🖊️🖼️ 
Bukan selera secara khusus, hanya saja waktu masih balita, saya sering dibangunkan nenek tengah malam untuk menemani beliau menonton serial yang dibintangi orang ini, katanya mirip dengan paman saya (mungkin karena televisinya buram bersemut di masa itu 🖥️🐜😹) 
Berhubung pemerannya sedang naik daun, wajahnya dianggap sebagai standar ras arus utama holiwut masa itu yang seputar WASP. Atas saran teman-teman asrama, selanjutnya saya berusaha menggambar tokoh-tokoh ras lain yang dari Asia-Afrika (tapi ujungnya masih arus utama juga 🙈🎦🎭)  (FB)

I doodled this with Pilot ballpoint pen a quarter-century ago, back when I was still an anxious innocent (?) teenager, to overcome an existensial crisis after a disastrous vomit-inducing Math exam just around summer solstice at the college preparatory Japanese language school. I imitated a photo on a magazine cover available in the lounge then installed the drawing at the door of my dormitory room to brag off to my neighbors 
He was a favorite of my grandmother who used to wake me up around midnight when I was still a toddler, to accompany her to watch the tv series starring this person as she thought his face was similar to my uncle (maybe because the television was blurry at that time) 
Move forward to my prep days his fame was on the rise, becoming standard of the mainstream WASP race, so on the suggestion of my dorm mates, the next project I tried to diverse by drawing other prominent figures from Asia-Africa background for a challenge (but in the end they were still mainstream too, weren't they) 


Hari berikutnya, seorang tetangga asrama dari Hungaria menyelipkan kliping koran bergambar orang ini dari dompetnya (?) meminta saya menggambarnya. Ukurannya lebih kecil dari telapak tangan saya ✋💂   
Kali ini, saya tidak akrab dengan raut wajahnya karena belum mengikuti serial televisi yang dia bintangi. Saya berjuang untuk menelusuri ikal rambut, lengkung alis, cibiran bibir, dan kemudian menyerah pada kerut dahi. Ternyata saya belum menguasai seni wajah cemberut 😾🎨 
Saya menganggap ini belum selesai karena saya hanya menggambarnya dengan pensil keras pucat dan masih belum puas dengan kerutannya. Sungguh tersiksa untuk mengakui kepada tetangga kamar saya bahwa saya tidak mampu memenuhi permintaannya 🙈😿  
Untungnya kamera masa kini membuat garisnya cukup gelap untuk terlihat rapi sekarang 📷📝  (FB

The next day, one dearly neighbor slipped a small newspaper clipping of this guy from her wallet (?) to my hand and asked me to draw him. The picture was smaller than my tiny palm 
This time, I was not familiar with his features since I have not watched any of his series at all. I struggled to comprehend the frizzy hair, the curly eyebrows, the sneering lips, and then gave up at the wrinkling forehead. Apparently I haven't mastered the art of frowning  
I considered this unfinished since I only drew it with a pale hard pencil and was still not satisfied with the frown. It was tormenting to admit to her that I could not fulfill her request  
Fortunately the camera made the lines dark enough to be presentable today 

Beberapa bulan kemudian, karena sudah mulai adaptasi menonton drama Jepang, saya mengenal yang ini. 
Menurut keluarga asuh saya saat itu, dia ini orang paling beken sekampung. Jadi terdorong untuk bikin ini buat pajangan pengusir nyamuk menggantikan babang jimbong di depan pintu asrama. 
Mengarsirnya jauh lebih santai, masih sempat hupas-hapus di tengah suasana syahdu menyambut musim gugur 🍁🍂 
Lalu pernah dipakai untuk pengamatan golden section di kelas pengantar gambar teknik ✍🏾📐 
Saya sangka ketinggalan di lab sebelum pulang, ternyata terselip belasan tahun di antara berkas-berkas administrasi. Sudah bulukan akibat panas dan lembap 😿🌦️ 
Gara-gara ucing saya si Kumi mau lahiran sebelum lebaran 2019 saya membongkar kardus, terpaksa isinya disortir, eh ketemu deh. Bayi-bayinya jadi harus dinamai Kimu, Muta, & Taku 🐈🌟 (IG)

A few months later, because I started watching Japanese drama adaptations, I got to know this one.
According to my host family at the time, he was the most famous person in the country. So I was compelled to make this for a mosquito repellent display to replace uncle jimbong in front of the dorm door. 
I was more relaxed hatching this, with enough time to erase and replace in the midst of the serene atmosphere of welcoming autumn   
Then it was used for observing the golden section in the introductory engineering drawing class  
I thought I left it in the lab before going home, but turned out it was tucked for a dozen years in between the administrative files, feathered due to heat and humidity   ️
Because my cat Kumi was about to give birth before Eid of 2019, I unpacked a cardboard box, I found this when sorting the contents. The babies then have to be named Kimu, Muta & Taku 


#ballpointpendrawing #gambarbolpen #pencildrawing #gambarpensil 
#piercebrosnan #jamesbond007 #remingtonsteele 
#theworldisnotenough #tomorrowneverdies
#willsmith #thefreshprinceofbelair #kimutaku #kimuratakuya #takuyakimura 
#collegeprep #sketsawajah #coratcoret #portraitsketch #sketsapotret
#スケッチ #ペンシルスケッチ #鉛筆画 #鉛筆スケッチ 
#ペンスケッチ #ボールペンスケッチ #筆画 #ボールペン画
 #顔でかい #似顔絵 #人物画 
#ピアースブロスナン #ウィル・スミス #キムタク #木村拓哉 

Rabu, 22 Juni 2022

Teman Sebangku

Subuh tadi N, teman sebangku saya SMP kelas 2 semester 3, berpulang ke rahmatullah, tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya.
Saya ingat orangnya cukup ambis, selalu sibuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan dan ujian, ketika saat itu saya masih dalam moda santai, baru saja mengalami layang puntir di kelas satu, dari malas hadir sekolah sampai mendapat peringkat pertama bintang kelas di akhir tahun ajaran. Barangkali karena tidak senada seirama itulah kami pun bertukar pasangan di semester 4.
Sejak kenal dengan saya, dia sudah berjilbab dengan rapi, termasuk rombongan awal pelopor pengguna jilbab di sekolah. Sungguh panutan.
Terakhir saya bertemu langsung adalah saat mengadakan reuni kelas 2, saat itu N sangat gembira, ditemani suami tercinta yang menjadi fotografer pribadi.

Keluarganya bahagia, kariernya tentu lancar sebagai ASN bea cukai. N juga sempat melanjutkan belajar ke Jepang. Saya agak sirik mungkin.
Padahal nomornya selalu tersimpan, cuma karena jarang muncul di media sosial saya lalai menyapa rutin via japri.
Saya hanya sempat berbalas pesan semangat ketika diberi tahu oleh Umar bahwa dia sakit dan sudah keburu parah. Saya baru memesan pratistha untuk ibu saya dan membeli juga untuk N, sedang berpikir bagaimana mengemas dan mengirimkannya sekalian sebagai hadiah ultah, ketika kabar duka itu tiba.
Karena pemakamannya di sore hari kerja di ujung dunia, dari teman SMP sepertinya hanya saya yang menyempatkan hadir, sedih sekali bahwa hanya ini yang bisa saya lakukan di saat terakhir.

Jadi ingat teman sebangku saya yang lain, D, di SMP kelas 1 semester 2. D adalah salah satu pemicu titik balik layang puntir yang saya sebutkan itu, selain adanya pelajaran Seni Rupa. Menjadi sekelompok belajar dengan D (dan A) saat itu membuat saya mulai menikmati sekolah yang tadinya terasa membosankan. Tugas-tugas yang tidak penting dikerjakan bersama dengan gembira.
Lalu saat naik kelas kami ikut ekstrakurikuler silat entah-entah yang pendirinya baru meninggal awal tahun ini. Namun tak lama, D segera berpindah aliran ke PD. Dengan kelas yang terpisah, tidak ada lagi kesempatan kami berhubungan. Saya ingin mengajak mengobrol tapi tidak tahu harus mulai dari mana karena saya malu. Saat SMA, D punya pacar pula, ke mana-mana berdua. Saya makin segan bertegur sapa jika berpapasan.
D menikah setelah lulus kuliah dengan pacar SMA-nya namun meninggal kanker yang terlambat diketahui, karena sakit perutnya terasa ketika sedang hamil. Anaknya lahir selamat, namun tak lama D berpulang. Anaknya kemudian dicarikan ayahnya ibu tiri, adik kelas 5 tahun di bawah yang merupakan anak dari Guru Fisika saya. Dia memperoleh banyak adik, dan sang Ibu berkiprah membahas pengalaman sebagai orang tua menyelenggarakan sekolah rumah.

Daftar teman sebangku akan dilengkapi kalau ternyata ada yang terlewat.
Pertama kali punya teman sebangku adalah dengan S. S ketua kelas 2 SD, orangnya sangat berjiwa kepemimpinan menyambut anak baru. Dia mau saja adlib menemani saya menyanyikan lagu yang sebenarnya impromptu diciptakan di tempat: "hujan di hari yang mendung sungguh deras membasahi bumi, lihatlah oh kawan lumpur berserakan di jalan".
Lalu saya sebangku dengan L, cucu kepala sekolah yang rambutnya panjang tergerai. Saya tidak tahu di mana dia sekarang.
Sebentar kemudian saya loncat kelas dan sebangku dengan cowok, Z, yang sampai sekian waktu lalu saya salah ingat nama. Dia sudah menjadi seniman musik, sudah menikah tiga kali.
Naik kelas lagi saya sebangku dengan K cowok yang cukup cerdas, utusan senam pagi sekolah, sempat jadi bankir lalu tobat berjuang menegakkan ekonomi nonriba.
Kemudian ditukar dengan I, preman kampung yang sabar kalau saya gebukin karena saya anggap nakal. Duh maafkan ya.
Masuk SMP saya sebangku dengan Y. Y anak yang sangat vokal, sehingga mungkin menjadi penyebab saya terdiam. Terakhir jumpa sesaat di dekat rumah saat beda SMA dia bersama rombongan teman. Lalu ketemu lagi setelah sekian lama dengan Y lewat Medsos, sempat membantu saya memberi penyewa rumah sesaat, lalu kami pun ikut menjadi panitia menyelenggarakan beberapa kali reuni. Dia sempat bercerai karena diabaikan oleh suami, namun sudah memperoleh pasangan baru. Anaknya tampaknya cukup manis sehingga dia tidak terlalu kerepotan.
Karena saya sering bolos, Y pindah ke lain hati. Saya pun kebagian sebangku dengan W yang baru pulih dari sakit. Dari dulu anaknya sibuk sendiri, sehingga dengan saya yang mendapatkan medali juara terdiam di kelas, kami diam-diaman saja. Ketika hendak reuni, bingung karena tidak ditemukan di medsos. Saya mengontak kakak dan adiknya yang punya nama keluarga sama, akhirnya mendapatkan nomornya, namun belum pernah sempat ketemu di reuni, barangkali dia tak berminat hadir.
Setelah bersama N, di semester 4 saya sebangku dengan R, anak baru pindahan yang merupakan anak guru Bahasa Indonesia. Kami tidak begitu akrab, tapi cukup saling mendukung keseharian di kelas. Seharusnya saya menjalin lagi persahabatan lebih erat setelah lulus dan reunian.
Kelas tiga, saya sebangku dengan teman sekelompok belajar kelas dua, T. Agak keder sama T karena dia ditaksir banyak orang dan sibuk menaksir orang lain lagi. Dia ini bintang iklan sabun semasa bayi, berarti jauh lebih dulu tampil di koran dan majalah daripada saya yang baru tenar setelah menjelang usia 7. Karena ketertarikannya lebih ke hal-hal duniawi, kami bertukar pasangan di semester terakhir.
E anak yang ceria, banyak tersenyum dan cukup membuat saya terbuka untuk cerita apa saja, ultah kemarin. Kini bersama keluarganya membuka studio foto.
Kelas 1 SMA semester 1, saya sebangku dengan saingan saat SMP kelas 2. B adalah anak yang sangat berbakat, gambarnya pun bisa bersaing dengan saya. Dia sedang dalam pencarian tentang Tuhan dan kebingungan menyelaraskannya dengan kegemarannya akan artis idola. Waktu naik kelas, serombongan menemani dia menonton film terakhir yang akan dia tonton sebelum berjilbab katanya. Setelah beberapa kali kongkow gaje, waktu reunian saya seret untuk ikut menjadi perwakilan angkatan, tapi dia sibuk mengurus anak banyak.
Semester 2 saya bertukar pasangan jadi sebangku dengan J, yang punya komputer dengan gim Prince of Persia. Betapa sulitnya menahan keinginan menumpang main di tengah mengerjakan tugas kelompok. Terakhir ketemuan waktu reunian itu sudah 6 tahun yang lalu. Kariernya bagus, anaknya lucu, saya tidak tahu tentang kabar suaminya.
Kelas 2 dan 3 saya awet dengan F, anak pindahan waktu kelas 1, anak guru fisika yang kebetulan tidak kebagian mengajar saya. Dia sengaja bertukar kelas dengan teman seangkot saya, A, alasannya karena A tidak mau sekelas dengan AB. F setuju karena di kelas awal dia tidak punya kenalan sekelas. Entah bagaimana kelas kami banyak teman sekelas kelas 1 termasuk AB. Sebelum pandemi saya sempat ditraktir makan di mal bersama F oleh juragan kelas kami. Saat pandemi, sempat sangat cemas karena kondisi F termasuk cukup parah. Semoga F kini sudah pulih total seperti sedia kala.

Senin, 30 Mei 2022

Ayah dan Syafii Maarif

Entah ada angin apa, Pak Hamid Basyaib menyelipkan kenangan tentang ayah saya dalam obituari Syafii Maarif di Facebook kemarin, Senyum Mujahid Syafii Maarif. Ayahnya Fira dan Ary juga disebut. 

Barangkali ada yang mencoleknya untuk ikut memenuhi permintaan saya dalam pengumuman tahun lalu


"Di ruang tamu rumah Kiai Hamam Dja’far di Pabelan, kadang ada Mas Dawam Rahardjo, Arief Budiman, Aldy Anwar, Armahedi Mahzar. Dua yang terakhir adalah tokoh-tokoh ITB, yang punya persambungan dengan Pabelan karena dihubungkan dengan para aktifis Yayasan Mandiri, sekumpulan aktifis mahasiswa ITB, antara lain Sugeng dan Mochtar Abbas, orang Aceh yang kemudian jadi lurah Pabelan berkat dukungan Kiai Hamam.
Aldy Anwar adalah kerabat Haji Agus Salim yang terkenal pintar sebagai mahasiswa Fisika, tapi tidak menyelesaikan studinya, namun menekuni peluang mengembangkan helio energy (sumber matahari) sebagai bagian penting dari ambisi besarnya untuk melahirkan masyarakat yang "hemat energi, kaya nilai"."

Selasa, 10 Mei 2022

Antigratifikasi

Saat saya berusia 6 tahun kalau tidak salah, adik saya masih balita, keluarga kami berhalalbihalal ke rumah seorang arsitek adiknya Tuo (nenek saya), yakni paman dari ayah saya, di Kebayoran Baru, Jakarta.

Sepertinya saat itu abang sepupu satu-satunya tinggal di Balikpapan, sedangkan sepupu dua kali kami kebanyakan lebih tua beberapa tahun, tiap kumpul keluarga mereka selalu melipir ke ruang kerja di depan, entah membahas hiburan musik atau gim yang saya belum paham. Yang seumur saya hanya ada dua-tiga orang, masih culun-culun menempel pada orang tua masing-masing.

Ayah saya entah menyelinap ke mana mengobrol dengan saudara siapa, saya duduk manis saja termangu bersama adik saya di sofa depan televisi yang dimatikan, di tengah lalu-lalang kerabat yang bersilaturahmi.

Seorang bapak entah oom-oom atau aki-aki yang sepertinya lebih tua daripada ayah saya tapi lebih muda daripada Tuo, cengar-cengir menyapa kami, menanyakan umur dan basa-basi lainnya, lalu mengulurkan dua gepok berisi berlembar-lembar sepuluh ribuan rupiah masing-masing untuk saya dan adik saya.

Saya dan adik saya bertatapan, saling mengangguk, lalu saya mengambil gepokan yang dipegang adik saya dan menyodorkan semuanya kembali ke hadapan bapak tersebut di dudukan sofa lalu menyatakan,

"Maaf, kami tidak dapat menerima uang dari ORANG ASING ..."

Sang bapak terkejut, wajahnya sekejap pucat pasi lalu berubah merah padam, tapi karena tidak tega menghadapi anak kicik beralih mengadu kepada nenek saya, "apa-apaan ini cucunya kurang ajar, duit angpau yang saya kasih malah dilempar pakai tangan kiri pula!" Ditambah serentetan tuduhan yang tidak berdasar.

Tuo pun memarahi ayah saya. Ayah saya kecewa tidak kebagian uang sebanyak itu padahal jumlahnya lumayan buat beli baju dan sepatu baru anak-anaknya.

Beliau sedikit membela bahwa orang kidal memang nyatanya ada di dunia walaupun langka. Namun, di belakang, beliau berusaha membujuk saya untuk belajar bergerak dengan tangan kanan demi sopan-santun menghindari kecanggungan, yang tentunya saya tolak mentah-mentah.

Juga beliau mewanti-wanti bahwa di acara kumpul keluarga seperti ini pastinya tidak ada orang asing, semua ada hubungan darah, kalau belum kenal ya wajib berkenalan. Lah siapa juga yang membiarkan anaknya terlunta-lunta tersesat di kerumunan.

Coba itu keluarga bikin silsilah lengkap disertai kliping foto-foto supaya orang bisa mempelajarinya terlebih dulu sebelum menghadiri acara macam ini.

Demikianlah pengalaman kami menjadi pegiat antigratifikasi di usia dini.

Sabtu, 14 Maret 2020

Apel malam Minggu

Ini sedianya mau ditayangkan di grup bobodoran alumni lembaga terkemuka, tapi takut ada yang merasa tersindir atau salah sangka siapa orangnya biar disimpan di lapak pribadi sajalah. Untuk keamanan data pribadi kita sebut saja tokoh-tokoh yang terlibat dengan nama makanan 🍲

Pada suatu Sabtu. Ketenangan nyungsep bantal di sela magang PJKA (pulang jumat kembali ahad) ujug-ujug terkoyak oleh rencana kunjungan seseorang. Dianjurkan oleh Pak Timbel Ayam, dosennya, cenah. Mengherankan, karena saya enggak pernah sekali pun mengambil mata kuliah Pak Timbel. Zaman miciswi hanya sekali dengar pidato di gedung serba guna yang enggak berkesan, isinya kayak gak penting, wajahnya pun gak hafal. Dari mana beliau dapat kontak saya!? 🌯

Sang tamu, sebutlah dia Yamin Kuah, sedang lanjut pascasarjana. Konon lulusnya sebelum saya masuk kuliah berarti sekitar 4 angkatan di atas saya. Asal Banten, putih manis jangkung langsing klimis, rambut berombak, berkacamata, sepintas mirip Bae Yong Joon dipelintir di mesin cuci. Lebih parah daripada BYJ, bibirnya basah merekah merah jambu kayak bayi, sebelum ngetren oppa-oppa kekinian. Bagi cewek boncel kucel bibir kelabu kurang gizi, tampang GIUNG cemitu sumber kedengkian yang hakiki 🍜

Bung Yamin Kuah meminta masukan tentang … arsitektur informatika 🤯

Geh, barang apa pula itu! Adik yang alumni AR pun pasti gak ngerti. Sebagai manusia sok tahu, saya tersiksa untuk manggut-manggut saja membahas hal gelap di luar wawasan. Saya pun berusaha mengontak para mantan, barangkali si Martabak atau Lotek yang bidangnya menyerempet situ bisa memberi pencerahan? Tapi zaman sinyal 3G pun belum ada, bocoran tak dapat diperoleh cepat saji. Berhubung saya betul-betul buntu bidang itu, paling-paling bisa bantu periksa tata bahasa berkas yang diajukan, jika perlu ✍️

Sabtu depannya, masih berkunang-kunang kena jet lag naik travel yang duduknya berhimpitan kayak kaleng sarden, baru saja terbaca pesan Bung Yamin Kuah mau berkunjung lagi sudah terdengar ketukan di pintu depan. Lah kok menyelonong sebelum sempat balas. Kalau cuma mengantar berkas, 'kan bisa kirim lewat surel. Gak ada tuan rumah lain yang menyambut, pada sibuk di luar. Terkapar gak sanggup bangun, saya biarkan saja ketukannya sampai berhenti 🙉

Mestinya biasa saja, enggak istimewa kalau teman sekelas/seekskul mampir untuk kepentingan pinjam buku, konsultasi riset, atau terjemahan. Tanpa suguhan apa-apa selain air segelas, sementara ruangan berantakan belum beres bongkaran tiada akhir, rumah saya bukan tujuan yang cocok untuk tamu asing bertandang santai-santai. Lebih nyaman beredar melaba juragan-juragan di luaran. Nah masalahnya 'kan enggak tega menodong traktiran miciswa kere kongkow kafe gaul 💸

Sempat saya geer barangkali dia bermaksud taaruf. Tapi kok langsung ke rumah? Lah daftar riwayat hidup belum disetor buat pilah-pilih (kayak ikutan pengajian saja), akun medsos enggak punya. Comblangnya pun bukan kepercayaan saya. Belum terungkap irisan hobi, selera, atau lingkar pertemanan untuk bahan percakapan di luar urusan akademis. Laksana makhluk dunia lain. Jangan-jangan bakal mager kalau diseret bertualang 🧗‍♀️

Penafian, itu semata penerawangan saya lewat satu pertemuan. Mungkin orangnya hanya merendah menyembunyikan keawesomean. Tentu dia lebih berpengalaman hidup secara empat-lima tahunan lebih dewasa, sementara saya sendiri enggan mengungkit pertanyaan terkait pribadi. Naluri kepo tumpul terlindas "arsitektur informatika" dan pada dasarnya enggak tertarik secara fisik, tidak memenuhi ciri-ciri cowok idaman (yang gosong, keriting, suara rendah) 👨‍🦱

Sabtu berikutnya saya janjian dengan kawan-kawan LFM, mau menonton sekuel PotC. Muncul notifikasi dari Bung Yamin Kuah. Duh kasihan diabaikan terus, tapi malas mengajak kencan. Lagian apa dia sudi menonton dengan bukan mahram? Tapi pengikut aliran mengapel (?) akhir pekan a la tahun 80an mungkin terbuka dengan ajakan ke bioskop bareng 📽

Sedang menimbang-nimbang, saya baca pesannya berisi kira-kira,
“Besok saya ulang tahun, seperti biasa pasti kesepian, yang menyelamati setiap tahun hanya ibu saya 😊”

Jebret!
Kayak ada urat syaraf terputus di kening saya. 🌩

Saya balas,
“Wah sebaliknya, kalau ulang tahun justru harus ibunya dong yang diselamati, sudah repot melahirkan ke dunia. Nah kalau memang kepingin dirayakan ramai-ramai, undanglah teman-teman yang kenal dekat.” 🎉


Saya ingat kalimat pertama sudah tersampaikan, tapi lupa apakah kalimat kedua akhirnya dikirim juga atau batal. Yang jelas kami berhenti berbalasan setelah itu. Tidak menyesal sih pasang jarak sejak awal, tapi rasanya bersalah judes merusak silaturahmi. Padahal teman baru selalu merupakan berkah tersendiri, asalkan enggak menuntut lebih. Sialnya saat itu sebagai sampah masyarakat saya punya beban hidup yang gak bisa dibagi. Anggaplah saya menyelamatkannya dari bencana. Yang jelas, saya mengutuk Pak Timbel Ayam biang kecanggungan tersebut 👹

Apa kabar Yamin Kuah sekarang ya. Semoga dia memperoleh teman menongkrong yang menyambung, pendamping yang memanjakan, serta karier cemerlang di bidang arsitektur informatika atau apa pun.

Jumat, 14 Februari 2020

Cita-cita tiap dasawarsa

1980~

Bayi-balita: imbas dari cita-cita orang tua hemat materi energi, baju kayak enggak ganti-ganti 🤭
SD: telat masuk, tapi esai bualan berbau doktrin tentang cita-cita jadi IRT yang juga pendakwah bikin Bu Guru tersepona, segera merekomendasikan lebih cepat lulus (aksel before it was cool) 👰🏾
Cerita selengkapnya di sini: FB

1990~

SMP: bercita-cita jadi MacGyver, sayang enggak kesampaian karena beda jurusan 👨🏽‍🔧
SMA: cita-cita unfaedah main di Disneyland, dengan ajaib bisa terkabul pas kuliah 🎠

2000~

Kuliah: kepalang bukan jurusannya MacGyver sekalian sajalah ganti haluan cita-cita baru, yakni kepingin jadi pengarang komik yang insinyur, menyaingi mangaka sukses seperti Tezuka (kedokteran) dan Urasawa (ekonomi) 👩🏽‍🎨

2010~

Kerja: cita-cita jadi istri gubernur antah berantah tapi langsung batal akibat revisi UU Pemda tugas mereka semua bertambah, enggak sudi repot dah ... pokoknya keliling 34 provinsi dulu sebelum mampir Machu Picchu, saat ini kurang 10 provinsi lagi 🧗🏾‍♀️

2020~

AIGL: cita-cita recehan, kebagian kaus gratis karya artis idola 👕

Ini koleksi untuk dipajang dalam tantangan di FB AIGL.
Sebagian foto comot dari profil jaim daring aneka rupa, sebagian lagi adalah pose dandan di studio tetangga yang kebetulan belum pernah tayang di medsos manapun, berbanggalah yang sempat lihat 😹
Sekian, dasarnya narsis kalau diteruskan gak bakal habis

Minggu, 10 Februari 2013

Tiwikrama


Sandal kiri menginjak tahi ayam, sandal kanan menginjak mengkudu penyek.
Ini pasti konspirasi!
... Tapi serasa sudah menginjak dua dunia.
Kalau langkah berikutnya bisa menginjak kepala orang pasti saya TIWIKRAMA. Dikirim oleh Kanti pada 12 Februari 2013

Jumat, 30 November 2012

Bye-bye Multiply

time it was, and what a time it was, it was
a time of innocence, a time of confidences ♪♪♫
long ago, it must be, I have a photograph
preserve your memories, they're all that's left you ♫♪♪ 


Pada dasarnya sih sejak jarang mengeblog, dengan serta-merta saya juga nyaris tidak pernah mengakses situs multiply lagi. Apalagi isi sesungguhnya hanya salin tempel dari blog ini, di luar serpihan-serpihan video little mosque on the prairie yang sudah lama ingin saya ganti total menjadi berkas utuh, dan beberapa titipan musik yang sempat iseng terunggah.
Kiriman saya yang paling laris-manis dikunjungi orang di sana, hanyalah sebuah perbandingan musik "Panon Hideung" Sunda dengan lagu aslinya "Ochi Chornye" Rusia, yang diikuti oleh beberapa komentar keukeuh bahwa belum tentu lagu Panon Hideung merupakan terjemahan, siapa tahu sebaliknya. Tapi selanjutnya tidak ada penelusuran dengan bahan bukti yang cukup berisi.
Terlebih lagi, baik konsep pemilahan rubrik maupun sistem pergaulannya kurang sesuai bagi saya yang tidak mudah beramah-tamah dengan orang tak dikenal. Teman saya di sana hanya sekitar seratus, itu pun tidak semua saya kenal, sebagian besar hanya saya terima jika saya lihat komentarnya lumayan bernas atau mereka cukup giat menulis di laman masing-masing.
Makanya saya tidak mengikuti lagi perdebatan panjang-lebar di antara kalangan pelanggan setia antara rencana penyingkiran layanan jejaring sosial demi mengukuhkan sistem jual-beli online melawan kebutuhan mempertahankan basis massa sebagai sasaran pasar.
Tapi begitu muncul pengumuman layanan ini akan ditutup, saya cukup kelabakan juga. Salah satu alasannya adalah, beberapa sumber informasi komik yang handal dan tepercaya ada di sini...
Selain itu, saya sudah puas sekali dengan latar bertema Morizo dan Kiccoro yang saya olah untuk format multiply khusus. Entah kapan lagi saya bakal bisa merekayasanya untuk format blogspot, sementara format kuno Yotsuba yang sekarang saja saya belum rela melepas demi beradaptasi dengan perkembangan teknologi blog dinamis...

Apakah multiply akan melayani misalnya saya membuka toko jasa penerjemahan?

http://www.bambumuda.multiply.com

Yah, pokoknya mari nikmati saat-saat terakhir akses multiply.
Setidaknya bisa menjadi titik tolak untuk kembali merawat blogspot yang terbengkalai.

Kamis, 12 Agustus 2010

Cobaan Ramadhan #1

Mungkin, ini karma beruntun dari peristiwa-peristiwa minggu lalu:
  1. Mempermasalahkan kenapa bertelanjang kaki disebut kaki ayam, ketika kemarin membahas manga Hadashi-no-Gen. Kenapa bukan kaki monyet (berbentuk tangan?), kaki bebek (ada selaputnya?), kaki kuda (ada ladamnya?), kaki sapi (untuk disop), kaki kucing (istilah balet), kaki buaya...???
  2. Menganggap Ibunda saya kurang kerjaan ketika iseng memasang dan mengomentari lukisan satu ini.
  3. Menertawakan Pak Farid Gaban yang mengaku kehilangan MacBook Pro dua kali: satu rusak tenggelam saat berperahu antarpulau ekspedisi zamrud khatulistiwa, satu dicuri di bus antarkota saat bersiap-siap pindah ke kampungnya.
  4. Merasa diri ini cukup s.a.k.t.i sehingga tidak bakal ada copet yang tegaan, terbukti belum pernah seumur hidup kecurian barang, apalagi barang penting, yang ada hanyalah barang penting tersebut terselip ataupun rusak kena bencana alam.
  5. Juga kebetulan tiga minggu lalu, baru membahas keutamaan lari nyeker (a.l. memperlancar peredaran darah, anggap saja pijat refleksi) kepada angkatan terakhir KANST yang mengeluhkan beratnya tugas tersebut dibebankan oleh angkatan atasnya (yang mungkin sesungguhnya memang hanya berniat menyusahkan mereka, bukan karena mempertimbangkan keutamaan tersebut...)
  6. Tapi mungkin ada peristiwa lain yang mempengaruhi yang tidak saya sadari sama sekali.

D I C A R I

alas kaki saya tercinta, sepatu sandal pantai ukuran anak-anak nomor 36, warna abu-abu dengan pita merah, sol hitam-merah. Merek reebok, harga beli kortingan 270 ribu rupiah. Sudah dipakai habis-habisan setiap hari selama enam bulan terakhir di semua medan pertempuran: lari pagi, bersepeda, berkuda, lintas alam, panjat gunung, arung jeram, kelelep di sungai, berenang di laut... ke kantor, ke pasar, ke dokter gigi, ke masjid, ke mushala, ke upacara pemakaman, ke pesta kawinan, naik kereta api, naik pesawat, naik perahu, keliling Indonesia... Hilang di Jakarta pada tanggal 11 Agustus 2010, pukul 21.00 WIB, saat bubaran acara tarawihan eksklusif memperingati ulang tahun Almarhum Mantan Ibu Negara, dihadiri oleh tamu-tamu VVIP dan dijaga oleh paspampres. Saya masih berharap bahwa sandal ini tidak dicuri orang, hanya mengalami pergeseran tempat, karena saya sangat terlambat keluar ruangan, setelah karpet digulung lampu dimatikan dan pintu depan dikunci. Pastinya sepatu tersebut diamankan ke tempat lain. Selain itu mengingat ukurannya yang kecil, warnanya yang kusam penuh debu lumpur bahkan lubang-lubang udaranya masih mampat dipenuhi pasir sisa petualangan lalu, tentunya tidak akan ada yang berminat secara khusus. Perlu diketahui bahwa sepatu ini bukanlah sepatu termahal yang saya miliki, namun yang lain sedang tidak ada yang dapat dipergunakan sebagai alas kaki karena sedang jebol ataupun solnya sudah aus. Tinggal yang sepasang inilah sepatu saya yang tahan banting dan tahan banjir... Dan bahwa repotnya memilih sepatu yang pas di muka itu sama sulitnya dengan memilih jodoh; belum tentu juga model ini masih dijual di pasaran, apalagi saya harus tabah menunggu THR turun. Saya sempat kehilangan sebelah sepatu bulan November 2009, di mushala stasiun Gambir, kemungkinan terseret koper orang ke restoran seberang. Minggu berikutnya saya berhasil memperolehnya kembali berkat bantuan petugas pembersih di sana. Makanya saya yakin jika memang hak milik, pasti akan kembali, dan jika memang bukan rezeki, pada akhirnya saya akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Saya hanya berharap sepatu tersebut tidak sia-sia hilang dari hadapan saya, agar siapa yang mengambil dapat menggunakannya dengan pas dan nyaman, bukan karena tersapu masuk tong sampah karena kelalaian belaka. Omnia Mutantur, Nihil Interit. Bagi yang menemukan, mohon kabari Kanti di tempat biasa.
PS: Terima kasih kepada rekan-rekan baik di Patra Kuningan maupun yang baru kenal di di busway, angkot, dan sepanjang jalan, atas belas kasihan dan tawarannya meminjamkan sandal jepit. Namun saya pahami jika takdir menggariskan bahwa sandal saya harus hilang, berarti takdirnya saya pulang nyeker. Pada dasarnya nyeker bukan masalah bagi saya, yang masalah adalah kenyataan bahwa bagian hidup saya hilang saat ini (sungguh bukan lebay).
Semoga saja tulisan ini cukup sampai di mari, tidak bersambung lagi esok hari menjadi Cobaan Ramadhan #2 dan selanjutnya. *** UPDATE 14/08: Alhamdulillah, cobaan nyeker sepanjang hari telah berakhir, usaha menempelkan selebaran di setiap pos satpam berhasil, sepasang sandal saya telah kembali ke kaki.

Kamis, 10 Desember 2009

Hari HAM, 24 tahun lalu

Majalah TEMPO 4 Januari 1986 "Pilihan Lain: Pendidikan Di Rumah"

Baru sadar bahwa hari ini 24 tahun lalulah, saya melejit menjadi tenar sesaat.
Gara-gara diseret tampil membicarakan perlindungan hak anak bersama tukang koran dan entahlah siapa lagi itu ya. Lalu diserbu oleh wartawan berbagai media massa nasional, diliput dengan berlebihan belum tentu sesuai kenyataannya. Kenyataannya seperti apa? Akan saya ceritakan kalau sempat.

Ihihi ternyata 10 Desember ya, lupa uy. Saya kira selama ini, seminar LBH itu diadakan tanggal 23 Juli. Pantas saja mencari-cari koran dan majalah sekitar tanggal itu kok sayanya tidak tampak. Cari lagi aah sekarang...

Satu hal yang saya ingat betul, adalah bahwa saya tidak diizinkan berbicara sebagaimana yang saya kehendaki. Saya hanya boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana saja, dan pertanyaan yang sulit dialihkan ke ayah saya. Padahal moderatornya sudah saya colak-colek ketika saya ingin komentar, tapi beliau melarang.

Nah kebetulan, takdir menyuratkan bahwa sekitar beberapa bulan lalu, saya terlibat dengan sang moderator itu lagi dalam beberapa urusan pekerjaan. Beliau sudah sangat sepuh tapi masih giat. Beliau bilang kepada saya, "kamu saya perlukan untuk mengetik-ngetik saja, tidak usah berpikir..."

Ohhh trauma masa lalu kembali bergema... ;p