Tampilkan postingan dengan label tenun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tenun. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2018

Sajak Utas Kantih


yang kapas mari dipintal,
yang benang mari dirajut,
yang silang mari ditenun,
yang polos mari disulam,
yang lepas mari disimpul,
yang putus mari disambung,
yang kusut mari diurai,
yang burai mari diikat,
yang rumbai mari diobras,
yang cabik mari dijahit,
yang aus mari ditisik,
yang bolong mari ditambal,
🍀👘🎀😇🙏


© Idulfitri 1439 H BambuMuda

Sabtu, 29 November 2014

Semarak Minang Bersoda

Onde mandeh ... Baa pulo rang awak ko ...
Pasanglah sakalian tungku randang jo piriang2 dendeng balado ...
Kegagalan hreatipitas ... ??? OMGWTHDNA


NATIONAL COSTUME MISS EARTH INDONESIA 2014Kostum nasional “The Glory of Sparkling Minang” yang dikenakan oleh Annisa...
Dikirim oleh Indonesian Pageants pada Senin, 24 November 2014


KOMENTAR DUNSANAK SADONYO

  • Puti nan baduri...???
  • Iyo bana rang awak tu? ... Indak malu nyo?
  • Seram ... Sieun ... Yaiks ... tatutt ...
  • Kayak monster ... Maleficent atau Cruella de Vil versi minang
  • Bisa buat kouhaku uta gassen iniii

  • Indak barek jam gadang di kapalo?
  • Bentar lagi jadi Leher beton.. Ngalahin mike tyson ...
  • Mirip menara Sauron ya?
  • Kayaknya bakal sakit ketusuk2 gonjongnya di sana sini :)))
  • Kan gak mesti bagonjong, atap kajang padati lebih vernakular ...

  • Songketnyo cabiak, tarompahnyo sirah, jam gadang batenggek
  • Manga lo paha pamer2 cando iko. Mambangkik batang tarandam
  • Benar-benar memahami spirite urang awak tuh designernya *sigh
  • Duh... Arwah Tuanku Imam Bonjol bisa bangkit dari kubur nih
  • Misi mendangkalkan filosofi baju kuruang padusi islami.

  • Moderennyooo... iyo. Tapi ... Apo indak marah rang minang ??????
  • Pakai istilah sekarang ... "gak segitunya kaleeeee ..."
  • Kok urg kampuang pasti indak mangarati bantuak koh...
  • Perancang tu ingin manunjuakkan rancaknyo tanun Silungkang ...
  • Sayang kreativitas indak manenggang budaya urang Minang...

Jumat, 19 Maret 2010

Kisah Kain Pengantin 「乙嫁語り・布支度」

Mengunduh episode sepuluh Otoyomegatari karya Mori Kaoru, tiba-tiba bangkitlah kembali rangkaian kenangan masa lalu.

persiapan kain pengantin
"Trousseau" - scanlation read online chapter 10 (via MangaReader)


Suatu sore yang cerah ketika menghabiskan liburan di Indonesia dengan mampir nongkrong di pelataran LFM-ITB, Bang Tegar pentolan kineklub saat itu menyodorkan kepada saya sebuah kaset VHS berisi film dokumenter berbahasa Jepang. Katanya ini adalah jatah pembagian dari Departemen Penerangan untuk unit kegiatan mahasiswa.

Isi film hitam-putih itu mengenai suatu desa di pelosok Jawa yang mandiri dalam memproduksi kain batik, mulai dari menanam kapas dan nila, memintal benang, menenun kain, merancang gambarnya, mencanting dan mencelup, sampai menjadi siap pakai. Masing-masing anak gadis melakukan hal itu sendiri, untuk kemudian dipakai sendiri sebagai kain pengantin mereka.

Semangat yang seirama dengan adegan menyulam yang saya baca dalam manga di atas. Hmmm sejak kapankah semangat mengerjakan keterampilan hastakarya seperti itu mulai luntur di kebudayaan kita, tereduksi menjadi selera untuk sekadar "berbelanja" pilih sana-sini tunjuk sana-sini pesan sana-sini tahu beres dan bayar dengan uang?

pola-pola sulam jalur sutra

Menurut kabar berita, tante-tante saya masih rajin menyulam selendang pengantin mereka masing-masing. Ibu saya sendiri tidak, tampaknya sih bukan karena sudah termodernisasikan atau kenapa, melainkan karena kepepet tidak punya uang modal membeli benangnya, hihihi. Lalu bagaimana dengan saya? Setelah menonton film dokumenter itu terpikir juga untuk melakukannya tapi tidak pernah sempat. Seandainya memulai sekarang, mungkin tidak akan keburu waktu, huh. Yang jelas, saya ingiiiiiiin sekali bisa membuat komik kebudayaan Indonesia seperti buku ini. Atau kalau ada siapa pun juga yang bersedia, saya berjanji akan mendukung sekuat tenaga... :p

otoyomegatari

Otoyomegatari (Kisah Pengantin Muda)



Saat adik sepupu menyodorkan Emma, romantika "maid" Inggris abad 19, saya hanya memandang sebelah mata pada Mori Kaoru. Okelah, renda-renda dan pita-pitanya digambar dengan indah, tapi bukankah alur novel-novel Jane Austen, bahkan drama Shakespeare sekian abad sebelumnya, jauh lebih rumit daripada cerita ini. Mana ada manusia yang sesederhana dan sepolos tokoh-tokoh utama manga ini? Raut wajah mereka membosankan. Dan huh, lagi-lagi berlatar belakang Eropa. (Walaupun, diam-diam dalam hati saya mengagumi cara dia menggambar BAJING yang menjadi figuran cerita tersebut.)

Otoyomegatari, dalam hal kesederhanaan dan kepolosan secara garis besar masih sejajar dengan pola pikir dalam "Emma". Namun, entah mengapa, kenyataan bahwa kali ini latar belakang yang diangkat bukan Eropa melainkan Asia Tengah sepanjang jalur sutra, dengan nama-nama tokohnya yang eksotik, adalah suatu daya tarik tersendiri. Berbagai kekeliruan sejarah dan budaya seperti pencampuradukan gaya pakaian, penggunaan busana istimewa dalam kegiatan sehari-hari, menarik panah tanpa pelindung jari (sementara sang pengarang menggambar komik saja jelas-jelas menggunakan pelindung jari), dan kesalahan penafsiran lainnya, semua termaafkan!

penunggang kudaSeorang gadis usia 20 dari suku pemburu yang berpindah-pindah, Amiru Hergal, berjumpa untuk pertama kalinya dengan bujang usia 12 dari suku petani yang menetap, Karluk Ayhan, tepat pada hari upacara pernikahan mereka.
Ada "kesenjangan yang lebih lebar daripada sekadar perbedaan potongan baju", namun mereka tulus berusaha menjembataninya agar pernikahan ini berhasil. Apakah dunia membiarkan?

Episode sebelumnya yang paling menarik bagi saya:
"Jimat" (ep. 2) tentang ukiran kayu...

***

Beberapa contoh keanggunan busana jalur sutra ada di sini:
http://www.chinahush.com/2009/12/06/family-portraits-of-all-56-ethnic-groups-in-china/

Proses Menggambar Manga a la Mori Kaoru (via YouTube)


Ini sudah lama beredar, tapi siapa tahu ada yang belum sempat menonton...


http://natalie.mu/comic/pp/otoyomegatari

  • Saat menggambar sketsa, perhatikan bahan-bahan dengan baik, supaya tidak menyimpang.
  • Jangan terlalu banyak garis dalam sketsa, nanti sulit memberi tinta.
  • Tata letak, besar tokoh, sudut pandang, termasuk balon suara, sudah diputuskan secara terperinci sebelum mulai ditinta.
  • Ketika konsentrasi pada gambar, cenderung hening. Hanya kalau dekat tenggat waktu, terpaksa memutar musik agar tidak panik.
  • Mengerjakan satu bingkai jangan lebih dari 15 menit. Kalau tersangkut di satu bingkai saja gambar itu tak ada artinya.
  • Garis yang digambar, disesuaikan tergantung adegannya.
  • Alat: Pensil cetet 0.3 mm dan 0.5 mm. Untuk penamaan dengan 0.9 mm. Kehitaman 2B agar cukup lunak bisa dihapus dalam sekejap, tidak terlalu diserap oleh kertas.
    Penintaan terutama dengan pena Cabra (Sazhidov), lalu pena bulat. Akhir-akhir ini untuk gambar yang besar menggunakan pena G. Pena kuas untuk sketsa luar. Spidol biasa dengan tiga jenis ketebalan. Tinta gambar Pilot. Sarung tangan yang dipotong jarinya. Gradasi.

meja gambar

Selasa, 09 November 2004

The West Frontier

Seorang bapak setengah baya berwajah bulat ceria dari lab sebelah, baru bisa bahasa Jepang sepatah dua, dan sama sekali tak bisa berbahasa Inggris.
Di sebuah acara mochitsuki yang diselenggarakan jurusan untuk mahasiswa asing, kami berkomunikasi dibantu rekannya, Hong.
"Lihat," katanya padaku, menunjukkan daftar hadir. "Kewarganegaraan saya ditulis Cina. Padahal kan bukan. Mereka tak bisa membedakan." Yah, melihat mata besar, kumis tebal, dan nama Arabnya: Ibrahim, takkan ada yang percaya pada daftar hadir itu.
"Ah itu maunya kamu saja, kalau memang berwarganegara Cina, mengakulah. Terima saja kenyataan ini, nikmati!" tegur Hong agak sinis.
"Oh ya, lalu sebenarnya orang apa?" Aku bertanya dengan berbagai isyarat percuma, yang ternyata berhasil juga diterjemahkan oleh Hong.
"Saya tinggal di Uzbekistan. Tapi saya orang Uygur."
"Uygur?... Uygur? Saya juga kenal orang Uygur, namanya Salina. Aslinya Saltanat Ubrayim. Kami sering berjumpa dalam kegiatan kebudayaan, dia suka menari."
"Salina? Itu adik saya! Adik kandung saya! Kan Ibrahim itu nama keluarga kami, nama ayah."
"..."

Mungkin memang orang Uygur itu sedikit, dan lebih sedikit lagi yang datang ke Kyoto. Hanya tujuh yang saya kenal, dibandingkan seratus orang Indonesia. Usut punya usut, Ibrahim bukan mahasiswa atau peneliti di lab sebelah, tapi hanya menumpang belajar bahasa Jepang, dengan penjamin seorang Sensei desain proses lingkungan saya, associate professor di sana, yang kebetulan adalah kenalan baik suami Salina. Si abang ini telah berkeluarga di Uzbekistan, namun ketidakmampuannya berbahasa Inggris dan kewarganegaraan Cinanya malah menjadi penghalang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di perusahaan pribumi. Maka ia belajar bahasa Jepang agar dapat diterima oleh perusahaan Jepang yang cenderung lebih tidak rasialis, penuh tenggang rasa dan bergaji manusiawi.

Salina, adiknya, cantik putih, sedikit sipit namun bermata biru, adalah wanita yang supel, peneliti bahasa Uygur di Kyoto University yang sangat bersemangat menyelenggarakan kegiatan budaya Uygur di setiap acara pertukaran kebudayaan. Saat Ibrahim berhasil datang ke Kyoto, ia dan keluarganya, suami dan seorang putra balita yang bermata biru juga, telah terlanjur pindah menjadi peneliti di Yokohama, namun masih tetap menyempatkan diri mengumpulkan beberapa rekan Uygur untuk tampil menari di International Community House.
Aku yang kebetulan tampil dalam mata acara berbeda, mengajar angklung untuk anak-anak, diminta membantunya memperagakan busana khas negerinya sebelum mereka mulai menari.

"Manik-manik dan mote-mote pada rompi ini buatan murahan, yang asli adalah dari emas permata, namun tentu saya tak sanggup membelinya, mahal dan takut hilang," kisahnya dalam perkenalan busana sebelum masuk ke mata acara utama, tarian. Ia menyingkapkan gaunnya yang terbuat dari sutra celupan asli, memamerkan sepatu buts kulit anggun dan celana panjang sutra bermotif khas negerinya.
"Dan celana ini, harus selalu dipakai kaum perempuan yang bergaun sekalipun, untuk kesopanan kalau menunggang kuda."

Lalu ia melepaskan topi musangnya yang lembut, "Topi bulu ini benda langka, milik nenekku turun temurun. Uygur punya banyak jenis topi yang mirip dengan Turki, karena merupakan perlintasan jalur sutra," jelasnya sambil mengeluarkan topi-topi dengan sulaman persis Aceh. Kemudian ia mulai mengatur rekan-rekannya berbaris dan mulai menari dengan anggun dan cekatan.

"Baiklah para penonton, tepuk tangan untuk pertunjukan rekan-rekan pelajar asing dari Cina." Suara MC menggema ke seluruh aula.

Di belakang panggung, Salina menoleh ke arahku, dan memegang pundakku kuat-kuat. Matanya menyala-nyala.
"Mereka bilang begitu, apa boleh buat, karena kini kami terjajah. Tapi kamu harus tahu, kami BUKAN orang Cina. Bukan bagian dari Cina. Kami bangga sebagai bangsa Turkistan. Camkan itu. Kami punya ras, budaya, dan bahasa yang sangat berbeda. Kami..."
Aku terpana melihat kehalusannya yang berubah menjadi garang. "Aku paham, Salina. Aku kan muslim..."

Uygur, suku bangsa di propinsi Xinjiang, "batas paling barat" Cina, merupakan sebuah komunitas Islam yang memiliki akar peradaban Turki, sehingga desakan untuk memisahkan diri dari Cina lebih kuat daripada suku Cina Muslim lain yang dominan, yaitu bangsa Hui. Karena satu keturunan dengan bangsa Han, bangsa Hui telah berabad-abad membaur dan memperoleh kemudahan beragama untuk mendirikan masjid, menjaga kehalalan makanan dan dilindungi hak-hak kewarganegaraannya oleh undang-undang negara Cina. Sementara Uygur, dengan kekhasannya sendiri, hingga kini masih sibuk melawan penindasan di ujung sana.
Indonesia, dengan kebijakan "Satu Cina", tidak akan mau mendukung upaya yang menjurus pada memerdekakan diri, takut menjadi tolok ukur terhadap kemerdekaan Aceh atau Papua.

Yah, tentu sebaliknya kaum muslim juga punya sifat SARA, dengan menimpakan dendam kesumat berabad-abad pada orang-orang Yahudi misalnya (sebagai Agama atau sebagai Ras?)
Atau yang lebih remeh-temeh seperti apa yang selalu saya ucapkan:
"Jangan panggil aku mBak! Aku bukan orang Jawa. Camkan itu."
Tohohohoho (^-^;v