Jumat, 23 Juli 2010

Fighting for Nothing

... kita sama-sama manusia...
"... Yang ada di sini cuma dua jenis orang, yang belagu sama yang solider. Indonesia yang beragam? Heh, kejauhan! Buatku, itu adanya cuma di awang-awang! Sampai, ada kejadian yang benar-benar mengguncang semuanya..."




Film pendek berdurasi 13 menit ini merupakan salah satu materi kegiatan lokakarya Cerdas Bermedia untuk Toleransi yang diselenggarakan THC di tiga kota, yaitu Depok, Palu, dan Ambon.
Paduan antara dokumentasi wawancara dan animasi bergaya stilomasi ini menceritakan tentang dampak media pada remaja dan interaksi antarkelompok.

Produser Eksekutif: Andi Makmur Makka, Wenny Pahlemy;
Produser: Aryati Dewi Hadin, Kanti;
Sutradara: Sony Budi Sasono;
Naskah: Ifan Adriansyah Ismail;
Gambar Penokohan: Ganes;
Musik: Ardanti Andiarti;
Lagu: Koil, Homicide, Zeke and the Popo;
Animator: Sembilan Matahari Animation
Narasumber: Rinaldi, Juned, Asep, Meilia, Dian, Angga, Ires, Affan, Suqma, Wawan, Saiful, Ibet, Oming, Nango

http://www.literasimedia.org

*** Ada yang punya usul judul dalam bahasa Indonesia?

Jumat, 18 Juni 2010

Hanya Satu Bola

"Why is there only one ball for 22 players? If you gave a ball to each of them, they'd stop fighting for it."
Komentar seorang janda sepakbola,
dipajang di sebuah laman anti-Piala Dunia.
(Anonim: Daily Telegraph 28 Desember 1998 "kutipan olahraga tahun ini")


"Because there's also only one lonely planet for us to live in. And yet if there's already enough BALL for each, I'm sure they'll start fighting for a BOX. Or a pyramid. Or a cylinder, a cone, etc..."
(Kanti: blog bambumuda)



Minggu, 30 Mei 2010

Lucky Luke dan Rokok

Lucky Luke adalah cinta pertama saya terhadap tokoh komik. Sayangnya segera kandas terpatahkan oleh nasihat orang-orang di sekitar bahwa dia bukan contoh yang baik, secara perokok berat dan menggunakan senjata api sembarangan, hiks.
luckyluke jean dujardinWaktu itu saya juga sudah kenal Tintin, Asterix, dan beberapa tokoh lokal lainnya (Si Buta, Mandala, dll), tapi tentu yang masuk kesan "kereeen" bagi balita saat itu, ya citra koboi kita semacam "Shane" inilah, semasa belum ada "Brokeback Mountain"...

Setelah menonton animasi 2D-nya yang cukup apik,
Tous à l'Ouest: Une aventure de Lucky Luke (2007),
saya benar-benar ketinggalan berita, entahlah karena sedang sibuk memuja One Piece, mencaci maki DB Evolution, atau mengunduh bajakan komik amerika demi menghemat uang jajan. Makanya sangat kaget bercampur takjub melihat judul ini sedang diputar di bioskop Blitzmegaplex. FILM ORANG!

http://www.lucky-luke-le-film.com/

Bintang 1: Kampanye Antirokok


Menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia, film ini adalah sarana yang cukup tepat, karena Morris sang pengarang komiknya juga pernah mendapat penghargaan dalam peluncuran pertama World No Tobacco Day oleh WHO tahun 1988 karena keputusannya menghentikan kebiasaan merokok sang tokoh setelah sekian puluh tahun batangan tembakau itu menjadi jati diri yang tak terpisahkan, demi teladan bagi pembaca anak-anak (walaupun mungkin itu hanya strategi untuk menembus pasar Amerika yang sangat ketat dalam sensor rokok... tapi kenapa justru kebiasaannya bermain senjata api tidak diwaspadai siapa tahu akan ditiru anak-anak???)

Ketika film ini dimulai, sang jagoan kita sudah mengulum batang alang-alang dan menggunakan "a-pache" sebagai terapi berhenti merokok, walaupun masih belum menghentikan kebiasaannya melinting untuk menenangkan diri.
(Namun namanya film komedi, jangan lewatkan sindiran apa yang akan terjadi dengan batang alang-alang yang biasa ia kunyah, dan tunggulah kejutan pada end-creditnya...)

luckylukejeandujardin

Bintang 2: Busana dan Latar


Suasana Wild-wild West cukup terasa di tengah padang-padang terbentang ini.
Warna pakaian yang dikenakan juga sesuai komiknya, celana jins biru, sepatu bot cokelat, kemeja tangan panjang kuning, rompi kulit hitam, topi putih, syal merah... Tampak sangat meyakinkan dari jenis bahan, sedikit kucel, sobek dan bolong-bolong, lusuh karena tidak diganti-ganti, sesuai gaya hidup di masa itu. Walaupun dagunya tidak klimis, yang pasti jambulnya bisa persis komik.
Apalagi bila dibandingkan dengan adaptasi film sebelumnya, versi Terence Hill (1991) yang sama sekali tidak sesuai gambar, dan versi Til Schweiger yang muncul sekilas sebagai pemeran sampingan dalam film konyol Les Dalton (2004), yang walaupun orangnya tercukur rapi tapi busananya tampak seperti kostum boneka.
Mungkin inilah film pertama yang benar-benar pas dalam menampilkan desain grafis komiknya ke dunia manusia.

Bintang 3: Sisi Kemanusiaan


Tentunya wajar jika ada perbedaan yang khas antara film dan daftar komik yang dilibatkan. Dan kali ini yang ditampilkan cukup membuat saya merasa gegar budaya. Tapi anggap saja sesungguhnya mereka dua hal yang terpisah. Kali ini, yang kita temui bukanlah lagi Lucky Luke yang kalem, misterius dan selalu menguasai situasi. Kita akan menemui Lucky Luke yang cemas, masa lalu dan nama aslinya tersingkap, dan ternyata tidak pernah memotong kuku.
Dia lahir dari ayah petani, ibu pribumi. Dia gemar mengoleksi medali penghargaan di seluruh pelosok amerika, tapi akan tega membuang yang sama dengan yang sudah dia punya. Misi kepresidenan mengawal perintisan rel kereta api menyeretnya kembali ke kota kelahirannya, Daisy, berhadapan dengan gembong preman Pat Poker. Namun suatu peristiwa yang membangkitkan trauma membuatnya galau, menggantungkan senjata, mempertimbangkan untuk pensiun dari kegiatan kepahlawanan, mulai membangun rumah tangga dan kabur ke Eropa jadi komikus. Halah!



Tokoh Sejarah


Sebagai tribut terhadap Goscinny, pengarang Lucky Luke di zaman keemasannya, yang sangat terperinci dalam memparodikan tokoh sejarah, rekanan Lucky dari beberapa jilid berbeda tampil sekaligus. Sempat-sempatnya ia main mata dengan Belle Starr yang menjadi bintang kabaret di sana. Calamity Jane teman tapi mesra dan Jesse James sang musuh bebuyutan, terpaksa sama-sama turun tangan menegakkan hukum di kota Daisy. Billy the Kid pun ikut-ikutan bergabung karena merasa tersaingi.
Mereka kira-kira memang hidup di masa yang sama, pertengahan abad 19 di sekitar Missouri, namun belum tentu berjumpa di kehidupan nyata. Malah Belle yang kalau tidak salah aslinya satu geng dengan Jesse tidak tampak mengenal satu sama lain di sini.

Antara Perempuan dan Kuda


Lucky Luke yang biasanya "got nothing against women, but wave them all goodbye" akhirnya sempat punya pacar yang mengejar-ngejar dia sejak kecil! Sudah uzur? (Oh ya, pemeran Belle di sini adalah istri dari pemeran Lucky di kehidupan nyata, pentingkah trivia ini?)
Film ini juga menampilkan kekerasan terhadap perempuan, yang anehnya tidak ditanggapi dengan acuh oleh sang korban.
Perlakuan Lucky terhadap perempuan sekonyol perlakuan terhadap kudanya tersayang yang setia dan pandai bicara, Jolly Jumper.

Tapi memang pada dasarnya ini adalah cerita lucu-lucuan. Dan setelah muak melihat berbagai film berbagai etnis yang diamerikanisasi ataupun didisneyisasi, sebagai film berlatar amerika yang diperancisisasi (???), segala kejanggalan yang mungkin ada dalam film ini bisa segera saya abaikan dengan hati lapang.

Trailer-trailer:


Lain-lain tentang Bang Lucky, dan tak lupa juga tentang rokok:

Minggu, 02 Mei 2010

3G vs. 3 Idiots: kaum insinyur sedunia, ber-3-lah!

Dua film yang beredar di Indonesia awal tahun ini, kebetulan sama-sama mengambil tema seputar kehidupan mahasiswa teknik: Institut Teknologi (Bandung vs. India).
Satu film lokal "yang sedang-sedang saja", serba kepalang canggung, diproduksi sebagai nostalgia kebanggaan almamater.
Satu lagi film khas Bollywood yang "sungguh terlalu-terlalu-terlalu" lebay pangkat tiga, namun mengusung kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang mengutamakan persaingan nilai.

3G -Bahwa Cinta itu Ada- (2010)


http://www.3g-cinta.com
Diangkat dari sejilid buku garing (Gading-gading Ganesha) karya dosen bisnis, memperingati 50 tahun ITB secara birokratis dengan penuh titipan politis, film ini perlu ditonton setidaknya oleh para alumni demi mendukung industri kreatif yang masih merangkak tertatih-tatih. Tampil dengan keseharian rutin mahasiswa di kampus, berlatar sudut-sudut kota Bandung awal dekade 1980-an, kemudian menyorot kesuksesan para tokohnya 20 tahun ke depan, dengan sentuhan musik khas nusantara dan tutur pedalang.

3G-gading2ganesha

3 Idiots - थ्री इडीयट्स (2009)


http://idiotsacademy.zapak.com/idiotsmain.php
Berdasarkan pada buku karya insinyur IIT Delhi, Five Points Someone, film ini dimodifikasi dengan semua adegan dangdut yang mungkin ada, melankolis tragis tapi tetap ceria, penuh kebetulan-kebetulan seakan Deus Ex Machina... Lengkap dengan tarian nyanyian norak, dua upacara pemakaman, dua upacara pernikahan yang dikacaukan, dua rawat inap di rumah sakit, dan satu persalinan darurat.
Salah seorang penutur cerita menyatakan bahwa ia lahir tahun 1978, berarti kira-kira tokoh-tokohnya seangkatan saya.
3 idiots

Perbandingan, Persamaan, Perbedaan



    Alur kilas balik:
  • Dikemas dalam kisah perjalanan (mencari vs. menemui) seorang teman lama, mengenang masa muda sambil melintasi pemandangan indah di pelosok negara masing-masing (Sawahlunto vs. Shimla-Ladakh).

  • Bhinneka Tunggal Ika:
  • Tokoh-tokohnya tampak bercampur dari latar belakang yang berbeda (asal-usul dari Siantar/Padang/Jakarta/Ciamis/Trenggalek/Madura vs. adat agama Hindu/Islam/Buddha{?})


  • Sistem kasta:
  • Sampai akhir 3G, tetap ada kesenjangan gaya hidup antara anak-anak kota yang bisa dapat kos di tempat elit, dengan empat kurcaci yang mengontrak satu petakan beramai-ramai. Sebuah jurang yang lebar, tak juga terjembatani oleh sistem pendidikan... maupun cinta.
  • Setidaknya di 3 Idiots kasta lebur dalam kehidupan asrama dan perploncoan yang menggelikan, walaupun lalu memunculkan "sistem kasta" baru berdasarkan peringkat nilai.
    (hmmm adegan perploncoan tak ada di 3G, kenapa ya.)

  • Pemuda kritis:
  • 3G terbebas dari tahap olok-olokan tak sopan terhadap "golongan tua" (dosen, orang tua dkk) ini, mungkin karena para penyusunnya (alumni ITB angkatan 80-an) rata-rata sudah mencapai kedudukan/jabatan tersebut sehingga tidak hendak "menepuk air di dulang". Ada demo yang segera surut, dan sedikit sindiran terhadap pemerintah secara luas.
  • 3 Idiots berisi cemoohan habis-habisan "golongan tua" terfokus kepada apa yang ada di hadapannya, yaitu tirani pendidikan kampus yang terpatok pada nilai sehingga mengesampingkan sisi kemanusiaan, namun sampai melakukan tindakan ekstrim yang tergolong pelanggaran wilayah pribadi, vandalisme, kriminal yang tidak patut. Pembenaran terhadap joki gelar?

  • Kondangan Makan Gratis:
  • Yang unik adalah, 3G sengaja menghapus satu adegan di buku mungkin supaya tidak ditiru, sementara 3 Idiots justru malah menambahkannya sebagai elemen cerita yang cukup vital. Adegan tentang usaha perbaikan gizi ke upacara pernikahan dengan hanya bermodal amplop kosong dan seragam pesta (kemeja batik vs. sorban merah jambu norak ituuuh).
    *Mahasiswa Asia sebelah manapun sama saja kelakuannya, ya*.



  • Para pembelot jurusan:
  • Kedua film menggambarkan orang-orang yang harus membelot ketika mengetahui dunianya tidak di jalur insinyur. Mereka tetap berusaha lulus pas-pasan, kemudian sukses menekuni karier di bidang hobi (musik vs. fotografi).
  • Tapi tidak ada pengaruh *ekstrakurikuler* terhadap nasib para mahasiswa ini. Dalam buku 3G, disebut sepintas lalu siapa masuk klub mana, namun tidak diperinci. Dalam 3 Idiots kehidupan mereka terkuras pada pengejaran nilai, sehingga hobi dilakukan sendirian di waktu senggang, tidak berkembang di lingkungan sesama teman kampus.

  • Agama dan Ibadah:
  • 3G meletakkan nuansa keagamaan pada ranah pribadi. Padahal tahun tersebut seharusnya cukup kental dengan gerakan Islamisasi kampus, ataupun agama lainnya. Namun mungkin semangat toleransi membuatnya memilih bersikap netral agar tidak menyinggung siapa pun.
    Kalau seorang alumni berdosa, bukan takut Tuhan, tapi "mencoreng nama baik almamater!!!"
  • 3 Idiots tampil dengan tokoh berbagai macam agama, yang dituduh akan terlupakan dalam setahun berkuliah, tapi kemudian membuat pernyataan: "tak perlu meminta macam-macam dalam doa, cukup berterima kasih kepada Tuhan karena hidup saja merupakan anugerah terindah". Oh
    bahkan tokoh utamanya merumuskan mantera/dzikir sendiri:
    Sebut AAL IZZ WELL tiga kali!!!

  • Penanggulangan putus asa:
  • 3G, tampil sebagai teladan memandang hidup lebih positif. Tidak ada tokoh yang diperlihatkan sampai bunuh diri hanya karena kegagalan akademis. Cukuplah terjun ke lapangan mengambil alih usaha (dan putri) MERTUA.
  • 3 Idiots, di sela humor heboh, mengambil jalur terapi kejut dengan mencatat tiga kasus bunuh diri, dilakukan oleh orang yang menghadapi tenggat waktu TA, ancaman dikeluarkan, maupun ujian masuk. Mungkin memang kasus seperti ini dianggap perlu mendapat perhatian khusus.


  • Alumni Sukses:
  • 3G menyeret nama-nama besar lulusan ITB yang berhasil wirausaha ataupun naik ke tampuk-tampuk kepemimpinan, tanpa ada yang dijadikan teladan contoh dikutip biografinya. Tokoh utama hanyalah alumni rata-rata yang tidak istimewa: yang pintar jadi profesor, yang pas-pasan pegawai kantor, yang bodoh jadi pedagang.
  • 3 Idiots di lain pihak menyatakan bahwa lulusan ICE terbaik sudah jelas jalan hidupnya: mereka akan meneruskan ke MBA lalu direkrut kerja ke Amerika. Dan itulah yang dikecam oleh para tokoh utama kita di sini.

  • Telekonferens:
  • Adegan awal 3G adalah berkerubungnya lima sahabat di depan layar menemui seorang lagi sahabat lama yang dengan sombongnya mengumumkan rencana masa depan. Terobosan teknologi yang menakjubkan bagi angkatan 80an, yang pasti kebanyakan masih gaptek sampai sekarang.
  • Klimaks 3 Idiots adalah proses persalinan aneh, yang terpaksa dilaksanakan oleh mahasiswa mesin dengan instruksi mahasiswa kedokteran melalui webcam sinyal wifi, dan mempelajari simulasi konyol melalui YouTube! Sesuatu yang semestinya belum ada di masa mereka kuliah, jika benar seangkatan saya.

  • Pemeran Bangkotan:
  • Dalam 3G, para pemeran berusia sekitar 27-35an, secara gaya, tampang, gerak-gerik masih cukup imut sebagai remaja 18an. Tapi gagal total ketika mulai melafalkan naskah: mereka tampak tidak yakin terhadap makna kata-kata mutiara yang mereka ucapkan (yang memang meragukan). Apalagi ketika mereka kemudian harus tampil berusia setengah baya, semakin tampak kurang matang.
  • Sutradara 3 Idiots nekad memilih pemeran "tua" usia 40an, sehingga mereka sanggup mantap menghayati filosofinya. Cukup kuruskan tubuh dan rias wajah, selebihnya serahkan pada efek visual, voila, beralih rupa sebagai pemuda culun
    (toh mahasiswa India rata-rata bertampang boros!)



  • Emansisapi di Dunia Insinyur


  • Di dunia 3G, ada tokoh utama perempuan insinyur, cerdas, cantik, dan berasal dari Padang. Tapi dia jual mahal, punya ketertarikan khusus terhadap lelaki yang dianggap berderajat "lebih rendah" (lebih muda/miskin/jelek/bodoh?) daripadanya. Semakin jatuh derajat sang lelaki (mis. pincang) sesungguhnya itu hanya menambah ketertarikannya (jadi ingat Jane Eyre). Oookey, apakah itu cinta sejati, atau obsesi untuk mewujudkan *apa yang dia pandang sebagai* cinta sejati???

  • Dunia 3 Idiots hitam-putih dalam hal pengarusutamaan gender. Yang menjadi insinyur hanyalah lelaki. Perempuan pastilah jadi dokter yang siap dinikahkan dengan insinyur yang sukses kaya, dan itu belum tentu cinta, boleh jadi sekadar alat untuk meningkatkan derajat dalam pandangan orang banyak.

  • Sebagai satu dari segelintir perempuan langka yang mengecap pendidikan insinyur, memang kasus ini juga saya alami sendiri.
    Mendiknas RI menyatakan bahwa beliau dulu sempat membuka PMDK khusus untuk MAHASISWI jurusan teknik mesin, sekadar siasat jitu memicu mahasiswa kucel agar RAJIN MANDI!!! Gaaaaah...


  • Si Jenius


  • Apa yang bisa dicapai oleh lulusan terbaik ITB? Menurut 3G, hanya suatu semangat baru eksploatasi sumber daya alam alternatif, yang masih tergantung pada kerja sama dengan pihak akademisi dari negara penjajah. Ahahahahha.
  • Tokoh yang digambarkan paling pintar ceritanya adalah yang paling kampungan, pendiam, kalem, tapi bisa menyelesaikan soal-soal rumus tersulit dengan tangkas dan cekatan.
  • Kasih tak sampai karena minder terhadap cewek independen (juga gara-gara diwanti-wanti emak dan segan ke teman). Akhirnya dia menyia-nyiakan pacar pelampiasannya di kota demi dinikahkan dengan saudara sepupu di kampung.
    (Yang jelas, dialog dengan sang calon istri di buku pantas saya lempari tomat, untunglah dalam film diganti konteksnya.)
  • Dan beberapa tahun kemudian dia bertemu kembali dengan kecengan lama, OMG WTH DNA the old flame is still there!?? Ahaha Ariyo Wahab berhasil jadi tokoh yang itebeh banget...

  • Di lain pihak, 3 Idiots berhasil menampilkan insinyur ideal, yang ahli mencipta, bisa mencari jalan keluar dari masalah yang rumit dan mendesak, punya banyak paten, dan mendirikan sekolah kreatif untuk mendidik anak-anak menjadi MacGyver atau Master Keaton (yang dua ini sih bukan insinyur: satu ahli fisika terapan, satu lagi arkeolog, tapi siapa lagi dong insinyur yang bisa jadi teladan?)
  • Tokoh utamanya ini fenomena yang aneh bin ajaib, sudah mah ganteng, baik hati, setia kawan, cerdas teliti, inovatif pula. Tapi secara dia banyak mengkritik sistem perkuliahan kampus, apakah kehebatannya ini hasil didikan orang tua yang berasal dari ***sensor***, atau memang dia terlahir sebagai malaikat?
  • Sayangnya dalam urusan cinta, walaupun blak-blakan memberi perhatian terhadap gadis yang ditaksirnya, dia baru berani menyatakan cinta demi memenangkan taruhan dan menjadi teladan bagi teman-temannya.
  • Lalu karena satu dan lain hal menyia-nyiakan sang gadis tanpa kabar selama sekian tahun, hanya menyimpan helm kenangan, tenteram di kampung menunggu dikejar dengan skuter. GEEEH
    Tipikal calon profesor pikun. Untung cakep si Aamir Khan, ya.

macgyver...
Hmmmmm, kayaknya saya mau cerita tentang sistem pendidikan keinsinyuran, tapi kok malah terjebak ngomongin gombal-gombalan cinta dan perjuangan nasib perempuan lagi yak.
Yang jelas belum dapat dipastikan, siapa yang bisa duluan di antara insinyur Indonesia dan India, mencanangkan perngumuman semacam Anthony E. Stark...
"I have successfully privatized World Peace!!!"


Yah daripada 3G yang terasa hanya setengah hati menawarkan solusi (dan mungkin juga sudah tidak beredar lagi di bioskop) tentu mendingan film-film itebeh lain yang lebih jelas arahnya seperti
JomBlo (mahasiswa sipil yang lebih repot cari pacar daripada kuliah) atau cin(T)a (mahasiswa arsitektur yang sibuk mengklaim Tuhan, mumpung sudah keluar DVDnya)...

Atau film terbaru Deddy Mizwar "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)", usaha para sarjana memecahkan masalah kronis kemiskinan.
Sayangnya karena mereka bukan insinyur, tidak sempat saya bahas di sini. (Silakan tonton sendiri, dijamin tidak rugi...)

Ada lagi bagi perempuan lajang usia 30-an yang mungkin berminat mengejar insinyur, bisa sekalian menonton pameran angkutan kota Thailand di รถไฟฟ้า..มาหานะเธอ (BTS: Bangkok Traffic love Story)... Moral cerita ini, rusakkan peralatan canggih di sekitar sang insinyur, itu bisa membuka peluang pedekate, asalkan mereka nggak bete; tabahlah ditinggal-tinggal pergi; gunakanlah angkutan kota; dan bersiaplah menyesuaikan jadwal kerja yang tidak biasa, hohoho hoho.

Bagaimanapun juga film 3 Idiots sangat layak tonton di bioskop, mumpung masih ada di Blitz, atau bisa diakses di YouTube...
Film ini akan membuat kalian pulang dengan mata sembap tapi cengar-cengir sambil berjoged-joged, kemudian bersenandung lirih,
"Give me some sunshine, give me some rain... ♫♪
Give me another chance, I wanna grow up once again... ♪♪♫
naa naa nanana, nananana... "


Rabu, 21 April 2010

Cinderella (ella-ella, eh-eh-eh-ooo)

"Cinderella Complex" adalah sebuah istilah yang dikemukakan oleh Colette Dowling, bukunya terbit pada awal 1980an, entah ayah atau ibu saya kebetulan punya, diletakkan di rak sebelah atas koleksi dongeng-dongeng peri saya sehingga judulnya saja sudah cukup menghantui mimpi-mimpi masa balita saya.

cinderellacomplexIsinya tentang suatu keinginan tak sadar perempuan untuk diurus oleh orang lain, terutama didasarkan pada ketakutan akan kemerdekaan. Masalah ini akan tampak semakin nyata seiring dengan bertambah usia. Aspek penting dari karya ini dapat dijelaskan sebagai identifikasi salah satu pencetus sindrom yang menyebabkan fenomena yang lebih besar seperti mengapa perempuan memilih untuk mempertahankan hubungan yang gagal.

Kompleks ini dinamai seperti tokoh dongeng peri Cinderella, yang menggambarkan citra perempuan sebagai cantik, anggun dan sopan tetapi tidak sanggup berdiri sendiri sebagai tokoh yang kuat dan merdeka sehingga harus diselamatkan oleh suatu gaya dari luar, biasanya seorang laki-laki (Pangeran Tampan).
Dowling berusaha menjelaskan betapa kondisi tersebut bukanlah sifat yang alami, melainkan endapan budaya, hasil didikan masyarakatlah yang menuntut perempuan untuk bersikap ketergantungan dan laki-laki untuk tidak demikian.

Sayangnya pendapat tersebut hanya berdasarkan satu pengalaman pribadi sang penulis, dan tentunya tidak dapat disamaratakan sebagai pengalaman perempuan yang dibesarkan dengan cara yang berbeda. Apakah perempuan yang tidak dididik demikian sudah pasti terbebas dari kompleks tersebut? Atau, jangan-jangan sebenarnya itu sudah terpatri dalam naluri perempuan pada asalnya, mau dibesarkan dengan cara apa pun?

Apalagi, pendapat tersebut hanya berlandaskan penggambaran Cinderella dalam karya Perrault, yang mendoktrin perempuan beradab "kalangan atas" bahwa mereka haruslah penurut, menunggu dengan sabar untuk diselamatkan, berkaki kecil jarang jalan-jalan, pasif tidak punya inisiatif sendiri, menyerah dihina dan ditindas oleh saudara tiri tanpa mengeluh, bergantung kepada ibu peri, dan kemudian menerima pelindung yang lebih permanen, yaitu suami. Sebagai seorang perawan, dia tidak punya kewajiban memperjuangkan dunianya agar menjadi lebih baik. Dia rela diperbudak dengan tertekan dan penuh penderitaan, terampil dalam urusan rumah tangga namun tidak menikmatinya.

Masih mendingan Cinderella dalam catatan Grimm bersaudara yang dikumpulkan dari kabar rakyat jelata, digambarkan bahwa perempuan itu cerdik, punya banyak gagasan dan daya upaya untuk membebaskan dirinya sendiri. Walaupun saudara-saudara tiri melakukannya dengan cara yang gore sampai mengiris kaki ... Namun tetap saja seperti di adat-istiadat negeri asalnya (Cina?) kisah ini masih sarat dengan pemilahan antara perempuan bangsawan (dengan ciri berkaki kecil karena sengaja dibebat sejak lahir) yang tidak pantas diserahi pekerjaan rumah, dan perempuan rakyat jelata yang kakinya pastilah tak muat di sepatu kaca.

Confessions of an Ugly Stepsister menceritakan sudut pandang lain dari kisah ini dengan lebih membumi. Cinderella adalah anak yang cantik dan besar dimanja, sedangkan ibu tirinya kerepotan menanggung suami yang sakit dan usaha yang bangkrut. Turunnya Cinderella ke dapur adalah tuntutan hidup. Dia sengaja memoles wajah dengan arang agar tidak diganggu oleh lelaki sembarangan. Sementara saudara tirinya berbakat seni dan bisa menemukan kebahagiaan hidup sendiri.

***

Di masa kini, Cinderella berlagak sebagai seorang tante-tante berambut pirang pemilik toko sepatu, yang tidak mengelolanya dengan baik, malah asyik jalan-jalan belanja ke luar negeri. Dia masih berkeluh-kesah menyesali pernikahannya di masa lalu dengan Prince Charming, karena sebagai istri resmi ketiga (!) dia kehabisan manis sepahnya.

Di antara perkumpulan arisan mantan-mantan Prince Charming (Snow White dan Sleeping Beauty), si pegawai toko "The Glass Slipper" yang kerja keras dan ide cemerlangnya selalu dipandang sebelah mata (Crispin Cordwainer, pembuat sepatu dalam kisah the Elves and the Shoemaker), maupun penduduk lain di pelosok Fabletown (tempat para tokoh dari cerita peri kini mengungsi), tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya selama ini Cinderella punya kegiatan utama yang sangat rahasia, sebagai mata-mata paling handal yang menikmati pekerjaannya.

Demikianlah sosok ini ditampilkan dalam dunia FABLES - komik Amerika milenium yang cukup menarik dalam menampilkan intrik-intrik politik. Seperti tokoh-tokoh cerita peri lain di komik ini, perwatakan Cinderella masih sesuai dengan cerita asli: kegiatan mata-mata adalah urusan penyamaran yang tepat, pemanfaatan alat, senjata sepatu, serta kepatuhan akan tenggat waktu. Namun di dunia "nyata" ini, "bahagia selamanya" tidak ada dalam kamusnya.

Komik yang terlalu Amerika, namun patut untuk diperiksa sesekali.

from fabletown with loveBabak berikut berkisah dalam satu misinya, Cinderella bertemu saingan yang setara dari negara "sahabat": orang yang berlatar belakang kurang lebih sama, naik derajat dari tanah penuh abu dan debu ke singgasana bangsawan melalui kekuatan sihir (Aladdin).
Dia pun harus menghadapi pertanyaan dan kecaman tentang gaya hidupnya yang sekarang dari sang makcomblangnya dulu (Fairy Godmother) yang pernah menjerumuskannya dalam perjodohan dengan pangeran yang telah menduda dua kali...

Menurut sang pengarang, cerita ini seperti "On Her Majesty's Secret Service meets Sex in the City" yang masih sejalan dengan alur utama "Fables".

From Fabletown with Love 01 02 03 04 05 06

Untuk serial Fables selengkapnya, kalau berkantong kempes seperti saya sekarang, cari saja bajakan pindaian di situs-situs Rusia...

***
Kaki saya sendiri termasuk kecil (ukuran 35/22 cm, beli sepatu harus model anak-anak) tapi bentuk kaki petualang tak kan sanggup dikurung sepatu kaca. Makanya saya pribadi kalau diperbolehkan, akan pilih Snow White Complex. Bukankah rambut saya tidak pirang melainkan hitam, kulit saya juga sedikit lebih putih daripada rata-rata, dan bibir saya pastinya akan merah sehabis makan sambal. Mungkin bukan Putih Salju seperti yang digambarkan di komik tersebut, tapi yang jelas tentu saya akan lebih suka berhaha-hihi dengan tujuh kurcaci, seandainya untuk menemukan pangeran tampan berarti harus pingsan dulu menelan racun apel. Apalagi saya tidak suka apel, jauh lebih enak buah-buahan pribumi seperti pepaya mangga pisang jambu duku durian salak dari Pasar Minggu. Belimbing, alpukat dan nanas juga boleh deh... Atau, kedondong. Seandainya tertelan biji kedondong kan lumayan heboh dan memalukan tuh.

Oh ya, tahu tidak, ternyata kedondong itu bahasa Inggrisnya Ambarella (ella-ella, eh-eh-eh-ooo)?

Tulisan-tulisan sebelumnya terkait urusan perempuan: