Tampilkan postingan dengan label bintang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bintang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2022

Esok tak pernah Mati


Gambar ini saya corat-coret dengan bolpoin pilot biasa, seperempat abad yang lalu saat masih remaja culun galau, pelampiasan sehabis mampus ujian Matematika yang susah muntah di sekolah bahasa persiapan kuliah. Meniru foto yang kebetulan muncul di sampul majalah yang tersedia di ruang santai, lalu saya pajang di depan pintu kamar untuk menyombongkan ke teman-teman seasrama 🖊️🖼️ 
Bukan selera secara khusus, hanya saja waktu masih balita, saya sering dibangunkan nenek tengah malam untuk menemani beliau menonton serial yang dibintangi orang ini, katanya mirip dengan paman saya (mungkin karena televisinya buram bersemut di masa itu 🖥️🐜😹) 
Berhubung pemerannya sedang naik daun, wajahnya dianggap sebagai standar ras arus utama holiwut masa itu yang seputar WASP. Atas saran teman-teman asrama, selanjutnya saya berusaha menggambar tokoh-tokoh ras lain yang dari Asia-Afrika (tapi ujungnya masih arus utama juga 🙈🎦🎭)  (FB)

I doodled this with Pilot ballpoint pen a quarter-century ago, back when I was still an anxious innocent (?) teenager, to overcome an existensial crisis after a disastrous vomit-inducing Math exam just around summer solstice at the college preparatory Japanese language school. I imitated a photo on a magazine cover available in the lounge then installed the drawing at the door of my dormitory room to brag off to my neighbors 
He was a favorite of my grandmother who used to wake me up around midnight when I was still a toddler, to accompany her to watch the tv series starring this person as she thought his face was similar to my uncle (maybe because the television was blurry at that time) 
Move forward to my prep days his fame was on the rise, becoming standard of the mainstream WASP race, so on the suggestion of my dorm mates, the next project I tried to diverse by drawing other prominent figures from Asia-Africa background for a challenge (but in the end they were still mainstream too, weren't they) 


Hari berikutnya, seorang tetangga asrama dari Hungaria menyelipkan kliping koran bergambar orang ini dari dompetnya (?) meminta saya menggambarnya. Ukurannya lebih kecil dari telapak tangan saya ✋💂   
Kali ini, saya tidak akrab dengan raut wajahnya karena belum mengikuti serial televisi yang dia bintangi. Saya berjuang untuk menelusuri ikal rambut, lengkung alis, cibiran bibir, dan kemudian menyerah pada kerut dahi. Ternyata saya belum menguasai seni wajah cemberut 😾🎨 
Saya menganggap ini belum selesai karena saya hanya menggambarnya dengan pensil keras pucat dan masih belum puas dengan kerutannya. Sungguh tersiksa untuk mengakui kepada tetangga kamar saya bahwa saya tidak mampu memenuhi permintaannya 🙈😿  
Untungnya kamera masa kini membuat garisnya cukup gelap untuk terlihat rapi sekarang 📷📝  (FB) 

The next day, one dearly neighbor slipped a small newspaper clipping of this guy from her wallet (?) to my hand and asked me to draw him. The picture was smaller than my tiny palm 
This time, I was not familiar with his features since I have not watched any of his series at all. I struggled to comprehend the frizzy hair, the curly eyebrows, the sneering lips, and then gave up at the wrinkling forehead. Apparently I haven't mastered the art of frowning  
I considered this unfinished since I only drew it with a pale hard pencil and was still not satisfied with the frown. It was tormenting to admit to her that I could not fulfill her request  
Fortunately the camera made the lines dark enough to be presentable today 

Beberapa bulan kemudian, karena sudah mulai adaptasi menonton drama Jepang, saya mengenal yang ini. 
Menurut keluarga asuh saya saat itu, dia ini orang paling beken sekampung. Jadi terdorong untuk bikin ini buat pajangan pengusir nyamuk menggantikan babang jimbong di depan pintu asrama. 
Mengarsirnya jauh lebih santai, masih sempat hupas-hapus di tengah suasana syahdu menyambut musim gugur 🍁🍂 
Lalu pernah dipakai untuk pengamatan golden section di kelas pengantar gambar teknik ✍🏾📐 
Saya sangka ketinggalan di lab sebelum pulang, ternyata terselip belasan tahun di antara berkas-berkas administrasi. Sudah bulukan akibat panas dan lembap 😿🌦️ 
Gara-gara ucing saya si Kumi mau lahiran sebelum lebaran 2019 saya membongkar kardus, terpaksa isinya disortir, eh ketemu deh. Bayi-bayinya jadi harus dinamai Kimu, Muta, & Taku 🐈🌟 (IG)

A few months later, because I started watching Japanese drama adaptations, I got to know this one.
According to my host family at the time, he was the most famous person in the country. So I was compelled to make this for a mosquito repellent display to replace uncle jimbong in front of the dorm door. 
I was more relaxed hatching this, with enough time to erase and replace in the midst of the serene atmosphere of welcoming autumn   
Then it was used for observing the golden section in the introductory engineering drawing class  
I thought I left it in the lab before going home, but turned out it was tucked for a dozen years in between the administrative files, feathered due to heat and humidity   ️
Because my cat Kumi was about to give birth before Eid of 2019, I unpacked a cardboard box, I found this when sorting the contents. The babies then have to be named Kimu, Muta & Taku 


#ballpointpendrawing #gambarbolpen #pencildrawing #gambarpensil 
#piercebrosnan #jamesbond007 #remingtonsteele 
#theworldisnotenough #tomorrowneverdies
#willsmith #thefreshprinceofbelair #kimutaku #kimuratakuya #takuyakimura 
#collegeprep #sketsawajah #coratcoret #portraitsketch #sketsapotret
#スケッチ #ペンシルスケッチ #鉛筆画 #鉛筆スケッチ 
#ペンスケッチ #ボールペンスケッチ #筆画 #ボールペン画
 #顔でかい #似顔絵 #人物画 
#ピアースブロスナン #ウィル・スミス #キムタク #木村拓哉 

Kamis, 01 Juni 2017

Ekaharita Marakata

Pada penataran P4 terakhir yang saya ikuti di masa sweet seventeen, saya meraih peringkat 30 dari 2000 sekian pelajar unggulan --berkat senjata pamungkas hapalan ngolotok ekaprasetia pancakarsa sejak SD sewaktu masih 36 butir dan naskah andalan laporan presentasi berjudul "Fanatisme Berlebihan Mengancam Perikehidupan Berbangsa dan Bernegara" yang isinya menguraikan kemustahilan penerapan paragraf-paragraf GBHN-- seolah-olah bocah orde baru sejati cemana pula.

Tapi kini keluhan saya, Pancasila sejauh mengusung kebinekaan manusia, ternyata belum menghargai kebinekaan hayati, sehingga tidak secara tegas langsung menganjurkan tindakan-tindakan ramah lingkungan.

Apalagi ketika gerakan pemuliaan alam semesta dituduh bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa karena dianggap menjurus syirik; dilupakan bahwa bumi adalah amanat Allah swt, dikira sekadar batu loncatan menuju surga yang bisa diinjak semena-mena, cepat atau lambat toh kiamat akan tiba …

Sedangkan kemajuan peradaban untuk kemanusiaan dinilai dari berbagai rekayasa pendirian aspal beton besar-besaran dan pembakaran energi habis-habisan, ketika sesungguhnya yang dibutuhkan sudah bukan lagi kritik membangun melainkan kritik menanam …

Kecintaan dan kebanggaan terhadap tanah dan air digiatkan dalam kerangka penguasaan dan penaklukan, tidak mempertimbangkan upaya perlindungan dan pemeliharaan …

Musyawarah untuk mufakat dipimpin oleh elite-elite menara gading yang tidak mampu menyimak suara-suara rakyat pinggiran yang sehari-hari menikmati bertahan hidup di tengah hutan rimba atau samudra raya.

Barangkali yang paling mendekati seputar butir-butir yang berbunyi "tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain, pemborosan dan gaya hidup mewah, atau hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum" …
Padahal para perusak darat laut dan udara itu justru memanfaatkan hak negara (?) dengan alasan keadilan sosial berupa pemerataan pengerukan sumber daya …

Boleh jadi kita masih mengamalkan ekaprasetia pancakarsa, tapi pasti lebih banyak yang tidak tahu perbedaan antara burung garuda, elang botak, dan rajawali; pohon beringin dengan kelapa sawit; banteng dengan sapi perah; padi dengan gandum; kain katun dengan poliester.

Sementara itu, cahaya bintang kecil di langit yang tinggi pudar oleh silaunya kerlap-kerlip neon di kota …
Rantai pemersatu pun menjadi belenggu.

Selasa, 03 Januari 2012

Tumpeng Awug

Sebenarnya sih lebih menantang ulang tahun penanggalan bulan, karena berubah terus musimnya setiap tahun. Apalagi tahun 2011 lalu jadinya saya berulang tahun dua kali, hahaha.
Tapi kenapa ya yang dipakai buat berkas-berkas resmi (Akte, KTP, Paspor, Rapor, SIM dll) dan yang dirujuk untuk layanan gratisan hari ulang tahun, semua memakai penanggalan matahari.



Saya tidak pernah merayakan ulang tahun dengan kue tart dan lilin. Apalagi karena perlu mendukung ketahanan pangan nasional (terigu bahan kue itu impor, bo! Mari dukung petani lokal!) Kecuali kalau ada yang bela-belain membuatkan atau membelikan ya apa boleh buat terpaksa dinikmati juga tentunya.
Biasanya sih ibu saya membuatkan ketan durian, tapi berhubung usia sudah bertambah, perlu hati-hati terhadap gangguan kolesterol hiks... Maka kali ini mari kita memotong tumpeng awug dari tetangga sebelah.

Selamat ulang tahun juga buat JRR Tolkien... Kami sangat menantikan film Hobbit-nya tapi masih lama banget ya...

Kamis, 16 Juni 2011

Gerhana, Purnama, Serigala

Malam ini aku berdoa, semoga langit cerah listrik sekota padam.
Sayang tidak sepenuhnya terkabul. Karena awan berarak tipis berlapis.
Jelang tengah malam, lampu-lampu rumah banyak yang meredup.
Namun beberapa lampu jalanan masih menyala.
Padahal seharusnya acara-acara seperti "Earth Hour" menyesuaikan jadwal dengan pertunjukan langit seperti ini.

Tapi aku tak sudi menyerah.
Bertengger di atap berdampingan dengan pucuk-pucuk pohon mangga.
Bersaing dengan para kelelawar. Diiringi alunan takbir masjid sebelah.
Menantikan setiap saat sang angin menyingkap sang rembulan.
Yang perlahan ditelan bayang-bayang. Dan mulai menyala merah.



Katanya bulan merah darah pertanda kiamat. Kalau diiringi langit cokelat.
Tapi kali ini warnanya merah bata. Pantulan abu letusan gunung berapi.
Yang pasti, peristiwa buruk mengintai. Akan muncul serigala jadi-jadian.

Lalu mana sang serigala?
Oh, bukankah manusia adalah serigala terhadap manusia lainnya.
Kalau begitu aku melolong. Sekarang.

Minggu, 10 Februari 2008

360 Purnama

Andaikan satu purnama dihitung sebagai derajat, tentunya hidupku sudah berputar satu keliling penuh. Namun bagaimanapun, perputaran tata surya tidak pernah menjadi satu lingkaran utuh; lebih tepatnya akan menjadi elips. Dan entah kenapa tampaknya masih ada saja yang sumbing di berbagai sudut (sudut yang mana, ya?) Untuk itu, rasanya perlu berhenti sejenak merenungkan maut...

Fractal Recursions by Jock Cooper
Creative Commons License61672 by Jock Cooper (http://www.fractal-recursions.com)
is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial 3.0 United States License.

Sabtu, 07 Juli 2007

777

tujuh, tujuh, tujuh.
nana, nana, nana.
seven, seven, seven.
sieben, sieben, sieben.
sapta, sapta, sapta.
sab'a, sab'a, sab'a.

bondmuda


herge777tintin777

Senin, 05 Maret 2007

Gerhana, Parijs van Java

Baru saja pulang bolos dan berniat santai-santai di Jumat pagi, ternyata ada peristiwa: Kakak sepupu tiba-tiba menang tiket terusan Java Jazz berkat iseng menjawab kuis radio. Dia masih tugas jaga klinik, bingung dibuang sayang, membujukku untuk memanfaatkannya pergi menonton ke Jakarta. Yaah, malas banget deh! Mana tiketnya hanya untuk seorang setiap hari!
Sebagai bukan penyimak radio (sebelum bukan pemirsa MTv) ini memang kesempatan langka yang tak pernah aku angankan. Tapi karena kepepet tidak sempat menanyai siapa kenalan yang pergi, dan baru saja pewe dalam suasana rumah, iming-iming bahwa harga aslinya mahal pun tak membersitkan semangat ke sana tuh...
javajazz

Semangatku sendiri menyala-nyala ketika berusaha menunggui gerhana bulan di balik gumpalan awan, dan walaupun takbir cukup heboh terdengar di masjid, ternyata yang bertahan bangun hanya aku dan dua ekor kucing. Kakak sepupu bolak-balik mencium bantal, sementara adik malah mengigau dan baru bangun setelah bayangan mulai tersingkap.

Menebus dua hal yang belum terpuaskan itu, adikku mengajak, "Yuk nonton Paris Je t'Aime, murah meriah cuma 15 ribu, popcorn gratis, lewat pelentinan juga pasti sudah sepi!"
Reaksi pertama kami, "Haa? Tumben ada film luar negeri terinspirasi film Indonesia (Eiffel I'm in Love, hiks komentar gak mutu)..."

Kami pun berbondong-bondong ke bioskop, tapi sebelumnya mencicipi sushi groove. Waduh, sungguh kalau cari restoran sushi lebih baik yang konvensional saja, jangan yang sok modern. Dihias dengan wajah indah, rasanya malah tidak karuan. Takoyaki bungkus kentang masih mendingan, tapi masa maguro pakai remah gorengan dan saus sambal. Akhirnya kami kenyang cuma dengan jahe merah dan wasabi. Untungnya mereka tidak sampai menghidangkan yang separah ini...
nemosushi

Film Paris Je t'Aime, BAGUS BANGET!!! Lengkap, dengan 18 potongan itu, seakan-akan segala ada. Sangat direkomendasikan. Hmm, inginnya sih Bandung dibuat seperti itu. Kyoto mungkin sudah punya ya. Selamat menonton deh.

Jumat, 19 Januari 2007

Selasa, 09 Januari 2007

Subaru ・昴

Menanggapi permintaan tamu di papan jeritan, jadi ingat semboyan sebuah restoran hidangan laut yang akhir-akhir ini sering jadi tempat traktiran kantor "harga kaki lima, selera bintang lima" digambarkan dengan lima kaki dan lima bintang berderet...
Dan kejadian bulan lalu, waktu Anggun membahas tempat penyelenggaraan sebuah acara ke bagian umum.
"Berarti ini harga hotel bintang lima ya, bagaimana kalau kita pakai hotel bintang tujuh, harganya jadi berapa?"
"Idih neng, mana ada hotel bintang tujuh! Obat pusing, kali!"
... XD XD XD ...


subaruNah, Subaru adalah bahasa Jepangnya gugus Pleiades alias Seven Sisters, kelompok bintang di rasi Taurus yang disebut "Bintang Tujuh (bidadari)" putri-putri Atlas dan Pleione.

Kabarnya orang Jawa menyebutnya "Lintang Kartika" yang berarti bintangnya bintang.

Ada pula yang menyambungkan dengan kisah Jaka Tarub dan Nawangwulan ataupun tarian Bedhaya Ketawang walaupun belum ada bukti tertulis yang jelas menunjukkan keterkaitannya.

Karena seakan-akan terangkai dengan kuat, diasosiasikan dengan pengendalian kekuasaan, mirip mahkota kali ya sehingga acap disebut "Bintang Raja".

(Hokuto Sichisei dihitung bintang tujuh juga tapi kan Ursa Major alias Great Bear, lebih dikenal sebagai "Bintang Biduk" ya?)

Mungkin yang menanyakan tersasar ke sini karena kata "Subaru" tercantum dalam lirik lagu lain yang saya gemari, Chijou no Hoshi:
(kaze no naka no subaru = bintang tujuh di dalam angin)

Tapi lagu yang memang berjudul Subaru kebetulan saya lumayan tahu juga, gara-gara keseringan menemani para kakek-kakek karaoke.

Menilik liriknya mungkin tentang pemuda sakit paru-paru, kesasar saat meniti jalan hidup (???)
Kabarnya lumayan beken di masa saya bayi, sebagai pengiring iklan mobil (???)

Nadanya bisa didengar dari sini.


"Subaru" oleh Tanimura Shinji (1980)



目を閉じて 何も見えず  Me wo tojite nani mo miezu
哀しくて 目を開ければ  Kanashikute me wo akereba
荒野に 向かう道より  Kouya ni mukau michi yori
ほかに 見えるものはなし  Hoka ni mieru mono ha nashi

Menutup mata, tak terlihat apa-apa
Karena sedih mata dibuka
Selain jalan menuju padang liar
Tak ada benda lain yang dapat dilihat



嗚呼 砕け散る  A-a... kudake chiru
運命の 星たちよ  Sadame no hoshi tachi yo
せめて 密やかに  Semete hisoyaka ni
この身を 照らせよ  Kono mi wo terase yo

Wahai... bintang-bintang nasib yang hancur berkeping-keping
Setidaknya, terangilah diri ini diam-diam



我は行く  Ware ha yuku
蒼白き頬のままで  Aojiroki hoho no mama de
我は行く  Ware ha yuku
さらば昴よ   Saraba subaru yo

Kami berjalan, dengan pipi yang pucat kebiruan
Kami berjalan, selamat tinggal Bintang Tujuh



呼吸をすれば 胸の中  Iki wo sureba mune no naka
凩は 吠き続ける  Kogarashi ha nakitsuzukeru
されど 我が胸は熱く  Saredo waga mune ha atsuku
夢を 追い続けるなり  Yume wo oitsuzukeru nari

Kalau menghirup nafas ke dalam dada
Angin kutub terus bertiup
Namun dadaku terasa panas
Karena terus mengejar mimpi



嗚呼 さんざめく  A-a... sanzameku
名も無き 星たちよ  Na mo naki hoshi tachi yo
せめて 鮮やかに  Semete azayaka ni
その身を 終われよ  Sono mi wo oware yo

Wahai... bintang-bintang yang bertebaran tanpa nama
Setidaknya, akhirilah diri itu dengan gemilang



我も行く  Ware mo yuku
心の命ずるままに  Kokoro no meizuru mama ni
我も行く  Ware mo yuku
さらば昴よ  Saraba subaru yo

Kami berjalan, dengan sekehendak lubuk hati
Kami berjalan, selamat tinggal Bintang Tujuh


(N.B.: Selamat ulang tahun Professor Snape: hihihi, gak penting yah?)

Kamis, 09 November 2006

Suikinchikamoku Dottenkororin

suiseiDari sejak kemarin teringat untuk mengecek matahari yang sedang mengalami transit Merkurius alias Hermes sang Dewa Gesit (bukan ceweknya densha otoko) alias sang Bintang Air (hih, bukannya gak ada air di sana?). Nongkrong deh di lantai atas bersama rimbunan tanaman yang berembun oleh sisa hujan tadi malam. Untungnya matahari muncul di sela awan, tapi masih buram.
Hiks, gak punya teropong memang gak praktis, yang penting mengikuti tatacara yang dicontohkan...

Yang penting sih menikmati detik-detiknya, seperti saat oposisi Mars 2003 kebetulan bertepatan dengan kegiatan kunjungan lab ke kepulauan Shikoku, sengaja menginap ramai-ramai di pondokan pengamatan bintang di pegunungan. Saat transit Venus 2004, kebetulan sedang beredar dengan ibunda keliling kota, melewati para astronom amatiran.
Akhir-akhir ini agak sensitif terhadap kegiatan planet-planetan, gara-gara heboh Pluto dan para "planet kerdil" baru (Ceres, Eris dkk), kemudian pameran gambar-gambar menarik Saturnus dari ekspedisi Cassini-Huygens dengan cincin-cincin terbarunya...

dosei

Ngomong-ngomong, kan dalam astrologi (?!!?) sang Planet Tanah ini berpengaruh pada bulan Januari (Janus pun didaulat menjadi nama bulannya Saturnus), nah berdasarkan "rokuseisenjutsu" alias ramalan enam bintang, ternyata aku juga masuk kategori makhluk Saturnus!!!

Saturnus alias Cronos, lambang pembatasan dan keterbatasan...
Ciri-ciri makhluk Saturnus: tinggal dalam dunia pikiran dengan idealisme tinggi, bernasib tak mampu mengakrabkan dengan dunia nyata. Hidup bersih dan penuh rasa keadilan, dan lebih menghargai ketenaran daripada kepraktisan.
Istilah baiknya, risoushugisha alias "idealis".

Istilah buruknya, yuigadokuson alias "mau benar sendiri".

Entah bagaimana mencocokkannya, apakah dari perhitungan di atas atau melalui cara lain, ceritanya yang juga bernasib menjadi makhluk Saturnus itu kan duo unmeikyoudoutai Tsukushi dan Tsukasa. Kebetulan Hana yori Dango ternyata laris manis komiknya terutama dengan tambahan kesimpulan gak penting sebanyak 50 halaman, sementara Januari tahun depan bakal tayang sekuel dramanya, haaa kangen dan penasaran juga sama mereka, apalagi karena musim pertama ternyata jauh lebih menarik dari yang diperkirakan semula. Hmmm, MatsuJun memang lucu.
Tapi, ingat liontin Saturnus yang noraknya gak ketulungan itu? Seiring bekennya HyD, tampak mulai dijual juga. Walaupun sebagai sesama makhluk seplanet, diberi gratisan pun aku gak sudi. Mungkin masih mending kalung meteor yang versi Taiwan.
(Ngomong-ngomong soal meteor, hujan Leonid tahun ini gak kelihatan lagi dari sini ya. Huah sudah lama tidak menikmatinya...)

Keterangan judul:
Sui= Air (水星= Merkurius)
Kin= Emas (金星= Venus)
Chi= Bumi (地球= Bumi)
Ka= Api (火星= Mars)
Moku= Pohon (木星= Yupiter)
Do= Tanah (土星= Saturnus)
Tenkororin= apa ya? Bintik warna-warni? (点コロリン=...)
Lanjutan seharusnya:
TenOu= Raja Langit (天王星= Uranus)
KaiOu= Raja Laut (海王星= Neptunus)
MeiOu= Raja Bawah Tanah (冥王星= Pluto)

まあ、とにかく、寝言は寝ているときに言うもんであって、起きてる時に言うのは寝言じゃないわけだから、寝言なら、起きてる時に言ってもいいけど、寝言じゃないなら、起きてる時に言う。。。もんであって、起きてる時に言うことは、寝てないから。。。つまり、寝言はラム睡眠の最中に言うんだよ! (Masih ngantuk pun...)

Sabtu, 07 Oktober 2006

Faerie Varth

Hmmm, bulan cemerlang sekali sejak maghrib tadi, mengalahkan daya tarik lampu neon semeriah apa pun. Rencananya mau melanjutkan cerita peri, namun suasana hati malah terlalu nyaman untuk diganggu gugat.

otukimi2Ngomong-ngomong ternyata bulan-bulanan bumi yang alami ada lagi satu, asteroid yang dinamakan Cruithne yang terperangkap gaya tarik bumi-bulan. Selain itu banyak lagi sampah angkasa artifisial yang mengitari bumi, sisa-sisa satelit atau roket rusak. Mungkinkah suatu saat mereka akan membesar dan membulat menjadi bulan kedua, ketiga dst?

Yang belum sempat saya ceritakan dari Expo 2005 tahun lalu, gerai Mitsubishi Miraikan dengan teater IFX-nya dan robot Wakamaru-nya menampilkan kisah bahwa "bila bulan tidak pernah ada", evolusi makhluk hidup terhambat, manusia tidak akan hidup saat ini dan dinosaurus akan masih menjajah bumi. Lah, itu kan cuma kalau percaya teori evolusi???

Manga Jepang sering sekali menjadikan bulan sebagai bulan-bulanan. Piccolo di DB menghancurkan bulan tanpa sisa agar Son Gohan tidak berubah menjadi gorila. Tetsuo di Akira melubangi bulan demi memperlihatkan kekuatannya mengganggu keseimbangan gaya berat. Mokuren dan Shion di BCM adalah dua makhluk luar angkasa sebesar kelingking yang berstasiun di bulan demi meneliti perilaku manusia bumi.

enermoonKini giliran bang Ener yang berhasil mendarat untuk mengadakan penjelajahan ke tanah tanpa batas yang dia idam-idamkan selama ini. Apa yang akan ia temukan di sana? Manusia liliput yang menggali lubang bawah tanah? Kelinci yang penuh pengorbanan? Ular naga?

Dulu waktu masih kecil, memandang bulan purnama selalu ingat cerita Chandrakirana-nya Ayip Rosyidi. Sekarang cukup ingat bang Ener saja lah. Semoga dia bisa hidup bahagia di Faerie Varth. Yahaha...

Jumat, 08 September 2006

Tsukimi #2: Fairy Varth

otukimiBulan purnama mengingatkan kembali kepada Putri Kaguya, yang sudah sepintas lalu dipaparkan di bambumuda: Tsukimi (Memandang Bulan) tahun lalu. Mulai saat ini saya bermaksud mencoba menyoroti cerita Jepang sejenisnya, dan kedudukannya bersanding dengan cerita peri yang kini dinikmati secara mendunia.

Bagaimana sampai mereka digolongkan ke dalam cerita "anak-anak"? Seberapa pantas?

Tentu ada banyak hal yang dapat disingkap dari dongeng-dongeng tersebut... (berlanjut besok-lusa...)

Jumat, 25 Agustus 2006

Sang Raja Dunia Bawah

Pluto = Dewa Romawi (Yunani: Hades) penguasa neraka/alam kubur
Plutonium = logam radioaktif isotop 239
Plutokrasi = pemerintahan oleh orang-orang kaya


Sejak tahun 1930, Pluto menjadi nama piaraan Mickey Mouse planet kesembilan (huks... lagi sensitif nih sama angka 9) dalam sistem tata surya yang terjauh dari matahari. Namun, selama 20 tahun usiaku, Pluto berjarak lebih dekat dengan matahari dibandingkan planet kedelapan.
Dan setelah berbagai penemuan benda langit yang mengelilingi matahari dan menandingi besarnya makhluk ini, seperti Xena, Sedna, Ceres, serta entah apa lagi, kemarin telah diputuskan melalui pemungutan suara Sidang Umum Uni Astronomi Internasional di Praha, bahwa Pluto diturunkan ke kategori "planet kerdil" di luar delapan planet. (CNN)
Mungkin memang nasib sesuai namanya, dewa Pluto selalu menjadi yang tersisihkan dari puncak kekuasaan... Yahahahaha.

plutoGerakan Perjuangan Pembela Pluto (???) pun bermunculan di mana-mana.
Jawaban Pluto: Planet Juga Manusia Punya Rasa...

Hmm, berhubung janji mampir ke Bosscha sudah tertunda lama... Mendengar berita astronomi jadi merasa agak bersalah.

(Gak nyambung)
Komik Pluto karya Urasawa Naoki tribut untuk Tezuka Osamu, yang menceritakan kembali salah satu episode Tetsuwan Atom (Astroboy) mengenai seorang robot polisi Gesicht di Jerman yang harus menyelidiki pembunuhan berantai sadis terhadap manusia dan robot-robot terkuat dunia. (bisa unduh di sini)
plutoatom

Jumat, 03 Februari 2006

Setsunai Setsubun

Entah mengapa kali ini segala macam tahun baru terlewat begitu saja. Yang Masehi, Hijriah, dan Imlek...
Toh aku bukan orang yang mematok tahun baru menjadi titik tolak rencana hidup.
Tapi setidaknya di perayaan Setsubun masih beredar toshi-koshi soba, semacam mi untuk merayakan tahun baru, jadi masih bisa merasa heboh tahun baruan.

Kebetulan pamanku suami-istri baru studi banding ke Hongkong, Idul Adha di sana segala. Iseng menitip oleh-oleh, ternyata benar-benar dibawakan: sebuah benda gak penting, kantung hp yang lebih mirip amplop angpau --- hihihi, abg. Si Tante agak merenung, wah ini mungkin terlalu biasa ya? Di Chukagai belahan dunia manapun pasti ada. Bahkan di Indonesia pun Imlek sedang ramai-ramainya, karena masih "baru"... Tapi lumayan juga, beruntung: Akhirnya ada satu benda yang bisa menimpali retorika: "Ti mana, ti Hongkong???" "Heueuh, ti Hongkong pisaaan" (^_^;
...
Tahun ini jatuh pada shio anjing, tapi produksi AIBO oleh SONY malah dihentikan katanya.
Sementara keluarga di rumah malah tiba-tiba memelihara kelinci.
"Wah, kenapa kok bisa? Terimbas majalah Playboy, atau terpengaruh film Wallace and Gromit: Curse of the Were Rabbit?"
"Bukan, itu malah belum nonton. Ini, supaya balita di rumah gak bosan nonton Lion King dan Two Brothers melulu tiap hari pagi siang sore, baru diputarkan Bambi. Kan ada si Thumper itu, dia suka sekali. Jadilah dibelikan kelinci. Lucu-lucu loh, ada yang bercelak matanya seperti Cleopatra."
"Achso. Tapi kelinci kan jarang berbunyi, jadi serasa mudah tertukar sama selop..."
"Eh tahu-tahu sudah begitu dia malah minta rusa! Apalagi sudah pernah melihat foto-foto mesramu dengan rusa-rusa Nara. Mungkin kapan-kapan harus pelesiran ke Istana Bogor..."
"Yah masih untung atuh, dia belum minta Simba atau Sangha... Payah aw kalau aku punya anak kapan-kapan, gak bakalan kutitipkan pada neneknya, takut jadi manja!"

Senin, 09 Januari 2006

Januari

severusjan9
Penanggalan di dunia ini ditetapkan berdasarkan rotasi dan revolusi bumi terhadap benda-benda langit. Ilmu perbintangan seharusnya dikenal dengan baik oleh semua orang, setidaknya berhubungan dengan pemetaan, penunjuk arah. Namun saking langkanya ilmu itu malah pada terjerumus astrologi yang bukan-bukan.
Apalagi, penanggalan Masehi sampai sekarang masih berkaitan erat bukan dengan sistem kepercayaan Nasrani, melainkan justru Yunani-Romawi.
Untuk bulan Januari, yang berjaya adalah Janus, dewa gerbang dan pintu, sang awal dan sang akhir, sang alpha dan sang omega, yang mempunyai dua wajah: Apollo dan Dionysos.

Makanya, ketimbang merayakan Tahun Baru kali ini lebih tepat mengucapkan selamat Idul Adha kepada para kambing-kambing gunung (capricorn) yang mungkin disembelih...?

Walaupun, berdasarkan Quran juga tanda-tanda alam itu memang diyakini ada, dan mempertimbangkan kaitan dna (???) dengan gravitasi saya cukup percaya kalau generalisasi sifat manusia itu sebagian berkaitan dengan tanggal lahir.

Nah maka dengan memanfaatkan dua wajah yang bertolak belakang tersebut, di Januari bermunculan para pendongeng handal lah ya:

John Ronald Reuel Tolkien (penulis Lord-ofthe-Rings geto)...
salah seorang Grimms brother (yang mana lupa),
AA Milne (Winnie the Pooh),
Charles Perrault (mother goose, puss in boots),
Lewis Carroll (Alice in the Wonderland)...

Yang sok ngelmiah ada Stephen Hawking.
Karel Capek, dramawan Cheko yang pertama kali mempopulerkan istilah ROBOT...
Louis Braille bahkan menciptakan huruf timbul agar orang buta juga bisa baca tulis.

Murakami Haruki, Mishima Yukio (hieee...)
Virginia Woolf, Kahlil Gibran, JD Salinger (catcher in the rye), Umberto Eco (il nome della rosa), Edgar Allan Poe (the raven)...
Judith Krantz (gak pernah baca sih, tapi zaman SMP suka sama lagu soundtrack di miniserinya Till We Meet Again... gak nyambung yah?)

RF Outcault, pelopor komik strip, pengarang The Yellow Kid yang menimbulkan istilah Yellow Journalism.
Di jalur manga ada Oda Eiichiro (One Piece, tentunya) serta
Urasawa Naoki (Yawara, Monster, Pluto, 20th Century Boys);

Urusan film: Rowan Atkinson alias si Mr.Bean. Kan dia mengarang skenarionya sendiri.

Dannn untuk anime ada Miyazaki Hayao (studio Ghibli) sang sutradara, penulis skenario sekaligus penggambar karakter yang beberapa hari lalu berusia 65 tahun, dan masih ada tanda-tanda bakal kembali menggebrak setelah beberapa kali pengumuman pensiun.

Yang fiktif juga ada: Hmmm, Tintin sang wartawan muda, yang besok berusia 77 (tahun terakhir dia boleh membaca kisahnya sendiri). Lalu itu si Laguna Loire di FFVIII juga wartawan.

Heuheu Severus Snape bukan penulis yah, tapi kan tokoh ini digambarkan cukup pakar dalam menjelaskan ilmu kimia farmasi lewat barisan puisiiiii...

Toiukotode, omedetou.

Jumat, 16 Desember 2005

Project X: Bintang di Muka Bumi

Mengikuti renungan Hayami Masumi, manusia masa kini terlalu tersilaukan oleh gemerlap lampu-lampu kota, sehingga lupa akan cahaya sejati dari bintang-bintang di balik awan.
Namun lain lagi perumpamaan dari ProjectX: chousenshatachi.

projectxMenurut lirik OSTnya, manusia masa kini pun masih cenderung hanya memandangi langit dan melupakan adanya bintang di muka bumi.
...

Project X adalah acara dokumenter mingguan televisi NHK yang punya masa tayang cukup lama, lebih dari lima tahun. Program ini menampilkan tokoh-tokoh di balik layar peristiwa yang terkait dengan kesuksesan dalam proses penciptaan, terobosan teknologi, pengambilan keputusan di saat kritis, karya seni, penanggulangan bencana alam, dan sebagainya.
Sayangnya, karena berbagai hal antara lain kehabisan berita, pemotongan dana dan restrukturisasi, akhirnya dikabarkan bahwa program acara ini akan berakhir tahun ini! Zannen deshitaaa.

Sebagai sebuah program dokumenter, acara ini juga mencatat sebuah rekor dalam soundtracknya. Chijou no Hoshi ・「地上の星」, lagu pembukanya yang dinyanyikan oleh Nakajima Miyuki, sangat digemari terutama oleh orang-orang setengah baya dan lanjut usia, bertahan di top 100 lagu pilihan di daftar Oricon selama hampir 4 tahun (180an minggu), dan karena ditampilkan secara langsung di acara tahun baruan paling beken, Kohaku Utagassen pada penghujung 2002 (walaupun sang penyanyi salah baca lirik), akhirnya di minggu ke-130, awal 2003, melejit mencapai nomor satu.
Kabarnya sih sebagai tayangan terakhir minggu-minggu depan, sang penyanyi bersuara khas ini akan menjadi sorotan.

Patut dicatat bahwa lirik untuk reffrain OST ini, wahai burung layang-layang / dari ketinggian langit / tunjukkan padaku / bintang di muka bumi / ternyata punya latar belakang sebuah cerpen terkenal abad silam karya Oscar Wilde yang saya gemari di masa kecil:

Kalau belum tahu ceritanya, aduh... saya anjurkan baca dulu, sila unduh sendiri, banyak di mana-mana karena hak ciptanya sudah masuk ranah publik, antara lain di taut di atas, di sini, di sini, di sini atau di sini!
Singkat kok, namanya juga cerpen. Kira-kira...
Seekor burung layang-layang yang siap bermigrasi menghindari musim dingin, yang kebetulan hinggap di pundak patung seorang pangeran. Pangeran ini termanjakan oleh kekayaan, bahagia sepanjang hayatnya. Namun setelah wafat dan patungnya ditegakkan di alun-alun kota, barulah ia memperhatikan keadaan sekeliling dan menyadari kesengsaraan rakyatnya.
Untuk menebus ketakpeduliannya selama ini, ia meminta tolong sang burung untuk membagikan permata yang menghiasi pedangnya kepada orang-orang pekerja keras yang layak diberi hadiah.
Semula sang burung melakukannya dengan enggan, namun lambat laun ikut puas akan hasil kerja sukarelanya sebagai utusan pangeran, dan ketika sang pangeran menjadi buta karena berlian untuk matanya habis terbagikan juga, burung layang-layang jatuh hati dan tak tega meninggalkannya, sehingga tetap membantu sang pangeran membagikan selembar demi selembar emas pelapis patungnya, menyisakan sosok patung yang lusuh kusam, walaupun angin kutub yang menusuk tulang sudah berhembus tak tertahankan lagi...

Uwaaah setidaknya bagiku kisah ini lumayan ampuh untuk melenyapkan selera pada benda-benda berkilau bling-bling seperti emas permata, asli mengharu-biru.


Chijou no Hoshi (Nakajima Miyuki)




Lirik selengkapnya beserta terjemahan coba-coba:

風の中の昴  kaze no naka no Subaru
砂の中の銀河  suna no naka no Ginga
みんな何処へ行った  minna doko he itta
見送られることもなく  miokurareru koto mo naku

Bintang Tujuh di dalam angin, Bimasakti di dalam pasir
semua entah ke mana, berlalu tanpa diantar

草原のペガサス  sougen no Pegasasu
街角のヴィーナス  machikado no Viinasu
みんな何処へ行った  minna doko he itta
見守られることもなく  mimamorareru koto mo naku

Pegasus di padang ilalang, Venus di kelokan jalan
semua entah ke mana, berlalu tanpa dijaga

地上にある星を  chijou ni aru hoshi wo
誰も覚えていない  dare mo oboete inai
人は空ばかり見てる  hito ha sora bakari miteru

bintang yang ada di muka bumi
tak ada yang mengingat
manusia hanya memandang langit

つばめよ 高い空から  tsubame yo takai sora kara
教えてよ 地上の星を  oshiete yo chijou no hoshi wo
つばめよ 地上の星は  tsubame yo chijou no hoshi ha
今何処に あるのだろう  ima doko ni aru no darou

wahai burung layang-layang, dari ketinggian langit
tunjukkan padaku bintang di muka bumi
wahai burung layang-layang, bintang di muka bumi
sekarang ini ada di mana

崖の上のジュピター  gake no ue no Jupitaa
水底のシリウス  minasoko no Shiriusu
みんな何処へ行った  minna doko he itta
見守られることもなく  mimamorareru koto mo naku

Yupiter di atas tebing, Sirius di dasar laut
semua entah ke mana, berlalu tanpa dijaga

名立たるものを追って  nadataru mono wo otte
輝くものを追って  kagayaku mono wo otte
人は氷ばかり掴む  hito wa koori bakari tsukamu

mengejar ketenaran,
mengejar kegemilangan,
manusia hanya menggenggam bongkah es

つばめよ高い空から  tsubame yo takai sora kara
教えてよ 地上の星を  oshiete yo chijou no hoshi wo
つばめよ地上の星は  tsubame yo chijou no hoshi ha
今何処にあるのだろう  ima doko ni aru no darou

wahai burung layang-layang, dari ketinggian langit
tunjukkan padaku bintang di muka bumi
wahai burung layang-layang, bintang di muka bumi
sekarang ini ada di mana


Sabtu, 17 September 2005

Tsukimi (Memandang Bulan)

Bulan purnama dalam dongeng jepang diasosiasikan dengan kelinci. Namun selain itu seperti diceritakan dalam ketika-bambu-berbunga, tersebutlah sebuah kisah berdasarkan peristiwa nyata di zaman Nara, mengenai seorang putri yang memilih bunuh diri daripada menerima pinangan penguasa saat itu, Yamato no Oocho yang berada di pihak musuh keluarganya.
Selain dipandang sebagai teladan perempuan yang memegang harga diri tak tertarik pada kekuasaan, sebagai bumbu perayaan yang dipengaruhi budaya cina "mooncake festival" kisah ini mewarnai acara memandang bulan, yang disesuaikan dengan kalender lama jatuh pada malam ini.
Walaupun tidak diketahui dengan pasti siapa pengarangnya dan kapan terbitnya, namun kisah ini disebutkan dalam catatan Murasaki Shikibu pada pengantar novel kuno Genji Monogatari sebagai karya yang telah terkenal di masanya. Dalam Konjaku monogatari (terbit pada masa setelah Genji), kompilasi dongeng rakyat yang dimanfaatkan untuk menyampaikan ajaran Buddha, kisah Kaguyahime alias Taketorimonogatari tercantum versi ringkasnya.
Versi yang dihilangkan adalah perincian mengenai lima pria yang melamar sang putri, satu persatu ditolak dengan berbagai syarat mustahil (seperti Loro Jonggrang menolak Bandung Bandawasa nih), antara lain: mustika naga (dragonball nih), kimono kulit tikus api (kimononya inuyasha nih), cawan tempat minum Buddha (mirip mitos ksatria meja bundarnya raja
Arthur nih), yang dikabulkan oleh para pria tersebut dengan akal-akalan cerdas yang sayangnya ketahuan juga... dan akhir cerita bahwa ketika terbang ke bulan, sang putri menyerahkan obat hidup abadi untuk sang kakek yang mengasuhnya. Sang kakek merasa ini tak perlu, sehingga menyerahkannya sebagai pelipur patah hati sang raja yang telah ditolak. Sang raja malah menyuruh pasukannya membakar obat tersebut bersama dengan surat-surat dari sang putri ke puncak tertinggi di Jepang, sehingga asap terus keluar dari gunung fuji.
Sayangnya legenda ini hangus karena gunung fuji sudah tidak aktif...

kaguyaorigamiaichitaketori

Sabtu, 05 Maret 2005

Lebih ke Barat Lagi

tournesolDemikianlah, sebagaimana profesor Tournesol alias Calculus sering menafsirkan ayunan pendulumnya, aku pun lalu bersama angin.

merenung




Atas nama Jawa Barat, menuju Aceh Barat, dan dikomandani oleh seorang Hutabarat pula... yahaha.
Maka lagu tema kali ini: Into The West oleh Annie Lennox


terdamparbeachboyssosokmenggapailangitmenggapaicahayabaywatchbahumembahuterjangombaksiluetLay down,
your sweet and weary head.

Night is falling.
You have come to journey's end.

Sleep now, and dream
of the ones who came before.

They are calling,
from across a distant shore.


Why do you weep?
What are these tears
upon your face?

Soon you will see.
All of your fears
will pass away.

Safe in my arms,
you're only sleeping.

What can you see,
on the horizon?

Why do the white gulls call?

Across the sea,
a pale moon rises.

The ships have come,
to carry you home.

And all will turn,
to silver glass.

A light on the water.
All souls pass.


Hope fades,
Into the world of night.

Through shadows falling,
Out of memory and time.


Don't say,
We have come
now to the end.

White shores are calling.
You and I
will meet again.

And you'll be here in my arms,
Just sleeping.

What can you see,
on the horizon?

Why do the white gulls call?

Across the sea,
a pale moon rises.

The ships have come,
to carry you home.

And all will turn,
to silver glass.

A light on the water.
Grey ships pass

Into the west.

Rabu, 05 Januari 2005

By the Year 2005...

Intermezzo...
Berhubung beberapa hari ini saya terlalu sering mengirim gambar bouzu, kok belum bosan yah, tohohohoho... Maka kali ini, eng i eng... Foto yang diambil sekitar seperempat abad yang lalu...

info2000


By the year 2000,
information will be multiplying
four times faster than population.


Lima tahun berikutnya, sekarang, mungkin saja teori ini benar... Namun apakah sudah cukup memadai?
Yang berlipat cepat, hanya gunjingan tak penting, sementara ilmu, tak sampai kepada yang membutuhkan...

Iya, ini foto nyaris-nyaris gundul saya, di atas singgasana jingga (kursi bayi, tepatnya) yang saya menangkan di acara lomba bayi sehat sekota. Ayahanda melakukan itazura dengan memasangkan gaya sedemikian rupa. Tentu saja saat itu saya sama sekali belum bisa membaca, walaupun di kemudian hari termasuk cepat mempelajari huruf-huruf, dibandingkan anak-anak seumur saya. Judul berita koran yang berhasil saya baca secara lengkap pertama kali, adalah "Gunung Galunggung Meletus".

Senin, 27 Desember 2004

Gempa dan Luminarie

Berkunjung ke Kobe, layaklah mampir ke
人と防災未来センター
alias Institusi Pencegahan Bencana dan Pembaharuan Manusia yang didirikan sebagai peringatan musibah tersebut. Sesuai semboyan
子どもたちに伝えなければならないことを。
(Hal yang harus disampaikan kepada anak-anak)
museum ini menampilkan dokumen-dokumen, video dan diorama peristiwa gempa tersebut, juga berbagai sarana pendidikan mengenai bencana alam secara umum dengan sasaran utama anak-anak, agar generasi baru bisa waspada terhadap kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
***


La Citta della Luce


Sebagai tanda semangat perbaikan kembali kota yang runtuh, dan usaha memulihkan pariwisata Kobe, sejak akhir 1995 setiap tahun kota ini menyelenggarakan Festival Cahaya, sekitar sebulan sebelum peringatan peristiwa gempa tersebut. Penciptanya adalah seniman Italia, Valerio Festi, bekerja sama dengan produser Jepang Imaoka Hirokazu. Untuk tahun ini, yang kesembilan kali, diadakan tanggal 13 sampai 26 Desember. Tentunya di hari terakhir, orang Indonesia yang mampir ke sana akan mengenang gempa Aceh...
Luminarie (official website)

Saat ini, kegiatan serupa (ikut-ikutan?) sejak tahun 1999, karya seniman yang sama juga, masih diselenggarakan di Tokyo sejak malam natal 24 Des kemarin sampai Tahun Baru 1 Jan 2005.
Millenario (official website)

Perayaan semacam ini juga pernah diselenggarakan di beberapa kota lain di Jepang, antara lain :
- Fukuoka, peringatan milenium 26 Des 2000 - 1 Jan 2001 bernama:
Illuminata (official website)

- International Tourism Expo di Wakayama, November 1995 (sayangnya saat itu internet belum ngetrend).

Seperti bisa dilihat di situs-situs tersebut, setiap tahun dan di setiap tempat desainnya berbeda sedikit, namun konsepnya kurang lebih sama. Adaptasi dari kebudayaan Italia zaman Baroque dalam menyambut natal dan memanjatkan doa secara meriah.

Turun dari stasiun, kita akan antre bersama ratusan ribu manusia lainnya dari bayi sampai kakek-nenek, ke Galeria, yaitu lorong sempit satu arah sepanjang ratusan meter yang dihias gerbang-gerbang dari 150000an bola lampu warna-warni tersusun sebagai ukiran ornamental, Paratura, yang berjajar rapi menciptakan efek tiga dimensi. Dengan musik latar semacam lagu-lagu orgel yang mencekam, lampu-lampu ini dinyalakan menjelang mentari terbenam sampai sekitar jam 10 malam. Keluar dari lorong, kita tiba di pelataran lebar yang dikelilingi oleh dinding lampu juga, Barriera (?) Dan beberapa langkah dari sana sudah ada keramaian kaki lima dan teater terbuka menampilkan musik/lawak, dihiasi aneka ragam ornamen lampu juga, Squadro atau apalah.

Bukti dari antusiasme warga Jepang terhadap acara ini adalah, antrean panjang tak terkira beu... Saat saya mampir pertama kali tahun 1999, di setiap persimpangan terjadi tabrakan kaki manusia... Setiap tahun pelayanannya membaik, antara lain penambahan jumlah "gembala" yaitu para polisi jalanan supaya gak ada yang berani menyela antrean, pemblokiran kelokan agar jalan masuk benar-benar hanya satu, sehingga jalur antre semakin teratur dan kemacetan semakin terhindar, tapi tetap saja berdesak-desakan memperlambat gerak. Sebenarnya festival ini tidak terlalu menarik bagi saya pribadi, apalagi mempertimbangkan lelah yang harus dibayar, tapi yeah, entah kenapa, tetap saja hampir setiap tahun mampir lagi ke situ...

Bagi yang belum pernah sih, mungkin perlu juga mencoba untuk pengalaman, Pesona Artifisial dan ekstase keramaian. Mumpung yang di Tokyo masih berlangsung. Apalagi tahun ini, adalah pertama kalinya bola lampu produksi dalam negeri Jepang digunakan, sebagai promosi "tahun persahabatan Jepang dengan Uni-Eropa 2005"...

Gempa dahsyat Hanshin Awaji Daishinsai, 17 Januari 1995 adalah obat pahit yang mendorong Jepang untuk segera mempersiapkan usaha-usaha pencegahan, penanggulangan dan peningkatan ketahanan di sana-sini.
# Museum Gempa
# Festival Cahaya


Disaster Reduction and Human Renovation Institution


***

Seandainya Banda Aceh akan meniru tindakan yang dilakukan Kobe, siapa tahu tahun depan, atau secepatnya begitu listrik kembali menyala di sana, kita akan memandang masjid Baiturrahman dalam gemilang kerlap-kerlip lampu warna-warni a la Baroque...
Hmmm entahlah.
(Teringat Sari yang baru berbulan madu, baik-baik saja kah...?)