Kamis, 07 Agustus 2008

50 Tahun (Emas) Indonesia-Jepang ・日本インドネシア友好年 2008

Tahun ini telah diresmikan sebagai tahun persahabatan Indonesia-Jepang oleh SBY dan Pangeran Akishino dengan menggoyang angklung, menyambut 50 tahun emas hubungan diplomatik kedua negara. Berbagai perhelatan diselenggarakan baik oleh kedutaan Indonesia di Jepang maupun kedutaan Jepang di Indonesia.
Hubungan diplomatik Indonesia-Jepang kembali dibuka sejak 20 Januari 1958, ditandai dengan pengiriman puluhan mahasiswa Indonesia dengan "beasiswa pampasan perang", yang dalam perjalanannya berganti nama menjadi beasiswa Monbu(kagaku)sho yang telah saya nikmati selama tujuh tahun di Jepang.

Kesan pertama: Logonya norak. Politis, simbolis, namun mengabaikan konsep desain dan estetika. Tidak ada unsur sentuhan seni-budaya khas masing-masing negara di dalamnya. Jenis lambang yang pantas diadukan dan diajukan kepada KDRI. Coba saja bandingkan dengan, "Deutschland in Japan" dulu, misalnya.

Berdasarkan pengalaman lambang Jerman-Jepang yang kompak dan indah tersebut, saya membayangkan seharusnya lambang ini menggunakan bentuk dasar yin-yang putih-merah, di mana Sang Saka Merah-Putih terpadu dengan Hinomaru, berjabat erat dan saling mendukung. Sementara angka tahun dibuat seperti tarikan kanji, apalagi kebetulan angka 5 kanji mirip dengan 5 romaji. Kuno kah? Maksa gak, sih?

50tahunemas

Pada kali ini saya berkesempatan mampir di acara pertemuan antarparlemen kedua negara. Dan tahulah apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar istilah "parlemen Jepang" dan "tahun persahabatan" masa-masa ini... Yap, Manjoume Inshuu dari Yuumintou (Partai Persahabatan) dan gedung Diet yang dibom dalam 20th Century Boys...

manjoumeinshuu

Sementara dewan perwakilan rakyat RI menampilkan beberapa tokoh utama, salah satunya adalah Prof. DR yang berwajah manis mirip Sawung Kampret kalau sudah setengah baya dan agak membuncit.

sawungkampret

Wakil rakyat satu ini mengajukan lima agenda ekonomi Indonesia-Jepang yang patut dibahas:
  1. Mengaktifkan seluruh hubungan antara pemerintah-swasta-rakyat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kedua negara.
  2. Investasi luar negeri
  3. Suplai energi yang saling memperhatikan kebutuhan masing-masing
  4. Perdagangan ekspor-impor
  5. Kerja sama penanggulangan kemiskinan dan pengangguran
Oh ya, judul diskusi ini adalah "Strengthening Indonesia-Japan Strategic Partnership for the Common Better Future". Wow bahasa Inggris boow. Eeeh ternyata pidato menggunakan bahasa masing-masing dan diseling oleh terjemahannya bergantian oleh interpreter profesional Indonesia dan Jepang. Mengapa tidak memasang judul dobel berbahasa Jepang dan Indonesia saja sekalian? Aneh.

parlemen

Seorang lagi wakil rakyat kita menyarankan agar orang Jepang lebih proaktif menggunakan bahasa Inggris agar tercapai saling pengertian dengan orang Indonesia... Walah kok begitu. Apa tidak tahu dia, masing-masing bahasa punya 'rasa' berbeda, dan juga akan membentuk pola pikir tersendiri dengan kelebihan (dan kekurangan) masing-masing. Kalau hubungan kita harus bergantung pada bahasa londo(n), kita tidak akan menemukan kebijakan-kebijakan lokal kedua negara yang lebih serasi dengan kebutuhan kita berinteraksi antar sesama Asia Timur Raya.

Menurut pihak Jepang, kebijakan peningkatan pengertian antara kedua negara telah dikembangkan dengan dibukanya kesempatan bagi 300 ribu pelajar asing untuk belajar di Jepang, didukung dengan standardisasi sekolah-sekolah bahasa Jepang di Indonesia. Kerja sama pemenuhan kebutuhan Jepang akan pengurus panti jompo dan baby sitter juga telah dirintis, dan TKW Indonesia mulai diberangkatkan dalam jumlah yang signifikan... Dan sebuah pertemuan balasan yang mengundang DPR-RI ke parlemen Jepang pun direncanakan dalam jangka waktu dekat (jalan-jalan lagi dong, Pak, Bu...)

Tidak ada komentar: