Jumat, 31 Desember 2004

Kotoshi no Kanji

災Sebuah ritual akhir tahun yang diselenggarakan sejak 1995 di Kyomizudera, Kyoto, disponsori oleh Asosiasi Penilaian Kemampuan Kanji (lembaga yang menaungi JAST).
Tanggal 12 bulan 12, yang angkanya bisa juga dibaca 「いい字一字」, artinya "sebuah huruf yang baik", ditetapkan sebagai Hari Kanji, demi merangsang minat masyarakat mempelajari lebih dalam makna filosofis yang terkandung di setiap huruf.
Hari itu diumumkan hasil terbanyak dari angket yang diikuti puluhan ribu rakyat Jepang mengenai huruf tahun ini pilihan masing-masing, yang menurut mereka paling tepat menggambarkan peristiwa selama satu tahun, untuk kemudian dipajang sampai tahun baru.

Masih dua minggu sebelum bencana nasional Indonesia, pak Pendeta sudah melukiskan dengan kanji "Wazawai", bencana, betapa tahun 2004 telah dinilai orang Jepang sebagai tahun bencana di negara mereka juga: dengan adanya gempa Niigata; taifuu bertiup berturut-turut, terutama nomer 23 yang paling merusak; dan rekor suhu tertinggi yang dicapai di musim panas, melebihi suhu badan...

Namun memang dalam sejarahnya, ritual ini nyaris belum pernah menampilkan huruf yang benar-benar bermakna bagus sesuai niat awalnya.

Dimulai sejak 1995, huruf yang muncul pertama kali juga tak jauh berbeda: 「震」=goncangan. Memang saat itu Jepang digoncang berbagai macam peristiwa: gempa besar Hanshin-Awaji (yang saya ceritakan kemarin), teror Aum Shinri-Kyo, dan masalah perbankan.

Pada 1996, 「食」=makan, menggambarkan masalah-masalah keracunan bakteri O-157, berjangkitnya penyakit sapi gila, dan tindak korupsi yang memakan pajak dan tunjangan kesejahteraan.

Huruf tahun 1997 「倒」=tumbang, berusaha agak lebih netral karena selain menggambarkan kebangkrutan perusahaan-perusahaan besar akibat tekanan ekonomi yang dipengaruhi krisis di Indonesia, tapi juga mewakili keberhasilan tim sepak bola Jepang menumbangkan saingan-saingan besar untuk memastikan penampilan pertama mereka di Piala Dunia.

Tahun 1998 kembali muram dengan 「毒」=racun, insiden kare beracun di Wakayama, polusi lingkungan berupa dioxin dan hormon...

Sebagai penutup abad, pada 1999 terpilih 「末」=akhir: musibah-musibah tak terduga yang terjadi pun, memberi kesan "dunia pun segera berakhir"...

Mungkin untuk menghibur, huruf 2000 beralih ke 「金」=emas:

  • medali-medali yang dipersembahkan atlit Jepang dari Olimpiade musim panas dan Paralympic Sydney;
  • KTT antara Kim Dae Jung dengan Kim Jong Il;
  • wafatnya Kin-san, salah satu dari nenek kembar yang berusia di atas 100 tahun, idola seluruh rakyat Jepang;
  • terbitnya mata uang lembaran 2000 yen;
  • terbitnya receh 500 yen baru demi mencegah uang palsu dari Won Korea.

Tahun 2001 menjadi 「戦」=perang: dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan meletusnya teror 9/11 yang membuat seluruh rakyat Jepang waspada akan dilibatkan karena kedekatan pemerintah mereka dengan Amerika; dalam hal ekonomi, melawan tindak PHK semena-mena; politik, ketegangan di kabinet; yang membanggakan mungkin hanya kepahlawanan pemain baseball Ichiro menjadi bintang Major League.

Seakan menebus harapan tahun sebelumnya,「帰」=kembali, menjadi pilihan tahun 2002. Pulihnya perekonomian Jepang ke standar sebelum era bubble; curahan doa seluruh rakyat Jepang agar Tama-chan, si anak anjing laut kutub Utara yang tersasar ke sungai Tamagawa, agar bisa kembali ke laut lepas; pengembalian sandera dari Korea Utara; mengenang kembali sifat asli orang Jepang yang rendah hati dan tekun, dengan dimenangkannya Nobel oleh Tanaka Koichi.

Tahun 2003, kanji yang menang adalah 「虎」=harimau, merayakan kemenangan kelompok baseball Hanshin Tigers di central league yang telah tertunda belasan tahun, menanamkan di hati perasaan: kalau usaha, pasti bisa!; raungan para politisi mengenai pembaharuan jepang: dikirimkannya pasukan pertahanan Jepang ke "lubang harimau" Iraq.

Tahun ini, pilihan huruf 「災」 mendapatkan suara dengan jumlah yang lumayan jauh mengalahkan 「韓」 "kan", huruf untuk Korea Selatan, yang berbagai budaya popnya booming di Jepang, ditandai dengan bekennya 冬ソナ alias Winter Sonata, yang menghibur masyarakat terutama para nenek-nenek di tengah kekacauan sehari-hari.

Dapatkah tahun 2005 memunculkan kanji yang jauh lebih indah?
「美」「楽」 dan semacamnya lah...

Kamis, 30 Desember 2004

Bokin Bouzu

Sebenarnya mau cerita tentang tahun baruan, tapi suasananya belum pas. Jadi mengirim jepretan ini saja dulu.
Pak pendeta di gerbang "kuil Timur" Kyoto (Touji) yang dengan khusuk mengumpulkan bokin untuk gempa di Iran, Februari 2004.
Posted by Hello
Kini, tulisan di kotak kenclengannya, tentu "untuk korban tsunami di Asia Tenggara".
Mahasiswa Indonesia di Jepang pun kini sedang tak mau kalah berjuang untuk menggalang dana di sela-sela perayaan tahun baru.

Di masa krisis ekonomi, saya pernah membantu rekan Aceh di LFM berdagang peci dan dompet bersulam di keramaian matsuri-matsuri Jepang, keuntungan bersih sekali gelar dapat sekian ribu yen. Tapi itu bukan kegiatan amal, melainkan bisnis halal cinderamata yang laris manis karena memang komoditasnya bagus, tanpa perlu menjual derita. Dan berhenti ketika pasokan habis.
Kegiatan tahunan penggalangan dana selama ini, MI atau Lovin, melibatkan orang-orang luar Aceh juga, sehingga terasa tak adil kalau hasilnya difokuskan ke Aceh. Toh orang sengsara di Indonesia tersebar bukan hanya di Aceh saja, sementara orang "Aceh murtad" yang bermewah-mewah di ibukota juga berjumlah tak sedikit. Apa makna nasionalisme yang dielu-elukan, ketika secara perorangan malah tidak membela kepentingan kelompok di sekelilingnya?
Namun, adalah fakta bahwa Aceh sudah lama sengsara.
Maka sudah sejak beberapa tahun yang lalu sering tercetus rencana mengamen di panggung sebagai penggalangan dana secara keorganisasian, yang sejak awal diniatkan khusus untuk daerah tersebut. Namun karena salah paham, kebanggaan yang terluka, kekurangan waktu dan tenaga, serta kelumpuhan organisasi, rencana ini kembali padam tidak terwujud.
Namun apalah arti dana yang tersedia bila penyebarannya tidak terstruktur, sekedar dilepaskan ke yayasan-yayasan yang tidak dipahami cara kerjanya. Ini bukan curiga, tetapi demi berjaga-jaga. Kemudian saya membayangkan, seandainya masing-masing anggota bertanggung jawab secara pribadi dan secara psikologis juga dalam penyaluran dana, misalnya menjadi orang tua asuh yang melayani keluhan setiap anak yang dibeasiswai dana organisasi kami.
Tapi itu tidak mudah.
Dan bagaimanapun juga, uang yang terkumpul sebenarnya hanya "buangan sisa" dari anggaran sponsor: organisasi persahabatan Jepang-Indonesia, yang kegiatannya makan-makan, pesiar dan hura-hura. Rancu. Tentu akan lain, kalau semua adalah hasil jerih payah kita secara langsung, merasakan setiap bulir keringat ketika memperolehnya.
Entahlah.
Yang jelas, bukan hanya uang yang diperlukan, tetapi juga ilmu demi melakukan perbaikan jangka panjang yang lebih nyata. Rekan-rekan yang sedang turun ke jalan, jangan lupa tetap belajar...

Selasa, 28 Desember 2004

Tsunami



Istilah *tsunami* yang telah dipakai mendunia itu, khas Jepang sekali, yah...
Arti harfiahnya, hempasan ombak di dermaga.
Di Kyoto Univ, kampus Uji, ada pusat riset khusus yang menangani bencana alam,
Disaster Prevention Research Institute

Banyak rekan-rekan Indonesia yang belajar di tempat tersebut setiap tahun.
Bahkan aku tahu peristiwa ini dari sensei-sensei yang menghubungi murid-murid tercintanya...

***
Simulasi Tsunami dari ITB

***

Heran juga melihat laporan-laporan di berbagai situs, bahwa masyarakat se-Asia masih tak sadar akan bahaya hempasan ombak ini, malah dipakai main-main...

津波とは、
海底地震や海底火山の爆発などの際、
地殻変動によって生じる周期の長い海水の波動。
波が急に高くなり、港や陸地に災害をもたらす。

津波の語源・由来
津波の「津」には、船着き場、船の泊まるところ、港などの意味があり、港を襲う波で「津波」となった。
「万葉集」にも、
「海上(うなかみ)の その津をさして 君が漕ぎ行かば」

と、「津」の使用が見られる。

また、「津」が港を意味する由来は、出入り口の意味の
「と(門・戸)」
であるともいわれる。


Tsunami juga judul lagunya Southern All Stars yang jadi paling top sepanjang tahun 2000 dan setelahnya... (eits gak penting).
止めど流る、清か水よ。。。
想い出は、いつの日も、雨。。。


Semoga,
turunnya cobaan dari Tuhan, menyadarkan semua pihak akan fananya apa yang selama ini mereka perebutkan, agar segenap konflik di Aceh yang menyesakkan bisa tercuci bersih, dan seluruh rakyat baik di Indonesia maupun di seluruh dunia bisa bahu membahu membuka lembaran hidup baru yang aman damai sejahtera...
Berilah makna agar air mata itu tidak sia-sia.

Senin, 27 Desember 2004

Gempa dan Luminarie

Berkunjung ke Kobe, layaklah mampir ke
人と防災未来センター
alias Institusi Pencegahan Bencana dan Pembaharuan Manusia yang didirikan sebagai peringatan musibah tersebut. Sesuai semboyan
子どもたちに伝えなければならないことを。
(Hal yang harus disampaikan kepada anak-anak)
museum ini menampilkan dokumen-dokumen, video dan diorama peristiwa gempa tersebut, juga berbagai sarana pendidikan mengenai bencana alam secara umum dengan sasaran utama anak-anak, agar generasi baru bisa waspada terhadap kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
***


La Citta della Luce


Sebagai tanda semangat perbaikan kembali kota yang runtuh, dan usaha memulihkan pariwisata Kobe, sejak akhir 1995 setiap tahun kota ini menyelenggarakan Festival Cahaya, sekitar sebulan sebelum peringatan peristiwa gempa tersebut. Penciptanya adalah seniman Italia, Valerio Festi, bekerja sama dengan produser Jepang Imaoka Hirokazu. Untuk tahun ini, yang kesembilan kali, diadakan tanggal 13 sampai 26 Desember. Tentunya di hari terakhir, orang Indonesia yang mampir ke sana akan mengenang gempa Aceh...
Luminarie (official website)

Saat ini, kegiatan serupa (ikut-ikutan?) sejak tahun 1999, karya seniman yang sama juga, masih diselenggarakan di Tokyo sejak malam natal 24 Des kemarin sampai Tahun Baru 1 Jan 2005.
Millenario (official website)

Perayaan semacam ini juga pernah diselenggarakan di beberapa kota lain di Jepang, antara lain :
- Fukuoka, peringatan milenium 26 Des 2000 - 1 Jan 2001 bernama:
Illuminata (official website)

- International Tourism Expo di Wakayama, November 1995 (sayangnya saat itu internet belum ngetrend).

Seperti bisa dilihat di situs-situs tersebut, setiap tahun dan di setiap tempat desainnya berbeda sedikit, namun konsepnya kurang lebih sama. Adaptasi dari kebudayaan Italia zaman Baroque dalam menyambut natal dan memanjatkan doa secara meriah.

Turun dari stasiun, kita akan antre bersama ratusan ribu manusia lainnya dari bayi sampai kakek-nenek, ke Galeria, yaitu lorong sempit satu arah sepanjang ratusan meter yang dihias gerbang-gerbang dari 150000an bola lampu warna-warni tersusun sebagai ukiran ornamental, Paratura, yang berjajar rapi menciptakan efek tiga dimensi. Dengan musik latar semacam lagu-lagu orgel yang mencekam, lampu-lampu ini dinyalakan menjelang mentari terbenam sampai sekitar jam 10 malam. Keluar dari lorong, kita tiba di pelataran lebar yang dikelilingi oleh dinding lampu juga, Barriera (?) Dan beberapa langkah dari sana sudah ada keramaian kaki lima dan teater terbuka menampilkan musik/lawak, dihiasi aneka ragam ornamen lampu juga, Squadro atau apalah.

Bukti dari antusiasme warga Jepang terhadap acara ini adalah, antrean panjang tak terkira beu... Saat saya mampir pertama kali tahun 1999, di setiap persimpangan terjadi tabrakan kaki manusia... Setiap tahun pelayanannya membaik, antara lain penambahan jumlah "gembala" yaitu para polisi jalanan supaya gak ada yang berani menyela antrean, pemblokiran kelokan agar jalan masuk benar-benar hanya satu, sehingga jalur antre semakin teratur dan kemacetan semakin terhindar, tapi tetap saja berdesak-desakan memperlambat gerak. Sebenarnya festival ini tidak terlalu menarik bagi saya pribadi, apalagi mempertimbangkan lelah yang harus dibayar, tapi yeah, entah kenapa, tetap saja hampir setiap tahun mampir lagi ke situ...

Bagi yang belum pernah sih, mungkin perlu juga mencoba untuk pengalaman, Pesona Artifisial dan ekstase keramaian. Mumpung yang di Tokyo masih berlangsung. Apalagi tahun ini, adalah pertama kalinya bola lampu produksi dalam negeri Jepang digunakan, sebagai promosi "tahun persahabatan Jepang dengan Uni-Eropa 2005"...

Gempa dahsyat Hanshin Awaji Daishinsai, 17 Januari 1995 adalah obat pahit yang mendorong Jepang untuk segera mempersiapkan usaha-usaha pencegahan, penanggulangan dan peningkatan ketahanan di sana-sini.
# Museum Gempa
# Festival Cahaya


Disaster Reduction and Human Renovation Institution


***

Seandainya Banda Aceh akan meniru tindakan yang dilakukan Kobe, siapa tahu tahun depan, atau secepatnya begitu listrik kembali menyala di sana, kita akan memandang masjid Baiturrahman dalam gemilang kerlap-kerlip lampu warna-warni a la Baroque...
Hmmm entahlah.
(Teringat Sari yang baru berbulan madu, baik-baik saja kah...?)

Sabtu, 25 Desember 2004

FAQ Topeng Kaca

Setelah dinanti oleh para penggemar setianya dari sejak remaja sampai keburu jadi nenek-nenek beruban, Topeng Kaca 42 versi asli Jepang (yang entah akan diterjemahkan di Indonesia sebagai Bidadari Merah 9 atau sesuai dengan subjudul bahasa Jepangnya, Kedua Akoya 1), akhirnya terbit...

Dan inilah penjelasan yang paling pantas menjawab rasa penasaran yang sudah sering ditanyakan teman-teman sampai bosan mendengarnya: "Mengapa sampai sedemikian lama?" ...
Miuchi Suzue mengalami krisis ketuhanan.


Miuchi Suzue, seorang veteran Mangaka, sudah cukup dikenal dengan cerpen-cerpennya sebelum kemudian di tahun 1975 meluncurkan saga panjang Garasu no Kamen, kisah perjuangan para pemain drama menapak jalan menuju panggung pementasan dibalut ketegangan antara persaingan bisnis dan ketulusan cinta.

Kelanjutan cerita terkatung-katung pada penggambaran konflik asmara antara Bidadari Merah (semacam perwujudan Kwan-Im /Kannon) dan Isshin sang pemahat (teladan manusia sejati sesuai ajaran Buddha). Singkatnya, lakon ini mengangkat sinkretisme dua ajaran yang sangat berpengaruh dalam keagamaan Jepang, Buddha dan Shinto ke atas panggung.

Dan masing-masing berusaha berperan sebagai... [Tuhan]...
dalam segenap perwujudannya...
[alam semesta raya]... dan [berhala]...

Sang Pengarang sendiri, mungkin dalam penelitiannya baik di lapangan maupun terhadap bahan-bahan kepustakaan menemukan beberapa pemahaman terhadap agama di negaranya sendiri yang tak dapat diungkapkan melalui lakon-lakon di Topeng Kaca, dan berusaha menyalurkan konsep-konsep tersebut melalui media lain, sehingga terbitlah komik Sci-Fi, Amaterasu (Dewi Matahari), dengan sangaaaat hati-hati mengingat sensitivitas tema religius (buktinya dalam rentang waktu 20 tahun, hanya terbit 4 jilid dan sejilid bangaihen).

Selain itu, demi memuluskan jalan cerita dan logika yang ingin ia sampaikan, lanjutan Topeng Kaca sejak bab 10, Fuyu no Seiza (episode "Gugus Bintang Musim Dingin", kalau di Indonesia terbit dalam beberapa judul terakhir "Sejuta Pelangi") beliau memutuskan untuk menggambar ulang draft komiknya yang sudah pernah dipaksakan terbit mingguan di majalah shojo-manga "Hana-to-yume" era 90-an.
Dilakukanlah koreksi gambar dan dialog sedikit demi sedikit sampai pada satu titik berubah total juwauuuuuuuuuuh terutama di nomer 41 kemarin, ada adegan a la Tanabata segala.

Mungkin yang selanjutnya akan bertahan, hanya plot utama:
Maya sempat kehilangan raison d'etrenya karena perubahan sikap Murasaki no Bara no Hito alias Mawar Jingga (sebenarnya sih, Ungu); Ayumi akan berjuang melawan kebutaan; dan Hayami Masumi mengambil keputusan tak terduga demi kelangsungan pementasan...
Perbedaan-perbedaan tersebut bisa dibandingkan di
fansclub Garakame ini
(sayang kabarnya akan ditutup pertengahan tahun depan).

Walhasil, sang tankoubon hanya bisa mengejar waktu setahun sekali, dan tersendat lama karena beberapa kali dirombak oleh sang pengarang, akhirnya terbitlah nomer 40 tahun 1993 dan nomer 41 tahun 1999: rentang 5 tahun! Dalam selang waktu ini, para fans hanya terhibur oleh drama serial tv yomiuri 1997 yang dibintangi si imut Adachi Yumi, dengan didukung alunan OST karya B'z: Calling, dan beberapa jilid video animasi yang terbit menyambut milenium.

Dan entah karena media komik belum cukup memuaskan misi keagamaan beliau, apalagi prihatin dalam menghadapi berbagai bencana alam, Aum Shinri Kyo, dan segala bentuk krisis kepercayaan yang melanda Jepang, tersebutlah beliau pun mengelola organisasi

Kegiatannya: karyawisata ke situs religius bersejarah, terutama di daerah asal-usul pembentukan Jepang yang berkenaan dengan kultus Amaterasu: Yamato (seputar Isei-Nara Jepang Tenggara), dan tampil dalam berbagai ceramah dan diskusi, dengan tekad menggali dan menampilkan kembali mitos-mitos Jepang Kuno yang menjadi dasar kepercayaan Shinto, mengembalikannya ke dalam desah nafas sehari-hari para murid. Tak lupa beliau juga menciptakan sendiri lagu-lagu puja-puji yang dimainkan oleh seniman-seniman terpilih.

Kemunculan yang ditunggu-tunggu mungkin mengecewakan, karena berkutat di penampilan lakon tradisional Jepang, sehingga tidak dekat di hati kaum modern. Namun dalam jilid terbaru ini, Sakurakoji mengambil tindakan yang sangat bercirikan "remaja Jepang masa kini" dengan kamera telepon genggam (yang dikecam oleh para fanatik jetlag dengan jilid sebelumnya yang seakan berada di dunia gaib).

Setidaknya, perubahan dari rensai yang dulu pernah terbit di majalah, cukup signifikan meredam melodrama telenovela berlarut-larut...
Dan kembali kepada pemahaman ketuhanannya:
"Apakah kau percaya akan adanya dewa-dewi dan alam gaib?"
"Tidak..."
"Tentu saja, karena tak ada satu pun di antara kita, termasuk aku, yang pernah melihatnya. Tapi tugas kalian dalam pentas kali ini adalah, membuat penonton percaya! Tak perlu memaksakan diri untuk percaya, namun ciptakanlah oleh diri kalian sendiri. Itulah gunanya imajinasi. Dengan begitu, keberadaannya di atas panggung bisa punya realita."