Kamis, 25 November 2004

Hemat Energi, Boros Biaya

"Sometimes, you have to leave things as it is. Yang ditampilkan barusan seperti biodiesel dan semacam, kedengaran ideal, tapi apakah praktikal? Seandainya itu akan menguntungkan, berbau uang, pasti dukungan akan datang dari berbagai pihak. Tapi kita lihat saja minyak goreng, berapa mahalnya dibandingkan bensin? Posisi minyak bumi sebagai bahan bakar tetap takkan tergantikan. Kami pernah menurunkan dana 20 miliar untuk penelitian yang berujung sia-sia. Yang kurang di Indonesia adalah kemampuan berpikirnya. Kami di Korea dulu juga tapi kami mampu bangkit dengan apa yang kami bisa."
....... Wapres APEC Energy Research Center Tokyo, orang Korea (yang jelas bukan Bae Yong Jun)

Masalahnya adalah pengemasan. Minyak goreng tentu saja mahal karena memakai kemasan steril, dan tidak mendapat subsidi sebesar minyak bumi. Sementara potensi limbah kelapa sawit terlihat menjanjikan. Tapi memang apa gunanya mengerahkan daya upaya habis-habisan hanya untuk memanjakan para pengguna minyak bumi lainnya.
Indonesia telah meratifikasi protokol Kyoto dan menerapkan CDM, tapi apa bukan hanya sekedar langkah politis?
Dari sudut pandang orang pertanian, timbul pertanyaan apakah langkah yang lebih efektif, menurunkan harga energi, agar orang tak mampu bisa menggapainya, atau menaikkan derajat hidup mereka terlebih dahulu, sehingga semahal apapun energi tetap dapat digapai?


...


dst

Tidak ada komentar: