Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2022

Ayah dan Syafii Maarif

Entah ada angin apa, Pak Hamid Basyaib menyelipkan kenangan tentang ayah saya dalam obituari Syafii Maarif di Facebook kemarin, Senyum Mujahid Syafii Maarif. Ayahnya Fira dan Ary juga disebut. 

Barangkali ada yang mencoleknya untuk ikut memenuhi permintaan saya dalam pengumuman tahun lalu? 


"Di ruang tamu rumah Kiai Hamam Dja’far di Pabelan, kadang ada Mas Dawam Rahardjo, Arief Budiman, Aldy Anwar, Armahedi Mahzar. Dua yang terakhir adalah tokoh-tokoh ITB, yang punya persambungan dengan Pabelan karena dihubungkan dengan para aktifis Yayasan Mandiri, sekumpulan aktifis mahasiswa ITB, antara lain Sugeng dan Mochtar Abbas, orang Aceh yang kemudian jadi lurah Pabelan berkat dukungan Kiai Hamam.
Aldy Anwar adalah kerabat Haji Agus Salim yang terkenal pintar sebagai mahasiswa Fisika, tapi tidak menyelesaikan studinya, namun menekuni peluang mengembangkan helio energy (sumber matahari) sebagai bagian penting dari ambisi besarnya untuk melahirkan masyarakat yang "hemat energi, kaya nilai"."

Selasa, 10 Mei 2022

Antigratifikasi

Saat saya berusia 6 tahun kalau tidak salah, adik saya masih balita, keluarga kami berhalalbihalal ke rumah seorang arsitek adiknya Tuo (nenek saya), yakni paman dari ayah saya, di Kebayoran Baru, Jakarta.

Sepertinya saat itu abang sepupu satu-satunya tinggal di Balikpapan, sedangkan sepupu dua kali kami kebanyakan lebih tua beberapa tahun, tiap kumpul keluarga mereka selalu melipir ke ruang kerja di depan, entah membahas hiburan musik atau gim yang saya belum paham. Yang seumur saya hanya ada dua-tiga orang, masih culun-culun menempel pada orang tua masing-masing.

Ayah saya entah menyelinap ke mana mengobrol dengan saudara siapa, saya duduk manis saja termangu bersama adik saya di sofa depan televisi yang dimatikan, di tengah lalu-lalang kerabat yang bersilaturahmi.

Seorang bapak entah oom-oom atau aki-aki yang sepertinya lebih tua daripada ayah saya tapi lebih muda daripada Tuo, cengar-cengir menyapa kami, menanyakan umur dan basa-basi lainnya, lalu mengulurkan dua gepok berisi berlembar-lembar sepuluh ribuan rupiah masing-masing untuk saya dan adik saya.

Saya dan adik saya bertatapan, saling mengangguk, lalu saya mengambil gepokan yang dipegang adik saya dan menyodorkan semuanya kembali ke hadapan bapak tersebut di dudukan sofa lalu menyatakan,

"Maaf, kami tidak dapat menerima uang dari ORANG ASING ..."

Sang bapak terkejut, wajahnya sekejap pucat pasi lalu berubah merah padam, tapi karena tidak tega menghadapi anak kicik beralih mengadu kepada nenek saya, "apa-apaan ini cucunya kurang ajar, duit angpau yang saya kasih malah dilempar pakai tangan kiri pula!" Ditambah serentetan tuduhan yang tidak berdasar.

Tuo pun memarahi ayah saya. Ayah saya kecewa tidak kebagian uang sebanyak itu padahal jumlahnya lumayan buat beli baju dan sepatu baru anak-anaknya.

Beliau sedikit membela bahwa orang kidal memang nyatanya ada di dunia walaupun langka. Namun, di belakang, beliau berusaha membujuk saya untuk belajar bergerak dengan tangan kanan demi sopan-santun menghindari kecanggungan, yang tentunya saya tolak mentah-mentah.

Juga beliau mewanti-wanti bahwa di acara kumpul keluarga seperti ini pastinya tidak ada orang asing, semua ada hubungan darah, kalau belum kenal ya wajib berkenalan. Lah siapa juga yang membiarkan anaknya terlunta-lunta tersesat di kerumunan.

Coba itu keluarga bikin silsilah lengkap disertai kliping foto-foto supaya orang bisa mempelajarinya terlebih dulu sebelum menghadiri acara macam ini.

Demikianlah pengalaman kami menjadi pegiat antigratifikasi di usia dini.

Selasa, 05 April 2022

Pesan Kepala Suku


Kawan-kawan Tri96ers!


Merayakan kelahiran Badak Sumatra yang langka di dunia pada jelang Ramadan kemarin, semoga mengingatkan kita untuk melaksanakan puasa dari hal-hal yang menimbulkan sampah, limbah, dan ghibah yang sia-sia demi kelestarian makhluk-makhluk Tuhan yang indah ini!

Kamis, 28 Oktober 2021

Persaksian tentang Ayah

Hanya segelintir pihak yang mengetahui nama asli ayah saya. Selain lingkaran keluarga, paling-paling hanya pejabat yang terlibat keperluan legalisir dan tentunya jarang sekali. Satu-satunya catatan sejarah tentang nama beliau adalah sebagai penulis mahasiswa yang bersanding dengan Soe Hok Gie dan Amien Rais pada masanya, melakukan demistifikasi kultus individu terhadap Soekarno terkait peran dalam Proklamasi dan perumusan Pancasila. Selebihnya beliau dikenal dalam nama pena, dan itu pun di dalam lingkaran tertentu saja walaupun sempat cukup bergaung di jajaran elite pusat kekuasaan.
...
Tahun ini sepertinya sudah digariskan untuk kembali melakukan kalibrasi terhadap berbagai niat awal. Tiba-tiba keluarga kami dipanggil oleh semesta untuk mengurus amanat beban tanggung jawab yang telantar cukup lama.
Di tengah pandemi, ruang gerak terbatas, seolah hanya bisa megap-megap. Pihak yang menawarkan bantuan ternyata mengincar untuk kepentingan pribadi dan menusuk dari belakang.
Hampir saja kami terjebak untuk mengambil jalan pintas yang hanya akan memurukkan dalam perangkap ketidakpastian. Namun, suatu kegiatan merawat seekor kucing saya yang parah berlarut-larut tak bisa disembuhkan, menyadarkan akan betapa fana semua permainan dunia. Untungnya sekeluarga sepakat untuk tetap menelusuri jalan yang lurus membedakan yang hak dari yang batil.
Mungkin memang ada malaikat penjaga ayah saya yang masih melakukan tugasnya.

Merenungkan seperempat abad berpulangnya Ayah saya, komentar-komentar di bawah foto FB berikut adalah sebagian kesan-pesan yang terjaring dari beberapa rekan tentang sekelumit kehidupan beliau.



Tertaut juga beberapa tulisan lama rekan-rekan beliau yang pernah dipajang misalnya

Hemat materi dan energi, kaya nilai dan informasi. (Mengenang Aldy Anwar, aktivis peradaban) - BTS



Laman ini akan diperbarui seketemunya naskah-naskah lain. Terima kasih

Sabtu, 23 Mei 2020

Bebersih Jiwa Raga

Berlebaran di tengah pandemi ini sungguh menyedihkan ya, tidak bisa memeluk keluarga, tidak bisa berkumpul ramai-ramai, tidak bisa mencicipi hidangan tetangga, tidak bisa mudik ataupun berbelanja ... 
Namun setidaknya ada hikmah untuk semakin mengingatkan kita agar selalu melakukan anjuran agama paling mendasar, yaitu ... bebersih

Dengan demikian, Yotsuba & BambuMuda mengucapkan 🙏🥥🌴



Lebaran 1439 H

Lebaran 1431 H

Minggu, 16 Desember 2018

Dalil Buang Sampah Sembarangan

"Téh, buang sampah sembarangan itu DOSA!!!" 📣 jerit saya putus asa, setelah tiga teguran santun diabaikan oleh seorang cewek cantik berhijab rapi di sebelah 🧕🏽 yang kepergok melempar bungkus gorengan di pelataran stasiun kereta 🚉
Akhirnya dia mendelik, berhenti mengunyah, dan menanggapi juga, "Hah? Yang mana haditsnya bilang itu dosa!?" 👹
Saya jadi meragu, apa memang tidak ada? 🙀
"Eh, euh, jelas 'kan? Mubazir itu kawannya setan!" 😈
"Mubazir gimana!?"
"Ngg ini itu anu, menyia-nyiakan tong sampah yang tersedia, Téh!" 🚮
"Jangan asal ngomong kamu."
(Ya ampun, ngomongnya pakai kamu-kamu, mentang-mentang saya panggil Tétéh dengan sopan 🤦🏽‍♀️ padahal berani taruhan dia ada 10 tahun, kalau tidak 15, lebih muda 👶 Mestinya saya panggil enéng, tapi kepalang basah.)
"Mubazir alamnya Téh! Perusakan kecil-kecilan, lama-lama jadi bertumpuk, bikin banjir kota!" 🌊 kelit saya, "sampah itu mengotori, padahal 'kan kebersihan adalah sebagian dari iman!" 🤹🏽‍♀️
Untungnya dia mulai mundur ... "Lagian kan saya masih pegang makanan! Itu bungkus cuma jatuh! Nanti saya ambil lagi kok!"👺
(padahal saya lihat sendiri dia sengaja menjulurkan tangan untuk menggelindingkannya ke kolong bangku ↩️)
"Ya kalau jatuh langsung dipungut lah Téh, kalau lupa cemana pula!" 🤷🏾‍♀️

Saya buru-buru mengejar kereta, dari sudut mata tampak dia beranjak meraih gumpalan bungkus tersebut. Saya belum bisa memastikan dia meletakkannya ke tong sampah atau tidak, semoga kapok 🗑️
 Tapi tentu saja saya perlu introspeksi...
  1. teguran belum persuasif, bisa berdampak sebaliknya: menimbulkan pembangkangan habis2an 🧛‍♀️
  2. mesti kumpulkan ayat dan pasal yang lengkap dan jitu terkait penyelamatan lingkungan kalau mau pakai argumen agama 🕌
  3. bukankah buang sampah pada tempatnya belum menjadi solusi jika kita belum berhasil menerapkan daur ulang secara efektif ... ♻️
  4. jangan-jangan saya justru menyampah lebih banyak daripada cewek itu ... Mengurangi konsumsi sendiri jauh lebih penting 🚯

Setidaknya untuk nomor 2, barangkali buku ini bisa menjadi rujukan:
Untaian Hikmah Lingkungan:
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Menurut Al-Qur’an, Hadits dan Kitab Salaf
terbitan RECOFTC - NU - YAKOBI di Berau
http://yakobi.org/wp-content/uploads/2018/08/Untaian-Hikmah-Lingkungan.pdf
☝️☝🏻☝🏼☝🏽☝🏾☝🏿👆🏿👆🏾👆🏽👆🏼👆🏻👆

Silakan unduh pada taut di atas

Sekalian menebus tantangan Ivan Sudirman untuk memajang ayat Quran/Hadits sahih yang berdampak, kayaknya di situ ada cukup buat jatah 10 hari lah

Sabtu, 25 Agustus 2018

Naskah Keris Nusantara


pelajaran kegemaran masa kuliah 🕵️‍♂️👩‍🎓🔪🏺🌪️😼

konon dahulu kala bangsa kita sangat melek aneka huruf
tapi semua berubah ketika huruf Rumi menyerang 🔥🔠

museum naskah islam nusantara 📚📖📜🖋️
@ Sala Anak Ayam 🐣🐥🐔🐓

Dikirim oleh Kanti Anwar pada Sabtu, 25 Agustus 2018

Minggu, 17 Juni 2018

Sajak Utas Kantih


yang kapas mari dipintal,
yang benang mari dirajut,
yang silang mari ditenun,
yang polos mari disulam,
yang lepas mari disimpul,
yang putus mari disambung,
yang kusut mari diurai,
yang burai mari diikat,
yang rumbai mari diobras,
yang cabik mari dijahit,
yang aus mari ditisik,
yang bolong mari ditambal,
🍀👘🎀😇🙏


© Idulfitri 1439 H BambuMuda

Selasa, 01 Mei 2018

Kamar Belajar 304


Nasib terparah dari mengikuti serial komik bukanlah ketaksabaran menunggu pemutakhiran yang hanya sekali sekian bulan diselang jeda tak terjadwal; bukan pula kecewa akan kesimpulan akhir cerita yang tidak sesuai kehendak pribadi. Kepatahhatian karena terancam putus di tengah jalanlah yang paling membuat sengsara.
Demikian pula ujung nasib ruangan hotel yang sedianya hanya bakal dihuni selama 40 hari (minggu?) setelah lewat dua tahun malah tumbang di "karantina" sebelum berlaga ... 😖
Yang saya maksud adalah "304th Study Room", salah satu serial LINE webtoon Indonesia yang sempat memasung perhatian saya.


- Tentang komiknya
- Kasus yang terjadi
- Renungan

Tentang komiknya

  • Judul. Ini menjengkelkan saya pribadi. Mengapa tidak Bahasa Indonesia? Padahal tidak terdengar catchy penginggrisan ini. Kalau suatu saat mau diluncurkan secara internasional, silakan diterjemahkan dengan pakai judul itu, tapi tidak perlu sekarang. Seandainya bukan karena bengong di KRL, saya tidak bakal menyempatkan diri melirik judul seperti itu. Semoga suatu saat ada yang memprakarsai penggantian judul yang lebih mengakar. Walaupun jangan menilai suatu cerita hanya dari judulnya.
  • Kabut asap. Untunglah ceritanya cukup kedaerahan. Sebagai yang turut megap-megap terjebak di lapangan penelitian dan terkuras tenaga pikiran dan perasaan menggalang masker dan obat, saya sangat menyambut komik yang mengangkat isu pembakaran hutan gambut. Sayang OSN diselenggarakan pada semester pertama (kalau tidak salah) sehingga belum mencapai puncak kepekatan sekitar September 2015. Seandainya cerita berlanjut, atau dimodifikasi kalender sehingga para peserta mengalami sesak napas di hotel mewah tanpa bisa keluar kota, tentu dapat menjadi sarana meningkatkan keprihatinan dan kewaspadaan masyarakat.
  • Korupsi. Dengan latar yang khas Riau, cerita ini termasuk satu dari segelintir webtoon yang terasa otentik. Pendekatan masalah masih terlalu vulgar dan kebanyakan nongkrong di hotel mewah saja kurang beredar, tetapi isu sosial politik yang diangkat di sekitar mereka ternyata lumayan terjalin erat ke dalam keseharian pelatihan yang membosankan. Penyelewengan izin pembukaan lahan, kolusi pengadaan infrastruktur, nepotisme akses pendidikan, bukankah memang asupan sehari-hari warga provinsi Riau?
  • Korea. Sayang, gambarnya yang rapi jali menyaingi Lookism (walaupun masih kalah ragam tema cerita) sangat tidak Indonesia (setuju dengan penilaian Pak Ichsan, geli-geli geuleuh). Apalagi kebanyakan adegan fans service buat cewek-cewek fujoshi yang berupaya menandingi pelecehan a la cowok dengan cara mencocokkan bentuk otot perut dengan berbagai jenis roti. Ditambah lagi memaksakan muncul tokoh artis pengusaha Korea dalam alurnya... Mungkin komik ini memang mengincar pasar generasi alay milenialz yang kesengsem sama boiben-boiben sipit genit. Setidaknya, sang pengarang --yang kabarnya orang Indonesia asli-- cukup tekun kokoreaan dalam menampilkan perbedaan sosok para tokoh; palingan memang selera pribadi.
  • Pribumi. Entah bermaksud menampilkan keberagaman, nyaris semua tokoh malah keturunan asing. Bejo sang pangeran minyak medok adalah bule naturalisasi sehingga ditolak paskibra; Reihan sang putra gubernur rebel without a cause bermata kuning adalah anak haram melayu campuran antah berantah; Dirga sang seleb emo traumatik dan Yanjie sang sisbro complex beserta keluarga masing-masing jelas cina; Juna sang lolikon bertampang shota punya nama menak Sunda dan logat Betawi, tapi bapaknya diketahui bernama mesir berwajah pakistan; sementara Pak Zam sang jomblo ngenes, sebagai orang Aceh mungkin saja keturunan turki atau maroko. Tokoh utama yang boleh dibilang pribumi mungkin hanya Desyca dan Bu Nurul? Saya berharap ada upaya menampilkan kekhasan suku asli yang lebih ajaib: Kenapa enggak muncul tokoh Papua ganteng kayak Dosen Fisika saya almarhum Pak Hans Wospakrik misalnya ..?
  • Fisika. Mengapa hampir semua makhluk Tuhan ini mengikuti OSN dengan terpaksa? Dirga ingin menyanyi, Juna ingin menggambar, Reihan ingin memasak. Dan semuanya ikut lomba demi orang tua: karena tidak tega memberatkan, bermaksud balas dendam, atau untuk pembuktian kemampuan pribadi. Hanya Bejo yang wajar seperti remaja biasa, masih ikut-ikutan teman tanpa dorongan tertentu. Haruskah sedemikian ekstrem agar timbul drama? Apakah anak SMA zaman now lebih mudah bercita-cita menjadi seniman yang (dianggap) jauh dari beban Matematika dan IPA? Tak bisakah sekadar ikut lomba iseng saja menikmati proses semata karena suka pelajarannya, tanpa perlu dikaitkan dengan rencana karier masa depan?
  • Astronomi. Tiba-tiba kisah tersedak jauh ke pertengkaran suami-istri antara memilih adopsi atau usaha sendiri ... disangka tentang anak ternyata tentang bintang. Apakah suaminya yang disuruh membayar? Lalu mengapa istri yang astronom yang tidak sabar minta adopsi? Padahal kalau sang suami yang mengeluh ditinggal begadang tiap malam, jauh lebih masuk akal. Mengapa tidak percaya diri bakal menemukan sendiri? Toh jika teguh berkiprah di bidang ilmu astronomi suatu saat akan ada pihak yang menganugerahkan planet kerdil atau asteroid atas nama beliau, seperti pengalaman Ibu Premana Wirdayanti 12937 Premadi.
  • Feminisme. Di antara kelima peserta tim OSN Fisika, Desyca satu-satunya yang tulus ingin meniti karier sebagai astronaut, justru terjegal keinginan orang tua agar menikah secepatnya. Klise sekali! Tapi bisa jadi pandangan seperti ini masih mendarah daging di kalangan generasi kita sehingga masih perlu dibahas. Pertanyaannya, apakah pengarang mengalami hal seperti itu? Seharusnya kedua keinginan tersebut tidak perlu saling bertolak belakang, bisa diselaraskan dengan skala prioritas tertentu. Lalu mengapa penamatan mendadak ditutup dengan pernikahan juga? Apakah itu tetap syarat agar dia dapat menggapai cita-cita?


Kasus yang terjadi

Riau oh Riau ... berkat KKN yang tersistematis mengurat mengakar sampai ke sendi-sendi kehidupan, dan rasa ketidakadilan antara pusat-daerah yang berkepanjangan, tidak aneh lagi jika negara api menyerang sang pengarang pun mengidap mentalitas korban sebagaimana runutan peristiwa ini:
https://chirpstory.com/li/384841
Tersebutlah tiba-tiba terbit preview epilog di tengah jalan, sementara epilog yang dijanjikan pun terlambat satu minggu, sehingga komik sempat dicap jeda sebelum kemudian ditamatkan dengan sengsara.

Selidik punya selidik, konon sudah lama dibahas masalah penipuan yang dilakukan oleh pengarang, sejak sekitar 7 tahun lalu sampai saat sedang menerbitkan komik ini. Ada kasus jualan rambut palsu, krim wajah, gambar komisi, stiker, kartu pos, gantungan kunci, sampai guling idola.
Polanya pun tampak berulang: banyak penggemar ---> dagangan laris ---> pesanan melimpah ---> gagal produksi/gagal kirim --> janji mengembalikan uang ---> mengeluhkan masalah keluarga/kuliah/penyakit/putus cinta ---> tidak bisa dikontak ---> ganti akun media ---> diam-diam menunggu masa tenang ---> promosi produk baru lagi ketika orang sudah lupa.

Karena jualannya kecil-kecilan, para pelanggan masa lalu yang lelah menagih malas mengusut lebih jauh, tak sampai melaporkan ke polisi. Begitu namanya naik daun di webtoon, melakukan penawaran baru, kejadian lagi hal yang serupa, mulailah mereka merasa layak untuk mengungkit kembali. Akhirnya beredarlah berbagai kompilasi dari masalah yang dialami berbagai pihak dengan sang pengarang.

Salah satu kekesalan utama para pelanggan adalah nama pena yang digunakan merujuk cina, padahal dia asli pribumi, sehingga terkesan mencemari nama baik keturunan cina. Konon sebelumnya dia memakai nama spanyol. Di dalam komiknya, ada adegan muslimah berkerudung rapat mengucapkan salam, lalu pengarang menyatakan sudah konsultasi dengan pemuka agama dalam menampilkan adegan tersebut, padahal dia sendiri berasal dari keluarga muslim (walaupun entah agama apa yang dianut dalam hatinya saat ini).
Terkadang terselip juga beberapa nasihat anti-hate speech, padahal yang bersumpah serapah di kolom komentar adalah mantan pelanggan yang murka.

Kekesalan lain mereka adalah, dia mengeluhkan bahwa tekanan dari pelanggan tersebut membuatnya terhambat menerbitkan komik 304 secara rutin. Dia juga merendahkan beberapa pengarang lain yang menampilkan percintaan pria-wanita; sementara komik 304 dibanggakan mengabaikan seputar romantika. Tetapi seperti munafik karena ternyata dia tampil di webtoon berbahasa inggris di kategori challenge (amatiran pendatang baru), menggambar cerita gak penting yang bermuatan seksual pasangan sesama pria, omegaverse (entahlah apa pula itu), dengan tokoh tiruan idola Korea.
Alasannya karena ingin menyalurkan hobi. Dicurigai tujuan sesungguhnya untuk menarik sponsor pendana maupun penggemar baru yang akan membela dia dari komentar-komentar miring para pelanggan lama. Semestinya orang yang telah kompeten sebagai profesional tidak perlu lagi melalui tahap tersebut... Jangan-jangan imbalan webtoonist pro tidak sebesar sumbangan lewat patreon? Atau kelelahan mengejar jadwal mingguan membuat episode-episode tunggang-langgang sehingga mencetuskan keinginan menggambar ulang.

Renungan


Beberapa isu yang terlintas gara-gara kasus ini (maaf ya kalau acak banget):

  • Hak anonimitas pengarang seharusnya dapat tetap dilindungi; pengarang berhak memakai nama pena apa pun tanpa perlu diungkit-ungkit oleh penggemar maupun pembencinya, selama bukan mencaplok jati diri manusia nyata. Hal ini penting agar mereka leluasa mengungkapkan curahan hati melalui karya yang toh punya penafian sebagai fiksi belaka. Namun hendaknya dipertimbangkan pula bahwa:
  • Kepercayaan bisnis memerlukan identitas yang jelas; hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pelantar jual-beli daring yang dapat dipertanggungjawabkan: jelas ada konsekuensi berbagi keuntungan dan harus patuh bayar pajak, namun data pesanan, transaksi pelanggan, prosedur pengembalian dana terorganisasi secara sistematis, sementara anonimitas penjual tetap dapat terlindungi di balik pelantar tersebut.
  • Produksi dalam negeri vs bea cukai; bisa jadi awal kekacauan adalah masalah penebusan barang dagangan di bea cukai. Sebagai penjual amatiran, tentu sang pengarang tidak punya izin impor yang layak untuk jumlah besar. Mana tahu tertagih bea masuk atau PPnBM yang tidak diperhitungkan sebelumnya, tapi gengsi untuk mengakui. Di sisi lain, menurut saya impor barang mahal untuk cosplay adalah tindakan yang tidak kreatif. Kreativitas sejatinya harus didasari kemampuan mengolah sumber daya alam milik sendiri. Contohlah @lowcostcosplay.
  • Mutu percetakan; tentang karya sendiri, bisa jadi hasil cetakan terlalu butut, warna belang bonteng, sehingga dianggap gagal. Akibat obsessive compulsive disorder, tidak sudi menjual apa adanya, tapi juga terbengkalai tidak sempat mengurus ganti rugi ke percetakan lalu bingung sendiri. Tentu saja jika belum mampu mengendalikan risiko, mestinya jangan terjun ke bisnis dulu.
  • Keterlibatan keluarga; adik dan ibunya telah membantah berbagai kilah pengarang tentang drama keluarga ataupun penyakitnya, dan berjanji akan menebus semuanya. Namun, jika tidak mengenal lebih jauh, belum bisa serta-merta disimpulkan dia berbohong. Kurangnya rasa tanggung jawab, mentalitas korban, dan ketegaan menyalahkan keluarga pun pasti bersumber dari lingkungan keluarga juga. Sebaliknya, tentu tidak ada keluarga yang mau mengakui kegagalan mengasuh seseorang. Sementara itu, banyak kasus KDRT yang terjadi sangat tertutup sulit diintervensi justru ketika korbannya menyangkal keadaan.
  • Masalah psikologis dapat terbentuk melalui cosplay dan fanfic; keinginan mencintai diri yang tampil beda sebagai orang lain, bisa jadi pemicu rasa percaya diri tapi bisa juga menimbulkan kepribadian ganda yang tidak tertanggulangi. Sementara mengkhayalkan dunia sesuka hati ke mana kapal hendak berlabuh, adalah sarana pelarian dari kenyataan hidup.
  • Rentang evolusi sebuah adikarya; selama menelusuri kontroversi ini, saya terarahkan ke berbagai profil medsos jadul sang pengarang. Ternyata, di sana bisa kita temukan jejak-jejak pengolahan naskah 304 ini sejak tujuh tahun silam.
    Ide untuk mengomikkan pengalaman pribadi selama OSN setidaknya telah mengemuka pada 2011 (atau bahkan lebih lama lagi). Para tokoh utama telah tampil dengan raut wajah dan nama yang berbeda, watak yang lumayan mirip versi finalnya. Beberapa adegan pun dapat ditelusuri telah muncul dalam sketsa-sketsa yang dicicil selama itu. Barangkali di tengah jalan kehabisan bahan, tanggapan tak semeriah yang diharapkan, semangat pun buyar semua. Seolah-olah tidak ada gagasan lain yang lebih cemerlang daripada kisah ini.
  • Genre supokon inspiratif tidak cocok di negara ini; kalau ini manga, masuk kategori semangat bersaing yang menggugah orang untuk maju. Walaupun tamatnya menggantung, rencana awal adalah memenangkan sebagian tokoh untuk maju ke IPhO. Namun, seperti yang pernah kami bahas ngalor-ngidul dalam suatu diskusi KineMala, ada kebutuhan untuk lebih membumikan media fiksi kita pada realisme, agar ambisi maupun obsesi dirumuskan lebih terencana, dan siap menghadapi berbagai risiko, jangan sampai kandas sebagai sekadar bunga mimpi tak tergapai. Bagaimana mengelola cerita komik yang mampu menampilkan sebuah kekalahan dengan lapang dada?
  • Kegagalan pengembangan industri kreatif; belum ada jaring pengaman untuk menanggulangi kegilaan para seniman dalam kadar yang layak. Mereka dituntut untuk 'waras' sebagai pebisnis profesional yang bertanggung jawab atas komersialisasi produknya, sehingga terjebak antara menjadi sekrup mesin raksasa yang rutin melakukan plagiasi membosankan; atau menjadi pengacau tak terkendali yang sama sekali gagal terjun ke masyarakat ...
    Pada dasarnya industri kreatif adalah sebuah kerancuan. Dalam skema ini, tidak ada harapan untuk menyaksikan karya otentik cemerlang yang dapat menggugah peradaban dunia.

Sabtu, 02 Desember 2017

Pandai Besi dan Kamar Gema

Penafian: Harap maklum bahwa keluhan ini saya lontarkan sebagai seorang mantan pandai besi berijazah dari sekolah luar negeri ternama, yang di sisi lain sempat kebingungan ketika dihadiahi minyak wangi eropah oleh ibu bos di tempat kerja lama.

Tersebutlah kisah, kira-kira di akhir tahun lalu, hawa-hawa perpecahan yang merebak di dunia maya terendus sampai ke depan hidung saya.
Seorang kawan lama, kalau tak boleh menyebut sahabat, seminggu sebelumnya masih bertegur sapa dengan akrab di halaman maya. Kenalan semasa kuliah, kini ibu dari tiga anak lucu, wiraswasta andal, tulisannya pernah dikemas tampil di layar lebar. Tiba-tiba beliau mengumumkan niat bebersih daftar teman, untuk memilah dan memilih siapa saja yang sehaluan atau tidak dengan sikapnya terhadap agama.
Yang menggelitik saya adalah bahwa sebagai dasar hukum dari tindakan tersebut, beliau mengutip hadits yang diterjemahkan seperti ini.
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mencium harumnya. Sedangkan berteman dengan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) membakar pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau mencium bau asapnya yang tak sedap.”
(HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Secara belum khatam kitab hadits, dan sesuai penafian di atas tadi, saya pun langsung mempertanyakan.
  • Pertama, pandai besi memang pekerjaan berbahaya, tapi bukan berarti sia-sia, 'kan? Kenapa berteman dengan pandai besi tidak dimaknai akan kebagian hadiah panci gratis? Atau setidaknya, bisa beli obralan sendok garpu murah?
  • Kedua, apakah itu berarti Islam punya kasta berdasarkan jenis pekerjaan? Kalau di Hindu, pandai besi mungkin tergolong waisya atau minimal sudra; masa dalam Islam terhempas menjadi setingkat dengan kaum pariah yang tak dapat disentuh?
  • Ketiga, bukankah teman yang buruk justru selayaknya dirangkul agar kembali ke jalan yang benar, jangan malah dijauhi dengan membakar jembatan pertemanan yang mungkin suatu saat akan menyelamatkannya sekaligus menjadi ladang pahala bagi kita?


Saya kira pertanyaan seperti ini layak untuk dibahas dengan nalar kepala dingin, justru untuk memperkuat pemahaman terhadap alasan yang diberikan agar tidak terganggu gugat. Tetapi malah saya dianggap layak untuk disingkirkan dari daftar teman karena dituduh ingkar terhadap hadits, tidak sami'na wa atha'na.

Tentu saja berdasarkan latar belakang saya, saya serta-merta menilai bahwa keberadaan seorang pandai besi dalam peradaban umat manusia jauh lebih penting daripada penjual minyak wangi ...

Saya suka wangi pandan, melati, cendana, dan rempah-rempah: tapi untuk memakai minyak wangi sehari-hari, belum merasa perlu. Minyak wangi adalah hasil keluhuran peradaban, tapi sama sekali bukanlah kebutuhan utama. Hanya perhiasan penghibur duniawi. Tanpa minyak wangi, manusia masih dapat hidup aman tentram kertaraharja. Lagi pula setahu saya musk itu berasal dari kelenjar rusa jantan; apakah sudah dipertimbangkan hak asasi hewannya?

Sebaliknya, tanpa pandai besi, bukankah takkan ada aneka perkakas rumah tangga? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada kendaraan canggih masa kini? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada tiang beton untuk gedung bertingkat? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada pedang tajam maupun senjata api? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada kebesaran kerajaan Daud dan Sulaiman?

Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada konflik pertambangan? #eh
#gimana #nahlho 🙀

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ
فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً
وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Setelah memeriksa sumber bahasa aslinya dan mengulik beberapa hadits tandingan, saya simpulkan bahwa yang harus dihindari dalam perumpamaan itu adalah angin dari ububan (kipas peniup api untuk tungku kegiatan penempaan besi) bukan pekerja pandai besinya. Bagaimanapun juga, mustahil hadits meremehkan pekerjaan penting di masyarakat.

Jika memang mengibaratkan manusianya, seharusnya hadits ini bermakna ada karya yang penting bagi penghidupan tapi kita mau tak mau harus menanggung hal-hal yang tidak nyaman dalam pengolahannya.
***

Pada dasarnya sih tidak ada salahnya mengatur pertemanan media sosial, daripada habis hidup berbasa-basi tanpa keintiman. Dalam beberapa hal, saya sendiri mengelompokkan daftar teman berdasarkan latar belakang perkenalan: keluarga, tetangga, teman sekolah, kawan kuliah, rekan kerja, orang berbahasa daerah, orang berbahasa asing, dst; agar kesan-pesan khusus dapat saya arahkan langsung kepada kelompok tertentu tanpa perlu memenuhi dinding atau disalahpahami oleh kelompok lainnya. Namun, tentu hal itu saya lakukan dengan pertimbangan sendiri tanpa maksud berkoar-koar menyinggung para pihak.

Sebaliknya, fenomena "kamar gema" perlu kita waspadai. Kita harus tetap membuka diri terhadap berbagai informasi dari pihak yang berbeda pandangan, agar kita tidak mudah terpancing, agar semua pembenaran selalu ada pembanding.
Menutup jalur pembahasan hanyalah langkah terakhir ketika upaya menengahinya secara ilmiah dari dua arah sudah buntu, demi menghindari debat kusir caci maki yang tidak berkejuntrungan; itu pun harus ditindaklanjuti dengan pendekatan yang lebih intensif untuk meredakan perselisihan pendapat agar setidaknya setuju untuk berbeda; tidak dapat dibiarkan menjadi api dalam sekam.
Ketika algoritma jejaring sudah cukup mempersempit langganan umpan berita kita, jangan sampai kita pula yang memasang kacamata kuda!

Senin, 21 Maret 2016

4G LTE: Gading² Ganesha garelo, Lulusan Teknik Elektro


Alkisah, tersebutlah seorang kawan seangkatan di EL96 yang juga suami dari teman sekelas saya SMA. Orang cerdas baik hati yang gemar menolong, walaupun enggak kalah narsis daripada saya sendiri. Beliau ke Tokyo saat saya menyelesaikan studi tahap akhir di Kyoto, dan setelah pulang saya masih sempat berlibur ke tempatnya sekeluarga di Nara.

Pada 2009, beliau turut mendirikan "Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional" (I4). Kegiatan tersebut menarik sorotan media massa sampai tampil di Kick Andy: Berjaya di Negeri Orang pada 2011, lalu tokoh penemu nasional versi majalah Tempo 2012, atas pencapaian beliau sebagai ilmuwan telekomunikasi.

Di usia 32 thn, Khoirul Anwar berhasil mematenkan sistem komunikasi 4G. Kuncinya? "Peneliti harus bisa kerja sama & saling percaya".
Dikirim oleh Kick Andy Magazine pada 7 Oktober 2011




Berbagai penghargaan nasional maupun internasional pun disabetnya. Secara pribadi, sebagai solidaritas terhadap korban Lapindo, saya menentang keras keputusannya untuk menerima penghargaan Achmad Bakrie dari Freedom Institute pada 2014, karena itu berarti membentuk jaringan dengan keluarga Bakrie. Namun, bagi beliau, itu adalah salah satu jalur dakwah dan syiar ilmiah yang patut ditempuh.


Masalah terjadi, ketika media massa semakin nyaman mengutipnya sebagai pakar "penemu" teknologi 4G LTE, tanpa penjelasan lebih dalam. Apalagi, pemberitaan tersebut tampaknya dimanfaatkan oleh mesin-mesin partai, berdasarkan fakta bahwa beliau dan istri adalah pegiat KAMMI.
Sebutan itu tidak tepat, demikian pernah beliau akui. Dalam blognya, beliau telah menolak disebut sebagai penemu 4G sedangkan patennya berurusan dengan standar ITU.


Sayangnya, barangkali karena ketidaktahuan tentang cara kerja media, kewajiban menerbitkan rilis untuk pengawaman ilmu malah terabaikan. Tenaga dan waktu luangnya lebih banyak dipakai untuk ceramah keliling tentang ilham dari anime Dragon Ball dalam temuan berikutnya, alih-alih menjelaskan dengan seksama duduk perkara politik perpatenan teknologi dunia.

Dahsyat!! Ternyata Penemu 4GT LTE Orang Indonesia Asli, Awalnya Dianggap Gila & Dicemooh Karena... Benarkah berita di atas ini? Saya kok mendapatkan versi yang berbeda ya Dikirim oleh Irman Gurmilang Lanti pada 6 Maret 2016
Seseorang mempertanyakan pencapaian beliau jika dibandingkan dengan Seniro dua tahun di atasnya, KOMPAS: Sinyal Digital Membawa Basuki Berkiprah di Eropa, yang akhir-akhir ini juga sempat ketiban gelar "Anak Bandung Penemu Teknologi 4G".
.


Hal ini memicu sang Seniro untuk melakukan klarifikasi tentang Juniro-nya: Apakah Penemu 4G LTE dari Indonesia?. Entah mengapa, tembak langsung melalui media massa adalah jalur yang beliau tempuh. Dan terbitlah rilis yang dibuat sang Seniro bersama seorang tokoh lagi.

Yang menarik, istri sang Seniro juga ikut bersuara (sampai mengutip Harry Potter segala).
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain dan seburuk-seburuknya manusia adalah manusia berilmu yang menggunakan ilmunya untuk memanipulasi orang lain untuk kepentingan pribadi. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan menjadi pencerahan.
Saya tahu betul pergulatan batin suami saya, Basuki Endah Priyanto, ketika membuat tulisan ini, karena walaupun ingin menyuarakan kebenaran, tulisan ini juga menyangkut kredibilitas orang lain. Tapi kebenaran tetaplah kebenaran dan diam tidak selamanya emas. Tidak mudah memang untuk menyuarakan kebenaran. As Dumbledore once said :) "Sometimes we have to choose between what is RIGHT and what is EASY."
http://inet.detik.com/read/2016/03/16/073649/3165775/328/apakah-penemu-4g-lte-dari-indonesia
Dikirim oleh Ihdina Sukma Dewi pada 15 Maret 2016

Kompas berupaya meliput pemberitaan tersebut secara cukup berimbang dari sudut pandang kedua belah pihak mempertanyakan dan meluruskan. Kawan saya pun menanggapi setelah diminta wartawan konfirmasi di detik.com. Namun, kalimat kutipan dari blog dipandang kurang menjelaskan oleh kaum yang haus kesimpulan instan ini.

Ketika berlatih menulis di forum lingkar pena cabang Jepang, semangat beliau menyusun cuplikan otobiografi yang berbau motivatif inspiratif menawarkan mimpi sebagai bentuk penyegaran di tengah kesibukan risetnya, tanpa lebih tekun mengasah kepiawaian tata bahasa, penghematan kalimat, dan kekayaan kosakata, sejujurnya mengesalkan. Bagi saya, seorang pakar teknologi lebih baik fokus dalam upaya menyederhanakan ilmunya yang rumit untuk konsumsi khalayak awam.

Yang jadi permasalahan itu sebenarnya statement ini "Jika ada 4G yang tidak memakai dua FFT, berarti bukan berdasar konsep yang saya kerjakan," kata Khoirul."
Padahal :
1. Patent ybs itu sangat spesific metoda 2FFT untuk satelite uplink
2. Misleading karena konsep dua FFT sudah diketahui jauh lebih dahulu dan ditetapkan utk 4G LTE sebelum paten ybs itu ada.
3. Kalau memang paten ybs dipakai tentu ada licensing deal dengan Nara University sebagai pemegang IP ybs. Tapi Nara University tidak disebut-sebut di dokumen analisis paten 4g LTE seperti di bawah ini.

Dikirim oleh Satrio Wicaksono pada 17 Maret 2016

Seorang kawan saya yang lain mengamati kerancuan bagaimana temuan teknologi telekomunikasi mutakhir justru menyibukkan kita sampai tak sempat bersilaturahmi secara pribadi. Sementara itu, gaya tulisan sang Seniro sesungguhnya sangat menyudutkan dan membahayakan, tanpa terlebih dulu membahas di forum alumni.

Tulisan Dr. Basuki E.P. (http://inet.detik.com/read/2016/03/16/073649/3165775/328/apakah-penemu-4g-lte-dari-indonesia) lebih dari sekadar "meluruskan misinformasi" tentang penemu 4G-LTE, tapi jelas sekali menduga Prof. Khoirul Anwar "fraud" (atas penyebutan media sebagai "penemu 4G-LTE" yang menurut Mas Basuki E.P. "tidak disangkal secara aktif [atau efektif?]" oleh Cak Khoirul)
Tuduhan personal yang serius untuk persoalan yang "relatif" sepele. Hanya masalah "sebutan", bukan karena penemuan Cak Khoirul itu jiplakan, misalnya. Sebutan "penemu 4G" itu pun berasal dari media, bukan klaim Cak Khoirul sendiri. Jadi "kesalahan" Cak Khoirul hanya karena beliau diduga (sengaja/tidak) mengarahkan terjadinya kesalahpahaman dan membiarkannya, sehingga beliau disebut "penemu 4G" oleh media.
Fakta bahwa di beberapa kesempatan Cak Khoirul berusaha menyangkal sebutan ini dan mengklarifikasinya, tidak berarti apa-apa buat Mas BEP, yang dalam artikelnya tetap menuntut supaya Cak Khoirul melakukan "klarifikasi aktif." Ini agak lebay menurut saya. Apalagi kalau baca status FB istri Mas BEP yang di-share teman2 EL-ITB, parah sekali tampaknya skandal "fraud" ini, seolah-olah Cak Khoirul ini orangnya manipulatif.
Cukuplah sekali Cak Khoirul memberikan klarifikasi ke media, artikel atau wawancara, toh semuanya tertulis, otentik, bisa jadi reference. Selebihnya bukan tanggung jawab beliau. Atau nggak cukup?
Saya nggak tahu, apakah sebelum tulisan itu keluar Mas BEP sempat melakukan pendekatan komunikasi personal ke Cak Khoirul terkait hal ini? Untuk mengklarifikasi dugaan "fraud" ini, dan mendorong Cak Khoirul membuat klarifikasi khusus ke media untuk "meluruskan misinformasi" ini? Seberapa aktif Mas BEP sendiri berkomunikasi dengan Cak Khoirul untuk memaksa beliau melakukan hal itu?
Atau, mungkin "personal communication approach" ini nggak penting sama sekali? Nggak ada artinya sama sekali bahwa Mas BEP dan Cak Khoirul ini seniro-juniro dari satu almamater, pernah berinteraksi di satu sub-jurusan, mungkin juga dulunya satu lab., atau at least sesama peneliti/penemu hebat yang sama-sama membuat bangga bangsa Indonesia?
Karikatur banget ini kan? Peneliti/penemu teknologi telekomunikasi mutakhir terlalu sibuk dan nggak sempat menggunakan teknologinya untuk saling berkomunikasi personal. Padahal semua just a phone call away, an e-mail away, just a text away! Akhirnya mereka malah jadi korban adu domba kepicikan media.
Sebagai orang awam yang sama-sama bangga terhadap prestasi serta potensi Mas BEP dan Cak Khoirul, yang berharap at least para pakar/peneliti/penemu kita bisa kompak, karikatur ini bikin sedih. Mungkin citra profesionalisme di mata komunitas pakar internasional lebih penting ketimbang menjalin silaturahim sesama bangsa Indonesia.
Tulisan Mas BEP itu sendiri bagus dan informatif, sukses mencapai tujuannya untuk "meluruskan misinformasi". Tapi lebih dari itu, baca sekali lagi dengan hati yang jernih, tone dari artikel itu (terutama paragraf-paragraf akhir) adalah subtle personal attack :(
Masyarakat akan mengambil banyak manfaat artikel informatif itu. Tentang "fraud" yang dipersoalkan, masyarakat nggak akan ambil pusing. Mas BEP dan Cak Khoirul tetap kebanggaan kita. Kekuatiran saya cuma satu, mudah-mudahan tulisan itu tidak membuat damage silaturahim Mas BEP dan Cak Khoirul, dan para pakar/peneliti/penemu hebat kita lainnya.
Dikirim oleh Lucky Ginanjar Adhipurna pada 17 Maret 2016


Berikutnya, muncullah pernyataan dari sang Seniro bahwa dia telah menghubungi secara pribadi, tetapi tidak digubris. Namun, ketika kawan saya mempertanyakan kapan upaya tersebut dilakukan dan melalui jalur apa, tidak ada pembuktian lebih lanjut, malah dituduh seolah-olah berkelit membelokkan masalah utama. Padahal, kunci dari kehebohan ini menurut saya ada pada fakta apakah kontak pribadi itu pernah terjadi atau tidak. Jika tidak, diamnya sang Seniro sekian lama adalah kesalahan fatal sebagai rekan sealmamater yang tidak ber-amar makruf nahi munkar.
Ketika berita penemu 4G LTE ini pertama kali mencuat di tanah air, saya menghubungi KA secara PRIBADI untuk klarifikasi misinformasi ini, karena bagaimanapun juga KA adalah rekan se-alamamater saya, kalau nama KA jelek, nama almamater saya juga ikut jelek. Tapi KA tidak mau meresponse/klarifikasi. SAYA DIAM.
Ketika briefing acara Kick Andy tentang paten-paten yang saya miliki di 4G LTE, Andy Noya dan tim nya mulai mencium keanehan kok ada yang punya 1 paten tetapi mengaku penemu 4G LTE, sedangkan yang punya puluhan paten tidak pernah meng-klaim nya. SAYA DIAM.
Ketika saya sebagai 1 dari dua putra Indonesia di delegasi 3GPP wireless communication yang merumuskan 3G, 4G dan 5G, mulai mendengar candaan, olok-olok, kalimat-kalimat yang mendiskreditkan bangsa saya di forum International karena adanya orang Indonesia yang mengaku-ngaku penemuannya menjadi dasar teknologi 4G LTE. SAYA TIDAK BISA TETAP DIAM.
SAYA TIDAK BISA TETAP DIAM.
Dikirim oleh Basuki Endah Priyanto pada 18 Maret 2016


Dan tentu saja, pengumuman tersebut dalam hitungan jam jauh lebih banyak tersebar luas daripada tulisan lengkapnya sendiri, karena demikianlah watak penghuni medsos Indonesia yang lebih mudah berbagi keluhan daripada berita ilmiah.

Waduh!
Dikirim oleh Hasanudin Abdurakhman pada 19 Maret 2016

*otaku mode on* Selain kekecewaan terhadap Bakrie, saya juga menentang penyelewengan kisah Dragon Ball. Seperti koran kemarin menambah karangan bahwa Bola Semangat dipakai Son Goku mengoyak perut Piccolo. Padahal, kita semua tahu bahwa Bola Semangat adalah jurus yang diperoleh di alam kematian setelah Son Goku beraliansi dengan Piccolo Majunior untuk melawan abangnya Son Goku, sehingga jurus tersebut tidak pernah diterapkan kepada Piccolo. Sebelum itu, Piccolo Daimaoh tua perutnya dikoyak oleh Goku menggunakan jurus Tsuranuke dengan propulsi jet Kameha-meha. Kesalahan wartawan tersebut tidak akan muncul jika beliau membatasi secara tegas bagian mana dari Dragon Ball yang sedang dia bahas.
Akhirnya setelah kerepotan berusaha tetap tenang dalam menjawab di sana-sini, beliau pun membuat penafian di status.

Untuk meluruskan informasi yang berpotensi makin salah dalam beberapa hari terakhir ini terutama terkait berita heboh di detik tentang "komplain" dari seorang senior, untuk kebaikan bersama, saya sengaja menyelesaikan lewat darat, kami satu almamater. Saya sengaja tidak ingin terpancing oleh orang2 yang berusaha memanfaatkan situasi ini dengan tidak melayani pertanyaan mereka. Kemudian terkait fitnah memanfaatkan kesalahan untuk ketenaran :D, ya tidak lah. Saya berprinsip bahwa "Pohon lebih utama daripada bayangannya. Pohon adalah diri kita sendiri, bayangan adalah popularitas". Saya sudah beberapa kali masuk media bukan karena 4G, misalnya dalam artikel Tarbawi ini. Sewaktu diberi penghargaan Bakrie, jika penghargaan diberikan karena dianggap penemu 4G, tidak akan saya terima. Semoga status ini bermanfaat dan membuat kita lebih bijaksana dalam bersikap ya :D.
Dikirim oleh Khoirul Anwar pada 19 Maret 2016


Dilanjutkan dengan pernyataan yang akhirnya diproofread terlebih dahulu oleh "Grand Seniro" mereka berdua.

Turut mendoakan selalu Mas Khoirul Anwar . Meninggalkan Polemik 'Penemu 4G', Menyongsong Era 5G dan 6G
Dikirim oleh 21 Maret 2016


Marilah melangkah bersama-sama menatap masa depan.

Rekan-rekan, terkait dengan generasi telekomunikasi 5G dan 6G, karena setiap generasi memiliki ciri khas, maka saya merasa perlu memberikan gambaran bedanya dengan 2G, 3G dan 4G. Saya berikan tanda tanya "?" karena standard 5G dan 6G belum ditentukan. Gambar ini mungkin tidak merepresentasikan struktur sebenarnya, akan tetapi saya berharap mampu membantu kita memahami secara sederhana struktur setiap generasi. Saya sangat welcome terhadap masukan terkait dengan gambar ini.
Dikirim oleh Khoirul Anwar pada 21 Maret 2016
Adapun tentang kontroversi ini, saya pribadi berpendapat bahwa pengakuan maupun penafian temuan adalah konsep barat modern, yang seharusnya tidak diserap oleh budaya Indonesia. Cukuplah seseorang berkarya sebagai anonim untuk digunakan secara gotong-royong untuk kemaslahatan umat manusia, dengan imbalan pahala surga atau sekadar balas budi oleh segelintir orang di lingkarannya, tanpa ada yang menyelewengkannya untuk kepentingan pribadi atau golongan. Utopia, memang. Tapi apakah yang lebih utopia daripada kesadaran berbangsa dengan masyarakat terbayang?

Bagaimanapun juga, saran saya, jika beliau belajar dari sosok Son Goku, selayaknya juga meneladani betapa Goku dihargai kehebatannya baik oleh kalangan kawan maupun lawan, tetapi sama sekali tidak perlu dikenali oleh khalayak awam. 
Tugas untuk tampil tenar sebagai tokoh masyarakat diserahkan kepada mantan pesaing yang kemudian menjadi besannya, yakni Mr Satan. 
Strategi tersebut semestinya fasih diterapkan oleh para penggemar sejati Dragon Ball. Sebaiknya meminta pendampingan humas dari pihak almamater atau tempat kerja; jangan bertindak sendiri dalam menghadapi media. Hindari taktik politik, kembalikan semuanya ke jalur akademik.

Minggu, 16 Maret 2014

Muslim Show ke Bandung

Komikus Perancis Le Muslim' Show yang telah mendunia lewat FB versi bahasa Inggrisnya, menyelenggarakan lokakarya di FSRD ITB serta bincang-bincang di Pasar Komik Bandung, dalam rangka mengusung penerbitan dua bukunya yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Beberapa kiat menarik:
  • Sebagai muslim harus lebih mengikuti akal, bukan rasa. Ada banyak cara mencari ide melalui berbagai media, tapi yang lebih penting adalah pengalaman sendiri. Lalu dipastikan kebenarannya, misalnya dibahas dengan ulama atau orang tepercaya.
  • Le Muslim Show bertujuan dakwah, komik hanya sebagai alat. Maka apa pun gaya gambarnya, baik gaya khas Perancis maupun terpengaruh manga Jepang layaknya anak zaman sekarang, bukan masalah. Persoalannya adalah bagaimana supaya pesan tersampaikan.
  • Keahlian Le Muslim' Show adalah cara mengungkapkan pesan melalui metafora, tanpa terlalu gamblang apa adanya, supaya gambar itu sendiri bisa menjelaskan melalui lambang, penanda warna, cerita dan perbandingan, kalau perlu sekalian dilebih-lebihkan (hiperbola), tanpa kesan sok tahu menggurui.
  • Setelah itu temukan 'punchline', kunci kelucuan, 'tukgling'nya, pelengkap untuk membuat pembaca mengerti apa yang ingin disampaikan.
  • Supaya nggak salah sasaran, pengarang harus menggambarkan dulu keseluruhan peristiwa, tapi lalu dihapus bagian tengahnya. Hasil yang disuguhkan ke pembaca cukup bagian awal dan akhir saja, biarkan pembaca mengkhayalkan apa yg terjadi di balik itu semua.
  • Mereka menciptakan komik ini bertiga, tapi bagi tugas masing-masing. Sang Abang Noredine yang mencari ide dan menyusun alur storyboard, Greg bule berjambul penggemar dragonball yang meninta dan menentukan keputusan akhir bentuk ilustrasinya, lalu si adik Karim mewarnai.
  • Greg ini non-muslim, dipekerjakan karena latar belakangnya memang resmi berpendidikan desain (sedangkan Allam bersaudara belajar otodidak) tapi merasa cocok bekerja sama dengan dua saudara ini karena kebetulan memang nyambung, di samping itu menurut dia kisah kehidupan muslim dalam komik ini cukup universal bisa dinikmati semua orang.
  • Hasil riset tentang ungkapan perasaan di seluruh dunia ternyata rata-rata sama, cukup digambarkan lewat perubahan mata dan bibir, walaupun bisa juga dipertegas dengan gerak-gerik tubuh keseluruhan. Kali ini sang trio mengambil tantangan menggambar enam macam ungkapan perasaan. Tapi mereka jadi bingung sendiri karena para peserta meminta contoh rumit, semacam galau, miris dll... Sungguh peserta yang kejam.

Pihak penerbit dari DAR Mizan menerangkan bahwa komik tentang muslim di Indonesia sebenarnya tidak asing lagi. Misalnya, sudah pernah terbit komik sindiran pedas karya Aji Prasetyo, Hidup itu Indah, dll. Menanggapi permintaan hadirin untuk menggambar tentang Islam Indonesia, rekan-rekan The Muslim Show menepisnya, karena perlu hidup 20 tahun di lokasi atau menikah dengan pribumi supaya bisa menangkap kelucuan sehari-hari yang ada. Komik tentang Indonesia, sebaiknya digambar oleh komikus lokal, pesan mereka.

Saya sendiri sempat menanyakan tentang bagaimana proses mereka menampilkan tokoh perempuan dalam komik ini, berhubung mereka bertiga laki-laki semua, apakah mengamati perempuan di sekeliling mereka atau ada informan khusus soal ini? Dan, bagaimana kedudukan perempuan dalam dunia profesi komikus Perancis?
Mereka menjawab, tentu saja mereka mendapatkan ilham lewat pergaulan dengan ibu, saudara, istri dan anak-anak mereka sendiri. Kaum perempuan dan laki-laki pada dasarnya mengalami tantangan yang sama sebagai muslim yang ingin menunjukkan identitas, bedanya sesuai jenis kelamin, perempuan bermasalah dalam berhijab, laki-laki bermasalah dalam menumbuhkan janggut, atau kedudukan dalam rumah tangga, namun di luar itu sama-sama kesulitan mencari tempat shalat, memilih makanan halal, misalnya.
Mengenai perempuan komikus, jangankan di Perancis, di seluruh Eropa saja hampir tidak ada, sementara komikus Muslim tidak sampai sepuluh orang. Namun seorang peserta meralat, ada beberapa komikus perempuan yang ia kenal di Jerman. Barangkali profesi komikus tidak menjanjikan bagi perempuan di Perancis? Atau ada semacam pernyataan sikap terkait feminisme? Hahaha. Menarik juga, sementara di Jepang ada generasi 24nen gumi sejak tahun 1970an sedangkan di Indonesia juga cukup banyak komikus perempuan.

Jumat, 10 September 2010

Hard for Me to Say


Mohon dengan hormat untuk parcel-parcel selanjutnya kirimkan buah-buahan pribumi... Cintailah hasil dalam negeri! Dukung kemandirian bangsa... Demi kemajuan para petani... Dan, supaya bisa enak dirujak... NGAREPPP... Trims p(^o^)q

Rabu, 16 September 2009

Mengemas Bingkai-bingkai Kebinekaan Bangsa

Bingkai I: Mantra berbunyi Bhinneka Tunggal Ika



Kebetulan suatu hari sekitar dua bulan yang lalu, seorang rekan fb memasang status, "Anak-anak kalau ditanya bapaknya, apa semboyan bangsa? Pasti bilang Bhinneka Tunggal Ika. Rasanya di konstitusi kok enggak ada yakh tercantum Bhinneka Tungga Ika ... ada pendapat?"

Beberapa orang membalas bahwa sebagai doktrin yang ditanamkan untuk saling menghormati SARA, semboyan akan lebih masuk bila diajarkan dari mulut ke mulut, dan yang penting bukanlah tercantum secara tertulis atau tidak, melainkan apakah semboyan tersebut menjiwai pembentukan konstitusi atau tidak. Toh katanya, yang penting adalah improvisasi. (Wah setuju!)

Ada juga yang justru mempertanyakan, bukankah semboyan bhinneka tunggal ika itu cukup diwakili oleh pernyataan "bangsa yang satu bangsa Indonesia", tanpa perlu merinci (keberagaman) suku-suku tertentu? Ada lagi yang menuding betapa mantra itu tidak sakti lagi, terbukti dengan kerusuhan akibat benturan-benturan SARA dan kesenjangan ekonomi...

Saya pun tergelitik bertanya-tanya. Haruskah semboyan bangsa masuk resmi ke dalam konstitusi, tidak sebagai norma umum belaka? Kemudian teringat saya pernah mengunduhkan UUD 1945 untuk bahan PR anak penjaga kantor perwakilan universitas saya, maka dengan segenap ketulusan hati saya bongkar kembalilah berkas tersebut.

Ternyata semboyan negara saya temukan telah tercantum di dalam UUD 1945 versi baru, di amandemen perubahan kedua, pasal 36A.
(Untuk membandingkan perubahan tiap kalimatnya, silakan telaah UUD 1945 Amandemen. Untuk membaca hasil amandemen secara utuh, telaah UUD 1945 dalam satu naskah.)
BAB XV
BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN

Pasal 36A
Lambang negara ialah Garuda Pancasila
dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.


Sementara sebelumnya, semboyan tersebut diresmikan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951,
bersamaan dengan pengukuhan lambang negara Garuda Pancasila.
Pasal 5
Di bawah lambang tertulis dengan huruf latin
sebuah semboyan dalam bahasa Jawa-Kuno, yang berbunyi:
BHINNEKA TUNGGAL IKA.

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 66 TAHUN 1951
Pasal 5
Perkataan Bhinneka itu ialah gabungan dua perkataan: bhinna dan ika. Kalimat seluruhnya itu dapat disalin: berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Pepatah ini dalam sekali artinya, karena menggambarkan persatuan atau kesatuan Nusa dan Bangsa Indonesia, walaupun ke luar memperlihatkan perbedaan atau perlainan. Kalimat itu telah tua dan pernah dipakai oleh pujangga ternama Empu Tantular dalam arti:
di antara pusparagam adalah kesatuan.


Nah bahwa apakah semboyan dalam konstitusi "induk" ini telah dijabarkan dengan baik ke dalam pasal-pasal perundang-undangan yang lebih praktis, masih perlu kita perhatikan lebih teliti.

Demikianlah betapa angkatan saya ke atas, termasuk saya juga pastinya, tidak melek konstitusiiiii.
(Perlu dimaklumi bahwa saya kebetulan meninggalkan Indonesia tepat sebelum Soeharto turun, dan kembali setelah SBY naik, sehingga tidak ambil pusing binatang apa itu Amandemen UUD ataupun Mahkamah Konstitusi.)
Namun seberapa jauh anak-anak sekolah sekarang diberikan pemahaman yang lebih baik daripada kami, mengenai latar belakang dan posisi legal semboyan ini?

Bingkai II: Bercermin kepada sang Adidaya


Penasaran saya berkelanjutan, bagaimana dengan E Pluribus Unum?

Entahlah negara kita cuma ikut-ikutan ataukah apa boleh buat memang satu pemikiran, semboyan ini sama-sama dipegang oleh burung (dalam hal ini Elang Botak) tapi jelas kedudukan pita yang memuat semboyan ini lebih terhormat, karena dicotok oleh patuknya, bukan dicengkeram oleh cakar seperti yang dilakukan sang Garuda kita hia ha ha...

Tahapan-tahapan diskusi sampai terjadinya segel AS bisa diakses di www.greatseal.com, sayangnya tahapan sampai diputuskannya Sang Garuda menjadi lambang Indonesia belum saya dapatkan, kecuali secuil info bahwa Sultan Hamid II dari Pontianak yang merancangnya.

Diambil dari puisi anonim Moretum abad sekian sebelum masehi, color est e pluribus unus menggambarkan penyatuan warna-warni, dipatri sebagai segel negara sejak 1782 bersama dengan Annuit cœptis (Usaha yang Diberkati-Nya) dan Novus ordo seclorum (Zaman Orde Baru). Tidak pernah tercantum dalam undang-undang, E pluribus unum dianggap semboyan de facto oleh Amerika Serikat sampai 1956 ketika Kongres AS mengesahkan undang-undang mengambil "In God We Trust" sebagai semboyan resmi.

Hah, betapa negara adidaya pun ternyata oh ternyata lebih memilih sentimen keagamaan daripada sebuah semboyan pluralisme?

Bukankah masih lebih rendah hati semboyan kita, yang wujud aslinya dalam Kakawin Sutasoma (sebuah dongeng aneh abad 14 tentang pangeran peniru sang Buddha melawan raksasa pemakan manusia) adalah secara khusus merujuk pada toleransi antar umat Buddha dan Hindu Syiwa?
Pupuh 139, bait 5.
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu.
Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.


Bingkai III: Pluralisme dalam Kebinekaan MAKNA


Kini setelah kita punya Bhinneka Tunggal Ika, apa lagi perlunya sebuah istilah yang entah kenapa sulit dilafalkan bernama pluralisme? Jargon politik?

KBBI daring
Cari kata dasar dalam KBBI sama dengan bhineka
Tidak menemukan kata yang sesuai dengan kriteria pencarian!!!

bi·ne·ka /binéka/ a beragam; beranekaragam;
ke·bi·ne·ka·an n keberagaman: tampak sekali -nya dan inilah ciri kelebihan negara kita

plu·ra·lis·me n keadaan masyarakat yg majemuk (bersangkutan dng sistem sosial dan politiknya);
-- kebudayaan berbagai kebudayaan yg berbeda-beda dl suatu masyarakat


Wikipedia Indonesia ternyata mempunyai laman khusus mengenai Polemik pluralisme di Indonesia. Di sana tercantum definisi pluralisme dalam ilmu sosial yang katanya diambil dari wikipedia Inggris yaitu
Pluralisme ialah sebuah kerangka kerja saling mempengaruhi, di mana masing-masing kelompok menunjukkan rasa hormat dan toleransi yang cukup satu sama lain, bahwa mereka bermanfaat hidup berdampingan dan berhubungan tanpa perselisihan atau pembauran.


Namun ketika kroscek ke laman Pluralism, kalimat tersebut tidak serta-merta saya temukan, yang ada malah terkait penyalahgunaan sistem Benefice:
Berhubung benefice (penghasilan) datang kepada para imam karena patronasi feodal dan pertimbangan politik, imam kadang-kadang memegang lebih dari satu penghasilan, yang disebut pluralisme. Pluralisme ini sering mengakibatkan ketidakhadiran, di mana imam tidak akan mengurus daerah tanggung jawabnya.
Pluralisme sering dianggap sebagai investasi bagus untuk keluarga yang mampu membeli sebuah posisi (simoni) untuk anak yang lebih muda atau anak didik lainnya. Posisi akan memungkinkan keluarga untuk menjilat Gereja dan menjamin masa depan yang ditunjuk.
Kedudukan "gemuk" lain - bahkan kepala biara - kadang-kadang diserahkan kepada para imam yang disewa dengan sebagian kecil penghasilan, sementara keluarga memegang penghasilan "nominal". Praktik ini mendorong penggunaan imam pengganti yang berkualitas meragukan; kurangnya pelatihan yang tepat (sampai ditemukannya seminari) menyebabkan imam buta huruf, beberapa bahkan khotbah bidah.

Wah, dengan begini bukankah istilah "pluralisme" telah tercemar???

Sementara Majelis Ulama Indonesia pada 2005 telah mengeluarkan Fatwa tentang Pluralisme bahwa haram diikuti ketika definisinya
Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.


Padahal kalau merujuk pada Harvard Pluralism Project (teori tahun 1997 yang direvisi tahun 2006 dari Diana L. Eck):

  1. Pluralisme bukan sekadar kenyataan akan kebinekaan, melainkan keterlibatan yang giat dengan kebinekaan. Kebinekaan bisa berarti pengucilan agama dengan sedikit lalu lintas antar- atau di antara mereka. Di masa kini, kebinekaan agama adalah kenyataan, tetapi pluralisme adalah sebuah prestasi.
  2. Pluralisme bukan sekadar tenggang rasa, tetapi giat mencari pemahaman melintasi garis perbedaan. Tenggang rasa diperlukan sebagai kebajikan umum, tetapi tidak mengharuskan untuk mengenal dan menghilangkan ketidakpedulian satu sama lain, sehingga menyisakan stereotip, kebenaran yang setengah-setengah, dan rasa takut yang mendasari pola lama perpecahan dan kekerasan.
  3. Pluralisme bukan relativisme, tetapi perjumpaan tanggung jawab. Paradigma baru pluralisme tidak mengharuskan kita meninggalkan jati diri dan tanggung jawab kita di belakang. Ini berarti berpegang teguh pada perbedaan kita yang terdalam, bahkan agama, bukan dalam pengasingan, tetapi dalam berhubungan satu sama lain.
  4. Bahasa pluralisme adalah dialog dan perjumpaan, memberi dan menerima, kritik dan introspeksi. Berbicara dan mendengarkan dua arah, dan proses itu mengungkapkan baik pemahaman umum dan perbedaan nyata. Dialog tidak berarti semua orang di "meja" akan setuju satu sama lain. Pluralisme melibatkan tanggung jawab untuk berada di meja - dengan tanggung jawab masing-masing.

Menimbang keempat poin tersebut, saya pikir saya siap mengusungnya, karena saya rasa itu juga sejalan dengan pandangan Islam. Pernyataan angkuh "bagimu agamamu, bagiku agamaku," memang terlebih dahulu perlu disertai dengan pemahaman mendalam akan apa-apa yang dinyatakan. Juga dengan demikian tidak berarti masing-masing agama harus menghindari berdakwah sejauh dalam damai dan niat baik. Saling menjelaskan dan memperluas wawasan, tentu akan mengangkat manusia menuju derajat akal sehat dan meningkatkan kesejahteraan.


Bingkai IV: Agama, Igama, Ugama, Egama, Ogama


Dalam kaitan pluralisme, jelas yang paling sensitif diangkat adalah persoalan agama. Ketika agama seharusnya punya andil dalam menghapuskan diskriminasi ras, status sosial, dan kesenjangan ekonomi, justru diskriminasi agama itu sendiri yang jadi masalah. Seorang teman mengeluh, tidak diluluskan PNS karena tidak bisa mengisi pilihan kolom agama, karena dia telah memutuskan secara sadar dan tanggung jawab untuk menganut Deisme. Entahlah apa pula itu. Dan banyak pula yang protes mengapa KTP harus memuat kolom agama, itu dianggap diskriminasi.

Menilik konsep agama, banyak yang mengesampingkan bahwa ternyata agama itu pada dasarnya adalah hubungan manusia dengan negara, sementara hubungan manusia dengan Tuhan adalah igama, sedangkan ugama adalah mencakup hubungan sesama manusia. (Entahlah apa itu egama dan ogama kalaupun ada... weks)

Jadi sebagai warganegara yang baik, mungkin memang kita perlu mengikat diri pada salah satu agama yang diakui negara, untuk pertimbangan hukum yang akan diterapkan. Termasuk masalah perkawinan, hak waris, dsb. Hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia selain itu, tentu ada dalam matra yang berbeda.

Yang jadi masalah, adalah kaum adat yang pertimbangan hukumnya diabaikan. Mungkin karena hukum mereka dinilai belum sinkron dengan hukum modern, mungkin juga karena kebetulan hukum mereka tidak mengenal konsep kenegaraan. Dalam hal demikian, artinya bukan agama atau adat yang salah, tapi konsep kenegaraan sok modern itu sendiri tentunya ha ha ha ha ha.


Bingkai V: cin(T)a dalam Menara Gading


Satu masalah yang sering diungkit juga, mengapa ada banyak hambatan untuk menikah beda agama. Seperti yang baru-baru ini diangkat oleh film indies yang cukup kontroversial berjudul cin(T)a.
(Kebetulan, produsernya adalah teman berkemah saya, dan penulis skenarionya juga pernah menghabiskan berpuluh malam beratap langit dengan saya. Latar belakang yang diambil pun cukup saya kenal, karena beberapa anggota keluarga saya kuliah di AR ITB.)

Kesan pertama menonton ini, pemeran cowonya cakep! Pengambilan gambarnya cukup indah. Pemeran cewenya, kok rasanya perwatakannya tidak pas dengan konsep yang ditampilkan, nggak mahasiswa teknik banget, tapi mungkin memang sengaja dibentuk demikian?
Ceritanya adalah perjumpaan dua manusia dari latar belakang berbeda: seorang anak cerdas miskin ceria keturunan Cina dari Tarutung beragama Kristen, dengan seorang artis terkenal keturunan ningrat Jawa Islam pemurung kesepian yang nilai-nilainya jeblok.
Pergaulan mereka kontan dipenuhi bahasan "stupid conversation" (istilah saya dan teman-teman zaman mahasiswa dulu) tentang apakah Tuhan itu arsitek ataukah sutradara. Kebetulan masa itu tahun 2001, saatnya waktu lebaran dan natal berdekatan, namun juga sempat terjadi ketegangan antarumat beragama di Indonesia.
Dialog dan konflik antarkeduanya entah kenapa diselingi dengan testimoni dari berbagai pasangan beda agama, yang berhasil nikah maupun yang gagal.

Rasanya cari jalan mudah memilih tema mahasiswa arsitektur, karena memang mereka sekali waktu bermain sebagai Tuhan. Seandainya bergeser sedikit saja ke latar belakang teknik sipil, pasti cara pandang terhadap dunia dan Tuhan akan berbeda. Apalagi teknik mesin. Dan seterusnya. Apalagi, kalau mengambil sudut pandang rakyat biasa yang bukan anak sekolahan, di mana agama dan sara lainnya adalah hal yang mengurat mengakar dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu disadari dan direnungkan secara mendalam. Tentu akan lebih rumit dan menantang daripada membedah pola pikir mahasiswa-mahasiswi sok tahu yang terkurung di menara gading ini.

Tapi dalam hemat saya, pluralisme sesungguhnya bukan isu di sini. Kalau mengacu pada poin "berpegang teguh pada perbedaan terdalam", artinya kita tetap menganut agama dan kepercayaan masing-masing. Sementara dalam agama, aturan pernikahan jelas telah dijabarkan satu persatu. Ketika ada rekan yang mengklaim, "seandainya tokoh cowo yang muslim dan tokoh cewe ahli kitab, tidak akan kontroversial karena dalam Islam itu dihalalkan!" tapi bagaimana dengan aturan pernikahan ahli kitab? Pastinya tidak tercantum aturan membolehkan menikah dengan cowo muslim! Apalagi, bukankah pernikahan adalah suatu proses pembauran?

Beberapa dialog yang terselip dalam film sendiri menyatakan betapa agama justru punya andil dalam menghapuskan diskriminasi ras dan status sosial. Seperti tokoh cewenya siap menikah dengan seorang cina muslim yang dijodohkan kepadanya.

Yang pantas dipermasalahkan di sini bukanlah hambatan dalam perbedaan agama, melainkan bagaimana mereka menyikapi jati diri masing-masing. Annisa yang tampak rajin shalat, tapi santai saja ngelaba adik kelas yang polos? Cina yang alim dan bersemangat dakwah, tapi di saat-saat terakhir bilang tak peduli lagi kalaupun harus pindah agama?

Rasanya memang tidak bisa dikaitkan secara langsung hambatan bercinta dengan aksi kebencian yang melanda, karena masing-masing sesungguhnya ada pada ranah yang berbeda.

Bingkai VI: Isu Pluralisme dalam Perspektif Media


Hampir saja terlupakan, ini adalah penelitian rekan-rekan di sebelah saya. Mereka mengangkat dua isu pluralisme yang marak pada 2008, yaitu RUU Pornografi dan kasus Ahmadiyah. Mereka memperbandingkan liputan di berbagai media (tepatnya lima media: Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Republika, dan Gatra), keberpihakan dan kecenderungan masing-masing media dalam menyikapi dua isu tersebut.

Dari hasil pengamatan mereka, disimpulkan bahwa selain Gatra belum ada yang benar-benar berimbang dalam menyampaikan berita-berita tersebut. Ada media yang memberi bobot sepihak dalam jumlah narasumber, ada media yang membuat penegasan kalimat-kalimat tertentu secara berulang sehingga mengarahkan pola pikir pembaca ke satu sudut pandang. Berbagai kepentingan terlibat di dalamnya, tentu.

Sayangnya para peneliti abai terhadap kenyataan bahwa media adalah proyeksi dari perbedaan masyarakat, dan ada saatnya media juga perlu mengambil sikap pemihakan. Saatnya media membentuk diskursus, dan secara tegas menyatakan pendiriannya. Media mana yang pro, media mana yang kontra, tinggal masyarakat yang memilih ingin mendengar yang mana, bukankah begitu?

Bingkai VII: Indonesia Kreatif


Minggu-minggu lalu saya sempat juga menghadiri penjelasan tentang proyek Indonesia Kreatif Departemen Perdagangan. Terkait kasus bajak-membajak, sikat-sikut dengan Malaysia, dan kenyataan bahwa belum ada gerakan terpadu yang menyeluruh untuk mengusung Industri Kreatif di Indonesia. Sang panelis pun menjelaskan konsep yin-yang yang akan dipakai dalam mensinergikan situs-situs online pendukung gerakan tersebut. Seorang penonton pun nyeletuk, kenapa menggunakan konsep yin-yang? Kenapa tidak menggunakan padanannya yang dimiliki oleh Bali?
Tukgling.
Demikianlah adanya, bagaimana mau berkoar-koar menerapkan pluralisme, ketika nilai kebinekaan masih belum kita hargai sebagaimana mestinya? Tentulah kreativitas Indonesia yang dikembangkan perlu berlandaskan kebinekaan kita, sebagai jati diri, harta karun yang kita miliki bersama.

Bingkai VIII: Masjid Mungil di Padang Ilalang


Dalam pencarian definisi pluralisme, saya mendarat di sebuah situs Global Center for Pluralism yang didirikan atas kerja sama dengan Aga Khan, Imam Ismaili keturunan ke-49. Lembaga ini didirikan tahun 2006. Situsnya sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda kegiatan selanjutnya, namun yang jelas, Kanada tampaknya memang merupakan tempat yang lebih menyokong pluralisme dibandingkan Amerika Serikat.
Sebuah komedi situasi yang mengambil tema kehidupan sekelompok muslim di kota terpencil Kanada dengan berbagai dinamikanya dengan masyarakat sekitar, Little Mosque on the Prairie, adalah kegemaran saya yang rasanya cukup menggambarkan kehidupan ideal pluralisme. Bisa ditonton di sini.

Menanamkan semangat pluralisme melalui dunia hiburan sudah bukan barang baru.
Star Trek dan Heroes, One Piece, Harry Potter adalah contoh teladan dalam menampilkan isu-isu sejenis melalui dunia perumpamaan, sehingga tidak perlu menyinggung satu sama lain secara langsung.
Menyesuaikan dengan kenyataan dunia, sejak pasca 9/11 X-Men juga mulai menampilkan seorang tokoh remaja muslim bercadar pula, Dust. Dari pihak DC Comics Amerika, kini juga sedang dinantikan kolaborasi antara tokoh komik islami the 99 (komik dengan tokoh-tokoh superhero remaja islam dari berbagai negara) dengan Justice League of America.
Di Indonesia model cerita seperti itu belum cukup digarap. Dulu kayaknya ada novel-komik Olin yang menampilkan persahabatan tokoh-tokoh beda agama, tapi sepintas lalu tampaknya masih digambarkan dalam sebatas toleransi, dan belum sampai kepada tingkat "keterlibatan yang giat". Dan dengan keterlibatan yang giat, mau tidak mau ada gesekan juga di sana-sini sebagai salah satu bentuk dialog, dengan harapan tidak perlu sampai menjadi bom waktu yang tiba-tiba meletupkan perselisihan besar.
Tantangan menarik bagi kalangan Indonesia Kreatif.

Bingkai IX: Pluralisme itu ibarat Mengeblog


Dari keempat poin yang telah dijabarkan di Bingkai III, untuk mudahnya mungkin Pluralisme itu bisa diibaratkan saja dengan kita mengeblog.
Kita berhak punya pendirian seperti dalam kiriman tulisan masing-masing, dan tak seorang pun yang dapat mengubahnya selain kita sendiri. Tapi kita tetap memberikan ruang bagi orang lain untuk berdialog lewat ajang komentar. Apakah kita setuju atau tidak, terpengaruh atau tidak oleh masukan-masukan tersebut, semua terserah kita. Seberapa pun tekanan atau kepungan yang dilancarkan, tidak akan mendikte atau menyakiti kita secara langsung.
Hanya admin, yang kemudian akan berperan sebagai takdir Tuhan, atau setidaknya sebagai hukum legal formal yang berlaku, yang dapat menghapus atau menjatuhkan larangan terhadap blog kita -alias prinsip hidup kita itu.
Sebaliknya, kita juga giat memberi komentar pada blog orang lain; seberapa pun gencarnya kita membual di sana, mereka pasti mendengar namun belum tentu setuju ataupun terpengaruh, kalaupun akhirnya tergerak untuk menyunting, itu sepenuhnya ada pada kehendak masing-masing. Yang penting, proses komunikasi itu berjalan.
Bagaimana, apakah lebih mudah dicerna?

Bingkai X: Binekaisme!


Bagaimanapun juga untuk menyebarluaskan pluralisme dengan definisi yang sedemikian rupa seperti idealisme di atas, dipermudah seperti apa pun, tentu masih memerlukan perjuangan panjang, mengingat betapa beragam dan simpang siurnya penggunaan istilah pluralisme ini, dan sudut pandang orang yang berbeda-beda pula. Mendorong media untuk melek pluralisme juga suatu usaha yang tak kunjung henti. Kalangan blogger atau pengguna internet secara umum mungkin mudah terjangkau pola pikir ini, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak punya akses? Perlu pendidikan yang layak mencapai kedewasaan untuk bisa menerapkan poin-poin pluralisme tersebut, ketika sesungguhnya pluralismelah yang diharapkan akan mendorong manusia meraih pendidikan yang layak mencapai kedewasaan. Lingkaran setaaaaaaaaaaaaaan.

Jangan-jangan, pengusungan istilah pluralisme inilah justru yang menimbulkan masalah baru, alih-alih menuntaskan masalah. Sementara masing-masing pribadi belum memahami jati diri dan agamanya, mereka terlanjur pusing dituntut untuk memahami konsep-konsep pluralisme ini.

Sedangkan, pluralisme itu sendiri harus menerima kenyataan bahwa dia disikapi secara plural; ada yang menganggap pembauran, ada yang menganggap bukan pembauran. Ada yang pro ada yang kontra. Rancu.

Hanya usul asal-asalan,
AGAR TIDAK KEPALANG TANGGUNG,
BAGAIMANA KALAU KITA BUAT ISTILAH BARU
SEKALIAN, BHINNEKAISME MISALNYA???
(setidaknya lebih meng-Indonesia ya gak sih)