Sabtu, 25 Desember 2004

FAQ Topeng Kaca

Setelah dinanti oleh para penggemar setianya dari sejak remaja sampai keburu jadi nenek-nenek beruban, Topeng Kaca 42 versi asli Jepang (yang entah akan diterjemahkan di Indonesia sebagai Bidadari Merah 9 atau sesuai dengan subjudul bahasa Jepangnya, Kedua Akoya 1), akhirnya terbit...

Dan inilah penjelasan yang paling pantas menjawab rasa penasaran yang sudah sering ditanyakan teman-teman sampai bosan mendengarnya: "Mengapa sampai sedemikian lama?" ...
Miuchi Suzue mengalami krisis ketuhanan.


Miuchi Suzue, seorang veteran Mangaka, sudah cukup dikenal dengan cerpen-cerpennya sebelum kemudian di tahun 1975 meluncurkan saga panjang Garasu no Kamen, kisah perjuangan para pemain drama menapak jalan menuju panggung pementasan dibalut ketegangan antara persaingan bisnis dan ketulusan cinta.

Kelanjutan cerita terkatung-katung pada penggambaran konflik asmara antara Bidadari Merah (semacam perwujudan Kwan-Im /Kannon) dan Isshin sang pemahat (teladan manusia sejati sesuai ajaran Buddha). Singkatnya, lakon ini mengangkat sinkretisme dua ajaran yang sangat berpengaruh dalam keagamaan Jepang, Buddha dan Shinto ke atas panggung.

Dan masing-masing berusaha berperan sebagai... [Tuhan]...
dalam segenap perwujudannya...
[alam semesta raya]... dan [berhala]...

Sang Pengarang sendiri, mungkin dalam penelitiannya baik di lapangan maupun terhadap bahan-bahan kepustakaan menemukan beberapa pemahaman terhadap agama di negaranya sendiri yang tak dapat diungkapkan melalui lakon-lakon di Topeng Kaca, dan berusaha menyalurkan konsep-konsep tersebut melalui media lain, sehingga terbitlah komik Sci-Fi, Amaterasu (Dewi Matahari), dengan sangaaaat hati-hati mengingat sensitivitas tema religius (buktinya dalam rentang waktu 20 tahun, hanya terbit 4 jilid dan sejilid bangaihen).

Selain itu, demi memuluskan jalan cerita dan logika yang ingin ia sampaikan, lanjutan Topeng Kaca sejak bab 10, Fuyu no Seiza (episode "Gugus Bintang Musim Dingin", kalau di Indonesia terbit dalam beberapa judul terakhir "Sejuta Pelangi") beliau memutuskan untuk menggambar ulang draft komiknya yang sudah pernah dipaksakan terbit mingguan di majalah shojo-manga "Hana-to-yume" era 90-an.
Dilakukanlah koreksi gambar dan dialog sedikit demi sedikit sampai pada satu titik berubah total juwauuuuuuuuuuh terutama di nomer 41 kemarin, ada adegan a la Tanabata segala.

Mungkin yang selanjutnya akan bertahan, hanya plot utama:
Maya sempat kehilangan raison d'etrenya karena perubahan sikap Murasaki no Bara no Hito alias Mawar Jingga (sebenarnya sih, Ungu); Ayumi akan berjuang melawan kebutaan; dan Hayami Masumi mengambil keputusan tak terduga demi kelangsungan pementasan...
Perbedaan-perbedaan tersebut bisa dibandingkan di
fansclub Garakame ini
(sayang kabarnya akan ditutup pertengahan tahun depan).

Walhasil, sang tankoubon hanya bisa mengejar waktu setahun sekali, dan tersendat lama karena beberapa kali dirombak oleh sang pengarang, akhirnya terbitlah nomer 40 tahun 1993 dan nomer 41 tahun 1999: rentang 5 tahun! Dalam selang waktu ini, para fans hanya terhibur oleh drama serial tv yomiuri 1997 yang dibintangi si imut Adachi Yumi, dengan didukung alunan OST karya B'z: Calling, dan beberapa jilid video animasi yang terbit menyambut milenium.

Dan entah karena media komik belum cukup memuaskan misi keagamaan beliau, apalagi prihatin dalam menghadapi berbagai bencana alam, Aum Shinri Kyo, dan segala bentuk krisis kepercayaan yang melanda Jepang, tersebutlah beliau pun mengelola organisasi

Kegiatannya: karyawisata ke situs religius bersejarah, terutama di daerah asal-usul pembentukan Jepang yang berkenaan dengan kultus Amaterasu: Yamato (seputar Isei-Nara Jepang Tenggara), dan tampil dalam berbagai ceramah dan diskusi, dengan tekad menggali dan menampilkan kembali mitos-mitos Jepang Kuno yang menjadi dasar kepercayaan Shinto, mengembalikannya ke dalam desah nafas sehari-hari para murid. Tak lupa beliau juga menciptakan sendiri lagu-lagu puja-puji yang dimainkan oleh seniman-seniman terpilih.

Kemunculan yang ditunggu-tunggu mungkin mengecewakan, karena berkutat di penampilan lakon tradisional Jepang, sehingga tidak dekat di hati kaum modern. Namun dalam jilid terbaru ini, Sakurakoji mengambil tindakan yang sangat bercirikan "remaja Jepang masa kini" dengan kamera telepon genggam (yang dikecam oleh para fanatik jetlag dengan jilid sebelumnya yang seakan berada di dunia gaib).

Setidaknya, perubahan dari rensai yang dulu pernah terbit di majalah, cukup signifikan meredam melodrama telenovela berlarut-larut...
Dan kembali kepada pemahaman ketuhanannya:
"Apakah kau percaya akan adanya dewa-dewi dan alam gaib?"
"Tidak..."
"Tentu saja, karena tak ada satu pun di antara kita, termasuk aku, yang pernah melihatnya. Tapi tugas kalian dalam pentas kali ini adalah, membuat penonton percaya! Tak perlu memaksakan diri untuk percaya, namun ciptakanlah oleh diri kalian sendiri. Itulah gunanya imajinasi. Dengan begitu, keberadaannya di atas panggung bisa punya realita."




11 komentar:

Anonim mengatakan...

yang bahasa indonesia belum terbit yah?

Anonim mengatakan...

kapan terbit bahasa Indonesianya?
ayo dong.....penasaran nih,kenapa lama sekali??

Hyoutan mengatakan...

Yahaha... bayangkan saja, terbit di Jepang baru bulan Desember, urus perizinan, terjemahan, pengeditan, naik cetak, baru distribusi... Sementara yang nomer selanjutnya (43) asli Jepangnya juga entah berapa tahun lagi bakal terbit, kalau yang 42 ini diburu-burukan versi Indonesianya juga hanya menambah rasa penasaran... Lalu terpaksa terjebak penantian lagi seperti yang kualami... Tapi kalau gak sabar juga, sini kubantu bacakan (^-^).

selvy setiawan mengatakan...

hai there.. i know from ur website that glass mask will coming up. are there already coming up at japan?? and when it will coming up in indonesia?? if you know more information about glass mask, i will like to know...
if you don't mind,please reply my message to videl_vido@yahoo.com.. thanks once again...

Anonim mengatakan...

akhirnya terbit juga ya yang no 9.. gile.. lama betulll!! tapi gak puas deh, gambarnya gak sebagus yang dulu, trus critanya koq terkesan bertele-tele.. (ih, nyelaaa aj..). oya, bambu muda (ato hyoutan? ^_^), link www. garakame.com nya itu pake bahasa jepang ya... hiks! jadi gak bisa liat.. abis munculnya kotak2 semua.. (T_T)

Monika Tanu mengatakan...

Hi, lam kenal.. aku nemu web kamu pas lagi cari-cari gambar Topeng Kaca buat develop situsku yang belum komplit... boleh share? Thank you...

Hyoutan mengatakan...

Setahun lebih berlalu dari postingan di atas, dan inilah kelanjutannya: http://bambumuda.blogspot.com/2006/01/faq-bidadari-merah.html

Anonim mengatakan...

hya hya hyaaa
ada benda ga penting nyempil :
HP KAMERA!!!
kayaknya jadi jauh gitu loncat jamannya
prasaan pas konik trakhir muncul tu pas jman2 blon ada hp gituan. jadi jetlag....
tapi yang lebih ebat lagi tau2 si masumi bisa maling foto dlm tu hp, kesannya koq dia jdi maniak gitu yach??? (masumichan... maafkan daku)

Ai mengatakan...

Assalamu'alaikum..wah blognya informatif bgt..Mba..makasih banyak ya seneng bgt bs baca review topeng kaca..

Anonim mengatakan...

cedi banget ne liat kbr kl komiknya mase lama br bs ada di indo!!! Tnyt sampe2 di japan aza blm ada!! lama amit. malah tuh komik umurnya da brp taon tuh dr taon 75 pl!!!!! cptan donk. pengen liat masumi ama maya!!!

Kanti mengatakan...

silakan cek info terbaru di
http://bambumuda.blogspot.com/search/label/x topeng kaca