Sabtu, 10 Desember 2005

Nirgendwo im Cisarua

Bandara Denpasar, suatu petang Ramadhan.
"Assalamualaikum," sapaan kulayangkan pada seorang ibu setengah baya berwajah asing yang berwajah lesu dan kebingungan yang menatapku dari jajaran seberang sambil tersenyum pahit.
"Wa alaikum salam. The guys make me scared. They offer me massage, but they are all men!"
"Oh, yahaha, maybe there are some girl massagers inside, if you are really interested?"
"Oh, tidak, terima kasih. Jadwal berangkat sudah dekat. Hanya saja saya lelah, mengangkut barang sendirian dari rumah di desa sampai Melbourne, perjalanannya cukup lama, sampai tujuh jam."
"Oh, orang Australia? Tidak ada yang menemani?"
"Iya, tapi saya keturunan Irak, lahir di London. Mau bertemu suami, dia tak punya visa untuk menjemput. Lah kamu, kok pergi sendirian? Tidak bersama ayah-ibu? Bersekolah?"
"Haaa? Saya sudah lama lulus master gitu loh..."
"... Wah... Hihihi maaf, saya kira kamu baru berusia enambelasan..."
"Oke, saya anggap itu pujian awet muda."
"Tapi mungkin cuma karena kamu pendek dan mungil, jadi terkesan masih anak-anak..."
"Yahaha, yah terserah lah."
"Kamu naik pesawat ini juga? Do you think it's gonna be light?"
"Why light?"
"Laid, you know, laid, when it goes not in time..."
"Oh sorry, I misheard. Late? I hope not, but it is possible. Nowadays they place importance on safety. Maka pemeriksaan mesinnya mungkin menghabiskan waktu lama. Yah, better late than failure... Tenang saja, kalau keburu maghrib, saya bawa bekal."
"Oh, saya terlalu lelah, tidak puasa. Memang belum makan, tapi tidak mau. Takut muntah. Dulu saya pernah muntah. Nanti saja kalau sudah sampai, suami saya pasti memasakkan untuk saya."
(Melihat sosok semampai seperti ini berlagak lemah, nandaka chotto mukatsuku naa)
"Tapi kalau saluran pencernaan dibiarkan kosong, asam lambung akan membuat perut mual!"
"Yah, nanti saya coba makan di pesawat. Yang saya paling inginkan sekarang, sebenarnya mandi. Saya hanya takut kalau ditinggal. Terakhir saya ke Jakarta, telat satu jam dan suami saya tidak menunggu, keburu pulang. Repot deh, saya sebenarnya tak tahu jalan."
"Heee? Masa sampai begitu? Tega amat! Tapi tenang saja, nanti saya tunggui deh sampai dijemput."
(Dengan lagak jauh lebih tegar dan mandiri, padahal kalau sendirinya gak dijemput, malam-malam di bandara yah berabe juga)
"Eh ngomong-ngomong ruang tunggu ini kosong ya, selain kita cuma ada tiga orang. Mungkin pada takut bepergian karena bom kemarin? Kalau pesawat kosong, nanti pindah duduk yang berdekatan ya."
...
(Ternyata itu dugaan ini meleset. Pesawat dengan segera penuh sesak oleh para pelancong tak kenal takut. Tapi berhasil juga barter tempat duduk dengan seorang wisatawan Jepang yang memaksa bicara bahasa Inggris dengan payahnya, nihongo dekiru noni.)
...
"Suami kerja apa di Indonesia? Tugas diplomasi? Bisnis?"
"Uhm, tidak, tidak kerja apa-apa."
"He?"
"Dia sedang menunggu izin ikut saya ke Australia, tapi sulit memperolehnya. Jadi saya yang harus menjenguknya."
"Oh begitu? Dia bukan orang Australia?"
"Dia orang Iraq. Pengungsi."
"Wah... Masih parahkah kondisi Iraq?"
"Tentu. Perang belum benar-benar usai. Kalau mau aman, ke Iran. Tapi susah juga mendapat izin masuk ke sana."
"Oh ya, saya tahu, mereka tidak menerima visa wisata ya. Harus ada kenalan."
"Suami sudah tiga tahun di Indonesia. Tapi kami baru menikah enam bulan. Sebulan pertama saya ikut tinggal di Cisarua Bogor, tapi habis itu saya sakit dan stress, muntah-muntah, jadi lari pulang ke Australia. Sekarang ini baru balik lagi."
"Haaa masih baru bulan madu???"
"Iya. Huhuhu, ini orangnya."
(Dengan wajah merona seperti anak remaja, ia mengeluarkan liontin berisi guntingan foto, memuat sosok yang menghapus pandangan stereotipku bahwa pria Iraq equal Saddam Husein, yang ini kriting lebih mirip Kaddhafi, dengan mata belo Nicholas Cage gitu loh...)
"Hieee... Kelihatannya jauh lebih muda, ya?"
(Masih dengan seksama meneliti foto sambil ternganga atas kejutan bertubi-tubi ini...)
"Masa? Usianya sudah tiga delapan kok. Mungkin karena ia menyepuh uban, dan agak kurus karena sengsara, jadi kelihatan muda. Tentu saja saya memang sedikit lebih tua... Apakah menurutmu kami tidak sepadan???"
"Eh, bukan begitu, serasi juga kok, hanya saja meleset dari bayangan saya semula..."
"Yah, pertama dikenalkan oleh teman, saya sebenarnya memang tidak tertarik, menganggap He is such a baby! Tapi setelah lama berkorespondensi, tutur katanya baik, ( gombal, kali, maksudnya?) maka saya pikir kenapa tidak? Selain dia, yang pendekatan pada saya kebanyakan orang kaya dan pintar tapi botak dan buncit, uh nggak deh! Tentu saja dalam memilih lelaki tampang tetap penting."
"Yahaha, setuju saja deh. Lalu, memangnya waktu di Iraq, apa pekerjaannya?"
"Tukang cukur."
"Kenapa tidak mencukur saja di Indonesia?"
"Entah, sebagai pengungsi mungkin susah melamar ke mana-mana. (Oh, just say tukang cukur melimpah di Indonesia.) Tapi rambut saya kemarin dia yang potong, hihihi..."
"Hmmm, di Australia laris manis kali yah, mencukur biri-biri. Kalau pekerjaan sister di Australia selama ini apa?"
"Saya mengajar bahasa Inggris. Untuk belajar di lembaga resmi, orang asing sulit mendapat izin, jadi saya mengajar khusus untuk pengungsi. Siapa lagi yang melakukan kalau bukan kita-kita juga. Putri saya juga sudah bekerja urusan layanan sosial."
"Oh, sudah punya anak besar?"
"Yah, saya menikah muda, dan sayangnya pernikahan kami gagal. Sepanjang hidup saya digunakan untuk menikah, menikah dan menikah. Hey, do you find Indonesian men bossy?"
"Bossy? Hue, mungkin ada, tapi yang jelas tidak di lingkungan saya."
(What, ikinari, hendak mengangkat masalah feminisme kah?)
"Kalau pria Iraq berlagak ngebos. Jadi kami perempuan takut pada mereka. Saya juga takut pada suami saya yang sekarang. Makanya saya kabur kemarin itu. Tapi setelah cukup lama berpisah, yah kangen juga."
"Jauh di mata dekat di hati lah, ya?"
"Kalau dipikir-pikir, dia sebenarnya baik kok. Hanya saja udara Bogor saat itu mungkin tidak sesuai untuk saya. Tapi untuk tiga bulan ini saya akan bertahan."

"Yah, semoga bahagia."
"Ugh, saya tidak akan makan lauk! Nanti mulut saya bau. Makan kueh saja deh. Tak lupa disemprot pewangi mulut. Coba lihat lipstik saya, sudah rapi belum? ..."

(Toka nantoka, kebahagiaan perempuan itu adalah terletak pada kerelaannya mau dibos-in keli ye...)
Untuk sister Leslie, selamat menempuh hidup baru, semoga sukses.



Putri Padang Pasir

Tidak ada komentar: