Rabu, 04 April 2018

Berbalas Pantun

Masyarakat nusantara itu sejatinya berbalas pantun. Karena dituntut untuk merenungkan larik sampiran terlebih dahulu, mereka akan meletakkan diri di pinggir pusaran alam semesta sebelum memasuki inti permasalahan yang menjadi isi curahan hatinya. Karena dituntut untuk menyusun rima, mereka akan mempertimbangkan setiap diksi kosakata yang dipilihnya. Dengan demikian, rasa keakuan akan terkikis dan timbul kebijaksanaan baru dalam memandang berbagai persoalan yang hendak diangkat.
Tanpa mempertahankan kerangka berpikir pantun, orang Indonesia akan tersesat dalam kebisingan simpang siur arus perubahan zaman.
***
Pantun itu berbalasan, artinya bukan monolog; sudah pasti berupa dialog. Siap menerima tanggapan balik dari lawan bicara seberapa pun perihnya sindiran yang tersampaikan. Walaupun begitu, dengan persyaratan sampiran dan rima yang harus dipenuhi, dipastikan mereka selalu bermain dalam lapangan yang setara: setelah sama-sama merenungkan alam semesta serta memilah-milih kosakata.
***

Penafian: Pernyataan di atas ini bukan pantun, sehingga saya pun bukan masyarakat nusantara sejati ... Kami semua adalah orang yang tersesat dalam kebisingan simpang siur arus perubahan zaman

Jumat, 29 Desember 2017

Tugu Maung Kolonial Bandung

Di Kota Bandung tiba-tiba bermunculan tugu-tugu dan gapura-gapura asing, diduga demi mengejar penyerapan sisa anggaran akhir tahun. Konon, desainnya berlanggam "kolonial" merayakan arsitektur bersejarah warisan zaman Hindia Belanda (yang ironisnya justru pada runtuh tersia-siakan) 🏛️🏰

Kehebohan terjadi akibat kebingungan akan makhluk yang menghuni kubah-kubahnya. Niat awal menampilkan "MAUNG" hewan suci urang Sunda, semacam harimau jejadian 🐯🐅
Namun, terbukti sejak di atas kertas yang tergambarkan hanya perpaduan beruang kutub dan serigala kecebur got, entah menjiplak dari kastil kampung di pelosok eropah bagian mana 🐻🐺 

Pikiran Rakyat 27-12, 19:14: RK Ingin Patung Maung, Malah Mirip Anjing Laut
Kompas 28-12, 12:19: RK Kritik Tugu Maung Bandung yang Mirip Anjing Laut
Detik, 28-12, 17:10: Patung Maung Bandung Mirip Anjing Laut Ada di Tiga Lokasi


Mengecek salah satu TKP, kami menyimpulkan bahwa patung ini berbahan resin bolong, sehingga dapat dengan mudah diganti. Secara keseluruhan, memang terkesan murahan, barangkali bisa digolongkan sebagai KITSCH. Jam tugu pun hanya memakai batre biasa, kaca patrinya mungkin plastik 🕚🔋

Katanya para maung berfungsi untuk menandai empat penjuru mata angin. Wah, bukankah ada pakem Asia Timur bahwa harimau putih menandai arah Barat saja, sementara Selatan, Timur, dan Utara masing-masing ditandai oleh burung merah, naga biru, dan kura-kura hitam berkepala ular? 


Andaipun tercapai bentuk yang dicita-citakan, mari pertanyakan lagi apa perlunya memajang makhluk kesayangan kita semua di sini? Bukankah kolonialisme harus dibasmi dari muka bumi karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan? Lalu bagaimana dengan perikemaungan? Tentu lebih baik anggaran dialihkan untuk meningkatkan mutu trotoar, atau merawat bangunan pusaka aslinya, atau melestarikan maung dengan menjaga hutan rimba 🌳🌲

Serahkan sajalah pertigaan atau perempatan jalan kepada para seniman kreatif kota, untuk dirancang dengan melibatkan masyarakat sekitar dalam kritik saran maupun penciptaannya, sebagai sarana edukasi mengasah selera mencari ciri khas jati diri nusantara 🎍🎋

Sabtu, 02 Desember 2017

Pandai Besi dan Kamar Gema

Penafian: Harap maklum bahwa keluhan ini saya lontarkan sebagai seorang mantan pandai besi berijazah dari sekolah luar negeri ternama, yang di sisi lain sempat kebingungan ketika dihadiahi minyak wangi eropah oleh ibu bos di tempat kerja lama.

Tersebutlah kisah, kira-kira di akhir tahun lalu, hawa-hawa perpecahan yang merebak di dunia maya terendus sampai ke depan hidung saya.
Seorang kawan lama, kalau tak boleh menyebut sahabat, seminggu sebelumnya masih bertegur sapa dengan akrab di halaman maya. Kenalan semasa kuliah, kini ibu dari tiga anak lucu, wiraswasta andal, tulisannya pernah dikemas tampil di layar lebar. Tiba-tiba beliau mengumumkan niat bebersih daftar teman, untuk memilah dan memilih siapa saja yang sehaluan atau tidak dengan sikapnya terhadap agama.
Yang menggelitik saya adalah bahwa sebagai dasar hukum dari tindakan tersebut, beliau mengutip hadits yang diterjemahkan seperti ini.
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mencium harumnya. Sedangkan berteman dengan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) membakar pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau mencium bau asapnya yang tak sedap.”
(HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Secara belum khatam kitab hadits, dan sesuai penafian di atas tadi, saya pun langsung mempertanyakan.
  • Pertama, pandai besi memang pekerjaan berbahaya, tapi bukan berarti sia-sia, 'kan? Kenapa berteman dengan pandai besi tidak dimaknai akan kebagian hadiah panci gratis? Atau setidaknya, bisa beli obralan sendok garpu murah?
  • Kedua, apakah itu berarti Islam punya kasta berdasarkan jenis pekerjaan? Kalau di Hindu, pandai besi mungkin tergolong waisya atau minimal sudra; masa dalam Islam terhempas menjadi setingkat dengan kaum pariah yang tak dapat disentuh?
  • Ketiga, bukankah teman yang buruk justru selayaknya dirangkul agar kembali ke jalan yang benar, jangan malah dijauhi dengan membakar jembatan pertemanan yang mungkin suatu saat akan menyelamatkannya sekaligus menjadi ladang pahala bagi kita?


Saya kira pertanyaan seperti ini layak untuk dibahas dengan nalar kepala dingin, justru untuk memperkuat pemahaman terhadap alasan yang diberikan agar tidak terganggu gugat. Tetapi malah saya dianggap layak untuk disingkirkan dari daftar teman karena dituduh ingkar terhadap hadits, tidak sami'na wa atha'na.

Tentu saja berdasarkan latar belakang saya, saya serta-merta menilai bahwa keberadaan seorang pandai besi dalam peradaban umat manusia jauh lebih penting daripada penjual minyak wangi ...

Saya suka wangi pandan, melati, cendana, dan rempah-rempah: tapi untuk memakai minyak wangi sehari-hari, belum merasa perlu. Minyak wangi adalah hasil keluhuran peradaban, tapi sama sekali bukanlah kebutuhan utama. Hanya perhiasan penghibur duniawi. Tanpa minyak wangi, manusia masih dapat hidup aman tentram kertaraharja. Lagi pula setahu saya musk itu berasal dari kelenjar rusa jantan; apakah sudah dipertimbangkan hak asasi hewannya?

Sebaliknya, tanpa pandai besi, bukankah takkan ada aneka perkakas rumah tangga? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada kendaraan canggih masa kini? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada tiang beton untuk gedung bertingkat? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada pedang tajam maupun senjata api? Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada kebesaran kerajaan Daud dan Sulaiman?

Tanpa pandai besi, bukankah takkan ada konflik pertambangan? #eh
#gimana #nahlho 🙀

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ
فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً
وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Setelah memeriksa sumber bahasa aslinya dan mengulik beberapa hadits tandingan, saya simpulkan bahwa yang harus dihindari dalam perumpamaan itu adalah angin dari ububan (kipas peniup api untuk tungku kegiatan penempaan besi) bukan pekerja pandai besinya. Bagaimanapun juga, mustahil hadits meremehkan pekerjaan penting di masyarakat.

Jika memang mengibaratkan manusianya, seharusnya hadits ini bermakna ada karya yang penting bagi penghidupan tapi kita mau tak mau harus menanggung hal-hal yang tidak nyaman dalam pengolahannya.
***

Pada dasarnya sih tidak ada salahnya mengatur pertemanan media sosial, daripada habis hidup berbasa-basi tanpa keintiman. Dalam beberapa hal, saya sendiri mengelompokkan daftar teman berdasarkan latar belakang perkenalan: keluarga, tetangga, teman sekolah, kawan kuliah, rekan kerja, orang berbahasa daerah, orang berbahasa asing, dst; agar kesan-pesan khusus dapat saya arahkan langsung kepada kelompok tertentu tanpa perlu memenuhi dinding atau disalahpahami oleh kelompok lainnya. Namun, tentu hal itu saya lakukan dengan pertimbangan sendiri tanpa maksud berkoar-koar menyinggung para pihak.

Sebaliknya, fenomena "kamar gema" perlu kita waspadai. Kita harus tetap membuka diri terhadap berbagai informasi dari pihak yang berbeda pandangan, agar kita tidak mudah terpancing, agar semua pembenaran selalu ada pembanding.
Menutup jalur pembahasan hanyalah langkah terakhir ketika upaya menengahinya secara ilmiah dari dua arah sudah buntu, demi menghindari debat kusir caci maki yang tidak berkejuntrungan; itu pun harus ditindaklanjuti dengan pendekatan yang lebih intensif untuk meredakan perselisihan pendapat agar setidaknya setuju untuk berbeda; tidak dapat dibiarkan menjadi api dalam sekam.
Ketika algoritma jejaring sudah cukup mempersempit langganan umpan berita kita, jangan sampai kita pula yang memasang kacamata kuda!

Minggu, 20 Agustus 2017

Catatan Harian Angkot #1

Tim @kukulintingan dan @transportasiumum bersepakat untuk membuat catatan tentang pengalaman keseharian naik angkot.
Catatan ini diharapkan dapat menjadi panduan untuk menjajaki usulan paling jitu demi menyelaraskan kebijakan angkot bagi para pengguna sejati dan para supir penyedia layanan. Tujuannya agar tercapai kenyamanan perjalanan sebelum impian para elite Bandung dalam membangun infrastruktur transportasi umum yang ajaib bisa betul-betul kesampaian.
Saya mulai deh dari pengalaman kemarin.
Sebagian besar jalur angkot Bandung sudah dapat dilacak melalui fitur transportasi umum google maps, walaupun kadang-kadang penomoran dan trayek angkot masih simpang siur antara versi lama dengan versi baru.
Angkot Abdul Muis Cicaheum via Aceh, angkutan kota yang menjadi andalan saya selama masa sekolah, berangkat pertama sekitar pukul 5.30 dan terakhir sekitar pukul 18.30 wib, demikian menurut informasi jalur angkot di google maps yang masih mungkin tepat mungkin juga ngarang.
Alternatifnya adalah angkot Stasiun-Sadang Serang yang dikabarkan berangkat pertama pukul 4.50 dan terakhir pukul 19.50 wib.

 

Bagi yang pulang di atas jam malam, harus cukup fasih melacak lokasi halteu perantara karena belum tersedia informasi ganti jalur yang lengkap.

Karena bubar ngopi cantik sudah lewat dari pukul 21.30 wib, dari jalan Sunda akhirnya naik Abdul Muis Dago untuk ganti arah ke Cicaheum di Simpang Dago. Angkot-angkot ini biasa beroperasi selama 24 jam sehari. Penumpang kali ini adalah serombongan muda-mudi NTT yang sedang mengunjungi temannya mahasiswi baru di Bandung. Obrolan mereka seputar lokasi misa pagi yang kecengabel.

#diaryangkot #angkotbandung

Kamis, 01 Juni 2017

Ekaharita Marakata

Pada penataran P4 terakhir yang saya ikuti di masa sweet seventeen, saya meraih peringkat 30 dari 2000 sekian pelajar unggulan --berkat senjata pamungkas hapalan ngolotok ekaprasetia pancakarsa sejak SD sewaktu masih 36 butir dan naskah andalan laporan presentasi berjudul "Fanatisme Berlebihan Mengancam Perikehidupan Berbangsa dan Bernegara" yang isinya menguraikan kemustahilan penerapan paragraf-paragraf GBHN-- seolah-olah bocah orde baru sejati cemana pula.

Tapi kini keluhan saya, Pancasila sejauh mengusung kebinekaan manusia, ternyata belum menghargai kebinekaan hayati, sehingga tidak secara tegas langsung menganjurkan tindakan-tindakan ramah lingkungan.

Apalagi ketika gerakan pemuliaan alam semesta dituduh bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa karena dianggap menjurus syirik; dilupakan bahwa bumi adalah amanat Allah swt, dikira sekadar batu loncatan menuju surga yang bisa diinjak semena-mena, cepat atau lambat toh kiamat akan tiba …

Sedangkan kemajuan peradaban untuk kemanusiaan dinilai dari berbagai rekayasa pendirian aspal beton besar-besaran dan pembakaran energi habis-habisan, ketika sesungguhnya yang dibutuhkan sudah bukan lagi kritik membangun melainkan kritik menanam …

Kecintaan dan kebanggaan terhadap tanah dan air digiatkan dalam kerangka penguasaan dan penaklukan, tidak mempertimbangkan upaya perlindungan dan pemeliharaan …

Musyawarah untuk mufakat dipimpin oleh elite-elite menara gading yang tidak mampu menyimak suara-suara rakyat pinggiran yang sehari-hari menikmati bertahan hidup di tengah hutan rimba atau samudra raya.

Barangkali yang paling mendekati seputar butir-butir yang berbunyi "tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain, pemborosan dan gaya hidup mewah, atau hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum" …
Padahal para perusak darat laut dan udara itu justru memanfaatkan hak negara (?) dengan alasan keadilan sosial berupa pemerataan pengerukan sumber daya …

Boleh jadi kita masih mengamalkan ekaprasetia pancakarsa, tapi pasti lebih banyak yang tidak tahu perbedaan antara burung garuda, elang botak, dan rajawali; pohon beringin dengan kelapa sawit; banteng dengan sapi perah; padi dengan gandum; kain katun dengan poliester.

Sementara itu, cahaya bintang kecil di langit yang tinggi pudar oleh silaunya kerlap-kerlip neon di kota …
Rantai pemersatu pun menjadi belenggu.