Rabu, 22 Desember 2004

Lovin 2004

Jangan lewatkan Lovin tahun ini, 23 Desember 2004.

Lepas dari kesuksesannya menggalang dana sejumlah sekian yen sejak pertama kali diluncurkan tahun 1998 sampai saat ini, kegiatan Konser Amal Cinta Indonesia ini punya banyak PR berupa pertanyaan yang tidak terselesaikan:
  • Apakah kegiatan turun ke rimba persilatan ini bisa menyegarkan para penyelenggara yang kebanyakan suntuk belajar di lab, atau justru menambah ketegangan dan mengganggu keutuhan tapa brata?

  • Seandainya waktu yang dihabiskan para penyelenggara sampai bolos dari laboratorium demi mempersiapkan acara ini dihabiskan dengan kerja sambilan dan seluruh uangnya dikumpulkan, tak bisakah menyaingi jumlah hasil bersih dari sisa sponsor dan penjualan tiket?

  • Jangan-jangan ini dana habis hanya demi menyenangkan seniman-seniwati yang diundang, agar mereka bisa seenaknya melancong ke luar negeri dengan jaminan hidup layak?

  • Tidakkah dana sponsor yang hanya dikucurkan ketika ada kegiatan, antara lain dari KJRI, Nusantara Gas dan Garuda Indonesia, sebenarnya sejak semula merupakan uang rakyat Indonesia sendiri?

  • Selain perkenalan budaya untuk orang Jepang, bintang tamunya lebih banyak artis populer, dengan sasaran pembeli tiket para TKI, daripada uang gaji dihabiskan di tempat karaoke. Apakah pentas seperti ini semata hura-hura belaka, atau lebih parah lagi menjurus ke arah maksiat?


Asal-usulnya, tersebutlah sejak krismon 1997, para anggota PPI (perkumpulan pemulung indonesia) Kyoto dan sekitarnya berembug
angklung 2000untuk melakukan penggalangan dana demi mahasiswa-mahasiswi nun jauh di Indonesia yang terancam putus sekolah, merancang sebuah acara khusus besar-besaran menampilkan Indonesia secara profesional dan penuh sponsor...

Rencana ini disambut meriah oleh rekan tetangga Osaka dan Kobe.
angklung Lovin 2000Sejak saat itulah dirintis Lovin yang juga melibatkan berbagai pihak di luar PPI dan KJRI, termasuk sekelompok sukarelawan-sukarelawati Jepang, dan mengundang seniman Indonesia langsung dengan dukungan pihak Garuda.

Akhir 1998 terwujudlah rencana itu untuk pertama kali, mengundang Didik Nini Thowok dan Katon Bagaskara, dengan pentas di tiga tempat: Osaka, Okayama dan Kyoto.
Saya yang masih anak bawang pun dilibatkan semena-mena sebagai backing vocal (tepatnya: penari latar) Katon, bersama seorang teman menemani seorang arsitek lulusan PSM yang hobi karaoke.
Karena pentas ini adalah kegiatan bersama, dan dipecah menjadi tiga babak, apalagi penyelenggaranya amatiran: pelajar tambah TKI tambah borantia Jepang, yang hanya curi-curi waktu dari kesibukan sehari-hari, berbagai gesekan muncul dalam kerja panitia dari aneka latar belakang ini.

Kyoto sebagai salah satu poros pencetus, dan tempat penyelenggaraan pentas terakhir, ternyata tetap melaju dalam rutinitas kegiatan tahunan Malam Indonesia pada bulan depannya, karena sudah dijadwal dengan KICH. Walaupun berbeda tahun, tapi ini cukup menghasilkan persaingan ketat dalam penjualan tiket ke khalayak Jepang, dan beban pekerjaan bagi kalangan panitia sendiri.
  • Mau bayar untuk melihat profesional beken dari negeri asing, terpesona akan keeksotikannya, tapi bingung sendiri karena gak kenal?

  • Atau untuk mendukung amatiran, yang mungkin adalah teman sendiri, murid sendiri, atau anak kos sendiri, dan menertawakan mereka yang gugup di panggung bertingkah polah lucu-lucu?

tari aceh Lovin 2003Tapi apa pun pertimbangan, kegiatan ini terbukti bertahan terus sampai kini.
Usai Lovin II (2000) Kyoto malah lepas tangan, karena kekurangan orang untuk diutus ikut rapat koordinasi yang intensif, dan sifat narsis para anggota memilih tampil di atas panggung daripada bergerak di belakang layar, namun relawan Jepang bersama PPI Kobe - Osaka serta FM COCOLO bertahan berturut-turut mengundang artis dangdut.
NugieTahun kemarin, pasukan Kyoto masih nekad tampil membawakan tarian Aceh (bukan angklung, karena tersingkir oleh pasukan dharmawanita KJRI).
Setidaknya kesempatan bagus buat hip-hip hura dengan orang beken...

Tidak ada komentar: