Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2022

Baca Komik Terus

Kegiatan (((detoks webtoon))) dengan baca komik lagi masih dilanjutkan selama persediaan masih terjamin.

Ronde Kelima

Menjelang lebaran dimeriahkan oleh sepasang komik bertema superhero.
Pelintiran alurnya adalah bahwa di dunia dalam kedua buku ini, superhero itu dianggap hanya khayalan dalam komik, sementara tokoh-tokoh kita ketiban pulung dapat nama yang sama atau mirip-mirip.
Kemudian, ternyata mereka juga mengalami peristiwa-peristiwa hidup yang bisa dicocok-cocokkan dengan cerita dalam komik itu ... Sampai diam-diam memperoleh kekuatan super yang harus dipertanggungjawabkan 💪🏼💪🏾

Cerita Superman semanis permen, dimulai dari tokoh yang muak disama-samakan dengan Clark Kent versi komik, tapi lalu betulan jadi super kuat bisa terbang, kemudian bertemu Lois versi India dan sibuk berkeluarga 🦸🏽‍♂️🍬

Cerita Batman gelap suram, dimulai dari tokoh yang semasa kecil terobsesi komik Batman, lalu mengalami musibah yang mirip sejarah asal-usul Batman. Sampai dia mengendalikan kekuatan alam berwujud manusia kelelawar untuk membasmi korupsi di kotanya, namun terjebak untuk membuat skenario kriminalnya sendiri demi menjaring para tersangka pelaku 🦹🏽‍♂️🦇
(FB IG)

Ronde Keenam

Menyusul pahlawan super di ronde 5, kali ini penjahat-penjahat super menyerbu dunia nyata sehingga hanya penggemar komik sajalah yang mampu menyelamatkannya 🧟‍♂️👨🏽‍🚀

Karya dari pencipta [tokoh jahat yang bisa membeku sekeras s@mb@lit mencair seencer m@ncr@t] dan [superman komunis] eta tea 💩🛠️

Sepertinya nostalgia terhadap satu seri khusus di komik Marvel tapi mana saya kenal tokoh-tokoh maupun ceritanya, secara tahun 1985 komik bacaan saya hanya seputar Tintin, Asterix, dan komik injil terjemahan H. Oppusunggu 🦘📝

(Oh ya, bukkankah tahun 1985 itu saatnya saya dan adik saya ikut menongkrong, makan bareng, kadang juga menginap di rumah berbagai tokoh masyarakat yang nantinya pascareformasi menjadi presiden, ketua MPR, menteri-menteri, ataupun petinggi lainnya ... lalu menjelang akhir tahun mendapatkan sorotan di panggung kecanggungan yang mengakibatkan kami diliput oleh sedikitnya lima media massa nasional).

Catatan: Di sini tokoh ceweknya antikomik semua: emak si tokoh utama, suster dari teman bapaknya ... Apakah pada 1985 komik Amrik masih cuma jadi boys toys?

Tamatnya jadi kepikiran, kalau bisa ketemu betulan sama kecengan dalam komik, siapa pilihan saya? Kok asa gak ada tokoh komik Amrik ya. Dulu tersepona sama komik Yoropah Lucky Luke kayak ganteng tapi sebagai taksirabel material ya enggak lah, dia perokok sibuk sama kuda. Di manga, Piccolo bukan manusia dan berkembang biak secara vegetatif. Sekarang tokoh di film-film DC/Marvel kayak keren-keren tapi waktu lihat di komik belum segitunya
(FB IG)

Ronde Ketujuh

Kebagian dua jilid buku hijau yang ilustrasinya indah-indah ... tapi ternyataaa ceritanya sangat amat gore! 🌿👹


Satu tentang peri-peri mungil lucu yang terhempas ke alam luar ketika inangnya mati terkapar. Mereka harus berusaha menyintas bertahan hidup dengan berdarah-darah 🐞☠️
Tokohnya seorang gadis lugu yang sigap dan berjiwa kepemimpinan harus menghadapi keegoisan dan pengkhianatan dari teman-teman maupun kekasihnya sendiri 🧚🏽‍♀️🧚🏻‍♂️

Satu lagi terilhami oleh foto jurnalistik dari suatu peristiwa nyata.
Tokohnya seorang ahli dinamit. Demi cari nafkah buat bayinya yang akan lahir, ia menempuh tugas rahasia negara meledakkan gunung untuk ekstraksi bahan tambang di daerah konflik Asia Tenggara ⛰️💣
Rasa kemanusiaannya teruji begitu harus menghadapi pasukan gerilya anak kecil perokok yang bekerja sama dengan kekuatan mistis Naga pelindung 🧒🏽🐉

Sungguh gore!!!
Jauh lebih bikin mual ngilu daripada penjahat berwajah tahi, bahkan daripada semua ke-gore-an komik superhero digabungkan.

Sempat kagum oh wawww ternyata komik Amrik sudah berevolusi sampai bisa sekeren inih! Eh begitu dibolak-balik ternyata keduanya adalah terjemahan komik Yoropah 🗼
(FB IG)
#bacakomik #dirumahaja #danboard #danbogram #danbography

Sabtu, 30 April 2022

Baca Komik Lagi

Detoks dari kecanduan menggulir webtoon selama 3-4 tahun terakhir, baca komik buku fisik rasanya sesuatu banget oy seperti menebus rindu 👀📚
Beruntung saya mendapat pasokan penawar secara bergantian dari tetangga seberang kosan, seorang kawan namanya lucu tapi cukup mengesankan pula badannya kecil dan kulitnya hitam baik budi seperti seorang seniman.

Ronde Kesatu

Konon yang dua ini rujukan favorit tetangga saya, antara pewarnaan dan pembingkaiannya.

Satu tentang cowok galau penulis obituari yang hidup dalam bayang-bayang kesuksesan ayahnya, seorang novelis. Lalu berbagai tonggak kehidupannya yang bisa saja menyambut kematian saat itu juga, ditulis ulang dalam bentuk obituari.

Yang kepikiran pas baca, sang tokoh kok enggak pernah tampak curhat ya sama kakaknya? Kayaknya dia murung melulu padahal punya privilese. Temannya juga cuma seorang ya ...

Aroma Brasilnya terasa kental, tapi malah seolah terlalu damai ... Terkenang waktu ke Rio de Janeiro 6 tahun lalu, mau turun dari taksi buat memotret mural saja, supirnya panik lihat kiri-kanan, begitu kelihatan sepintas ada orang lewat langsung saya disuruh naik lagi 🚕

P.S. Teman saya ilustrator @olafmurkenstein ternyata pernah menjadikan komik ini hadiah untuk keponakan. Saya kepikiran juga kalau dapat komiknya sendiri mau menghadiahkan ke ibu saya karena beliau sempat ikut pelatihan menulis obituari tahun lalu. Entahlah apa beliau mau baca.

Ini komik yang menang Eisner, tapi oleh saya terlewatkan di pajangan toko buku mungkin karena tampilannya seperti bacaan packbapack 🙈

Satu lagi digambar dengan pembingkaian yang sangat dinamis dan alur cerita yang sangat gore. Tentang proyek senjata pamungkas menggunakan hewan piaraan kesasar yang dikumpulkan dan dilatih demi menghindari jatuhnya korban tentara manusia.
Kasihan hewannya lucu-lucu. Semoga yang membaca jadi tersentuh untuk semakin menyayangi piaraan masing-masing.
(FB IG)

Ronde Kedua

Berhubung tetangga saya tidak mengoleksi manga (konon satu-satunya manga yang pernah dia koleksi kebetulan adalah Yotsuba&! 🍀 tapi lalu disumbangkan pula ke komunitas sesuatu) mungkin ini yang agak menyambung yang layak dipinjam, karya orang Amerika keturunan Jepang diterbitkan di Kanada 🗾

Buku coklat berisi kumpulan cerita pendek situasi keluarga yang unik, menggelikan sekaligus menjengkelkan, oh ada yang mengerikan juga. Ternyata beberapa di antaranya dapat nominasi bahkan menang penghargaan. Yang kayaknya *gue banget* judul pertama, "hortisculpture". Sepertinya semua anggota keluarga termasuk saya pernah punya fase ingin bikin karya yang enggak jelas 🌵

Buku hijau berisi satu kisah tokoh keturunan Jepang yang rempong mendudukkan jati diri kejepangannya di tengah orang kulit putih. Blak-blakan dan realistis yang cukup bikin saya gegar budaya walaupun sempat banyak bergaul dengan orang Jepang 🎎
Apakah teman-teman saya bakal merasa seperti ini kalau hidup di Amerika?
Barangkali masalah mereka ini khas Jepang atau Asia Timur, orang Indonesia tidak akan mengalami. Tentu lain lagi paket masalah yang kita hadapi.
Satu catatan seperti buku pertama ronde pertama: Orang ini temannya juga cuma satu saja?
Juga perlu introspeksi, apakah saya pernah berpura-pura tertarik pada hobi atau selera orang demi mendapatkan perhatian balasan?
Sepertinya karya lain dari pengarang ini perlu diburu semua ...
(FB IG)


Ronde Ketiga (A)

Mendekati bulan Ramadhan dikasih komik tentang makanan 🍽️

(Karya terlaris pengarangnya ada yang baru diadaptasi ke serial televisi, sayang saya belum baca. Sepertinya ketika judul itu beken, saya sedang menabung buat koleksi Pluto. Juga saat ini suasana hati sedang enggak nyaman untuk menonton jadi dilewat dulu. Konon adaptasi tersebut mengecewakan pula) 📺

Tokohnya adalah juru masak jagoan yang bersembunyi di suatu pulau di Indonesia ketika kariernya bangkrut akibat krisis ekonomi sementara rumah tangganya berantakan gara-gara dia ternyata gay queer.
Ternyata acara televisi yang dia rintis berganti wajah sebagai lomba masak yang sungguh ekstrem melayani elite 1% sehingga dia dicari untuk tampil kembali oleh para penonton dan pengelola jaringan.
Berhubung saya tidak pernah menonton acara lomba masak jadi kurang pembanding, tapi tetap bisa menikmati lah.

Putri sang tokoh mengambil alih karier ayahnya, baru berusia 17 tahu-tahu bisa masak, wow sungguh jenius tapi tampangnya kok dewasa betul ya, waktu saya usia 17 jadi mahasiswi masih sangat unyu.

Garis dan warna yang digunakan di sini sangat gelap untuk komik tentang masak memasak. Mungkin demi membangkitkan kemurungan karena ceritanya ini di masa depan yang tidak jauh dari sekarang, saat ikan segar sudah langka akibat perubahan iklim 😨
Pewarnanya sama dengan yang menggarap komik pertama ronde 1, konon seorang dewa di bidang wawarnaan, telah berkali-kali juara.

Yang aneh itu penghurufan resep, ditulis dengan tinta biru muda di atas kertas bergaris putih, nada yang sangat berbeda dari suasana sekelilingnya. Tidak ada biru tersebut di palet warna dalam setiap bingkainya. Apakah hanya agar menonjol atau ada alasan lain pakem di dunia resep atau dunia masak televisi?

Oh ya sang tokoh seperti komik-komik sebelum ini temannya juga cuma seorang, yang lain dianggap saingan atau tidak dianggap sama sekali.
(FB IG)

Ronde Ketiga (B)

Dipinjamkan berbarengan dengan komik masak yang saya pajang sebelum ini, dari penerbit yang sama, karena katanya para pengarang sering berkolaborasi dalam judul-judul lain yang belum saya baca.
Latar abad pertengahan, trilogi semacam kisah tragedi peri 🧚🏽‍♀️
Nuansa mistis mengingatkan pada manga jadul seperti Pengantin Demos atau Crystal Dragon. Gaya gambarnya juga entah kenapa berasa manga.

Konon pengarangnya adalah cewek pertama yang kebagian menggambar Batman (?)
Tapi dibandingkan dengan kedua manga tadi kok rasanya tidak ada keberpihakan khusus terhadap tokoh-tokoh cewek yang ditampilkan dalam komik ini?
(FB IG)

Ronde Keempat

Kebagian komik tebal kayak buku telepon zaman baheula. Pinjam setelah masuk bulan Ramadhan, harus mencicil baca karena tersisihkan oleh ibadah 🙃🕌
Saya baca loncat-loncat memilih episode yang paling bikin penasaran lebih dulu, lalu sempat bingung mana saja yang terlewat belum dibaca.
Kolaborasi pengarang komik ronde 3a dengan pengarang ronde 3b. Berisi terbitan ulang produk indie awal karier mereka (?) selusin cerita terpisah tentang remaja galau berkekuatan super, ditambah 6 cerita baru tentang orang-orang super yang sepertinya lebih dewasa, yang diolah setelah para pengarang mapan malang melintang di dunia komik ✒️✏️
Eksplorasi gaya berbeda-beda setiap episode, tapi kebanyakan ada ciri khas shojo manga di dalam goresan gambar maupun tema. Kekuatan super hanya latar, yang jadi sorotan adalah aneka ragam gangguan mental yang mengiringinya. Sayang saya tidak mampu mengidentifikasi inspirasinya dari manga mana saja gara-gara saya kurang fokus mengikuti shojo 🧐👧🏽
(FB IG)
#bacakomik #dirumahaja #danboard #danbogram #danbography

Senin, 14 Maret 2022

Meet Cute

Adegan perjumpaan pertama yang imut-imut adalah bahan pokok komedi roman. Seringnya mengarah pada bentrokan lucu antara kepribadian/keyakinan, situasi memalukan, atau kesalahpahaman menggelikan yang selanjutnya mendorong alur cerita.

Sebagai naskah untuk ditonton tentu menarik, tapi menempuhnya di kehidupan nyata pasti sangat melelahkan. Apalagi belum ada jaminan bahwa ini menuju akhir yang bahagia. Selisih jalan tiada ujung yang menjengkelkan, perseteruan yang berlarut-larut, timbul penasaran, curiga, cemburu tak berkejuntrungan ... Bagaimana kalau genre yang diterapkan ternyata bukan komedi roman melainkan kisah psikologis menegangkan?
Sang tokoh merasa tidak layak mengalami kejutan ini. Masa keemasan untuk benar-benar menikmati sudah lewat, dia telanjur amit-amit. Ini hanya siksaan yang wajib dilalui demi menebus karma yang mungkin ada.


遅すぎた出会い 胸にかみしめている 痛いほど
気付いたら 夜は終りはじめてる

もっと君のこと知りたいよ
悲しみも ささやきも 全部見てみたい
苦しいよ 今度はいつ逢える

むくわれない 束の間の夢ならば
せめて 偶然の時だけでも

Sabtu, 14 Maret 2020

Apel malam Minggu

Ini sedianya mau ditayangkan di grup bobodoran alumni lembaga terkemuka, tapi takut ada yang merasa tersindir atau salah sangka siapa orangnya biar disimpan di lapak pribadi sajalah. Untuk keamanan data pribadi kita sebut saja tokoh-tokoh yang terlibat dengan nama makanan 🍲

Pada suatu Sabtu. Ketenangan nyungsep bantal di sela magang PJKA (pulang jumat kembali ahad) ujug-ujug terkoyak oleh rencana kunjungan seseorang. Dianjurkan oleh Pak Timbel Ayam, dosennya, cenah. Mengherankan, karena saya enggak pernah sekali pun mengambil mata kuliah Pak Timbel. Zaman miciswi hanya sekali dengar pidato di gedung serba guna yang enggak berkesan, isinya kayak gak penting, wajahnya pun gak hafal. Dari mana beliau dapat kontak saya!? 🌯

Sang tamu, sebutlah dia Yamin Kuah, sedang lanjut pascasarjana. Konon lulusnya sebelum saya masuk kuliah berarti sekitar 4 angkatan di atas saya. Asal Banten, putih manis jangkung langsing klimis, rambut berombak, berkacamata, sepintas mirip Bae Yong Joon dipelintir di mesin cuci. Lebih parah daripada BYJ, bibirnya basah merekah merah jambu kayak bayi, sebelum ngetren oppa-oppa kekinian. Bagi cewek boncel kucel bibir kelabu kurang gizi, tampang GIUNG cemitu sumber kedengkian yang hakiki 🍜

Bung Yamin Kuah meminta masukan tentang … arsitektur informatika 🤯

Geh, barang apa pula itu! Adik yang alumni AR pun pasti gak ngerti. Sebagai manusia sok tahu, saya tersiksa untuk manggut-manggut saja membahas hal gelap di luar wawasan. Saya pun berusaha mengontak para mantan, barangkali si Martabak atau Lotek yang bidangnya menyerempet situ bisa memberi pencerahan? Tapi zaman sinyal 3G pun belum ada, bocoran tak dapat diperoleh cepat saji. Berhubung saya betul-betul buntu bidang itu, paling-paling bisa bantu periksa tata bahasa berkas yang diajukan, jika perlu ✍️

Sabtu depannya, masih berkunang-kunang kena jet lag naik travel yang duduknya berhimpitan kayak kaleng sarden, baru saja terbaca pesan Bung Yamin Kuah mau berkunjung lagi sudah terdengar ketukan di pintu depan. Lah kok menyelonong sebelum sempat balas. Kalau cuma mengantar berkas, 'kan bisa kirim lewat surel. Gak ada tuan rumah lain yang menyambut, pada sibuk di luar. Terkapar gak sanggup bangun, saya biarkan saja ketukannya sampai berhenti 🙉

Mestinya biasa saja, enggak istimewa kalau teman sekelas/seekskul mampir untuk kepentingan pinjam buku, konsultasi riset, atau terjemahan. Tanpa suguhan apa-apa selain air segelas, sementara ruangan berantakan belum beres bongkaran tiada akhir, rumah saya bukan tujuan yang cocok untuk tamu asing bertandang santai-santai. Lebih nyaman beredar melaba juragan-juragan di luaran. Nah masalahnya 'kan enggak tega menodong traktiran miciswa kere kongkow kafe gaul 💸

Sempat saya geer barangkali dia bermaksud taaruf. Tapi kok langsung ke rumah? Lah daftar riwayat hidup belum disetor buat pilah-pilih (kayak ikutan pengajian saja), akun medsos enggak punya. Comblangnya pun bukan kepercayaan saya. Belum terungkap irisan hobi, selera, atau lingkar pertemanan untuk bahan percakapan di luar urusan akademis. Laksana makhluk dunia lain. Jangan-jangan bakal mager kalau diseret bertualang 🧗‍♀️

Penafian, itu semata penerawangan saya lewat satu pertemuan. Mungkin orangnya hanya merendah menyembunyikan keawesomean. Tentu dia lebih berpengalaman hidup secara empat-lima tahunan lebih dewasa, sementara saya sendiri enggan mengungkit pertanyaan terkait pribadi. Naluri kepo tumpul terlindas "arsitektur informatika" dan pada dasarnya enggak tertarik secara fisik, tidak memenuhi ciri-ciri cowok idaman (yang gosong, keriting, suara rendah) 👨‍🦱

Sabtu berikutnya saya janjian dengan kawan-kawan LFM, mau menonton sekuel PotC. Muncul notifikasi dari Bung Yamin Kuah. Duh kasihan diabaikan terus, tapi malas mengajak kencan. Lagian apa dia sudi menonton dengan bukan mahram? Tapi pengikut aliran mengapel (?) akhir pekan a la tahun 80an mungkin terbuka dengan ajakan ke bioskop bareng 📽

Sedang menimbang-nimbang, saya baca pesannya berisi kira-kira,
“Besok saya ulang tahun, seperti biasa pasti kesepian, yang menyelamati setiap tahun hanya ibu saya 😊”

Jebret!
Kayak ada urat syaraf terputus di kening saya. 🌩

Saya balas,
“Wah sebaliknya, kalau ulang tahun justru harus ibunya dong yang diselamati, sudah repot melahirkan ke dunia. Nah kalau memang kepingin dirayakan ramai-ramai, undanglah teman-teman yang kenal dekat.” 🎉


Saya ingat kalimat pertama sudah tersampaikan, tapi lupa apakah kalimat kedua akhirnya dikirim juga atau batal. Yang jelas kami berhenti berbalasan setelah itu. Tidak menyesal sih pasang jarak sejak awal, tapi rasanya bersalah judes merusak silaturahmi. Padahal teman baru selalu merupakan berkah tersendiri, asalkan enggak menuntut lebih. Sialnya saat itu sebagai sampah masyarakat saya punya beban hidup yang gak bisa dibagi. Anggaplah saya menyelamatkannya dari bencana. Yang jelas, saya mengutuk Pak Timbel Ayam biang kecanggungan tersebut 👹

Apa kabar Yamin Kuah sekarang ya. Semoga dia memperoleh teman menongkrong yang menyambung, pendamping yang memanjakan, serta karier cemerlang di bidang arsitektur informatika atau apa pun.

Sabtu, 08 April 2017

Kuartet Petrushka

Petrushka sisihkan hasrat cemburu
Kasihmu pilih moro berlagu
Damaikan kalbu abaikan seteru
Duduk termangu bertopang dagu

= penggal kuartet
Soneta Astrajingga
@bambumuda 2015

Mengenang Vaslav Fomitch Nijinski
(12 Maret 1889 - 8 April 1950)
💃 🎭 🃏

: sosok yg kami curigai sebagai ilham patung monumen cendekiawan Bandung itu lho
...

http://bambumuda.blogspot.co.id/2016/07/ari-anjeun-saha-lain-nijinsky.html

Rabu, 02 Juli 2014

Tim Edward dan Tim Jacob

(1)
Dunia alay gonjang-ganjing oleh perseteruan antara dua tim fanatik.
Tim Edward mengagumi sosok penghisap darah berkepribadian misterius yang terkutuk namun gagah perkasa, cerdas, kaya-raya, dan mengendarai mobil mewah. Mereka tidak peduli ia pelaku KDRT atas nama cinta. Mereka percaya, sesungguhnya ia pemuda berhati mulia yang tabah menahan diri.
Tim Jacob meyakini bahwa pujaan mereka lebih hangat, lebih manusiawi daripada saingannya, dan membela kepentingan mereka tanpa pamrih sebagai sesama rakyat jelata. Mereka abai bahwa serigala sering dianggap rendah oleh sesama manusia sedangkan sejatinya adalah makhluk liar pengincar ternak yang tak bakal sanggup mereka jinakkan.
***
Selama kedua belah tim berseteru cakar-cakaran jambak-jambakan dengan sia-sia, tidak ada yang menyadari masalah paling mendasar, yakni bahwa sesungguhnya Bella itu hanyalah seorang cewek manja bodoh yang tidak terlalu penting untuk diperebutkan, sedangkan mereka telah terjebak dalam kisah rembang petang demokrasi omong kosong belaka.

Young Kim: New Moon


(2)
"Tapi Bella tidak bisa hidup tanpa Edward, masa kalian tega membiarkannya mati rindu, malah mendukung si anjing buduk?" tantang tim Edward kepada tim Jacob.
"Apa sih yang kalian lihat dalam diri lintah keparat itu? Makhluk gentayangan di balik kabut!" sanggah tim Jacob. "Mendekatinya berarti cari gara-gara dengan Volturi!"
Tim Edward terhenyak. Tidak ada seorang pun yang menyadari betapa Bella terpikat oleh Edward akibat hal remeh: menemukan suatu rahasia, bahwa sosoknya gemerlapan memantulkan pelangi jika terpapar sinar mentari.
***
Dan bumi pun perlahan ditelan kegelapan bulan baru.

(3)
Tim Edward menganggap Jacob sekadar keset kaki kumal yang terhampar di depan pintu untuk menjegalnya, sementara bagi tim Jacob, Edward bagaikan kucing porselin rapuh dengan cakar melambai-lambai yang dipajang di samping kasir, sekali tersenggol akan hancur berkeping-keping.
***
Dalam ketegangan yang semakin meningkat, tiba-tiba segelintir rombongan tim Jacob melolong-lolong menyayat hati ke arah sang rembulan jagung biru. Seakan-akan mereka juga turut menjelma menjadi gerombolan serigala yang terinjak-injak oleh ujung sepatu. Beberapa moncong yang paling bising di kalangan mereka menyenandungkan beredarnya desas-desus bahwa Jacob berbulu hitam, yang mereka tuduhkan dipicu oleh pihak tim Edward.
Para penonton pun saling berpandangan kebingungan... "Lho, lalu apa salahnya dia dibilang hitam? Bukankah namanya memang Jacob B-l-a-c-k?"
***
Suasana pun diperkeruh oleh gerhana yang dalam sesaat menelan sinar mentari ke dalam kelam yang mencekam.
(Catatan redaksi, untuk pengetahuan Anda: Berdasarkan bukti-bukti baik yang tercantum pada kartu jati diri kelompok serigala maupun pernyataan para saksi, warna bulu Jacob disebut sebagai cokelat karat.)


(4)
Menurut tim Jacob, Edward menyia-nyiakan seabad lebih keabadiannya hanya sebagai remaja kolot yang tidak pernah benar-benar beranjak dewasa. Dia hanya meniru-niru kharisma Gilbert Blythe, kebangsawanan Mr Darcy dan keangkuhan Mr Rochester, tanpa menebar daya tarik keCullenan yang asli.
Sementara bagi tim Edward, Jacob hanyalah domba karbitan agar menumbuhkan bulu-bulu serigala terlalu cepat dewasa akibat ancaman yang membayang-bayangi sukunya. Padahal, dia adalah bagian dari generasi yang kehilangan akar jati diri, buktinya namanya pun kebarat-baratan, bukan menggunakan bahasa Quileute lagi.
***
Diam-diam di pinggir tebing berbatu karang,
diiringi deburan ombak menggapai pantai,
Edward dan Jacob duduk bersulang,
memecahkan gelas biar ramai.
Mereka sepakat untuk mengambil dua jalan,
sebelah kanan dan sebelah kiri,
semata-mata demi mengecoh lawan,
menjaga Bella dari intaian Volturi.
Semua demi Bella, dan hanya Bella,
si cewek manja egois histeris tak tahu diri.
Tentang tingkah laku tim-tim masing-masing,
ternyata kedua alay itu sama sekali tidak peduli.
***
Dan fajar pun menyingsing menyibak hari.

(5)
Tim Jacob berlaku seolah-olah mereka telah menjadi bagian dari suku Quileute, memandang tim Edward sebagai pelanggar tapal batas yang harus segera diusir dari wilayah ini. Tim Edward pun berlaku layaknya keluarga Cullen, dengan serta-merta mengernyitkan hidung setiap ada tim Jacob lewat, seolah-olah mereka telah tertular bau khas yang menjijikkan. Apakah mereka siap berdamai ketika kisah ini tamat?
***
Dalam naskah aslinya, di akhir hayat Bella jelas-jelas memilih Edward sekaligus beserta keabadiannya. Kemudian, mereka berdua menerima Jacob sebagai calon menantu. Dari satu sisi, tampak semua berakhir bahagia. Namun belum tentu demikianlah pendapat pihak yang berada di sisi lain.
Jika sebaliknya Bella memutuskan untuk tidak tertarik menjadi bagian dari mayat hidup sehingga memilih Jacob, apakah mereka berdua bersedia menyambut Edward sebagai calon menantu?
Edward berumur panjang, namun apakah ia dapat hidup tanpa Bella? Apakah ia dapat menerima putri dari Jacob, dengan bau khas yang akan membuat hidungnya mengkerut, sebagai jodoh sepanjang hayat?
***
Berbagai pertanyaan akan muncul dari berbagai kemungkinan alur yang berbeda, selanjutnya terserah Anda. Kita hanya bisa menanti dan berharap agar karya para penggemar dapat menyinari kegelapan masa depan bagaikan mentari di tengah malam.

(Penafian: Untuk menghindari kesalahpahaman bahwa saya penggemar cerita sampah dengan tokoh bernama sama, dengan ini saya tegaskan bahwa judul di atas sesungguhnya dapat diganti dengan Tim Sasuke dan Tim Naruto.)

Selasa, 27 Januari 2009

Rembang Petang

Mulai membaca karena heran sama filmnya, perasaan gak terlalu hebat. Tapi kenapa fans-fansnya segitu heboh, siapa tahu bukunya memang lebih menarik?

Twilight



Ternyata, hampir semua hal esensial yang ingin disampaikan sudah tampil di film.
Sepintas lalu, kelihatannya model kisah cinta ini menggunakan pola shojo manga, tapi ternyata bukan. Cewek mana di shojo manga yang semanja, selemah dan segeblek Bella? Sama sekali gak pantas dielu-elukan sebagai teladan.

jacobblackPerwatakan tokoh cowoknya seharusnya Byronic, tapi tidak demikian, sehingga dengan serta merta kehilangan daya tariknya.

Semula saya sangka itu salah peran di film, ternyata dari bukunya sudah kayak begitu. Apa gunanya dipasang jadi vampir kalau sok alim begini.

Masih mendingan si berondong Indian itu, gantengan... eksotis... Lebih muda sedikit bukan masalah.

Bagus juga ide tentang kulit yang berkilau pelangi. Tapi kenapa hanya sinar matahari yang membuat begitu? Lalu apa bedanya dengan lampu listrik biasa? Maksa banget, ya.


New Moon



Katanya diterjemahkan menjadi "Dua Cinta", kenapa bukan "Bulan Baru"? Jadi geuleuh. Dan uh, ketololan pasangan ini semakin memuakkan. Mungkin saya lupa, bahwa walaupun si culun Edward itu sudah hidup seabad, dia masih remaja konyol. Tapi tetap saja, Romeo-Juliet kan masih 14 tahun! Sebagai 18 ke atas, lebih dewasa sedikit dong! Romantika mati bersama kan sudah sejak lama dipatahkan oleh film Titanic (yang sebenarnya hueks juga) gituh...

Ide menyambung-nyambungkan ke dongeng zombie kali ini, bolehlah.

Bahwa si Jake berubah jadi serigala, sudah diduga sejak semula. Tapi yang mengejutkan adalah, kenapa dia sampai segitu sayangnya pada Bella? Apakah karena terlanjur kepincut flirtingnya di buku pertama? Atau hanya semangat bersaing dengan musuh bebuyutannya yang dingin dan sombong ituh?

Yang lebih menyebalkan lagi, adalah masalah rasialis yang mendasar. Ada kesan bahwa vampir-vampir penjajah ini lebih tinggi derajatnya daripada serigala-serigala yang notabene adalah penduduk asli. Huh.


Eclipse



Melanjutkan baca karena apa boleh buat, suka saja sama judulnya. Pengibaratan inti kisah cinta segitiganya dengan gerhana, cukup bisa diterima. Bacanya kebetulan juga pas dekat-dekat jadwal gerhana.

Akhirnya ada latar belakang cerita tentang anggota keluarga vampir lainnya, yang cukup dikait-kaitkan dengan sejarah dan kondisi sosial ekonomi Amrik zaman dulu. Tentang suka-duka perang sipil Utara-Selatan, tentang status perempuan, dst.

Juga kisah-kisah menarik di antara para serigala jejadian. Walaupun kurang padat!!! Aaaah! Kalah jumlah sama gombal-gombalan dan basa-basi gak penting di kepala abg ini. Kerumitan yang terjadi dalam hubungan antarserigala di dalam gerombolan serigala bagi saya sangat jauh lebih menarik daripada vampir-vampir yang membosankan itu. Tapi entah kenapa, mungkin karena terhanyut akan keserigalaannya, Jake semakin licik lihai seakan big bad wolf.


Breaking Dawn



Jilid yang ini rasanya agak lebih kaya akan teori-teori pervampiran khas seri ini, dan biarpun sepintas lalu, cukup menyingkap hal-hal yang terkesan agak lebih, apa ya, global gituh... Setidaknya Drakula asli Rumania muncul juga sebagai figuran... Vladimir dan Stefan? Pasangan Waiting for Godot kali ye.

'Logika dalam'nya cukup jalan, dan si Bella selalu tahu memanfaatkan orang yang mana untuk setiap kepentingannya; ternyata itulah kelebihannya, ya. Juga baguslah, definisi tentang serigala jadi-jadiannya diklarifikasi. Betul, itu mah bukan werewolf ateuh. Pakailah istilah lain.

Penyelesaian cinta segitiganya kayak Legenda Suriyothai... Banyak masalah yang selesai dengan hanya melakukan simulasi pikiran. Yang ini cuma layak dibaca di buku, karena kalau difilmkan, pasti yang ditampilkan justru aksi kekerasan setingkat Dragonball. Atau, seperti kata Yuni, Angling Dharma.

Saya suka bagian tengah-tengah yang dilabeli "buku Jacob", karena gaya cerita dan perwatakan para serigalanya asyik, gaul, gue banget. Judul bab bagian ini panjang-panjang tapi bagus-bagus. Seperti
10. WHY DIDN'T I JUST WALK AWAY? OH RIGHT, BECAUSE I'M AN IDIOT.

atau
17. WHAT DO I LOOK LIKE? THE WIZARD OF OZ? YOU NEED A BRAIN? YOU NEED A HEART? GO AHEAD. TAKE MINE. TAKE EVERYTHING I HAVE.


Geli juga tentang apa yang akhirnya bikin Bella kalap sama Jake...
"You nicknamed my daughter after the Loch Ness Monster?" I screeched.
And then I lunged for his throat.


Buku ini cukup mengusahakan semacam teladan bagi pasangan-pasangan muda untuk berani menikah dini sesuai anjuran agama.
Taaaapi-tapi-tapi... Entah kenapa kalau coba-coba diasosiasikan dengan dunia nyata, ini malah seakan menjadi panduan terhadap istri-istri berusia muda yang rela menerima KDRT dengan alasan klise yaitu cintrong? Walah-walah-walah, mengerikan. Jangan ditiru ya, anak-anak!!!


Midnight Sun



http://www.stepheniemeyer.com/midnightsun.html

Judulnya cukup puitis tapi aneh: Di buku-buku sebelumnya, "matahari" jelas-jelas adalah perumpamaan Jacob oleh Bella, sementara di sini digunakan sebagai perumpamaan Bella oleh Edward. Masa gak ada istilah lain ya? Komet, kek gitu. Atau, supernova. Atau, apalah.

Draft ini hanya menegaskan kecurigaan saya pada perwatakan si Edward culun yang sok alim dan dituduh sempurna ituh. Berlagak terlalu baik! Selera abg-abg miihaa. Tidak sebagaimana seharusnya seorang vampir. Kalah charming dari Lestat. Apalagi Vlad Dracul. Bahkan mendingan si Anton drakula cilik. Atau Edward Rochester!!!

Sesungguhnya gak perlu diterbitkan, karena kesan saya sih kurang cowok. Kalau beredar gratisan boleh-boleh saja lah kali ya, tapi gak pantas dijual.

Sisi bagusnya: Yah, sementara ini alurnya masih sinkron dengan buku pertama. Ketelitian yang patut dihargai, karena jarang ditemui pada penulis ngepop setingkat ini... apalagi di Indo.


Catatan lain:
Ketertarikan pengarang terhadap model-model otomotif yang ditampilkan melalui selera masing-masing tokoh terhadap mobil mereka, terasa mengada-ada. Satu-satunya alasan yang dikemukakan adalah bahwa vampir itu pada dasarnya pemangsa yang biasa bergerak cepat, sehingga gemar dengan percepatan. Andaikan saja ditelusuri lagi beberapa latar belakang yang sesuai, bahwa mereka tidak perlu bernafas, sehingga tidak terlalu peduli dengan polusi udara, misalnya, mungkin lebih pas.

Okelah, buku-buku ini ditulis dengan cukup teratur, tapi terlalu tebal untuk menyampaikan cerita yang agak kosong melompong. Seharusnya masih bisa diringkas lagi... Atau mungkin ini adalah cerminan dari anak remaja zaman sekarang.

Selasa, 23 Oktober 2007

On the G Way

Suatu hari sebelum buku 7 keluar...
Miss N, seorang abege sebelah kubik saya senyam-senyum bertanya, "Kanti, menurut elo mendingan mana, Harry-Ginny atau Harry-Hermione?"
K: "Lho, bukannya itu udah tersirat jelas di ceritanya?"
N: "Yang gue tanya itu preferensi elo, elo shippernya siapa..."
K: :"Ah ga rame lagi kalee, shipper-shipperan... Hmmm saya mah cuma peduli sama bagaimana Prof Snape bakal memulihkan nama baiknya... Hmmm yaa paling juga saya cenderung Severus-Sirius shipper. Saya rasa ada cinta bertepuk sebelah tangan makanya Sev sirik ama James gitu loch... Ketika Harry muncul, Sirius seakan mendapat pengganti, tambah siriklah dia..."
N: "..." (ngambek)
K: (menyadari kesenjangan generasi, berusaha menyamakan level) "Atau... atau apakah Draco ngeceng Harry makanya sebel ama Ron yang ngerebut duluan..."
N: "..." (tambah ngambek)
K: "..." ;p


Ya, saya juga sudah pernah menebak-nebak siapa tokoh yang gay di dalam buku Harpot, pertamanya saya menuduh Sirius atau Severus. Memang tidak pernah menduga itu adalah Albus.
Yes, so it's official honey, dear old APWBD is gay.
Dan ketujuh tanda-tandanya bisa dilihat di sini.
  1. Jenis hewan piaraan beliau.
  2. Anagram dari nama beliau.
  3. Selera berbusana beliau.
  4. Kehalusan perasaan beliau.
  5. Keterbukaan dan toleransi beliau terhadap segenap ras.
  6. Kemiripan beliau dengan Leonardo Da Vinci.
  7. Betapa sedikitnya orang yang menyadari beliau gay.

Saya memang cenderung mengabaikan tindak-tanduk orang bijak. Selama ini saya menyangka di masa mudanya Dumbly pernah punya kisah kasih dengan kaptennya Hollywood Harpies atau apalah...
Lev Nikolajevič TolstojSemacam Lev Nikolajevič Tolstoj, yang melampiaskan segenap hawa nafsunya di masa muda dan memperoleh segalanya: istri yang cantik dan cerdas, 13 orang anak, kekayaan dan ketenaran (selebriti internasional!), menginspirasi orang-orang hebat lainnya (Gandhi dkk) namun di masa tuanya berusaha menjadi 'nabi' yang bijak, bertapa dari segenap daya tarik dunia (termasuk keluarga sendiri), demi mencari kebahagiaan abadi... Lagian janggut Dumbly mirip pun dengan beliau, ya kan.

Tapi ternyata, persamaan beliau bukan terhadap Oom Lev NT tersebut, melainkan terhadap Oom Leo yang satu lagi (lho memangnya Oom Leo DV itu gay???)

Sebenarnya saya tidak peduli, tidak kaget seperti waktu beberapa tahun lalu membaca kisah si Ageha dalam manga BASARA. Dan seputar tokoh fiktif lainnya, toh salah satu manga kesayangan saya adalah Eroica yori Ai wo Komete. Yang saya heran, mengapa hal itu tidak dituliskan oleh JKR secara terang-terangan di dalam bukunya? Apakah memang masih tersensor, dianggap tidak kontekstual, atau memang rencananya akan diungkapkan setelah buku terakhir laris manis sehingga dampaknya lebih luar biasa?

Jangan-jangan kalau mau menjadi orang (pengarang) yang bijak, harus melewati fase 'berbeda' dan 'tidak normal' dalam kehidupannya, untuk mencapai suatu pemahaman yang visioner. HC Andersen dan Oscar Wilde, para pengarang dongeng-dongeng yang sangat menginspirasi saya di masa kecil, ternyata juga dituduh gay.

Menurut dokter Taiwan yang menangani masalah AIDS, mereka punya tanda-tanda khusus. Waktu SMA, banyak juga cowok angklung yang saling menuding ke-gay-an mereka, tapi mungkin itu sekadar gurauan, karena mereka terlalu banyak bergaul dengan cewek. Tentu beda lagi yang namanya gay dengan 'kecewek-cewekan', lemah gemulai, panci, ataupun perubahan gender. Dan mungkin jatuh cinta dengan sesama jenis punya dimensi lain lagi masalahnya dengan penyimpangan seksual.

Saya sendiri belum tahu seberapa mampu saya bertenggang rasa dengan kalangan itu di kehidupan sehari-hari. Namun saya tahu rasanya dianggap tidak normal (hanya karena kidal) dan toh manusia masa kini sudah terbiasa hidup mengesampingkan kisah Nabi Luth sebagai sekadar dongengan masa kanak-kanak, bahkan kabarnya beberapa alur pemikiran Islam tertentu berusaha mencari celah untuk menerima kenyataan akan adanya orang gay yang Islam, misalnya. Kita sudah menelan film-film hollywood bahwa gay itu adalah women's best friend. Tentu saja: kebanyakan mereka beredar di dunia kreatif, dan lebih termarjinalkan daripada perempuan pada umumnya, sehingga akan sangat sensitif, serta punya toleransi besar terhadap histeria, sindrom dan segenap gangguan hormonal perempuan. Siapa pula yang bakal menolak punya sahabat sekeren Rupert Everett? (Eh nolak juga kali ya)

Saya sih malah merasa agak lebih nyaman berteman dengan cowok, karena merasa enggak ribet; lebih logis, dan kalaupun mereka emosional justru bisa jadi sasaran ledekan, idih kok kayak cewek aja! Tapi kemachoan cowok pun tidak bisa menjadi jaminan, teori itu sudah runtuh di film Brokeback Mountain misalnya. Nah, masalahnya: saya belum pernah memperhatikan, apakah ada yang tersinggung ataupun tersungging dengan bahasan saya ini? Apakah ada di antara lingkaran pergaulan saya rekan yang gay, atau merasa gay, atau berniat mengaku-aku gay? Kalau ternyata ada, mohon maafkan ketumpulan saya, dan tolong ngacung yaaa!

Kamis, 05 Januari 2006

Ghibli: Ged Senki



Selamat Ulang Tahun kakek Miyazaki Hayao. Adakah masih terjebak untuk berkarya, setelah melontarkan aneka filosofi mengenai "usia tua" di Howl no Ugoku Shiro? Atau akhirnya sudah berhasil mengadakan regenerasi?

Mengintip studio Ghibli, ternyata sudah dihebohkan proyek baru akan luncur Juli 2006, yang ternyata disutradarai oleh putra si kakek itu sendiri. Tentang: oho, naga.
Tagline:
"Awalnya Manusia dan Naga adalah Satu. Manusia memilih Tanah dan Laut, Naga memilih Angin dan Api."
Pendukung:
blog catatan produksi dan blog catatan sutradara.
Oke deh, baca-baca dulu.

Nusantara Earthsea


earthseaKabarnya banyak pembaca yang mengasosiasikan Earthsea Archipelago dalam karya Le Guin dengan Indonesia.
Secara beliau juga gemar mempelajari karya-karya Clifford Geertz dkk, yang sering meneliti kondisi sosial budaya Nusantara.

Sang pengarang sendiri, menanggapi hal itu, hanya berkomentar: "I think we all have archipelagoes in our minds."


Proyek animasi terbaru Studio Ghibli untuk Juli tahun ini, adalah pertama kalinya karya terbaik dari pengarang Ursula K. Le Guin yang dianggap sebagai tiga besar fantasi, sederajat Lord of The Rings dan Chronicles of Narnia, yaitu Earthsea Cycles (terbit sekitar 1970), difilmkan. Kisah yang disorot akan mengutamakan buku jilid ketiga, The Farthest Shore.
Dua jilid sebelumnya telah dijadikan miniseri di akhir 2004, yang oleh sang pengarang dikeluhkan gagal merepresentasikan tokoh-tokohnya sesuai ras, apalagi beliau berlatar belakang antropologi dan sangat menentang "pemutihan" film (Oh, secara ini zaman dimana aneka film horor Jepang di"cuci" ulang di Hollywood).
Sang tokoh utama, Ged, seharusnya berwarna kulit merah kecokelatan.
Selain trilogi ini, ada tiga jilid lanjutan bernuansa feminisme yang diterbitkan sekitar tahun 90an-2001.
Selain itu Le Guin terkenal dengan karya-karya SFnya, dan penerjemahan Lao Tzu: Tao Te Tching: A Book About The Way And The Power Of The Way yang sangat mempengaruhi pemikirannya, termasuk dalam penulisan trilogi tersebut.
Ged Senki alias Tales of the Earthsea ini juga debut pertama Miyazaki Goro (38), putra tertua Miyazaki Hayao (65) sebagai seorang sutradara film animasi mengikuti jejak ketenaran sang ayah.
Sebelumnya ia menjabat direktur Museum Ghibli Mitaka no Mori, namun belum pernah terlibat sama sekali dalam pekerjaan studio.
Yang menarik, ia membandingkan pengalamannya melatih diri dan menghadapi tantangan dari orang sekitar ketika menyelami pekerjaan baru ini, dengan tahapan yang dialami sang tokoh utama, Ged, dalam trilogi ini (bisa dibaca di blog resminya, sementara terjemahan Inggrisnya bisa diakses melalui situs ini kalau kesulitan bahasa).





Salinan dari Yomiuri Online (12/26): Wawancara dengan produser Suzuki Toshio di sebuah Ruang Rahasia dekat studio, tempat dirumuskannya proyek tersebut.


---Mengapa sekarang, "Earthsea"?

Awalnya ini adalah karya yang dibaca dengan sangat bersemangat oleh
Miya(zaki Hayao)-san. Terpengaruh, saya juga ikut membaca, dan jauh sebelum mengerjakan Nausicaa (1984) sudah terpikirkan untuk memfilmkannya. Berbeda dari kisah petualangan atau fantasi umumnya yang mengisahkan seorang tokoh memperoleh kekuatan atau sihir dan memerangi musuh-musuhnya, dalam karya ini yang diperangi adalah "diri sendiri". Hal ini punya dampak besar. Pada titik penggambaran konflik dengan diri sendiri ini, jika tidak ada Ged Senki, seri Starwars jangan-jangan juga tidak ada.

---Apakah saat itu tidak berusaha untuk memfilmkannya?

Sebenarnya pernah sekali menegosiasikannya, namun gagal. Tampaknya dari berbagai penjuru berhamburan tawaran seperti ini namun tidak ada yang disetujui sang pengarang. Jika saat itu kami diizinkan mengerjakannya, mungkin
Nausicaa malah tidak ada. Tiga tahun yang lalu, melalui Shimizu Masako yang menerjemahkan karya ini ke bahasa Jepang, Le Guin melihat karya Miyazaki, dan mengatakan ingin meminta beliau memfilmkan karyanya. Bagi saya ini adalah kesempatan yang baik, namun Miya-san bimbang.

---Mengapa?

Saat itu kepalanya telah penuh dengan
Howl, dan waktu telah lama berlalu sejak ia ingin mengerjakannya, dan kini berpikir “apakah saya yang sekarang masih bias?” Hanya saja, saya justru ingin memfilmkannya di zaman ini. Sejak sebelum dibicarakan dengan Shimizu-san, ketika kebetulan membaca ulang, saya merasa buku jilid 3 sesuai sekali dengan keadaan masa kini. Saya rasa “perasaan nyata” yang semakin menipis, bisa dilukiskan.

---Perasaan nyata?

Kalau melihat pendapat publik, persetujuan menaikkan pajak semakin meningkat, politik mempertanyakan kepada rakyat mengenai swastanisasi pelayanan pos ataupun perubahan undang-undang, hal yang seperti ini tidak saya pahami. Ini adalah urusan politisi, dan semuanya berhubungan dengan tali yang mencekik leher sendiri. Dengan kata lain, saya rasa “rakyat” dengan perasaan nyata mulai lenyap. Yah, ini berkaitan dengan apa yang akan diungkapkan oleh
Goro-kun dalam film, maka saya cukupkan sampai di sini dulu.

---Lalu mengapa, Goro-san yang dipilih sebagai sutradara?

Asumsinya, ini adalah masalah masa depan
Ghibli.
Takahata Isao telah berusia 70 tahun. Miyazaki Hayao sebentar lagi 65 tahun. Berdua jumlahnya 135 tahun, ditambah saya, jadi mendekati 200 tahun, yahahahaha. Kalau begini terus, riwayat Ghibli akan tamat. Namun, niat awalnya saya ingin memproduksi film dari kedua orang itu, sehingga sudah bisa dibilang cukup puas. Di sudut hati saya ada pikiran "sudahlah sampai di sini saja", namun ada tanggung jawab terhadap orang-orang muda studio. Walaupun Miya-san memang jenius dalam berkarya, namun payah dalam mengajar. Ketika didudukkan di kursi asisten, hal ini segera ketahuan. Sedikit-sedikit menegur dari samping, sehingga kebanyakan orang menjadi gugup. Baik pengerjaan Majo no Takkyubin (Kiky's Delivery Service, 1989) juga, Howl kemarin ini juga, semula rencananya diserahkan pada orang lain sebagai sutradara, namun akhirnya dikembalikan ke beliau lagi. Dalam proses pembuatan film pun pemandangan seperti itu beberapa kali saya pergoki. Tentu beliau tidak bermaksud buruk, namun orang yang mulas-mulas dan berhenti hadir pun ada, yahaha. Maka terpikirkanlah keberadaan Goro-kun, kalau dia disempilkan di tengah, mungkin bisa berjalan dengan baik.

---Tapi, ia tidak berpengalaman membuat animasi ya.

Hal itu tidak saya permasalahkan. Ia mengerjakan museum dengan berdasarkan gambar imaji Miya-san, walaupun memiliki pengalaman di bidang pertamanan, belum pernah mengerjakan arsitektur sebelumnya. Yang penting, asal bisa melakukan pengamatan, siapa pun bisa melukis. Ketika saya mengerjakan majalah bulanan
Animage, untuk cacatan setelah mengedit saya menyuruh editor yang biasanya tidak pernah menggambar, untuk membuat potret diri. Semuanya awalnya mengatakan tak bisa, namun setelah mulai mengamati wajah sendiri dengan hati-hati, bisa menggambarkannya sampai akhir. Tambah lagi, ada kekuatan dari keseriusan mereka. Goro-kun sering menggambar karikatur di tengah rapat, maka dengan kemampuan mengamati itu saya yakin ia bisa melukis juga.

---Apakah ketertarikan Goro-san terhadap animasi sudah ada sejak dulu?

Saya tidak tahu. Biasanya ia tidak suka bekerja di dekat ayahnya, namun entah di mana tentu ada ketertarikan terhadap pekerjaan orang tuanya. Ketika ia menerima pekerjaan museum Ghibli, hal itu saya rasakan.

---Mengapa pada pendirian Museum Ghibli, Goro-san dijadikan sasaran?

Saya kenal dia sejak SMP, tapi ketika jumpa lagi di saat pemakaman kakeknya, ia menyapa, "Saya Goro" dengan meninggalkan kesan mendalam: menatap pasti, tanpa menjatuhkan pandangan. Ketika muncul rencana pendirian museum, entah kenapa wajahnya muncul. Kepada Miya-san saya tanyakan bagaimana kalau Goro-kun disuruh mengerjakannya, beliau berkata "Kalau Suzuki-san meyakinkannya dan dia setuju, apa boleh buat." Maka saya menugaskannya.

---Apa jawaban Goro-san?

Dalam dua balasan ia setuju. Ketika telah dikerjakan, ada dua hal yang membuat saya ingin berterima kasih. Satu, setelah menyelesaikan museum, ia bahkan berhasil juga menyelenggarakan manajemennya. Satu lagi, ketika ada imaji Miya-san yang wagu, dengan tegas dia tidak menerimanya. Hal ini saya piker sangat bisa diandalkan. Sambil melihat kekuatannya mewujudkan pemikirannya sendiri, jangan-jangan dia juga bisa mengerjakan film. Ketika muncul pembicaraan mengenai Ged Senki, saya tanyakan padanya "kalau memikirkan masa depan museum, masa depan studio tidak bisa diabaikan. Bagaimana kalau kamu ikut proyek ini?" Segera ia jawab "Oke, karena berkaitan dengan museum." Maka untuk menetapkan proyek, Goro-kun bersama beberapa orang berkumpul di ruangan ini, bulan Oktober 2003.

---Saat itu dia belum ditetapkan sebagai "sutradara"?

Ya. Setelah itu, di saat garis besar isi proyek telah dipastikan sampai titik tertentu, dan mulai memasuki tahap persiapan yang sebenarnya, saya bicarakan kepada Miya-san "ingin menjadikan Goro-kun sebagai penasihat." Beliau sangat menentangnya. Ketika dibicarakan dengan orang studio, mengenai keikutsertaannya juga ada perbedaan pendapat. Akhirnya ketika lempar kiri kanan siapa yang menggambar sketsa, akhirnya Goro-kun yang ditunjuk.

---Bagaimana mulai menggambar?

Pertama-tama, saya suruh ia melakukannya dengan meniru. Letakkan contoh sketsa sang ayah di samping, dan kalau ada potongan yang diinginkan, itu dijadikan referensi. Lalu pekerjaan ini saya suruh lakukan secara terang-terangan di depan orang. Selain itu, dari pemikirannya sendiri juga, berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari Pameran Pixar di museum Ghibli, ia menggunakan teknik menggambar di kartu, mengecilkan dengan fotokopi dan menempelkannya.

---Kesan terhadap sketsa yang telah jadi?

Wah daripada saya, lebih baik memperkenalkan ucapan orang lain. Animator terkenal OtsukaYasuo (seri Lupin generasi III) menyetujui bahwa "sebagai film ini hebat sekali" ketika saya beritahu bahwa "Ini buatan Goro-kun", dia terkejut dari dasar hatinya, "Wah anak katak memang katak juga…" Lalu, ketika diperlihatkan pada Anno (Hideaki, Gainax, animator Nausicaa dan Shinseki Evangelion), mengetahui bahwa Goro-kun berusia 38 tahun, ia menggulung lidah "Mengapa tidak lebih cepat memulainya!", dan, "ini memang sepenuhnya anime cap Miyazaki ya".

---Tanggapan dari sutradara Hayao?

Tidak melihatnya. Terhadap pemanfaatan Goro-kun sebagai sutradara, ia melontarkan pendapat "Suzuki-san pasti kesambit sesuatu," dan marah: "tak mungkin anak itu bisa menjadi sutradara. Menggambar pun tidak pernah, anak itu tak tahu apa-apa." Di situ, saya perlihatkan poster karya Goro-kun yang menggambarkan
naga dan Arren yang saling berhadap-hadapan. Dan beliau terdiam. Itu adalah sudut kamera dari samping yang tidak pernah dipakai oleh Miya-san. Selembar lukisan memang punya kekuatan sedemikian rupa. Dan saya menegaskan akan melanjutkan proyek ini, dan beliau hanya terbengong-bengong beberapa saat.

---Apakah dengan demikian masalahnya beres?

Tidak juga. Bulan Juni kemarin, ketika akan meminta persetujuan Le Guin mengenai "akan mengerjakan dengan isi seperti ini", suatu hari saat suasana hati Miya-san sedang bagus, saya minta "Tolong gambarkan selembar", dan ia gambarkan kota untuk latar film, namun setelah itu "Seharusnya saya tidak menggambarnya," dengan penuh penyesalan. Yahahaha. Tapi, akhirnya, yang pergi meminta persetujuan adalah Miya-san.

---Bukan Goro-san?

Awalnya direncanakan begitu, namun menurut Miya-san "Itu aneh." Kalau sutradara punya waktu, seharusnya selembar pun lebih banyak menggambar. Untuk mengurus izin ke pengarang adalah tugas produser. Maka saya usulkan "Kalau begitu ayo Miya-san pergi sama saya." Bimbang dengan perkembangan yang tidak disangka, ia terbujuk juga, "sebagai penggemar berat Le Guin, baiklah saya akan pergi".

---Bagaimana keadaan pertemuan?

Kepada Le Guin saya sembunyikan bahwa Miya-san akan ikut. Lalu, ketika saya perkenalkan Miya-san sebagai "Inilah Miyazaki Goro". Dia tertawa, "Sudah lanjut usia ternyata ya." Sejak masuk ruangan saya rasa ia sudah menyadari yang sebenarnya, namun tidak menyinggungnya sama sekali. Jadinya menghangatkan suasana.

---Apakah negosiasi berjalan lancar?

Banyak hal yang terjadi. Sebab beliau menginginkan karyanya difilmkan oleh Miyazaki *Hayao*. Pertama-tama Miya-san bilang, "Hari ini biarkan saya yang bicara," dan meluapkan segala perasaan beliau terhadap
trilogi Earthsea. "Ged Senki selalu saya letakkan di bawah bantal. Tak pernah lepas sesaat pun. Ketika bingung, bermasalah, berkali-kali buku ini saya baca ulang. Saya akui, semua karya sejak Nausicaa sampai Howl terpengaruh oleh buku ini. Untuk memfilmkannya, di dunia ini tentu tidak ada orang yang lebih tepat daripada saya."

---Lalu bagaimana?

Kemudian, "Hanya saja," tambahnya, "andai pembicaraan ini muncul sejak 20 tahun yang lalu, saya akan segera mencaploknya. Namun sekarang saya sudah berumur. Saat ini, Putra saya dan stafnya berkata ingin mengerjakannya. Andai mereka bisa menampilkan daya tarik yang baru, bukankah itu bagus juga?" Dan menutup dengan, "Mengenai skrip akan saya pertanggungjawabkan secara penuh. Kalau dibaca payah, akan segera saya hentikan."

---Tanggapan dari Le Guin?

Kalem ya. Apakah ini bedanya orang Jepang dengan orang Amerika, sangat logis. Beliau berkata, "
Ada tiga pertanyaan." Pertama, "Saya dengar yang akan difilmkan berpusat pada jilid 3, tokoh yang muncul adalah Ged yang sudah setengah baya. Bukankah justru sesuai dengan anda yang sekarang?" Kedua "Anda menyatakan siap mempertanggungjawabkan penuh pekerjaan Goro, apa maksudnya?" Ketiga, "Kalau tidak bagus akan dihentikan itu apa maksudnya, bukankah hari ini anda kemari meminta persetujuan memfilmkannya?" Mendengar itu Miya-san menoleh pada saya dengan wajah bingung, "Apakah saya salah bicara?"

---Apa jawaban anda?

Saya menjawab "Beliau bertanya, apakah pertanggungjawaban penuh itu berarti akan menjadi produser film ini?" Dan Miya-san tiba-tiba di hadapan Le Guin berteriak, "
Ini bukan lelucon! Ayah dan anak berderet namanya di satu film, hal memalukan seperti itu tidak bisa saya lakukan!" Ia orang yang blak-blakan.

--- Pembicaraan jadi rumit.

Bagi orang Amerika itu tidak bisa dipahami, yahahahaha. Ketika bingung bagaimana jadinya, putranya
Theo mengengahi dengan mengajak makan. Theo pernah mampir ke Jepang sebelum negosiasi, mengobrol macam-macam dengan saya dan Goro-kun, sehingga mendukung kami. Dugaan saya, sebagai sesama putera dari orang hebat, mungkin mereka saling sambung rasa.

---Akhirnya?

Persetujuan dicapai sebelum makan malam.

---Bagaimana keadaan setelah itu?

Sekarang pun masih kacau balau. Mereka berdua hampir tidak saling bicara. Sampai kemarin Miya-san mengerjakan film pendek untuk museum di lantai yang sama, namun walaupun suara masing-masing terdengar satu sama lain, tidak ada usaha untuk saling menghubungi. Bahkan jika di dalam ruangan hampir berselisih jalan, mereka saling menghindari sampai berbalik arah.

---Bagaimana mencantumkan kredit untuk sutradara Hayao?

Wah bingung. Dalam keputusasaan, terpikirkan usul yang unik dan ajaib. Misalnya,
*********************************
"
Ayah... : ... Miyazaki Hayao "
*********************************
Yahahahaha…

Sambil mendengarkan ini, jadi terkenang film Porco Rosso (1992). Ketika direktur pabrik pesawat yang berwajah mirip produser Suzuki diminta memperbaiki pesawat , ia memperkenalkan Fio seorang perancang wanita muda. Kepada Porco yang berusaha menolak, sang perempuan bertanya, apakah yang penting pengalaman? Porco menjawab: "Inspirasi."
----------------------------------------(Kenichi Yoda)

Rabu, 16 November 2005

Konsekuensi Skenario

Karena kepalang know by heart segenap ceritanya (maklum, dibaca justru di saat kritis menghadapi ujian musim panas tingkat... 3???, yang terhafalkan malah buku gak penting ini, so typical lah) maka ketika setiap hal yang kunilai penting ternyata tidak ditampilkan, sungguh mengesalkan. Intrik yang terlalu berbelit njelimet memang sulit divisualisasikan dalam jam tayang yang sesingkat itu, namun kadang terasa justru hal kecil yang terperincilah intisari yang berdaya tarik dari cerita ini, bukan kerangka besarnya.
Yang menorehkan luka cukup menganga ketika terlewat antara lain: taruhan si kembar, SPEW dengan pinbadgenya, para pegawai di balik dapur kampus, godfather yang rela hidup dari tikus, antara kebijakan pers dan pengorekan berita secara ilegal, the true meaning of "bugging", sikap ayah Cedric yang gemar memperbandingkan anaknya, Ron yang akhirnya minta tanda tangan juga pada sang idola... Apalagi, kebanyakan merupakan jalinan yang mengikat cerita ke buku berikutnya.
Sepantasnya, bila memang tak bisa true to the book, buat sebuah ikatan khas film yang lain sendiri, tapi muncul terus di seluruh sequel. Namun itu pun tak berjejak.
Jangan-jangan itu sebabnya si Steve Kloves menyerah di sequel kelima. Terlalu banyak lubang yang ia buat! Eiii, pertanggungjawabkan dong sampai kalimat penghabisan!

bambuhotter
(a few months ago,
on some silly launching event;
ms.ravenclaw
and
ms.slytherin)


Update: 11/23 Hogwarts Muslim Students Association.
Bagi rekan-rekan yang (setidaknya merasa) satu generasi dengan saya, yang masih mempertahankan (atau terjebak pada) identitas Islam di tengah globalisasi, apalagi bagi yang berpengalaman sebagai minoritas di negeri asing, dijamin bisa sambung rasa pada situs tersebut.

Sabtu, 08 Oktober 2005

Maruzen dan Lemon

Maruzen, nyaris satu-satunya toko buku tempat nongkrong memandangi buku-buku berbahasa asing di Kyoto, berdiri sejak 1869 sebagai toko barang-barang impor.
Entah karena kondisi perekonomian Jepang yang semakin parah, atau karena terlalu banyak pesaing di sepanjang jalan Kawaramachi yang kini ditempatinya, Maruzen Kyoto menyatakan akan tutup 10 Oktober ini. Sebuah cabang baru dibuka di Shinsaibashi, Osaka, dan sementara ini belum jelas rencana pembukaan kembali di Kyoto, walaupun fasilitas onlinenya akan tetap beroperasi. Selama sebulan kemarin, tiga lantai teratas digunakan untuk mengadakan obral besar-besaran dari dasi sampai karpet persia... Sayangnya, bukan buku.

kajiimotojiroukasamaruzen

Uniknya, Maruzen pernah tampil dalam Lemon, sebuah cerpen karya Kajii Motojiro, seorang pelopor sastra moderen Jepang yang pada 2001 lalu dirayakan seratus tahunnya.
Dalam kisah yang lucu sekaligus miris ini, sang tokoh harus bergelandang dari rumah kos teman yang satu ke yang lainnya, penyakitan, terlibat utang dan mati rasa, namun tak mau mengakui bahwa semua itu menjadi penyebab keresahannya terhadap kehidupan. Kesengsaraannya tiba-tiba terlipur dan tersucikan ketika menggenggam buah unik yang dibelinya di persimpangan Nijo-Teramachi (toko buah ini masih ada sampai sekarang). Lalu ia mampir di Maruzen, tempat yang sebelumnya menjadi sumber kenikmatan dengan memandangi botol-botol kristal minyak wangi. Ia mulai menumpuk-numpuk buku seni yang kini menyebalkan baginya itu, dan tiba-tiba terilhami untuk meletakkan sang lemon ini di atas tumpukan buku itu, lalu kabur menyusuri gang Teramachi sambil membayangkan bahwa itu adalah bom granat yang akan segera meledak...

Selengkapnya, kalau berniat membaca, bisa diakses di sini.

Kajii Motojirou,
Lemon




Yang menarik bagiku sebagai penggemar segala yang asam, sampai kini, Maruzen selalu menyediakan lemon di dekat kasirnya, untuk siapa saja yang berniat menapaki jejak sang tokoh dalam cerpen tersebut... Sebagai kenang-kenangan, sebuah stempel buatan Sachihata bergambar lemon di atas tumpukan buku tersedia untuk dicapkan ke kumpulan cerpen Kajii Motojiro. Yang punya buku ini, silakan segera bawa ke Kawaramachi untuk dicap, mumpung besok masih buka...

lemonstamp

Selasa, 30 Agustus 2005

Sejarah Dongeng, Dongeng Sejarah

Ingat masalah protes terhadap buku sejarah Jepang?
lihat situs Japan Society of History Textbook Reform
Kutip:
Banyak yang berpikir bahwa mempelajari sejarah adalah untuk mengetahui rentetan peristiwa masa lampau.
Sebenarnya tidak demikian!!!
Mempelajari sejarah, adalah mempelajari cara berpikir orang-orang masa lampau mengenai peristiwa masa lampau.



Lalu, memangnya siapa sih yang suka belajar sejarah? Hampir selalu terdengar keluhan kebencian... Saya suka (mungkin di kelas hanya saya yang mendengarkan dongengan bapak dan ibu guru dengan baik), tapi rasa suka itu tidak tercetus melalui kurikulum sekolah.

Mungkin seperti yang Oda Eiichiro bilang:
Bajak laut yang saya kagumi di masa kecil, ternyata tidak tercantum dalam catatan sejarah masa lampau. Mungkin petualangan mereka sedemikian menyenangkan, sampai-sampai lupa meninggalkan nama ke generasi selanjutnya.
Inilah sebabnya mengapa jenis manusia bernama bajak laut itu menyusahkan.


Bukti sejarah yang terawat rapi tentunya milik penguasa karena mereka punya istana. Bukti tersebut juga bisa saja diada-adakan atau lenyap seiring berlalunya waktu.
Dulu tahun 99 atau 2000 (?lupa) ada arkeolog Jepang yang sengaja memasukkan benda tiruan ke lokasi penggalian, supaya kelihatan menghasilkan sesuatu.
Tapi lepas dari ada tidaknya bukti sejarah, penggalian bukti-bukti itu juga tergantung pada keberpihakan sang ilmuwan sejarah.
Seperti apa yang dialami Laksamana Chengho kemarin ini. Michael Yamashita, fotografer yang meliputnya di NGS keliling Asia Afrika, punya misi mengangkat peradaban Asia, karena ia sebagai orang yang lahir di Amerika butuh kebanggaan identitas.
Masih untung, dia berusaha jujur, selama belum ada bukti yang bisa diandalkan mengenai penjelajahan Chengho ke Amerika dan Australia, dia melarang rekan penulisnya yang bersemangat mencantumkan teori tersebut.

Bagaimanapun juga cara berpikir orang masa lampau paling mudah dilihat dari dongeng yang mereka nikmati, sejak mewariskan pandangannya tentang hidup melalui mitos dan legenda dari mulut-ke-mulut, sampai menuliskannya seperti yang dilakukan Homerus dan Valmiki...
Maunya sih membahas dongeng "Indonesia" juga, tapi baiklah kita mulai dengan dongeng-dongeng Eropa yang sudah mendunia. Setelah fiksinisasi peristiwa di balik kisah Peter Pan, kini Miramax menggebrak lagi dengan film "dongeng" fiksinisasi mengenai Brothers Grimm.

brogrimmDua saudara ini sebenarnya hanyalah profesor akademisi sastra yang berjasa mendokumentasikan sisa tradisi mulut-ke-mulut cerita rakyat di sepanjang maerchenstrasse: Cinderella, Putih Salju dan kawan-kawan: ternyata mereka pun sudah cukup melakukan editing dari cerita aslinya yang parah, penuh kekerasan dan sering rasialis abiss (banyak antisemit), dan kemudian yang sampai ke anak-anak masa kini pun, rata-rata yang sudah diperhalus lagi oleh saduran-saduran ala Disney.

National Geographic's Brothers Grimm
Museum Grimms di Kassel

Surlalune memuat beberapa versi perancis (yang lebih sopan?) dari dongeng-dongeng peri tersebut, diberi anotasi, dikaitkan dengan suasana zaman itu, sindiran yang terselubung di dalamnya, dan voila, kita bisa belajar sejarah dari dongeng peri-peri.

Hans Christian Andersen (pengarang Ugly Duckling, Emperor's New Clothes dan Little Mermaid) juga dirayakan tahun 2005 ini.

Film-film lain yang terkait:
- The Big Fish
- A Series of Unfortunate Events

Fantasi sihir yang dipakai sebagai latar belakang kebanyakan dongeng, sering mengundang kontroversi, ditakutkan akan merusak akidah.
Apakah ini semacam "pelarian" si sastrawan karena keengganan memikirkan hal-hal yang nyata? Boleh saja dibilang pelarian. Kemajuan teknologi adalah wujud kemalasan manusia, pelarian dari keharusan untuk mengerahkan tenaga, tulang dan otot dalam batasan biologis. Menulis adalah pelarian dari ketidakmampuan melakukan perubahan dengan tindakan (dalam kasus ini, demikian juga dengan berdoa) Dan bukankah pelarian adalah DASAR PERTAHANAN dalam bela diri? Maka, ayo kita lari.
Tapi apakah ini wujud keengganan memikirkan hal-hal yang nyata? Saya rasa tidak.

Hampir semua film Ghibli rata-rata berkisar mengenai kehidupan paralel dengan makhluk selain manusia, perlindungan terhadap lingkungan. Unsur magis, makhluk halus, ditampilkan seperti apa adanya, justru bisa mencerahkan mengenai bagaimana penganut animisme memandang kehidupan, sehingga kepercayaan tersebut bisa membawa mereka lebih menghargai lingkungan daripada pandangan picik salah paham mengenai "dunia sebagai tempat hukuman pembuangan" yang dianut agama samawi yang menimbulkan lemahnya halangan terhadap perusakan alam.
HP, isinya berkisar seputar masalah rasialis, campur tangan pemerintah terhadap kurikulum sekolah, pengaruh wartawan terhadap pembentukan opini masyarakat, ketergila-gilaan terhadap permainan olahraga tertentu, psikologi abg, manajemen rasa takut, politik kekuasaan. Semua bisa dicocokkan dengan dunia nyata, hanya saja
dikemas supaya lebih menarik dan penuh humor.

Penggambaran sapu terbang sebenarnya adalah stereotipikal terhadap sihir yang dibentuk oleh kekuasaan yang menumpang gereja. Penyebutan "sihir" pada masa-masa pemberantasan dan pembakaran (!!!) nenek2 keriput itu, sebenarnya hanyalah suatu kampanye tindakan pelanggaran HAM yang bersifat SARA.
Kita perlu membuka sejarah kelam yang berlaku jauh sejak zaman Romawi sebelum nabi Isa. Mereka mencap sihir kepada orang-orang bijaksana, ahli ramu-ramuan alias farmasi, kimia dan fisika purba yang berpengaruh terhadap opini masyarakat kampung, agar punya alasan melakukan penangkapan dan pembantaian, karena ditakutkan akan mendorong masyarakat pada tindak subversif. Kita tahu bahwa Galileo Galilei yang ilmuwan juga dihukum oleh gereja dengan tuduhan sihir. Sekarang, teknik pemberantasan semacam itu juga masih berlaku terhadap ulama islam di seluruh penjuru dunia.
Kenyataannya fenomena sihir dan interaksi alam gaib ke dunia manusia memang jelas ada, tercantum dalam sejarah alquran kan? Yusuf, Firaun dst bukan rekaan
seperti yang dianggap oleh pandangan skeptis.

Peradaban "Islam" tetap tidak lepas dari fantasi sihir. Shahrazad mendakwahi rajanya yang lalim dengan alf laila wa laila alias seribu satu malam. Sunan Kalijaga mendalangi wayang kulit demi mengajari kalimat syahadat.

Seandainya fantasi magis dihindari, seharusnya dongeng fabel juga dipertanyakan. Bukankah pada fitrahnya hewan punya sistem komunikasi yang berbeda dari gramatika yang digunakan manusia. Kita tidak akan mengerti tata bahasa mereka, demikian pula jalan pikiran mereka. Memang ada sedikit komunikasi antara manusia dan hewan, namun itu non verbal dan sangat minim. Hanya orang-orang tertentu yang benar-benar bisa bicara panjang lebar dengan mereka layaknya Sulaiman. Sementara antar spesies
berbeda, juga mereka jarang butuh mengobrol. Dan masing-masing juga hidup sesuai perintah sang pencipta, jarang menjadi pembangkang seperti manusia. Seekor predator tidak memakan hewan lain karena jahat, melainkan itu merupakan hukum rimba, tidak bisa disamakan dengan manusia yang satu spesies, seharusnya sederajat dan tidak boleh menguasai manusia lain. Hewan juga punya pengetahuan lebih (naluri) untuk bertahan hidup daripada manusia tanpa perlu diajari lewat komunikasi.

Pada dasarnya fiksi remaja islami pun juga semata rekaan yang menempatkan pengarangnya sok tahu menjadi tuhan dari tokoh ciptaan sendiri, padahal di dunia nyata, belum tentu suratan takdir bisa berjalan sesuai dengan alur klimaks/antiklimaks yang disampaikan.

Tapi ini fantasi. "Imagination has no rules". Kadarnya seimbang dengan science fiction: di mana hukum alam berlaku sesuai yang dimaui penulis, apapun boleh terjadi: hewan-hewan boleh bicara, sihir boleh bergaya.
Pembentukan dunia rekaan ini merupakan pilihan yang mudah untuk memperlancar argumen yang disampaikan.

Memang tidak mudah mengarang dongeng sihir atau fabel tanpa terjerumus pada cerita tak bertanggung jawab, jadi kalau belum mampu, tak usah coba-coba.
Melakukan studi lapangan dan pustaka yang terperinci akan lebih baik, dan tulislah sastra jurnalistik.

Minggu, 24 Juli 2005

Never Better

My reading in the first few days was interrupted by some slumber parties, a trip accompanying a friend, and a quite big summer-house-cleaning event, so it was only the first lines I read over and over the whole time, slipping through my brain without leaving the slightest trace of meaning behind.

Then there I was, finishing the book straight through holiday, and woke up Thursday morning feeling dizzy and a bit dissapointed. Ok, HBP features some new characters, new experiences and introducing new problems, filling the information gaps of the previous books, and reveal more point of view on some old characters I have been waiting for. But what with the excitement of waiting, the official site and everything, the storyline was not as tight, the bond between chapters is not as significant, compared to the others. And from the first Hogwarts lesson I could correctly guess who the Half-Blood Prince really was. Sigh...
Well, it is children's book after all, they said. Too much confusing plot is not good, so there goes the boring explanation of events that needs no mention anyway. Time to inhale a bit, review the preceding five books, and prepare for the last, they said.
So I just throw the book under my bed, and turn back waiting for the weekly OP that seemed to be interesting me more nowadays. (This week, it featured the "gate of Justice" based on the "shariah" gate on Andalusia... tsah).

But then I abandoned my pirate projects feeling exhausted, and sleep with weird dreams concerning the book and its next story, full of theories to defend Snape. Yap,
Professor Snape, the double-triple-quadruple-unreadable agent.

How it should become clear that his choices happened to be the right thing to do, and how he could make peace again with his students and companions.
Then I realised, however bad the book was, it is kind of growing on me, corrupting my deepest memory.
Well, no doubt it's his character that keeps me devoted to the whole story (although I actually started to care about the books since the appearance of the marauders). And it's also the only part perfectly acted that makes me willing to watch the movies (though the actor seems older -and more handsome?- than he should have been), in my opinion.

Shouldn't have read this book before the story finally over. But it was already too late, and I am afraid I have to endure some other Snape nightmares for quite a while... (^_^;

I still trust you, Sir.

Btw, this is not in the book, but does anybody ever think of any relative connection possibility, that Irma Pince = I am Prince?


A peek to his dungeon
Designer Potions

You scored as Severus Snape. Well you're a tricky one aren't you? Nobody quite has you figured out and you'd probably prefer it stayed that way. That said you are a formidable force by anyone's reckoning, but there is certainly more to you than a frosty exterior and a bitter temper.

Severus Snape

90%

Albus Dumbledore

85%

Draco Malfoy

80%

Sirius Black

80%

Hermione Granger

75%

Remus Lupin

65%

Harry Potter

60%

Ginny Weasley

50%

Ron Weasley

45%

Lord Voldemort

40%

Your Harry Potter Alter Ego Is...? created with QuizFarm.com