Jumat, 15 Agustus 2008

Gajah saja bisa Ingat!!!

思い続けることの辛さより
忘れられたことが恐いのじゃ。。。
フライヤ・クレセント


Seiring dengan kepindahan gerombolan baru ke lantai bawah kandang kami, aku ikut Angsa, teman sebelah kurungan, memulai rutinitas quidditch blitzball bulutangkis bersama mereka.

Minggu I.
Karena masih mengalami krisis sepatu, aku pun nyeker seadanya. Training satu-satunya juga masih dijemur sehabis bersepeda pagi, sehingga aku bercelana kargo. Ternyata ada sosok yang bergaya sama. Wajah yang tak asing di mata. Bukan karena pernah berpapasan di lorong tangga. Kutatap lekat-lekat, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda dia mengenalku. Jangan-jangan wajah kodian, kebetulan saja doppelgänger seseorang dari masa lalu. Masa-masa bernyanyi "kebon yang paling indah, hanya kebon kaaami..."

Minggu III.
"Hei, ngomong-ngomong, elo bukannya anak bonbin 97? Ingat gue gak?" Dan entah kenapa aku jadi ber-elo-gue menyapanya.
"Iya. Lho, kamu anak 97 juga gituh?"
"Lah bukan, gue 96, satu angkatan di atas elo. Masa sih, gak ingat gue?"
"... Hmmm... Berarti 'teteh', ya. Nggak ingat, tuh..."
TOWEEEW. "Heeeh! Apa boleh buat. Kita ketemu pas elo lagi sama si Zebra, nongkrong di Sangkar-Eser!"
"Oh. Anak Sangkar-Eser sedikit sih, kebanyakan outsourcing dari Kapea. Teteh anggota Kapea?"
"Tentu! Tapi kan gak ada kaitannya dengan ini! Elo habis itu ke mana jadinya?"
"Ke Eser Tamansari."
"Hweee. Tercapai dong cita-citanya ya. Berarti terus barengan si Zebra? Sama Badak juga dong ya. Harimau dan... Kuda Nil?"
"Iya..."
"..."
"Teteh kenal Macan?"
"Macan, Tutul? Ya kenal lah. Kan anggota KFC. Sama doi sih masih sering nongkrong bareng." Macan Tutul adalah seleb kenalan semua orang, bahkan sempat masuk televisi, sehingga mungkin tak aneh siapa pun mengenalnya.
"Saya kan nyambi jadi perwakilan cabang kandang dia. Dia sering mroyek ke tempat saya."
"Oya? Ngapain, bikin acara kilikitik flora-fauna?"
"Nggak. Proyek Unyil."
"Heee. Unyil kaaah."

Rekan-rekannya yang lain ikut penasaran juga.
"Kamu satu kebon dengan dia?"
"Iya, tapi di kebon kan seangkatan saja ada 400 orang lebih. Beda angkatan pula. Gak bakal hafal satu per satu, atuh."
GEDUBRAGGG.
Dia anggap aku sama rata dengan 400 orang lebih lainnya.
Setelah apa yang kita lewati bersama...


Mungkin ibarat pepatah,
Gajah di belakang Ragunan dikenang-kenang
Kanti di lapangan seberang terlupakan...!!!


Minggu V.

"Pagiii!"
"Pagi..."
"Gimana, masih ingat gue gak?" (Wah salah: harusnya, SUDAH ingatkah lagi padaku?)
"Masih... Ada salam... dari Sapi."
"Sapi? Sapi siapa? Ohhh iya, ikan Sapi-sapi? Ada apa ketemu doi?"
"Kemarin ke rumah."
"Ow, salam balik atuh. Ngapain doi ke sana?"
"Di rumah ada Buntal. Mereka sering main bareng."
"Heee. Ngomong-ngomong kamu kenal Bangkong gak?"
"Bangkong, adik kelas? Tahu sih. Memangnya siapa dia? Adiknya Teteh?"
"Teman olahraga di tempat lain sih. Gue sempat cerita betapa elo gak ingat gue, terus doi bilang doi tahu elo, dan kalau elo gak ingat juga sama doi, doi titip jitakan."
"Kenal muka sih, tapi gak pernah ngobrol."
Ooo... Jadi berarti dia ingat orang yang gak pernah ngobrol sama dia, tapi bisa-bisanya melupakanku. Aku, yang suatu saat pernah berdialog panjang lebar dengannya. Membahas mimpi-mimpi dan janji-janji yang tertunda.

Minggu VII.
"Heheheh... Teteh..."
"Waaa. Ini nih, orang payah. Bagaikan lupa gajah akan kupingnya. Masa satu sangkar, satu tongkrongan, satu kegiatan, satu pergaulan, pernah satu selera, sekarang satu kandang pula, bisa-bisanya melupakan gue. Gue, yang terkenal begini!!!"
"... Berarti lebih terkenal saya dong daripada Teteh, kan Teteh yang kenal saya tapi saya gak ingat Teteh."
"Hah? ... Secara logika, memang begitu ya... Hmmm, ah tapiii, masa sih??? Gak mungkin lah!"
"... heh..."
"... huh..."
"Pasti Teteh curang, duluan masuk sekolah ya, jadi angkatan atas, tapi sebenarnya seumur kan, sama saya."
"Kok bisa menduga demikian? Gue baru masuk sekolahan sesudah elo naik kelas tiga SD, lagiii. Seluruh dunia juga tahu (<-- majas totem pro parte). Memangnya umur elo berapa? Gue 29 setengah."
"Wah, lebih muda dong ya, dia sudah 30 tuh!" yang lain menimpali.
"Halah... Pantesan pikun."
"... Teteh kenal Tapir?"
"Ya iya lah. Kan dulu ketemu elo waktu lagi ada doi juga."
"Wah, aneh juga kok saya gak ingat ya..."
"Ya kan? Aneh, kan?"
"... Jangan-jangan ini Teteh yang menyapa waktu saya ikut lomba dekorasi tong sampah? Waktu itu saya kan menghias sendirian, kelas lain ramai-ramai."
"TONG SAMPAH? Kapan pula gue berurusan dengan tong sampah... Jadi, elo mengasosiasikan GUE dengan TONG SAMPAH?!?" Dan aku pun terjebak untuk mendiskriminasikan tong sampah. Maafkan aku ya, tong sampah.
"Bu- bukan begitu..."
"..."
"..."
***
Teman-teman menertawakan aku. "Gak mutu banget sih kamu pakai bersaing patenar-tenar segala sama dia!"
"Uh, sori ye. Ini bukan lagi soal bersaing sama dia. Ini perbenturan antara narsisisme, egoisme, eksistensi, identitas dan rasa percaya diri!!! Semua tentang aku."
"Padahal di sini malah lebih tenar Angsa yang di sebelahmu kan, daripada kamu."
"Dalam lingkungan satu kandang, iya kali. Tapi ketenaran Angsa dan aku itu beda dimensi. Tenarnya justru sebagai Anak Itik Buruk Rupa. Makanya lebih gak penting lagi untuk dipersaingkan."
"... Memangnya selama di bonbin kamu tenar gituh?"
"Pastinya!"
"Hihihi, ngaku-ngaku sendiri. Lalu alasannya apa tuh, kok bisa geer merasa terkenal?"
"Ada banyak dong. Secara aku ini si Kanti yang Cerdik."
"... Kanti yang Cerdik?"
"Si Kanti yang Cerdik. Penakluk buaya, jerapah dan kura-kura!"
"Bukannya Pencuri Ketimun?"
"... Termasuk juga salah satunya. Kan aku penganut semboyan, IF YOU CAN'T BE FAMOUS, BE INFAMOUS!!!"
"Wuadoooh, apa pula ituuu."
"... Tagline-nya Film 'Sangkar Kematian' (??)..."
"Memangnya kamu masih beredar di bonbin waktu 'Sangkar Kematian' diputar? Gak mungkin!"
***

Bulan berikutnya.
"Teh, ada salam dari Kuda."
"Kuda? Kuda mana lagi? Kuda Sembrani?" (Nama sebenarnya kebetulan beken sebagai judul lagu dari anak nakal Antah-Berantah yang sedang ngetop kemarin ini)
"Kuda-nya Kusir."
Ternyata teman berkemah yang senyum nyengirnya entah kenapa bisa mirip dengan Hillary Swank. Dan dia pun sudah punya keterangan hak milik... "Ow, salam balik atuh. Kayak dah lama juga gak ketemu. Ada bisnis apa sama Kuda?"
"Kan serumah. Sama adiknya juga."
"Wah. Kalau begitu ajak-ajak nongkrong dong sekali-sekali."
"Ngajakin sih tadi, tapi dianya sibuk kayaknya."
"Pastinya. Btw, peredaran elo ternyata di situ-situ juga ya. Padahal elo masih belum ingat ya sama gue?"
"... Kalau gak salah, Teteh ini yang menggambar kucing waktu di bonbin ya?"
"?"
"Gambar anak kucing lagi ngeong sehabis kecemplung got, yang pakai krayon atau pinsil warna itu kan?"
"Pentel oil pastel! Dan elo ingat gambar anak kucing itu?"
"Ingat."
"Jadi, elo bisa ingat gambar gue, tapi gak ingat sama gue?"
"Eheheh... nggak..."
KLONTANGNGNG... PRANG... JEDUGG... JELEGURRR...
Payaaaaaaaaaaah!

Layaknya peribahasa,
Gajah mati meninggalkan belalai gading,
Kanti mati meninggalkan gambar anak kucing.

Sedang mengeong.

Kecemplung got.

*omoitsudzukeru koto no tsurasa yori,
wasurerareta koto ga kowai no ja...
--F.C.

Tidak ada komentar: