Tampilkan postingan dengan label x 21st c boys. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label x 21st c boys. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Oktober 2008

Laskar Pelangi (vs. 20thboys)

Sebagai yang menamatkan pendidikan menengah di Belitong (ups, tepatnya, Jalan Belitung nomor 8! hihihi) Laskar Pelangi termasuk kategori wajib tonton. Apalagi tema film ini menyangkut Hak Asasi Manusia di bidang Pendidikan. Produsernya Haidar Bagir pula bow!

laskarpelangiMaka janjianlah saya bersama tim ngabuburit reguler di suatu akhir pekan sebelum lebaran.

(Ternyata hari itu orang-orang kota keburu mudik, sehingga bioskop cenderung sepi-sepi saja, mana Ari dan adinda yang punya kartu debit untuk beli satu dapat dua baru muncul siang hari, sehingga upaya saya dan Dina mengantre sejak pagi nyaris sia-sia. Dengan Davi, jumlah anggota tim ganjil pula, tanggung. Biarlah, yang penting tetap dapat tempat nyaman.)
***

Entah kenapa, ada yang terasa akrab dari pemandangan-pemandangan yang disajikan...
Mungkin karena latar belakang ceritanya tidak terlalu khas Belitong: Komik Malaysia karya LAT seperti "Budak Kampung" dan "Budak Kota", juga mengisahkan kehidupan anak melayu keriting kampungan, putra pegawai pertambangan timah, yang berusaha keras untuk bersekolah tinggi, bersahabat dengan teman sekelasnya yang orang cina, dan hobi mendengar musik rock & roll.

ikalvslat


Tapi bukan sekadar itu. Pastinya ada yang lebih mengurat darah...
Apa, ya... Apa, yaaa?
... Astagaaa ya ampuuun...
... Hmmm... Yakin, judulnya bukan A-K-A-R PELANGI?!!?
(referensi: 20th century boys jilid 16)

akarpelangi


Mungkin karena setengah abad terakhir ini sudah masuk ke zaman globalisasi, setiap anak di belahan dunia berbeda nyaris mengalami masa kanak-kanak yang sama, ya. Radionya Mahar, jangan-jangan mengumandangkan lagu yang senada dengan radio Kenji-kun!?! (ditilik tahunnya, beda satu dekade sih)

maharvskenjikun


Dan kegemaran Donkey terhadap ilmu pasti, tidakkah senafas dengan semangat Lintang menuntut ilmu?
... Eh ngomong-ngomong tokoh Lintang kanak-kanak ini lucu banget, eksotis, secara fisik tipikal yang bakal saya keceng. Heran, kenapa wajah pemeran besarnya malah dicocokkan dengan wajah Alex Komang yang memerankan sang bapak, bukan dengan wajah kecilnya? Kayak gak ada pemeran lain saja yang lebih mirip?

lintangvsdonkey


Atau mestinya sih gak perlu ada adegan masa besarnya... Soalnya sebagai film anak-anak, film ini terlalu banyak mengambil porsi sudut pandang orang dewasa. Konflik yang muncul pun ditambah-tambah dari yang ada di novelnya. Memanfaatkan jajaran pemeran veteran? Tujuannya bagus sih, untuk menggarisbawahi perjuangan para guru. Tapi rasanya klise.

Pengorbanan sang guru belum seekstrem Yi ge dou bu neng shao (1999); keluguan kanak-kanak kalah murni dari Bacheha-Ye aseman (1997); kenakalan berkelompok, belum seheboh Die Stadtpiraten (1986); kerumitan persahabatan, belum sedalam Shonen Jidai (1990).
Dan konsepnya jelas jauh lebih membumi daripada 20thboys (2008)...
Yang terakhir gak pantas diperbandingkan sih, tapi maklumlah, mungkin saya sudah terlalu lama terindoktrinasi di Tomodachi World!!!
(Yahahahahah... A-so-bi-mashou!!!)


20thcenturyboys


Padahal semua pemeran kanak-kanaknya asyik, segar-segar. Walaupun ada adegan-adegan yang terkesan kagok, seperti saat menyanyi yang dibuat seakan video karaoke amatiran, atau saat menari yang kurang heboh, mungkin karena mereka malu-malu... perlu waktu lagi untuk mengasah kegilaan masing-masing...
Tapi nyanyian dan tarian itu memang mutlak dipasang di film ini, tidak dapat diabaikan! Demi memajukan kembali kesenian Melayu (dan suku terasing)!!!

padangilalang


Tapi mempertimbangkan dengan standar film Indonesia, tidak diragukan lagi, patut diacungi jempol. Adegan-adegan awal saja sudah menyebabkan saya tersedu-sedan (walaupun adegan yang dipasang sebagai klimaks justru bagi saya terasa gak penting: tapi ini memang tidak dapat menjadi standar, karena terakhir kali saya melelehkan air mata adalah saat menyaksikan Joker beraksi).

Ujung-ujungnya dari kelompok ngabuburit, Davi menggiring ortunya menonton lagi, Dina menang tiket gratis dari undian XL, Ari mengajak cowoknya -putra asli Belitong yang pernah kebagian dididik oleh salah satu anggota laskar pelangi-, saya mengatur jadwal no-bar rekan sekandang ditraktir bos yang ultah, dan adinda pastinya punya kelompok "kinemala" untuk mengapresiasi secara lebih terperinci.
Kesimpulan: Yang belum menonton, segeralah tonton! Yang sudah, juga gak salah untuk balik lagi dua-tiga kali.

Senin, 30 Juni 2008

Mangaz the Movies!!!

Uwoooh!!! Dua bulan lagi, babak I dari trilogi 20th Century Boys the Movie akan tayang!!!
(Dan seharusnya Dragonball the Movie juga turun, tapi katanya masih repot di pascaproduksi sehingga baru akan muncul tahun depan lagi.)



Hmmm... Tokiwa Takako cocok kali yah jadi Yukiji... Sudah cukup berumur tapi masih imut...Tapi Karasawa Toshiaki itu lebih cocok jadi Tenma Kenzo di [Monster]... Secara dia juga sudah biasa berperan sebagai dokter elit... Kalau jadi Kenji kemanisan tampaknya, padahal mendingan jadi Fukubee lah! Sementara Toyokawa Etsushi cukup misterius sebagai Otcho, tapi Otcho kan seharusnya bermata besar, dia sipit abis, sembab pula! Yang lain... Lumayanlah... Coba diperbandingkan...



Kabarnya, cerita filmnya gak akan sama dengan komiknya... Uuuh, bakal jadi kayak gimana ya... Kalau cuma setingkat Death Note, kayaknya rugi banget pasang sederet pemeran veteran begitu. Mendingan minta diadaptasi sama 20th Century Fox saja, secara namanya serasi...

Tapi 20th Century Fox ternyata juga sedang menggarap DRAGONBALL dengan pendekatan yang meragukan...



Produsernya Stephen Chow, tapi dalam proses pembuatan dia gak mau banyak turun tangan karena ini bukan cerita karangan dia sendiri. Yang penting, aksi silatnya harus mantap dong... Info yang sudah bisa diakses, baru beberapa pemain...

Dan KAYAK GINIII jadinya SonGoku versi Holiwut!!!
Lho? Hueeeeeeks...
Ayo siapa yang protes ngacung!!!
Memang bangsa Saiya itu diperankan sama bule pun tetap gak cocok ya.

Yang jadi Mutenroshi Kamesennin adalah si Chow Yun-fat, mendingan lah ya.
Chichi lumayan manis, tapi besar juga.
Bulma itu pemeran Phantom of the Opera, hmmm penokohannya gak nyambung... Yamcha orang Korea, bolehlah ya.

Entahlah desain bajunya kok beda dari komiknya ya. Rambut si Bulma cuma sejumput yang dijadikan berwarna biru, tapi serasi lah. Kalau biru semua memang aneh tentunya.


Yang jadi Piccolo Daimaoh katanya James Masters yang jadi Spike di Buffy, sementara nama Piccolo itu dulu sempat diterjemahkan jadi Spike juga... Bolehlah kalau begitu.
Tapi yang jadi Majunior siapa dong?



MONSTER juga sudah mulai praproduksi di Holiwut, ya iyalah, latar dan tokohnya seputar Eropa begitu, gak mungkin ditangani oleh Jepang semua... Tapi belum ada kabar lebih lanjut ya. Mestinya Tenma dimainkan Karasawa... Tapi bisa Deutsch nggak ya dia... Yang jadi Johann dan Anna siapa bagusnya: Cillian Murphy? Tapi dia bukan berambut pirang mata biru sih... Jangan-jangan sudah dipilih tapi belum ada pengumuman...

Death Note versi Holiwut juga bakal muncul walaupun entah berapa puluh tahun lagi! Hoaaa... Kalau sudah begini, si Ryuku --tokoh kegemaranku-- bakal berbentuk seperti apa ya, tetap sama atau dibuat desain lain? Tapi yang penting Light dan L mesti jadi lebih keren dan lebih berwibawa daripada versi Jepangnya dong... Dan kalau bisa Light tetap orang Jepang selain si Fujiwara...

(Bonus ga penting: Hana yori Dango Final!!! Setelah sukses menandingi versi Taiwannya dengan dua musim drama asli Jepang yang lucu dan imut, sekarang tidak mau kalah tampil di layar lebar juga donggg, sudah tayang sejak akhir bulan. Mwahahah dibayar berapa itu si MatsuJun, boleh bersanding dengan rekan aktor lainnya di situs resmi...)

Rabu, 19 September 2007

Audisi-Audisi!

Audisi-audisi untuk para gadis manis penggemar manga.

Audisi Topeng Kaca


Bagi yang berminat menjadi tokoh utama (Maya atau Ayumi) dalam opera sandiwara musikal Garasu no Kamen (Topeng Kaca)...

Syarat: Pada bulan Agustus 2008 berusia sekitar 16-25 tahun, percaya diri dalam olah suara, siap latihan mulai Juni 2008 dan tampil di panggung mulai September 2008.

Batas waktu pendaftaran: 21 September 2007. Silakan klik di sini...
audisitopengkaca

Audisi 20th Century Boys


Bagi yang berminat menjadi tokoh utama Endou Kanna, sang primadona dalam film layar lebar 20th Century Boys...

Syarat: Usia berapa pun, asal mampu memerankan Kanna yang berusia sekitar 17-21 tahun. Bisa menyesuaikan jadwal pengambilan gambar sepanjang tahun 2008.

Batas waktu pendaftaran: 31 Oktober 2007. Silakan klik di sini...

audisi20thcenturyboys

Mohon maklum kalau segenap proses penerimaan berlangsung dalam bahasa Jepang... heuheuheu heuheu heuheu!

Senin, 18 Juni 2007

Burger Kucing

Satu hal yang mengganjal di kerongkongan dalam reuni akbar SMA, sebagaimana disinggung adikku:
Reuni SMA 3: kesan utama adalah... burgernya, yang bahkan kucingku gak berminat memakannya


ichc?.comKucing kami ini sebenarnya pemakan segala, karena selalu ikut berselera melihat tuan mereka makan. Makanya mereka bisa mencuri pisang goreng, kue spekulas, bubur pulut hitam ataupun capcay. Tapi, begitu disuguhi segepok daging McD, puih, mereka memalingkan muka!!! Selera mereka jauh lebih tinggi daripada kucing-kucing di ICHC? dotcom.

Heran, apa tak ada makanan khas Bandung yang bisa dihidangkan di acara sebesar ini. Batagor, Pisang Molen kek... Di dua acara sebelumnya dalam rangkaian reuni tersebut, masih mendingan: Ada jajanan kantin bazar gratisan untuk nostalgia di Jumat petang, dan kami bisa beli bubur ayam di olahraga Sabtu pagi. Mengapa di acara malam Minggu tidak ada suguhan yang menyelerakan???
Padahal kami angkatan abad 20 harus bayar 65000 untuk undangan masuk, pin kaleng, buklet tipis dan kupon makan. Mengapa kupon ini hanya bisa ditukar McD?

Sementara yang datang banyak sekali angkatan tua, '60-'70-an yang jauh lebih kompak dibandingkan yang mudanya (pakai kaos, topi, rompi seragam segala). Biasanya kan pasaran McD ditujukan kepada kaum muda. Tapi memang siasat dagang dan promosi McD tidak bisa diduga, dan berteknologi canggih...

Terhitung sejak heboh "Super Size Me" yang saya bahas beberapa tahun lalu, sudah ada segala macam yang aneh-aneh. Bahkan kini, MegaMac telah menjajah Jepang. Sampai orang bertanya-tanya, kapan ada GigaMac, TeraMac, IotaMac?

mcgrandmapa


Misalnya di Jepang ada si badut Ronald tiba-tiba berubah jadi sosok cewek seksi dan cowok emo mempromosikan McGrand, burger tomat.

Atau meluncurkan situs "I am Asian" dengan sasaran utama orang-orang beretnis Timur Jauh (Cina, Jepang, Korea) di Amerika, berusaha mencitrakan bahwa McD bisa membaur dengan jatidiri ke-Asia-an mereka. Kampanye yang sama kabarnya juga disasarkan kepada kaum Afro-Amerika...

Kemarin kita dengar pula usahanya menghapus istilah yang sudah tercantum dalam kamus sekelas Oxford, McJob yang diartikan sebagai "jenis pekerjaan bergaji rendah yang tidak membutuhkan keterampilan khusus dan tidak menjanjikan kesempatan berkembang di masa depan".

Ketika heboh-heboh penggunaan warna Sudan Red yang menyebabkan kanker, setidaknya McD Indonesia mengklaim bahwa produknya menggunakan bahan lokal 95 persen.

Ailing vomit.

Sabtu, 21 April 2007

Serban Noguchi dan Sanggul Kartini

Noguchi Hideyo (1876-1928, hmmm hidup nyaris sezaman dengan ibu kita Kartini, 1879-1904) bisa dipastikan sebagai sosok teladan yang menggugah Kiriko, Yamane dan Fukubee sejak sekolah dasar untuk mulai melakukan penelitian terhadap aneka ragam kuman (walaupun tak pernah terang-terangan disebut dalam cerita mereka).

noguchihideyoBeliau adalah ahli mikrobiologi Jepang pertama yang mendunia. Meneruskan kuliah ke Amerika, beliau mempelajari racun ular, vaksin cacar, diagnosa trakoma, kemudian menemukan bakteri penyebab siphilis, serta meletakkan dasar berbagai metoda ilmiah dalam bidang imunologi. Sempat masuk nominasi penerima hadiah Nobel. Tragisnya, beliau meninggal di Ghana Afrika gara-gara tertular saat meneliti penyakit kuning. Ucapan terakhirnya, "aku tak mengerti."

Biografi masa kecil Noguchi Hideyo mudah kita temukan di buku-buku teks pelajaran bahasa Jepang. Bagaimana Seisaku (nama lahirnya) kecil belajar keras dengan tangan kirinya yang cacat terbakar api di usia dua tahun, sambil menahan cemoohan dan gencetan.
Berkat bantuan guru dan teman-temannya di sekolah menengah,
ia berhasil dioperasi sehingga tangan kirinya bisa bergerak lagi.
Peristiwa itu mendorong dirinya untuk mempelajari ilmu kedokteran.

noguchihahaKebanyakan narasi yang beredar menggambarkan betapa besarnya sosok sang ibu dalam membentuk sang putra menjadi orang hebat, dan menghapus sosok ayah yang pemabuk dan penjudi.
Ada yang mengatakan, seperti halnya kisah Kartini disebarluaskan oleh para pendukung politik etis Belanda, kisah keteguhan hati ibunda Noguchi ini dimanfaatkan pemerintah untuk propaganda "ryousaikenbo" baik di zaman sebelum maupun sesudah perang.
Sebagai sarana memperkuat perempuan untuk menjadi ibu yang bertanggung jawab, dan memberikan perempuan status sosial yang mengabaikan dasar-dasar otoritas patriarki... tsaah.

Menurut Sensei Bahasa Jepangku dulu, sebenarnya Noguchi Hideyo tidak pantas dianggap sebagai pahlawan patriot bangsa karena beliau adalah tipikal ilmuwan yang pikirannya hanya terkonsentrasi ke penelitian yang ada di hadapannya. Andaikan saja sang ibu yang cenderung tunaaksara tidak memaksakan diri menulis surat ke Amerika dengan huruf katakana dan hiragana, beliau pasti lupa mudik dari pengembaraan selama 15 tahun itu.

noguchitegami
Orang-orang kagum dengan kesuksesanmu. Saya sangat bangga.
Kepada Kannon Nakata, setiap tahun saya bertapa. Sebagaimanapun belajar, takkan ada habisnya.
Ada masalah kah di Iboshi? Kalau kau datang, buatlah alasan.
Di musim semi, semua pergi ke Hokkaido, saya kesepian.
Saya mohon, kembalilah segera.
Saya tidak bilang ke siapa pun dapat uang.
Kalau saya beritahu akan ditelan oleh mereka.
Kembalilah segera. Kembalilah segera kembalilah segera.
Kembalilah segera. Ini keinginan sekali seumur hidup.
Saya berdoa ke arah Barat. Saya berdoa ke arah Timur.
Saya berdoa ke arah Utara. Saya berdoa ke arah Selatan.
Tanggal satu saya puasa garam.
Dan kepada eisho-sama, tanggal satu saya juga berdoa.
Walaupun melupakan yang lain, yang ini tidak dilupakan.
Saya melihat foto. Kembalilah segera.
Beritahu saya kapan kau akan pulang.
Saya menunggu jawaban, sampai-sampai tak dapat tidur.

Kata-kata yang sungguh menyayat hati.
Masih untung setelah menerima surat itu, beliau tergerak pulang, walaupun hanya sekali namun disorot heboh oleh media Jepang, sehingga beliau tak perlu menyandang gelar Malin Kundang.

Bagaimanapun juga tetap saja, pengaruh sosok Noguchi Hideyo telah mengakar di dalam hati "anak-anak abad 20" itu.
Maka demi memperingati beliau, kabarnya mulai tahun depan Jepang bermaksud menyelenggarakan Hideyo Noguchi Prize for Africa, yaitu sebuah penghargaan bergengsi sekaliber Nobel, dikhususkan pada bidang kedokteran dan pelayanan medis melawan penyakit infeksi, dengan hadiah sebesar 100 juta yen.

Sedikit terlambat dari Kartini yang telah beberapa kali muncul dalam lembaran mata uang rupiah, wajah Noguchi juga mulai menghiasi lembaran 1000 yen, menggantikan Natsume Souseki sejak 2004.

touryounoguchigananoguchi

Dan entahlah karena tergelitik oleh bentuk rambutnya yang aneh nyaris sekaliber Einstein, orang-orang Jepang tiba-tiba bersemangat melipat uang seribuan itu untuk membentuk serban atau tutup kepala lain yang unik-unik bagi Noguchi. Istilah kerennya, Turban Noguchi.
Koleksi gaya Noguchi (dkk) bisa dilihat di sini.
Buku panduan teknik melipat berbagai macam serban untuk beliau, Osatsu de Origami: Tuerban Noguchi no Tsukurikata terbit bulan lalu.



video: cara membuat Tuerban Noguchi, dengan bonus:
parodi origami oleh Rahmenz Japan Culture Club, dan
liputan 3 besar origami tercanggih dunia karya Kamiya Satoshi


Sayangnya, pada kebanyakan uang rupiah lembaran, rata-rata penghuninya sudah berserban ataupun berpeci.
Seandainya uang rupiah bergambar Kartini masih banyak beredar, tentu aku akan berusaha menutupi keningnya yang nongnong dan memasangkan selendang, kerudung, ataupun topi petani...

Senin, 09 April 2007

Menara Matahari ・「太陽の塔」

Seharusnya minggu ini aku menelusuri jejak langkah tahun 1997, sepuluh tahun yang lalu (!!!) mengenang saat pertama kali mendarat di bandar udara internasional Kansai, dan berjumpa dengan benda menyeramkan yang sering menghantui mimpiku: Taiyou-no-Tou.

taiyounotouTerutama tahun pertama, selama masa bertapa di asrama gunung Minou, Banpaku Kinen Kouen (Expo'70 Memorial Park) nyaris menjadi tempat wisata satu-satunya.
Di sana ada museum, taman bermain, sarana olahraga dan kebun bunga. Untuk mencapainya, kita menggunakan monorel.
Berbagai kegiatan yang diselenggarakan di sini sering aku ikuti, namun saking seramnya pada wajah yang mirip lukisan Picasso itu, tanpa sadar aku selalu menghindari menara matahari ini.

Bahkan sampai lupa bahwa ternyata di antara selemari foto-fotoku, aku sempat juga beberapa kali dijepret dengan latar belakang menara matahari ini. Misalnya foto sebelah dipaksa bergaya oleh Pak Baskoro AR-ITB di sela-sela acara barbecue musim gugur bersama PPI Osaka dan Konjen RI, foto di tengah merayakan selesai ujian bahasa bersama Surya dan Caroline, dan foto paling bawah saat jelang musim panas mengunjungi museum etnologi bersama host family dan rekan seasrama.

taiyouumeBarulah sejak terbenam dalam ketegangan horor manga 20th Century Boys, dan merasakan euforia antre berdesak-desakan di Aichi Banpaku (Expo'05), aku bisa mulai memahami dan menghargai betapa pentingnya keberadaan monumen surealis karya Okamoto Taro ini bagi masyarakat Jepang pada umumnya, dan anak-anak masa itu pada khususnya: dalam romantisme mengangankan Abad 21.

Selain itu, kesan seram yang aku peroleh dari Menara Matahari membuktikan keberhasilan sang seniman menerapkan teori beliau: seni masa kini itu tak boleh rapi, tak boleh indah, tak boleh nyaman.

Sesuai dengan tema Expo'70, "kemajuan dan keselarasan manusia", menara ini punya wajah picasso di muka (masa kini), wajah hitam di punggung (masa lalu), wajah keemasan di puncak (masa depan), lalu kabarnya pernah ada wajah tambahan yang telah hilang di dasar bangunan.
Di dalamnya ada "pohon kehidupan" yang menampilkan berbagai tingkatan keanekaragaman hayati.
Entahlah kalau memang ada Bom Antiproton tersembunyi di sana... (eh itu sih di menara matahari versi tokyo 2015 yah)



banpakukoen

Ngomong-ngomong soal masa lalu: jadi ingat bahwa sastra pertama yang menjadi kegemaranku di masa balita adalah karya Ajip Rosidi (sastrawan yang kebetulan juga pernah di Minou) lama bermukim, buku kumpulan puisi berjudul "Sajak-sajak Anak Matahari".

Ngomong-ngomong soal masa kini: gagal napak tilas 10 tahun, aku mundur 3 tahun lagi ke belakang, kembali bergadang di gunung untuk menunggui anak-anak itu menyambut pagi sambil terharu biru menyanyikan lagu "Mentari, menyala di sini..."

Ngomong-ngomong soal masa depan: kebetulan aku baru mendoakan, semoga film karya seorang teman tak perlu bernasib harus mengulang penjelasan judulnya berkali-kali di tengah cerita gara-gara kebagian digarap oleh sutradara film "Mengejar Matahari".

Rabu, 28 Maret 2007

Peniru Kena Tiru

Satu kutipan dari 20th 21st CB:

"Tiruan dari tiruan yang asli kah......"

"Begitulah. Menjadi asli akan merugi. Yang menyalinnya pun masih belum apa-apa. Untuk menggenggam dunia, sudah dipastikan... Salinan dari salinan."

"Hmmm..."



Baru-baru ini, Makihara Noriyuki mengadukan balik Matsumoto Leiji yang telah menuduhnya menjiplak frase dari komik bekennya, Ginga Tetsudou (Galaxy Express) 999 secara terbalik di dalam lirik lagu terbaru Chemistry, Yakusoku no Basho.
時間は夢を裏切らない・夢も時間を決して裏切らない
Waktu tidak mengkhianati mimpi,
dan mimpi pun takkan pernah mengkhianati waktu.

Matsumoto Leiji sedang menjabat sebagai penanggung jawab masalah hak cipta di asosiasi komikus jepang, memperjuangkan perpanjangan masa berlaku hak cipta untuk manga dari 50 tahun menjadi 70 tahun. Takut kalau hak cipta terkhianati oleh waktu?

"Semua berawal dari meniru. Kau menyalin sesuatu, lalu menerapkan, meningkatkan, dan mengembangkannya menjadi sebuah ide. Tembok raksasa kreativitas muncul setelah proses itu. Kegagalan akan menimpa secara beruntun. Pastiche (seni yang merayakan tiruan) tidak pernah merupakan karya asli. Saya sepenuhnya menentang itu. Pastiche, kalau bukan untuk latihan, adalah plagiarisme. Merupakan suatu penghinaan terhadap seorang pencipta jika diberitahu bahwa karyanya 'mirip dengan sesuatu yang lain'.
Tak dapat dihindari adaptasi ide dari ratusan tahun yang lalu, tapi batas 50 tahun terlalu singkat dan terlalu mudah dikenali. 70 tahun itu pas-pasan. Saya telah bekerja selama 54 tahun, itu pun terasa sekejap mata."

Sebenarnya tarik-ulur hak cipta ini adalah isu antara pengarang dan produser, bukan antara pengarang dengan konsumen. Konsumen akan senang jika pengarang merasa aman terlindungi sehingga bersemangat menciptakan karya yang bagus, sementara karya kesayangannya tidak akan semena-mena dipelintir demi produk komersial semata.
Lepas dari masalah itu, Jepang pada dasarnya punya budaya khas "Monomane" sebagai bagian pertunjukan panggung Noh, dan diwariskan ke dunia hiburan televisi saat ini. Untuk peniruan yang lebih "ringan" ada Kasou Taishou (Masquerade) misalnya.

Sedangkan di Indonesia, negeri tempat tiru-meniru (dan pembahjackan) sudah menjadi kebiasaan, yang berhasil adalah parodi, meniru sambil menyindir puncak-puncak kekuasaan dengan cerdas, yang kemudian dipermasalahkan pula karena dianggap melecehkan...

Karya yang katanya buatan sendiri (otentik bukan orisinal), seperti Jomblo tersingkir dari kancah persaingan peringkat tayang, kalah mutlak dari berbagai macam sinetron jiplakan untuk pembodohan terstruktur yang terbukti ditonton bahkan oleh manusia-manusia kekar seperti polisi dan paspampres (menurut pengakuan mereka langsung...)

Namun terbukti memang untuk menguasai dunia, kita harus meniru tiruan.

Mou Gan Dou alias Infernal Affairs (2001, Hongkong) yang sebenarnya juga tidak terlalu orisinal, cenderung menafsirkan face off secara lebih harfiah, ketika dibuat ulang dengan sedikiiit sentuhan amerikanisasi menjadi The Departed (2006, Scorcese) bisa dapat penghargaan bergengsi toh (tolong jangan disamakan dengan nasib Ekskul: sebuah ekstrakurikuler).


© Fight Club

Selasa, 13 Februari 2007

Honne dan Tatemae

Orang selalu memasang topeng yang disebut "persona" (tatemae) dalam kehidupan sehari-harinya. Itu adalah wajah yang dipasang ketika berceramah, jalan-jalan di sekitar rumah, bergaul dengan masyarakat. Wajah yang penuh keselarasan, aturan, logika.
Di balik topeng tersebut, mereka memasang wajah aslinya (honne): hal paling rahasia, selera tersembunyi, idam-idaman. Wajah yang penuh kegembiraan, kekacauan, amarah.
Terkadang bahkan sang pemilik wajah pun tak pernah tahu rautnya seperti apa.

Di Jepang, di mana "budaya malu" dipegang teguh sebagai norma masyarakat yang penting, kedua wajah bisa jadi sangat berbeda.
Tetapi orang-orang dari dunia hiburan menunjukkan cara yang paling mudah dan sederhana (yang tentu saja konyol) untuk memahaminya.
Sebagai contoh, perkenankan saya menggunakan paspor lama saya (sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa saya harus segera memperbaruinya... aaaaaarrrgggh...)



  1. Pilih potret wajah anda yang menghadap ke depan
  2. Belah tengah lurus dari ubun-ubun sampai dagu
  3. Cerminkan masing-masing bagian menjadi dua wajah utuh
  4. Periksa hasilnya serupa tapi tak sama

hontatelefthontateright

Karena wajah manusia tidak persis simetris, dan ada bayang-bayang yang ditimbulkan oleh sudut pencahayaan, kedua sisi akan menampilkan dua wajah yang berbeda: Wajah Apollo (tatemae) dan wajah Dionysos (honne).
Namun, masih ada satu masalah tertinggal bagi saya: Sisi mana yang bisa saya anggap sebagai honne atau tatemae? Bagi orang normal, honne adalah sisi kiri wajah yang telah dicerminkan, sedangkan tatemae adalah sisi kanan. Namun sebagai orang kidal, apakah saya harus memilih sebaliknya?

Bagi saya, kedua sisi sama-sama terlihat devilish.
Sayalah Janus, alpha dan omega, yang awal dan yang akhir. Tsaaah...

Sabtu, 20 Januari 2007

Anak-anak Abad 21

Tampaknya memang sedang meluncurkan promosi besar-besaran, Urasawa Naoki kemarin muncul di NHK Professional.

urasawanaoki

Urasawa Naoki, bintang dunia manga, memperoleh dukungan yang luas di seluruh dunia dengan jumlah terbitan di atas seratus juta eksemplar.
Itu adalah karena beliau mengutamakan raut wajah para tokohnya untuk menampilkan perasaan dari lubuk hati yang terdalam, bahkan kalau perlu beliau sendiri memerankan tokohnya, menggambar sambil becermin.
Bersama Nagasaki, sang editor, beliau menyusun cerita khas dari hasil pemikiran masing-masing secara terpisah yang kemudian ditubrukkan satu sama lain untuk diolah kembali. Bahwa pembaca paling kritis adalah dirinya sendiri, beliau berusaha mencapai kepuasan pribadi dalam pekerjaan.
Sampai batas waktu, Urasawa akan meneliti gerak-gerik tokoh manganya secara halus. Kadang-kadang ada juga kejadian harus menggambar ulang. Walaupun berada di papan atas, Urasawa tetap mendengarkan pendapat orang lain agar dapat membuat karya yang mengejutkan diri sendiri.
Teladannya ada dua, Tezuka Osamu (membuka wawasan mengenai kemungkinan manga yang tak terbatas) dan Bob Dylan (cara menapak hidup yang mengagumkan, tak peduli penolakan penonton, tetap bermusik sekehendak hati). Kini, dalam menyelesaikan 20cb, beliau terjepit di antara apa yang ditujunya dan memenuhi harapan pembaca.


Apakah "professional" menurut Urasawa?
Orang yang mempunyai batas waktu. Kemudian, menghadapi batas waktu tersebut ia berjuang sebaik-baiknya...
(Meh... Bukan saya deh)

Lucunya, tayangan ini berjudul: "Kokoro no mama ni, kouya wo ike" (Pergilah ke padang liar dengan sekehendak hati). Ingat di mana? Muncul di baris-baris lagu lama yang baru saja saya catatkan kemarin. Hmmm, mungkin memang lagu itu beken di masa mudanya.

Bab akhir sesungguhnya dari 20th Century Boys yang ditunggu-tunggu, telah muncul secara bertahap.
Tapi... tapiii? Kok ganti judul jadi 21st Century Boys??? Gubraggg...
Berarti yang kemarin itu memang tamat? Padahal begitu dibaca isi ceritanya, masih menyambung dengan baik dengan cerita sebelumnya: Kenji tidak mau lagi memainkan lagu ala Bob Lennon yang heboh itu: guutalala, suudalala...
boblennon

Ternyata dia bernasib sebagaimana kebanyakan seniman lainnya, keasyikan berkarya lupa olahraga! Bahunya pun turun dan ia harus mengikuti perawatan pijat intensif sehingga terpaksa mendiamkan manga ini selama setahun kemarin...
Dan terpaksalah kita bersabar menunggu, siapa sang "teman" di balik topeng? Bagaimana nasib kakaknya Kenji? Berhasilkah usaha sang polisi muda Chouchou? Ada apa di balik replika menara Expo 70 yang menyeramkan itu...?

Yang jelas skenario film tahun depan diawasi langsung oleh Urasawa (ach masa iyaaa), dan semoga saja cerita ini bisa tamat dengan sentausa, tidak telantar di tengah jalan seperti judul terakhir Pemuda Abad 20 Tintin yang kurang lebih mengambil tema sama: gerakan kepercayaan...
(Ngomong-ngomong, dalam dokumenter ini Urasawa tampak memakai dua macam kaos Tintin... Hehehe, gak penting ya?)


Google Video: [NHK] Professional Shigoto no Ryuugi #38

Sabtu, 13 Januari 2007

Anak-anak Adam

Ternyata di album foto saya ada ini... Sempat-sempatnyaaa... Sepulang dari Wisata Kemanusiaan, sebuah Perjalanan ke Barat alias Saiyuuki versi pribadi. Wuih gileee kulit kami kelam banget saat itu! Ah gak penting.

adamwingsadamguyz

adamseatadamwindow

Rabu, 10 Januari 2007

Pemuda (Abadi) Abad 20

Kalau yang kemarin itu "anak-anak abad 20", yang ini sih "pemuda (abadi) abad 20".

Membuka-buka kembali koleksi komik yang sudah mulai berjamur... hiks...

22 Mei nanti, sang pengarang, Hergé almarhum dirayakan seabad kelahirannya. Dan hari ini Tintin, "bacaan untuk usia 7 sampai 77 tahun" walaupun telah berusia 78, lewat dari 77 tahun, masih berjaya.

Kabarnya untuk mengawali perayaan besar-besaran ini, Paris menggelar pameran Tintin di Pompidou dari 19 Desember kemarin sampai Februari 2007.

tintin-pompidou

Pameran ini juga menampilkan seorang seniman yang bermasalah, dari waktu ke waktu, dengan keraguan pada diri sendiri, yang menghentikan, mengabaikan atau melanjutkan proyek yang berbeda-beda, dan, yang dalam sebuah surat balasan terhadap pembaca di tahun 1954, menemukan dirinya membela diri bahwa ia menanamkan anti-Semitisme dalam salah satu tokohnya.


tintin-jpPameran berfokus pada karya titik balik pertama Tintin, "Lotus Biru". Ironis, karena ini karya yang memunculkan orang Jepang dan negaranya sebagai peran antagonis.
Untunglah, seperti pernah saya ceritakan juga sebelumnya, Tintin masih diterima orang Jepang, bahkan punya jaringan Tintin.co.jp(sementara Asterix hampir tidak dikenal).
Apakah mereka murni menyukai Tintin, atau kebetulan konsumtif saja?
tokotintin2tokotintin3

Nah, bagaimana dengan Tintin di Indonesia? Lingkaran jurnal tintin.com bulan ini menyebut negeri kita sebagai L'Indonésie: Un Pays Meurtri, merujuk pada kesesuaian gambaran dalam komik Tintin "Penerbangan 714 menuju Sydney" bahwa peristiwa pesawat hilang itu sudah sejak lama memang sering terjadi di Indonesia... Dikaitkan dengan kasus Adam Air, Tsunami 2004, Bom Bali... Otsch!!! Kalau begitu, bagaimana kabarnya para makhluk luar angkasa yang mendarat di kepulauan Sumba, ya?

tintin indonesia


Rabu, 06 Desember 2006

Anak-anak Abad 20


Yang kemarin saya sebutkan sebagai salah satu manga musik...
Seharusnya juga saya sebutkan sebagai salah satu manga mikan...
Tapi justru gak bisa, karena lambang kan (tamat) sudah dipasang di halaman terakhir 20th Century Boys, manga mutakhir Urasawa Naoki.

Jadi kabarnya, penamatan cerita misteri yang tiba-tiba April kemarin, dengan masih menyisakan banyak alur yang belum tersimpulkan, menimbulkan kegelisahan di kalangan penggemar fanatik manga ini. Disertai ucapan permisi bahwa pengarang akan menghilang sebentar, dan terima kasih telah mengikuti selama tujuh tahun, ditambah pula tulisan aneh yang membuat pembaca bertanya-tanya...

20cbkan


Nisennananen shinshun, saishuushoutoujou!!
(Hayaguchi kotoba desu. Sankai ittemimashou!)

Awal musim semi 2007, bab terakhir akan muncul!!
(Ini latihan silat lidah. Mari sebutkan tiga kali berturut-turut!)

Muncul teori-teori konspirasi:
  1. Ini hanya tindakan Urasawa mempermainkan pembaca.
  2. Urasawa kehabisan ide, sehingga ia meluangkan waktu untuk bersantai menyegarkan diri di bawah mentari tropis sambil memikirkan kelanjutannya matang-matang.
  3. Urasawa menyerah dan kabur, sehingga editornya meletakkan petunjuk tersamar bahwa cerita ini akan berlanjut untuk menenangkan pembaca, dan menambahkan keterangan latihan silat lidah agar itu bisa dijadikan dalih seandainya mereka tidak berhasil menangkap Urasawa demi menamatkan cerita.

Namun di tengah kehebohan museum manga beberapa hari terakhir ini, beliau justru muncul dalam bincang-bincang mengenai hubungan baik antara pengarang manga dengan editornya.
Bahwa betapa keberadaan editor sebagai seorang "produser" sangatlah vital terhadap lahirnya manga yang bagus dan berkelanjutan, dan bahwa hubungan Urasawa dengan sang editor sampai saat ini bisa dinilai cukup sukses...
Setidaknya dengan demikian, teori terakhir runtuh.
Mungkin saja "latihan silat lidah" tersebut dipersiapkan sebagai dalih, namun tentu adalah konspirasi bersama editor-pengarang.

Yang jelas, dengan semakin tegasnya janji bahwa memang mulai awal tahun depan "babak terakhir" yang sesungguhnya akan diterbitkan lagi, dan bahwa manga ini akan diproses sebagai...
FILM LAYAR LEBARRR!!! Tahun 2008!!! Bagian I...!
Otsch. Tentu saja aku semakin bersyukur bahwa aku bukan rocker...
Tapi berhubung produser dan stafnya adalah tim DN kemarin, jangan-jangan hanya setingkat DN...

tomodachi


Sinopsis... Hmmm, saking kerennnnnnya susah dah memilih kata...

Manga yang bersubjudul "Petualangan Sains Sungguhan" ini, mengambil panggung di 1997-2000 menjelang pergantian milenium, dengan alur mundur ke seputar masa kanak-kanak para tokohnya di sekitar tahun 1969-70 dilatarbelakangi saat-saat peluncuran Apollo 11 dan World Expo di Osaka, meloncat maju ke masa depan sekitar tahun 2014 menyambut World Expo 2015 dan kedatangan Paus, sampai digantikannya penanggalan masehi dengan penanggalan tomodachi sang "juru selamat" baru.

Tersebutlah hasil khayalan sekelompok kanak-kanak abad 20 yang bercita-cita menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia dari kehancuran oleh robot raksasa dan virus berbahaya, ternyata diwujudkan secara terperinci di masa dewasa oleh salah seorang di antara teman sekelas yang mengetahui rahasia mereka, yang telah menjadi tokoh aliran kepercayaan baru yang berpengaruh besar di bidang politik, ekonomi, dan teknologi.
Menyadari bahwa semua keganjilan dan kekacauan yang muncul di seluruh dunia berawal dari permainan masa kecil mereka yang belum berakhir, mereka pun merasa bertanggung jawab.
Masing-masing meninggalkan keluarga demi angkat senjata melawan dengan segenap keterbatasan yang ada, sehingga malah dicap oleh masyarakat sebagai teroris kelas kakap, terpaksa melakukan gerakan bawah tanah bersama para tunawisma dan mafia, dan tabah mengalami kegagalan yang bertubi-tubi, terus berjuang biarpun sudah menjadi gaek-gaek.

Catatan: World Expo Osaka 1970 benar-benar ada, namun selanjutnya telah diadakan lagi World Expo Aichi 2005 tahun lalu... Yang ini tidak disinggung sama sekali ya.
Kelompok kepercayaan yang aneh-aneh model begitu memang banyak jenisnya di Jepang, tapi Indonesia juga tidak kalah aneh, ada kelompok Eden misalnya.
Virus-virus berbahaya memang sedang menyebar di masa pergantian milenium ini, entah AIDS lah, flu burung lah, jangan-jangan konspirasi tomodachi benar-benar ada.
Istilah tomodachi, di Jepang tampaknya lebih dalam daripada sekadar teman biasa. Lebih berarti sahabat akrab. Komik ini cukup teliti mengupas masalah persahabatan, menyinggung tindak perisakan, dan berbagai hubungan masa kanak-kanak yang berlanjut pengaruhnya ke kehidupan di masa dewasa.

nijusseikishonen

Kamis, 30 November 2006

Museum Peradaban Manga

Universitas Seika di Kyoto, pelopor berdirinya fakultas khusus manga (Fakultas Seni Komik dan Kartun) pada awal tahun ajaran 2006, kini meluncurkan gebrakan baru: Kyoto Kokusai Manga Myuujiam... alias Museum Internasional Manga Kyoto.

kyotommMuseum ini didirikan di belakang Balai Kota Kyoto, di atas bekas SD Tatsuike, dan diresmikan sejak beberapa hari yang lalu.
Sebagai pembuka, kini sedang diselenggarakan Pameran Manga Dunia: Terjemahan berbagai bahasa tampil di sana.

Kemudian, pada akhir tahun akan diadakan simposium kolaborasi mengenai "manga dan antropologi"...

Perdana Menteri Jepang Abe Shinzo pun, memandang manga sebagai media komunikasi yang efektif terhadap anak-anak Jepang, sehingga minggu ini beliau memutuskan untuk segera menyebarluaskan kampanye anti penggencetan (ijime/bullying) melalui iklan layanan masyarakat di majalah-majalah shonen/shojo manga.

Manga kini tak sudi dianggap sekadar subkultur (budaya sampingan).
Manga sudah menjadi suatu peradaban tersendiri, peradaban manga.
Agama baru...
Tapi kalau menenggelamkan diri ke sana, kantung duit pun apes, hiks. Terasa betul bagi saya jaring candu yang disebarkan oleh mereka. Tapi yah, seni mana sih sebenarnya yang tidak komersial?


Kyoto Seika telah lama menjadi deret terdepan riset manga di lingkungan akademis. Pada tahun 1973 didirikan kelas manga di dalam sekolah desainnya, dan sejak tahun 2000 dibuka jurusan khusus manga yang kini berkembang menjadi fakultas tersendiri. Fakultas Seni Komik dan Kartun di Kyoto Seika memiliki tiga sekolah. Jurusan Manga akan melatih mahasiswa menciptakan manga dengan satu cerita dan kerangka, mengamati ide satir, humor dan hiperbola. Jurusan Produksi Manga akan berfokus pada penulisan cerita asli untuk manga dan teori manga. Yang terakhir adalah Jurusan Animasi.
Menurut Rektor Kyoto Seika, Prof. Nakao Hajime, sangat perlu
"melawan asumsi bahwa manga itu bersifat anti-intelektual."

Beberapa universitas lain kini juga menyusul membahas manga secara sistematis dan akademis:
Universitas Seni Osaka membuka Jurusan Seni Penokohan Kreatif dengan profesor Koike Kazuo, Go Nagai pencipta Mazinger Z, dan Satonaka Machiko pengarang shojo manga tahun 70-an.
April 2005 Universitas Desain Takara membentuk Sekolah Muatan Media dengan fokus film, animasi, dan game. Profesornya adalah Matsumoto Reiji pengarang Uchuu Senkan Yamato/Ginga Tetsudo 999 yang juga membuat animasi untuk band perancis Daftpunk.
Lalu Universitas Otemae meluncurkan mata kuliah manga&animasi, dengan profesor Monkey Punch, pencipta "Lupin generasi III"
yang sempat saya ikuti dialognya mengenai manga digital, dan cara kreatif pengambilan komposisi melalui jiplakan foto awan...

Beberapa museum manga yang tersebar di Jepang:
Dunia Tezuka Osamu (Perpustakaan dan Teater) di KyotoMuseum Igarashi Yumiko (pengarang Candy-Candy) di KurashikiMuseum Mizuki Shigeru di SakaiminatoMuseum Seni Manga di AkitaGedung Akatsuka FujioMuseum Memorial Yokoyama di KochiMuseum Anpanman di KochiMuseum Ghibli di MitakaMuseum Animasi SuginamiMuseum Gundam BandaiMuseum Ishinomori Shotaro di Miyagi

Selasa, 14 November 2006

Manga Musikal (Nodame, Nana)

Bagaimana dari orat-oret dua dimensi, lantunan bisa terdengar jelas?
Ternyata, cukup banyak juga manga yang berhasil mengangkat tema musik dengan baik dan menarik.

Nodame Cantabile

nodame
Shojo manga karya Ninomiya Tomoko yang sedang melambung saat ini. Telah terbit jilid 16.

chiakishinichiBerhubung desain grafisnya yang sepintas tampak cenderung biasa, saya belum pernah berminat menyentuhnya sampai sejak akhir tahun ini dihebohkan dalam drama musim gugur (Senin, 21.00, Fuji TV) dan animasi noitamina (Rabu, 24.45, Fuji TV).
Seluruh jilid masuk 25 besar buku terlaris di Jepang saat ini.

Menurut adik sepupu yang sangat menggemarinya, manga inilah yang mendorong dia berjuang untuk bisa memainkan piano dengan baik.

Karena penasaran terhadap manga ini, anak-anak muda pun kembali menyimak musik klasik, sehingga cd koleksi dari musik-musik klasik yang disebut di dalamnya turut ketiban rezeki.
Dan setelah saya baca-baca, hihihi memang lucu juga.
Chiaki Shinichi adalah seorang mahasiswa piano tahun terakhir yang berbakat luar biasa, ahli biola, dan bercita-cita menjadi konduktor kelas dunia, namun terpuruk suntuk di Jepang karena terhalang phobia pesawat dan laut. Selain itu, sikap egois dan sok pintar sendiri, membuatnya bermasalah dengan dosen dan rekan-rekannya.
Suatu peristiwa dalam keputusasaan membuatnya dikejar-kejar oleh Noda Megumi, seorang gadis aneh dan jorok yang selalu mencuri makanan teman. Kamar kosnya yang kebetulan bertetangga dengan Chiaki, penuh timbunan sampah dan barang rongsokan tidak jelas. Jarang mandi pula...
Dia belum mampu membaca not balok langsung, namun dapat segera meniru musik yang ia dengar. Kekhasannya dalam memainkan piano membuat Chiaki terjerat tanpa dapat melepaskan diri...
Dimulai dari melakukan kegiatan relawan membersihkan kamar Nodame, berlanjut dengan memasakkan makan setiap malam...
Sepintas lalu terlihat rugi, namun justru berkat keterlibatannya dengan Nodamelah, Chiaki berhasil menyusun masa depannya, memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia, dan melawan phobianya menyeberang samudra...
Chiaki pun mengajak Nodame pergi menuntut ilmu bersama menggapai cita-cita ke pusat-pusat musik klasik Eropa.
Dan berkat Chiaki, Nodame pun mulai berdisiplin untuk menghadapi musik dengan sesungguhnya, menyelami pikiran masing-masing komponis, mempelajari harmoni alam semesta.
(Notabene, tokoh yang menarik di komik ini bagi saya tuh Kuroki-kun, pemain oboe yang seorkes dengan Chiaki dan sempat naksir Nodame. hanya saja, pakaiannya sehari-hari tidak keren...)

Kalau dipikir-pikir, masa sih bisa menampilkan musik sedemikian indah, jarang mandi? Tapi tampaknya itu normal, karena pernah saya ketemu kakek-kakek guru biola lulusan Jerman, hih dari jarak dua meter saja baunya berhembus... Jangan-jangan gaya seniman Eropa memang begitu???


NANA


nanahachiKarya Yazawa Ai ini juga telah terbit jilid 16.
Kalau Nodame adalah hit tahun ini, NANA adalah hit tahun lalu, dengan diluncurkannya film layar lebar pertama di musim panas. Eh, besok-besok (12/9) bakal ada film keduanya ding... Animasinya sedang diputar di NTV setiap Rabu pukul 23.55 (dakke?). Dan kini bahkan ada game PSP juga.

Dua gadis bernama sama dari latar belakang yang berbeda, bertemu di kereta menuju ibu kota, dan akhirnya menyewa kamar yang sama dibagi dua.

Ozaki Nana, cewek kewl yang betah bergaya Vivienne Westwood, turun mengadu nasib ke Tokyo demi menyetarakan harga dirinya di hadapan mantan kekasih yang telah terlebih dahulu tenar di belantika musik populer Jepang. Sesampainya di sana, ia menemukan dirinya terjerumus kembali pada sang kekasih sebelum meraih cita-cita, dan mulai terbayang-bayangi masa lalu keluarganya yang suram.
Komatsu Nana yang ceria tapi tak berpendirian, turun ke Tokyo demi mengejar kekasihnya yang akhirnya putus di tengah jalan. Ia pun mulai menjalani petualangan jatuh cinta dan patah hati susul-menyusul, sambil terlibat mendukung Nana yang satu lagi membangun kembali grup band punknya, Black Stones alias Blast, dan menemani mereka berlatih. Dengan sekejap ia menjadi favorit anggota grup tersebut yang mulai memanggilnya sebagai piaraan mereka, "Hachi".
Lika-liku komersialisasi dan birokrasi ternyata mulai memisahkan jalan hidup mereka satu sama lain, sampai akhirnya terjadi sebuah peristiwa pahit yang sangat menyedihkan...

(Nana = tujuh, Hachi = delapan)
Kalau Nodame menyorot musik klasik, NANA menyorot musik popular. Tapi inti ceritanya lebih ke masalah segala macam jenis saling ketergantungan antartokoh yang amat rumit, yang ternyata merupakan "candu"... Berkembang menjadi keinginan memiliki, kecemburuan yang berlebihan, persaingan ketat, pelampiasan dendam masa kecil, dan perasaan-perasaan tidak jelas lainnya. Bagaimana pengaruh semua ini terhadap lagu yang mereka luncurkan?


Das Fenster von Orpheus

(Orpheus no Mado - Jendela Orpheus)

orpheus no madoIni mah komik jadoel, tapi favorit banget.
Beberapa orang siswa sekolah musik Regensburg di pelosok Austria, saling berjumpa di sebuah jendela yang terkutuk Legenda Orpheus.
Mereka pun terlibat kasih tak sampai bersegi sekian belas dan peristiwa berdarah dalam sebuah keluarga ningrat Jerman yang ternyata berlanjut pada revolusi Rusia dan tragedi Romanov.

Dalam cerita dramatis karya Ikeda Riyoko (yang juga pengarang Rose of Versailles) ini, musik klasik menjadi latar belakang yang mengakar pada kehidupan para tokohnya, namun sorotan utamanya sih sejarah Eropa seputar awal abad 20.
(NB, Saya sempat cukup kecewa begitu menemukan kenyataan bahwa Jenderal Leonid Yuspov yang klimis tampan itu tokoh fiktif belaka, sedangkan pembunuh Rasputin sebenarnya adalah Alexandr Yuspov seorang bangsawan keren tapi brewokan...)


Itsumo Pocket ni Chopin


Ini komik jadoel juga, saya sendiri belum pernah lihat, tapi pernah disebutkan bahwa penggambaran adegan-adegannya membuat kita seakan mendengarkan Chopin secara langsung ketika membacanya.


BECK


Belum pernah baca, tampaknya tentang band juga.
Berhubung jilidnya sudah sekian puluh, dan banyak yang bilang bagus, barangkali patut dibaca.


20th Century Boys


endoukenjiHahaha, terlalu sempit kalau manga ini digolongkan ke dalam sekadar manga musikal, namun patut disebutkan karena judulnya saja jelas mengambil lagu rock T-Rex tahun 70an, dan dalam alurnya, sering muncul perumpamaan berbagai kejadian dengan sejarah musik rock. Woodstock, Janis Joplin, Jimi Hendrix, CSN&Y, CCR, The Rolling Stones, The Doors/Jim Morrison, Eric Clapton, Robert Johnson...

Tokoh utama komik ini adalah seorang satria bergitar Endou Kenji... Lagunya yang meniru Bob Dylan dan John Lennon sebagai Bob Lennon (via cesspit, versi sebelum gutalala sudalala):
Chikyuu no ue ni yoru ga kuru
Boku wa ima ieji wo isogu
Rainen no koto wo iu to oni ga warau tte iu nara
Waraitai dake warawasetokeba ii
Boku wa iitsuzukeru yo gonen saki juunen saki no koto wo
Gojuunen go mo kimi to koushite iru darou to


Apa tuh, katanya kebanyakan rocker meninggal pada usia 27?
Seandainya saya rocker, saya mati tahun ini dong... Haduh...

Friends says it's fine, friends says it's good
Everybody says it's just like Robin Hood
Fly like a plane, drive like a car, hold out your hand
Babe i'm gonna be your man
And it's plain to see you were meant for me, yeah
I'm your boy
Your twentieth century toy


Angklung


Kalau ini, proyek pencarian jati diri komik musik Indonesia.
Berminat membantu? Segera hubungi saya di bambumuda v(^-^)v