Tampilkan postingan dengan label kucing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kucing. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Februari 2022

Cari Nafkah


 

Ketika saya menyambi menerjemahkan Yotsuba&! di sela kegiatan yang melibatkan berbagai lapisan sosialita seputar Kemang Jakarta, sungguh kagum pada pola hidup seperti Pak Koiwai kok tampak nyaman ya. Saya pun kepingin berhenti mengantor, cukup duduk santai di rumah menerima pesanan terjemahan saja sambil menampung anak orang, lalu membiarkannya beredar (((cari nafkah))) sendiri ke rumah sebelah, diasuh para tetangga cantik ...  

Sayangnya tidak semudah itu Pulgoso!!! 
Anak-anak cepat sekali besar, belum apa-apa sudah menimbulkan masalah sebagai abege remaja, lebih baik segera dikembalikan kepada orang tuanya masing-masing. Kalau begitu sih mendingan punya anak sendiri saja. 
Tidak seperti Yotsuba, yang dalam setiap tahun hidup kita, mungkin hanya menempuh rentang waktu tiga hari sampai seminggu ... sehingga nyaris selamanya berusia lima tahun ...

Siapa sangka, berkat pandemi, ternyata gaya hidup yang diidamkan bisa juga terkabul (???) 
Hanya saja anak-anak tampungan yang beredar (((cari nafkah))) ke rumah tetangga manis adalah ... UCING-UCING saya 

***

Kalau dipikir-pikir Yotsuba&! mengandung dilema. 
Rasanya ini kisah yang bagus tentang lingkungan RT/RW yang cocok dan aman untuk anak kecil. Namun, menurut latar belakang yang disusun, Yotsuba adalah anak adopsi. Keberadaan orang tua kandung tidak diketahui. Yotsuba berarti saat ini tinggal dengan *bukan mahram*. Lalu dia akan mengajak sesama anak-anak pergi jalan-jalan bersama oom-oom mencurigakan, teman ayah angkatnya ... Apalagi Jepang punya Hikayat Genji, jangan-jangan suatu saat begitu besar Yotsuba disetel menjadi kekasih Pak Koiwai?

Bagaimanapun juga, bukankah kebanyakan kisah kepahlawanan memang didominasi oleh anak yatim piatu. Situasi tersebut mungkin membuat mereka lebih tertempa untuk "nothing to lose & everything to gain" ... 
Berbeda dengan anak yang punya orang tua masih berpengharapan dipiara disayang dimanja dan sebaliknya jadi punya beban untuk balik memiara menyayangi memanjakan ortu yang beranjak lansia, sehingga kekurangan waktu luang untuk menaklukkan dunia. 

Kemarin ada rekan yang membahas tentang doa "Tuhanku ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku waktu kecil." 
Barangkali tak terelakkan lagi bahwa menjadi orang tua itu otomatis akan penuh kesalahan dan pelanggaran, sementara begitu anaknya besar, naluri kasih sayang malah lenyap. Seperti si Kumi tidak sungkan-sungkan menggeram dan menggaplok Graci atau Kunyil ketika mereka sendiri sudah beranak pinak. 
Anak yang menjadi dewasa, setara, adalah saingan baru dalam berebut jatah makan. 

***

Namun, semenjengkelkan apa pun, titah dan sabda orang tua tidak diragukan tetap masih bertuah. Kemarin Joenia cerita betapa ortunya ingin dia masuk FK Unpad, tidak usah jadi dokter kalau repot, cukup jadi dosen, tapi dia memilih masuk Farmasi ITB. Ternyata selesai S3 holondo dan masuk jajaran 500 ilmuwan produktif Indonesia, dapat juga dia posisi dosen di jurusan incaran ortunya. 

Sementara saya, setelah bersitegang soal konsentrasi kerja yang buyar gara-gara ricuh urusan penyortiran benda-benda dan berkas seloteng akibat pengabaian selama berabad-abad, ujug-ujug Ibu saya mengalihkan pembicaraan dengan berceletuk bahwa saya sebaiknya melukis saja. 
Lahhh terus melukis apa, memangnya siapa yang mau beli??? Para penggali harta karun SDA perusak lingkungan? Mana sudi. 

Tapi tiba-tiba dapat juga limpahan kerjaan gagambaran teknis entah-entah
walaupun sama sekali bukan melukis betulan

Semua ini berkat ucing-ucing yang (((cari nafkah)))
bisa-bisanya mereka membawa mata pencaharian baru, ajaib ya  


Sabtu, 24 Oktober 2020

Hellokiti Hell

Saya biasa dijajah ucing dengan sukacita. Tapi ucing antrofomorfik yang tidak punya mulut yang mampu memerahjambukan berbagai gawai elektronik, apa yang bisa disukai dari makhluk macam tu?

Jumat, 29 Desember 2017

Tugu Maung Kolonial Bandung

Di Kota Bandung tiba-tiba bermunculan tugu-tugu dan gapura-gapura asing, diduga demi mengejar penyerapan sisa anggaran akhir tahun. Konon, desainnya berlanggam "kolonial" merayakan arsitektur bersejarah warisan zaman Hindia Belanda (yang ironisnya justru pada runtuh tersia-siakan) 🏛️🏰

Kehebohan terjadi akibat kebingungan akan makhluk yang menghuni kubah-kubahnya. Niat awal menampilkan "MAUNG" hewan suci urang Sunda, semacam harimau jejadian 🐯🐅
Namun, terbukti sejak di atas kertas yang tergambarkan hanya perpaduan beruang kutub dan serigala kecebur got, entah menjiplak dari kastil kampung di pelosok eropah bagian mana 🐻🐺 

Pikiran Rakyat 27-12, 19:14: RK Ingin Patung Maung, Malah Mirip Anjing Laut
Kompas 28-12, 12:19: RK Kritik Tugu Maung Bandung yang Mirip Anjing Laut
Detik, 28-12, 17:10: Patung Maung Bandung Mirip Anjing Laut Ada di Tiga Lokasi


Mengecek salah satu TKP, kami menyimpulkan bahwa patung ini berbahan resin bolong, sehingga dapat dengan mudah diganti. Secara keseluruhan, memang terkesan murahan, barangkali bisa digolongkan sebagai KITSCH. Jam tugu pun hanya memakai batre biasa, kaca patrinya mungkin plastik 🕚🔋

Katanya para maung berfungsi untuk menandai empat penjuru mata angin. Wah, bukankah ada pakem Asia Timur bahwa harimau putih menandai arah Barat saja, sementara Selatan, Timur, dan Utara masing-masing ditandai oleh burung merah, naga biru, dan kura-kura hitam berkepala ular? 


Andaipun tercapai bentuk yang dicita-citakan, mari pertanyakan lagi apa perlunya memajang makhluk kesayangan kita semua di sini? Bukankah kolonialisme harus dibasmi dari muka bumi karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan? Lalu bagaimana dengan perikemaungan? Tentu lebih baik anggaran dialihkan untuk meningkatkan mutu trotoar, atau merawat bangunan pusaka aslinya, atau melestarikan maung dengan menjaga hutan rimba 🌳🌲

Serahkan sajalah pertigaan atau perempatan jalan kepada para seniman kreatif kota, untuk dirancang dengan melibatkan masyarakat sekitar dalam kritik saran maupun penciptaannya, sebagai sarana edukasi mengasah selera mencari ciri khas jati diri nusantara 🎍🎋

Senin, 20 Maret 2017

Harimau Bahagia



Entahlah ... belasungkawa mendengar ada patung maung soméah tak bersalah yang telah berdiri tegar ceria sepanjang 6 tahun bertugas, tiba-tiba diruntuhkan hanya gara-gara pemiliknya tersinggung tak sudi dijadikan bahan tertawaan yang viral di media sosial.
Sumber: Brilio, Detik, BBC Indonesia, Tribun, Hai, Kompas.
English: BBC UK, Mashable, Jakpost, Independent



Mojok menyayangkan penghancuran oleh Pangdam yang mengabaikan selera humor demi menjaga citra kegarangan, padahal dapat meneladani Ibu Susi yang merangkul meme justru demi menaklukkan internet (bahkan salah satu fotonya telah dipajang dengan sang macan lucu untuk merayakan hari π sedunia 14 Maret).

Sementara itu, Petnyaku mengingatkan kita untuk lebih memperhatikan nasib harimau yang sesungguhnya, terutama harimau Sumatera yang terancam punah karena ruang hidupnya di hutan terganggu oleh pembangunan infrastruktur dan perluasan tambang atau kebun sawit.




Bagi saya, sebagai sebuah karya seni, sang harimau telah layak memenuhi syarat. Dia mampu menggugah beraneka ragam luapan perasaan mengharu-biru. Bahwa rupanya dinilai tidak sesuai sebagai perlambangan Siliwangi, itu semestinya disikapi oleh pihak Koramil sendiri sejak 6 tahun yang lalu, bukan tunduk pada penghakiman masyarakat internet. Tentu sejak awal perlu ada pertimbangan prosedur pengadaan lambang, apakah terjadi penggelapan anggaran, apakah seniman ditunjuk secara KKN atau malah tidak dibayar dengan semestinya? Kabarnya ini sumbangan pribadi seorang pensiunan tentara dari rayon tersebut, sehingga justru perlu dihargai sebagai kenang-kenangan ...
Terlepas dari hal tersebut, seberapa mendesakkah perbaikan wajah garang sebuah patung? Dibandingkan dengan segala ketidakwarasan perencanaan dan penerapan pembangunan di sekitar kita? Daripada penyelamatan harimau asli di habitatnya sendiri?

Andai saja tindakan sesigap itu dilakukan juga dalam menanggapi dengan cepat keluhan masyarakat terhadap masalah pengadaan sarana-prasarana publik dan kinerja pelayanan dasar ...


Untuk melipur lara, mari ikut buat kaos, lukisan, patung, dan hastakarya kertas lipatnya.





***"Harimau Bahagia" mengingatkan pada judul cerpen kegemaran saya tentang sebuah patung lain, "The Happy Prince" yang pernah saya ungkit sebelumnya.

Jumat, 11 November 2011

Dapunta

Tentu saja saya langsung memutuskan untuk menonton film "Pengejar Angin" begitu mendengar gosip ada adegan harimau di air terjun.

Begitu film dimulai, kesan pertama adalah film horor mistis atau thriller ketegangan penumpang bus yang melewati jalur lintas Sumatra. Ternyata oh ternyata, secara garis besar ini hanya film bergenre motivasi (menapaki langkah Laskar Pelangi dkk) sekaligus sebuah bentuk promosi provinsi Sumatra Selatan yang sedang menyambut perhelatan Sea Games. Bahkan gubernurnya pun pasang tampang dengan penuh kebanggaan, berhasil mencanangkan program sekolah gratis sampai ke pelosok-pelosok daerahnya.

Tersebutlah Dapunta, seorang siswa yang cukup cemerlang di kampungnya. Siapa sangka, ayahnya pentolan rampok Bajing Luncat. Sang ayah yang ganteng ini ingin sang putra mengikuti jejaknya. Dapunta yang terimbas angin modernisasi, memilih untuk melanjutkan kuliah, namun menghadapi diskriminasi dari teman-teman sekelas membuat dia mempertimbangkan lagi bahwa mungkin jalan hidup sang ayah lebih benar.

Guru Matematikanya yang simpatik, mendukungnya untuk tampil di pentas dunia, namun apa daya kendala keuangan menghalangi. Uluran sumbangan dari Nyimas, anak dokter yang menaksirnya, ditolak karena gengsi. Sang Guru tidak kehilangan akal, menyodorkan Dapunta kepada temannya pelatih lari dari Jakarta. Menanglah dia di stadion baru dan mendapat jalur atlit untuk masuk ke Universitas Indonesia (?)

Eh, jadi, pengejar angin itu apa? Di keterangan film, katanya itu julukan pelari tercepat di kelompok rampok. Tapi anehnya, tidak ada seorang pun yang membahas istilah ini di sepanjang film. Berbeda dengan, misalnya judul film dulu itu "Mengejar Matahari" yang disebut-sebut melulu dengan penjelasan membosankan setiap sekali 5 menit.

Sayang sekali, alur cerita tidak terjalin dengan rapi dan berkesinambungan. Padahal, para pemain berperan dengan mengungkapkan perasaan cukup baik.

Film ini juga kesempatan memamerkan keindahan Lahat dan Palembang, rumah-rumah panggung kuno yang tampak cukup nyaman dan asri, dibumbui sedikit tenunan dan alunan musik daerah sebagai tempelan di sana-sini. Dalam dialognya terselip beberapa kosakata khas, walaupun sebagai penonton kita tidak bisa tahu apakah itu diucapkan dengan baik dan benar, dan apakah itu peribahasa yang penting atau sekadar basa-basi. Juga beberapa adegan laga silat yang mantap (setidaknya karena situasi ceritanya lebih menarik daripada "Merantau").
Selain itu, sebenarnya film ini punya potensi menjadi kritik yang tajam. Antara lain,
  • Penerapan sekolah gratis tidak serta-merta menyelesaikan masalah, karena di satu sisi membuat orang tua murid tegas menolak permintaan sumbangan untuk kegiatan ekstrakurikuler lainnya, sementara dana dari pusat tiba tersendat-sendat. Murid-murid pun terkungkung di kelas tanpa bisa mengembangkan bakatnya di bidang olahraga maupun seni. Guru-guru pun belum tentu terjamin digaji dengan lebih baik.
  • Rampok tetap jauh lebih berjasa dalam meningkatkan kesejahteraan kampung daripada program pembangunan pemerintah. Biarpun perampok, sikap kesatria, mengutamakan keselamatan anak buah, nasionalisme dan kebanggaan akan daerahnya ternyata lebih mendarah daging daripada orang terpelajar lainnya.
  • Polisi tampak tidak berdaya membasmi kelompok rampok, sang Ayah kebetulan tertangkap hanya gara-gara dilaporkan dan dijebak oleh kelompok rampok saingannya.
  • Ibu Dapunta bisa dirawat dengan baik di rumah sakit kebetulan karena ada pengeceng Dapunta yang anak dokter. Artinya program Jamkesmas belum tercapai dengan baik.
  • Peran pelatih olahraga tidak tampak berpengaruh besar karena atlitnya sudah cukup terlatih selama magang di kelompok perampok. Peran sekolah dalam melatih pun tentunya jadi mengecil.
  • Kasus korupsi Stadion SEA Games-nya tidak diangkat ke permukaan... Padahal kan ini kesempatan untuk membahasnya juga.
  • Dapunta adalah nama raja Sriwijaya. Tapi apa kaitan kerajaan tersebut dengan kehidupan mereka masa kini? Apa iya Dapunta Hyang keturunan keling keriting hitam legam seperti si Dapunta yang ini, atau keturunan Cina sipit kuning? Seberapa jauh rasa memiliki masyarakat Sumsel terhadap sejarah masa lalu yang berjaya itu?


Eh eh eh, lalu, di mana sang harimau? Oh, itu, benar ada dia, melintas di depan air terjun!

Jumat, 15 Agustus 2008

Gajah saja bisa Ingat!!!

思い続けることの辛さより
忘れられたことが恐いのじゃ。。。
フライヤ・クレセント


Seiring dengan kepindahan gerombolan baru ke lantai bawah kandang kami, aku ikut Angsa, teman sebelah kurungan, memulai rutinitas quidditch blitzball bulutangkis bersama mereka.

Minggu I.
Karena masih mengalami krisis sepatu, aku pun nyeker seadanya. Training satu-satunya juga masih dijemur sehabis bersepeda pagi, sehingga aku bercelana kargo. Ternyata ada sosok yang bergaya sama. Wajah yang tak asing di mata. Bukan karena pernah berpapasan di lorong tangga. Kutatap lekat-lekat, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda dia mengenalku. Jangan-jangan wajah kodian, kebetulan saja doppelgänger seseorang dari masa lalu. Masa-masa bernyanyi "kebon yang paling indah, hanya kebon kaaami..."

Minggu III.
"Hei, ngomong-ngomong, elo bukannya anak bonbin 97? Ingat gue gak?" Dan entah kenapa aku jadi ber-elo-gue menyapanya.
"Iya. Lho, kamu anak 97 juga gituh?"
"Lah bukan, gue 96, satu angkatan di atas elo. Masa sih, gak ingat gue?"
"... Hmmm... Berarti 'teteh', ya. Nggak ingat, tuh..."
TOWEEEW. "Heeeh! Apa boleh buat. Kita ketemu pas elo lagi sama si Zebra, nongkrong di Sangkar-Eser!"
"Oh. Anak Sangkar-Eser sedikit sih, kebanyakan outsourcing dari Kapea. Teteh anggota Kapea?"
"Tentu! Tapi kan gak ada kaitannya dengan ini! Elo habis itu ke mana jadinya?"
"Ke Eser Tamansari."
"Hweee. Tercapai dong cita-citanya ya. Berarti terus barengan si Zebra? Sama Badak juga dong ya. Harimau dan... Kuda Nil?"
"Iya..."
"..."
"Teteh kenal Macan?"
"Macan, Tutul? Ya kenal lah. Kan anggota KFC. Sama doi sih masih sering nongkrong bareng." Macan Tutul adalah seleb kenalan semua orang, bahkan sempat masuk televisi, sehingga mungkin tak aneh siapa pun mengenalnya.
"Saya kan nyambi jadi perwakilan cabang kandang dia. Dia sering mroyek ke tempat saya."
"Oya? Ngapain, bikin acara kilikitik flora-fauna?"
"Nggak. Proyek Unyil."
"Heee. Unyil kaaah."

Rekan-rekannya yang lain ikut penasaran juga.
"Kamu satu kebon dengan dia?"
"Iya, tapi di kebon kan seangkatan saja ada 400 orang lebih. Beda angkatan pula. Gak bakal hafal satu per satu, atuh."
GEDUBRAGGG.
Dia anggap aku sama rata dengan 400 orang lebih lainnya.
Setelah apa yang kita lewati bersama...


Mungkin ibarat pepatah,
Gajah di belakang Ragunan dikenang-kenang
Kanti di lapangan seberang terlupakan...!!!


Minggu V.

"Pagiii!"
"Pagi..."
"Gimana, masih ingat gue gak?" (Wah salah: harusnya, SUDAH ingatkah lagi padaku?)
"Masih... Ada salam... dari Sapi."
"Sapi? Sapi siapa? Ohhh iya, ikan Sapi-sapi? Ada apa ketemu doi?"
"Kemarin ke rumah."
"Ow, salam balik atuh. Ngapain doi ke sana?"
"Di rumah ada Buntal. Mereka sering main bareng."
"Heee. Ngomong-ngomong kamu kenal Bangkong gak?"
"Bangkong, adik kelas? Tahu sih. Memangnya siapa dia? Adiknya Teteh?"
"Teman olahraga di tempat lain sih. Gue sempat cerita betapa elo gak ingat gue, terus doi bilang doi tahu elo, dan kalau elo gak ingat juga sama doi, doi titip jitakan."
"Kenal muka sih, tapi gak pernah ngobrol."
Ooo... Jadi berarti dia ingat orang yang gak pernah ngobrol sama dia, tapi bisa-bisanya melupakanku. Aku, yang suatu saat pernah berdialog panjang lebar dengannya. Membahas mimpi-mimpi dan janji-janji yang tertunda.

Minggu VII.
"Heheheh... Teteh..."
"Waaa. Ini nih, orang payah. Bagaikan lupa gajah akan kupingnya. Masa satu sangkar, satu tongkrongan, satu kegiatan, satu pergaulan, pernah satu selera, sekarang satu kandang pula, bisa-bisanya melupakan gue. Gue, yang terkenal begini!!!"
"... Berarti lebih terkenal saya dong daripada Teteh, kan Teteh yang kenal saya tapi saya gak ingat Teteh."
"Hah? ... Secara logika, memang begitu ya... Hmmm, ah tapiii, masa sih??? Gak mungkin lah!"
"... heh..."
"... huh..."
"Pasti Teteh curang, duluan masuk sekolah ya, jadi angkatan atas, tapi sebenarnya seumur kan, sama saya."
"Kok bisa menduga demikian? Gue baru masuk sekolahan sesudah elo naik kelas tiga SD, lagiii. Seluruh dunia juga tahu (<-- majas totem pro parte). Memangnya umur elo berapa? Gue 29 setengah."
"Wah, lebih muda dong ya, dia sudah 30 tuh!" yang lain menimpali.
"Halah... Pantesan pikun."
"... Teteh kenal Tapir?"
"Ya iya lah. Kan dulu ketemu elo waktu lagi ada doi juga."
"Wah, aneh juga kok saya gak ingat ya..."
"Ya kan? Aneh, kan?"
"... Jangan-jangan ini Teteh yang menyapa waktu saya ikut lomba dekorasi tong sampah? Waktu itu saya kan menghias sendirian, kelas lain ramai-ramai."
"TONG SAMPAH? Kapan pula gue berurusan dengan tong sampah... Jadi, elo mengasosiasikan GUE dengan TONG SAMPAH?!?" Dan aku pun terjebak untuk mendiskriminasikan tong sampah. Maafkan aku ya, tong sampah.
"Bu- bukan begitu..."
"..."
"..."
***
Teman-teman menertawakan aku. "Gak mutu banget sih kamu pakai bersaing patenar-tenar segala sama dia!"
"Uh, sori ye. Ini bukan lagi soal bersaing sama dia. Ini perbenturan antara narsisisme, egoisme, eksistensi, identitas dan rasa percaya diri!!! Semua tentang aku."
"Padahal di sini malah lebih tenar Angsa yang di sebelahmu kan, daripada kamu."
"Dalam lingkungan satu kandang, iya kali. Tapi ketenaran Angsa dan aku itu beda dimensi. Tenarnya justru sebagai Anak Itik Buruk Rupa. Makanya lebih gak penting lagi untuk dipersaingkan."
"... Memangnya selama di bonbin kamu tenar gituh?"
"Pastinya!"
"Hihihi, ngaku-ngaku sendiri. Lalu alasannya apa tuh, kok bisa geer merasa terkenal?"
"Ada banyak dong. Secara aku ini si Kanti yang Cerdik."
"... Kanti yang Cerdik?"
"Si Kanti yang Cerdik. Penakluk buaya, jerapah dan kura-kura!"
"Bukannya Pencuri Ketimun?"
"... Termasuk juga salah satunya. Kan aku penganut semboyan, IF YOU CAN'T BE FAMOUS, BE INFAMOUS!!!"
"Wuadoooh, apa pula ituuu."
"... Tagline-nya Film 'Sangkar Kematian' (??)..."
"Memangnya kamu masih beredar di bonbin waktu 'Sangkar Kematian' diputar? Gak mungkin!"
***

Bulan berikutnya.
"Teh, ada salam dari Kuda."
"Kuda? Kuda mana lagi? Kuda Sembrani?" (Nama sebenarnya kebetulan beken sebagai judul lagu dari anak nakal Antah-Berantah yang sedang ngetop kemarin ini)
"Kuda-nya Kusir."
Ternyata teman berkemah yang senyum nyengirnya entah kenapa bisa mirip dengan Hillary Swank. Dan dia pun sudah punya keterangan hak milik... "Ow, salam balik atuh. Kayak dah lama juga gak ketemu. Ada bisnis apa sama Kuda?"
"Kan serumah. Sama adiknya juga."
"Wah. Kalau begitu ajak-ajak nongkrong dong sekali-sekali."
"Ngajakin sih tadi, tapi dianya sibuk kayaknya."
"Pastinya. Btw, peredaran elo ternyata di situ-situ juga ya. Padahal elo masih belum ingat ya sama gue?"
"... Kalau gak salah, Teteh ini yang menggambar kucing waktu di bonbin ya?"
"?"
"Gambar anak kucing lagi ngeong sehabis kecemplung got, yang pakai krayon atau pinsil warna itu kan?"
"Pentel oil pastel! Dan elo ingat gambar anak kucing itu?"
"Ingat."
"Jadi, elo bisa ingat gambar gue, tapi gak ingat sama gue?"
"Eheheh... nggak..."
KLONTANGNGNG... PRANG... JEDUGG... JELEGURRR...
Payaaaaaaaaaaah!

Layaknya peribahasa,
Gajah mati meninggalkan belalai gading,
Kanti mati meninggalkan gambar anak kucing.

Sedang mengeong.

Kecemplung got.

*omoitsudzukeru koto no tsurasa yori,
wasurerareta koto ga kowai no ja...
--F.C.

Kamis, 12 Juli 2007

Adios Cucaracha ・殺手驪歌

Aku sedang asyik mandi di pancuran kantor
ketika sadar ada terkapar kecoa seekor.
Entah dari mana dia datang,
dan entah ke mana dia harus pulang.
Dia menggeliat dan panik menggelepar
dari arus buih sabun yang kencang mengalir.
Tidak mungkin dia menerobos lubang air.
Aku pun ikut panik melihatnya,
karena tak bisa keluar
kami pun berlari-lari berputar-putar
dalam sempitnya kamar.
Sampai tak jelas siapa yang menghindar
dan siapa yang mengejar.

(berima!)

Setelah berhasil menapak tempat aman, aku memperhatikannya diam-diam. Dia menggulung antena, dan tampak mengeringkannya dengan moncong dan kaki-kakinya. Aku pun kembali membereskan mandiku sambil berhati-hati mengucurkan air tanpa memercikkan ke arahnya, dan segera kabur.

Tadi pagi aku kembali ke sana. 24 jam setelah kemarin, sang kecoa masih tergeletak di tempat yang sama. Aku menyenggolnya dengan tongkat, dan ternyata dia kembali tergesa-gesa ke sana kemari. Masih penuh semangat walaupun terseok-seok.

Tuhan, Maha Besar Engkau yang mengasihi makhluk semungil ini dengan daya hidup tinggi. Manalah berhak aku membasmi nyawanya?
Sambil menahan rasa takut dan geli, aku pun mengibaskan sapu menghalaunya keluar kamar pancuran.

Beberapa tahun lalu, entah kenapa sekitar bulan Juli juga, aku pernah bersumpah untuk tak akan pernah meracuni serangga, dan berusaha memberikan garis batas demi hidup berdampingan secara damai dengan makhluk-makhluk yang tersingkirkan itu.
Mungkin suatu saat saya masukkan kecoa (dan kutu???) ke dalam daftar makhluk yang perlu saya perjuangkan hak hidupnya: Selain kucing, kelinci, kepik, kelelawar, katak, kupu-kupu, kunang-kunang, kura-kura...

Yap, hari inilah saatnya.

Teringat sebuah sastra Buddha menggambarkan seorang penjahat diselamatkan dari neraka oleh benang sutra seekor laba-laba, satu-satunya makhluk yang pernah ditolongnya. Walaupun akhirnya benang itu putus karena diperebutkan...

Tassha de kurase, gokiburi-chan... Tsukamaranai youni.
Andai aku berjasa bagimu kali ini, balaskanlah nanti di surga...


(Seminggu terakhir aku memang sempat mencari-cari lagu ini. Mungkin karena penasaran akibat acara kemarin...
Setelah peristiwa tadi pagi, aku coba cari lagi melalui huruf kanji, siapa tahu malam ini akan berhasil melalui restu sang kecoa. Lumayanlah setidaknya dapat versi karaokenya, walaupun norak... Terima kasih kecoa, selamat jalan semoga sampai tujuan.)



殺手驪歌 順流逆流主題曲
(Adios Cucaracha - OST Time and Tide)
Wu Bai - China Blue

en chu xi gua e xim diong cui ki liao ji zun hong
en chu xi gua e xim diong ya zai gua yu wan xiong mo
jin sheng yi ji xiong go bu ji qiong
ya bu yi ding sen liong
li be li sha jin gong hui bi xiong
sheng xi be an zua can xiong

gui ki xi gui ki m su yao zai deng kyong

min dui diu wan ying yi hua gua yi bin long bo xia
min dui diu liu long e gua ji jiu xi gua e sheng hua
gan gong gua ying yuan hui dang tuan li ji cha po long
gan gong gua bo dian kyong
jia xi lan yi hou ge zai xiong hong
gua m xi li e qiu zu

gui ki xi gui ki m su yao zai deng kyong

gua e xim qing hi bang li zai ya Adios Cucaracha
lan e um mia ji yu lan zai ya Adios Cucaracha

Senin, 18 Juni 2007

Burger Kucing

Satu hal yang mengganjal di kerongkongan dalam reuni akbar SMA, sebagaimana disinggung adikku:
Reuni SMA 3: kesan utama adalah... burgernya, yang bahkan kucingku gak berminat memakannya


ichc?.comKucing kami ini sebenarnya pemakan segala, karena selalu ikut berselera melihat tuan mereka makan. Makanya mereka bisa mencuri pisang goreng, kue spekulas, bubur pulut hitam ataupun capcay. Tapi, begitu disuguhi segepok daging McD, puih, mereka memalingkan muka!!! Selera mereka jauh lebih tinggi daripada kucing-kucing di ICHC? dotcom.

Heran, apa tak ada makanan khas Bandung yang bisa dihidangkan di acara sebesar ini. Batagor, Pisang Molen kek... Di dua acara sebelumnya dalam rangkaian reuni tersebut, masih mendingan: Ada jajanan kantin bazar gratisan untuk nostalgia di Jumat petang, dan kami bisa beli bubur ayam di olahraga Sabtu pagi. Mengapa di acara malam Minggu tidak ada suguhan yang menyelerakan???
Padahal kami angkatan abad 20 harus bayar 65000 untuk undangan masuk, pin kaleng, buklet tipis dan kupon makan. Mengapa kupon ini hanya bisa ditukar McD?

Sementara yang datang banyak sekali angkatan tua, '60-'70-an yang jauh lebih kompak dibandingkan yang mudanya (pakai kaos, topi, rompi seragam segala). Biasanya kan pasaran McD ditujukan kepada kaum muda. Tapi memang siasat dagang dan promosi McD tidak bisa diduga, dan berteknologi canggih...

Terhitung sejak heboh "Super Size Me" yang saya bahas beberapa tahun lalu, sudah ada segala macam yang aneh-aneh. Bahkan kini, MegaMac telah menjajah Jepang. Sampai orang bertanya-tanya, kapan ada GigaMac, TeraMac, IotaMac?

mcgrandmapa


Misalnya di Jepang ada si badut Ronald tiba-tiba berubah jadi sosok cewek seksi dan cowok emo mempromosikan McGrand, burger tomat.

Atau meluncurkan situs "I am Asian" dengan sasaran utama orang-orang beretnis Timur Jauh (Cina, Jepang, Korea) di Amerika, berusaha mencitrakan bahwa McD bisa membaur dengan jatidiri ke-Asia-an mereka. Kampanye yang sama kabarnya juga disasarkan kepada kaum Afro-Amerika...

Kemarin kita dengar pula usahanya menghapus istilah yang sudah tercantum dalam kamus sekelas Oxford, McJob yang diartikan sebagai "jenis pekerjaan bergaji rendah yang tidak membutuhkan keterampilan khusus dan tidak menjanjikan kesempatan berkembang di masa depan".

Ketika heboh-heboh penggunaan warna Sudan Red yang menyebabkan kanker, setidaknya McD Indonesia mengklaim bahwa produknya menggunakan bahan lokal 95 persen.

Ailing vomit.

Jumat, 15 September 2006

Di Sini Bukan Neraka

Minggu ini aku sedang memperhatikan bang Lucci, sang manusia macan tutul pentolan keadilan kegelapan, yang akhirnya terkalahkan dengan telak. Namun dunia nyata lebih menyedihkan.

Nervi (jantan, 1 tahun 10 bulan) kucing adikku, mati dengan mengenaskan. Entah karena kecemplung atau keracunan, dia ditemukan terkapar di lorong lantai atas sepulang dari petualangan sehari-hari, padahal paginya segar bugar sehat walafiat. Selama ini, kucing yang telah berumur selalu hilang dari pandangan kami, pindah atau bersembunyi. Namun tampaknya Nervi sengaja pulang, meminta pertolongan, atau memang berniat menjemput ajal di rumah.

Nervi dipungut oleh adikku ketika ditemukan telantar di sekitar LFM-ITB pada usia kira-kira dua minggu, kurus dan kucel, bersama saudaranya Peony yang dicuri orang di bulan pertama. Dia tinggal sendiri, disusui dengan botol bayi, namun ada saja malaikat bergantian turun dari langit (maksudnya, kucing tetangga yang jatuh dari pohon mangga di halaman) menemaninya, menambah keriuhan rumah. Ketika kecil, ia dilatih oleh yang lebih besar, dan sebaliknya ketika tumbuh besar tegap kekar, banyak anak kucing yang diasuh dan "disusui"nya.
Nervi memang kucing yang penuh perhatian: terhadap kucing lain, mungkin tidak terhadap kami yang mengasuhnya. Dia paling malas mandi, walaupun bulunya selalu rapi tapi sedikit kelabu berdebu. Pernah trauma karena seekor teman mainnya tertabrak mati di depannya, dan patah hati karena ditolak kecengannya mentah-mentah. Dia agak takut digencet garong kampung, sehingga lebih banyak berlagak di dalam rumah dan di halaman, walaupun rajin keluar lewat kemonomichi celah loteng dan atap. Terkadang, kami merasa dia itu autis. Jarang sekali mengeong dan tidak pernah menatap mata secara langsung, namun selalu tahu kapan saatnya menanti minta makan di dapur, atau mendekat manja minta dipangku.

Nervi mengingatkan kembali bahwa tidak ada sesuatu pun yang bisa kita miliki di dunia ini... Bahkan diri kita sendiri pun tidak...
Semoga ada surga bagi kucing yang baik hati dan penyayang sepertimu Nervi.

(berlanjut di belangjingga)

Sabtu, 01 April 2006

Neko no Te mo Karitai

Tersebutlah sebuah kotowaza (peribahasa Jepang)

Neko no te mo karitai hodo isogashii.

"Sedemikian sibuknya sampai ingin meminjam tangan kucing".


Nah, berdasarkan kiasan tersebutlah, Bandai bulan ini kembali mempromosikan rilis benda aneh (yang selain lucu, juga cukup mengerikan)... Neko Nyanbou. Tak lain tak bukan, tangan kucing itu sendiri.

nekonyanbou

Tampil dengan bulu nilon tiga warna: belang abu, belang cokelat, dan hitam berkaus kaki, perangkat ini dilengkapi cakar yang bisa dimunculkan dengan menekan tuas di pangkal lengan.

Ada beberapa contoh kegunaan menggelikan yang dikemukakan:

nyanbou12

Episode Kantoran
- di tengah kesibukan, jangan sampai tertukar dengan hp
(tentu saja tak bakal nyambung)
- untuk membangunkan rekan kerja yang ketiduran
(hati-hati menggunakannya pada atasan)

nyanbou34

Episode Pacaran
- ketika minta maaf habis bertengkar dengan sang kekasih...
(setelah berbaikan, bermanjalah)
- ketika membujuk minta dibelikan barang mahal
(mungkin akan benar-benar dibelikan)

nyanbou56

Episode Pribadi
- ketika ingin meraih benda yang agak jauh...
(gunakanlah dengan anggun)
- ketika ingin bermain dengan kucing betulan
(pikirkan juga perasaan kucingnya)

nyanbou78
Episode Sekolahan
- yaa, belang cokelat garis-garis yang ngacung di belakang sana!
(awas mungkin saja dimarahi guru)
Episode Internasional
- menghapus kesenjangan batas negara dengan Neko Nyanbou
(sebut saja, Internyasionyal)

Kabarnya benda ini pernah mendobrak pasaran 20 tahun yang lalu, kini hanya rilis ulang. Harganya 900 yen: dibilang mahal, yah gak terlalu.
Tapi berhubung aku sudah punya cukup banyak tangan kucing yang bisa dipinjam (dengan berbagai warna pula: tangan si Chotty, Hayden, Foxy, Nervi, Abu dst) mau bilang murah, kok kayaknya gak penting banget. Yahahahaha humph (^_^;.

Selasa, 14 Februari 2006

Dakko-Chan

Sementara si Ken sibuk berdandan demi merebut kembali Barbie, mari kita beralih pada selera keindahan yang berbeda 180 derajat.

Semula, boneka balon hitam legam dengan nama asli "Winky si pemanjat pohon" yang tenar di Jepang sejak 1960 ini diproduksi untuk anak-anak balita, namun ternyata malah menjadi rebutan remaja dan dewasa pula, yang tanpa malu-malu menyangkutkannya di lengan ketika berseliweran di jalan-jalan kota dan menjadi sorotan media massa internasional.


dakkosepiaDari sudut pandang materialis, Dakko-chan memang sebuah terobosan pada masanya. Bahan vinyl telah diproses agar lebih tahan api, dan mata yang bisa berkedip kalau dilihat dari arah berbeda, adalah penerapan pertama teknologi lensa lentikular semi silindris yang sering kita temukan di hiasan penggaris.

Dari sudut pandang antropologis, boneka yang umumnya ditakdirkan sebagai yang dipeluk, kini menjadi pihak yang agresif memeluk.

Dari sudut pandang ekonomis, kehadirannya menandai revolusi konsumsi Jepang paska PD-II. Strategi produksi besar-besaran berhasil menekan harga bertahan pada nilai 180 yen tanpa tergoyahkan oleh pasar gelap yakuza ataupun barang tiruan, sehingga laris manis mencapai 2,4 juta buah hanya dalam sekejap.

Tiga dekade kemudian, di saat Jepang sedang melambung sebagai negara dengan tingkat kemakmuran tinggi, beberapa petinggi Jepang mengemukakan bahwa hanya Jepanglah negara yang berhasil maju di segala bidang karena bangsanya yang cenderung homogen, sementara keberadaan kaum kulit hitam, PuertoRico dan Mexico menurunkan nilai kecerdasan rata-rata di Amerika Serikat.

chibikuro1Pernyataan politis yang mendiskreditkan bangsa kulit hitam tersebut pun dikecam oleh media massa Amerika, dan mereka mulai menuding keberadaan manekin dan mainan berkulit hitam yang melimpah di mal-mal Tokyo, dan terutama penerbitan buku anak-anak ChibiKuroSanbo, terjemahan dari Little Black Sambo (1900) yang sudah lama dilarang di AS.

chibikuro2Buku ini sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan stereotipikal negro AS, karena jelas-jelas mengambil latar belakang di India. Secara pribadi aku sendiri sih tidak suka ceritanya, karena cenderung merendahkan derajat Harimau sang raja hutan.

(Aku pun dulu pernah punya Dakko-chan tiruan, bukan balon tapi bantal, dari katun hitam berisi kapuk, dan pakaiannya bermotif batik. Saat itu, setahuku ini adalah boneka Keling. Bahkan lagu Boneka Cantik dari India kukira terilhami oleh sosok Dakko-chan ini.)

Demi menghindari kesalahpahaman dan keterlibatan pada kemelut tersebut, Takara, perusahaan pencipta Dakko-chan pun memutuskan untuk menghentikan penggunaan registrasi desain dan lambang komoditas andalannya itu sejak April 1990. Namun mereka mengumumkan bahwa sesungguhnya Dakko-chan tak ada sangkut paut dengan diskriminasi rasialis, karena rancangannya bukan didasarkan pada orang kulit hitam, melainkan "pemuda Jepang yang gosong berjemur di bawah mentari musim panas".

dakkodoraSelain digantikan sosok tokoh animasi lain berbagai jenis dari pinkpanther sampai hamutaro, kekosongan Dakko-chan juga diisi dengan ngetrendnya gaya dandan cogal ganguro yang sempat beken di kalangan pemudi Jepang (sebelum kembali ditumbangkan oleh dandanan ala barbie-nya Hamasaki Ayumi.)

dakkodarlieMungkin Jepang hanya terseret badai gerakan membela ras kulit hitam yang menerjang seluruh dunia, yang juga memaksa pasta gigi Darkie harus mengubah TMnya.

Dan di masa-masa sensitif itulah, Nelson Mandela dibebaskan, dan Jepang turut ambil bagian dalam penuntasan isu apartheid Afrika Selatan dengan menyambut Mandela yang berkunjung dan mendukung beliau sebagai calon presiden Afsel periode berikutnya.

bamboozledBagaimanapun juga, memang bentuk stereotip mata besar berkedip-kedip, kuping cangkir, bibir merah tebal tersebut, justru merupakan dambaan orang Jepang akan eksotisme yang tidak mereka miliki.

Maka, setelah melampaui berbagai perdebatan, bahwa yang salah adalah pola pikir umat manusia saat itu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan buku ataupun boneka, ChibikuroSanbo pun terbit kembali secara resmi tahun lalu.

dakkonewDemikian juga Dakko-chan yang asli dengan kedipan lucunya telah kembali, walaupun setelah didesain ulang dengan warna yang lebih beragam, bentuk kepala bawang, buntut yang dapat digamit oleh tangan, hiasan huruf d di dahi, dan berganti nama dari ダッコちゃん dalam huruf katakana menjadi だっこちゃん dalam huruf hiragana.

Dakko-chan abad 21 lahir dari tetesan air di bumi yang damai.
Dengan tubuh berwarna-warni pelangi
menampilkan berbagai mimpi dalam hati
Dakkochan yang agak manja
gemar menempel kepada siapa saja
Sangat menyukai tempat yang ramai,
dan agak lemah terhadap benda panas dan tajam menusuk.
Hobi, memperhatikan manusia dan memeluk.
Cita-cita, betapa baiknya bila semua orang bahagia.


dakkochottyAku sendiri juga punya semacam dakko-chan berbentuk sapi perah yang diperoleh saat lewat di Shibuya, pembagian gratisan promosi eskrim Ben&Jerry.
Tapi tersia-siakan, karena banyak dakko-chan lain yang nyata dan lebih butuh perhatian.
Untuk Chotty yang ichi-ichi dakitsuku,
yang sedang sakit muntah melulu...
Kini giliranku memelukmu.

Posting terkait:
Speculas Greenleaf
Penjajahan Boneka

Minggu, 31 Juli 2005

Titik! Koma?

Melihat kebetulan rekan-rekan sedang membahas tanda baca.
Kebetulan hari itu juga, muncul berita menarik...

# Novel tanda baca


China Daily, 14 Juli 2005
Seorang penulis dari propinsi Shanxi menantikan siapa yang mampu memecahkan sandi dalam karyanya, sebuah novel tanpa satu kata pun selain susunan 14 macam tanda baca, berhadiah 140ribu yuan (kira-kira US$16900 = 150 mang \ = 150 juta Rp?)
Dia mengklaim keempatbelas tanda baca tersebut menampilkan kisah cinta yang menyentuh, demikian dilaporkan oleh Harian Beijing Rabu 13 Juli 2005 kemarin.
Ini mungkin menjadi novel terpendek yang pernah ada, dan mungkin menjadi satu-satunya novel tanpa kata. Namun Hu Wenliang, pengarang novel berjudul 《。》 ini menyatakan bahwa ia telah menghabiskan setahun waktunya demi menulis novel yang memuat 5 bagian sebagai berikut:
:?
:!
“‘……’”
(、)•《,》
;——

Lumayan kan?




# Kuis Tanda Baca



Perdebatan timbul ketika ada rekan yang menjajarkan titik-titik di penghujung setiap lirik puisi cintanya.
Berdatangan protes yang cukup beralasan, bahwa penggunaan tanda baca berkaitan dengan kepekaan pembaca, nilai estetika, konteks bagaimana kalimat terucap... Bahwa tiga titik atau lebih adalah lambang tak hingga dalam matematika, atau mengambangkan kata menimbulkan kesan ragu-ragu.
Namun sang pencipta mempertahankan gaya tersebut dengan dalih bahwa titik adalah komponen pembentuk garis dan benda, bahkan menjadi pertanda memeriahkan raut wajah, dengan puisi berjudul "Kutitiki Dahimu, Kawan!" (hoaaa...)

Jadi ingat tahun lalu, pernah heboh buku
Eats, Shoots & Leaves, The Zero Tolerance Approach to Punctuation.
Judulnya diangkat dari sebuah humor mengenai kasus ekstrim penggunaan tanda baca yang buruk:
A panda walks into a café. He orders a sandwich, eats it, then draws a gun and promptly proceeds to kill everyone with it.
"Why?" asks the confused, surviving waiter amidst the carnage, as the panda makes towards the exit. The panda produces a badly punctuated wildlife manual and tosses it over his shoulder.
"Well, I'm a panda," he says at the door. "Look it up."
The waiter turns to the relevant entry and, sure enough, finds an explanation. "Panda. Large black-and-white bear-like mammal, native to China. Eats, shoots and leaves."

Jadi, ketika seharusnya tidak ada tanda baca, dan diartikan:
Panda "memakan rebung dan daun" (bambu).
Malah salah pengertian menjadi "makan, tembak dan tinggalkan".
Gicu deh.
Saya sendiri belum pernah baca buku itu, hanya kebetulan saja suka referensinya terhadap panda dan bambu (buku berikutnya yang akan menyusul terbit musim gugur 2005, Talk to the Hand, bahkan bergambar panda merah).
Menurut kritik sih, sebenarnya buku ini bukan mengajak pembaca kepada cara menulis yang benar, namun hanya sekedar menampilkan gambaran tersamar tentang menurunnya tingkat keluhuran budaya cetak masa kini. Buktinya, judul itu sendiri telah mengandung beberapa kesalahan terselubung yang sering diabaikan orang.
Ada quiz menarik di official websitenya kalau mau coba. Sejauh mana kemampuan anda menggunakan tanda baca (versi British)?
http://eatsshootsandleaves.com/ESLquiz.html

# Senyuman Tanda Baca


Emoticon alias smiley asalnya digunakan untuk menandai humor pada baris-baris surat elektronik yang terkesan dingin agar lebih santai dibaca.
Muncul dalam iklan pada 1953, dan dipopulerkan pada 1982 oleh seorang ilmuwan komputer di CMU untuk digunakan pada bulletin board.
Seiring dengan perkembangan tipe huruf yang dipergunakan, maka semakin beragamlah emoticon yang tersedia, bahkan bisa menampilkan segala ledakan perasaan yang sangat jauh dari sesungging senyuman.
Emoticon ala Jepang yang menggunakan karakter huruf yang lebih rumit, berbentuk semakin meriah seperti bisa dipantau di 2ch.net. Kini berbagai instant messenger dan tagboard memberikan fasilitas yang menyalin langsung deretan lambang tersebut berbentuk grafik mungil lucu.
Yang sedang laris di tahun kemarin adalah bentuk orang sujud (yang bisa berarti baik pemujaan terhadap sesuatu, maupun kegagalan atau keputusasaan) ... orz ... beserta variasinya
Or2 .. On_ .. OTZ .. OTL .. O7Z .. Sto .. Jto .. _no .. _| ̄|○
seiring dengan meledaknya kisah cinta ala otaku Jepang "Densha Otoko"「電車男」 (setelah sukses adaptasi ke layar lebar, kini diputar drama di Fuji Terebi Kamis jam 10 malam).

Kadang-kadang, saya pasang juga emoticon sebagai hiasan. Kebetulan saya hanya menggunakan simbol huruf yang termuat dalam keterbatasan ASCII, antara lain
<;^P {X^D (@_@;a p(^o^)q m(_"_)m Namun ternyata kemarin ini masih ada juga rekan (pak Ferry) yang meminta saya menerjemahkannya! Apakah sedemikian rumit lambang di atas? Padahal walaupun hanya terdiri dari susunan tanda baca, bagi saya emoticon tetap merupakan gambar. If a picture paints a thousand words, then how should I translate it? Ke dalam seribu kata? Bila tak dipahami sebagai gambar, tentu tamatlah dia.
Sebaliknya, bayangkan pula penggambaran kecantikan seorang putri yang "wajah bulat telur, alis bak semut beriring, mata bak bintang kejora, hidung bak siung bawang, bibir bak delima merekah, pipi bak pauh dilayang, lengan bak lilin dituang..." Gambarkanlah persis seperti demikian, dan apa yang didapat? Monster!
Pada awal-awal email berisi emoticon beredar, banyak orang yang menikmati berkata kejam tapi menandainya dengan senyuman, dan menampik protes dengan menunjukkan tanda itu sebagai "hanya main-main". Namun kejamnya kata-kata terkadang tak bisa dihapus oleh sekedar bintik-bintik.
Seperti juga dituding oleh WSJ (1992), "smileys might be a real help for today's students, raised on TV and unskilled at spotting irony without a laugh track."
Maka, mari abaikan semua bentuk mungil itu, dan kembalikan perhatian kita pada kekuatan kata-kata.


# Novel Tanda Baca

# Kuis Tanda Baca
# Senyuman Tanda Baca

Sabtu, 16 Juli 2005

Rubah Api, Kucing Beruang

Wakatake Monogatari #... bangaihen 番外編

The animal shown in the logo is a stylized fox, although "firefox" is considered to be a common name for the RED PANDA, Get Firefox!which was avoided since a panda didn't convey the appropriate image, according to one of the developers.
(Firefox name FAQ)


My Destiny... 「これが運命です...」


pandatakenokoTengah 2002, di Seinen no Ie sudut Kyoto, memeriahkan organisasi kepemudaan dan LSM terkait, dengan menggelar cinderamata dan pisang goreng.
Bubar acara, seorang dari gerai tetangga, Cina, menyerahkan sisa dagangannya sebagai oleh-oleh. Sepasang gantungan kunci berbentuk boneka, untuk aku dan Ann, sahabat Indonesia satu-satunya yang menemani saat itu.
Ann mengambil yang kelabu, aku yang cokelat.
"Rasanya kenal, tapi makhluk apa ya? Tupai atau berang-berang?"
"Panda," jawab si rekan Cina dengan riang gembira.
"Hah!" aku protes, menatap belang buntutnya, "Gak mungkin panda! Itu warnanya abu-abu, rakun kali! Kalau yang cokelat ini tanuki dong, bahasa Inggrisnya kan raccoon dog. Makanya dipasangkan?"
"Ini bayi Panda kecil," tambahnya lagi sambil tetap ceria tanpa prasangka apapun, dan segera berlalu untuk berbagi ke gerai lainnya.
"Huuu, seenaknya saja merancang dan memberikan nama, ini kan mengacaukan pengertian ilmiahnya, kasihan anak-anak kecil yang kebingungan gara-gara ini atuh..." dengusku sok tahu sambil memeriksa kotaknya yang jelas bertuliskan PANDA. Lalu terbaca labelnya, made in China, created by Takenoko Co.inc., Japan.
Rebung. Hmmm, ini pertanda.
Walaupun tak begitu tertarik pada benda tiruan imut tak jelas begini (mendingan hewan aslinya heuheuheu), tapi mumpung dikasih gratis, rebung, pasangan dengan Ann pula, kenang-kenangan manis.
Pulang ke pondokan, kuperhatikan lebih teliti, pantas saja rada hafal, ternyata gantungan kunci itu menampilkan makhluk mirip slipper yang sudah setia menemaniku sejak usia 18 (Eighteen till I die!!!)
pandaslipperSaat itu musim dingin di sekolah bahasa, tahun baruan pertama sejak merantau ke Jepang. Empat orang seangkatan putri Indonesia, berulang tahun dalam waktu yang sangat berdekatan, maka kami tukar menukar hadiah.
Si E menghadiahi kami semua slipper hangat 500yen-an berbentuk boneka lucu. R dapat kelinci pink, W teddy bear, dia sendiri anjing mungil, sementara aku makhluk berbulu jingga tak dikenal yang selama ini kukira TANUKI. Ketika kutanyai E mengapa memilihkanku makhluk yang itu, ia jawab karena itu KITSUNE, sesuai denganku... (eh tapi aku kan gak licin? Otch!)
Karena bentuknya slipper, memang susah menentukannya. Mungkin juga bukan panda, memang tanuki atau kitsune...
Ternyata, bukan hanya aku yang kebingungan.
Penamaan Panda ini memang mengandung kontroversi yang unik, apalagi seiring dengan menyebarnya web browser firefox, trivia ini bahkan sempat menjadi bahan pertengkaran suami istri segala (kabar dari beberapa blog).

Korban Penjajahan


Seorang ahli tumbuhan Denmark di awal abad 19 menemukannya di daerah jajahan Inggris di Himalaya, lalu petugas pemerintah di sana pertama kali memperkenalkannya ke peradaban barat sebagai Panda, pelesetan dari sebutannya dalam bahasa Nepal, nigalya poonya "pemakan bambu", namun malah orang Perancislah yang lebih dahulu membaptiskannya nama latin "Kucing Berkilau" Ailurus Fulgens.
firefoxbambooSetelah lima dekade populer sebagai satu-satunya Panda, penemuan raksasa hitam putih sedaerahnya, diberi nama Panda Raksasa, yang akhirnya menguasai gema nama itu sendirian, mengakibatkan makhluk imut ini tersingkirkan menjadi sekedar "lesser panda" yang setelah diterapkan political correctness, diperhalus menjadi "red panda".

Rebutan Antar Keluarga


Sebagian ahli mengklaimnya sebagai keluarga raccoon, hewan asli amrik yang berpenampilan mirip (yang juga sempat mengecohku) walau terbentang jarak seluas benua seluas samudra.
Sebagian lagi mencocokkannya dengan panda raksasa karena gaya hidup yang sangat mirip, sehingga masuk keluarga beruang.
Sebagian lagi menyarankan agar ia diakui sebagai keluarga sendiri.
Setiap kebun binatang yang merawat dan mengembangbiakkan jenis ini, punya kebijakan dan alasan yang masing-masing berbeda mengenai pengelompokannya ke keluarga mana.
Demikian pula di internet:
banyak yang masih memasukkannya ke dalam marga procyonidae,
sementara di wikipedia english tercantum sebagai ursidae,
dan di wikipedia japan sebagai ailuridae.

Boom Japan Zoo 2005


Baru dua bulan kemarin, entah apa hubungannya dengan penyebaran firefox versi Jepang, di Jepang terjadi publikasi besar-besaran mengenai kemampuan mereka berjalan dengan dua kaki, bahkan memperoleh tawaran jadi bintang iklan.
Hebohnya komersialisasi ini kemudian diprotes keras oleh WWF (lembaga yang menyandang logo sang saudara sepupu, panda raksasa).
Berikut beberapasitus kebun binatang di Jepang yang memuatnya (perhatikan bahwa istilah Lesser Panda masih digunakan):
Chiba, tempat si tenar Fuuta
Yokohama, ketika si Dale pensiun
Shizuoka, hewan pilihan bulan Juni 2005
Hokkaido, catatan kelahiran
Hiroshima, ada penjelasan digestifnya.

Ahli Bahasa vs Ahli Binatang


Kontroversi penyebutannya sebagai Rubah Api, yang dinyatakan oleh Wellington Zoo dan dikutip Mozilla, sempat dipermasalahkan karena beberapa orang dari Cina menilai kebun binatang tersebut salah kutip, dengan pertimbangan bahwa seorang pengurus kebun binatang boleh saja salah paham bahasa asing.
Namun, menyadari beberapa kekeliruan yang aku alami sendiri dalam penamaan binatang dan kesenjangan yang sering ditemui antara Indonesia-Inggris-Jepang, yang informasinya kadang-kadang tidak timbal balik dalam masing-masing kamus:
tanuki = disebut rubah luak, tapi justru marga anjing;
luak = civet-cat = jakouneko; civet = musang;
weasel = itachi = musang/luak; ferret = musang jinak;
mongoose = semacam musang, luak;
anaguma = badger (maskotnya hufflepuff)= semacam luak;
araiguma = raccoon =binatang serupa kucing;
apakah musang = luak? apakah weasel = civet?
kalau beaver = berang-berang, otter apa dong?
... etcetera

Maka aku mempertimbangkan sebaliknya:
Penyusun kamus juga belum tentu paham istilah yang dipakai di masing-masing pelosok negeri, oleh aneka ragam suku bangsa dengan corak yang berbeda, yang sebagian bahkan mengalami pembantaian etnis karena perseteruan berabad-abad...
Panda merah itu sendiri adalah hewan langka yang jarang berinteraksi dengan peradaban secara meluas, sehingga tentu saat itu belum diteliti dengan baik. Dan melihat penampilan yang menyala-nyala dengan indah, bukan tak mungkin ada suatu kelompok budaya minoritas yang dengan sekenanya menamai makhluk ini sebagai rubah api tanpa terpikir untuk mendaftarkannya di kamus umum yang dipertanggungjawabkan oleh kekuasaan mayoritas.
Buktinya bahkan panda raksasa, dikabarkan nyaris tak pernah menjadi objek karya seni secara khusus di negerinya sendiri, sebelum mulai dihebohkan ke dunia barat di abad 19 itu. Sementara kini, Washington DC nun jauh di sana saja meliriknya untuk diekspos besar-besaran sebagai festival pastiche di sepanjang kota.

Rubah Api dan Api Rubah


Istilah Rubah Api higitsune 「火狐」, istilah yang mengesankan fantasi magis, ternyata memang tak dikenal di Cina maupun Jepang, karena rubah yang berwarna jingga menyala adalah pribumi di daerah itu, sehingga biasanya hanya dinamakan rubah saja.
Ada memang tokoh rubah merah jadi-jadian, seperti Shippou dalam komik InuYasha. Namun pada umumnya di Jepang, yang disakralkan adalah rubah putih, karena dihubungkan dengan dewa panen, Inari.
Keahlian rubah menyamar, tampil dalam dongeng seperti kitsune no yomeiri, adalah mitos yang juga diterapkan pada tanuki (seperti dalam dongeng teko tanuki bumbuku chagama atau dikisahkan dalam anime ghibli heisei tanuki gassen pompoko).
Sebaliknya, Api Rubah, kitsunebi 「狐火」, punya arti khusus dalam kamus: Ignis fatuus, alias Jack-o-Lantern, alias Will-o-the wisp.
Api berpendar aneh, fosforesensi yang melayang di atas tanah, sering diasosiasikan dengan hantu atau UFO. Ada yang menganggapnya berasal dari gas biomas, atau mengaitkannya dengan gerak tektonik
(entahlah, belum pernah memperhatikan, ada yang tahu?).

Kucing Beruang


Kembali terkenalnya panda merah sebagai "rubah api" karena menyebarnya Firefox, yah menurutku sih asyik-asyik saja.
Tiada salahnya si lucu ini menerima lampu sorot kembali setelah selama ini tersingkirkan oleh gerombolan si berat panda raksasa (yang kemarin sedang berbahagia karena rekan mereka di beberapa kebun binatang baru saja melahirkan).
Yang menjadi perhatianku terlepas dari kerubahapian tersebut:
Nama resmi mereka (baik raksasa maupun kurcaci) dalam bahasa Cina: XiongMao, ditilik dari kanjinya 「熊猫」 berarti kucing beruang.
(Benar kan? spider-man= kumootoko= manusia laba-laba;
kumaneko= bear-cat= kucing beruang)...
Ber-uang= punya uang, alias matre! Kucing biasa saja aku sudah sayang, apalagi yang matre. Yahahahaha.
Dan gaya hidup yang sama antara kedua makhluk lucu yang sebenarnya tergolong karnivora ini :
Diet mereka 99% BAMBU (terutama panda merah, mengkhususkan diri pada pucuk-pucuknya).
Selain kedua jenis panda, yang berdiet ini hanya segelintir makhluk seperti kukang emas di Madagaskar dan tikus Sumatra.
Demi mempermudah meraup bambu, sebuah tulang pergelangan tangan tumbuh menjadi jempol tambahan: dengan demikian jadilah mereka Generasi Jempol yang sesungguhnya.
Ternyata, warna hitam putih dan jingga itu, ampuh dalam menyamarkan diri di balik hijau bambu tanpa perlu jadi bunglon!
firefoxdreamHampir seluruh hidup mereka habis untuk menyantap tumbuhan sulit cerna itu secara perlahan. Karena hanya memperoleh kalori rendah, sebagian besar waktu tersisa dipakai tidur nyenyak bermalas-malasan (oooh betapa nyaman...)
Pantas saja tidak ditampilkan dalam rancangan lambang Firefox yang kini beredar, rubah merah jingga berkesan lebih s.i.g.a.p dengan api menyala di buntutnya.

NB1: Permainan mungil menenangkan batin, Orisinal Panda

NB2: Vandalisme Pandamania

NB3: Bicara luak, apa-apaan Animal Coffee ini!!!



bambuklaus# My Destiny... 「これが運命です...」
# Korban Penjajahan
# Rebutan Antar Keluarga
# Boom Japan Zoo 2005
# Ahli Bahasa vs Ahli Binatang
# Rubah Api dan Api Rubah
# Kucing Beruang

Jumat, 14 Januari 2005

Iriomote Yamaneko

ヤマネコ看板Plang di pulau Iriomote, Okinawa Jepang. Pulau terbesar kedua di provinsi ini, terdekat ke Taiwan, penuh hutan bakau, dan yang paling pertama menyambut Taifuu...
Taman nasional paling selatan di Jepang, disebut-sebut sebagai "Galapagos-nya Pasifik".

子育て中Bacaannya, "Hati-hati, Meloncat: Kucing Gunung Iriomote yang Sedang Mengasuh Anak".

Sebagai hewan langka yang dilindungi, setiap peristiwa tabrakan kucing gunung akan menjadi belasungkawa satu propinsi, dan masuk ke dalam agenda gubernuran sebagaimana tercantum di laporan ini...

ヤマネコは気づかないSebagai antisipasi terhadap berseliwerannya mobil dan truk yang mengancam nyawa, maka dipancangkanlah rambu-rambu lalu lintas dalam selang setiap sekianpuluh meter di pinggir jalan raya. Desain beragam sesuai dengan selera pembuatnya, masing-masing berisi kalimat peringatan yang berbeda. Yang satu ini dikarang oleh anak-anak setempat, artinya:
"Kucing Gunung Tidak Bisa Berhati-hati, Pak Pengemudi, Harap Waspada yaa..."

ヤマネコ横断多発中"Awas Banyak Kucing Gunung Menyeberang"

Rambu-rambu ini sangat menarik perhatian wisatawan, sehingga mereka malah sengaja melakukan drive bolak-balik demi menantikan perjumpaan dengan sang kucing gunung. Maka disediakan pulalah cinderamata berupa kaos dan gantungan kunci yang memuat gambar rambu-rambu ini. Bahkan sering ada juga yang tak puas, sehingga nekat mencuri sak tiang-tiangnya dan kena hukuman yang lumayan parah.

ヤマネコバス停Tapi, maklumlah, kucing kan jam bioritmik aktifnya malam hari. Sementara kucing kampung di sekitar RT/RW saja sedemikian susah untuk didekati, apalagi kucing gunung...
Akibatnya yah, kalau jarang ditemui di siang hari, jangan kecewa...

Itulah asal-usul ungkapan "malu-malu kucing", kan?

"Halte Bis Kucing Gunung"


(Ditulis untuk blog Belang Jingga)

Kamis, 26 Agustus 2004

Beruang Kecil Misha

mishaSejarah olympiade masa kini takkan pernah lepas dari makhluk bernama maskot. Salah satu yang beken adalah Misha dari Moscow 1980, dengan nama lengkap keren: Mikhail Potapych Toptygin.
Demi ikut memeriahkan pesta olahraga dunia tersebut, beruang kecil imut ini dijadikan model tokoh dalam Eroica yori Ai wo Komete, serial manga komedi gila kesayangan saya.

"Beruang Kecil" muncul sebagai code name Misha, agen KGB botak, musuh tangguh tokoh utama sang Mayor NATO. Penggambarannya sangat tipikal tokoh blok Timur seperti dalam film-film James Bond atau kisah petualangan Tintin. Posted by Hello
major-mishacaptain-boris

Namun, bertahan selama lebih dari 20 tahun (namanya juga komik, usia sih tak bertambah), setelah mengalami kalah menang berselang-seling, disusul ketegangan mereka ketika ternyata harus bekerja sama setelah mencairnya perang dingin, ia terbukti masih menjadi saingan kronis sang Mayor yang tak lekang termakan zaman.

Pembaca pun akan mulai menyayangi Misha yang jujur, tegas, bertanggung jawab, yang ternyata merupakan seorang kepala keluarga dengan istri cantik dan tabah serta seorang putri remaja yang menggemari seni balet.

Mungkin karena ejaannya kebetulan sama dalam bahasa Jepang, ada beberapa penggemar fanatik Misha yang menghubung-hubungkan sang tokoh pada artis Jepang penyanyi Everything, OST sebuah drama musim gugur 2000 lalu.
Si MISIA mendesain maskot untuk publikasi dirinya, sejenis beruang juga. Ide panda hijau yang manis dan punya lagu sendiri ini berasal dari sebuah fenomena roti yang pernah saya ceritakan.