Jumat, 01 Oktober 2004

Mandheling in Manhattan

10-01, Hari Kesaktian Pancasila Kopi Internasional.

sehitam setan, sepanas neraka,
semurni malaikat, semanis cinta...


MENU SEDUHAN HARI INI: KOPI silang ganda
#1. Mandheling
#2. Eureka!
#3. Sejarah berdarah
#4. QAHWAH vs Drink of the Devil
#5. WARKOP, wahana intelektual
#6. Fenomena Luak
#7. Musium "Koohii"
#8. SBX vs shapeshifter
#9. cinTapuccino in Cirebon
#0. Manhattan Love Story

Selamat mencicipi...

Mandheling


1945. Sebagai acara perpisahan, beberapa Tentara Jepang (TJ) mampir di kedai kopi pak Regar (PR).
TJ: Umai! (Enak) Kore doko kara? Dari, mana?
PR: (menyangka pak tentara menyebut Omae = kamu)
PR: Sahaja? Dari Mandailing, Tuan...
TJ: E? Nani? Mandeeringgu?
PR: Ya tuan. Mandailing tuan.
TJ: Ah, sou... (sambil manggut-manggut).

Sepuluh tahun kemudian, telepon luar negeri untuk Pwani, seorang makelar beken di tanah Sumatra, berdering di meja operator. Terjadilah transaksi mengapalkan 15 ton Kopi Arabika bermutu tinggi dari Sumatra ke Jepang, sebagai tonggak keberhasilan ekspor besar-besaran pertama, dengan label yang menginternasional sejak saat itu: Mandheling (yang sebenarnya bukan nama tempat, melainkan semata-mata plesetan nama kelompok etnik yang kebetulan paling terlibat dalam produksi kopi, Mandailing, yang saya masih penasaran apa hubungannya dengan Mandarin dan alat musik Mandolin).
Di Indonesia malah paling juga tahunya kopi Medan...
BTW: Ini hanya gosip dari Sumatra. Pada kenyataannya, jauh sebelum perang dunia II, dalam katalog grosir kodian Sears tahun 1903 tercatat "Java Mandailing" for sale. Saat itu, sudah umum untuk memanggil semua kopi Indonesia dengan Java-ini dan-anu (bukan berarti berasal dari Jawa).
... Terkenang sekaleng Mandheling,
mendukungku bergadang di lab saat-saat genting...
Sebagai makhluk yang
tak mampu membedakan Nescafe dengan Kapal Api,
ibarat menghadiahi mutiara kepada seekor sapi
(^-^; Belum paham apa enaknya...
Pahit gila! Tapi manjur lah...


Menu Kopi



Eureka!


Tidak ada fakta yang kuat mengenai penemuan biji kopi. Namun terdapat bukti-bukti sejarah pemanfaatan kopi sejak delapan abad sebelum Masehi.
Suku Galla dari Habsyi (Ethiopia) sebenarnya bukan meminum, melainkan memakan kopi di dalam lemak hewan sebagai satu-satunya sumber gizi selama dalam kafilah.
Legenda yang beredar antara lain mengenai seorang seorang perenung yang pandai, Kaldi dari Ethiopia sekitar abad ke-6.
(Metoda ilmiah 1: menemukan masalah)
Kaldi: Hmm. Mengapa domba-dombaku kelihatan sakaw beginih?
(Metoda ilmiah 2: merumuskan masalah)
Domba: Mbehehehehekkk mbheheheehk
(Metoda ilmiah 3: mengumpulkan teori)
Kaldi: Karena cuaca? Tergelitik rumput? Kan belum musim kawin?
(Metoda ilmiah 4: mengajukan hipotesis)
Kaldi: Aku mata-matai ah. Inilah kerjaan gembala.
(Mengendap-endap)
(Metoda ilmiah 5: mengumpulkan data lapangan)
Kaldi: Perdu hijau berkilau, semak apa tuh yang mereka mamah biak?
(Metoda ilmiah 6: melakukan penelitian)
Kaldi: Ada buahnya euy, merah kecil-kecil... Coba juga ah.
Glek-glek... Gllppp... Whoaaa!
(Metoda ilmiah 7: membuat kesimpulan)
Domba: Mbebeheekehek mbhekeheheek
Kaldi: Mmmbeheheeeek mmmbheeeeeek
(Langsung menari-nari di tempat)

Menu Kopi




Sejarah berdarah


Al Mukkah (Moccha) di laut merah, menjadi satu-satunya pelabuhan ekspor kopi dunia selama seribu tahun.
Penyebaran kopi dimulai secara ilegal, karena mengangkut tumbuhan kopi ke luar Negara Muslim dilarang oleh pemerintahan Islam saat itu.
Orang Belanda mencuri bayi pohon Kopi dari pelabuhan Moccha ke Sumatra dengan cara menempelkannya ke perut mereka, dan memulai babak Tanam Paksa Kopi di bawah dominasi kolonial...
Perang sipil banyak meletus di Amerika Tengah akibat kebijakan kopi yang mematikan sumber ekonomi rakyat.
Awal tahun ini pemerintah melakukan pembabatan kebun kopi rakyat di Manggarai karena berada di areal hutan lindung "milik Negara".
Dapatkah kau hirup wangi kepulan uap dari secangkir kopi,
dan meneguk pelan-pelan dengan penuh kepuasan,
tanpa mengendus dan mengecap amis darah tertumpah...??


Menu Kopi




QAHWAH vs Drink of the Devil


Setiap arisan ke apartemen Sarah, kami wajib menenggak minuman satu ini. Apalagi di saat dingin salju menusuk tulang, qahwah adalah obat yang tepat.
Minuman ini lebih menyerupai Bandrek, karena ke dalam seduhan kopi ditambahkan cengkeh, kayu manis, kapulaga dan bunga lawang.
Minuman pertama yang dibuat dari kopi adalah Wine, dari ceri kopi, madu dan air. Demi mengadaptasi kopi ke dalam syariat Islam yang melarang konsumsi alkohol, orang-orang Turki meramunya sebagai qahwah yang kita minum sekarang.
Dalam perkembangannya, sempat terjadi pengharaman kopi oleh pemerintah Makkah, yang kembali dihapuskan dengan pertimbangan kopi berkhasiat sebagai obat sesuai catatan Ar-Razi dan Ibnu Sina, dan dihidangkan di masjid-masjid untuk menambah kekhusukan ibadah.
Ketika kopi didagangkan dari Mocha ke Negara-negara Eropa, para penggemar Teh dan anti Islam memboikotnya dan meminta Paus melarang penyebarannya sebagai "minuman setan". Namun Paus, yang terlanjur menikmatinya dari kiriman pendeta-pendeta Habsyi (Ethiopia), pada tahun 1605 justru membaptisnya sebagai minuman Kristiani, dan berkata "kopi itu lezat sekali, alangkah sayang membiarkan kaum kafir menikmatinya sendiri!".

Menu Kopi



WARKOP, wahana intelektual


Tempat tinggal sesempit liang kelinci, membuat orang Jepang rata-rata memilih bertemu di luar rumah, ketimbang bertamu minum teh seperti adat istiadat lama Cha-no-yu yang merepotkan. Bagi kelompok yang tidak menikmati minuman beralkohol, kopi adalah pilihan yang punya tempat khusus di hati dan lidah.
Banyak sekali kafe di Kyoto, rata-rata hanya memuat sepuluh orang sekaligus, ditata dengan interior unik, antik menarik. Kebanyakan mengambil gaya saloon Perancis, bahkan ada satu di belokan dekat PAM berjudul "Le Petit Prince" sambil memasang ilustrasi buku karya de Saint Exupery itu di sana-sini.
Tengah malam terdampar di kota, kita bisa beristirahat murah meriah di warkop 24 jam, hanya dengan segelas kopi dan sepotong biscuit seharga 500 yen bisa numpang duduk dan sesekali terlelap di antara kepulan asap rokok dan majalah-majalah lama.
Di sudut sebuah Karafuneya pastilah ditemukan satu dua orang yang membuka buku-buku tebal mengerjakan PRnya sambil menyeruput segelas espresso dan menyuap sebongkah black forest.
Warung kopi sejak pertama kali muncul di Turki, telah berperan sebagai pusat pertukaran intelektual sampai sekarang. Dimanfaatkan sebagai pijakan untuk meninggikan karyacipta dan wacana, dengan kesempatan bergaul, mengobrol, bermain dan mengapresiasi seni.

Menu Kopi



Fenomena luak


Ayahanda (alm) yang mengaku besar di perkebunan kopi, sering cerita mengenai kopi paling enak yang diramu dari biji-biji sisa pencernaan hewan unik bernama luak. Katanya, luak hanya memakan buah kopi yang telah matang, dan menyisakan biji kopi dengan kulit ari, yang dipungut dalam keadaan seperti ini justru yang paling enak. Sayangnya karena sehari-hari beliau tidak menenggak kopi, saya meragukan seleranya... (^^;
Penelitian mutakhir membuktikan bahwa telah terjadi proses semacam fermentasi, pemecahan protein di dalam kopi tersebut oleh kelenjar-kelenjar luak, sehingga menurunkan kadar kepahitan.
Tapi harap hati-hati, ada kecurigaan tertular SARS, dan sementara pertimbangan luak adalah sejenis kucing, maka aroma yang ditimbulkannya dianggap tidak kosher, walaupun belum saya temukan fatwa ketidakhalalannya.
Bagi yang ingin mencoba gratisan online, ada nih sebuah alternatif menarik bagi kopi luak... Silakan silakan (^-^;


Menu Kopi




Koohii


Di Jepang gak ada yang namanya kopi ataupun coffee. Ada juga, koohii dalam katakana. Itulah sebabnya ketika si Doumyouji (tokoh dalam Hanayori Dango, dikenal di seputar Asia dengan nama Tao Ming Tse) ke New York, kebingungan gak bisa memesan koohii.
Secara umum posisi kopi belum sedemikian berakarnya seperti cha dalam budaya Jepang.
Namun orang Jepang punya bagiannya sendiri dalam sejarah perkopian.
Penemu kopi instant adalah seorang peneliti Jepang di Chicago, Satori Kato.
Ueshima Coffee Company (UCC), sebuah perusahaan pelopor pengalengan kopi siap minum yang kini dijual umum di vending machine, punya museum Kopi di Kobe dan sejak sekitar sepuluh tahun terakhir memiliki kebun kopi sendiri di Lintong Mandailing. Kini mereka berusaha mengatasi problem lingkungan terutama kaleng-kaleng bekas yang menyampah.
Sejujurnya, saya sangat menikmati beberapa iklan kopi kalengan di Jepang, antara lain Fire versi Kimutaku berkucing putih (ada yang punya gambar atau rekamannya? Mauuuu), BOSS a la Hamasaki Ayumi berkumis ria, dan yang "moshi sekai juu ga minna teki ni nattemo..." Walaupun tak sampai tergerak untuk mengonsumsi...


Menu Kopi




SBX vs Shapeshifter


Di suatu arisan di tempat Sarah, Mahdjouba teman dari Algeria menjerit, "Boikot SBX!"
Semua berpandangan tak rela. Bahkan Sarah pun sebenarnya penggemar Starbucks, jaringan internasional yang buka kafe di setiap kelokan jalan Sanjo-Shijo dengan wanginya yang menggoda dan suasana yang nyaman untuk membaca novel. Karena desainnya yang nyaman? Pelayanannya yang ramah? Mungkin perasaan global metropolis lah yang membuat SBX punya tempat tersendiri di hati para yuppies bergajulan ini. Kita seakan-akan berada di Utopia States for All. Dan kesempatan satu-satunya melakukan "free will" dengan harga "memadai":
Saya mau yang Tall! Short! Decaf! No Sugar!

Kalau berminat membaca, ada komik online yang menyindir SBX dan mempertarungkannya dengan shamanism: SHAPE SHIFTER
Sebagai yang tak punya kebutuhan harian akan kopi, aku sih oke-oke saja. Tapi selanjutnya Mahdjouba menjerit lagi, "Boikot Disney!" Wah. Belum sanggup deh. Gimana donggggg...

Menu Kopi




cinTapuccino in Cirebon


Kebetulan hari Minggu lalu aku menemani nCha ke Cirebon, kali ini dalam rangka berkeliling promosi chicklitnya yang pernah aku ceritakan dulu itu, ke Grage Mall dan radio-radio di sekitarnya(maklum dasar penyiar), sambil bagi-bagi edisi lepas gratis. (Hebat juga, berapa yah alokasi biaya untuk promosi... Sehari saja mestinya habis sejuta dua juta...)
Analoginya dengan kopi, yang digunakan untuk mendulang untung ini, keren juga:
Obsesi kronis sekental saripati espresso yang dipermanis oleh bumbu kenangan serupa krim coklat; secangkir cinta dalam seduhan cappuccino...

Sambutan dari para pegawai Gramedia Cirebon ternyata cukup meriah: Mereka brsemangat promosi dengan kostum festival, lalu menampilkan dance dan kabaret, yang cukup merusak kenangan masa SMA yang kubayangkan selama ini... yahaha...

Menu Kopi




Manhattan Love Story


Drama musim gugur tahun lalu. Sebuah kafe mungil di belakang stasiun televisi Chuo, ramai dikunjungi pelanggan menyebalkan dengan berbagai latar belakang, sebut dalam inisial A, B, C, D, E, F, G.
Sang pemilik kafe yang pendiam dan setia pada kemurnian kopi yang dihidangkannya, tergerak untuk diam-diam secara rahasia turun tangan dalam menyelesaikan masalah cinta segi delapan masing-masing pelanggan dengan filosofi kopinya.
Suatu saat panah di peta cinta berbalik arah...
Sang master yang selama ini di belakang layar, ternyata menghadapi kenyataan bahwa ia suatu saat juga harus maju sebagai pemeran utama ke panggung.
Selain itu, demi menyesuaikan selera pelanggan, perlahan-lahan kafe yang konvensional itu berubah menjadi tempat yang meriah, ada kopi instan, eskrim, nasi kare, napolitan, komik slam dunk, bahkan karaoke...
Sampai tiba-tiba stasiun televisi harus pindah dan sang master bisa terbebas dari para pelanggan yang seenaknya itu...
Alur yang penuh kejutan sampai detik-detik terakhir.
Drama ini memenangkan berbagai penghargaan antara lain drama terbaik, pemeran pembantu wanita (Kyon-kyon!), naskah, casting, sutradara, musik, OST (manhattan e itta koto ha nai kedo).
Serif-serif yang tak terlupakan:  

アンタはブレンドし過ぎだ!ブレンド依存症だ。アンタはまだ、コロンビアの味もマンデリンの味も知らない。一方の魅力を知る為には、もう一方を捨てる勇気が必要なんだ!

私の人生と経験と魂をこめて言わせてもらう。

鉄は、熱い内に、飲め!…もとい、打て。


Menu Kopi



Jumat, 24 September 2004

Stickittodaman

Satu lagi rekomendasi dari tempat penyewaan yang ternyata gak mengecewakan...
School of Rock, sekolah yang berhasil mengajarkan intisari dan semangat juang dari musik cadas itu kepada anak-anak imut sepuluh tahun. Uuu, wajah mereka benar-benar lucu menggemashkanh...
Hawanya sih berkisar antara Sound of Music, Music of the Heart atau Sister Act, dengan sentuhan berbeda...

Baby we were making straight A's,
But we were stuck in a dumb daze,
Don't take much to memorize your life,
I feel like I've been hypnotisized,

and then that magic man he come to town,
(whoo wee)
he done spone my head around,
he said recess is in session,
Two and two make five,
and now baby, oh I'm alive,
oh yeah,
I'm alive.

And if you wanna be the teacher's pet,
Well baby you just better forget it,
Rock got no reason,
Rock got no rhyme,
You better get me to school on time.


Oh you know I'm was on the Honor Roll,
got good grades, and got no soul,
raise my hand before I can speak my mind,
I've been biting my tongue too many times,

And then that magic man said to obey,
(uh huh)
do what magic man do, not what magic man say,
Now could I please have the attention of the class,
today's assignment: KICK SOME ASS!

and if you wanna be the teacher's pet,
well baby you just better forget it,
rock got no reason, rock got no rhyme,
you better get me to school on time.

This is my final exam,
now ya'll know who I am,
I might not be that perfect son,
but ya'll be rockin' when I'm done.

Kamis, 23 September 2004

Busur-busur Emas

"Ini tentang McD, nonton deh, bagus lho..."
Entah karena aku terlihat punya problem berat badan atau ketahuan gemar makan, petugas tempat penyewaan DVD tiba-tiba menyodorkan Supersize Me!. Posted by Hello

Ternyata ini dokumenter yang menyelidiki segala problematika obesitas (penyebab kematian nomer 2 setelah merokok) pada masyarakat Amerika akibat makanan-minuman bermerek cepat saji, terilhami sebuah kasus pengadilan dua orang bocah kegemukan menuntut McDonalds baru-baru ini. Sang sutradara sendiri nekad menjadi marmut percobaan melakukan McDiet selama 30 hari, sambil mempertanyakan sejauh mana semestinya tanggung jawab pribadi berakhir dan tanggung jawab korporasi dimulai dalam sistem produksi konsumsi.

Dikemukakan bahwa merajalelanya bisnis McD (sebagai contoh utama, dan tentu saja makanan kalengan lain juga: KFC, Pizza Hut, Wendy's, Taco Bell, Dunkin Donuts, Hershey, Dannon, Kraft, dst) adalah karena keberhasilan mereka menyusupkan ideologi busur-busur emas tersebut di sela-sela patriotisme dan religiusitas, melalui:
  • Kemudahan memperolehnya, kapan saja, di mana saja, dalam waktu singkat. Restoran McD 24 jam nonstop telah tersebar di setiap kelokan jalan di berbagai penjuru kota seluruh dunia: termasuk Rumah Sakit! Setidaknya, kalau jantungan bisa segera diperiksa...
  • Gencarnya pariwara nan membahana. Seandainya Britney Spears promosi kubis, atau Michael Jordan promosi jeruk, tentu perkebunan sayur-mayur dan buah-buahan bisa naik pangkat dan dicintai masyarakat;
  • Kuatnya lobi-lobi politis ke gedung putih. Usaha memamerkan kontribusi mereka ke masyarakat agar pemerintah merasa butuh mereka sebagai rekanan bisnis, sehingga perundangan tidak menghambat, dan justru cenderung mendukung dan memihak;
  • Serta... tet-tet teeret, tet-tet teeret.. indoktrinasi McAnak. Sebut saja: McKid's Happy Meal, Arena bermain, Badut Ronald, Layanan Pesta Ultah, kartun-kartun di televisi dan segala merchandise yang berasal dari tokoh-tokoh Disney. Anak mana yang, sekali berbelanja di sana, tak tergiur dengan pemanjaan seperti itu?

Sementara keju mengandung kasamorfin, Coke-nya mengandung kafein, tak bakal tertahankan oleh tubuh dan otak anak-anak kecil. Belum lagi MSG yang terkandung dalam bumbu garam dan saus. Generasi masa kini yang tumbuh besar dalam lingkungan McD dkk akan ketagihan tanpa sadar untuk menyantap habis hidangan berukuran supersize tersebut dengan pertimbangan McEnak, McMurah McMeriah, sampai mengabaikan McEneg dan McMuntah. Selanjutnya, kebiasaan ini terbawa ke menu kantin sekolah bahkan rumah...

Suatu saat aku dimintai tolong teman untuk menanyakan daftar bahan dari menu McD Jepang ke petugasnya, yang melayani dengan ramah, segera menjawab bersemangat: "Orang Islam bisa makan deh," (Oi sok tahu banget sih, kami kan belum mengaku muslim) "Produk kami tidak mengandung babi! Minyaknya dari sapi..." Tapi mungkin itu belum cukup meyakinkan para pemeluk teguh, apalagi saat itu sedang berjangkit pula McD (Mad Cow Disease, yahaha nyambung gak yah). Maka teman-teman undur diri dengan nyengir lebar, "Maaf, bukan begitu, tapi kami vegetarian..." Alasan seperti ini mungkin sudah tidak berlaku lagi, karena kabarnya McD sudah mulai menyusun menu vegetarian (memenuhi tuntutan zaman?). Posted by Hello

Bagaimana dengan di Indonesia? Label halal, demi omset tinggi, tentu segera diurus dengan mulus, mencegah kecurigaan yang merugikan. McD Indonesia membanggakan diri sebagai restoran pertama yang memperoleh sertifikasi LPPOM MUI tahun 1994. Saat krisis 98 lalu, agar tak kena jarah, toko-toko McD ditulis pamflet besar-besar: Milik Muslim (yahaha, sayang aku tak sempat lihat). Sebuah sudut di dekat wastafel ditutup dengan tirai merah-kuning dengan petunjuk yang jelas: McMushala. Kita bisa tetap menegakkan ibadah walaupun di tengah hiruk pikuk dugem! Ada kenalan yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial, kegiatannya mendapat dukungan McDuit dari sang direktur, katanya sahabat di pengajian. Tapi, seberapa jauh kadar halal sesuai fiqh yang berlaku saat ini, akan menjamin kelurusan jalan hidup para penganutnya?
Sedemikian tak berdayakah strutur ekonomi ZIS terhadap konsumerisme konsumtif, sampai-sampai cara efektif mendulang uang harus melalui franchise fastfood berlabel "F for Fat", atau setidaknya dengan meneladani sistem bisnisnya, meluncurkan tiruan semacam "MQ Denok" atau "Mecca Danar" disertai pelayanan dan pengerukan keuntungan yang serupa...?

Maklumlah, siapa pula yang tidak tertarik mengenyam ransum astronot, kan keren, jadi serasa hidup di bulan. Atau bergaya Richie Rich.

Minggu, 19 September 2004

Kota Sinema

Sebagai usaha melakukan pendekatan "Eiga no Toshi, Kyoto" (Kyoto Kota Sinema) ke seluruh dunia, didirikanlah Kyoto Cinemecenat, suatu badan yang siap mendukung dana sampai SERATUS JUTA YEN untuk produksi film-film yang mengambil Kyoto sebagai tema, dengan syarat bebas propaganda bisnis, agama atau politik.

Dari seleksi yang dimulai sejak penyelenggaraan pertama
Kyoto Film Festival, 1997,
terpilihlah Ichigen-san yang berkisah tentang mahasiswa asal eropa yang melakukan kegiatan sukarela membacakan cerita untuk gadis tunanetra (Filmfes 2, 1999) dan I Love Friends tentang fotografer tunarungu (Filmfes 3, 2001).
Namun "zaisei-hijoujitai sengen ni tomonau kinkyuu taisaku" membuat Cinemecenat dicutikan sementara.
Padahal, sudah ada cita-cita PPI Kyoto untuk ikut mengirimkan karya, mengenai suka-duka mahasiswa Indonesia tunaaksara kek, tunawisma kek (untung belum ada naskah untuk tunasusila). Dengan cutinya Cinemecenat, melayanglah seratus juta yen itu (;_;) (kayaknya bakal dapat saja, yahahahaha).

Pekan festival film ke-4 kali ini bertema Chanbara, film seputar samurai-pedang-zorro. Tapi kali ini tidak seramai dulu... Itu pun telah diundur setahun (seharusnya 2003).
Yang menarik biasanya adalah diputarnya film-film lama yang tidak beredar umum, dan menambah pengetahuan mengenai seni sinematografi dan sejarah: keterlibatan film hitam-putih dalam perang dunia I, misalnya, sangat membuat tersepona.