Nama ini unik juga ya, mengotakkan alam? Apakah menyiratkan kesan picik karena berpikir "inside the box" atau mungkin maksudnya terbagi-bagi? Tapi bukankah terkadang itu juga perlu?
Kaba Sabai nan Aluih adalah kisah girl with gun before it was cool, jauh mendahului tren komik amrik yang sepertinya kini fetish terhadap sosok cewek-cewek main senjata api ... 🔫
Disebut sebagai cerita rakyat, mungkin dari suatu peristiwa yang banyak digunjingkan orang di suatu masa dan Tulis Sutan Sati hanya menyadurnya ke dalam buku.
Ceritanya adalah tentang seorang gadis lemah lembut yang diwanti-wanti oleh ayahnya agar duduk manis menenun di rumah kecuali disuruh bepergian oleh orang tua. Namun, ia terpaksa angkat bedil karena ayahnya dibunuh oleh orang yang ditolak meminangnya.
Mangkutak Alam, adiknya tersayang yang dimanja orang tua, berkulit hitam legam karena asyik bermain layang-layang, dianggap pengecut karena tidak mau membantu membalaskan dendam sang ayah.
Benarkah?
Bukannya tindakan Sabai itu emosional impulsif dan berbahaya, tanpa perhitungan, serta main hakim sendiri? Mengapa tidak melapor dan menyerahkannya kepada pihak berwenang? Apakah Sabai tidak ditindak secara hukum begitu melakukan pembunuhan?
Menjadikan tindakan Sabai sebagai suri tauladan adalah bertentangan dengan Pancasila (?)
Tentu saja di masa itu bisa jadi lebih parah daripada sekarang, pihak berwenang tidak dapat diandalkan, pihak lawan punya harta dan kuasa, korban tak berdaya.
Rasanya tidak salah juga jika Mangkutak Alam berusaha menyelamatkan diri, tidak mau terhanyut dalam dendam, daripada mati konyol sia-sia ...
🤔
Tampilkan postingan dengan label kartini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kartini. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Juli 2022
Kamis, 30 Juni 2022
Baca Komik Gila
Melanjutkan acara baca komik ronde 1-4 dan ronde 5-7.
(((Detoks webtoon))) bulan ini agak tersendat karena yang punya komik kembali menghantu, mungkin sedang hikikomori. Setidaknya dengan demikian jadi ada waktu luang untuk mengecek informasi sana-sini.
Dipinjami komik yang sampulnya tidak boleh tampak kayak komik. Kenapa harus begitu, ya? Apakah pengarang komiknya juga menganut diskriminasi tentang apa yang tergolong gambar komik?
Isinya selusin episode tentang jaringan internasional beranggotakan 1001 ahli panggilan, tukang beberes dampak perang dingin macam percobaan senjata terbengkalai yang mengancam umat manusia 🏹
Ide cerita lumayan beragam dan cemerlang dengan visi teknologi masa depan, teknik pewarnaan bagus, beberapa episode digambar dengan mewah 🎨
Tokoh utamanya cewek gagah pemimpin misi dan cewek canggih pusat komando pertukaran informasi di balik layar. Sebagian ahli lain cewek juga. Namun, entah kenapa seolah jenis kelamin hanya tempelan, sementara cara penyelamatan tetap diselesaikan dengan pistol dan kekerasan. Intinya saya tidak merasa terwakili 👩🏽💻
Ketika saya coba mencari resensi yang mendukung pendapat ini, kebanyakan cuma mengeluhkan pembingkaian yang kurang memberi ruang untuk pendalaman watak. Ya mungkin memang ada masalah itu, tapi saya rasa untuk perwatakan dua tokoh utama sudah cukup dijelajahi dengan saksama.
Terkaget-kaget saya malah menemukan liputan modus operandi "adult grooming" oleh sang pengarang terhadap ratusan perempuan muda putus asa (dan beberapa pihak nonbiner yang menampilkan diri sebagai perempuan) peserta forum daring internasional yang dia kelola 🙀
Testimoni dari sebagian korban bisa dicek di situs somanyofus.com.
Mereka diulurkan persahabatan dan dukungan, didengarkan curhat, dipromosikan karya, dijadikan tokoh komik, tapi di sisi lain dirayu dengan kosakata yang itu-itu saja agar merasa istimewa sehingga merasa berkewajiban untuk rutin kirim foto seksi, bahkan kalau sempat ketemuan diajak mengamar bergantian secara rahasia tanpa saling tahu satu sama lain. Kadang-kadang dia mencela diri sendiri, berbohong mengenai status hubungan pribadinya, dan mengaku tidak berdaya dan kecanduan akan pesona korban, membuat korban merasa kasihan dan bersedia menuruti permintaannya. Begitu dipertanyakan, atau tidak dipatuhi, dihukum dengan menahan perhatian. Begitu mereka mulai mandiri atau ada korban baru menyita perhatian, kontak pun dihentikan dengan kejam ✂️
Konon praktik ini telah berlangsung 20an tahun namun baru terkuak pada Juni 2020 seiring maraknya gerakan #metoo ... atau mungkin berkat pandemi para korban berkesempatan merenung dan kepo satu sama lain 🛰️
Sotoy lah saya beranggapan pantasan, penokohan terasa janggal pastinya ada suatu kemunafikan ...
Tapi naif kalau menyimpulkan dari satu miniseri. Sayang belum pernah baca/dengar satu pun komik dia lainnya, sama sekali lepas dari radar saya 📡
Apakah perilakunya berpengaruh terhadap pengolahan perwatakan perempuan dalam karyanya yang lain?
Para korban bilang mereka bukan mau memboikot WE, karena karya-karya WE juga melibatkan banyak pihak penggambar, pewarna, penata huruf, penyunting, penerbit, dll. Lebih daripada itu, mereka mau mengubah sistem industri komik ataupun lingkungan lainnya yang membuat para korban menjadi rentan sementara orang macam ini bisa aman menerapkan modus operandi seperti itu selama berpuluh tahun.
P.S. Pembuat sampul komik ini, yang juga merupakan pengarang komik yang saya ulas pada ronde 3 dan 4, sepertinya salah satu murid dari pengarang komik yang ini dan ternyata sebelumnya juga pernah dilaporkan melakukan pelecehan juga, entah karena mencoba ikut-ikutan gurunya atau memang dari sananya sekufu ...
Bagaimana memisahkan penilaian terhadap pengarang dari karyanya ketika terjadi pertentangan gagasan dan cara pandang yang disiratkan dalam karya dengan tindak-tanduknya secara pribadi? 🤔
Dunia komik Amrik sungguh gila
(FB IG) #bacakomik #dirumahaja #danboard #danbogram #danbography
(((Detoks webtoon))) bulan ini agak tersendat karena yang punya komik kembali menghantu, mungkin sedang hikikomori. Setidaknya dengan demikian jadi ada waktu luang untuk mengecek informasi sana-sini.
Ronde kedelapan
Dipinjami komik yang sampulnya tidak boleh tampak kayak komik. Kenapa harus begitu, ya? Apakah pengarang komiknya juga menganut diskriminasi tentang apa yang tergolong gambar komik?
Isinya selusin episode tentang jaringan internasional beranggotakan 1001 ahli panggilan, tukang beberes dampak perang dingin macam percobaan senjata terbengkalai yang mengancam umat manusia 🏹
Ide cerita lumayan beragam dan cemerlang dengan visi teknologi masa depan, teknik pewarnaan bagus, beberapa episode digambar dengan mewah 🎨
Tokoh utamanya cewek gagah pemimpin misi dan cewek canggih pusat komando pertukaran informasi di balik layar. Sebagian ahli lain cewek juga. Namun, entah kenapa seolah jenis kelamin hanya tempelan, sementara cara penyelamatan tetap diselesaikan dengan pistol dan kekerasan. Intinya saya tidak merasa terwakili 👩🏽💻
Ketika saya coba mencari resensi yang mendukung pendapat ini, kebanyakan cuma mengeluhkan pembingkaian yang kurang memberi ruang untuk pendalaman watak. Ya mungkin memang ada masalah itu, tapi saya rasa untuk perwatakan dua tokoh utama sudah cukup dijelajahi dengan saksama.
Terkaget-kaget saya malah menemukan liputan modus operandi "adult grooming" oleh sang pengarang terhadap ratusan perempuan muda putus asa (dan beberapa pihak nonbiner yang menampilkan diri sebagai perempuan) peserta forum daring internasional yang dia kelola 🙀
Testimoni dari sebagian korban bisa dicek di situs somanyofus.com.
Mereka diulurkan persahabatan dan dukungan, didengarkan curhat, dipromosikan karya, dijadikan tokoh komik, tapi di sisi lain dirayu dengan kosakata yang itu-itu saja agar merasa istimewa sehingga merasa berkewajiban untuk rutin kirim foto seksi, bahkan kalau sempat ketemuan diajak mengamar bergantian secara rahasia tanpa saling tahu satu sama lain. Kadang-kadang dia mencela diri sendiri, berbohong mengenai status hubungan pribadinya, dan mengaku tidak berdaya dan kecanduan akan pesona korban, membuat korban merasa kasihan dan bersedia menuruti permintaannya. Begitu dipertanyakan, atau tidak dipatuhi, dihukum dengan menahan perhatian. Begitu mereka mulai mandiri atau ada korban baru menyita perhatian, kontak pun dihentikan dengan kejam ✂️
Konon praktik ini telah berlangsung 20an tahun namun baru terkuak pada Juni 2020 seiring maraknya gerakan #metoo ... atau mungkin berkat pandemi para korban berkesempatan merenung dan kepo satu sama lain 🛰️
Sotoy lah saya beranggapan pantasan, penokohan terasa janggal pastinya ada suatu kemunafikan ...
Tapi naif kalau menyimpulkan dari satu miniseri. Sayang belum pernah baca/dengar satu pun komik dia lainnya, sama sekali lepas dari radar saya 📡
Apakah perilakunya berpengaruh terhadap pengolahan perwatakan perempuan dalam karyanya yang lain?
Para korban bilang mereka bukan mau memboikot WE, karena karya-karya WE juga melibatkan banyak pihak penggambar, pewarna, penata huruf, penyunting, penerbit, dll. Lebih daripada itu, mereka mau mengubah sistem industri komik ataupun lingkungan lainnya yang membuat para korban menjadi rentan sementara orang macam ini bisa aman menerapkan modus operandi seperti itu selama berpuluh tahun.
P.S. Pembuat sampul komik ini, yang juga merupakan pengarang komik yang saya ulas pada ronde 3 dan 4, sepertinya salah satu murid dari pengarang komik yang ini dan ternyata sebelumnya juga pernah dilaporkan melakukan pelecehan juga, entah karena mencoba ikut-ikutan gurunya atau memang dari sananya sekufu ...
Bagaimana memisahkan penilaian terhadap pengarang dari karyanya ketika terjadi pertentangan gagasan dan cara pandang yang disiratkan dalam karya dengan tindak-tanduknya secara pribadi? 🤔
Dunia komik Amrik sungguh gila
(FB IG) #bacakomik #dirumahaja #danboard #danbogram #danbography
Selasa, 08 Maret 2022
Bukan Saya Juga
Dulu ketika membahas topik *perempuan, pelawak, & politisi* beberapa kawan menegur,
"ah itu mah kamu saja yang bebal tidak peka jika dilecehkan kali, entah itu berkah atau musibah"
Yajugaya ...
Barangkali saya sempat terjebak dalam situasi, yang seandainya menimpa kawan lain, mereka akan mati gaya. Tapi rasanya saya selalu berada dalam lingkungan yang cukup kondusif sehingga belum kebagian peristiwa yang mengharuskan saya ikut gerakan macam #metoo
***
Paling parah waktu di lab, di suatu jam istirahat beredar tuh barisan foto gravure idol buat anak-anak lab pilih siapa yang paling cakep. Terus saya enggak dikasih hak suara dong. Tapi ya serba salah, masa saya ikutan memilih cewek-cewek seperti ayam.
Kali lain, habis ujian mereka kasak-kusuk pesan tempat nongkrong. Saya kira pada mau karaoke, minta ikut lah. Setelah bertatapan satu sama lain akhirnya mereka setuju saya mengekor. Ternyata pergi ke bar Heineken (semacam Hooters, tapi Hooters konon baru buka cabang di Jepang sekitar sepuluh tahun kemudian) untuk memandangi pelayan-pelayan dengan rok span yang panjangnya sipi sekali. Sialan mana saya rugi pula harga minuman yang boleh saya minum semua lebih murahan daripada iurannya.
"Bagaimana menurutmu? Cowok-cowok memang makhluk terdegradasi ya?" Tanya mereka sambil cengar-cengir.
Salah seorang Senpai mencoba memotret para pelayan diam-diam, ketahuan oleh pelayan yang lewat, gawainya diamankan dan ditegur panjang lebar tentang peraturan yang semestinya telah disepakati begitu masuk lewat pintu depan. Jadi konsepnya tegas sekali itu, boleh dipandang, difoto jangan, apalagi dipegang.
***
Suatu kali saya mendirikan ikatan alumni dan menjabat sekretaris, salah satu profesor yang terpilih jadi ketua sering membujuk saya mendaftar ke universitasnya untuk jadi sekretarisnya betulan. Saya tolak karena beda bidang minat.
Setelah itu di berbagai acara kami sering ketemu dan beliau main rangkul saja, rangkul pundak yang sepintas mungkin dianggap tak berbahaya, tapi bagi saya sudah pelanggaran privasi. Saya tegur di depan umum dong.
"Prof jangan main rangkul sembarangan begitu dong"
Matanya menyipit, "Ah, kamu itu 'kan sudah seperti cucu saya sendiri."
"Lah terus Prof senang kalau cucu Prof dirangkul aki-aki ganjen? Rangkul saja cucu Prof sendiri jangan urus cucu orang lain!"
Belakangan saya pindah kerjaan dan ternyata secara akademis Prof tersebut mengambil sikap yang berlawanan dengan visi misi pekerjaan baru saya.
***
Saya bisa menolak keras hal-hal macam begitu karena saya orang lepasan, tidak punya ketergantungan apa pun dengan si Prof eta atau siapa pun yang mungkin bertindak demikian. Tapi belum tentu teman lain.
Di kantor lama, saya pernah diceritakan bahwa staf lantai bawah pernah tiba-tiba dipeluk dari belakang oleh manajernya. Manajer itu sebenarnya adalah suami dari staf kantor saya, entah hari itu ada juga di lantai atas atau sedang cuti/dinas ke mana, pastinya tidak jauh-jauh amat. Jika staf lantai bawah itu melapor, apakah itu bakal merusak rumah tangga teman kantor saya, atau dia akan dituduh menghalu yang bukan-bukan? Akhirnya sepertinya dia mendiamkan saja menganggap angin lalu.
Saya yang gemas kesal, karena tidak menyaksikan sendiri, juga tidak diceritakan langsung oleh korban, tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Di kantor berikutnya, ada seorang mBak pegiat yang bercerita suatu kali dia punya acara konsultasi dengan pemerintah dan mitra global, menginap di hotel.
Suatu malam dia mengetuk pintu mentornya bermaksud membahas suatu hal yang dianggap darurat untuk rapat besok. Itu setelah makan malam, memang sudah mendekati pukul 9 malam. Sang mentor membuka pintu langsung menarik si mBak ke dalam pelukan. Si mBak berusaha melepaskan diri dan langsung mengirim pesan protes. Saya lupa jawaban sang mentor, sepertinya menyatakan kekecewaan, tapi kesannya ambigu antara merasa bersalah tidak mampu mengendalikan diri atau menyayangkan bahwa si mBak menolak beliau. Yang pasti beliau tidak minta maaf.
Masalahnya, beliau ini tokoh yang disegani sebagai teladan integritas. Gerakan si mBak sangat bergantung pada keterlibatan beliau dalam berjejaring dengan pemerintah dan mitra global. Jika si mbak mempermasalahkan kelancangan beliau, semua perjuangan dia sendiri ikut hangus belaka.
Suatu kali saya ikut atasan ketemuan dengan mentor si mBak ini, di tempat yang jual pisang goreng sepiring 45 ribu rupiah. Sepertinya beliau memang agak merayu atasan saya juga, bawaan mamang-mamang Sunda centil. Yang jelas beliau masih berkibar dengan nyaman.
***
Tapi ternyata pelecehan oleh pelaku perempuan memang ada.
Seorang yang saya kenal sebagai pekerja di sebuah yayasan pemberdayaan perempuan, suatu saat mau menikah dengan pacarnya. Mantan sang pacar entah cemburu tidak rela, membuat keributan di kantor sehingga sang pacar mau datang ke kontrakannya. Di sana sang pacar dikeroyok oleh sang mantan bersama teman-temannya, dan sang pacar sepertinya malah menikmati (?) Jadi ujungnya secara tidak langsung yang dilecehkan bukan sang pacar melainkan kenalan saya sebagai calonnya lah yah.
Saya sendiri heran tidak habis pikir kok kenalan saya itu malah marah kepada mantan sang pacar, bukan kepada sang pacar sendiri yang tidak mampu menjaga kehormatan diri sendiri sebagai seorang laki-laki (?)
Tapi sepuluh tahun berlalu, tampaknya mereka kini masih baik-baik saja sebagai suami-istri. Ajaib betul.
"ah itu mah kamu saja yang bebal tidak peka jika dilecehkan kali, entah itu berkah atau musibah"
Yajugaya ...
Barangkali saya sempat terjebak dalam situasi, yang seandainya menimpa kawan lain, mereka akan mati gaya. Tapi rasanya saya selalu berada dalam lingkungan yang cukup kondusif sehingga belum kebagian peristiwa yang mengharuskan saya ikut gerakan macam #metoo
***
Paling parah waktu di lab, di suatu jam istirahat beredar tuh barisan foto gravure idol buat anak-anak lab pilih siapa yang paling cakep. Terus saya enggak dikasih hak suara dong. Tapi ya serba salah, masa saya ikutan memilih cewek-cewek seperti ayam.
Kali lain, habis ujian mereka kasak-kusuk pesan tempat nongkrong. Saya kira pada mau karaoke, minta ikut lah. Setelah bertatapan satu sama lain akhirnya mereka setuju saya mengekor. Ternyata pergi ke bar Heineken (semacam Hooters, tapi Hooters konon baru buka cabang di Jepang sekitar sepuluh tahun kemudian) untuk memandangi pelayan-pelayan dengan rok span yang panjangnya sipi sekali. Sialan mana saya rugi pula harga minuman yang boleh saya minum semua lebih murahan daripada iurannya.
"Bagaimana menurutmu? Cowok-cowok memang makhluk terdegradasi ya?" Tanya mereka sambil cengar-cengir.
Salah seorang Senpai mencoba memotret para pelayan diam-diam, ketahuan oleh pelayan yang lewat, gawainya diamankan dan ditegur panjang lebar tentang peraturan yang semestinya telah disepakati begitu masuk lewat pintu depan. Jadi konsepnya tegas sekali itu, boleh dipandang, difoto jangan, apalagi dipegang.
***
Suatu kali saya mendirikan ikatan alumni dan menjabat sekretaris, salah satu profesor yang terpilih jadi ketua sering membujuk saya mendaftar ke universitasnya untuk jadi sekretarisnya betulan. Saya tolak karena beda bidang minat.
Setelah itu di berbagai acara kami sering ketemu dan beliau main rangkul saja, rangkul pundak yang sepintas mungkin dianggap tak berbahaya, tapi bagi saya sudah pelanggaran privasi. Saya tegur di depan umum dong.
"Prof jangan main rangkul sembarangan begitu dong"
Matanya menyipit, "Ah, kamu itu 'kan sudah seperti cucu saya sendiri."
"Lah terus Prof senang kalau cucu Prof dirangkul aki-aki ganjen? Rangkul saja cucu Prof sendiri jangan urus cucu orang lain!"
Belakangan saya pindah kerjaan dan ternyata secara akademis Prof tersebut mengambil sikap yang berlawanan dengan visi misi pekerjaan baru saya.
***
Saya bisa menolak keras hal-hal macam begitu karena saya orang lepasan, tidak punya ketergantungan apa pun dengan si Prof eta atau siapa pun yang mungkin bertindak demikian. Tapi belum tentu teman lain.
Di kantor lama, saya pernah diceritakan bahwa staf lantai bawah pernah tiba-tiba dipeluk dari belakang oleh manajernya. Manajer itu sebenarnya adalah suami dari staf kantor saya, entah hari itu ada juga di lantai atas atau sedang cuti/dinas ke mana, pastinya tidak jauh-jauh amat. Jika staf lantai bawah itu melapor, apakah itu bakal merusak rumah tangga teman kantor saya, atau dia akan dituduh menghalu yang bukan-bukan? Akhirnya sepertinya dia mendiamkan saja menganggap angin lalu.
Saya yang gemas kesal, karena tidak menyaksikan sendiri, juga tidak diceritakan langsung oleh korban, tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Di kantor berikutnya, ada seorang mBak pegiat yang bercerita suatu kali dia punya acara konsultasi dengan pemerintah dan mitra global, menginap di hotel.
Suatu malam dia mengetuk pintu mentornya bermaksud membahas suatu hal yang dianggap darurat untuk rapat besok. Itu setelah makan malam, memang sudah mendekati pukul 9 malam. Sang mentor membuka pintu langsung menarik si mBak ke dalam pelukan. Si mBak berusaha melepaskan diri dan langsung mengirim pesan protes. Saya lupa jawaban sang mentor, sepertinya menyatakan kekecewaan, tapi kesannya ambigu antara merasa bersalah tidak mampu mengendalikan diri atau menyayangkan bahwa si mBak menolak beliau. Yang pasti beliau tidak minta maaf.
Masalahnya, beliau ini tokoh yang disegani sebagai teladan integritas. Gerakan si mBak sangat bergantung pada keterlibatan beliau dalam berjejaring dengan pemerintah dan mitra global. Jika si mbak mempermasalahkan kelancangan beliau, semua perjuangan dia sendiri ikut hangus belaka.
Suatu kali saya ikut atasan ketemuan dengan mentor si mBak ini, di tempat yang jual pisang goreng sepiring 45 ribu rupiah. Sepertinya beliau memang agak merayu atasan saya juga, bawaan mamang-mamang Sunda centil. Yang jelas beliau masih berkibar dengan nyaman.
***
Tapi ternyata pelecehan oleh pelaku perempuan memang ada.
Seorang yang saya kenal sebagai pekerja di sebuah yayasan pemberdayaan perempuan, suatu saat mau menikah dengan pacarnya. Mantan sang pacar entah cemburu tidak rela, membuat keributan di kantor sehingga sang pacar mau datang ke kontrakannya. Di sana sang pacar dikeroyok oleh sang mantan bersama teman-temannya, dan sang pacar sepertinya malah menikmati (?) Jadi ujungnya secara tidak langsung yang dilecehkan bukan sang pacar melainkan kenalan saya sebagai calonnya lah yah.
Saya sendiri heran tidak habis pikir kok kenalan saya itu malah marah kepada mantan sang pacar, bukan kepada sang pacar sendiri yang tidak mampu menjaga kehormatan diri sendiri sebagai seorang laki-laki (?)
Tapi sepuluh tahun berlalu, tampaknya mereka kini masih baik-baik saja sebagai suami-istri. Ajaib betul.
Rabu, 21 April 2021
Sang Pemimpin
Ini kenangan semasa baru masuk SMP. Masa peralihan Indonesia tersapu gelombang religius. Mulai banyak putri-putri keren yang keukeuh berjilbab karena sudah baligh walaupun melanggar pakem seragam masa itu, sebelum terbit peraturan yang mengizinkan seragam berjilbab dan melepaskan dasi 🧕🏽
Yang risih bagi saya adalah ucapan salam serempak dengan aba-aba setiap ganti pelajaran berubah menjadi Assalamu'alaikum, tapi teman2 non-muslim tidak boleh mengucapkannya, sehingga bersahutan dengan Selamat Pagi yang menonjolkan suara minoritas. Yah setidaknya mereka tetap bisa bersuara (?) 📢
(ralat: ucapan salam mungkin baru berganti setelah SMA, tapi hawa alim sudah kental sejak SMP lah yah)
Tibalah masa Pemilihan Ketua OSIS.
Ada tiga calon dari kelas atas yang berkeliling memperkenalkan diri dan usulan program kerja.
(Mungkin urutannya tertukar tapi gambarannya persis seperti ini: )
Calon pertama adalah seorang Akang yang ganteng kalem, berpidato dengan tenang membumi. Calon kedua adalah seorang Teteh hitam manis, berpidato dengan runtut, logis, dan meyakinkan. Calon ketiga adalah seorang Akang yang kinclong berbinar-binar, berpidato dengan lantang berapi-api. 🧑🏽👧🏿🧒🏻
Semua wajar-wajar saja, sampai seorang pendukung si Akang 3 mendekat masuk kelas dari balik pintu, membisikkan sesuatu lalu si Akang 3 mengangguk dan melempar tanya ke anak-anak sekelas: "Bagaimana pendapat kalian tentang kepemimpinan perempuan?" 🙅🏻♂️
Entahlah siapa saja di kelas yang menjawab bahwa dalam Islam, Imam itu mesti laki-laki, kepala keluarga, presiden, pengambil ke putusan, semua harus laki-laki blablabla. 🧞♂️
Issshh!
Teman sebangku saya saat itu, Néng DR almarhumah, menyatakan memilih Akang yang pertama karena tampak santai. Saya sendiri sejak awal tertarik dengan pembawaan si Teteh dan rencana-rencananya yang terdengar praktikal, tapi tidak bilang-bilang 🤫
Setelah dihitung di kelas, Akang 3 unggul melampaui Akang 1, sementara yang memilih si Teteh cuma satu suara 🙈
Saya kira cukup sampai si Akang 3 mencapai tujuannya di kelas saya dengan pertanyaan pamungkas itu. Ehh ternyata masih berlanjut dipermasalahkan oleh teman sekelas, kenapa setelah pembahasan kilat petir bahwa perempuan terlarang (?) untuk menjadi pemimpin, masih ada satu suara menyempil untuk perempuan! 🙀
KM kami, anggap saja inisialnya AZ, sampai menginterogasi saya.
Kamu yang pilih si Teteh? Kamu bukan?
Heh, apa urusannya ikut campur pilihan orang! Bukannya ada prinsip R dalam luber?
Sungguh menjengkelkan 😾
Walaupun hidup di tengah keluarga yang laki-lakinya rata-rata kalah (mengalah?) dari perempuannya, dan bersekolah di tingkat yang perempuan masih memborong peringkat teratas, saya pribadi tidak menolak paham kepemimpinan laki-laki. Buat apa juga perempuan repot memimpin, biarkan saja kami mengembangkan dan menyumbangkan keahlian keterampilan kerja tanpa perlu sibuk dibebani tanggung jawab mengatur orang lain.
Banyak pemimpin perempuan menang cuma berkat bayang-bayang lelaki di dekatnya yang terlalu dipuja, atau dengan berlagak seperti laki-laki, atau justru bersedia dilecehkan. Apalagi sesama perempuan pun belum tentu serta-merta memahami dan membela kebutuhan kaumnya di tengah masyarakat jika dipercaya memimpin 👻
Tetapi dalam persaingan tingkat Pilkaos unyil ini apa pula perlunya menekankan gender dalam pilihan? Masa si Akang sebegitunya kurang percaya diri mengalahkan si Teteh dengan telak, semata melalui wibawa pribadi dan usulan program kerja, tanpa perlu menyeret wacana gender?
Dan kenapa juga memberi suara pada perempuan, walaupun terbukti kalah, seolah-olah menjadi hal yang tabu sampai saya dicecar sedemikian rupa? 😩
Atau barangkali saya harus memaklumi itu sekadar sanjungan si Akang terhadap si Teteh sebagai saingan yang kuat, sehingga harus dijatuhkan dengan kampanye kotor yang hanya bagian dari strategi pemenangan. Sedangkan teman-teman sekelas saya memang rakyat biasa yang terlalu mudah dipengaruhi pendapat arus utama 🤷🏾♀️
P.S.: Saya kayaknya setelah itu tidak ingat pernah lagi berkesempatan memilih perempuan, kalau bukan sedang golput, tidak ada calon yang memadai. Memperjuangkan akses hajat hidup lebih penting daripada tampuk kekuasaan bagi perempuan, walaupun itu juga belum saya lakukan 🤭
P.S.2: Setelah melempar cerita ini ke teman sekelas saat itu, AT alias NC bilang bahwa dengan alasan yang kurang lebih sama,dia memilih si Teteh. Jadi mungkin walaupun memihak Teteh, saya konsisten golput saat itu 😬
P.S.3: Penasaran juga nasib kedua Akang tersebut di atas, dan pembisiknya, barangkali yang kenal bisa mengabari sedang apa mereka sekarang?
Si Teteh beberapa tahun yang lalu kebetulan sempat ketemu di forum kerjaan, kayaknya sih giat sukses saja dalam karier dan keluarga, cuma malas kontakan secara beliau tidak pakai Facebook 🤔
Selasa, 01 Mei 2018
Kamar Belajar 304
Nasib terparah dari mengikuti serial komik bukanlah ketaksabaran menunggu pemutakhiran yang hanya sekali sekian bulan diselang jeda tak terjadwal; bukan pula kecewa akan kesimpulan akhir cerita yang tidak sesuai kehendak pribadi. Kepatahhatian karena terancam putus di tengah jalanlah yang paling membuat sengsara.
Demikian pula ujung nasib ruangan hotel yang sedianya hanya bakal dihuni selama 40 hari (minggu?) setelah lewat dua tahun malah tumbang di "karantina" sebelum berlaga ... 😖
Yang saya maksud adalah "304th Study Room", salah satu serial LINE webtoon Indonesia yang sempat memasung perhatian saya.
- Tentang komiknya
- Kasus yang terjadi
- Renungan
Tentang komiknya
- Judul. Ini menjengkelkan saya pribadi. Mengapa tidak Bahasa Indonesia? Padahal tidak terdengar catchy penginggrisan ini. Kalau suatu saat mau diluncurkan secara internasional, silakan diterjemahkan dengan pakai judul itu, tapi tidak perlu sekarang. Seandainya bukan karena bengong di KRL, saya tidak bakal menyempatkan diri melirik judul seperti itu. Semoga suatu saat ada yang memprakarsai penggantian judul yang lebih mengakar. Walaupun jangan menilai suatu cerita hanya dari judulnya.
- Kabut asap. Untunglah ceritanya cukup kedaerahan. Sebagai yang turut megap-megap terjebak di lapangan penelitian dan terkuras tenaga pikiran dan perasaan menggalang masker dan obat, saya sangat menyambut komik yang mengangkat isu pembakaran hutan gambut. Sayang OSN diselenggarakan pada semester pertama (kalau tidak salah) sehingga belum mencapai puncak kepekatan sekitar September 2015. Seandainya cerita berlanjut, atau dimodifikasi kalender sehingga para peserta mengalami sesak napas di hotel mewah tanpa bisa keluar kota, tentu dapat menjadi sarana meningkatkan keprihatinan dan kewaspadaan masyarakat.
- Korupsi. Dengan latar yang khas Riau, cerita ini termasuk satu dari segelintir webtoon yang terasa otentik. Pendekatan masalah masih terlalu vulgar dan kebanyakan nongkrong di hotel mewah saja kurang beredar, tetapi isu sosial politik yang diangkat di sekitar mereka ternyata lumayan terjalin erat ke dalam keseharian pelatihan yang membosankan. Penyelewengan izin pembukaan lahan, kolusi pengadaan infrastruktur, nepotisme akses pendidikan, bukankah memang asupan sehari-hari warga provinsi Riau?
- Korea. Sayang, gambarnya yang rapi jali menyaingi Lookism (walaupun masih kalah ragam tema cerita) sangat tidak Indonesia (setuju dengan penilaian Pak Ichsan, geli-geli geuleuh). Apalagi kebanyakan adegan fans service buat cewek-cewek fujoshi yang berupaya menandingi pelecehan a la cowok dengan cara mencocokkan bentuk otot perut dengan berbagai jenis roti. Ditambah lagi memaksakan muncul tokoh
artispengusaha Korea dalam alurnya... Mungkin komik ini memang mengincar pasar generasi alay milenialz yang kesengsem sama boiben-boiben sipit genit. Setidaknya, sang pengarang --yang kabarnya orang Indonesia asli-- cukup tekun kokoreaan dalam menampilkan perbedaan sosok para tokoh; palingan memang selera pribadi.
- Pribumi. Entah bermaksud menampilkan keberagaman, nyaris semua tokoh malah keturunan asing. Bejo sang pangeran minyak medok adalah bule naturalisasi sehingga ditolak paskibra; Reihan sang putra gubernur rebel without a cause bermata kuning adalah
anak harammelayu campuran antah berantah; Dirga sang seleb emo traumatik dan Yanjie sang sisbro complex beserta keluarga masing-masing jelas cina; Juna sang lolikon bertampang shota punya nama menak Sunda dan logat Betawi, tapi bapaknya diketahui bernama mesir berwajah pakistan; sementara Pak Zam sang jomblo ngenes, sebagai orang Aceh mungkin saja keturunan turki atau maroko. Tokoh utama yang boleh dibilang pribumi mungkin hanya Desyca dan Bu Nurul? Saya berharap ada upaya menampilkan kekhasan suku asli yang lebih ajaib: Kenapa enggak muncul tokoh Papua ganteng kayak Dosen Fisika saya almarhum Pak Hans Wospakrik misalnya ..? - Fisika. Mengapa hampir semua makhluk Tuhan ini mengikuti OSN dengan terpaksa? Dirga ingin menyanyi, Juna ingin menggambar, Reihan ingin memasak. Dan semuanya ikut lomba demi orang tua: karena tidak tega memberatkan, bermaksud balas dendam, atau untuk pembuktian kemampuan pribadi. Hanya Bejo yang wajar seperti remaja biasa, masih ikut-ikutan teman tanpa dorongan tertentu. Haruskah sedemikian ekstrem agar timbul drama? Apakah anak SMA zaman now lebih mudah bercita-cita menjadi seniman yang (dianggap) jauh dari beban Matematika dan IPA? Tak bisakah sekadar ikut lomba iseng saja menikmati proses semata karena suka pelajarannya, tanpa perlu dikaitkan dengan rencana karier masa depan?
- Astronomi. Tiba-tiba kisah tersedak jauh ke pertengkaran suami-istri antara memilih adopsi atau usaha sendiri ... disangka tentang anak ternyata tentang bintang. Apakah suaminya yang disuruh membayar? Lalu mengapa istri yang astronom yang tidak sabar minta adopsi? Padahal kalau sang suami yang mengeluh ditinggal begadang tiap malam, jauh lebih masuk akal. Mengapa tidak percaya diri bakal menemukan sendiri? Toh jika teguh berkiprah di bidang ilmu astronomi suatu saat akan ada pihak yang menganugerahkan planet kerdil atau asteroid atas nama beliau, seperti pengalaman Ibu Premana Wirdayanti 12937 Premadi.
- Feminisme. Di antara kelima peserta tim OSN Fisika, Desyca satu-satunya yang tulus ingin meniti karier sebagai astronaut, justru terjegal keinginan orang tua agar menikah secepatnya. Klise sekali! Tapi bisa jadi pandangan seperti ini masih mendarah daging di kalangan generasi kita sehingga masih perlu dibahas. Pertanyaannya, apakah pengarang mengalami hal seperti itu? Seharusnya kedua keinginan tersebut tidak perlu saling bertolak belakang, bisa diselaraskan dengan skala prioritas tertentu. Lalu mengapa penamatan mendadak ditutup dengan pernikahan juga? Apakah itu tetap syarat agar dia dapat menggapai cita-cita?
Kasus yang terjadi
Riau oh Riau ... berkat KKN yang tersistematis mengurat mengakar sampai ke sendi-sendi kehidupan, dan rasa ketidakadilan antara pusat-daerah yang berkepanjangan, tidak aneh lagi jikahttps://chirpstory.com/li/384841
Tersebutlah tiba-tiba terbit preview epilog di tengah jalan, sementara epilog yang dijanjikan pun terlambat satu minggu, sehingga komik sempat dicap jeda sebelum kemudian ditamatkan dengan sengsara.
Selidik punya selidik, konon sudah lama dibahas masalah penipuan yang dilakukan oleh pengarang, sejak sekitar 7 tahun lalu sampai saat sedang menerbitkan komik ini. Ada kasus jualan rambut palsu, krim wajah, gambar komisi, stiker, kartu pos, gantungan kunci, sampai guling idola.
Polanya pun tampak berulang: banyak penggemar ---> dagangan laris ---> pesanan melimpah ---> gagal produksi/gagal kirim --> janji mengembalikan uang ---> mengeluhkan masalah keluarga/kuliah/penyakit/putus cinta ---> tidak bisa dikontak ---> ganti akun media ---> diam-diam menunggu masa tenang ---> promosi produk baru lagi ketika orang sudah lupa.
Karena jualannya kecil-kecilan, para pelanggan masa lalu yang lelah menagih malas mengusut lebih jauh, tak sampai melaporkan ke polisi. Begitu namanya naik daun di webtoon, melakukan penawaran baru, kejadian lagi hal yang serupa, mulailah mereka merasa layak untuk mengungkit kembali. Akhirnya beredarlah berbagai kompilasi dari masalah yang dialami berbagai pihak dengan sang pengarang.
Salah satu kekesalan utama para pelanggan adalah nama pena yang digunakan merujuk cina, padahal dia asli pribumi, sehingga terkesan mencemari nama baik keturunan cina. Konon sebelumnya dia memakai nama spanyol. Di dalam komiknya, ada adegan muslimah berkerudung rapat mengucapkan salam, lalu pengarang menyatakan sudah konsultasi dengan pemuka agama dalam menampilkan adegan tersebut, padahal dia sendiri berasal dari keluarga muslim (walaupun entah agama apa yang dianut dalam hatinya saat ini).
Terkadang terselip juga beberapa nasihat anti-hate speech, padahal yang bersumpah serapah di kolom komentar adalah mantan pelanggan yang murka.
Kekesalan lain mereka adalah, dia mengeluhkan bahwa tekanan dari pelanggan tersebut membuatnya terhambat menerbitkan komik 304 secara rutin. Dia juga merendahkan beberapa pengarang lain yang menampilkan percintaan pria-wanita; sementara komik 304 dibanggakan mengabaikan seputar romantika. Tetapi seperti munafik karena ternyata dia tampil di webtoon berbahasa inggris di kategori challenge (amatiran pendatang baru), menggambar cerita gak penting yang bermuatan seksual pasangan sesama pria, omegaverse (entahlah apa pula itu), dengan tokoh tiruan idola Korea.
Alasannya karena ingin menyalurkan hobi. Dicurigai tujuan sesungguhnya untuk menarik sponsor pendana maupun penggemar baru yang akan membela dia dari komentar-komentar miring para pelanggan lama. Semestinya orang yang telah kompeten sebagai profesional tidak perlu lagi melalui tahap tersebut... Jangan-jangan imbalan webtoonist pro tidak sebesar sumbangan lewat patreon? Atau kelelahan mengejar jadwal mingguan membuat episode-episode tunggang-langgang sehingga mencetuskan keinginan menggambar ulang.
Renungan
Beberapa isu yang terlintas gara-gara kasus ini (maaf ya kalau acak banget):
- Hak anonimitas pengarang seharusnya dapat tetap dilindungi; pengarang berhak memakai nama pena apa pun tanpa perlu diungkit-ungkit oleh penggemar maupun pembencinya, selama bukan mencaplok jati diri manusia nyata. Hal ini penting agar mereka leluasa mengungkapkan curahan hati melalui karya yang toh punya penafian sebagai fiksi belaka. Namun hendaknya dipertimbangkan pula bahwa:
- Kepercayaan bisnis memerlukan identitas yang jelas; hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pelantar jual-beli daring yang dapat dipertanggungjawabkan: jelas ada konsekuensi berbagi keuntungan dan harus patuh bayar pajak, namun data pesanan, transaksi pelanggan, prosedur pengembalian dana terorganisasi secara sistematis, sementara anonimitas penjual tetap dapat terlindungi di balik pelantar tersebut.
- Produksi dalam negeri vs bea cukai; bisa jadi awal kekacauan adalah masalah penebusan barang dagangan di bea cukai. Sebagai penjual amatiran, tentu sang pengarang tidak punya izin impor yang layak untuk jumlah besar. Mana tahu tertagih bea masuk atau PPnBM yang tidak diperhitungkan sebelumnya, tapi gengsi untuk mengakui. Di sisi lain, menurut saya impor barang mahal untuk cosplay adalah tindakan yang tidak kreatif. Kreativitas sejatinya harus didasari kemampuan mengolah sumber daya alam milik sendiri. Contohlah @lowcostcosplay.
- Mutu percetakan; tentang karya sendiri, bisa jadi hasil cetakan terlalu butut, warna belang bonteng, sehingga dianggap gagal. Akibat obsessive compulsive disorder, tidak sudi menjual apa adanya, tapi juga terbengkalai tidak sempat mengurus ganti rugi ke percetakan lalu bingung sendiri. Tentu saja jika belum mampu mengendalikan risiko, mestinya jangan terjun ke bisnis dulu.
- Keterlibatan keluarga; adik dan ibunya telah membantah berbagai kilah pengarang tentang drama keluarga ataupun penyakitnya, dan berjanji akan menebus semuanya. Namun, jika tidak mengenal lebih jauh, belum bisa serta-merta disimpulkan dia berbohong. Kurangnya rasa tanggung jawab, mentalitas korban, dan ketegaan menyalahkan keluarga pun pasti bersumber dari lingkungan keluarga juga. Sebaliknya, tentu tidak ada keluarga yang mau mengakui kegagalan mengasuh seseorang. Sementara itu, banyak kasus KDRT yang terjadi sangat tertutup sulit diintervensi justru ketika korbannya menyangkal keadaan.
- Masalah psikologis dapat terbentuk melalui cosplay dan fanfic; keinginan mencintai diri yang tampil beda sebagai orang lain, bisa jadi pemicu rasa percaya diri tapi bisa juga menimbulkan kepribadian ganda yang tidak tertanggulangi. Sementara mengkhayalkan dunia sesuka hati ke mana kapal hendak berlabuh, adalah sarana pelarian dari kenyataan hidup.
- Rentang evolusi sebuah adikarya; selama menelusuri kontroversi ini, saya terarahkan ke berbagai profil medsos jadul sang pengarang. Ternyata, di sana bisa kita temukan jejak-jejak pengolahan naskah 304 ini sejak tujuh tahun silam.
Ide untuk mengomikkan pengalaman pribadi selama OSN setidaknya telah mengemuka pada 2011 (atau bahkan lebih lama lagi). Para tokoh utama telah tampil dengan raut wajah dan nama yang berbeda, watak yang lumayan mirip versi finalnya. Beberapa adegan pun dapat ditelusuri telah muncul dalam sketsa-sketsa yang dicicil selama itu. Barangkali di tengah jalan kehabisan bahan, tanggapan tak semeriah yang diharapkan, semangat pun buyar semua. Seolah-olah tidak ada gagasan lain yang lebih cemerlang daripada kisah ini. - Genre supokon inspiratif tidak cocok di negara ini; kalau ini manga, masuk kategori semangat bersaing yang menggugah orang untuk maju. Walaupun tamatnya menggantung, rencana awal adalah memenangkan sebagian tokoh untuk maju ke IPhO. Namun, seperti yang pernah kami bahas ngalor-ngidul dalam suatu diskusi KineMala, ada kebutuhan untuk lebih membumikan media fiksi kita pada realisme, agar ambisi maupun obsesi dirumuskan lebih terencana, dan siap menghadapi berbagai risiko, jangan sampai kandas sebagai sekadar bunga mimpi tak tergapai. Bagaimana mengelola cerita komik yang mampu menampilkan sebuah kekalahan dengan lapang dada?
- Kegagalan pengembangan industri kreatif; belum ada jaring pengaman untuk menanggulangi kegilaan para seniman dalam kadar yang layak. Mereka dituntut untuk 'waras' sebagai pebisnis profesional yang bertanggung jawab atas komersialisasi produknya, sehingga terjebak antara menjadi sekrup mesin raksasa yang rutin melakukan plagiasi membosankan; atau menjadi pengacau tak terkendali yang sama sekali gagal terjun ke masyarakat ...
Pada dasarnya industri kreatif adalah sebuah kerancuan. Dalam skema ini, tidak ada harapan untuk menyaksikan karya otentik cemerlang yang dapat menggugah peradaban dunia.
Jumat, 17 Juni 2011
Barbie® Arsitek Ramah Lingkungan?
Ken®, yang baruuu saja awal tahun ini CLBK dengan Barbie®, panik ketika dihadapkan kepada bukti-bukti dari Greenpeace bahwa selama ini sang kekasih membungkus diri dengan kemasan kardus hasil penebangan hutan hujan tropis di Indonesia, yang artinya turut andil dalam merusak tempat kediaman satwa langka orangutan dan harimau Sumatera.
Berikut wawancara dan liputan eksklusifnya (youtube).
Versi Indonesia bisa ditonton di http://www.greenpeace.or.id/barbie
(silakan sekalian tanda tangani petisinya).
Ken® marah dan bersedia menjadi jubir Greenpeace di FB, sampai memanjat gedung untuk memasang spanduk di Mattel California dan Piccadily Circus London:
"Barbie, kita putus! Aku nggak mau pacaran sama cewek yang merusak hutan! Cewek yang mengancam hewan unyu bikin aku sebal!"
Pertengkarannya bisa disimak via twitter @Ken_talks vs @Barbie.
...
Namun, muncul tanda tanya, bagaimana dengan Ken® sendiri? Mengapa mempermasalahkan kemasan pembungkus, sementara gaya hidup makhluk yang dibungkusnya jauh lebih tidak berkelanjutan? Padahal, baru saja dia berjuang merebut kembali hati Barbie® (setelah berkenalan 50 tahun dan sempat berpisah selama 7 tahun), buang energi demi berkampanye besar-besaran sambil melempar pernyataan gombal semacam "aku ingin kau kembali" "kaulah satu-satunya boneka untukku" "kita mungkin hanya plastik tapi cinta kita sejati!" cieee...
Walaupun mungkin tidak tepat sasaran, dan bisa membuat salah paham kalau tidak menelusuri masalahnya lebih dalam, jelas gembar-gembor ini sangat keren.
Cukup menyentak perhatian orang, termasuk saya.
Mattel pun tampak berusaha turun tangan walaupun sambil protes bahwa mereka tidak secara langsung terlibat. Apa pengaruhnya terhadap pemerintah Indonesia, yang melaksanakan moratorium penebangan hutan dengan enggan, patut kita nantikan.
Kebetulan, musim panas tahun ini akan menandai pertama kalinya Barbie meniti karir arsitek dalam barisan "I Can Be..." setelah sekian lama ia terjun dalam beragam profesi mulai dari model, aktris, dokter, astronot, pembalap, tentara, kasir McD maupun pengantin (eh, lho, kenapa itu dihitung karir, bukan ibu rumah tangga?)
Arsitektur sempat terpilih oleh masyarakat sebagai cita-cita Barbie pada 2002, namun saat itu Mattel memutuskan bahwa profesi ini terlalu rumit untuk dipahami anak kecil. Tahun lalu ia kalah suara dari Insinyur Komputer, dan baru tahun ini diterima. Dua orang arsitek perempuan yang selama ini memperjuangkan Barbitect, diangkat sebagai penasihat untuk menjaga boneka ini otentik terhadap karirnya.
Ada yang bilang, mungkin sesungguhnya Barbie memang cocok menjadi seorang arsitek, karena boleh dikatakan dengan ukurannya yang tidak seimbang itu, wujudnya sendiri merupakan hasil penguasaan kemustahilan struktural.
Mattel menyebut penampilan Barbitect sebagai "gaya simetris dengan warna tegas dan garis bersih" dengan gaun biru dan pink bergambar gedung pencakar langit, sepatu bot hitam hak tinggi dan jaket hitam pendek. Dia memanggul tabung gambar pink untuk cetak biru, membawa serta helm pengaman, sementara kacamata berbingkai hitam bertengger di kepalanya.
Bagaimana penampilan ini mewakili arsitek perempuan?
Arsitek-arsitek muda teladan pun turut berkomentar.
...
Sebaliknya ada juga yang mengacungkan jempol, bahwa sudah saatnya citra arsitek perempuan yang selama ini seakan harus tunduk kepada gaya maskulin diberi sentuhan feminin. Dan bahwa selain di lapangan, banyak kok arsitek perempuan yang mengenakan sepatu hak tinggi dengan leluasa. Kenapa harus berbaju hitam kayak mau berkabung, siapa bilang arsitek tidak boleh pakai pink?
Kenyataannya, Barbitect bukanlah sebuah terobosan di dunia boneka. Sebagai tandingan Barbie, sepuluh tahun yang lalu, pada 2000, sebenarnya Smartees sudah memproduksi Amanda arsitek, dengan aksesori lengkap helm pengaman, kalkulator, penggaris, jangka, koper, bahkan ada meja gambarnya segala! Namun sayangnya proporsi sang boneka belum jauh dari Barbie, dan tentu saja Barbie sebagai ikon budaya pop yang mendunia dianggap akan berdampak lebih jauh terhadap pandangan masyarakat umum.
Yang lebih penting, apakah ketepatan gaya penampilan dan perlengkapan sang boneka akan mempengaruhi pandangan anak-anak terhadap profesi tersebut?
Patut dipertanyakan, seberapa besar sih peran Barbie terhadap kesempatan kerja di kehidupan nyata dan keputusan karir masa depan sang anak yang memainkannya, saat ia dewasa nanti?
Adakah survei mengenai peran-peran Barbie sebelumnya, seperti astronot, yang membuktikan pengaruhnya terhadap cita-cita anak-anak generasi tersebut?
Apakah dengan memainkan Barbitect, anak-anak pasti akan senang membuat cetak biru bangunan?
Atau hanya sekadar menggonta-ganti baju tanpa tertarik pada aspek arsitekturalnya?
...
Lebih banyak lagi yang protes, bahwa Barbitect memberikan kesan yang salah kepada anak-anak, seakan-akan bukan otaklah yang diperlukan, melainkan tampang dan gaya yang utama. Seakan-akan kalau mau jadi profesional, intelektual, sarjana, pintar saja tidak cukup, kamu tetap harus cantik. Sejak insiden pengakuan Barbie kesulitan matematika 11 tahun berlalu, apakah kini Barbie terjamin telah lebih cerdas? Apakah dengan menyaksikan tokoh kecantikan ini tampil sebagai intelektual, anak kecil akan terberdayakan?
Untuk mendorong anak kecil jadi arsitek tentu lebih cocok main balok, lego, dll yang memberi sensasi desain dan konstruksi, mengasah kemampuan spasial, rasa estetik, keterampilan merencanakan, dan kebiasaan kerja sama.
Namun mungkin, selama orang tua masih memilih mainan dengan bias gender, adanya Barbie arsitek sudah lumayan menguak pengalaman dunia alternatif dan penyelesaian masalah, dengan memilih apa yang akan dia pakai ke kantor, belanja di toko material, menyambangi tukang, menghadap klien, dll
(walaupun tentu lebih bagus lagi bila anak-anak perempuan mulai tertarik main balok).
Seseorang menyoroti bahwa sesungguhnya masalah yang dihadapi dunia arsitektur saat ini bukanlah dalam tahapan merayu para gadis agar tergiur menjadi arsitek, buktinya jumlah mahasiswi arsitektur cukup tinggi, melainkan dalam tahapan bagaimana membuat para arsitek perempuan bertahan di dalam profesinya dan mengambil izin arsitek.
Jika tujuannya promosi, sebenarnya yang harus jadi sasaran untuk membuat profesi ini tampak menarik adalah remaja.
Harus ada peringatan di kotaknya "mainan ini bagus untuk anak kecil tapi tidak dapat dijadikan gambaran akurat untuk remaja usia 16-22 yang sedang serius mempertimbangkan mengejar profesi ini."
Sorotan paling kritis adalah terhadap maket yang menyertai Barbitect. Dengan bahan plastik pink yang sedemikian, bagaimana Barbitect diandalkan merancang rumah masa depan berkelanjutan?
Apalagi mengamati seleranya selama ini, dari rumah impian Ken® di Toy Story 3 yang bernuansa ungu, kuning krem dan biru muda elektrik, toko di Shanghai, sampai rancangan Jonathan Adler di Malibu menyambut ulang tahun ke-50 Barbie®, hanya lagak kemewahan pink norak dengan sentuhan dewasa narsis hedon hura-hura yang tampak, belum ada bayangan sosok perempuan mandiri yang tekun, apalagi konsep hijau sertifikasi LEED® (Leadership in Energy and Environmental Design).
AIA (Institut Arsitek Amerika) berusaha menengahi kontroversi ini dengan mencanangkan Lomba Merancang Rumah Impian Barbie Ramah Lingkungan sejak 16 Mei-27 Juni 2011, terbatas anggota AIA.
Mereka menekankan agar tidak terlalu serius menghadapi boneka ini, cukuplah sambil "bermain dan bersenang-senang" dan "think pink" sesuai dengan panduan dari Barbie sendiri:
"Alangkah jarang seorang perempuan tahu apa yang dia inginkan!"
Apalagi sebagai klien!
Eh? Kok malah jadi klien?
Lho lho lho, Barbie, bukankah kamu tahun ini lulus ujian jadi Arsitek bersurat izin, kenapa tidak merancangnya sendiri???
Tentu banyak rumah boneka yang dikategorikan ramah lingkungan, seperti ini, ini dan ini, tapi pastilah tak ada yang sudi memenuhi syarat-syarat di atas.
(25/06/2011) Tambahan pilihan 126 profesi, Greenpeace menawarkan karir yang lebih tepat, yaitu Barbie "perusak hutan hujan", lengkap dengan aksesori gergaji mesin dan buldoser pink.
Tak kepalang tanggung menyaingi AIA, mereka juga membuka CONTEST: Design a Rainforest Destroyer look for Barbie.
Pemenang akan memperoleh hadiah selembar kaos pink "Barbaric", bergambar siluet Barbie memegang gergaji mesin...
Kelemahan lomba ini, untuk mengikutinya peserta harus punya Barbie dulu, dong... Atau mungkin memang sasarannya adalah meningkatkan kesadaran para pemilik Barbie. Yang jelas saya tidak bisa ikutan.
Karena dulu sibuk mengurus adik (yang mengaku-aku arsitek), dan adik-adik sepupu (juga kuliah arsitektur), saya sebenarnya tidak terlalu peduli terhadap boneka, hanya kebetulan menikmati pemberitaannya saja.
Kalau anak-anak Anda membutuhkan teladan boneka, saya usulkan Yotsuba&! yang memang kisahnya beredar di seputar isu ramah lingkungan:
...
Masalahnya, berdasarkan peringatan di kotaknya, Yotsuba&! ini mainan untuk usia 15 tahun ke atas walaupun aslinya berusia 5 (tepatnya 10) tahun, sementara Barbie tercantum untuk usia 3 tahun ke atas walaupun aslinya berusia 20an (tepatnya 52) tahun... Aneh ya?
Kalau teladan arsitek, selebritas Bandung yang dielu-elukan oleh ikatan alumni SMA saya kayaknya sih sering juga pakai kaos kerah kura-kura dan kacamata berbingkai hitam, tapi sayangnya ia juga menjadi bintang iklan rokok, hal yang menurut saya bertentangan dengan konsep ramah lingkungan. Yang jelas, belum ada yang saya kenal terpikir untuk merancang rumah boneka.
Saya pun ingin membangun rumah Yotsuba, dan saya rasa IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) perlu juga menyelenggarakan lomba merancang rumah Unyil, rumah Cepot atau rumah siapalah boneka lainnya yang akan lebih mendukung pelestarian hutan hujan Indonesia.
Berikut wawancara dan liputan eksklusifnya (youtube).
Ken Minta Putus Lagi
Versi Indonesia bisa ditonton di http://www.greenpeace.or.id/barbie
(silakan sekalian tanda tangani petisinya).
Ken® marah dan bersedia menjadi jubir Greenpeace di FB, sampai memanjat gedung untuk memasang spanduk di Mattel California dan Piccadily Circus London:"Barbie, kita putus! Aku nggak mau pacaran sama cewek yang merusak hutan! Cewek yang mengancam hewan unyu bikin aku sebal!"
Pertengkarannya bisa disimak via twitter @Ken_talks vs @Barbie.
...
Namun, muncul tanda tanya, bagaimana dengan Ken® sendiri? Mengapa mempermasalahkan kemasan pembungkus, sementara gaya hidup makhluk yang dibungkusnya jauh lebih tidak berkelanjutan? Padahal, baru saja dia berjuang merebut kembali hati Barbie® (setelah berkenalan 50 tahun dan sempat berpisah selama 7 tahun), buang energi demi berkampanye besar-besaran sambil melempar pernyataan gombal semacam "aku ingin kau kembali" "kaulah satu-satunya boneka untukku" "kita mungkin hanya plastik tapi cinta kita sejati!" cieee...
Walaupun mungkin tidak tepat sasaran, dan bisa membuat salah paham kalau tidak menelusuri masalahnya lebih dalam, jelas gembar-gembor ini sangat keren. Cukup menyentak perhatian orang, termasuk saya.
Mattel pun tampak berusaha turun tangan walaupun sambil protes bahwa mereka tidak secara langsung terlibat. Apa pengaruhnya terhadap pemerintah Indonesia, yang melaksanakan moratorium penebangan hutan dengan enggan, patut kita nantikan.
Karir Tahun Ini: Barbie® Arsitek
Kebetulan, musim panas tahun ini akan menandai pertama kalinya Barbie meniti karir arsitek dalam barisan "I Can Be..." setelah sekian lama ia terjun dalam beragam profesi mulai dari model, aktris, dokter, astronot, pembalap, tentara, kasir McD maupun pengantin (eh, lho, kenapa itu dihitung karir, bukan ibu rumah tangga?)
Arsitektur sempat terpilih oleh masyarakat sebagai cita-cita Barbie pada 2002, namun saat itu Mattel memutuskan bahwa profesi ini terlalu rumit untuk dipahami anak kecil. Tahun lalu ia kalah suara dari Insinyur Komputer, dan baru tahun ini diterima. Dua orang arsitek perempuan yang selama ini memperjuangkan Barbitect, diangkat sebagai penasihat untuk menjaga boneka ini otentik terhadap karirnya.
Ada yang bilang, mungkin sesungguhnya Barbie memang cocok menjadi seorang arsitek, karena boleh dikatakan dengan ukurannya yang tidak seimbang itu, wujudnya sendiri merupakan hasil penguasaan kemustahilan struktural.
Seperti Apa Sih Penampilan Arsitek Sejati?
Mattel menyebut penampilan Barbitect sebagai "gaya simetris dengan warna tegas dan garis bersih" dengan gaun biru dan pink bergambar gedung pencakar langit, sepatu bot hitam hak tinggi dan jaket hitam pendek. Dia memanggul tabung gambar pink untuk cetak biru, membawa serta helm pengaman, sementara kacamata berbingkai hitam bertengger di kepalanya.Bagaimana penampilan ini mewakili arsitek perempuan?
Arsitek-arsitek muda teladan pun turut berkomentar.
...
- Stereotip standar busana arsitek adalah celana panjang dan baju berkerah kura-kura berwarna hitam, selain kacamata berbingkai hitam yang kebetulan dia miliki.
- Warna pink pasti selayaknya dihindari karena cenderung menimbulkan kekacauan komunikasi di lokasi konstruksi. Sebab, pada umumnya para kontraktor membenci warna banci.
- Rambut pendek agar mudah disisir, wajah tanpa rias dan ada kantung mata dan kerutan kening sisa bergadang berhari-hari. Selalu siap dengan segelas kopi hangat.
- Pakaiannya perlu ditambah seragam olahraga pink kinclong yang adem ayem untuk bergaul bersama keluarga di hari libur. Juga harus ada scarf.
- Dan walaupun punya helm pengaman (yang kebetulan tidak pink!) sesuai pedoman pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku, rok pendek dan sepatu hak tinggi jelas belum memenuhi syarat karena menyulitkan naik tangga. Sayangnya, bentuk kaki Barbie tidak memungkinkan dia memakai sepatu bersol rata!
- Beberapa orang lain menyinggung bahwa tabung gambar cetak biru sudah ketinggalan zaman. Bukankah kini arsitek menggunakan iPad dan inFocus untuk menampilkan rancangannya?
Sebaliknya ada juga yang mengacungkan jempol, bahwa sudah saatnya citra arsitek perempuan yang selama ini seakan harus tunduk kepada gaya maskulin diberi sentuhan feminin. Dan bahwa selain di lapangan, banyak kok arsitek perempuan yang mengenakan sepatu hak tinggi dengan leluasa. Kenapa harus berbaju hitam kayak mau berkabung, siapa bilang arsitek tidak boleh pakai pink?
Kenyataannya, Barbitect bukanlah sebuah terobosan di dunia boneka. Sebagai tandingan Barbie, sepuluh tahun yang lalu, pada 2000, sebenarnya Smartees sudah memproduksi Amanda arsitek, dengan aksesori lengkap helm pengaman, kalkulator, penggaris, jangka, koper, bahkan ada meja gambarnya segala! Namun sayangnya proporsi sang boneka belum jauh dari Barbie, dan tentu saja Barbie sebagai ikon budaya pop yang mendunia dianggap akan berdampak lebih jauh terhadap pandangan masyarakat umum.
Kalau menurut pengalaman saya sendiri sih, aksesoris yang kurang pada Barbitect maupun Amanda adalah apa itu namanya pita pengukur/meteran gulung.
Anggota PCP (Perfect Crime Party, manga karya tokoh-tokoh utama Bakuman) saja selalu membawa meteran gulung itu ke mana-mana (jadi gantungan HP), adik saya sendiri bahkan menamai meteran gulungnya 'Legolas', masa si Barbitect ini tidak.
Yang lebih penting, apakah ketepatan gaya penampilan dan perlengkapan sang boneka akan mempengaruhi pandangan anak-anak terhadap profesi tersebut?
Pengaruh Budaya Pop terhadap Cita-cita Anak-anak
Patut dipertanyakan, seberapa besar sih peran Barbie terhadap kesempatan kerja di kehidupan nyata dan keputusan karir masa depan sang anak yang memainkannya, saat ia dewasa nanti?Adakah survei mengenai peran-peran Barbie sebelumnya, seperti astronot, yang membuktikan pengaruhnya terhadap cita-cita anak-anak generasi tersebut?
Apakah dengan memainkan Barbitect, anak-anak pasti akan senang membuat cetak biru bangunan?
Atau hanya sekadar menggonta-ganti baju tanpa tertarik pada aspek arsitekturalnya?
...
Lebih banyak lagi yang protes, bahwa Barbitect memberikan kesan yang salah kepada anak-anak, seakan-akan bukan otaklah yang diperlukan, melainkan tampang dan gaya yang utama. Seakan-akan kalau mau jadi profesional, intelektual, sarjana, pintar saja tidak cukup, kamu tetap harus cantik. Sejak insiden pengakuan Barbie kesulitan matematika 11 tahun berlalu, apakah kini Barbie terjamin telah lebih cerdas? Apakah dengan menyaksikan tokoh kecantikan ini tampil sebagai intelektual, anak kecil akan terberdayakan?
Untuk mendorong anak kecil jadi arsitek tentu lebih cocok main balok, lego, dll yang memberi sensasi desain dan konstruksi, mengasah kemampuan spasial, rasa estetik, keterampilan merencanakan, dan kebiasaan kerja sama. Namun mungkin, selama orang tua masih memilih mainan dengan bias gender, adanya Barbie arsitek sudah lumayan menguak pengalaman dunia alternatif dan penyelesaian masalah, dengan memilih apa yang akan dia pakai ke kantor, belanja di toko material, menyambangi tukang, menghadap klien, dll
(walaupun tentu lebih bagus lagi bila anak-anak perempuan mulai tertarik main balok).
Seseorang menyoroti bahwa sesungguhnya masalah yang dihadapi dunia arsitektur saat ini bukanlah dalam tahapan merayu para gadis agar tergiur menjadi arsitek, buktinya jumlah mahasiswi arsitektur cukup tinggi, melainkan dalam tahapan bagaimana membuat para arsitek perempuan bertahan di dalam profesinya dan mengambil izin arsitek.
Jika tujuannya promosi, sebenarnya yang harus jadi sasaran untuk membuat profesi ini tampak menarik adalah remaja.
Harus ada peringatan di kotaknya "mainan ini bagus untuk anak kecil tapi tidak dapat dijadikan gambaran akurat untuk remaja usia 16-22 yang sedang serius mempertimbangkan mengejar profesi ini."
Lomba Merancang Rumah Impian Ramah Lingkungan
Sorotan paling kritis adalah terhadap maket yang menyertai Barbitect. Dengan bahan plastik pink yang sedemikian, bagaimana Barbitect diandalkan merancang rumah masa depan berkelanjutan? Apalagi mengamati seleranya selama ini, dari rumah impian Ken® di Toy Story 3 yang bernuansa ungu, kuning krem dan biru muda elektrik, toko di Shanghai, sampai rancangan Jonathan Adler di Malibu menyambut ulang tahun ke-50 Barbie®, hanya lagak kemewahan pink norak dengan sentuhan dewasa narsis hedon hura-hura yang tampak, belum ada bayangan sosok perempuan mandiri yang tekun, apalagi konsep hijau sertifikasi LEED® (Leadership in Energy and Environmental Design).
AIA (Institut Arsitek Amerika) berusaha menengahi kontroversi ini dengan mencanangkan Lomba Merancang Rumah Impian Barbie Ramah Lingkungan sejak 16 Mei-27 Juni 2011, terbatas anggota AIA.
Mereka menekankan agar tidak terlalu serius menghadapi boneka ini, cukuplah sambil "bermain dan bersenang-senang" dan "think pink" sesuai dengan panduan dari Barbie sendiri:
- Sebuah rumah kantor yang rapi dan cerdas adalah penting untuk setiap boneka. Dengan lebih dari 125 karir, saya perlu kantor luas yang dapat menampung peralatan canggih saya untuk pertemuan, kunjungan klien dan presentasi.
- Saya suka menghibur maka saya perlu ruang duduk dan ruang makan yang terbuka dan terhubung, memungkinkan untuk berbaur dan mudah menghibur dari satu ruangan ke ruangan lain.
- Dapur harus fungsional dan keren dengan peralatan mutakhir, meja besar dan banyak ruang untuk memasak. Saya juga suka cahaya alami di dapur saya sehingga wajib ada jendela. Saya koki yang lumayan ahli, lho!
- Sebagai "fashionista" sejati, Anda bisa bayangkan perlu seberapa besar lemari saya! Saya memiliki busana dan perhiasan tak terbatas, maka saya perlu banyak ancak, rak sepatu dan kabinet yang dapat mudah diatur – berdandan setiap hari tidak boleh menjadi kerepotan.
- Kamar mandi impian: ruang yang besar dan bergaya, dapat diakses dari kamar tidur utama dan ruangan lainnya.
- Saya suka hewan dan saya memiliki lima ekor hewan peliharaan (termasuk jerapah) setiap saat. Sebuah halaman belakang yang luas sangat penting agar mereka dapat berkeliaran dan bermain!
- Sebagai "Gadis California" asal Malibu, saya mengutamakan lokasi, lokasi, lokasi! Rumah saya harus memiliki pemandangan yang menakjubkan di halaman belakang dan menghadap laut.
"Alangkah jarang seorang perempuan tahu apa yang dia inginkan!"
Apalagi sebagai klien!
Eh? Kok malah jadi klien?
Lho lho lho, Barbie, bukankah kamu tahun ini lulus ujian jadi Arsitek bersurat izin, kenapa tidak merancangnya sendiri???
Tentu banyak rumah boneka yang dikategorikan ramah lingkungan, seperti ini, ini dan ini, tapi pastilah tak ada yang sudi memenuhi syarat-syarat di atas.
Lomba Merancang Busana Barbie Perusak Hutan Hujan
(25/06/2011) Tambahan pilihan 126 profesi, Greenpeace menawarkan karir yang lebih tepat, yaitu Barbie "perusak hutan hujan", lengkap dengan aksesori gergaji mesin dan buldoser pink.
Tak kepalang tanggung menyaingi AIA, mereka juga membuka CONTEST: Design a Rainforest Destroyer look for Barbie.
Pemenang akan memperoleh hadiah selembar kaos pink "Barbaric", bergambar siluet Barbie memegang gergaji mesin...
Kelemahan lomba ini, untuk mengikutinya peserta harus punya Barbie dulu, dong... Atau mungkin memang sasarannya adalah meningkatkan kesadaran para pemilik Barbie. Yang jelas saya tidak bisa ikutan.
Arsitek (dan Boneka) Ramah Lingkungan?
Karena dulu sibuk mengurus adik (yang mengaku-aku arsitek), dan adik-adik sepupu (juga kuliah arsitektur), saya sebenarnya tidak terlalu peduli terhadap boneka, hanya kebetulan menikmati pemberitaannya saja.
Kalau anak-anak Anda membutuhkan teladan boneka, saya usulkan Yotsuba&! yang memang kisahnya beredar di seputar isu ramah lingkungan: - Pemanasan GlobalNyaris hanya dialah satu-satunya boneka yang saya rela beli sendiri.
- Daur Ulang
- Ruang Terbuka
- Penghijauan
- Hemat Energi
- Bebas Polusi...
...
Masalahnya, berdasarkan peringatan di kotaknya, Yotsuba&! ini mainan untuk usia 15 tahun ke atas walaupun aslinya berusia 5 (tepatnya 10) tahun, sementara Barbie tercantum untuk usia 3 tahun ke atas walaupun aslinya berusia 20an (tepatnya 52) tahun... Aneh ya?
Kalau teladan arsitek, selebritas Bandung yang dielu-elukan oleh ikatan alumni SMA saya kayaknya sih sering juga pakai kaos kerah kura-kura dan kacamata berbingkai hitam, tapi sayangnya ia juga menjadi bintang iklan rokok, hal yang menurut saya bertentangan dengan konsep ramah lingkungan. Yang jelas, belum ada yang saya kenal terpikir untuk merancang rumah boneka.
Saya pun ingin membangun rumah Yotsuba, dan saya rasa IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) perlu juga menyelenggarakan lomba merancang rumah Unyil, rumah Cepot atau rumah siapalah boneka lainnya yang akan lebih mendukung pelestarian hutan hujan Indonesia.
Rabu, 21 April 2010
Cinderella (ella-ella, eh-eh-eh-ooo)
"Cinderella Complex" adalah sebuah istilah yang dikemukakan oleh Colette Dowling, bukunya terbit pada awal 1980an, entah ayah atau ibu saya kebetulan punya, diletakkan di rak sebelah atas koleksi dongeng-dongeng peri saya sehingga judulnya saja sudah cukup menghantui mimpi-mimpi masa balita saya.
Isinya tentang suatu keinginan tak sadar perempuan untuk diurus oleh orang lain, terutama didasarkan pada ketakutan akan kemerdekaan. Masalah ini akan tampak semakin nyata seiring dengan bertambah usia. Aspek penting dari karya ini dapat dijelaskan sebagai identifikasi salah satu pencetus sindrom yang menyebabkan fenomena yang lebih besar seperti mengapa perempuan memilih untuk mempertahankan hubungan yang gagal.
Kompleks ini dinamai seperti tokoh dongeng peri Cinderella, yang menggambarkan citra perempuan sebagai cantik, anggun dan sopan tetapi tidak sanggup berdiri sendiri sebagai tokoh yang kuat dan merdeka sehingga harus diselamatkan oleh suatu gaya dari luar, biasanya seorang laki-laki (Pangeran Tampan).
Dowling berusaha menjelaskan betapa kondisi tersebut bukanlah sifat yang alami, melainkan endapan budaya, hasil didikan masyarakatlah yang menuntut perempuan untuk bersikap ketergantungan dan laki-laki untuk tidak demikian.
Sayangnya pendapat tersebut hanya berdasarkan satu pengalaman pribadi sang penulis, dan tentunya tidak dapat disamaratakan sebagai pengalaman perempuan yang dibesarkan dengan cara yang berbeda. Apakah perempuan yang tidak dididik demikian sudah pasti terbebas dari kompleks tersebut? Atau, jangan-jangan sebenarnya itu sudah terpatri dalam naluri perempuan pada asalnya, mau dibesarkan dengan cara apa pun?
Apalagi, pendapat tersebut hanya berlandaskan penggambaran Cinderella dalam karya Perrault, yang mendoktrin perempuan beradab "kalangan atas" bahwa mereka haruslah penurut, menunggu dengan sabar untuk diselamatkan, berkaki kecil jarang jalan-jalan, pasif tidak punya inisiatif sendiri, menyerah dihina dan ditindas oleh saudara tiri tanpa mengeluh, bergantung kepada ibu peri, dan kemudian menerima pelindung yang lebih permanen, yaitu suami. Sebagai seorang perawan, dia tidak punya kewajiban memperjuangkan dunianya agar menjadi lebih baik. Dia rela diperbudak dengan tertekan dan penuh penderitaan, terampil dalam urusan rumah tangga namun tidak menikmatinya.
Masih mendingan Cinderella dalam catatan Grimm bersaudara yang dikumpulkan dari kabar rakyat jelata, digambarkan bahwa perempuan itu cerdik, punya banyak gagasan dan daya upaya untuk membebaskan dirinya sendiri. Walaupun saudara-saudara tiri melakukannya dengan cara yang gore sampai mengiris kaki ... Namun tetap saja seperti di adat-istiadat negeri asalnya (Cina?) kisah ini masih sarat dengan pemilahan antara perempuan bangsawan (dengan ciri berkaki kecil karena sengaja dibebat sejak lahir) yang tidak pantas diserahi pekerjaan rumah, dan perempuan rakyat jelata yang kakinya pastilah tak muat di sepatu kaca.
Confessions of an Ugly Stepsister menceritakan sudut pandang lain dari kisah ini dengan lebih membumi. Cinderella adalah anak yang cantik dan besar dimanja, sedangkan ibu tirinya kerepotan menanggung suami yang sakit dan usaha yang bangkrut. Turunnya Cinderella ke dapur adalah tuntutan hidup. Dia sengaja memoles wajah dengan arang agar tidak diganggu oleh lelaki sembarangan. Sementara saudara tirinya berbakat seni dan bisa menemukan kebahagiaan hidup sendiri.
***
Di masa kini, Cinderella berlagak sebagai seorang tante-tante berambut pirang pemilik toko sepatu, yang tidak mengelolanya dengan baik, malah asyik jalan-jalan belanja ke luar negeri. Dia masih berkeluh-kesah menyesali pernikahannya di masa lalu dengan Prince Charming, karena sebagai istri resmi ketiga (!) dia kehabisan manis sepahnya.
Di antara perkumpulan arisan mantan-mantan Prince Charming (Snow White dan Sleeping Beauty), si pegawai toko "The Glass Slipper" yang kerja keras dan ide cemerlangnya selalu dipandang sebelah mata (Crispin Cordwainer, pembuat sepatu dalam kisah the Elves and the Shoemaker), maupun penduduk lain di pelosok Fabletown (tempat para tokoh dari cerita peri kini mengungsi), tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya selama ini Cinderella punya kegiatan utama yang sangat rahasia, sebagai mata-mata paling handal yang menikmati pekerjaannya.
Demikianlah sosok ini ditampilkan dalam dunia FABLES - komik Amerika milenium yang cukup menarik dalam menampilkan intrik-intrik politik. Seperti tokoh-tokoh cerita peri lain di komik ini, perwatakan Cinderella masih sesuai dengan cerita asli: kegiatan mata-mata adalah urusan penyamaran yang tepat, pemanfaatan alat, senjata sepatu, serta kepatuhan akan tenggat waktu. Namun di dunia "nyata" ini, "bahagia selamanya" tidak ada dalam kamusnya.
Komik yang terlalu Amerika, namun patut untuk diperiksa sesekali.
Babak berikut berkisah dalam satu misinya, Cinderella bertemu saingan yang setara dari negara "sahabat": orang yang berlatar belakang kurang lebih sama, naik derajat dari tanah penuh abu dan debu ke singgasana bangsawan melalui kekuatan sihir (Aladdin).
Dia pun harus menghadapi pertanyaan dan kecaman tentang gaya hidupnya yang sekarang dari sang makcomblangnya dulu (Fairy Godmother) yang pernah menjerumuskannya dalam perjodohan dengan pangeran yang telah menduda dua kali...
Menurut sang pengarang, cerita ini seperti "On Her Majesty's Secret Service meets Sex in the City" yang masih sejalan dengan alur utama "Fables".
From Fabletown with Love 01 02 03 04 05 06
Untuk serial Fables selengkapnya, kalau berkantong kempes seperti saya sekarang, cari saja bajakan pindaian di situs-situs Rusia...
***
Kaki saya sendiri termasuk kecil (ukuran 35/22 cm, beli sepatu harus model anak-anak) tapi bentuk kaki petualang tak kan sanggup dikurung sepatu kaca. Makanya saya pribadi kalau diperbolehkan, akan pilih Snow White Complex. Bukankah rambut saya tidak pirang melainkan hitam, kulit saya juga sedikit lebih putih daripada rata-rata, dan bibir saya pastinya akan merah sehabis makan sambal. Mungkin bukan Putih Salju seperti yang digambarkan di komik tersebut, tapi yang jelas tentu saya akan lebih suka berhaha-hihi dengan tujuh kurcaci, seandainya untuk menemukan pangeran tampan berarti harus pingsan dulu menelan racun apel. Apalagi saya tidak suka apel, jauh lebih enak buah-buahan pribumi seperti pepaya mangga pisang jambu duku durian salak dari Pasar Minggu. Belimbing, alpukat dan nanas juga boleh deh... Atau, kedondong. Seandainya tertelan biji kedondong kan lumayan heboh dan memalukan tuh.
Oh ya, tahu tidak, ternyata kedondong itu bahasa Inggrisnya Ambarella (ella-ella, eh-eh-eh-ooo)?
Tulisan-tulisan sebelumnya terkait urusan perempuan:
Isinya tentang suatu keinginan tak sadar perempuan untuk diurus oleh orang lain, terutama didasarkan pada ketakutan akan kemerdekaan. Masalah ini akan tampak semakin nyata seiring dengan bertambah usia. Aspek penting dari karya ini dapat dijelaskan sebagai identifikasi salah satu pencetus sindrom yang menyebabkan fenomena yang lebih besar seperti mengapa perempuan memilih untuk mempertahankan hubungan yang gagal. Kompleks ini dinamai seperti tokoh dongeng peri Cinderella, yang menggambarkan citra perempuan sebagai cantik, anggun dan sopan tetapi tidak sanggup berdiri sendiri sebagai tokoh yang kuat dan merdeka sehingga harus diselamatkan oleh suatu gaya dari luar, biasanya seorang laki-laki (Pangeran Tampan).
Dowling berusaha menjelaskan betapa kondisi tersebut bukanlah sifat yang alami, melainkan endapan budaya, hasil didikan masyarakatlah yang menuntut perempuan untuk bersikap ketergantungan dan laki-laki untuk tidak demikian.
Sayangnya pendapat tersebut hanya berdasarkan satu pengalaman pribadi sang penulis, dan tentunya tidak dapat disamaratakan sebagai pengalaman perempuan yang dibesarkan dengan cara yang berbeda. Apakah perempuan yang tidak dididik demikian sudah pasti terbebas dari kompleks tersebut? Atau, jangan-jangan sebenarnya itu sudah terpatri dalam naluri perempuan pada asalnya, mau dibesarkan dengan cara apa pun?
Apalagi, pendapat tersebut hanya berlandaskan penggambaran Cinderella dalam karya Perrault, yang mendoktrin perempuan beradab "kalangan atas" bahwa mereka haruslah penurut, menunggu dengan sabar untuk diselamatkan, berkaki kecil jarang jalan-jalan, pasif tidak punya inisiatif sendiri, menyerah dihina dan ditindas oleh saudara tiri tanpa mengeluh, bergantung kepada ibu peri, dan kemudian menerima pelindung yang lebih permanen, yaitu suami. Sebagai seorang perawan, dia tidak punya kewajiban memperjuangkan dunianya agar menjadi lebih baik. Dia rela diperbudak dengan tertekan dan penuh penderitaan, terampil dalam urusan rumah tangga namun tidak menikmatinya.
Masih mendingan Cinderella dalam catatan Grimm bersaudara yang dikumpulkan dari kabar rakyat jelata, digambarkan bahwa perempuan itu cerdik, punya banyak gagasan dan daya upaya untuk membebaskan dirinya sendiri. Walaupun saudara-saudara tiri melakukannya dengan cara yang gore sampai mengiris kaki ... Namun tetap saja seperti di adat-istiadat negeri asalnya (Cina?) kisah ini masih sarat dengan pemilahan antara perempuan bangsawan (dengan ciri berkaki kecil karena sengaja dibebat sejak lahir) yang tidak pantas diserahi pekerjaan rumah, dan perempuan rakyat jelata yang kakinya pastilah tak muat di sepatu kaca.
Confessions of an Ugly Stepsister menceritakan sudut pandang lain dari kisah ini dengan lebih membumi. Cinderella adalah anak yang cantik dan besar dimanja, sedangkan ibu tirinya kerepotan menanggung suami yang sakit dan usaha yang bangkrut. Turunnya Cinderella ke dapur adalah tuntutan hidup. Dia sengaja memoles wajah dengan arang agar tidak diganggu oleh lelaki sembarangan. Sementara saudara tirinya berbakat seni dan bisa menemukan kebahagiaan hidup sendiri.
***
Di masa kini, Cinderella berlagak sebagai seorang tante-tante berambut pirang pemilik toko sepatu, yang tidak mengelolanya dengan baik, malah asyik jalan-jalan belanja ke luar negeri. Dia masih berkeluh-kesah menyesali pernikahannya di masa lalu dengan Prince Charming, karena sebagai istri resmi ketiga (!) dia kehabisan manis sepahnya.
Di antara perkumpulan arisan mantan-mantan Prince Charming (Snow White dan Sleeping Beauty), si pegawai toko "The Glass Slipper" yang kerja keras dan ide cemerlangnya selalu dipandang sebelah mata (Crispin Cordwainer, pembuat sepatu dalam kisah the Elves and the Shoemaker), maupun penduduk lain di pelosok Fabletown (tempat para tokoh dari cerita peri kini mengungsi), tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya selama ini Cinderella punya kegiatan utama yang sangat rahasia, sebagai mata-mata paling handal yang menikmati pekerjaannya.
Demikianlah sosok ini ditampilkan dalam dunia FABLES - komik Amerika milenium yang cukup menarik dalam menampilkan intrik-intrik politik. Seperti tokoh-tokoh cerita peri lain di komik ini, perwatakan Cinderella masih sesuai dengan cerita asli: kegiatan mata-mata adalah urusan penyamaran yang tepat, pemanfaatan alat, senjata sepatu, serta kepatuhan akan tenggat waktu. Namun di dunia "nyata" ini, "bahagia selamanya" tidak ada dalam kamusnya.
Komik yang terlalu Amerika, namun patut untuk diperiksa sesekali.
Babak berikut berkisah dalam satu misinya, Cinderella bertemu saingan yang setara dari negara "sahabat": orang yang berlatar belakang kurang lebih sama, naik derajat dari tanah penuh abu dan debu ke singgasana bangsawan melalui kekuatan sihir (Aladdin). Dia pun harus menghadapi pertanyaan dan kecaman tentang gaya hidupnya yang sekarang dari sang makcomblangnya dulu (Fairy Godmother) yang pernah menjerumuskannya dalam perjodohan dengan pangeran yang telah menduda dua kali...
Menurut sang pengarang, cerita ini seperti "On Her Majesty's Secret Service meets Sex in the City" yang masih sejalan dengan alur utama "Fables".
From Fabletown with Love 01 02 03 04 05 06
Untuk serial Fables selengkapnya, kalau berkantong kempes seperti saya sekarang, cari saja bajakan pindaian di situs-situs Rusia...
***
Kaki saya sendiri termasuk kecil (ukuran 35/22 cm, beli sepatu harus model anak-anak) tapi bentuk kaki petualang tak kan sanggup dikurung sepatu kaca. Makanya saya pribadi kalau diperbolehkan, akan pilih Snow White Complex. Bukankah rambut saya tidak pirang melainkan hitam, kulit saya juga sedikit lebih putih daripada rata-rata, dan bibir saya pastinya akan merah sehabis makan sambal. Mungkin bukan Putih Salju seperti yang digambarkan di komik tersebut, tapi yang jelas tentu saya akan lebih suka berhaha-hihi dengan tujuh kurcaci, seandainya untuk menemukan pangeran tampan berarti harus pingsan dulu menelan racun apel. Apalagi saya tidak suka apel, jauh lebih enak buah-buahan pribumi seperti pepaya mangga pisang jambu duku durian salak dari Pasar Minggu. Belimbing, alpukat dan nanas juga boleh deh... Atau, kedondong. Seandainya tertelan biji kedondong kan lumayan heboh dan memalukan tuh.
Oh ya, tahu tidak, ternyata kedondong itu bahasa Inggrisnya Ambarella (ella-ella, eh-eh-eh-ooo)?
Tulisan-tulisan sebelumnya terkait urusan perempuan:
Minggu, 08 Maret 2009
Perempuan, Pelawak, dan Politisi
Beberapa waktu lalu, kawan-kawan LFM membahas sebuah fenomena menarik, mengenai pelawak perempuan.
Kesimpulannya, perempuan yang lucu, pasti terkesan maskulin, atau ternyata lesbian. Lucu dan cerdas sebagai sifat perempuan dianggap ancaman yang mengganggu. Perempuan yang lucu akan kehilangan daya tarik di mata lelaki. Sedemikian rupa, bahwa lucu adalah sifat lelaki; lawak adalah dunia lelaki.
Karena yang dibahas berkaitan dengan fenomena perfilman dan televisi, saya belum tahu apakah ini nilai-nilai ini hanya berlaku di dunia Barat atau juga di dunia Timur. Apakah menjadi lucu juga merupakan tabu bagi perempuan Indonesia? (Kalau di Jepang sih sudah jelas, pelawak lelaki hampir pasti berhasil memperistri selebriti perempuan tercantik yang pernah ada...)
Tapi bukankah menurut Teori Pagliacci, justru pelawak itu yang hidupnya paling tertekan? Terbukti, pelawak rata-rata cepat mati!!! Apa salahnya kaum perempuan cukup menjadi pihak yang menikmati tertawa dengan bahagia tanpa harus melucu sampai menderita.
Begitu pula dengan politik. Katanya oh katanya oh katanya,
Dengan demikian, perempuan yang berhasil masuk dengan sukses ke dunia politik hanyalah:
Baik dalam politik maupun karier, calon perempuan menghadapi tantangan dari dua arah:
Oleh karena itulah, menurut sebagian kalangan, aksi afirmasi dalam hal gender masih dibutuhkan di Indonesia. Ini perlu dimulai dari pemilihan anggota legislatif.
Konon, rekam jejak anggota legislatif perempuan cenderung lebih bersih dari lelaki. Entahlah karena:
(Sudah pada baca belum? Bagus sekali lho, bintang 5 lah.)
Dalam serial komik asyik yang saya tamatkan akhir tahun lalu ini, digambarkan sebuah dunia di mana nyaris semua makhluk berkromosom Y musnah karena satu atau lain hal (ada cukup banyak penjelasan mengenai penyebabnya,yang bisa dipilih sesuai selera, baik secara ilmiah, politis, ataupun religius).
Inti ceritanya adalah bahwa dari sudut pandang seorang cowok pecundang yang tersisa bersama seekor monyet jantan piaraannya, kita melihat bagaimana perempuan-perempuan berjuang untuk bertahan hidup tanpa belahan jiwanya.
Kalian pikir, dengan musnahnya kaum lelaki, gen si pengacau sudah lenyap dari atas bumi? Tapi yang terjadi justru kekacauan di sana-sini. Apakah ini karena para perempuan telanjur terdoktrin sistem patriarki, sehingga mereka hanya bisa melanjutkan sistem tersebut dalam menggerakkan dunia? Ataukah pada dasarnya manusia ditakdirkan untuk mengacau, tanpa pandang jenis kelamin?
(Perlu dicatat bahwa skenarionya ditulis oleh lelaki, walaupun mendapat campur tangan perempuan ilustratornya juga...)
***
Seorang ibu-ibu caleg yang juga aktivis tiba-tiba bertanya, "Kenapa kamu tidak melakukan kajian mengenai perempuan? Sebagai elemen penting kedaulatan rakyat, perempuan kan perlu disorot secara khusus."
"Ha? Saya?" saya gelagapan dan mencari-cari alasan sok pintar. "Eugh, dalam hemat saya, keterpinggiran perempuan adalah masalah yang integral, sehingga tidak perlu dibahas khusus, bisa saja dicarikan jalan keluarnya dengan mengkaji persoalan sosial ekonomi politik secara menyeluruh."
"Kamu itu, belum pernah turun ke lapangan kali, ya?" tuduhnya. "Coba kamu lihat betapa sengsaranya PSK. Coba bayangkan nasibnya perempuan yang menikah dengan warganegara asing, lalu bercerai, mereka bisa kehilangan kewarganegaraannya kalau tidak kita advokasi. Belum lagi soal terpisah dari anak kandung..."
"Wah, tapi seperti saya bilang, itu kan masalah-masalah 'kecil' yang terjerumus lingkaran setan dengan persoalan kesejahteraan umum dan tingkat peradaban. Saya pribadi sih tidak pernah merasa tertindas... tohohoh..." ketawa pahit.
"Ini bukan main-main! Sebagai orang yang dapat privilege pendidikan tinggi, kamu wajib ikut terjun langsung. Lain kali coba menghadap saya secara khusus, kamu perlu saya TATAR untuk belajar memperjuangkan harkat dan martabat kaummu sendiri!"
... Duh. Kenapa jadi saya yang kena.
Padahal saya pribadi lebih merasa tertindas ketika menghadapi ibu-ibu yang cerewet, histeris, berlimpah estrogen dan progesteron, sedikit-sedikit pms, dan kebanyakan lemot pula. Huaaa, bisa habislah saya menjambak-jambak ujung kerudung. Bagaimana saya bisa diharapkan untuk peduli dengan kaum saya sendiri?
Sungguh, saya tidak (belum) pernah merasa tertindas oleh kaum lelaki. Entahlah itu karena:
Seandainya turun berpolitik, jelas yang akan saya perjuangkan, tidak khusus soal perempuan.
Cukup sebut nama saya tiga kali!
Lalu koarkan janji sakti, "Pastikan Perubahan!!!"
Yang pada dasarnya bisa saja menuju perbaikan, tapi bisa juga pemburukan. Yang penting, berubah itu kan tidak membosankan.
***
Eh, sebentar. Kenapa jadi seurieus? Padahal maksudnya melucu.
Hm, tak apalah. Tandanya saya masih layak sebagai perempuan, kan?
Kesimpulannya, perempuan yang lucu, pasti terkesan maskulin, atau ternyata lesbian. Lucu dan cerdas sebagai sifat perempuan dianggap ancaman yang mengganggu. Perempuan yang lucu akan kehilangan daya tarik di mata lelaki. Sedemikian rupa, bahwa lucu adalah sifat lelaki; lawak adalah dunia lelaki.
Karena yang dibahas berkaitan dengan fenomena perfilman dan televisi, saya belum tahu apakah ini nilai-nilai ini hanya berlaku di dunia Barat atau juga di dunia Timur. Apakah menjadi lucu juga merupakan tabu bagi perempuan Indonesia? (Kalau di Jepang sih sudah jelas, pelawak lelaki hampir pasti berhasil memperistri selebriti perempuan tercantik yang pernah ada...)
Tapi bukankah menurut Teori Pagliacci, justru pelawak itu yang hidupnya paling tertekan? Terbukti, pelawak rata-rata cepat mati!!! Apa salahnya kaum perempuan cukup menjadi pihak yang menikmati tertawa dengan bahagia tanpa harus melucu sampai menderita.
Begitu pula dengan politik. Katanya oh katanya oh katanya,
- Politik itu seharusnya adalah perihal saling mengalah, tarik ulur kebijakan agar memuaskan semuanya, namun karena terlalu didominasi kaum lelaki, kerangka tersebut bergeser menjadi perihal menang dengan segala cara. Sementara itu,
- Lelaki yang sebenarnya berpihak kepada hak-hak perempuan dan anak-anak mungkin segan bersuara karena takut disangka banci, kalaupun nekad lantang membela akan dianggap remeh dan diabaikan lelaki lainnya. Sehingga,
- Banyak gerakan solidaritas beranggapan bahwa perempuan perlu turun tangan memperjuangkan hak kaumnya sendiri, sekaligus memberi 'sentuhan feminin' untuk menetralkan politik kembali kepada khittahnya. Sebaliknya,
- Perempuan keburu jengah masuk ke dunia politik yang kepalang penuh kekerasan persaingan kekuasaan, merasa itu bukan dunia mereka.
Dengan demikian, perempuan yang berhasil masuk dengan sukses ke dunia politik hanyalah:
- Perempuan yang sanggup memenuhi tuntutan untuk bersikap maskulin, setara dengan rekan dan lawan mereka yang lelaki;
- Perempuan yang mengumbar sisi feminin untuk dilecehkan lelaki sekitar, yang penting tenar, tak ada kaitan dengan kinerja;
- Perempuan yang berada di bawah bayang-bayang sosok maskulin lain; ayah, abang, atau suami...
Baik dalam politik maupun karier, calon perempuan menghadapi tantangan dari dua arah:
- Lelaki (dan sebagian besar kaum perempuan) cenderung tidak memilih perempuan walaupun sesungguhnya mereka punya kemampuan yang memadai, semata karena alasan emosional; sayang sekali mereka adalah perempuan...
- Sesama perempuan (dan lelaki yang sadar kesetaraan) cenderung tidak memilih perempuan karena alasan rasional; kebetulan kemampuan mereka masih sedikit di bawah lelaki akibat sempitnya kesempatan mengasah diri.
Oleh karena itulah, menurut sebagian kalangan, aksi afirmasi dalam hal gender masih dibutuhkan di Indonesia. Ini perlu dimulai dari pemilihan anggota legislatif.
Konon, rekam jejak anggota legislatif perempuan cenderung lebih bersih dari lelaki. Entahlah karena:
- Perempuan cenderung lebih jujur dan alim daripada lelaki; atau
- Perempuan yang hanya segelintir ini berhati-hati, takut ketahuan macam-macam karena disorot khusus; atau
- Perempuan bekerja cukup lihai dan cerdik, sehingga jejak kebusukan segera tertutupi dengan rapi jali. Nah lho!
Y: The Last Man
(Sudah pada baca belum? Bagus sekali lho, bintang 5 lah.)
Dalam serial komik asyik yang saya tamatkan akhir tahun lalu ini, digambarkan sebuah dunia di mana nyaris semua makhluk berkromosom Y musnah karena satu atau lain hal (ada cukup banyak penjelasan mengenai penyebabnya,yang bisa dipilih sesuai selera, baik secara ilmiah, politis, ataupun religius).
Inti ceritanya adalah bahwa dari sudut pandang seorang cowok pecundang yang tersisa bersama seekor monyet jantan piaraannya, kita melihat bagaimana perempuan-perempuan berjuang untuk bertahan hidup tanpa belahan jiwanya.
- Politisi yang juga merangkap ibu rumah tangga (euh, tegaan).
- Ilmuwati yang menyaingi kejeniusan ayahnya (brilian!).
- Tentara yang tak sudi mati di tangan sesama cewek (perkasa).
- Supermodel yang ganti profesi jadi tukang gali kuburan (cihuy).
- ... dan seterusnya.
Kalian pikir, dengan musnahnya kaum lelaki, gen si pengacau sudah lenyap dari atas bumi? Tapi yang terjadi justru kekacauan di sana-sini. Apakah ini karena para perempuan telanjur terdoktrin sistem patriarki, sehingga mereka hanya bisa melanjutkan sistem tersebut dalam menggerakkan dunia? Ataukah pada dasarnya manusia ditakdirkan untuk mengacau, tanpa pandang jenis kelamin?(Perlu dicatat bahwa skenarionya ditulis oleh lelaki, walaupun mendapat campur tangan perempuan ilustratornya juga...)
***
Perjuangkan nasib kaummu!
Seorang ibu-ibu caleg yang juga aktivis tiba-tiba bertanya, "Kenapa kamu tidak melakukan kajian mengenai perempuan? Sebagai elemen penting kedaulatan rakyat, perempuan kan perlu disorot secara khusus."
"Ha? Saya?" saya gelagapan dan mencari-cari alasan sok pintar. "Eugh, dalam hemat saya, keterpinggiran perempuan adalah masalah yang integral, sehingga tidak perlu dibahas khusus, bisa saja dicarikan jalan keluarnya dengan mengkaji persoalan sosial ekonomi politik secara menyeluruh."
"Kamu itu, belum pernah turun ke lapangan kali, ya?" tuduhnya. "Coba kamu lihat betapa sengsaranya PSK. Coba bayangkan nasibnya perempuan yang menikah dengan warganegara asing, lalu bercerai, mereka bisa kehilangan kewarganegaraannya kalau tidak kita advokasi. Belum lagi soal terpisah dari anak kandung..."
"Wah, tapi seperti saya bilang, itu kan masalah-masalah 'kecil' yang terjerumus lingkaran setan dengan persoalan kesejahteraan umum dan tingkat peradaban. Saya pribadi sih tidak pernah merasa tertindas... tohohoh..." ketawa pahit.
"Ini bukan main-main! Sebagai orang yang dapat privilege pendidikan tinggi, kamu wajib ikut terjun langsung. Lain kali coba menghadap saya secara khusus, kamu perlu saya TATAR untuk belajar memperjuangkan harkat dan martabat kaummu sendiri!"
... Duh. Kenapa jadi saya yang kena.
Padahal saya pribadi lebih merasa tertindas ketika menghadapi ibu-ibu yang cerewet, histeris, berlimpah estrogen dan progesteron, sedikit-sedikit pms, dan kebanyakan lemot pula. Huaaa, bisa habislah saya menjambak-jambak ujung kerudung. Bagaimana saya bisa diharapkan untuk peduli dengan kaum saya sendiri?
Sungguh, saya tidak (belum) pernah merasa tertindas oleh kaum lelaki. Entahlah itu karena:
- Saya beruntung hidup di antara para lelaki yang menghargai dan menjunjung tinggi hak-hak perempuan; atau jangan-jangan malah
- Saya sial hidup di antara para lelaki pecundang yang lebih rendah mutunya daripada perempuan di sekeliling mereka; mungkin juga
- Saya memilih lahan-lahan kegiatan yang tidak dilirik perempuan karena tanpa sadar takut kalah bersaing dengan sesama perempuan; lebih parah lagi
- Saya terbebas dari penindasan, hanya semata-mata karena kaum lelaki tidak menganggap saya perempuan; tapi siapa tahu justru
- Saya diam-diam mengalami sindroma Putri Padang Pasir...
merasa bangga menjadi luar biasa dengan kedudukan langka setara dengan para lelaki, sehingga saya tidak ingin berusaha membantu perempuan lain mencapai kedudukan yang sama, karena itu akan menurunkan derajat saya menjadi biasa-biasa saja...
Seandainya turun berpolitik, jelas yang akan saya perjuangkan, tidak khusus soal perempuan. - Hak asasi orang-orang kidal.
- Anak kucing dan hewan telantar dipelihara oleh kelurahan sekitar.
- Jalur sepeda di jalan raya dan tol lintas kota.
- Pelarangan peredaran MSG.
- Penghijauan pemandangan kota, baik dengan daun, lumut, jamur, atau apa pun yang tumbuh dan berkembang.
Cukup sebut nama saya tiga kali!
Lalu koarkan janji sakti, "Pastikan Perubahan!!!"
Yang pada dasarnya bisa saja menuju perbaikan, tapi bisa juga pemburukan. Yang penting, berubah itu kan tidak membosankan.
***
Eh, sebentar. Kenapa jadi seurieus? Padahal maksudnya melucu.
Hm, tak apalah. Tandanya saya masih layak sebagai perempuan, kan?
Rabu, 05 September 2007
Burqini™ dalam Komik

Setelah segala masalah karikatur di tahun silam, kini media massa Amerika ceritanya berhati-hati terhadap political correctness dalam komik sehingga memutuskan untuk menarik dua strip Opus tertanggal 26 Agustus dan 3 September. Komik tersebut dianggap menyinggung secara gender dan keagamaan. Karena ingin tahu, saya baca juga. Ternyata salah satunya menyebut-nyebut tentang Burqini™.

Baru tahu saya bahwa baju renang semacam itu diberi istilah burqini. Rasanya selama ini --saya juga pernah tulis sebelumnya tentang pakaian semacam itu-- sebutannya cukup baju renang muslimah.
Istilah Burqini™ menjadi tenar ketika muncul kontroversi penjaga pantai muslimah Australia yang mengenakan baju buatan Ahiida ini.
Burqini™ dan kawan-kawan mungkin masih banyak dikecam oleh orang-orang yang merasa bahwa perempuan memang sebaiknya benar-benar dipisahkan. Di sitkom Little Mosque dulu juga salah satu episodenya sempat menampilkan baju ini, sebagai alternatif terakhir tidak adanya kolam renang khusus perempuan.
Yah dari hasil saya menyimak isi kartun di atas, sebagai humor asyik-asyik saja dan cukup seimbang, karena gaya hidup Amerika pun dikecam. Produser Burqini™ sendiri menyukainya dan tidak menganggap komik ini sebagai serangan yang menyinggung. Apalagi dengan begini komik ini jadi promosi penjualan Burqini™ dalam jaringan, kan lumayan. Bagaimana menurut Anda?
Situs Turki: Hasema
Situs Indonesia:Samira, Rafayra
Jilbab khusus olah raga: capsters.com
Sabtu, 21 April 2007
Serban Noguchi dan Sanggul Kartini
Noguchi Hideyo (1876-1928, hmmm hidup nyaris sezaman dengan ibu kita Kartini, 1879-1904) bisa dipastikan sebagai sosok teladan yang menggugah Kiriko, Yamane dan Fukubee sejak sekolah dasar untuk mulai melakukan penelitian terhadap aneka ragam kuman (walaupun tak pernah terang-terangan disebut dalam cerita mereka).
Beliau adalah ahli mikrobiologi Jepang pertama yang mendunia. Meneruskan kuliah ke Amerika, beliau mempelajari racun ular, vaksin cacar, diagnosa trakoma, kemudian menemukan bakteri penyebab siphilis, serta meletakkan dasar berbagai metoda ilmiah dalam bidang imunologi. Sempat masuk nominasi penerima hadiah Nobel. Tragisnya, beliau meninggal di Ghana Afrika gara-gara tertular saat meneliti penyakit kuning. Ucapan terakhirnya, "aku tak mengerti."
Biografi masa kecil Noguchi Hideyo mudah kita temukan di buku-buku teks pelajaran bahasa Jepang. Bagaimana Seisaku (nama lahirnya) kecil belajar keras dengan tangan kirinya yang cacat terbakar api di usia dua tahun, sambil menahan cemoohan dan gencetan.
Berkat bantuan guru dan teman-temannya di sekolah menengah,
ia berhasil dioperasi sehingga tangan kirinya bisa bergerak lagi.
Peristiwa itu mendorong dirinya untuk mempelajari ilmu kedokteran.
Kebanyakan narasi yang beredar menggambarkan betapa besarnya sosok sang ibu dalam membentuk sang putra menjadi orang hebat, dan menghapus sosok ayah yang pemabuk dan penjudi.
Ada yang mengatakan, seperti halnya kisah Kartini disebarluaskan oleh para pendukung politik etis Belanda, kisah keteguhan hati ibunda Noguchi ini dimanfaatkan pemerintah untuk propaganda "ryousaikenbo" baik di zaman sebelum maupun sesudah perang.
Sebagai sarana memperkuat perempuan untuk menjadi ibu yang bertanggung jawab, dan memberikan perempuan status sosial yang mengabaikan dasar-dasar otoritas patriarki... tsaah.
Menurut Sensei Bahasa Jepangku dulu, sebenarnya Noguchi Hideyo tidak pantas dianggap sebagai pahlawan patriot bangsa karena beliau adalah tipikal ilmuwan yang pikirannya hanya terkonsentrasi ke penelitian yang ada di hadapannya. Andaikan saja sang ibu yang cenderung tunaaksara tidak memaksakan diri menulis surat ke Amerika dengan huruf katakana dan hiragana, beliau pasti lupa mudik dari pengembaraan selama 15 tahun itu.

Kata-kata yang sungguh menyayat hati.
Masih untung setelah menerima surat itu, beliau tergerak pulang, walaupun hanya sekali namun disorot heboh oleh media Jepang, sehingga beliau tak perlu menyandang gelar Malin Kundang.
Bagaimanapun juga tetap saja, pengaruh sosok Noguchi Hideyo telah mengakar di dalam hati "anak-anak abad 20" itu.
Maka demi memperingati beliau, kabarnya mulai tahun depan Jepang bermaksud menyelenggarakan Hideyo Noguchi Prize for Africa, yaitu sebuah penghargaan bergengsi sekaliber Nobel, dikhususkan pada bidang kedokteran dan pelayanan medis melawan penyakit infeksi, dengan hadiah sebesar 100 juta yen.
Sedikit terlambat dari Kartini yang telah beberapa kali muncul dalam lembaran mata uang rupiah, wajah Noguchi juga mulai menghiasi lembaran 1000 yen, menggantikan Natsume Souseki sejak 2004.


Dan entahlah karena tergelitik oleh bentuk rambutnya yang aneh nyaris sekaliber Einstein, orang-orang Jepang tiba-tiba bersemangat melipat uang seribuan itu untuk membentuk serban atau tutup kepala lain yang unik-unik bagi Noguchi. Istilah kerennya, Turban Noguchi.
Koleksi gaya Noguchi (dkk) bisa dilihat di sini.
Buku panduan teknik melipat berbagai macam serban untuk beliau, Osatsu de Origami: Tuerban Noguchi no Tsukurikata terbit bulan lalu.
Sayangnya, pada kebanyakan uang rupiah lembaran, rata-rata penghuninya sudah berserban ataupun berpeci.
Seandainya uang rupiah bergambar Kartini masih banyak beredar, tentu aku akan berusaha menutupi keningnya yang nongnong dan memasangkan selendang, kerudung, ataupun topi petani...
Beliau adalah ahli mikrobiologi Jepang pertama yang mendunia. Meneruskan kuliah ke Amerika, beliau mempelajari racun ular, vaksin cacar, diagnosa trakoma, kemudian menemukan bakteri penyebab siphilis, serta meletakkan dasar berbagai metoda ilmiah dalam bidang imunologi. Sempat masuk nominasi penerima hadiah Nobel. Tragisnya, beliau meninggal di Ghana Afrika gara-gara tertular saat meneliti penyakit kuning. Ucapan terakhirnya, "aku tak mengerti."Biografi masa kecil Noguchi Hideyo mudah kita temukan di buku-buku teks pelajaran bahasa Jepang. Bagaimana Seisaku (nama lahirnya) kecil belajar keras dengan tangan kirinya yang cacat terbakar api di usia dua tahun, sambil menahan cemoohan dan gencetan.
Berkat bantuan guru dan teman-temannya di sekolah menengah,
ia berhasil dioperasi sehingga tangan kirinya bisa bergerak lagi.
Peristiwa itu mendorong dirinya untuk mempelajari ilmu kedokteran.
Kebanyakan narasi yang beredar menggambarkan betapa besarnya sosok sang ibu dalam membentuk sang putra menjadi orang hebat, dan menghapus sosok ayah yang pemabuk dan penjudi. Ada yang mengatakan, seperti halnya kisah Kartini disebarluaskan oleh para pendukung politik etis Belanda, kisah keteguhan hati ibunda Noguchi ini dimanfaatkan pemerintah untuk propaganda "ryousaikenbo" baik di zaman sebelum maupun sesudah perang.
Sebagai sarana memperkuat perempuan untuk menjadi ibu yang bertanggung jawab, dan memberikan perempuan status sosial yang mengabaikan dasar-dasar otoritas patriarki... tsaah.
Menurut Sensei Bahasa Jepangku dulu, sebenarnya Noguchi Hideyo tidak pantas dianggap sebagai pahlawan patriot bangsa karena beliau adalah tipikal ilmuwan yang pikirannya hanya terkonsentrasi ke penelitian yang ada di hadapannya. Andaikan saja sang ibu yang cenderung tunaaksara tidak memaksakan diri menulis surat ke Amerika dengan huruf katakana dan hiragana, beliau pasti lupa mudik dari pengembaraan selama 15 tahun itu.

Orang-orang kagum dengan kesuksesanmu. Saya sangat bangga.
Kepada Kannon Nakata, setiap tahun saya bertapa. Sebagaimanapun belajar, takkan ada habisnya.
Ada masalah kah di Iboshi? Kalau kau datang, buatlah alasan.
Di musim semi, semua pergi ke Hokkaido, saya kesepian.
Saya mohon, kembalilah segera.
Saya tidak bilang ke siapa pun dapat uang.
Kalau saya beritahu akan ditelan oleh mereka.
Kembalilah segera. Kembalilah segera kembalilah segera.
Kembalilah segera. Ini keinginan sekali seumur hidup.
Saya berdoa ke arah Barat. Saya berdoa ke arah Timur.
Saya berdoa ke arah Utara. Saya berdoa ke arah Selatan.
Tanggal satu saya puasa garam.
Dan kepada eisho-sama, tanggal satu saya juga berdoa.
Walaupun melupakan yang lain, yang ini tidak dilupakan.
Saya melihat foto. Kembalilah segera.
Beritahu saya kapan kau akan pulang.
Saya menunggu jawaban, sampai-sampai tak dapat tidur.
Kata-kata yang sungguh menyayat hati.
Masih untung setelah menerima surat itu, beliau tergerak pulang, walaupun hanya sekali namun disorot heboh oleh media Jepang, sehingga beliau tak perlu menyandang gelar Malin Kundang.
Bagaimanapun juga tetap saja, pengaruh sosok Noguchi Hideyo telah mengakar di dalam hati "anak-anak abad 20" itu.
Maka demi memperingati beliau, kabarnya mulai tahun depan Jepang bermaksud menyelenggarakan Hideyo Noguchi Prize for Africa, yaitu sebuah penghargaan bergengsi sekaliber Nobel, dikhususkan pada bidang kedokteran dan pelayanan medis melawan penyakit infeksi, dengan hadiah sebesar 100 juta yen.
Sedikit terlambat dari Kartini yang telah beberapa kali muncul dalam lembaran mata uang rupiah, wajah Noguchi juga mulai menghiasi lembaran 1000 yen, menggantikan Natsume Souseki sejak 2004.


Dan entahlah karena tergelitik oleh bentuk rambutnya yang aneh nyaris sekaliber Einstein, orang-orang Jepang tiba-tiba bersemangat melipat uang seribuan itu untuk membentuk serban atau tutup kepala lain yang unik-unik bagi Noguchi. Istilah kerennya, Turban Noguchi.
Koleksi gaya Noguchi (dkk) bisa dilihat di sini.
Buku panduan teknik melipat berbagai macam serban untuk beliau, Osatsu de Origami: Tuerban Noguchi no Tsukurikata terbit bulan lalu.
video: cara membuat Tuerban Noguchi, dengan bonus:
parodi origami oleh Rahmenz Japan Culture Club, dan
liputan 3 besar origami tercanggih dunia karya Kamiya Satoshi
Sayangnya, pada kebanyakan uang rupiah lembaran, rata-rata penghuninya sudah berserban ataupun berpeci.
Seandainya uang rupiah bergambar Kartini masih banyak beredar, tentu aku akan berusaha menutupi keningnya yang nongnong dan memasangkan selendang, kerudung, ataupun topi petani...
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpeg)
















