Jumat, 22 Februari 2008

Jumper

Setelah minggu lalu sempat gagal, terwujud juga acara nonton sama teman-teman kantor, kali ini ditraktir Andi yang ultah dan istrinya. Maka berangkatlah kami bersepuluh menonton Film Jumper.

Gambar-gambarnya asyik, walaupun ceritanya gak penting dan maksa. Padahal masalah pemberontakan remaja dalam novel aslinya, yang sempat menjadi salah satu "most banned books 1990-1999" kayaknya lebih menjanjikan. Cewek-cewek sih menjerit-jeritkan Hayden-chan, tapi kayaknya gak cocok deh, kaki ayam begitu dipakai melompati dimensi ruang?

Yang jelas, tentu itu perwujudan impianku, bisa melompat (bukan terbang) ke sana kemari, menclok di bangunan bersejarah dan pemandangan alam seluruh pelosok dunia...
Tapi ternyata justru satu sisi lain dalam film tersebutlah yang tanpa aku sadari sangat membekas di hati: adegan-adegan perpustakaan.

Dan pulang-pulang, tidur, aku pun memimpikannya.

http://www.internationalwaterinstitute.org

Aku sedang menjadi relawan untuk suatu keadaan darurat bencana. Berangkat memenuhi permintaan seorang remaja untuk mengajarkan matematika kepadanya di sebuah pulau yang terpencil, entah di nusa tenggara bagian mana.
Alasannya, (namanya juga mimpi, bolehlah gak nyambung) adalah karena kertas-kertas di sana basah, tak dapat ditulisi karena terkena banjir bandang.
Rumah yang kudatangi adalah rumah melayu, dengan kusen kayu melengkung berwarna hijau telur asin, daun jendelanya berkisi-kisi. Jejak lumpur memenuhi setengah dinding, melintasi jendela-jendela tersebut. Berarti banjirnya kira-kira sedada. Pantas saja buku-buku tengelam, kupikir.
Lalu aku bukannya mengajar matematika sebagaimana tujuan semula, melainkan malah sibuk membantu para penduduk setempat menjemur-jemur buku. Aku berusaha menunjukkan bahwa yang tebal bisa dibolak-balik per halaman, diangin-anginkan prrrrrrt-prrrrrrt, supaya cepat kering dan tidak lengket ke halaman sebelah (memangnya bisa???)

Rasanya kok nyata banget, ya.

Begitu bangun, aku teringat bahwa rak buku di rumah juga sedang dalam pembongkaran, adikku sedang sibuk menyusunnya. Bocoran hujan adalah ancaman yang paling ditakuti, apalagi kebanjiran seperti dulu itu tentunya (walaupun di rumahku sendiri rasanya tidak mungkin itu kejadian, secara kami tinggal di dataran tinggi...) Boro-boro tsunami!

Tidak ada komentar: