Katanya malam ini Earth Hour, aksi memadamkan lampu selama satu jam. Tapi kebetulan saya mengintil adik dan sepupu-sepupu menghadiri acara Pecha-Kucha, yang dimulai sekitar pukul 8 malam sampai selesai. Sebuah kegiatan produktif yang tidak bisa diabaikan begitu saja, dan keremangan Labo no Mori jelas butuh penerangan listrik yang nyata.
Kenapa sih acara seperti ini dibedakan lagi dengan Hari Raya Nyepi, kenapa gak sekalian satu hari penuh... Kenapa bukan untuk seterusnya saja, mempertimbangkan burung-burung dan serangga yang dikacaukan petunjuk arahnya oleh sinar artifisial... diselaraskan dengan fenomena antariksa seperti lewatnya komet, gerhana bulan, bintang jatuh, atau Tanabata... Kenapa rasanya ini hanya sekadar kegiatan hedon basa-basi yang akan segera terlupakan di detik berikutnya?
Sabtu, 28 Maret 2009
Sabtu, 14 Maret 2009
Quis custodiet ipsos custodes?
W h o . W a t c h e s . t h e . W a t c h m e n ?
http://www.dccomics.com/sites/watchmen/
Gambarnya bagus, ceritanya sangat daleummm, tapi... mengganggu. Bagi saya yang saat membacanya masih remaja, bikin stress berat. Mungkin kalau saya baru menemukannya setelah lewat tengah baya, akan sangat mengena.
Sebuah kisah terperinci mengenai berbagai segi post-power syndrome dua generasi pahlawan bertopeng, yang berusaha sekuat tenaga menegakkankebenaran keadilan dan kemanusiaan di dunia ini.
Kebenaran Keadilan dan kemanusiaan seperti apa?
Bagi saya sampai saat ini, moral objektif seperti yang dianut Rory. Tapi mungkin kalau sedang bete, selera humor Comedian bisa cocok. Sedangkan kalau sempat menggunakan kecerdasan untuk meraup banyak duit, logika Ozy akan lebih diterima. Si Doc ga usah diperhitungkan, anggap saja dia sudah bukan manusia lagi (yah setidaknya dia menambah jajaran makhluk-makhluk biru selain Smurf dan Doraemon). Yang dua lagi sih, peduli amat.
Agak sulit membahasnya, karena komik ini merupakan kritik cerdas terhadap genre superhero, sementara saya sendiri belum sanggup memperbandingkannya dengan komik-komik superhero lainnya. Ya, beberapa tokoh bisa saya kenali, mirip siapa, menyindir siapa. Tapi belum yang lainnya. Karena saya mengalami masa balita dalam timbunan bande dessinée, dan masa kanak-kanak kebanjiran manga, tidak pernah benar-benar terjerumus ke dalam komik khas Amerika.
Yang membuat saya mulai membacanya bukanlah karena komik ini masuk ke dalam jajaran seratus novel terbaik versi majalah Time, atau karena menang penghargaan Hugo Award, atau memberi polesan nama baru terhadap komik sebagai "graphic novel", tapi semata gara-gara di diskusi alt internet (masa awal-awal globalisasi tuh) orang-orang Amerika yang juga berpengalaman membaca manga & bande dessinée, ternyata masih meletakkan Watchmen ke dalam urutan teratas. Wah, komik mana pula yang dinilai melampaui Akira, Tintin dan Kaze no Tani no Nausicaa? Penasaran tentunya.
Yang saya paling suka, adalah narasi bertingkat melalui komik bajak laut (tentu saja, secara BAJAK LAUTTT gitu loh!!!) yang dibaca seorang anak nongkrong setiap hari di kios majalah. Di tempat lain terjadi berbagai aksi, di sini dia diam bergeming tapi dengan kepala penuh petualangan. Mungkin itulah yang dialami pembaca komik ini, ketika di belahan dunia lain sedang terjadi segala macam peristiwa.
Akhir ceritanya agak aneh, tapi memang fenomenal.
Sayang agar tidak membingungkan, sang gurita diganti dalam film.
Bahkan HITLER pun kecewa terhadap perubahan ini.
http://watchmenmovie.warnerbros.com/
Kalau bukan karena the beginning is the end is the beginning yang jadi OST teasernya serasi banget dengan suasana yang dibangun (mengesampingkan kenyataan bahwa kembaran dari lagu ini pernah muncul di film gagal), atau viral marketingnya yang lumayan menarik di The New Frontiersman dengan slogan "Better Blue than Red", atau lomba iklan Veidt di youtube dst, saya gak akan memaksakan diri untuk menonton sesegera mungkin, apalagi saya sempat risih menonton trailernya bahwa Rory membisikkan satu kata yang seharusnya tak terucap, "Watchmen... one of us died tonight."
Sang sutradara tampak berusaha menampilkan bingkai demi bingkai sepersis komiknya, tapi di sana-sini juga menambahkan beberapa dialog pengantar demi mempermulus alur cerita yang diringkas, dan memasukkan secuil info yang seharusnya diperoleh melalui sisipan dalam berbagai bentuk metafiksi yang tampil di sela-sela komiknya.
Sayang sekali dalam hal ini komik bajak lautnya dilepas sebagai satu sesi animasi khusus, dan tidak dapat dijalin ke dalam cerita aslinya. Juga rentetan kilas balik Silk Spectre yang tercetus oleh berbagai adegan yang melibatkan cipratan air, yang saya sangka sudah sangat sinematis, sama sekali tidak terwujud dalam film ini.
Veidt sejak awal tampil sebagai orang yang tampak menyebalkan dari sudut senyumannya, sehingga segala logika niat baiknya yang salah kaprah jadi terabaikan dan tidak dapat dipahami dengan besar hati.
Selain itu luka di wajah Eddy Blake hanya menjadi carut biasa, tidak sampai menyobek mulut seperti Togog, tentu karena terlanjur keduluan oleh Joker versi The Dark Knight. Percikan darah di lencana smileynya juga tidak berbentuk sebagaimana mestinya.
Yang patut diacungi jempol, topeng Rorschach yang berubah setiap saat dan Walter Kovacs yang diperankan begitu memukau. Anehnya ketika dia mati, Nite Owl menyaksikan dengan jelas. Seharusnya sahabat baik hanya hidup tenang kalau tidak tahu apa yang terjadi.
Memang menjadi tantangan, bagaimana mungkin film ini mampu menampilkan segala kerumitan yang disampaikannya secara tetap kompak dalam format yang berbeda dari komik?
Masalahnya ternyata banyak orang yang belum kenal siapa Watchmen, sehingga menyangka mereka ini pahlawan di lingkungan tetangga yang ramah pada anak kecil seperti kartun-kartun Sabtu pagi, sehingga berbondong-bondong membawa bayi balita ikut menonton.
*** Komik alias Novel Grafiknya ***
http://www.dccomics.com/sites/watchmen/
Gambarnya bagus, ceritanya sangat daleummm, tapi... mengganggu. Bagi saya yang saat membacanya masih remaja, bikin stress berat. Mungkin kalau saya baru menemukannya setelah lewat tengah baya, akan sangat mengena.
Sebuah kisah terperinci mengenai berbagai segi post-power syndrome dua generasi pahlawan bertopeng, yang berusaha sekuat tenaga menegakkan
Bagi saya sampai saat ini, moral objektif seperti yang dianut Rory. Tapi mungkin kalau sedang bete, selera humor Comedian bisa cocok. Sedangkan kalau sempat menggunakan kecerdasan untuk meraup banyak duit, logika Ozy akan lebih diterima. Si Doc ga usah diperhitungkan, anggap saja dia sudah bukan manusia lagi (yah setidaknya dia menambah jajaran makhluk-makhluk biru selain Smurf dan Doraemon). Yang dua lagi sih, peduli amat. Agak sulit membahasnya, karena komik ini merupakan kritik cerdas terhadap genre superhero, sementara saya sendiri belum sanggup memperbandingkannya dengan komik-komik superhero lainnya. Ya, beberapa tokoh bisa saya kenali, mirip siapa, menyindir siapa. Tapi belum yang lainnya. Karena saya mengalami masa balita dalam timbunan bande dessinée, dan masa kanak-kanak kebanjiran manga, tidak pernah benar-benar terjerumus ke dalam komik khas Amerika.
Yang membuat saya mulai membacanya bukanlah karena komik ini masuk ke dalam jajaran seratus novel terbaik versi majalah Time, atau karena menang penghargaan Hugo Award, atau memberi polesan nama baru terhadap komik sebagai "graphic novel", tapi semata gara-gara di diskusi alt internet (masa awal-awal globalisasi tuh) orang-orang Amerika yang juga berpengalaman membaca manga & bande dessinée, ternyata masih meletakkan Watchmen ke dalam urutan teratas. Wah, komik mana pula yang dinilai melampaui Akira, Tintin dan Kaze no Tani no Nausicaa? Penasaran tentunya.
Yang saya paling suka, adalah narasi bertingkat melalui komik bajak laut (tentu saja, secara BAJAK LAUTTT gitu loh!!!) yang dibaca seorang anak nongkrong setiap hari di kios majalah. Di tempat lain terjadi berbagai aksi, di sini dia diam bergeming tapi dengan kepala penuh petualangan. Mungkin itulah yang dialami pembaca komik ini, ketika di belahan dunia lain sedang terjadi segala macam peristiwa.
Akhir ceritanya agak aneh, tapi memang fenomenal.
Sayang agar tidak membingungkan, sang gurita diganti dalam film.
Bahkan HITLER pun kecewa terhadap perubahan ini.
*** Film Layar Lebarnya ***
http://watchmenmovie.warnerbros.com/
Kalau bukan karena the beginning is the end is the beginning yang jadi OST teasernya serasi banget dengan suasana yang dibangun (mengesampingkan kenyataan bahwa kembaran dari lagu ini pernah muncul di film gagal), atau viral marketingnya yang lumayan menarik di The New Frontiersman dengan slogan "Better Blue than Red", atau lomba iklan Veidt di youtube dst, saya gak akan memaksakan diri untuk menonton sesegera mungkin, apalagi saya sempat risih menonton trailernya bahwa Rory membisikkan satu kata yang seharusnya tak terucap, "Watchmen... one of us died tonight."
Sang sutradara tampak berusaha menampilkan bingkai demi bingkai sepersis komiknya, tapi di sana-sini juga menambahkan beberapa dialog pengantar demi mempermulus alur cerita yang diringkas, dan memasukkan secuil info yang seharusnya diperoleh melalui sisipan dalam berbagai bentuk metafiksi yang tampil di sela-sela komiknya.
Sayang sekali dalam hal ini komik bajak lautnya dilepas sebagai satu sesi animasi khusus, dan tidak dapat dijalin ke dalam cerita aslinya. Juga rentetan kilas balik Silk Spectre yang tercetus oleh berbagai adegan yang melibatkan cipratan air, yang saya sangka sudah sangat sinematis, sama sekali tidak terwujud dalam film ini.
Veidt sejak awal tampil sebagai orang yang tampak menyebalkan dari sudut senyumannya, sehingga segala logika niat baiknya yang salah kaprah jadi terabaikan dan tidak dapat dipahami dengan besar hati.
Selain itu luka di wajah Eddy Blake hanya menjadi carut biasa, tidak sampai menyobek mulut seperti Togog, tentu karena terlanjur keduluan oleh Joker versi The Dark Knight. Percikan darah di lencana smileynya juga tidak berbentuk sebagaimana mestinya.
Yang patut diacungi jempol, topeng Rorschach yang berubah setiap saat dan Walter Kovacs yang diperankan begitu memukau. Anehnya ketika dia mati, Nite Owl menyaksikan dengan jelas. Seharusnya sahabat baik hanya hidup tenang kalau tidak tahu apa yang terjadi.
Memang menjadi tantangan, bagaimana mungkin film ini mampu menampilkan segala kerumitan yang disampaikannya secara tetap kompak dalam format yang berbeda dari komik?
Masalahnya ternyata banyak orang yang belum kenal siapa Watchmen, sehingga menyangka mereka ini pahlawan di lingkungan tetangga yang ramah pada anak kecil seperti kartun-kartun Sabtu pagi, sehingga berbondong-bondong membawa bayi balita ikut menonton.
Minggu, 08 Maret 2009
Perempuan, Pelawak, dan Politisi
Beberapa waktu lalu, kawan-kawan LFM membahas sebuah fenomena menarik, mengenai pelawak perempuan.
Kesimpulannya, perempuan yang lucu, pasti terkesan maskulin, atau ternyata lesbian. Lucu dan cerdas sebagai sifat perempuan dianggap ancaman yang mengganggu. Perempuan yang lucu akan kehilangan daya tarik di mata lelaki. Sedemikian rupa, bahwa lucu adalah sifat lelaki; lawak adalah dunia lelaki.
Karena yang dibahas berkaitan dengan fenomena perfilman dan televisi, saya belum tahu apakah ini nilai-nilai ini hanya berlaku di dunia Barat atau juga di dunia Timur. Apakah menjadi lucu juga merupakan tabu bagi perempuan Indonesia? (Kalau di Jepang sih sudah jelas, pelawak lelaki hampir pasti berhasil memperistri selebriti perempuan tercantik yang pernah ada...)
Tapi bukankah menurut Teori Pagliacci, justru pelawak itu yang hidupnya paling tertekan? Terbukti, pelawak rata-rata cepat mati!!! Apa salahnya kaum perempuan cukup menjadi pihak yang menikmati tertawa dengan bahagia tanpa harus melucu sampai menderita.
Begitu pula dengan politik. Katanya oh katanya oh katanya,
Dengan demikian, perempuan yang berhasil masuk dengan sukses ke dunia politik hanyalah:
Baik dalam politik maupun karier, calon perempuan menghadapi tantangan dari dua arah:
Oleh karena itulah, menurut sebagian kalangan, aksi afirmasi dalam hal gender masih dibutuhkan di Indonesia. Ini perlu dimulai dari pemilihan anggota legislatif.
Konon, rekam jejak anggota legislatif perempuan cenderung lebih bersih dari lelaki. Entahlah karena:
(Sudah pada baca belum? Bagus sekali lho, bintang 5 lah.)
Dalam serial komik asyik yang saya tamatkan akhir tahun lalu ini, digambarkan sebuah dunia di mana nyaris semua makhluk berkromosom Y musnah karena satu atau lain hal (ada cukup banyak penjelasan mengenai penyebabnya,yang bisa dipilih sesuai selera, baik secara ilmiah, politis, ataupun religius).
Inti ceritanya adalah bahwa dari sudut pandang seorang cowok pecundang yang tersisa bersama seekor monyet jantan piaraannya, kita melihat bagaimana perempuan-perempuan berjuang untuk bertahan hidup tanpa belahan jiwanya.
Kalian pikir, dengan musnahnya kaum lelaki, gen si pengacau sudah lenyap dari atas bumi? Tapi yang terjadi justru kekacauan di sana-sini. Apakah ini karena para perempuan telanjur terdoktrin sistem patriarki, sehingga mereka hanya bisa melanjutkan sistem tersebut dalam menggerakkan dunia? Ataukah pada dasarnya manusia ditakdirkan untuk mengacau, tanpa pandang jenis kelamin?
(Perlu dicatat bahwa skenarionya ditulis oleh lelaki, walaupun mendapat campur tangan perempuan ilustratornya juga...)
***
Seorang ibu-ibu caleg yang juga aktivis tiba-tiba bertanya, "Kenapa kamu tidak melakukan kajian mengenai perempuan? Sebagai elemen penting kedaulatan rakyat, perempuan kan perlu disorot secara khusus."
"Ha? Saya?" saya gelagapan dan mencari-cari alasan sok pintar. "Eugh, dalam hemat saya, keterpinggiran perempuan adalah masalah yang integral, sehingga tidak perlu dibahas khusus, bisa saja dicarikan jalan keluarnya dengan mengkaji persoalan sosial ekonomi politik secara menyeluruh."
"Kamu itu, belum pernah turun ke lapangan kali, ya?" tuduhnya. "Coba kamu lihat betapa sengsaranya PSK. Coba bayangkan nasibnya perempuan yang menikah dengan warganegara asing, lalu bercerai, mereka bisa kehilangan kewarganegaraannya kalau tidak kita advokasi. Belum lagi soal terpisah dari anak kandung..."
"Wah, tapi seperti saya bilang, itu kan masalah-masalah 'kecil' yang terjerumus lingkaran setan dengan persoalan kesejahteraan umum dan tingkat peradaban. Saya pribadi sih tidak pernah merasa tertindas... tohohoh..." ketawa pahit.
"Ini bukan main-main! Sebagai orang yang dapat privilege pendidikan tinggi, kamu wajib ikut terjun langsung. Lain kali coba menghadap saya secara khusus, kamu perlu saya TATAR untuk belajar memperjuangkan harkat dan martabat kaummu sendiri!"
... Duh. Kenapa jadi saya yang kena.
Padahal saya pribadi lebih merasa tertindas ketika menghadapi ibu-ibu yang cerewet, histeris, berlimpah estrogen dan progesteron, sedikit-sedikit pms, dan kebanyakan lemot pula. Huaaa, bisa habislah saya menjambak-jambak ujung kerudung. Bagaimana saya bisa diharapkan untuk peduli dengan kaum saya sendiri?
Sungguh, saya tidak (belum) pernah merasa tertindas oleh kaum lelaki. Entahlah itu karena:
Seandainya turun berpolitik, jelas yang akan saya perjuangkan, tidak khusus soal perempuan.
Cukup sebut nama saya tiga kali!
Lalu koarkan janji sakti, "Pastikan Perubahan!!!"
Yang pada dasarnya bisa saja menuju perbaikan, tapi bisa juga pemburukan. Yang penting, berubah itu kan tidak membosankan.
***
Eh, sebentar. Kenapa jadi seurieus? Padahal maksudnya melucu.
Hm, tak apalah. Tandanya saya masih layak sebagai perempuan, kan?
Kesimpulannya, perempuan yang lucu, pasti terkesan maskulin, atau ternyata lesbian. Lucu dan cerdas sebagai sifat perempuan dianggap ancaman yang mengganggu. Perempuan yang lucu akan kehilangan daya tarik di mata lelaki. Sedemikian rupa, bahwa lucu adalah sifat lelaki; lawak adalah dunia lelaki.
Karena yang dibahas berkaitan dengan fenomena perfilman dan televisi, saya belum tahu apakah ini nilai-nilai ini hanya berlaku di dunia Barat atau juga di dunia Timur. Apakah menjadi lucu juga merupakan tabu bagi perempuan Indonesia? (Kalau di Jepang sih sudah jelas, pelawak lelaki hampir pasti berhasil memperistri selebriti perempuan tercantik yang pernah ada...)
Tapi bukankah menurut Teori Pagliacci, justru pelawak itu yang hidupnya paling tertekan? Terbukti, pelawak rata-rata cepat mati!!! Apa salahnya kaum perempuan cukup menjadi pihak yang menikmati tertawa dengan bahagia tanpa harus melucu sampai menderita.
Begitu pula dengan politik. Katanya oh katanya oh katanya,
- Politik itu seharusnya adalah perihal saling mengalah, tarik ulur kebijakan agar memuaskan semuanya, namun karena terlalu didominasi kaum lelaki, kerangka tersebut bergeser menjadi perihal menang dengan segala cara. Sementara itu,
- Lelaki yang sebenarnya berpihak kepada hak-hak perempuan dan anak-anak mungkin segan bersuara karena takut disangka banci, kalaupun nekad lantang membela akan dianggap remeh dan diabaikan lelaki lainnya. Sehingga,
- Banyak gerakan solidaritas beranggapan bahwa perempuan perlu turun tangan memperjuangkan hak kaumnya sendiri, sekaligus memberi 'sentuhan feminin' untuk menetralkan politik kembali kepada khittahnya. Sebaliknya,
- Perempuan keburu jengah masuk ke dunia politik yang kepalang penuh kekerasan persaingan kekuasaan, merasa itu bukan dunia mereka.
Dengan demikian, perempuan yang berhasil masuk dengan sukses ke dunia politik hanyalah:
- Perempuan yang sanggup memenuhi tuntutan untuk bersikap maskulin, setara dengan rekan dan lawan mereka yang lelaki;
- Perempuan yang mengumbar sisi feminin untuk dilecehkan lelaki sekitar, yang penting tenar, tak ada kaitan dengan kinerja;
- Perempuan yang berada di bawah bayang-bayang sosok maskulin lain; ayah, abang, atau suami...
Baik dalam politik maupun karier, calon perempuan menghadapi tantangan dari dua arah:
- Lelaki (dan sebagian besar kaum perempuan) cenderung tidak memilih perempuan walaupun sesungguhnya mereka punya kemampuan yang memadai, semata karena alasan emosional; sayang sekali mereka adalah perempuan...
- Sesama perempuan (dan lelaki yang sadar kesetaraan) cenderung tidak memilih perempuan karena alasan rasional; kebetulan kemampuan mereka masih sedikit di bawah lelaki akibat sempitnya kesempatan mengasah diri.
Oleh karena itulah, menurut sebagian kalangan, aksi afirmasi dalam hal gender masih dibutuhkan di Indonesia. Ini perlu dimulai dari pemilihan anggota legislatif.
Konon, rekam jejak anggota legislatif perempuan cenderung lebih bersih dari lelaki. Entahlah karena:
- Perempuan cenderung lebih jujur dan alim daripada lelaki; atau
- Perempuan yang hanya segelintir ini berhati-hati, takut ketahuan macam-macam karena disorot khusus; atau
- Perempuan bekerja cukup lihai dan cerdik, sehingga jejak kebusukan segera tertutupi dengan rapi jali. Nah lho!
Y: The Last Man
(Sudah pada baca belum? Bagus sekali lho, bintang 5 lah.)
Dalam serial komik asyik yang saya tamatkan akhir tahun lalu ini, digambarkan sebuah dunia di mana nyaris semua makhluk berkromosom Y musnah karena satu atau lain hal (ada cukup banyak penjelasan mengenai penyebabnya,yang bisa dipilih sesuai selera, baik secara ilmiah, politis, ataupun religius).
Inti ceritanya adalah bahwa dari sudut pandang seorang cowok pecundang yang tersisa bersama seekor monyet jantan piaraannya, kita melihat bagaimana perempuan-perempuan berjuang untuk bertahan hidup tanpa belahan jiwanya.
- Politisi yang juga merangkap ibu rumah tangga (euh, tegaan).
- Ilmuwati yang menyaingi kejeniusan ayahnya (brilian!).
- Tentara yang tak sudi mati di tangan sesama cewek (perkasa).
- Supermodel yang ganti profesi jadi tukang gali kuburan (cihuy).
- ... dan seterusnya.
Kalian pikir, dengan musnahnya kaum lelaki, gen si pengacau sudah lenyap dari atas bumi? Tapi yang terjadi justru kekacauan di sana-sini. Apakah ini karena para perempuan telanjur terdoktrin sistem patriarki, sehingga mereka hanya bisa melanjutkan sistem tersebut dalam menggerakkan dunia? Ataukah pada dasarnya manusia ditakdirkan untuk mengacau, tanpa pandang jenis kelamin?(Perlu dicatat bahwa skenarionya ditulis oleh lelaki, walaupun mendapat campur tangan perempuan ilustratornya juga...)
***
Perjuangkan nasib kaummu!
Seorang ibu-ibu caleg yang juga aktivis tiba-tiba bertanya, "Kenapa kamu tidak melakukan kajian mengenai perempuan? Sebagai elemen penting kedaulatan rakyat, perempuan kan perlu disorot secara khusus."
"Ha? Saya?" saya gelagapan dan mencari-cari alasan sok pintar. "Eugh, dalam hemat saya, keterpinggiran perempuan adalah masalah yang integral, sehingga tidak perlu dibahas khusus, bisa saja dicarikan jalan keluarnya dengan mengkaji persoalan sosial ekonomi politik secara menyeluruh."
"Kamu itu, belum pernah turun ke lapangan kali, ya?" tuduhnya. "Coba kamu lihat betapa sengsaranya PSK. Coba bayangkan nasibnya perempuan yang menikah dengan warganegara asing, lalu bercerai, mereka bisa kehilangan kewarganegaraannya kalau tidak kita advokasi. Belum lagi soal terpisah dari anak kandung..."
"Wah, tapi seperti saya bilang, itu kan masalah-masalah 'kecil' yang terjerumus lingkaran setan dengan persoalan kesejahteraan umum dan tingkat peradaban. Saya pribadi sih tidak pernah merasa tertindas... tohohoh..." ketawa pahit.
"Ini bukan main-main! Sebagai orang yang dapat privilege pendidikan tinggi, kamu wajib ikut terjun langsung. Lain kali coba menghadap saya secara khusus, kamu perlu saya TATAR untuk belajar memperjuangkan harkat dan martabat kaummu sendiri!"
... Duh. Kenapa jadi saya yang kena.
Padahal saya pribadi lebih merasa tertindas ketika menghadapi ibu-ibu yang cerewet, histeris, berlimpah estrogen dan progesteron, sedikit-sedikit pms, dan kebanyakan lemot pula. Huaaa, bisa habislah saya menjambak-jambak ujung kerudung. Bagaimana saya bisa diharapkan untuk peduli dengan kaum saya sendiri?
Sungguh, saya tidak (belum) pernah merasa tertindas oleh kaum lelaki. Entahlah itu karena:
- Saya beruntung hidup di antara para lelaki yang menghargai dan menjunjung tinggi hak-hak perempuan; atau jangan-jangan malah
- Saya sial hidup di antara para lelaki pecundang yang lebih rendah mutunya daripada perempuan di sekeliling mereka; mungkin juga
- Saya memilih lahan-lahan kegiatan yang tidak dilirik perempuan karena tanpa sadar takut kalah bersaing dengan sesama perempuan; lebih parah lagi
- Saya terbebas dari penindasan, hanya semata-mata karena kaum lelaki tidak menganggap saya perempuan; tapi siapa tahu justru
- Saya diam-diam mengalami sindroma Putri Padang Pasir...
merasa bangga menjadi luar biasa dengan kedudukan langka setara dengan para lelaki, sehingga saya tidak ingin berusaha membantu perempuan lain mencapai kedudukan yang sama, karena itu akan menurunkan derajat saya menjadi biasa-biasa saja...
Seandainya turun berpolitik, jelas yang akan saya perjuangkan, tidak khusus soal perempuan. - Hak asasi orang-orang kidal.
- Anak kucing dan hewan telantar dipelihara oleh kelurahan sekitar.
- Jalur sepeda di jalan raya dan tol lintas kota.
- Pelarangan peredaran MSG.
- Penghijauan pemandangan kota, baik dengan daun, lumut, jamur, atau apa pun yang tumbuh dan berkembang.
Cukup sebut nama saya tiga kali!
Lalu koarkan janji sakti, "Pastikan Perubahan!!!"
Yang pada dasarnya bisa saja menuju perbaikan, tapi bisa juga pemburukan. Yang penting, berubah itu kan tidak membosankan.
***
Eh, sebentar. Kenapa jadi seurieus? Padahal maksudnya melucu.
Hm, tak apalah. Tandanya saya masih layak sebagai perempuan, kan?
Rabu, 04 Februari 2009
Lanjutan Topeng Kaca ・「ガラスの仮面43」
Mbbbwahahaha!
Setelah lebih dari 5 + 6 + 4 tahun penantian? Hah 15 tahun???
Kelanjutan manga yang berusia lebih tua dari saya ini terbit juga.
Jilid 1 terbit awal tahun 1976, bahkan saya pun belum lahir.
Jilid 40 terbit September 1993, menyambut bunkoubon...
Jilid 41 terbit akhir tahun 1998, menyambut animasi video.
Jilid 42 terbit akhir tahun 2004, menyambut panggung Noh.
Dannn jilid 43 terbit awal tahun 2009, demi Opera Topeng Kaca.
Ternyata dibandingkan dengan naskah yang sejak Agustus lalu dimuat bersambung di majalah, ketika dikemas ke dalam buku jilid 43 alias "Kedua Akoya jilid 2", yang terbit beberapa hari yang lalu, masih tetap ada beberapa perubahan yang cukup signifikan, antara lain melibatkan bintang-bintang jatuh (secara Leonid dan Geminid lagi happening, kali ya).
Ringkasannya kira-kira (SPOILER ALERT! Highlight kotak di bawah):
Setelah buku ini, ternyata masih ada lanjutan yang terbit lagi di majalah... Baguslah, semoga benar-benar ditamatkan, bukan sekadar promosi opera.
Cukup menggelikan melihat si Hayami Masumi berlagak polos -setelah sekian tahun generasi berganti, masih begitu-begitu sajakah tingkahnya? Terlebih lagi mempertimbangkan jajaran shojo manga lainnya yang sudah menganut pola pikir yang berbeda. Penggunaan alat canggih seperti telepon genggam pun tidak membuat komik ini bisa mengejar ketinggalan (atau justru degradasi penurunan moral) dari yang lainnya. Mungkin bagus juga tetap demikian.
Kalau dibandingkan dengan ribuan lembar kisah bertele-tele(novela) versi majalah tahun 90-92 yang batal dibukukan itu, para pengemar hendaknya memaklumi kerja perfeksionis bertahun-tahun untuk menggantinya. Betapa setelah 17 tahun menerbitkan komik secara teratur, dan tersendat selama 15 tahun berikutnya --berarti 32 tahun berkubang dalam komik satu ini!!!-- sepantasnyalah sang pengarang ingin melepaskan karyanya dari jebakan cerita-cerita picisan. Upaya beliau kali ini, mengarahkan sebuah kisah cinta terlarang dan perjuangan karir menjadi hikayat pencarian akan ketuhanan, patut dihargai.
Setelah lebih dari 5 + 6 + 4 tahun penantian? Hah 15 tahun???
Kelanjutan manga yang berusia lebih tua dari saya ini terbit juga.
Untuk siapa? Untuk apa? Mengapa? Kamu berusaha memerankan tokoh Bidadari Merah? Untuk siapa? Untuk apa? Mengapa? Aku bercita-cita mementaskan panggung Bidadari Merah?
Aku juga sama denganmu. Kini baru kusadari. Di kota besar ini, tak seorang pun mau -atau mampu- percaya akan keberadaan Bidadari Merah. Bidadari Merah hanya ada di atas panggung sandiwara. Ketika pentas selesai, semua lenyap bagaikan mimpi malam hari. Hati dan ucapan Bidadari Merah, di hadapan dunia nyata tidak memiliki realita.
Buatlah aku percaya akan Bidadari Merah! Buatlah orang merasakan kenyataan akan Bidadari Merah. Bahwa di dunia nyata ini, Bidadari Merah itu ada. Untukku, dan untuk semua orang yang menontonmu. Yang bisa melakukan itu, hanyalah...
--- Hayami Masumi, di atas jembatan penyeberangan ---
Jilid 1 terbit awal tahun 1976, bahkan saya pun belum lahir.
Jilid 40 terbit September 1993, menyambut bunkoubon...
Jilid 41 terbit akhir tahun 1998, menyambut animasi video.
Jilid 42 terbit akhir tahun 2004, menyambut panggung Noh.
Dannn jilid 43 terbit awal tahun 2009, demi Opera Topeng Kaca.
Ternyata dibandingkan dengan naskah yang sejak Agustus lalu dimuat bersambung di majalah, ketika dikemas ke dalam buku jilid 43 alias "Kedua Akoya jilid 2", yang terbit beberapa hari yang lalu, masih tetap ada beberapa perubahan yang cukup signifikan, antara lain melibatkan bintang-bintang jatuh (secara Leonid dan Geminid lagi happening, kali ya).
Ringkasannya kira-kira (SPOILER ALERT! Highlight kotak di bawah):
- Sakurakouji Yuu memutuskan hubungan dengan Mai karena ingin jujur pada diri sendiri, dan menyatakan akan tabah menunggu Kitajima Maya yang berjanji akan menjawab perasaannya selesai pentas percobaan;
- Hayami Masumi di bawah hujan deras (deuh dramatis banget) di atas jembatan penyeberangan, mengilhami Maya dalam memahami perannya, bahwa untuk membuat orang percaya, ia harus terlebih dahulu percaya, dan berusaha 'menjadi';
- Himekawa Ayumi melakukan olah tubuh hebat dengan alat-alat senam indah, dan dipuja-puji oleh media massa yang sebaliknya merendahkan Maya yang berkubang lumpur;
- Kedatangan seikat besar mawar ungu disertai ungkapan gombal "aku percaya padamu lebih dari siapa pun di dunia ini" mencerahkan kembali hati Maya yang patah semangat;
- Takamiya Shiori heran melihat reaksi Masumi yang sangat ekstrim terhadap mawar ungu, dan mulai curiga;
- Dari tempat menyepi beliau, Tsukikage Sensei (Ibu Mayuko) malah menyatakan bahwa saat ini Maya masih lebih unggul, dan turun gunung untuk melihat persiapan kedua murid kesayangannya itu (Wah, adegan ini, kalau dihitung halaman terbitan majalah 12 tahun lalu, seharusnya bari muncul di 5-7 buku kemudian!!!)
Setelah buku ini, ternyata masih ada lanjutan yang terbit lagi di majalah... Baguslah, semoga benar-benar ditamatkan, bukan sekadar promosi opera.
Cukup menggelikan melihat si Hayami Masumi berlagak polos -setelah sekian tahun generasi berganti, masih begitu-begitu sajakah tingkahnya? Terlebih lagi mempertimbangkan jajaran shojo manga lainnya yang sudah menganut pola pikir yang berbeda. Penggunaan alat canggih seperti telepon genggam pun tidak membuat komik ini bisa mengejar ketinggalan (atau justru degradasi penurunan moral) dari yang lainnya. Mungkin bagus juga tetap demikian.
Kalau dibandingkan dengan ribuan lembar kisah bertele-tele(novela) versi majalah tahun 90-92 yang batal dibukukan itu, para pengemar hendaknya memaklumi kerja perfeksionis bertahun-tahun untuk menggantinya. Betapa setelah 17 tahun menerbitkan komik secara teratur, dan tersendat selama 15 tahun berikutnya --berarti 32 tahun berkubang dalam komik satu ini!!!-- sepantasnyalah sang pengarang ingin melepaskan karyanya dari jebakan cerita-cerita picisan. Upaya beliau kali ini, mengarahkan sebuah kisah cinta terlarang dan perjuangan karir menjadi hikayat pencarian akan ketuhanan, patut dihargai.
Selasa, 27 Januari 2009
Rembang Petang
Mulai membaca karena heran sama filmnya, perasaan gak terlalu hebat. Tapi kenapa fans-fansnya segitu heboh, siapa tahu bukunya memang lebih menarik?
Ternyata, hampir semua hal esensial yang ingin disampaikan sudah tampil di film.
Sepintas lalu, kelihatannya model kisah cinta ini menggunakan pola shojo manga, tapi ternyata bukan. Cewek mana di shojo manga yang semanja, selemah dan segeblek Bella? Sama sekali gak pantas dielu-elukan sebagai teladan.
Perwatakan tokoh cowoknya seharusnya Byronic, tapi tidak demikian, sehingga dengan serta merta kehilangan daya tariknya.
Semula saya sangka itu salah peran di film, ternyata dari bukunya sudah kayak begitu. Apa gunanya dipasang jadi vampir kalau sok alim begini.
Masih mendingan si berondong Indian itu, gantengan... eksotis... Lebih muda sedikit bukan masalah.
Bagus juga ide tentang kulit yang berkilau pelangi. Tapi kenapa hanya sinar matahari yang membuat begitu? Lalu apa bedanya dengan lampu listrik biasa? Maksa banget, ya.
Katanya diterjemahkan menjadi "Dua Cinta", kenapa bukan "Bulan Baru"? Jadi geuleuh. Dan uh, ketololan pasangan ini semakin memuakkan. Mungkin saya lupa, bahwa walaupun si culun Edward itu sudah hidup seabad, dia masih remaja konyol. Tapi tetap saja, Romeo-Juliet kan masih 14 tahun! Sebagai 18 ke atas, lebih dewasa sedikit dong! Romantika mati bersama kan sudah sejak lama dipatahkan oleh film Titanic (yang sebenarnya hueks juga) gituh...
Ide menyambung-nyambungkan ke dongeng zombie kali ini, bolehlah.
Bahwa si Jake berubah jadi serigala, sudah diduga sejak semula. Tapi yang mengejutkan adalah, kenapa dia sampai segitu sayangnya pada Bella? Apakah karena terlanjur kepincut flirtingnya di buku pertama? Atau hanya semangat bersaing dengan musuh bebuyutannya yang dingin dan sombong ituh?
Yang lebih menyebalkan lagi, adalah masalah rasialis yang mendasar. Ada kesan bahwa vampir-vampir penjajah ini lebih tinggi derajatnya daripada serigala-serigala yang notabene adalah penduduk asli. Huh.
Melanjutkan baca karena apa boleh buat, suka saja sama judulnya. Pengibaratan inti kisah cinta segitiganya dengan gerhana, cukup bisa diterima. Bacanya kebetulan juga pas dekat-dekat jadwal gerhana.
Akhirnya ada latar belakang cerita tentang anggota keluarga vampir lainnya, yang cukup dikait-kaitkan dengan sejarah dan kondisi sosial ekonomi Amrik zaman dulu. Tentang suka-duka perang sipil Utara-Selatan, tentang status perempuan, dst.
Juga kisah-kisah menarik di antara para serigala jejadian. Walaupun kurang padat!!! Aaaah! Kalah jumlah sama gombal-gombalan dan basa-basi gak penting di kepala abg ini. Kerumitan yang terjadi dalam hubungan antarserigala di dalam gerombolan serigala bagi saya sangat jauh lebih menarik daripada vampir-vampir yang membosankan itu. Tapi entah kenapa, mungkin karena terhanyut akan keserigalaannya, Jake semakin licik lihai seakan big bad wolf.
Jilid yang ini rasanya agak lebih kaya akan teori-teori pervampiran khas seri ini, dan biarpun sepintas lalu, cukup menyingkap hal-hal yang terkesan agak lebih, apa ya, global gituh... Setidaknya Drakula asli Rumania muncul juga sebagai figuran... Vladimir dan Stefan? Pasangan Waiting for Godot kali ye.
'Logika dalam'nya cukup jalan, dan si Bella selalu tahu memanfaatkan orang yang mana untuk setiap kepentingannya; ternyata itulah kelebihannya, ya. Juga baguslah, definisi tentang serigala jadi-jadiannya diklarifikasi. Betul, itu mah bukan werewolf ateuh. Pakailah istilah lain.
Penyelesaian cinta segitiganya kayak Legenda Suriyothai... Banyak masalah yang selesai dengan hanya melakukan simulasi pikiran. Yang ini cuma layak dibaca di buku, karena kalau difilmkan, pasti yang ditampilkan justru aksi kekerasan setingkat Dragonball. Atau, seperti kata Yuni, Angling Dharma.
Saya suka bagian tengah-tengah yang dilabeli "buku Jacob", karena gaya cerita dan perwatakan para serigalanya asyik, gaul, gue banget. Judul bab bagian ini panjang-panjang tapi bagus-bagus. Seperti
atau
Geli juga tentang apa yang akhirnya bikin Bella kalap sama Jake...
Buku ini cukup mengusahakan semacam teladan bagi pasangan-pasangan muda untuk berani menikah dini sesuai anjuran agama.
Taaaapi-tapi-tapi... Entah kenapa kalau coba-coba diasosiasikan dengan dunia nyata, ini malah seakan menjadi panduan terhadap istri-istri berusia muda yang rela menerima KDRT dengan alasan klise yaitu cintrong? Walah-walah-walah, mengerikan. Jangan ditiru ya, anak-anak!!!
http://www.stepheniemeyer.com/midnightsun.html
Judulnya cukup puitis tapi aneh: Di buku-buku sebelumnya, "matahari" jelas-jelas adalah perumpamaan Jacob oleh Bella, sementara di sini digunakan sebagai perumpamaan Bella oleh Edward. Masa gak ada istilah lain ya? Komet, kek gitu. Atau, supernova. Atau, apalah.
Draft ini hanya menegaskan kecurigaan saya pada perwatakan si Edward culun yang sok alim dan dituduh sempurna ituh. Berlagak terlalu baik! Selera abg-abg miihaa. Tidak sebagaimana seharusnya seorang vampir. Kalah charming dari Lestat. Apalagi Vlad Dracul. Bahkan mendingan si Anton drakula cilik. Atau Edward Rochester!!!
Sesungguhnya gak perlu diterbitkan, karena kesan saya sih kurang cowok. Kalau beredar gratisan boleh-boleh saja lah kali ya, tapi gak pantas dijual.
Sisi bagusnya: Yah, sementara ini alurnya masih sinkron dengan buku pertama. Ketelitian yang patut dihargai, karena jarang ditemui pada penulis ngepop setingkat ini... apalagi di Indo.
Catatan lain:
Ketertarikan pengarang terhadap model-model otomotif yang ditampilkan melalui selera masing-masing tokoh terhadap mobil mereka, terasa mengada-ada. Satu-satunya alasan yang dikemukakan adalah bahwa vampir itu pada dasarnya pemangsa yang biasa bergerak cepat, sehingga gemar dengan percepatan. Andaikan saja ditelusuri lagi beberapa latar belakang yang sesuai, bahwa mereka tidak perlu bernafas, sehingga tidak terlalu peduli dengan polusi udara, misalnya, mungkin lebih pas.
Okelah, buku-buku ini ditulis dengan cukup teratur, tapi terlalu tebal untuk menyampaikan cerita yang agak kosong melompong. Seharusnya masih bisa diringkas lagi... Atau mungkin ini adalah cerminan dari anak remaja zaman sekarang.
Twilight
Ternyata, hampir semua hal esensial yang ingin disampaikan sudah tampil di film.
Sepintas lalu, kelihatannya model kisah cinta ini menggunakan pola shojo manga, tapi ternyata bukan. Cewek mana di shojo manga yang semanja, selemah dan segeblek Bella? Sama sekali gak pantas dielu-elukan sebagai teladan.
Perwatakan tokoh cowoknya seharusnya Byronic, tapi tidak demikian, sehingga dengan serta merta kehilangan daya tariknya. Semula saya sangka itu salah peran di film, ternyata dari bukunya sudah kayak begitu. Apa gunanya dipasang jadi vampir kalau sok alim begini.
Masih mendingan si berondong Indian itu, gantengan... eksotis... Lebih muda sedikit bukan masalah.
Bagus juga ide tentang kulit yang berkilau pelangi. Tapi kenapa hanya sinar matahari yang membuat begitu? Lalu apa bedanya dengan lampu listrik biasa? Maksa banget, ya.
New Moon
Katanya diterjemahkan menjadi "Dua Cinta", kenapa bukan "Bulan Baru"? Jadi geuleuh. Dan uh, ketololan pasangan ini semakin memuakkan. Mungkin saya lupa, bahwa walaupun si culun Edward itu sudah hidup seabad, dia masih remaja konyol. Tapi tetap saja, Romeo-Juliet kan masih 14 tahun! Sebagai 18 ke atas, lebih dewasa sedikit dong! Romantika mati bersama kan sudah sejak lama dipatahkan oleh film Titanic (yang sebenarnya hueks juga) gituh...
Ide menyambung-nyambungkan ke dongeng zombie kali ini, bolehlah.
Bahwa si Jake berubah jadi serigala, sudah diduga sejak semula. Tapi yang mengejutkan adalah, kenapa dia sampai segitu sayangnya pada Bella? Apakah karena terlanjur kepincut flirtingnya di buku pertama? Atau hanya semangat bersaing dengan musuh bebuyutannya yang dingin dan sombong ituh?
Yang lebih menyebalkan lagi, adalah masalah rasialis yang mendasar. Ada kesan bahwa vampir-vampir penjajah ini lebih tinggi derajatnya daripada serigala-serigala yang notabene adalah penduduk asli. Huh.
Eclipse
Melanjutkan baca karena apa boleh buat, suka saja sama judulnya. Pengibaratan inti kisah cinta segitiganya dengan gerhana, cukup bisa diterima. Bacanya kebetulan juga pas dekat-dekat jadwal gerhana.
Akhirnya ada latar belakang cerita tentang anggota keluarga vampir lainnya, yang cukup dikait-kaitkan dengan sejarah dan kondisi sosial ekonomi Amrik zaman dulu. Tentang suka-duka perang sipil Utara-Selatan, tentang status perempuan, dst.
Juga kisah-kisah menarik di antara para serigala jejadian. Walaupun kurang padat!!! Aaaah! Kalah jumlah sama gombal-gombalan dan basa-basi gak penting di kepala abg ini. Kerumitan yang terjadi dalam hubungan antarserigala di dalam gerombolan serigala bagi saya sangat jauh lebih menarik daripada vampir-vampir yang membosankan itu. Tapi entah kenapa, mungkin karena terhanyut akan keserigalaannya, Jake semakin licik lihai seakan big bad wolf.
Breaking Dawn
Jilid yang ini rasanya agak lebih kaya akan teori-teori pervampiran khas seri ini, dan biarpun sepintas lalu, cukup menyingkap hal-hal yang terkesan agak lebih, apa ya, global gituh... Setidaknya Drakula asli Rumania muncul juga sebagai figuran... Vladimir dan Stefan? Pasangan Waiting for Godot kali ye.
'Logika dalam'nya cukup jalan, dan si Bella selalu tahu memanfaatkan orang yang mana untuk setiap kepentingannya; ternyata itulah kelebihannya, ya. Juga baguslah, definisi tentang serigala jadi-jadiannya diklarifikasi. Betul, itu mah bukan werewolf ateuh. Pakailah istilah lain.
Penyelesaian cinta segitiganya kayak Legenda Suriyothai... Banyak masalah yang selesai dengan hanya melakukan simulasi pikiran. Yang ini cuma layak dibaca di buku, karena kalau difilmkan, pasti yang ditampilkan justru aksi kekerasan setingkat Dragonball. Atau, seperti kata Yuni, Angling Dharma.
Saya suka bagian tengah-tengah yang dilabeli "buku Jacob", karena gaya cerita dan perwatakan para serigalanya asyik, gaul, gue banget. Judul bab bagian ini panjang-panjang tapi bagus-bagus. Seperti
10. WHY DIDN'T I JUST WALK AWAY? OH RIGHT, BECAUSE I'M AN IDIOT.
atau
17. WHAT DO I LOOK LIKE? THE WIZARD OF OZ? YOU NEED A BRAIN? YOU NEED A HEART? GO AHEAD. TAKE MINE. TAKE EVERYTHING I HAVE.
Geli juga tentang apa yang akhirnya bikin Bella kalap sama Jake...
"You nicknamed my daughter after the Loch Ness Monster?" I screeched.
And then I lunged for his throat.
Buku ini cukup mengusahakan semacam teladan bagi pasangan-pasangan muda untuk berani menikah dini sesuai anjuran agama.
Taaaapi-tapi-tapi... Entah kenapa kalau coba-coba diasosiasikan dengan dunia nyata, ini malah seakan menjadi panduan terhadap istri-istri berusia muda yang rela menerima KDRT dengan alasan klise yaitu cintrong? Walah-walah-walah, mengerikan. Jangan ditiru ya, anak-anak!!!
Midnight Sun
http://www.stepheniemeyer.com/midnightsun.html
Judulnya cukup puitis tapi aneh: Di buku-buku sebelumnya, "matahari" jelas-jelas adalah perumpamaan Jacob oleh Bella, sementara di sini digunakan sebagai perumpamaan Bella oleh Edward. Masa gak ada istilah lain ya? Komet, kek gitu. Atau, supernova. Atau, apalah.
Draft ini hanya menegaskan kecurigaan saya pada perwatakan si Edward culun yang sok alim dan dituduh sempurna ituh. Berlagak terlalu baik! Selera abg-abg miihaa. Tidak sebagaimana seharusnya seorang vampir. Kalah charming dari Lestat. Apalagi Vlad Dracul. Bahkan mendingan si Anton drakula cilik. Atau Edward Rochester!!!
Sesungguhnya gak perlu diterbitkan, karena kesan saya sih kurang cowok. Kalau beredar gratisan boleh-boleh saja lah kali ya, tapi gak pantas dijual.
Sisi bagusnya: Yah, sementara ini alurnya masih sinkron dengan buku pertama. Ketelitian yang patut dihargai, karena jarang ditemui pada penulis ngepop setingkat ini... apalagi di Indo.
Catatan lain:
Ketertarikan pengarang terhadap model-model otomotif yang ditampilkan melalui selera masing-masing tokoh terhadap mobil mereka, terasa mengada-ada. Satu-satunya alasan yang dikemukakan adalah bahwa vampir itu pada dasarnya pemangsa yang biasa bergerak cepat, sehingga gemar dengan percepatan. Andaikan saja ditelusuri lagi beberapa latar belakang yang sesuai, bahwa mereka tidak perlu bernafas, sehingga tidak terlalu peduli dengan polusi udara, misalnya, mungkin lebih pas.
Okelah, buku-buku ini ditulis dengan cukup teratur, tapi terlalu tebal untuk menyampaikan cerita yang agak kosong melompong. Seharusnya masih bisa diringkas lagi... Atau mungkin ini adalah cerminan dari anak remaja zaman sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)