Senin, 10 Januari 2005

Tintin, Vol 777 pour Moulinsart

tintin
Tintin alias Kuifje alias タンタン, si wartawan free-lance, tokoh komik awal abad 20 yang rasanya masih tetap up-to-date sampai sekarang, hari ini telah berusia 76 tahun, melampaui usia kehidupan sang pengarang, Georges Remi alias Hergé.
Terbit pertama kali tanggal 10 Januari 1929. Diluncurkan dengan promosi bersemboyan *bacaan untuk usia 7 sampai 77 tahun*...
Berarti tinggal setahun tersisa bagi sang tokoh utama untuk berhak membaca komiknya sendiri! Tohoho (^.^;a
Padahal saya sudah membaca/dibacakan Tintin berulang-ulang sejak balita, jauh sebelum 7 tahun... Lalu bagaimana dengan lansia lewat 77? Nenek saya dari pihak ibu, setelah 83 tahun ternyata belum pikun tuh... Tapi memang beliau kabarnya lebih suka sinetron TintinPan Illahi daripada komik Tintin, sigh...

Tahun lalu, demi memperingati pencapaian tiga perempat abad dalam ketenaran, Tintin dirayakan cukup meriah di seputar Eropa dengan berbagai peristiwa dan pameran.
10euroSampai-sampai Belgia menerbitkan limapuluhribu keping mata uang 10 Euro bergambar kepala si jambul (eits bukan sembarang recehan, kalau dikurskan jadi sekitar 120ribu rupiah lah, tak kuat modal aku untuk mengoleksinya).
Bahkan Coca-Cola pun kabarnya ikut habis-habisan promosi Tintin, agar pembaca bersedia membedakan produknya dari minuman beracun (?) Sani-Cola yang disemburkan Capitaine Haddock ketika singgah di Halim Perdanakusumah Jakarta...

Komik Tintin, lahir dalam pola pikir dan sudut pandang Eropa, tumbuh dan berkembang seiring perluasan wawasan sang pengarang.
Dimulai dari slapstick antipati terhadap komunisme blok timur ketika menyambangi Soviet dalam tugas pertamanya, dan perburuan hewan langka yang sadis dan penuh muatan pelecehan rasial di Congo, yang membuat dua buku ini tidak terbit di beberapa negara termasuk Indonesia (atau apakah sudah terbit juga ya?), sampai kepada sindiran akan buruknya akibat minuman keras, kesadaran alam semesta dalam menghadapi meteorit dan menjejak di bulan jauh lebih dulu daripada Neil Armstrong, serta kebijaksanaan a la Tibet yang didapat melalui pergaulan dengan sahabat karibnya, Chang.
Picaros seakan menggambarkan utopia yang ia angankan untuk diterapkan di dunia: Perjuangan membela keadilan, tanpa kekerasan.

tintinindonesiaNamun sayang, bagi Tintin, Indonesia, di Nusa Tenggara, ternyata hanya sekedar gerbang menuju dunia teknologi makhluk asing, yang kelangkaannya setingkat dengan komodo dan monyet bekantan, pada transit ke Sydney yang gagal.
Islam hanyalah agama polesan yang menutup-nutupi kebusukan mafia candu kepiting bercapit emas di Afrika Utara, dan agama resmi dari raja minyak yang menelantarkan syariah karena asyik bermewah-mewah bergelimang emas hitam, memanjakan putranya, lalu kepayahan menghadapi kudeta.

tokotintin4Sedangkan Jepang, baik sebagai negara maupun perorangan, menjadi musuh besar di le Lotus Bleu. Digambarkan Mitsuhiratou (rasanya sih tak ada nama Jepang betulan yang seperti ini) sebagai antek perdagangan opium di Shanghai. Kemudian bagaimana pemerintah Jepang saat itu memilih mundur dari Liga Bangsa-bangsa demi mempertahankan pendudukan di Cina. Dengan stereotip tersebut dalam otak sang pengarang, kita jadi tak pernah menemukan satu pun petualangan Tintin di Jepang. Tapi di pusat pertokoan Sanjo, Kyoto, ada satu tempat parkir saya yang selalu menyenangkan: toko buku dan cinderamata Tintin, khusus... Orang Jepang memang tabah.

Selain itu, kekurangan (atau mungkin malah nilai lebih?) dari Tintin, adalah bahwa komik ini seakan tidak menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dalam hubungan darah. Tokoh-tokoh utamanya digambarkan sebagai bujang lapuk. Mungkin memang karena mereka sebatang kara di tengah kekacauan perang. Tidak terbahas juga kisah cinta, karena mereka terlalu sibuk terserap petualangan ke tempat-tempat jauh (kecuali dalam sebuah episode di Moulinsart yang menampilkan suasana gosip selebritis Castafiore).
Untuk mengisi ketimpangan ini, Herge menerbitkan karya lain: kisah kekonyolan anak-anak Quick et Flupke, kemudian Jo, Zette et Jocko yang menampilkan kakak beradik dari keluarga kompak, ayah ibu yang penuh perhatian, namun fokus cerita petualangannya tetap berlangsung tanpa pengawasan orang tua mereka.

Buku terakhir menjelang wafatnya Herge, Tintin et l'Alph-Art, yang semula (1986) hanya memuat corat-coret sketsa dan skenario sang pengarang, sedikit dilengkapi lagi tahun kemarin (2004) dalam perayaan 75 tahun itu. Buku ini mengirim Tintin bertualang dalam dunia seni modern, avant-garde dan sekte occult. Haddock yang tertekan oleh mimpi buruk fantastis mengenai Iago si burung nuri, dan Tintin menghadapi todongan pistol. Berusaha mengeksplorasi surealisme, mungkin? Hati terbelah dua ketika membaca, antara penasaran, namun juga kesal karena tahu cerita ini takkan pernah selesai untuk selamanya...

Lalu ada juga kabar burung mengenai Le ThermoZéro, sebuah skenario Tintin dari Greg (pengarang Achille Talon yang kemudian memproduksi animasi Tintin et Le Lac aux Requins) yang tidak jadi dikerjakan oleh Hergé, telah digambar ulang oleh Bob de Moor sebagai cerita terbaru petualangan Jo, Zette et Jocko... Kapan terbitnya, yaaa...

Kepada semua pengarang komik dan manga, berjuanglah dengan tekun dan terencana, jangan sampai karyanya ditinggal pergi tanpa ditamatkan... Kasihan pembaca... Hiks hiks hiks..


Agar menjadi periksa:

3 komentar:

cselvalva mengatakan...

Bon Anniversaire Tintin!
Ratusan kalipun membaca bukunya gakkan pernah bosan.

Ad mengatakan...

Tokonya di Sanjo sebelah mana mba'?

Hyoutan mengatakan...

Di jalan Sanjo-nya, dari persimpangan Kawaramachi teruuus ke barat ke arah jalan besar Karasuma, melintas Shinkyogoku dan Teramachi, beberapa langkah setelah keluar dari daerah kanopi, ada gedung tua Sakura Bulding di jajaran kanan jauh sebelum ketemu museum.