Kamis, 24 Februari 2022

Jambak

Jambu malaka/malay rose apple
(Syzygium malaccense) 🌹🖤🍎🌳

Semakin hitam semakin manis
Tanaman pribumi yang tersebar alami di Malesia dan Australia ini konon telah ribuan tahun lalu diangkut ke Oseania.
Di Jawa menurut @wintjescake dan @delajaskara disebut sebagai "jambu dersono". Tapi gara-gara sejak 1793 diperkenalkan ke Karibia, kini di lapak daring dijual sebagai "jambu bol Jamaika" 🤦🏾‍♀️

Kata @akumasjok, pada masanya djamboe bol sempat merupakan jenama rokok legendaris di Kudus. Namun karena tidak ada keturunan yang dipersiapkan mewarisi usaha ini, apalagi kalah saing dengan Djarum dkk, lambat laun bangkrut sampai menyisakan masalah perburuhan yang berlarut-larut.
Sebungkus rokok djamboe bol antik saat ini bisa mencapai Rp2,5 juta, orang-orang Kudus memang gila

#manzanadeagua #pomarosa #pomerac #jambubol #jambujamaika #malayapple #malayroseapple #otaheiteapple #pinksatinash #mountainapple #plumrose #syzygiummalaccense #ohiaai #indonesiamakanbuah
#マレーフトモモ #ヤマリンゴ #マウンテンアップル #フトモモ科 #フトモモ属 #インドネシア

Senin, 14 Februari 2022

Cari Nafkah


 

Ketika saya menyambi menerjemahkan Yotsuba&! di sela kegiatan yang melibatkan berbagai lapisan sosialita seputar Kemang Jakarta, sungguh kagum pada pola hidup seperti Pak Koiwai kok tampak nyaman ya. Saya pun kepingin berhenti mengantor, cukup duduk santai di rumah menerima pesanan terjemahan saja sambil menampung anak orang, lalu membiarkannya beredar (((cari nafkah))) sendiri ke rumah sebelah, diasuh para tetangga cantik ...  

Sayangnya tidak semudah itu Pulgoso!!! 
Anak-anak cepat sekali besar, belum apa-apa sudah menimbulkan masalah sebagai abege remaja, lebih baik segera dikembalikan kepada orang tuanya masing-masing. Kalau begitu sih mendingan punya anak sendiri saja. 
Tidak seperti Yotsuba, yang dalam setiap tahun hidup kita, mungkin hanya menempuh rentang waktu tiga hari sampai seminggu ... sehingga nyaris selamanya berusia lima tahun ...

Siapa sangka, berkat pandemi, ternyata gaya hidup yang diidamkan bisa juga terkabul (???) 
Hanya saja anak-anak tampungan yang beredar (((cari nafkah))) ke rumah tetangga manis adalah ... UCING-UCING saya 

***

Kalau dipikir-pikir Yotsuba&! mengandung dilema. 
Rasanya ini kisah yang bagus tentang lingkungan RT/RW yang cocok dan aman untuk anak kecil. Namun, menurut latar belakang yang disusun, Yotsuba adalah anak adopsi. Keberadaan orang tua kandung tidak diketahui. Yotsuba berarti saat ini tinggal dengan *bukan mahram*. Lalu dia akan mengajak sesama anak-anak pergi jalan-jalan bersama oom-oom mencurigakan, teman ayah angkatnya ... Apalagi Jepang punya Hikayat Genji, jangan-jangan suatu saat begitu besar Yotsuba disetel menjadi kekasih Pak Koiwai?

Bagaimanapun juga, bukankah kebanyakan kisah kepahlawanan memang didominasi oleh anak yatim piatu. Situasi tersebut mungkin membuat mereka lebih tertempa untuk "nothing to lose & everything to gain" ... 
Berbeda dengan anak yang punya orang tua masih berpengharapan dipiara disayang dimanja dan sebaliknya jadi punya beban untuk balik memiara menyayangi memanjakan ortu yang beranjak lansia, sehingga kekurangan waktu luang untuk menaklukkan dunia. 

Kemarin ada rekan yang membahas tentang doa "Tuhanku ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku waktu kecil." 
Barangkali tak terelakkan lagi bahwa menjadi orang tua itu otomatis akan penuh kesalahan dan pelanggaran, sementara begitu anaknya besar, naluri kasih sayang malah lenyap. Seperti si Kumi tidak sungkan-sungkan menggeram dan menggaplok Graci atau Kunyil ketika mereka sendiri sudah beranak pinak. 
Anak yang menjadi dewasa, setara, adalah saingan baru dalam berebut jatah makan. 

***

Namun, semenjengkelkan apa pun, titah dan sabda orang tua tidak diragukan tetap masih bertuah. Kemarin Joenia cerita betapa ortunya ingin dia masuk FK Unpad, tidak usah jadi dokter kalau repot, cukup jadi dosen, tapi dia memilih masuk Farmasi ITB. Ternyata selesai S3 holondo dan masuk jajaran 500 ilmuwan produktif Indonesia, dapat juga dia posisi dosen di jurusan incaran ortunya. 

Sementara saya, setelah bersitegang soal konsentrasi kerja yang buyar gara-gara ricuh urusan penyortiran benda-benda dan berkas seloteng akibat pengabaian selama berabad-abad, ujug-ujug Ibu saya mengalihkan pembicaraan dengan berceletuk bahwa saya sebaiknya melukis saja. 
Lahhh terus melukis apa, memangnya siapa yang mau beli??? Para penggali harta karun SDA perusak lingkungan? Mana sudi. 

Tapi tiba-tiba dapat juga limpahan kerjaan gagambaran teknis entah-entah
walaupun sama sekali bukan melukis betulan

Semua ini berkat ucing-ucing yang (((cari nafkah)))
bisa-bisanya mereka membawa mata pencaharian baru, ajaib ya  


Kamis, 20 Januari 2022

Gusjigang

Ceritanya pada suatu pagi sebelum malam natal, geng Kinemala markipik markinon mengajak saya jalan-jalan ke Kudus tanggal 14. Sebenarnya mereka mengajak adik saya sih tapi karena beliau sibuk di awal tahun, mungkin saya hanya serep untuk melengkapi jumlah orang supaya lebih ringan berbagi biaya ahhaha hiks.

Sepertinya geng ini selalu berhasil mewujudkan acara sekadar kopdar sampai piknik jauh bukan sekadar wacana ya? Karena wacana yang belum kesampaian justru adalah menelurkan karya bersama.

***

Pesertanya beda angkatan semua, tapi sejak saya pulang kampung, ikut bergaul seolah-olah kita sudah melintasi benua mengarungi samudra bersama ...

R 97, pejabat ASN penggemar telur pecah yang haus cuti, ketua cewek membanggakan pada masanya, yang sepertinya masih bercita-cita menciptakan sebuah gebrakan komedi situasi
S 99, teman satu kemah waktu tanggap bencana, penulis naskah berbakat yang pernah menang piala citra
V 99, pegiat reuni di SMA, kohai andalan yang selalu siap sedia menyetir untuk blusukan ke berbagai pelosok tempat wisata
Disusul oleh I 00 yang pernah bantu saya bikin skenario animasi buat kantor, kemudian menyusun film buat mantan bos saya sampai menang citra. Dia membawa keluarga dan bergabung di jalur mendekati Demak
Teman-teman yang tidak bisa pergi selain adik saya adalah B 98, pengelola ruang baca/nonton yang baru menerbitkan buku-buku kumpulan tulisannya
W 96, mantan sekretaris ekskul kami yang punya berbagai sumber daya
Tujuan kami adalah mengunjungi J 98, seorang teman LFM angkatan adik saya yang mengalami sendiri kehidupan bak sinetron Indosiar dalam berbagai judul ajaib.

***


Kudus sebuah kota yang unik, dibangun dengan fondasi agama dan ekonomi yang saling berkelindan. Terobosan-terobosan usaha dagang dan periklanan ada semua di sini. Berbagai pengaruh dari luar diinternalisasi menjadi khas pribumi. Sepertinya sejak kembali ke kampung halamannya, J menyadari betapa hal-hal ini patut dibanggakan. Kapan-kapan perlu dijabarkan satu per satu. Kapan-kapan mungkin bisa menjadi bahan untuk digarap bersama geng KineMala.





Sabtu, 30 Oktober 2021

Temu Mekar


Tampaknya marga temu-temuan (Curcuma sp.) pada janjian jadwal bermekaran minggu ini, seperti yang di kebun Pak Farid Gaban
Bahkan temulawak di lemari mamanya Deta Ratna Kristanti tetap setia tepat waktu meskipun tersembunyi dalam kegelapan 🙀
Kalau yang serumpun ini sedang berkembang di pinggir balongnya Ram Ala Pualamsari seberang rumah Bray Supriatna
Betapa semesta tunduk pada perintah-Nya
Maklum, sebagai orang kotaan norak yang jarang menyaksikan pemandangan bunga ini, saya mesti ikut-ikutan mengabadikannya jugalah ya 😽
N.B. Temu putih (Curcuma zedoaria) ini semarga dengan kunyit (Curcuma sp.), tapi berbeda dari koneng bodas yang semarga dengan kencur (Kaempferia sp.) ... bingung ya
Tapi bentuk bunganya memang sangat berbeda
Mumpung menurut Ari Hapsari hari ini Hari Oeang ke-75, sekalian pamer lembar 75 rebu rupiah yang saya tukar tahun lalu lewat budi baik Rita Haeni Rusdi


Kamis, 28 Oktober 2021

Persaksian tentang Ayah

Hanya segelintir pihak yang mengetahui nama asli ayah saya. Selain lingkaran keluarga, paling-paling hanya pejabat yang terlibat keperluan legalisir dan tentunya jarang sekali. Satu-satunya catatan sejarah tentang nama beliau adalah sebagai penulis mahasiswa yang bersanding dengan Soe Hok Gie dan Amien Rais pada masanya, melakukan demistifikasi kultus individu terhadap Soekarno terkait peran dalam Proklamasi dan perumusan Pancasila. Selebihnya beliau dikenal dalam nama pena, dan itu pun di dalam lingkaran tertentu saja walaupun sempat cukup bergaung di jajaran elite pusat kekuasaan.
...
Tahun ini sepertinya sudah digariskan untuk kembali melakukan kalibrasi terhadap berbagai niat awal. Tiba-tiba keluarga kami dipanggil oleh semesta untuk mengurus amanat beban tanggung jawab yang telantar cukup lama.
Di tengah pandemi, ruang gerak terbatas, seolah hanya bisa megap-megap. Pihak yang menawarkan bantuan ternyata mengincar untuk kepentingan pribadi dan menusuk dari belakang.
Hampir saja kami terjebak untuk mengambil jalan pintas yang hanya akan memurukkan dalam perangkap ketidakpastian. Namun, suatu kegiatan merawat seekor kucing saya yang parah berlarut-larut tak bisa disembuhkan, menyadarkan akan betapa fana semua permainan dunia. Untungnya sekeluarga sepakat untuk tetap menelusuri jalan yang lurus membedakan yang hak dari yang batil.
Mungkin memang ada malaikat penjaga ayah saya yang masih melakukan tugasnya.

Merenungkan seperempat abad berpulangnya Ayah saya, komentar-komentar di bawah foto FB berikut adalah sebagian kesan-pesan yang terjaring dari beberapa rekan tentang sekelumit kehidupan beliau.



Tertaut juga beberapa tulisan lama rekan-rekan beliau yang pernah dipajang misalnya

Hemat materi dan energi, kaya nilai dan informasi. (Mengenang Aldy Anwar, aktivis peradaban) - BTS



Laman ini akan diperbarui seketemunya naskah-naskah lain. Terima kasih