Rabu, 13 April 2005

Mengasuh Bangkirai


batangMenelusuri jalur-jalur lintas alam di Bukit Bangkirai, diiringi kicauan burung dan gemerisik dedaunan.
Di sepanjang jalan terlihat batangan pohon yang dijadikan 'anak asuh', diberi papan nama pengasuhnya. Hutan lindung di Kutai Kartanegara ini menerima sumbangan beasiswa program perawatan pohon langka semacam Meranti, Ulin, atau Kempas, dikoordinasikan oleh JICA.

tanggaDi puncak, kita bisa menaiki tangga putar dari kayu ulin, untuk mencapai jembatan kanopi setinggi 30 meter dengan lebar kurang dari 1 meter yang saling menghubungkan antar batangan pohon raksasa.

jembatanPertamanya agak seram juga, bergoyang, tapi begitu sampai di tengah lumayan menyenangkan, dan pemandangan ke arah hamparan hutan sungguh indah menawan.

Membayangkan bahwa di luar daerah ini yang ada hanya tanah gersang dengan tunggul-tunggul pohon dan asap-asap dari kebakaran di berbagai tempat, miris juga.

Sabtu, 09 April 2005

Mapan di balik Papan?

oceanzLegenda kota Balikpapan, bernama demikian semata karena suatu saat beberapa lembar papan sumbangan bahan bangunan istana (Kutai?) dikembalikan ke daerah ini... Masalah bea cukai kali ye, hmm.
Idih kok segaring ikan Kerapu?

Yang lebih dramatis lah supaya heboh: Tersebutlah seorang putri dihanyutkan di balik papan oleh orang tuanya demi menghindari musuh terdampar kemari...

Kali ini aku mengunjungi *sang putri*, seorang cewe rig, rekan ekskul masa silam yang kebetulan sedang mendarat di persinggahannya setelah berminggu-minggu lepas pantai.

hankingdonat"Mau oleh-oleh apa mPhy?"
"Hmm Dunkin Donuts saja lah."
"Hah? Kau suka jajanan begituan sampai segitunya?"
"Habis di Balikpapan gak ada... Ada juga Hanking Donat. Chainstore pula di seluruh pelosok Kaltim. Gimana gak gemas."
... Mereka bayar royalti gak yah, lah toko resmi begitu...

Menurutnya sih, Balikpapan adalah kota yang cukup nyaman untuk menyusun kehidupan, terutama kalau berumah tangga. Jarang macet, pemandangan indah, banyak ruang terbuka... Tapi kalau sendirian, membosankan.
"Habis, malnya cuma Hero dan Matahari. Itu-ituuuu melulu!"
Gubrag, itu kah tolok ukurnya ...

Jadi mau sampai kapan kerja di sini neng?

KBC3"Haha, tak terasa sudah 4 tahun. Padahal rencana semula cuma menghabiskan kontrak 3 tahun, eh keasyikan, dapat perpanjangan terus.
Mungkin nanti seperti tokoh di Cintapuccino saja lah, kabur dan buka distro, hihihi. Mumpung si nCha sudah menunjukkan jalan keluar..."

Kamis, 07 April 2005

Surga Terakhir

Encik di toko keramik langganan adikku, tiba-tiba berceloteh panjang lebar tentang keberangkatannya ke Spanyol, Barcelona, mengagumi Sagrada Familia. Wah, sasuga orang toko bahan bangunan, memang benar-benar mendalami bidangnya, pujiku. Eh ketika obrolan berlanjut, bukan kehebatan Antonio Gaudi dan keindahan rancangannya yang dia bahas, melainkan malah merujuk kepada romantisme Sanchai dan Taomingtse....
Sukses juga ternyata sekuel sinetron Meteor Garden sebagai daya tarik yang berdiri sendiri, karena komik aslinya, Hana Yori Dango, malah sama sekali tak menyinggung gereja megah yang masih terus dalam proses pembangunan dari generasi ke generasi itu.
Dan si encik melanjutkan lagi dengan penuh semangat, "Nah kalau liburan natal saya berencana ikut tur Winter Sonata..." Gubrag.
Hih padahal kan Bae Yong Joon sedang bergaya sok macho a la Van Damme, masa gak geuleuh sama dia... Tetap saja ibu-ibu arisan dari berbagai pelosok Asia, terpikat untuk berwisata musim dingin ke Korea.

Pengaruh sinetron televisi dalam membangkitkan pariwisata memang cukup kuat. Masih terkenang betapa orang Jepang berbagai kalangan berduyun-duyun ke daerah sekitar vila bambu muda di Kyoto khusus mengikuti paket tur Musashi (2003) dan Shinsengumi (2004) karena tergugah taiga dorama tahunan NHK.


insungDan Indonesia pun tak tinggal diam dalam pertarungan ini dengan Bali eseo Saengkin il (バリでの出来事/ What Happened in Bali/ Memories in Bali, SBS 2004, yang diputar tengah malam di TBS dan KNTV Jepang bulan Januari – Februari lalu, dan di Indosiar Maret-April).

Seri yang satu ini bisa dikatakan berasal dari tema-tema dasar klise telenovela, sebenarnya gak jauh beda dengan MG, hanya saja:

  • peran sandiwara lebih mantap
    Ceweknya lumayan keren (itu kelopak mata asli atau dijahit?), cowoknya hmmm manis lah gak terlalu ganteng (sambil merunduk dari lemparan piring para penggemar) dandanannya pun norak (mantel bulu, sementang kaya? Lalu kemeja bunga-bunga? Idih banget deh) tapi tapi tapi, mampu dengan sangat baik memainkan tokoh yang menarik, lucu dan menggemaskan, membuat jatuh kasihan, cukup untuk memaksa penonton menjerit-jerit histeris... Raut wajah Jo In Sung waktu panik, atau cengar-cengir sendiri, atau ketiduran sampai ngacay di atas tumpukan dokumen, hua gak ku-ku...

  • alur twist abisss...
    Ketegangan yang timbul sejak awal cerita yang tetap mengambang walau diselingi kelucuan-kelucuan kecil, kebimbangan dan kemantapan hati yang saling simpang siur bolak-balik sana-sini, usaha mengakui ketamakan masing-masing dengan jujur tanpa banyak membual tentang cinta sejati, sehingga ketulusan yang muncul malah terabaikan... dst...

  • akhir yang mengejutkan
    Walaupun sudah terbiasa sampai bosan dengan cerita Korea yang selalu membunuh tokoh utama (umumnya melalui penyakit berat), untuk yang satu ini tetap saja... Omo, omo... Masakah sungguh tega mengakhiri cerita dengan adegan a la MAFIA DAR DER DOR begituuu... arrrrrrgggggghhh masih gak rela sampai sekarang. Bukannya ini drama cinta eye candy, mengapa berubah jadi suspense psikologis...

  • dipoles dengan latar belakang Bali.
    Apa sinetron ini tidak malah membuat orang takut ke Bali? Tentu Bali tetap Bali lah ya, seberapa pun pamornya menurun sejak Oktober 2002 toh tetap laku juga. Biro wisata Korea menawarkan paket bulan madu selama 5 hari (minggu madu kali ya?) ke Sangih, Ubud, Tanah Lot dan sekitarnya dengan penerbangan pulang-pergi naik Garuda, seharga 1350000 Won untuk napak tilas sinetron ini.
    Terus apa moral dari cerita ini? Bahwa ketika mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan, ternyata justru kehilangan apa yang secara tak sadar paling mereka butuhkan? Atau mungkin, bahwa kematian adalah pembebasan? Karena percaya reinkarnasi?

"Selamat datang di Bali. Surga terakhir di Bumi."
(ngomong-ngomong saya sekarang ke Bali-kpapan dulu lah).


Senin, 04 April 2005

Toujinbou

Tempat idaman orang Jepang untuk bunuh diri, ada di Toujinbou, daerah Fukui Mikunicho.

Satu dari tiga fenomena dinding andesit sedunia, selain di Korea dan Norwegia.

Dengan jajaran kolom karang persegi berketinggian lebih dari 30 meter dan melintasi pantai sepanjang hampir 2 kilometer, Toujinbou memang menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan.

Pada musim dingin, buih-buih air laut pecah di karang tertiup angin menampilkan nami no hana (bunga ombak).
Legenda Tojinbo, seorang pendeta yang jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan, didorong oleh saingannya jatuh ke laut.
Kutukannya mengundang hujan angin selama 49 hari 49 malam, sehingga setiap tanggal 5 April penguasa daerah ini perlu menyelenggarakan upacara pemujaan kepada sang arwah pendeta demi meredakan badai.

Entah ada hubungannya dengan legenda itu, atau sekedar terpesona keindahan alamnya, kabarnya setiap tahun tercatat sekitar 50 kasus bunuh diri, atau nyaris sekitar satu kasus per minggu.
Kok nekad, ya...
Maka jangan heran bahwa di setiap sudut karang terpancang peringatan-peringatan seperti:
"Jangan habisi, nyawa yang diperoleh dari orang tua."
"Tunggu dulu, kenanglah suara ibunda."

Di kotak telepon umum, tertempel tulisan "Pentingkanlah nyawa!" disertai daftar nomor yang perlu diputar jika ada niatan untuk bunuh diri, dan tempat duduk nyaman agar penelepon dapat menikmati pembicaraan dengan keluarga, sahabat atau petugas penyelamat.

Melihat suasana sekeliling, auch, terjatuh dari sini tentu menyakitkan... Karang-karang terjal, hempasan gelombang...
Yang punya fobia terhadap ketinggian mungkin bisa cepat pingsan, tapi jika masih sadar sampai dasar, dan tak langsung mati, sengsara lah pasti.
Tapi kabarnya kebanyakan kasus bukan sembarangan melemparkan diri ke jurang, namun ada juga yang memilih gantung diri, bahkan di dalam kotak telepon ini! Hiii.

Maka demi mengatasi masalah tersebut, sejak tahun lalu tepat di tempat itu seorang purnawirawan polisi, Shige Yukio, mendirikan semacam counseling center bersuasana warung teh yang melayani curhat, pengaduan masalah-masalah psikologis agar dapat diarahkan menghindari bunuh diri...
Dalam pengalamannya selama tugas patroli, kalau sedang ramai di wilayah ini bisa terjadi sampai empat percobaan bunuh diri dalam sehari.
Beliau pernah mencegah sepasang suami istri melakukan shinjuu. Walaupun mereka sempat tergugah untuk mencoba berusaha lagi, ternyata tidak ada kantor pemda yang mau membantu sehingga akhirnya mereka gantung diri juga di propinsi lain, setelah menyempatkan berkirim surat pada beliau. Kegagalan itu mendorong beliau untuk mempersiapkan tindakan pencegahan yang lebih terkoordinasi.
Di lain pihak, tidak ada alokasi dana penanggulangan bunuh diri dari pemerintah Jepang ataupun spesialis bidang ini di Depkes. Depresi dan penyakit jiwa masih disembunyikan. Kesadaran tidak tinggi. Ini adalah masalah yang tabu untuk dibahas. Kematian masih diromantisir, seperti kisah-kisah yang dimainkan dalam bunraku. Lalu ada latar belakang budaya seperti seppuku alias harakiri, atau jibaku kamikaze di zaman perang.

Lokasi lain yang populer untuk bunuh diri, adalah:
- Rel kereta di tengah Tokyo
Platformnya dicat meriah dan dipasang cermin di mana-mana, agar orang yang berniat bunuh diri bisa tergugah, berkaca dahulu dan bermonolog dengan dirinya sendiri.
- Hutan di lereng gunung Fuji
Terpasang juga rambu-rambu bertuliskan: "Tunggu! Dunia memang pahit namun juga menyenangkan." "Pikirkanlah masak-masak, nyawamu hanya satu."

Sementara sarana bunuh diri yang kini ngetrend adalah mengadakan perjanjian melalui internet, dan meracuni diri dengan pembakar arang untuk barbecue.

Jumat, 01 April 2005

Poisson d Avril

Agak aneh juga menemukan ada yang menggoogle "sejarah April mop" sampai ke blog saya... Salah mencari saja mungkin, karena menggunakan kata kunci dalam bahasa Indonesia yah mana ketemu. Tapi kini saya coba buat sekalian.

Walaupun orang Jepang menyesuaikan diri dengan kebudayaan mendunia dalam merayakan tahun baru, namun tetap saja Satu April di Jepang, menandai awal dari tahun ajaran baru, tahun pembukuan finansial baru, hari pertama masuk sekolah, hari pertama masuk kerja. Satu April adalah saat paling berbahagia menapaki babak baru kehidupan, atau saat paling sengsara karena gagal mencapainya.

Pada suatu masa, Satu April juga dihargai sedemikian rupa di belahan bumi utara lainnya, karena di sana itu adalah saat menikmati awal musim semi sebagai suatu pertanda kelahiran baru, tonggak tahun baru.

Cerita punya cerita, ketika pada abad 16 masehi di Eropa dilaksanakan reformasi kalender (karena terjadi pergeseran tanggal yang cukup signifikan akibat tidak diperhitungkannya hari kabisat selama beberapa ratus tahun, kalau tidak salah) maka tahun baru yang mulanya dirayakan sekitar Vernal Equinox, titik balik matahari, sampai tanggal 1 April, diubah menjadi sekitar perihelium matahari, tanggal 1 Januari.

Namun dalam rentang waktu sampai ratusan tahun, banyak daerah yang tidak mendapat berita mengenai pergantian tanggal tersebut, belum berhasil menyesuaikan rutinitas hidup tahunan, atau bahkan sengaja menolak untuk menurutinya. Mereka yang masih tetap menyelenggarakan perayaan Tahun Baru tanggal 1 April pun dijuluki sebagai "fools", menjadi sasaran ejekan, ledekan, hinaan.
Dan perlahan-lahan kegiatan yang sesungguhnya tergolong SARA itu berkembang menjadi perayaan kelucuan dan kekonyolan, menempelkan tulisan-tulisan di punggung orang, menyebarkan berita bohong kecil-kecilan, bahan tertawa sehat dan bersenang-senang.

Di dunia blog-blogan juga gak kalah heboh, seperti berita dari goblogmedia yang cukup mencengangkan atau dari mobilemusicblog yang membuat berpikir: "idih banget!" yahahahaha.