Tampilkan postingan dengan label pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pena. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2022

Baca Komik Gila

Melanjutkan acara baca komik ronde 1-4 dan ronde 5-7.
(((Detoks webtoon))) bulan ini agak tersendat karena yang punya komik kembali menghantu, mungkin sedang hikikomori. Setidaknya dengan demikian jadi ada waktu luang untuk mengecek informasi sana-sini.



Ronde kedelapan


Dipinjami komik yang sampulnya tidak boleh tampak kayak komik. Kenapa harus begitu, ya? Apakah pengarang komiknya juga menganut diskriminasi tentang apa yang tergolong gambar komik?

Isinya selusin episode tentang jaringan internasional beranggotakan 1001 ahli panggilan, tukang beberes dampak perang dingin macam percobaan senjata terbengkalai yang mengancam umat manusia 🏹

Ide cerita lumayan beragam dan cemerlang dengan visi teknologi masa depan, teknik pewarnaan bagus, beberapa episode digambar dengan mewah 🎨

Tokoh utamanya cewek gagah pemimpin misi dan cewek canggih pusat komando pertukaran informasi di balik layar. Sebagian ahli lain cewek juga. Namun, entah kenapa seolah jenis kelamin hanya tempelan, sementara cara penyelamatan tetap diselesaikan dengan pistol dan kekerasan. Intinya saya tidak merasa terwakili 👩🏽‍💻

Ketika saya coba mencari resensi yang mendukung pendapat ini, kebanyakan cuma mengeluhkan pembingkaian yang kurang memberi ruang untuk pendalaman watak. Ya mungkin memang ada masalah itu, tapi saya rasa untuk perwatakan dua tokoh utama sudah cukup dijelajahi dengan saksama.

Terkaget-kaget saya malah menemukan liputan modus operandi "adult grooming" oleh sang pengarang terhadap ratusan perempuan muda putus asa (dan beberapa pihak nonbiner yang menampilkan diri sebagai perempuan) peserta forum daring internasional yang dia kelola 🙀

Testimoni dari sebagian korban bisa dicek di situs somanyofus.com.
Mereka diulurkan persahabatan dan dukungan, didengarkan curhat, dipromosikan karya, dijadikan tokoh komik, tapi di sisi lain dirayu dengan kosakata yang itu-itu saja agar merasa istimewa sehingga merasa berkewajiban untuk rutin kirim foto seksi, bahkan kalau sempat ketemuan diajak mengamar bergantian secara rahasia tanpa saling tahu satu sama lain. Kadang-kadang dia mencela diri sendiri, berbohong mengenai status hubungan pribadinya, dan mengaku tidak berdaya dan kecanduan akan pesona korban, membuat korban merasa kasihan dan bersedia menuruti permintaannya. Begitu dipertanyakan, atau tidak dipatuhi, dihukum dengan menahan perhatian. Begitu mereka mulai mandiri atau ada korban baru menyita perhatian, kontak pun dihentikan dengan kejam ✂️

Konon praktik ini telah berlangsung 20an tahun namun baru terkuak pada Juni 2020 seiring maraknya gerakan #metoo ... atau mungkin berkat pandemi para korban berkesempatan merenung dan kepo satu sama lain 🛰️

Sotoy lah saya beranggapan pantasan, penokohan terasa janggal pastinya ada suatu kemunafikan ...
Tapi naif kalau menyimpulkan dari satu miniseri. Sayang belum pernah baca/dengar satu pun komik dia lainnya, sama sekali lepas dari radar saya 📡

Apakah perilakunya berpengaruh terhadap pengolahan perwatakan perempuan dalam karyanya yang lain?

Para korban bilang mereka bukan mau memboikot WE, karena karya-karya WE juga melibatkan banyak pihak penggambar, pewarna, penata huruf, penyunting, penerbit, dll. Lebih daripada itu, mereka mau mengubah sistem industri komik ataupun lingkungan lainnya yang membuat para korban menjadi rentan sementara orang macam ini bisa aman menerapkan modus operandi seperti itu selama berpuluh tahun.

P.S. Pembuat sampul komik ini, yang juga merupakan pengarang komik yang saya ulas pada ronde 3 dan 4, sepertinya salah satu murid dari pengarang komik yang ini dan ternyata sebelumnya juga pernah dilaporkan melakukan pelecehan juga, entah karena mencoba ikut-ikutan gurunya atau memang dari sananya sekufu ...

Bagaimana memisahkan penilaian terhadap pengarang dari karyanya ketika terjadi pertentangan gagasan dan cara pandang yang disiratkan dalam karya dengan tindak-tanduknya secara pribadi? 🤔

Dunia komik Amrik sungguh gila

(FB IG) #bacakomik #dirumahaja #danboard #danbogram #danbography

Sabtu, 30 April 2022

Baca Komik Lagi

Detoks dari kecanduan menggulir webtoon selama 3-4 tahun terakhir, baca komik buku fisik rasanya sesuatu banget oy seperti menebus rindu 👀📚
Beruntung saya mendapat pasokan penawar secara bergantian dari tetangga seberang kosan, seorang kawan namanya lucu tapi cukup mengesankan pula badannya kecil dan kulitnya hitam baik budi seperti seorang seniman.

Ronde Kesatu

Konon yang dua ini rujukan favorit tetangga saya, antara pewarnaan dan pembingkaiannya.

Satu tentang cowok galau penulis obituari yang hidup dalam bayang-bayang kesuksesan ayahnya, seorang novelis. Lalu berbagai tonggak kehidupannya yang bisa saja menyambut kematian saat itu juga, ditulis ulang dalam bentuk obituari.

Yang kepikiran pas baca, sang tokoh kok enggak pernah tampak curhat ya sama kakaknya? Kayaknya dia murung melulu padahal punya privilese. Temannya juga cuma seorang ya ...

Aroma Brasilnya terasa kental, tapi malah seolah terlalu damai ... Terkenang waktu ke Rio de Janeiro 6 tahun lalu, mau turun dari taksi buat memotret mural saja, supirnya panik lihat kiri-kanan, begitu kelihatan sepintas ada orang lewat langsung saya disuruh naik lagi 🚕

P.S. Teman saya ilustrator @olafmurkenstein ternyata pernah menjadikan komik ini hadiah untuk keponakan. Saya kepikiran juga kalau dapat komiknya sendiri mau menghadiahkan ke ibu saya karena beliau sempat ikut pelatihan menulis obituari tahun lalu. Entahlah apa beliau mau baca.

Ini komik yang menang Eisner, tapi oleh saya terlewatkan di pajangan toko buku mungkin karena tampilannya seperti bacaan packbapack 🙈

Satu lagi digambar dengan pembingkaian yang sangat dinamis dan alur cerita yang sangat gore. Tentang proyek senjata pamungkas menggunakan hewan piaraan kesasar yang dikumpulkan dan dilatih demi menghindari jatuhnya korban tentara manusia.
Kasihan hewannya lucu-lucu. Semoga yang membaca jadi tersentuh untuk semakin menyayangi piaraan masing-masing.
(FB IG)

Ronde Kedua

Berhubung tetangga saya tidak mengoleksi manga (konon satu-satunya manga yang pernah dia koleksi kebetulan adalah Yotsuba&! 🍀 tapi lalu disumbangkan pula ke komunitas sesuatu) mungkin ini yang agak menyambung yang layak dipinjam, karya orang Amerika keturunan Jepang diterbitkan di Kanada 🗾

Buku coklat berisi kumpulan cerita pendek situasi keluarga yang unik, menggelikan sekaligus menjengkelkan, oh ada yang mengerikan juga. Ternyata beberapa di antaranya dapat nominasi bahkan menang penghargaan. Yang kayaknya *gue banget* judul pertama, "hortisculpture". Sepertinya semua anggota keluarga termasuk saya pernah punya fase ingin bikin karya yang enggak jelas 🌵

Buku hijau berisi satu kisah tokoh keturunan Jepang yang rempong mendudukkan jati diri kejepangannya di tengah orang kulit putih. Blak-blakan dan realistis yang cukup bikin saya gegar budaya walaupun sempat banyak bergaul dengan orang Jepang 🎎
Apakah teman-teman saya bakal merasa seperti ini kalau hidup di Amerika?
Barangkali masalah mereka ini khas Jepang atau Asia Timur, orang Indonesia tidak akan mengalami. Tentu lain lagi paket masalah yang kita hadapi.
Satu catatan seperti buku pertama ronde pertama: Orang ini temannya juga cuma satu saja?
Juga perlu introspeksi, apakah saya pernah berpura-pura tertarik pada hobi atau selera orang demi mendapatkan perhatian balasan?
Sepertinya karya lain dari pengarang ini perlu diburu semua ...
(FB IG)


Ronde Ketiga (A)

Mendekati bulan Ramadhan dikasih komik tentang makanan 🍽️

(Karya terlaris pengarangnya ada yang baru diadaptasi ke serial televisi, sayang saya belum baca. Sepertinya ketika judul itu beken, saya sedang menabung buat koleksi Pluto. Juga saat ini suasana hati sedang enggak nyaman untuk menonton jadi dilewat dulu. Konon adaptasi tersebut mengecewakan pula) 📺

Tokohnya adalah juru masak jagoan yang bersembunyi di suatu pulau di Indonesia ketika kariernya bangkrut akibat krisis ekonomi sementara rumah tangganya berantakan gara-gara dia ternyata gay queer.
Ternyata acara televisi yang dia rintis berganti wajah sebagai lomba masak yang sungguh ekstrem melayani elite 1% sehingga dia dicari untuk tampil kembali oleh para penonton dan pengelola jaringan.
Berhubung saya tidak pernah menonton acara lomba masak jadi kurang pembanding, tapi tetap bisa menikmati lah.

Putri sang tokoh mengambil alih karier ayahnya, baru berusia 17 tahu-tahu bisa masak, wow sungguh jenius tapi tampangnya kok dewasa betul ya, waktu saya usia 17 jadi mahasiswi masih sangat unyu.

Garis dan warna yang digunakan di sini sangat gelap untuk komik tentang masak memasak. Mungkin demi membangkitkan kemurungan karena ceritanya ini di masa depan yang tidak jauh dari sekarang, saat ikan segar sudah langka akibat perubahan iklim 😨
Pewarnanya sama dengan yang menggarap komik pertama ronde 1, konon seorang dewa di bidang wawarnaan, telah berkali-kali juara.

Yang aneh itu penghurufan resep, ditulis dengan tinta biru muda di atas kertas bergaris putih, nada yang sangat berbeda dari suasana sekelilingnya. Tidak ada biru tersebut di palet warna dalam setiap bingkainya. Apakah hanya agar menonjol atau ada alasan lain pakem di dunia resep atau dunia masak televisi?

Oh ya sang tokoh seperti komik-komik sebelum ini temannya juga cuma seorang, yang lain dianggap saingan atau tidak dianggap sama sekali.
(FB IG)

Ronde Ketiga (B)

Dipinjamkan berbarengan dengan komik masak yang saya pajang sebelum ini, dari penerbit yang sama, karena katanya para pengarang sering berkolaborasi dalam judul-judul lain yang belum saya baca.
Latar abad pertengahan, trilogi semacam kisah tragedi peri 🧚🏽‍♀️
Nuansa mistis mengingatkan pada manga jadul seperti Pengantin Demos atau Crystal Dragon. Gaya gambarnya juga entah kenapa berasa manga.

Konon pengarangnya adalah cewek pertama yang kebagian menggambar Batman (?)
Tapi dibandingkan dengan kedua manga tadi kok rasanya tidak ada keberpihakan khusus terhadap tokoh-tokoh cewek yang ditampilkan dalam komik ini?
(FB IG)

Ronde Keempat

Kebagian komik tebal kayak buku telepon zaman baheula. Pinjam setelah masuk bulan Ramadhan, harus mencicil baca karena tersisihkan oleh ibadah 🙃🕌
Saya baca loncat-loncat memilih episode yang paling bikin penasaran lebih dulu, lalu sempat bingung mana saja yang terlewat belum dibaca.
Kolaborasi pengarang komik ronde 3a dengan pengarang ronde 3b. Berisi terbitan ulang produk indie awal karier mereka (?) selusin cerita terpisah tentang remaja galau berkekuatan super, ditambah 6 cerita baru tentang orang-orang super yang sepertinya lebih dewasa, yang diolah setelah para pengarang mapan malang melintang di dunia komik ✒️✏️
Eksplorasi gaya berbeda-beda setiap episode, tapi kebanyakan ada ciri khas shojo manga di dalam goresan gambar maupun tema. Kekuatan super hanya latar, yang jadi sorotan adalah aneka ragam gangguan mental yang mengiringinya. Sayang saya tidak mampu mengidentifikasi inspirasinya dari manga mana saja gara-gara saya kurang fokus mengikuti shojo 🧐👧🏽
(FB IG)
#bacakomik #dirumahaja #danboard #danbogram #danbography

Minggu, 17 Juni 2018

Sajak Utas Kantih


yang kapas mari dipintal,
yang benang mari dirajut,
yang silang mari ditenun,
yang polos mari disulam,
yang lepas mari disimpul,
yang putus mari disambung,
yang kusut mari diurai,
yang burai mari diikat,
yang rumbai mari diobras,
yang cabik mari dijahit,
yang aus mari ditisik,
yang bolong mari ditambal,
🍀👘🎀😇🙏


© Idulfitri 1439 H BambuMuda

Sabtu, 08 April 2017

Kuartet Petrushka

Petrushka sisihkan hasrat cemburu
Kasihmu pilih moro berlagu
Damaikan kalbu abaikan seteru
Duduk termangu bertopang dagu

= penggal kuartet
Soneta Astrajingga
@bambumuda 2015

Mengenang Vaslav Fomitch Nijinski
(12 Maret 1889 - 8 April 1950)
💃 🎭 🃏

: sosok yg kami curigai sebagai ilham patung monumen cendekiawan Bandung itu lho
...

http://bambumuda.blogspot.co.id/2016/07/ari-anjeun-saha-lain-nijinsky.html

Minggu, 12 Februari 2012

Sajak Perubahan Iklim

Senin yang dingin
Selasa lembap terasa
Rabu mendung kelabu
Kamis tepercik gerimis
Jumat hujan lebat
Sabtu ditimpuk es batu
Minggu kutunggu-tungguuuuu... salju...
*kok malah panas terik siang bolong* (;_;)

Sabtu, 13 November 2010

Tujuh Hari untuk Saat Ini

Gara-gara obrolan dengan Alia, jadi tertantang menggambar. Sekalian saja ikutan acara "Seven: Draw Your Days". http://www.facebook.com/event.php?eid=164635440234531 Padahal tahun lalu juga pernah ingin ikut, kebetulan memang hari-hari itu padat sekali acara asyik yang bisa diceritakan: menjuri lomba debat, menyelenggarakan pertunjukan wayang, menonton pagelaran seni kontemporer... Tapi saking repotnya tak cukup menggambarkannya dalam sehari, sehingga tak ada yang terunggah saat itu. Kapan-kapanlah kalau sketsanya terkumpul lagi. Kalau minggu ini rasanya malah tidak banyak peristiwa unik, benar-benar hanya keseharian rutin yang ada, terjebak dalam lingkaran setan yang tak pernah tuntas. Mengasah teknik pun belum sempat, alat gambar terbatas, pakai kertas bekas. Yang penting kita mulai.

Minggu, 07 November 2010

Harus selalu diingatkan kembali bahwa saya makhluk seberang cermin. minggu

Senin, 08 November 2010

Kembali ke ibukota yang sangat menyesakkan, inilah hiburannya. Malah belum pernah lihat buah lontar di Bandung, kenapa ya? senin

Selasa, 09 November 2010

Anak-anak ini putih seperti emaknya orang Sukabumi, tapi berwajah antik jiplakan bapaknya orang Makassar. Ingin menggambar wajah itu dengan terperinci tapi terlambat berangkat. Sampai sekarang pun saya masih belum tahu nama mereka siapa, hiks... curang... selasa

Rabu, 10 November 2010

Pulang hampir tengah malam gara-gara keterusan kerja sambil berkhayal nyanyi-nyanyi. rabu

Kamis, 11 November 2010

Pelampiasan ketegangan, menggiling sesuatu itu memang asyik, memuaskan lho. kamis

Jumat, 12 November 2010

Omnia mutantur, nihil interit. jumat

Sabtu, 13 November 2010

Akhir pekan masih harus berkutat di depan komputer adalah hal yang menyebalkan. Hanya kucing yang dapat membuat saat-saat itu menyenangkan. sabtu

Jumat, 23 Juli 2010

Fighting for Nothing

... kita sama-sama manusia...
"... Yang ada di sini cuma dua jenis orang, yang belagu sama yang solider. Indonesia yang beragam? Heh, kejauhan! Buatku, itu adanya cuma di awang-awang! Sampai, ada kejadian yang benar-benar mengguncang semuanya..."




Film pendek berdurasi 13 menit ini merupakan salah satu materi kegiatan lokakarya Cerdas Bermedia untuk Toleransi yang diselenggarakan THC di tiga kota, yaitu Depok, Palu, dan Ambon.
Paduan antara dokumentasi wawancara dan animasi bergaya stilomasi ini menceritakan tentang dampak media pada remaja dan interaksi antarkelompok.

Produser Eksekutif: Andi Makmur Makka, Wenny Pahlemy;
Produser: Aryati Dewi Hadin, Kanti;
Sutradara: Sony Budi Sasono;
Naskah: Ifan Adriansyah Ismail;
Gambar Penokohan: Ganes;
Musik: Ardanti Andiarti;
Lagu: Koil, Homicide, Zeke and the Popo;
Animator: Sembilan Matahari Animation
Narasumber: Rinaldi, Juned, Asep, Meilia, Dian, Angga, Ires, Affan, Suqma, Wawan, Saiful, Ibet, Oming, Nango

http://www.literasimedia.org

*** Ada yang punya usul judul dalam bahasa Indonesia?

Selasa, 30 Desember 2008

Perubahan ・「変」

Perubahan. Kanji yang dipilih untuk menggambarkan tahun ini.
Semboyan calon pemimpin negeri kahyangan di balik bumi.

kanjihen


Perubahan. Cuaca, citra, tata kelola, harga.
Dalam ilmu ramalan, perubahan setara dengan kematian.
Akhir dari sesuatu, untuk menyongsong pembaruan.
(Wah, boleh juga. Terlalu banyak yang wafat di sekitar.
Tahun ini lebih sering dari biasa harus melayat berbelasungkawa.
Tetangga sebelah rumah. Mantan pejabat negara.
Para cerdik cendekia. Penopang hidup keluarga.
Heath Ledger...)


kotoshinokanji 2008Perubahan.
Juga perlambang keanehan.
Menggoncangkan kemapanan,
mengelu-elukan ketidakpastian.
Boleh jadi membawa kebaikan,
jangan-jangan malah keburukan.
Sebuah pertaruhan.

Tidak masalah, bukan?
Yang penting,
menguak secercah harapan.
Menyongsong masa depan.



kitsunekitsuna
Menyambut tahun baru,
alangkah asyiknya mengunjungi
RUBAH-RUBAH lucuuu di balik
puluhan ribu gerbang jingga
yang berjajar kokoh perkasa
menuju Fushimi Inari Jinja \(^o^)/


Kotoshi no Kanji 2007

Kotoshi no Kanji 2004

Jumat, 12 Desember 2008

Aksara Sunda

jl.belitungSuatu pemandangan yang cukup mencolok di Bandung tahun ini adalah dipasangnya plang nama jalan dengan huruf-huruf melenting yang unik dan asing.

(Hwaduh, awalnya saya kira huruf Mongol atau Thai, untuk kepentingan visit Indonesia 2008...

Tapi anehnya kenapa tidak didampingi huruf yang lebih umum, China ataupun Arab?

Setelah dipelong-pelong baru sadar, ternyata inilah yang namanya Aksara Sunda.)


***

Pemasyarakatan Aksara Sunda di tahun-tahun belakangan ini diperkuat dengan terobosan yang dilakukan oleh paguyuban-paguyuban pasundan, antara lain oleh kawan Dian TN yang mengurus pencantumannya ke dalam jajaran unicode sehingga aksara ini dapat dipergunakan secara meluas di dunia komputer.

Lalu, dengan sarana yang telah disediakan Dian dkk tersebut, mau dibawa ke mana aksara ini? Apakah hanya akan menjadi pengisi museum fosil, atau memang akan mulai diterapkan lagi di berbagai segi kehidupan urang Sunda?

Dari dua huruf keriting kriwul arus utama yang berpengaruh dalam peradaban dunia saat ini, dan yang telah mencapai tingkat pembakuan tertentu serta pakem-pakem penulisan kaligrafis, sejauh yang saya pelajari, masing-masing punya perwatakan khas, yang kemudian mencerminkan pola pikir budaya tertentu, dan selanjutnya menjadi sarana ampuh dalam menanamkan pola pikir tersebut.

Kanji adalah pencitraan makna; seiring perjalanan sejarah, telah puluhan ribu tercatat, dikemas dari berbagai sudut pandang terhadap alam, dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya takkan sanggup dipahami seluruhnya oleh sesosok manusia hanya dalam satu masa kehidupannya; dan manusia yang menggunakannya akan cenderung menilai ataupun mengungkapkan sesuatu melalui pandangan, gambar dan gerak-gerik mata.

Yang satu lagi, hijaiyah lebih merupakan pencitraan suara, namun cukup luwes untuk diregang dan dimampatkan sebagai hiasan dekoratif, cenderung abstrak tapi juga bisa dianggap memiliki filosofi: alif yang melangit, ba yang membumi, lam yang menunjuk, mim yang menukik, dst; dan manusia yang menggunakannya akan cenderung menilai ataupun mengungkapkan sesuatu melalui pendengaran, tekanan suara dan gerak-gerik bibir.

Di antara kedua jenis huruf ini, juga dengan huruf romawi yang jelas cenderung hedon, ada nuansa khas yang tidak akan pernah dapat diterjemahkan langsung secara utuh satu sama lain.

Akan halnya pemasyarakatan aksara sunda yang baru dibakukan ini, modernisasi beberapa lafaznya jelas memberi peluang penyerapan bahasa asing. Ini menandakan urang sunda siap membuka diri menerima pola pikir kontemporer. Namun sebelum itu, seperti apa watak budaya asli yang diusungnya?

Kalau ini masih merupakan serapan dari kebudayaan India, tidakkah ada sisa-sisa masa lalu semacam 'sistem kasta' yang terpatri di dalamnya? Jangan-jangan aksara ini hanya milik raja-raja? Dengan menggunakannya, akankah terlahir ahli-ahli bahasa angkatan muda yang mahir baca-tulis ngalagena? Atau hanya untuk mempermudah mesin-mesin robot melakukan pemindaian dan penerjemahan serpihan-serpihan daluang yang nyaris membusuk di perpustakaan secara mekanik tanpa perasaan?

Berapa banyak sih sebenarnya karya sastra --maupun sekadar daftar belanja-- sepanjang sejarah pasundan telah menggunakan aksara ini? Dari semua yang ada, mampukah kita menemukan kembali "kearifan lokal" urang Sunda? Dapatkah lekuk-lekuk aksara ini mewakili, katakanlah, falsafah sabilulungan?

***
Suku saya sendiri, mungkin lebih mahir menggunakan huruf jawi alias arab melayu, kemudian dengan mudah (atau terpaksa) pindah haluan ke huruf romawi, tapi jelas mereka cukup pede dan besar mulut untuk tidak merasa perlu terikat satu bentuk huruf (ataupun gaya bahasa).
Apakah kami pernah juga punya huruf asli sebelumnya?
Entahlah, tak penting, adakah yang peduli (???)
***


Jumat, 05 Desember 2008

Maryamah Karpov: Siapanya Bang Anatoli?

Entahlah apakah maksudnya sebagai balasan undangan acara-acara saya selama ini, atau hanya viral marketing, tibalah sepucuk undangan acara peluncuran ke email saya. Walaupun sebelumnya tak ada sebersit pun niat mengejar-ngejar buku ini, kebetulan letak Mizan Point sangat dekat dengan tempat nongkrong saya, maka tanpa pikir panjang, hadirlah saya mengajak Ari, Jay, dan Ibet.
iyamkarpovLumayan, bisa menonton sandiwara, pentas musik, artis yang beredar, dan dapat tanda tangan langsung.
Sayangnya, saat itu kekuatan tubuh mencapai titik rendah, sehingga besoknya saya menamatkan bacaan dalam keadaan terkapar di tengah kompresan. Setidaknya, rasa sakit dan penat agak terabaikan, namun entahlah apakah hal-hal yang dapat saya simpulkan di bawah ini memang asli dari bukunya atau jangan-jangan bercampur aduk dengan igauan.


Bagaimana menceritakannya supaya tidak spoiler, ya.

Intinya adalah mengenai semacam kejut budaya balik yang dialami sang tokoh, Ikal, sekembali dari melanglang buana bersekolah tinggi. Ternyata, ilmu dan pengalaman yang telah dia peroleh dari petualangan hebatnya itu pun tidak serta-merta menjamin dia bisa mengatasi segenap kesulitan yang dihadapi di daerah asalnya sendiri, bahkan tidak untuk sekadar mengatasi gigi bungsu. Sepak terjangnya yang canggung itu menjadi pusat perhatian masyarakat sekeliling, sebagai hiburan sekaligus ajang taruhan di warung kopi.

Secara isi, banyak hal baru yang belum digali dalam ketiga buku sebelumnya mengenai keadaan masyarakat Belitong, antara lain melalui stereotip kelompok suku dan ras, diiringi julukan-julukan sesuai sifat masing-masing tokoh Melayu yang berperan di kisah ini. Dari situlah, sepintas lalu, judul buku ini terumuskan... Jadi sesungguhnya Mak Cik Maryamah itu bukan siapa-siapanya Bang Anatoli, cuma penggemar berat, kali ya. Antara judul, subjudul, gambar sampul dan isi memang saling menipu. Mungkin sengaja, supaya susah ditebak.

Bab-bab awal cukup menggugah rasa penasaran, walaupun menurut hemat saya cerita kelulusan di luar negeri seharusnya ditamatkan saja ke dalam buku sebelumnya, agar masing-masing fase kehidupan menjadi utuh berdiri sendiri di tiap buku (sebagaimana bab-bab SP yang terkait alur Edensor juga mendingan disatukan sekalian...)

Alur cerita yang melibatkan pembuatan perahu dan pelayaran menyeberangi laut, mungkin bagi beberapa pembaca membosankan, atau terkesan mengawang, atau menyimpang dari harapan, tapi justru inilah yang sedikit memenuhi tuntutan saya akan pengimbang dominasi asing dalam kisah terfavorit seperti Pirates of the Caribbean dan One Piece. Horeee! Betul banget, betul banget! Lanun Melayu kan sejak zaman Borobudur jelas paling unggulan!!! Ngapain pula anak pulau jauh-jauh berlagak menantang Eropa-Afrika, sementara menaklukkan Selat Malaka yang ada di pelupuk mata malah belum sempat! Hanya saja fenomena ini masih dalam tahap pengamatan dan penjajakan... Coba tokoh utamanya terlibat langsung jadi perompak sekalian, itu baru seruuu.

Lalu penampilan kembali tokoh-tokoh LP dengan sensasional terkesan dipaksakan. Penggambaran keadaan masing-masing juga agak kontradiktif dengan epilog LP. Mahar yang katanya sudah tobat, masih terlibat perdukunan. A Kiong yang dibilang punya toko kelontong, di sini buka warung kopi. Sementara Lintang... Kalau masih sebegitu pintarnya, ya memang gak perlu sekolah lagi lah, ikut ujian persamaan kek, lalu cari karier yang lebih bermasa depan? Eh tapi bekerja serabutan tentu lebih nikmat daripada jadi pejabat... Yang aneh, tidak satu pun dari mereka terlibat sebagai anggota masyarakat sekitar, baik ikut bertaruh ataupun mendapat julukan. Apakah memang sudah beda pergaulan?

Bayangan sosok sang cinta pertama yang di LP ditekankan tak terlacak lagi dan hanya akan disimpan sebagai kenangan indah --walaupun diam-diam masih didambakan di dua buku selanjutnya-- sampai di MK semakin memancing Ikal menempuh hal-hal yang paling tidak masuk akal dan tidak konsisten. Penokohan A Ling sendiri, tetap terhenti di permukaan. Informasi yang bertambah hanyalah, segurat rajah, dan sepintas kisah-kisah perjumpaan mereka di masa kecil yang tidak dibeberkan di LP. Rentang waktu yang berlalu tidak memperdalam pemahaman mengenai sifat-sifatnya setelah dewasa. Jangan-jangan dia muncul lagi hanya demi memenuhi khayalan pembaca.

Mungkin yang layak dikecam adalah penyunting, mengapa tega lepas tangan meloloskan kerancuan-kerancuan seperti itu. Di buku pertama bolehlah, kan sebagai "terobosan baru oleh penulis pemula". Di buku kedua dan ketiga saja sudah aneh. Masa sih kelompok sebesar Mizan bisa kekurangan proofreader yang cukup intelek untuk lebih kritis meninjau pernyataan-pernyataan sok ilmiah yang ngawur, agar tidak menyesatkan pembaca yang tidak tahu dan malas mengulik? Haree genee, kroscek info lewat wiki/google kan bisa? Perlukah sedemikian terburu-buru menerbitkan serangkai tetralogi?

Sementara yang ini kan adalah buku keempat, yang sudah dirancang sejak sekian lama untuk mengikat ketiga buku sebelumnya sehingga menjadi satu kesatuan utuh. Ini malah membuyarkan. Saalh keitk™ masih ada di sana-sini. Seharusnya baik penulis, penyunting maupun penerbit sudah lebih piawai mengerjakan tugas masing-masing, apalagi toh pangsa pasarnya cukup aman karena para penggemar berat sudah menanti-nanti setengah gila. Apa sih susahnya meningkatkan mutu. Katanya berevolusi, mana? Kejanggalan yang jelas terlihat malah terlewatkan. Jangan-jangan penerbit dan penyunting sengaja membiarkan itu apa adanya penulis? Supaya, katakanlah, manusiawi?

Tapi jangan-jangan kerancuan memang menjadi senjata utama dan gongnya buku ini... Antara halaman pertama dengan lembaran paaaling akhir, adalah kerancuan paling parah dalam buku ini; menarik memang, tak terduga, namun sama sekali tidak lucu... Hmmm. Apakah ini termasuk pelajaran moral? Apakah ini islami?

***
Yang menjengkelkan adalah sistem promosi pemasaran yang menunggangi gunjingan. Kalau mau membantah secara gak penting begitu jangan disambi di hari peluncuranlah! Pintar-pintarlah meredam lewat jalur belakang. Seakan-akan bukunya saja tak cukup kuat mengundang wartawan yang agak lebih bermartabat daripada infotainment. Tapi mungkin perlu maklum, seniman dan pujangga rata-rata memang orang aneh, apa boleh buat.


Kesimpulannya,
mau lahir dan besar di manapun, Orang Melayu Tetap Pembual. huh.

Senin, 27 Oktober 2008

Mengapa saya mengeblog dalam Bahasa Indonesia

80 tahun Sumpah Pemuda, dan setahun peringatan Hari Blogger Nasional Indonesia.
  1. Lahir dan tumbuh besar sebagai orang Indonesia belum menjamin kemampuan saya untuk menulis berbahasa Indonesia dengan baik, benar, dan bermutu. Saya perlu berlatih secara teratur tanpa disunting semena-mena oleh orang lain, namun dengan mempelajari umpan balik berupa kritik dan saran dari pembaca blog saya.

  2. Bahasa Indonesia adalah Bahasa Pemersatu Bangsa, yang setidaknya wajib dipahami oleh (hampir) seluruh masyarakat Indonesia di segenap penjuru dunia. Siapa lagi yang mengeblog dalam Bahasa Indonesia, kalau bukan saya (anda, kita) yang berbahasa ibu Bahasa Indonesia?

  3. Mendukung penyebaran internet masuk desa, perlu ada pasokan isi berbahasa Indonesia yang mencukupi kebutuhan para pembaca internet yang tidak begitu paham bahasa asing lainnya. Kenyataan ini juga telah ditanggapi oleh dunia internet pada umumnya, terlihat dari kecenderungan untuk menyediakan sarana-sarana berpilihan bahasa lokal, termasuk Bahasa Indonesia di antaranya. Dan dengan meningkatnya mutu sarana terjemahan di mesin-mesin pencari, pengguna bahasa lain akan dengan serta-merta mengerti garis besar isinya, tanpa saya perlu bersusah-payah menulisnya dalam bahasa asing selain bahasa saya sendiri.

  4. Daripada sibuk mewakili dan menjembatani jeritan Indonesia agar didengar dunia luar, masih jauh lebih penting melakukan penyerapan dan penyaringan informasi dari segenap penjuru dunia untuk memperluas wawasan masyarakat Indonesia. Kenyataan tidak banyak buku, publikasi akademis dan media konvensional Indonesia yang tertulis dalam bahasa Inggris, adalah juga karena kemampuan orang Indonesia menuangkan pikiran dengan bahasa sendiri yaitu Bahasa Indonesia masih kurang terasah, sehingga hasil terbitan yang ada belum layak diterjemahkan begitu saja ke dalam bahasa lain.

  5. Seiring dengan meningkatnya jumlah pengeblog di Indonesia, tentunya blog anda akan menjadi sumber pengetahuan dan wawasan yang bermanfaat bagi bangsa anda sendiri. Dan keberadaan blog anda yang berbahasa Indonesia juga sebaliknya akan memberanikan rekan-rekan sebangsa untuk mulai mengeblog dalam bahasa kita sendiri.

  6. Mengeblog dalam Bahasa Indonesia akan mendorong semakin banyak orang Indonesia terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia, dengan serta-merta akan memperkaya budaya Indonesia, dan siapa tahu akan menarik hati orang non-Indonesia untuk turut belajar Bahasa Indonesia.

  7. Tergantung pengaruh mengeblog anda, setidaknya ini akan mempertegas jati diri anda sebagai seorang putra-putri bangsa Indonesia di tengah keberagaman dunia.

  8. Memang banyak orang luar negeri yang berniat baik ingin berdialog antaragama dan antarbudaya dengan orang dari negeri kita; namun bukankah keberagaman di dalam bangsa kita sendiri perlu kita pahami terlebih dahulu dengan melakukan dialog antargolongan, menggunakan Bahasa Indonesia tentunya?

  9. Kalau isi blog anda bagus, kemungkinan diterbitkan sebagai buku, akan memperkaya khazanah dunia penerbitan dalam negeri kita, dan membantu meningkatkan minat baca masyarakat, bahkan turut andil dalam memberantas buta aksara.

  10. Mengeblog dalam bahasa apa pun, pada dasarnya adalah pengukiran sejarah. Perbedaannya adalah bahwa dengan mengeblog dalam Bahasa Indonesia, anda turut mengukir sejarah di hadapan dua ratusan juta penduduk yang semoga suatu saat nanti semuanya akan melek internet, dan secara turun-temurun mengakses blog anda sebagai suatu tonggak sejarah ke-Indonesia-an. Bukankah ini suatu kehormatan khusus?
p(^o^)q -kanti-

Tanggapan terhadap "10 alasan mengeblog dalam Bahasa Inggris" oleh A. Fatih Syuhud.

Senin, 01 Oktober 2007

Oktober Merah (Indonesia)

Terjemahan Bahasa Indonesia © BambuMuda

Russian Navy Hymn, OST the Hunt for the Red October
(Red Army Choir/Basil Poledouris)




Холодно, хмуро... Dingin dan kosong...
И мрачно в душе Suram jiwaku
Как мог знать я Bagaimana kutahu
что ты умрёшь? kau kan lenyap?

До свиданья, берег родной! Sampai jumpa, tanah airku!
Как нам трудно представить, Sulit membayangkan,
что это не сон... ini bukan mimpi...
Родина, дом родной, Pertiwi, negeriku,
До свиданья, Родина! Sampai jumpa Pertiwi!

Эй! И в поход, и в поход! Yak! Berangkat, berangkat!
Нас волна морская ждёт, Laut telah menanti
не дождётся kita berlayar
Нас зовёт морская даль Ombak di luas samudra
и прибой! memanggil!

(Ref 1)
Салют отцам и нашим дедам Salam kami, pada leluhur
Заветам их всегда верны. kami setia pada janji.
Теперь ничто не остановит Takkan lagi ada penghalang
Победный шаг родной страны! bagi derap langkah anak negeri!

(Ref 2)
Ты плыви, плыви бесстрашно, Berlayarlah, dengan berani,
Гордость северных морей kebanggaan laut utara
Революции надежда, Sang harapan revolusi,
Сгусток веры всех людей. kau percikan iman kami.

Ref 2 + Ref 1 + Ref 2

(Ref 3)
В октябре, в октябре Di Oktober, di Oktober,
Рапортуем мы наши победы. kami melaporkan kemenangan
В октябре, в октябре Di Oktober, di Oktober,
Новый мир дали нам наши деды! pada pusaka yang diwariskan!

Ref 2 + Ref 1 + Ref 3





Menyambut perayaan 50 tahun peluncuran Sputnik (???)
In memoriam Basil Poledouris 8 September 2007

Selasa, 25 September 2007

[Buku] GARIS (Wina SW1)

garis-winasw1Buku kumpulan puisi tunggal Kak Wina yang pertama, diluncurkan bulan September ini berturut-turut di Aceh, Jakarta dan Kyoto.
Syafwina Sanusi Wahab (38) ini teman nongkrong nonton bioskop dan lawan berdebat di Kyoto, seorang perempuan Aceh yang sangat hiperaktif bergaul dan melakukan beragam hal.
Hanya saja kecenderungannya untuk selalu terjun berkesenian dan berorganisasi tampak berbenturan dengan tugasnya menuntut ilmu di negeri orang dan kodratnya sebagai perempuan (???)

Namun mungkin apa pun pengalaman beliau takkan pernah sia-sia, semakin mengasah kepribadian dan keterampilan mengolah bahasa.
Oke Kak Wina, cepat lulus, cepat nikah yah.


ACEH KEKASIHKU



MENCINTAIMU, Acehku
bagaikan menari di dasar samudera
bergerak tanpa suara, tanpa udara, tanpa cahaya
tak peduli lautan
menahan likok yang terus kutarikan dengan susah payah
melayangkanku dalam gerakan tanpa pola
ketenangan dunia bawah laut yang memabukkan
memenjarakanku dari dunia penuh cahaya di atas sana

Mencintaimu, Acehku
bagaikan terdampar di gurun tak bertuan
pasir dan angin menjadi lasykar badai
memutingbeliungkan semua langkah dan gerak
matahari membakar segala hidup
menghanguskan segala mati
fatamorgana jadi batas dua dunia
ketika rindu air tak pernah habisnya mengaliri jiwa

Mencintaimu, Acehku
tak pernah mudah
terkadang hati pun nyaris beku
peperangan dalam diri yang tak pernah usai
darah saudara yang terus memerahi bumi
mimpikan damai jadi bingkisan masa depan
bagi anak-anak kita

Mencintaimu, Acehku
adalah cinta tanpa batas
walaupun segala menikam dari segala sisi
rinduku padamu
tanah pembaringan sejuta syuhada
pentas seribu hikayat
negeri seratus pulau sepuluh bahasa
takkan pernah usai

Suara pucuk-pucuk karet dan sawit di bumi Tamiang
aroma pala, nilam dan birunya pantai Barat Selatan
rimbunnya Leusar di tanah Alas
dan hamparan bukit barisan
wangi kopi dan tepuk didong di tanah Gayo
tarian ikan aneka warna di dasar Iboh
legenda Simeulu yang tak pernah habis
dan tanah Pase yang mengawali aqidah ke bumi nusantara
suara senda pembuat emping, penyulam kasab dan kupiah riman di tanah Pidie
syair penari likok dari Pulo yang memabukkan

Rinduku padamu takkan pernah habis, Acehku
seteguk kopi panas dan sepotong jeumpahan di keude Beurawe,
kuah beulangong dan si manok di samahani
atau wajah-wajah bahagia pejual sirih dan pedagang kakilima
dengan panyot ceulot
di rusuk mesjid Baiturrahman yang melantunkan syair agung
Darussalam yang terus membuka pintu dunia
mengajarkan ilmu hati bagi sang penerus

Mencintaimu, Acehku
bagaikan suara azan bagi meunasah dan mesjid-mesjid
terus saja berkumandang setiap hari
mengalirkan kesejukan setiap hari
mengalirkan kesejukan dan kepasrahan pada sang Ilahi Rabbi

Aceh Kekasihku,
walau seribu perih menikam
dan secuil bahagia terus saja dirampas
aku akan selalu mencintaimu.

Lambhuk, 25 Februari 2007 (Wina SW1)

kanTipuccino

cintapuccinoposterDear nCha,

Aku akhirnya menonton juga cinTapuccino. Berdasarkan cerita dan gosip kau sebelumnya, pengambilan gambar yang singkat dan terburu-buru dsb, aku sudah siap mental... Hanya tinggal mengobati rasa penasaran, how low can u go?

Yang paling banyak dikeluhkan orang adalah penokohan Nimo. Hal itu memang tidak sempat dijelaskan dengan gamblang dalam buku, mungkin karena kau segan untuk menyatakan pendapat mengenai siapakah Nimo itu menurut kau sendiri, atau karena kau memang sudah keburu luluh sebelum sempat mengenal baik seorang Nimo? Atau agar bayangannya bisa disesuaikan dengan khayalan masing-masing pembaca cewek, sosok Nimo masih tetap tersamarkan, bahkan ketika Rahmi berhasil meraihnya. Ini kelemahan utama buku kau, yang seharusnya bisa ditebus dalam film.

Namun misinterpretasi penokohan Nimo menjadi mellow ala melayu dan imut-imut pula begitu, ternyata tidak separah yang aku duga. Masih bisa aku terima sebagai “logika dalam”: yah maklumlah, siapa sangka logat norak menyedihkan begitu memang selera si Rahmi bloon itu, misalnya. Kekurangannya adalah dalam mengambil sudut penyorotan untuk membingkai para pemain secara nyeni. Banyak kok teknik perfilman yang mampu mengangkat sosok keren seseorang dengan kemampuan akting pas-pasan, hanya dengan membuatnya menyunggingkan ujung bibir, memiringkan kepala, berbicara cukup sepatah dua patah kata, sudah dapat memberikan kesan misterius yang mempesona. Film China all stars biasanya bisa begitu.

Tapi yang terparah di sana adalah kegagalan naskah skenarionya mengadaptasi wacana yang timbul dalam karya kau itu.

Setidaknya, di dalam buku tergambarkan bagaimana obsesi seorang ‘Rahmi’ menjadikan seorang ‘Nimo’ --seperti apa pun dia-- sebagai “raison d’etre”nya. Rahmi tidak hanya mengimpikan Nimo dalam catatan harian berwarna pelangi yang terkunci rapi. Dia aktif bergerak maju dengan berusaha membuka kesempatannya sendiri: berjuang ‘menguntit’ Nimo masuk ekskul yang sama, terus kuliah di kampus yang sama, sampai kerja ke perusahaan yang sama segala...

Walaupun ujung-ujungnya, gara-gara selalu grogi dan salah tingkah, ia tidak pernah sanggup memanfaatkan kesempatan yang telah terbuka itu untuk berkenalan lebih dekat, dalam satu sisi hal tersebut positif, mendorongnya mengembangkan diri ke satu tujuan hidup.
Sampai suatu saat, berkat kehadiran Raka baik secara langsung maupun tidak langsung, Rahmi tersadar bahwa dia harus mulai menentukan jati diri, bukan sekadar menjiplak jalan hidup orang yang dikaguminya. Ia berbalik arah. Dan mungkin keputusan itulah justru hal yang membuat seorang Nimo mulai memperhitungkan Rahmi.

Alur seperti itu tidak diwujudkan dalam skenario film, entah terlewatkan, atau memang disengaja demi pembodohan bangsa.
Adegan-adegan sia-sia yang disorot seakan mengesankan bahwa apa yang terjadi pada diri Rahmi semuanya taken for granted. Dia hanya merokok demi menghindari konflik. Satu-satunya yang dia lakukan hanyalah ketika menggenjot gas mobil mencari toko surabi. Tali pengikat cerita film ini kok ya malah jadi surabi, bukan kopi. Filosofi mantap yang diajukan mengenai manis pahitnya cappuccino, pun tidak disinggung dengan tepat. Kalau begitu judulnya jangan cinTapuccino, tapi Serba-Serbi Surabi saja!


Seandainya ini adalah kanTipuccino...



Aku akan membuat adegan-adegan yang simetris bolak-balik antara masa sebagai anak remaja SMA sampai masa sebagai orang dewasa berpenghasilan. Satu catatan, harus ada perubahan gaya rambut, gaya busana, dan gaya bicara yang signifikan.

Aku akan menyimpulkan saja bahwa di balik berbagai kelebihan dirinya, Nimo itu orang yang egois, narsis, arogan (seperti Shuri dalam Basara, misalnya) tapi justru itulah daya tarik yang membuat Rahmi tetap cinta buta.

Aku akan bersusah payah mengekspos andil sebuah ‘ekskul keamanan’ dalam kekacauan ini. Bukan sekadar kilas balik lari-lari dalam hujan dan kena razia. Mungkin saja di antara Rahmi dan Nimo terjadi dilematika yang bisa disebut ‘para-Stockholm Syndrome’ (atau pseudo-? halah). Atau ada kesenjangan komunikasi antara yang mendiklat dan yang didiklat, sehingga walaupun sudah berhasil berjuang menjadi satu ekskul, satu kampus dan satu perusahaan, masih tetap ada jarak dan dinding pembatas.

Aku juga akan membuatnya lebih time-sensitive. Aduh, orang Bandung tahun 95 mah bicaranya sayah-kamuh, bukan elu-gue! Lalu bagaimana para tokoh utama berhasil melampaui berbagai gejolak krisis moneter, reformasi, tonggak-tonggak sejarah Indonesia? Apa pengaruhnya bagi mereka. Sempatkah mereka ikut bersemangat demonstrasi, atau tidak mau ambil pusing pada urusan politik?

Kebudayaan khas ‘Indonesia asli’ yang menjadi semboyan chicklit kau itu, akan aku olah lebih dari sekadar tempelan. Bagaimana mereka akan merencanakan pernikahan bukan di aula hotel yang berlatar bar minuman keras, melainkan di teras rumah ke halaman sampai menghalangi jalan raya. Bagaimana keberadaan orang tua, terutama nenek-nenek cerewet yang heboh itu ternyata berpengaruh jauh lebih kuat dalam keputusan-keputusan yang akan mereka ambil, daripada sekadar nasihat sambil lalu antara berhenti merokok demi calon suami atau kembali merokok gara-gara patah hati. Menyirih sajalah sekalian.

Lalu aku juga akan mendidik tokoh Rahmi, yang semasa SMA hanya mampu membandingkan seseorang dari penampilan luar, agar lebih menghargai sisi lain dari diri seseorang. Siapa tahu Reta sebenarnya cewek berbakat hebat! Seandainya tingkatan Reta memang hanya sebatas materi yang melekat di badannya, dan Nimo sempat menyukai Reta, masa sih Rahmi rela membuang usia demi mengejar seorang Nimo yang berselera rendah!

Selain itu, latar distro juga akan aku manfaatkan sebagai kesempatan membuat “fashion statement” mencetuskan suatu trend baru di masyarakat. Nodame Cantabile yang bercerita seputar dunia musik saja, bisa menggebrak dengan setelan home-made one-piecenya sehari-hari yang sederhana tapi unik itu! Cerita kali ini sudah jelas menyorot distro, tinggal dieksplorasi lebih jauh apa jenis baju yang dijual, disesuaikan dengan tokoh-tokohnya masing-masing. Ini bukan sekadar factory outlet, tapi perlu ada visi dan misi yang tegas dalam desain produknya, sesuai dengan nama Barbietch misalnya.

Patut disayangkan Cha, potensi yang banyak dari chicklit satu ini kau korbankan ke pasar komersial demi ‘tumbal’ untuk batu loncatan membuat film berikutnya kapan-kapan. Padahal, novel debutan lain yang digarap secara jarak jauh, bisa saja tuh menghasilkan film yang lumayan. Seandainya memang mau menumbalkannya, kenapa tidak sekalian saja kau serahkan kepada LFM untuk diolah oleh para amatiran, misalnya?

Tapi masih ada kesempatan memperbaiki, kan. Bikin saja sinetronnya, tapi jangan tanggung-tanggung lagi! See ya!

Senin, 24 September 2007

[Buku] 40 Hari di Eropa

40daysineuropeJudul: 40 Days in Europe: Kisah kelompok musik Indonesia menaklukkan daratan Eropa.

Ketika mengangkat kebudayaan angklung, dengan sasaran pembaca Indonesia, mengapa harus menggunakan judul bahasa Inggris?
Sok go-international?
Berusaha menyaingi chicklit?
Memangnya siapa sih yang ditaklukkan?
Menyedihkan rasanya, bahwa pola pikir terjajah seperti ini masih tetap melekat di kalangan remaja kita.
Membuat konser dalam negeri saja masih kelabakan, bisa-bisanya nekat berangkat ke londo sana.

Penulis: Maulana M. Syuhada

Cerita dalam buku ini adalah pengalaman sang penulis menggiring pasukan angklung almamater kami di enam negara eropa tiga tahun yang lalu. Berkat patah kaki gara-gara main bola akhir tahun lalu, beliau sempat cuti dan menyusun naskahnya dengan leluasa.
Darth Maul ini mantan ketua OSIS SMA angkatan saya. Manusia yang sangat aktif berorganisasi. Selama di sekolah beliau sendiri sama sekali tidak pernah ikut ekskul angklung kami. Baru setelah terdampar jauh di negeri seberang, beliau mulai menekuni kesenian. Akibatnya, guru-guru sekarang mengira beliau ini ketua KPA3 angkatan 96.

Penerbit: Bentang Pustaka

Mengapa mengambil penerbit dari Yogyakarta sedangkan cerita ini sepenuhnya berangkat dari Bandung? Karena Bentang Pustaka adalah lini yang menerbitkan novel Andrea Hirata, dan kompeten dalam mengolah memoar, katanya.

Jenis: Memoar

Pengelompokan buku ini ke dalam 'memoar' cukup menggelikan bagi saya karena sekitar setahun yang lalu seorang bos saya yang lain pernah bersikeras menolak istilah 'memoar' yang berarti kenangan. Bagi beliau, buku beliau merupakan 'catatan harian' karena ada bukti-bukti lengkap tertulis. Kebanyakan isi buku bos Maul ini juga diambil dari bukti-bukti tertulis, mengerahkan segenap cache dari hard disknya, jadi seharusnya juga bukan memoar.
Dan lebih membingungkan lagi ketika tercetak di sampulnya rekomendasi Ninit Yunita (novelis), satu-satunya pihak andalan dari kalangan awam (yang bukan akademisi ataupun orang kedutaan), bahwa
"Novel ini membuat saya ingin kembali menjadi siswa SMU!"
- entahlah memoar atau catatan harian, buku ini jelas berisi kejadian nyata, bukan novel.
- Anak-anak SMA SMUnya sendiri hanya anak bawang, pion-pion. Tokoh utamanya justru para sesepuh pengiringnya baik yang mahasiswa, lulus S1 maupun S2.
Setelah dikonfirmasi kepada sang penulis, beliau membela bahwa Ninit telah membaca naskah awalnya sebelum berkomentar. Apakah Ninit tidak tahu perbedaan antara catatan dan karangan, atau jangan-jangan memang ini strategi yang disengaja untuk mengecohkan dan meningkatkan penjualan? Kalau mengincar laris manis, kemas saja sebagai chicklit sekalian atuh!

Tebal: 572 halaman

Aduh, Harpot 1 sampai 4 saja belum setebal ini. Sebagian adalah akibat banyaknya berkas e-mail yang dikopipes mentah-mentah, tidak diatur sesuai ukuran halaman, sehingga terpatah-patah. Lalu balasan di bawahnya masih mengutip surat sebelumnya berturut-turut. Isinya pun kadang-kadang diulas juga sebagai rangkuman di dalam narasi, sehingga hal yang sama akan terbaca berulang-ulang dan melelahkan. E-mail berbahasa Inggris dibiarkan sementara bahasa asing lain diterjemahkan. Kalau konsisten menulis dengan bahasa Indonesia, seharusnya terjemahkan saja semua atau tidak sama sekali.
Fontnya kacau-balau. Huruf yang dipilih untuk membedakan e-mail, sms, dan tulisan tangan, tidak enak dibaca. Huruf miring dan tegak pun tercampur aduk karena salah atur.


Isi (spoiler abisss)


Padahal dengar-dengar sih ya, judul aslinya "30 tahun mencari cinta" tapi jangan harap menemukan kisah cinta yang menarik di sini. Ada sih disinggung kisah anak-anak memanfaatkan latar Eiffel buat jadian, atau bahwa sang penulis sempat patah hati dengan bule kampung, tapi itu pun hanya sepintas lalu, gak ada romantis-romantisnya acan.

Judul resminya 40 hari, tapi ceritanya merentang sepanjang 2 tahun dilengkapi kilas-kilas balik yang lebih mengekspos kemasyhuran diri pribadi sang penulis zaman menjadi ketua ini itu melaksanakan ana anu. Bikin buku lain saja, di buku ini nggak perlu itu mah!

Ada kerancuan yang timbul. Ketika setiap membeli barang kebutuhan sehari-hari saja beliau mempertimbangkan dengan konversi harga donner kebab, mengapa berani terus maju menyelenggarakan kegiatan yang telah dipastikan kekurangan dana?

Dari alur ceritanya ternyata ESA 2004 nyaris batal karena kegagalan tim memperoleh dukungan baik dari orang tua, alumni maupun pihak luar. Keberangkatan tetap terjadi karena sang penulis bersikeukeuh meyakinkan tim untuk meneruskan kegiatan, berhubung beliau terlanjur memesan tempat dan waktu di beberapa negara.
Beliau memang jenis orang keras kepala yang tidak pernah mau kenal kata mundur tiga langkah untuk ancang-ancang melakukan loncat jauh. Dalam beberapa keadaan antara hidup dan mati, itu suatu keunggulan karena beliau dipercaya banyak orang. Namun dalam keadaan tidak mendesak yang seharusnya bisa dibatalkan dengan baik-baik dan penuh pengertian, itu menjadi kelemahan.

Lalu ucapan puji-pujian kepada orang-orang kedutaan yang memberikan sumbangan pun diobral secara gombal. Lho kok baru minta uang setelah tiba, tidak dicolek sejak awal? Bukankah lobi-lobinya sudah sejak kapan tahu.

Mungkin akhirnya ada sepercik kemenangan dan pengalaman hidup yang diperoleh anak-anak selama di sana, tapi bahwa sempat sampai berutang sebesar sekian ribu euro, bagi saya itu kekalahan.
Angklung untuk mengamen, masih ok, tapi BUKAN UNTUK MENGEMIS.
Untungnya, tsunami yang menghempas turut membantu mereka meyakinkan pihak festival agar membebaskan utang tersebut. Kalau begitu bayarnya ke korban tsunami dong! Pertanggungjawabannya bukan kepada bule-bule, tapi kepada Yang di Atas!

Apakah dengan manual buku ini, ada yang bisa regenerasi dengan mengirimkan tim kembali ke sana? Banyak kelompok seni lain yang bisa sukses pentas ke eropa, baik yang dimodali sponsor dengan rapi, atau orang tua rela membiayai dengan ringan hati, maupun yang langsung ditanggung beres oleh KBRI setempat, dst, kenapa harus meneladani yang berutang. Masa, tiap keberangkatan tim angklung harus terjadi tsunami.

Kalaupun misalnya tujuan buku ini adalah untuk mengajak anak-anak belajar dari kesalahan, maka sasaran pembaca haruslah siswa SMU, tapi untuk itu cerita seperti ini masih perlu disadur, dikemas lagi untuk kepentingan yang lebih populer.


Penilaian


Bintang 1: Karena baik-buruknya cerita ini tetap berkaitan dengan angklung. Walaupun ternyata fokusnya adalah sang penulis dengan segenap lobi-lobinya, dan belum sampai ke tahap pengenalan terhadap jati diri angklung itu sendiri. Apa pun motivasinya, jarang-jarang orang patah kaki menyempatkan diri mengangkat tema ini.
Bahwa kegiatan beliau ini telah berbuah sebagai suatu karya, patut dicemburui...

Bintang 2: Karena berani malu demi melengkapi paparan. Walaupun setelah saya mengorek cerita para peserta yang lain dan menguping wawancara beliau di sana-sini, ternyata masih banyak lagi konflik internal penting yang dipendam, dan kebrutalan-kebrutalan anggota yang disensor, entah sengaja tidak dituliskan demi perdamaian abadi atau memang luput dari pengamatan karena hanya menggunakan satu sudut pandang.

Bintang 3: Karena saya kebagian buku gratisan bertanda tangan hasil antrian dan todongan di acara peluncuran, sehingga kalau tidak menambah bintang lagi, bisa-bisa saya digilas oleh para penggemar beliau yang tersebar di enam negara. Cape deeeeeh.
Tapi sebagai tebusannya, I regret that he just lost my vote in everything else. Not that it would affect him in any ways...

Ketika saya sampaikan pendapat awal saya terhadap buku ini, beliau bertahan dan menuduh saya over-cofident secara berulang-ulang (kurang satu n, mungkin sengaja ada maksud tersiratnya). Tapi sebagai yang mengalami suka-duka berjuang di pengorganisasian ekskul dengan kesehariannya, saya rasa pendapat baik anggota tim muhibah tersebut maupun yang berada di belakang layar, masing-masing perlu dipertimbangkan masak-masak dalam buku ini sebagai kegiatan bersama, bukan one man show. Bukankah itu intisari kegiatan angklung itu sendiri?
Pada dasarnya saya kecewa ketika tersirat bahwa beliau memperlakukan angklung lebih sebagai ajang membentuk citra diri, tantangan olahraga yang harus dimenangkan, atau tunggangan politik demi menembus diplomasi birokrasi. Kemurnian kesenimanan beliau sendiri sesungguhnya masih tanda tanya.

Selasa, 11 September 2007

Taufiq Ismail dan Nasionalisme

taufiqMemang tahun ini tahun reuni. Minggu lalu saya menemui Taufiq Ismail (72), berlima dengan rekan kerja.
Sambutan yang cukup heboh bikin geer juga. Dahulu kala di masa balita saya memang sering ikut Ayah, teman seangkatan beliau, mampir meminjam komik Asterix dan majalah National Geographic ke rumah ini. Om Taufiq memperlihatkan kamar tempat saya menumpang dulu, kini telah dihuni oleh cucu pertama beliau.
Apa lagi ya... Oh ya! Chai-nya enak.

Tujuan utama sebenarnya adalah menemani bos melakukan wawancara bertema nasionalisme alias kebangsaan. Walah, PMP banget yah.

"Hmm, apa ya, sebagai anak usia 13 tahun, rasa kebangsaan itu tidak diajarkan di sekolah, tapi dialami langsung. Saat itu saya naik kapal bermuatan senjata selundupan dari Singapura, menerobos hutan bakau di perairan Sumatra... Begitu mencapai pelataran, terlihat Bendera Merah Putih di sana, rasa haru yang tercurah itulah nasionalisme bagi saya..." dan beliau pun menceritakan pengalamannya seputar masa agresi militer 1948, pengakuan kedaulatan 1949, dst.

Nah kalau pelajaran sejarah tidak mencukupi untuk membangkitkan nostalgia semacam itu di kalangan kaum muda, apakah kita sekarang perlu dijajah lagi, baru bisa nasionalime muncul di dalam kerangka berpikir kaum muda?

"Lho, penjajahan itu kan memang sudah berlangsung. Agen-agennya sangat ramah, penuh senyum menyapa, dan hadir di setiap rumah dalam bentuk kotak serba bisa. Televisi."

Lalu apa yang harus dilakukan agar kita kembali merdeka?

"Sudah banyak rekan-rekan yang bergerak dalam wacana itu, mungkin masih perlu mengerahkan lebih banyak orang lagi."

Bagaimana mengenai lagu kebangsaan yang relatif baru, seperti lagunya Cokelat, misalnya? Apakah rasa yang timbul dari sana bisa diasosiasikan dengan rasa kebangsaan yang dialami seputar perang kemerdekaan dulu?

"Wah, yang seperti apa ya? Saya tidak perhatikan. Nuansa rasa kaum muda memang berbeda dengan kaum tua. Tantangan yang dihadapi juga telah berbeda bentuk. Yah, daripada panjang berteori, mari kita simak apa kata si Toni..." dan mulailah beliau berpuisi.
Dikutip dari MAJOI, halaman 74.


KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS,
LALU KALIAN PAKSA KAMI MASUK MASA PENJAJAHAN BARU,
Kata Si Toni (1998)
...
Kalian paksa-tekankan budaya berutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia

...
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
...
dst (selengkapnya bisa digoogle sendiri tentu)


PS: Pesan sponsor: tolong dicamkan bahwa Taufiq Ismail itu ditulis dengan q seperti akyu, ya, jangan pakai k. Nah, lho, banyak kan yang sering salah?

Senin, 23 Juli 2007

Digital Divide

Digital Divide bukanlah sekadar masalah kesenjangan antara siapa yang memperoleh akses terhadap teknologi digital dengan siapa yang tidak (bukan juga antara siapa yang meltek dengan siapa yang gaptek).
Orang-orang litbang membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk menyadari bahwa hal ini lebih merupakan kesenjangan antara siapa yang memperoleh keuntungan dari akses terhadap teknologi digital dengan siapa yang tidak.



Selama ini perusahaan-perusahaan multinasional ingin kita memikirkan kesenjangan akses, sehingga dalam usaha penutupan kesenjangan tersebut, pasar akan meluas.
Namun ketika anak-anak di kampung mengabaikan sekolah demi memainkan playstation, videogame penuh kekerasan di warnet yang diturunkan dari pasar kota, apakah berarti itu menutup digital divide? Memang itu adalah dampak bahwa teknologi selama ini dirancang untuk yang kaya, tidak memikirkan peningkatan kesejahteraan bagi yang miskin.
Jadi masalahnya bukanlah sekadar mengenai bagaimana memberikan akses, alat, sarana kepada yang miskin. Dalam beberapa hal, orang kaya pun belum tentu diuntungkan oleh teknologi digital. Akibat limpahan informasi, mereka menjadi kaya, namun menjadi semakin tidak bahagia. Sasaran dari menutup digital divide bukanlah ketidakbahagiaan orang kaya, dan bukan juga mengenai bagaimana mengangkut yang miskin dengan mobil ke Jakarta agar mereka bisa ikut rat race. Maka kita harus memikirkan,
  • apa sebenarnya keuntungan yang diberikan oleh teknologi digital kepada manusia?
  • bagaimana teknologi digital mendukung kondisi manusia?
  • bagaimana pengalaman yang diperoleh melalui teknologi menguntungkan orang?
  • bagaimana keuntungan tersebut bisa disebarluaskan ke masyarakat?
  • bagaimana teknologi digital menjadi alat transformasi masyarakat?

Maka untuk menyentuh pasar di lapisan bawah, jelas kata kunci pokoknya memberdayakan bukanlah memperdayakan. Dalam hal ini, penyebarluasan broadband sangat signifikan untuk usaha menutup Digital Divide karena broadband kini menjadi sarana dasar untuk pemberdayaan manusia di era global masa kini, dapat dikatakan sebagai hak asasi manusia abad 21.
Pemanfaatannya bukanlah dengan memperbanyak konsumsi di lapisan bawah, melainkan mengarah pada kebutuhan komunitas, contoh istri-istri nelayan di India menggunakan broadband untuk memeriksa prakiraan cuaca, yang akan disampaikan kepada suami-suami mereka agar meningkatkan produktivitas para nelayan tersebut.
Muncul ide membuat situs di Indonesia untuk masyarakat berbagi pengalaman, adat istiadat dan budaya dalam menyambut bulan Ramadhan, misalnya, meningkatkan spiritualitas bangsa dan mempererat kekeluargaan antar pengguna layanan tersebut. Sebagaimana layanan-layanan gratis lain yang telah beredar dan kini diidolakan di internet, perusahaan yang paling punya nilai, yang tidak mengambil keuntunganlah justru yang memberdayakan masyarakat, dan menghasilkan kekayaan paling banyak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Nilai tersebut muncul dari kesetiaan pengguna. Bila konsepnya bagus, dengan sendirinya investor akan berdatangan mengikuti inspirasi.

Indonesia (katanya sih) bisa dijadikan sasaran percobaan yang baik untuk model pertumbuhan urban teknologi informasi dan komunikasi, dibandingkan dengan Cina yang pemerintahnya justru menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menguasai masyarakat, atau India yang sebagai sebuah negara sudah cukup rumit dengan perbedaan budaya yang demikian besar. Dilihat dari sisi tersebut, Indonesia lebih mudah ditata, dan punya status yang baik, dalam perjalanan menjadi negara maju (ah masaaa).

Besok hari akan diinisiasi pertemuan untuk menyusun tahapan menuju penetrasi broadband di Indonesia agar mencapai 20% di 2012, melalui forum IGADD, kolaborasi antara ITB, THC dan Digital Divide Institute. Rancangan ini akan termasuk saran untuk pemerintah dan para pengambil keputusan di perusahaan nonprofit, mengundang korporasi teknologi multinasional sekaliber google, intel, nokia untuk mempertimbangkan apa yang bisa dilakukan di Indonesia, dan mengajukan formulasi mengenai implementasi tujuan tersebut... katanya sih.

Senin, 04 Juni 2007

Kutukan sang Mawar Ungu ・紫のバラの呪い

Tersebutlah suatu hari, saya mengantar adik sepupu ke lokakarya terjemahan yang dipandu oleh Nalti Kikuchi. (Perhatian: Walaupun namanya Kiku- berarti serunai, judul tulisan ini gak ada hubungan dengan film keren Kutukan Serunai Emas Gong Li - Chow Yun Fat!)

Nalti Kikuchi ini adalah orang Indonesia bersuami Jepang, guru bahasa yang menyambi sebagai penerjemah komik Topeng Kaca... Towewew.

Tentu saja serta-merta saya menanyakan, mengapa murasaki no bara dalam manga itu diterjemahkan menjadi mawar jingga oleh Elex. Padahal dilihat dari ujung dunia manapun, murasaki itu artinya ungu. Dia membela diri, awalnya dia menerjemahkan sebagai mawar ungu. Tetapi menurut editor, mawar ungu itu tidak ada di Indonesia, sehingga agar mudah dimengerti, diputuskan ganti jadi jingga saja. Toh jingga mirip dengan ungu, katanya... BUTA WARNA KAH?
Sudah jelas warna ungu itu adalah campuran dari merah dan biru, sedangkan warna jingga adalah campuran dari merah dan kuning, tidak ada tawar-menawar. Mirip apanya!!!

Sebuah keputusan yang sembarangan. Bukankah warna ungu itu dipilih oleh pengarang justru karena kelangkaannya di tahun 75-an (saat manga tersebut dimulai), membuat sang mawar sedemikian berharga mahal dan istimewa sebagai pusat cerita.
Di tahun 90-an (saat manga ini mulai diterjemahkan ke bahasa Indonesia sedangkan kelanjutannya mulai tersendat di negeri asal), mawar ungu sudah lumayan menjadi barang obralan di mana-mana. Saya sendiri sering melihatnya di pasar kembang dan kota bunga.

murasakinobara





(Gambar dari flickr kikij)







Seandainya, ada pendapat bahwa judul bab "Bayang-bayang Jingga" terdengar lebih berima daripada "Bayang-bayang Ungu", maka seharusnya tindakan itu disertai usaha penggantian warna dalam semua gambar sampul ataupun sisipan yang melukiskan mawar ungu sebagai latar belakang sosok Hayami Masumi.

Lalu saya usulkan, agar aman gunakan istilah mawar lembayung saja. Bukankah lembayung adalah bunga berwarna ungu (hyacinth), sedangkan di dalam kamus dia juga bisa berarti jingga.
Lembayung adalah satu-satunya penghubung warna ungu dan jingga, karena ia menjadi kosakata yang menggambarkan warna langit saat fajar menyingsing dan senja menjelang: Ungu bersemburat jingga.

"Hee, yah tapi 'mawar lembayung', kedengarannya tidak enak 'kan?"

Siapa bilang tidak enak! Inilah kesalahan para penerjemah bahasa Jepang, di saat mereka fasih dengan aiueo kakikukeko yang kaku, mereka tidak sempat menghargai keluwesan bahasa Melayu-Indonesia sendiri.

masumimawarBayang-bayang Lembayung

Kurang liris puitis apa coba.
Apalagi, warna ungu (ataupun lembayung, kalau setuju pakai istilah ini) adalah suatu pengungkap suasana hati melankolis si Hayami Masumi. Kesalahan penerjemahan merusak suasana tersebut: Jingga adalah warna yang panas, penuh semangat.
***

Purple Rose Theatre: Kelompok sandiwara di Amerika.
Mungkin berafiliasi dengan Kitajima Maya yang kabur keluar negeri...

Purple Rose of Cairo: Film yang disutradarai Woody Allen.
Satu dari seratus film terbaik sepanjang masa edisi majalah Time.

Mawar Ungu Galaksi Virgo: Ketika langit terbelah.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? O:-)


= roses are (sometimes) red, but violets are (not really) blue =

biancarosaMawar ungu masih bisa muncul dari kawin silang, sementara mawar biru masih nyaris mustahil diperoleh tanpa rekayasa genetika yang tepat untuk penyesuaian derajat pH dan penyuntikan pigmen biru delphinidin.


Cakrawala Pikiran Rakyat: Mawar Biru

CSIRO Australia: Penelitian Mawar Biru Pertama Dunia (masih ungu)

Blue Roses: Sajak Rudyard Kipling mengenai mawar biru


***

sweetcandyBtw on the way busway, saya sendiri suka ungu, tapi selalu heran mengapa banyak yang menyanjung pria yang berungu-ria seperti si Hayami Masumi ataupun bapak bermotor ungu dulu itu.
Selain itu memang saya tidak menikmati romantisme bunga mawar, entahlah itu biru, ungu, jingga, kuning, putih ataupun merah jambu.

Tentu saja bagi saya masih lebih menarik hijaunya pelepah bambu...

=== stat rosa pristina nomine, nomine nuda tenemus ===