Senin, 27 Desember 2004

Gempa dan Luminarie

Gempa dahsyat Hanshin Awaji Daishinsai, 17 Januari 1995 adalah obat pahit yang mendorong Jepang untuk segera mempersiapkan usaha-usaha pencegahan, penanggulangan dan peningkatan ketahanan di sana-sini.
# Museum Gempa
# Festival Cahaya


Disaster Reduction and Human Renovation Institution


Berkunjung ke Kobe, layaklah mampir ke
人と防災未来センター
alias Institusi Pencegahan Bencana dan Pembaharuan Manusia yang didirikan sebagai peringatan musibah tersebut. Sesuai semboyan
子どもたちに伝えなければならないことを。
(Hal yang harus disampaikan kepada anak-anak)
museum ini menampilkan dokumen-dokumen, video dan diorama peristiwa gempa tersebut, juga berbagai sarana pendidikan mengenai bencana alam secara umum dengan sasaran utama anak-anak, agar generasi baru bisa waspada terhadap kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
***

La Citta della Luce


Sebagai tanda semangat perbaikan kembali kota yang runtuh, dan usaha memulihkan pariwisata Kobe, sejak akhir 1995 setiap tahun kota ini menyelenggarakan Festival Cahaya, sekitar sebulan sebelum peringatan peristiwa gempa tersebut. Penciptanya adalah seniman Italia, Valerio Festi, bekerja sama dengan produser Jepang Imaoka Hirokazu. Untuk tahun ini, yang kesembilan kali, diadakan tanggal 13 sampai 26 Desember. Tentunya di hari terakhir, orang Indonesia yang mampir ke sana akan mengenang gempa Aceh...
Luminarie (official website)

Saat ini, kegiatan serupa (ikut-ikutan?) sejak tahun 1999, karya seniman yang sama juga, masih diselenggarakan di Tokyo sejak malam natal 24 Des kemarin sampai Tahun Baru 1 Jan 2005.
Millenario (official website)

Perayaan semacam ini juga pernah diselenggarakan di beberapa kota lain di Jepang, antara lain :
- Fukuoka, peringatan milenium 26 Des 2000 - 1 Jan 2001 bernama:
Illuminata (official website)

- International Tourism Expo di Wakayama, November 1995 (sayangnya saat itu internet belum ngetrend).

Seperti bisa dilihat di situs-situs tersebut, setiap tahun dan di setiap tempat desainnya berbeda sedikit, namun konsepnya kurang lebih sama. Adaptasi dari kebudayaan Italia zaman Baroque dalam menyambut natal dan memanjatkan doa secara meriah.

Turun dari stasiun, kita akan antri bersama ratusan ribu manusia lainnya dari bayi sampai kakek-nenek, ke Galeria, yaitu lorong sempit satu arah sepanjang ratusan meter yang dihias gerbang-gerbang dari 150000an bola lampu warna-warni tersusun sebagai ukiran ornamental, Paratura, yang berjajar rapi menciptakan efek tiga dimensi. Dengan musik latar semacam lagu-lagu orgel yang mencekam, lampu-lampu ini dinyalakan menjelang mentari terbenam sampai sekitar jam 10 malam. Keluar dari lorong, kita tiba di pelataran lebar yang dikelilingi oleh dinding lampu juga, Barriera (?). Dan beberapa langkah dari sana sudah ada keramaian kaki lima dan teater terbuka menampilkan musik/lawak, dihiasi aneka ragam ornamen lampu juga, Squadro atau apalah.

Bukti dari antusiasme warga Jepang terhadap acara ini adalah, antrian panjang tak terkira beu... Saat saya mampir pertama kali tahun 1999, di setiap persimpangan terjadi tabrakan kaki manusia... Setiap tahun pelayanannya membaik, antara lain penambahan jumlah "gembala" yaitu para polisi jalanan supaya gak ada yang berani menyela antrian, pemblokiran kelokan agar jalan masuk benar-benar hanya satu, sehingga jalur antri semakin teratur dan kemacetan semakin terhindar, tapi tetap saja berdesak-desakan memperlambat gerak. Sebenarnya festival ini tidak terlalu menarik bagi saya pribadi, apalagi mempertimbangkan lelah yang harus dibayar, tapi yeah, entah kenapa, tetap saja hampir setiap tahun mampir lagi ke situ...

Bagi yang belum pernah sih, mungkin perlu juga mencoba untuk pengalaman, Pesona Artifisial dan ekstasi keramaian. Mumpung yang di Tokyo masih berlangsung. Apalagi tahun ini, adalah pertama kalinya bola lampu produksi dalam negeri Jepang digunakan, sebagai promosi "tahun persahabatan Jepang dengan Uni-Eropa 2005"...

***

Seandainya Banda Aceh akan meniru tindakan yang dilakukan Kobe, siapa tahu tahun depan, atau secepatnya begitu listrik kembali menyala di sana, kita akan memandang masjid Baiturrahman dalam gemilang kerlap-kerlip lampu warna-warni a la Baroque...
Hmmm entahlah.
(Teringat Sari yang baru berbulan madu, baik-baik saja kah...?)

Tidak ada komentar: