Selasa, 25 September 2007

[Buku] GARIS (Wina SW1)

garis-winasw1Buku kumpulan puisi tunggal Kak Wina yang pertama, diluncurkan bulan September ini berturut-turut di Aceh, Jakarta dan Kyoto.
Syafwina Sanusi Wahab (38) ini teman nongkrong nonton bioskop dan lawan berdebat di Kyoto, seorang perempuan Aceh yang sangat hiperaktif bergaul dan melakukan beragam hal.
Hanya saja kecenderungannya untuk selalu terjun berkesenian dan berorganisasi tampak berbenturan dengan tugasnya menuntut ilmu di negeri orang dan kodratnya sebagai perempuan (???)

Namun mungkin apa pun pengalaman beliau takkan pernah sia-sia, semakin mengasah kepribadian dan keterampilan mengolah bahasa.
Oke Kak Wina, cepat lulus, cepat nikah yah.


ACEH KEKASIHKU



MENCINTAIMU, Acehku
bagaikan menari di dasar samudera
bergerak tanpa suara, tanpa udara, tanpa cahaya
tak peduli lautan
menahan likok yang terus kutarikan dengan susah payah
melayangkanku dalam gerakan tanpa pola
ketenangan dunia bawah laut yang memabukkan
memenjarakanku dari dunia penuh cahaya di atas sana

Mencintaimu, Acehku
bagaikan terdampar di gurun tak bertuan
pasir dan angin menjadi lasykar badai
memutingbeliungkan semua langkah dan gerak
matahari membakar segala hidup
menghanguskan segala mati
fatamorgana jadi batas dua dunia
ketika rindu air tak pernah habisnya mengaliri jiwa

Mencintaimu, Acehku
tak pernah mudah
terkadang hati pun nyaris beku
peperangan dalam diri yang tak pernah usai
darah saudara yang terus memerahi bumi
mimpikan damai jadi bingkisan masa depan
bagi anak-anak kita

Mencintaimu, Acehku
adalah cinta tanpa batas
walaupun segala menikam dari segala sisi
rinduku padamu
tanah pembaringan sejuta syuhada
pentas seribu hikayat
negeri seratus pulau sepuluh bahasa
takkan pernah usai

Suara pucuk-pucuk karet dan sawit di bumi Tamiang
aroma pala, nilam dan birunya pantai Barat Selatan
rimbunnya Leusar di tanah Alas
dan hamparan bukit barisan
wangi kopi dan tepuk didong di tanah Gayo
tarian ikan aneka warna di dasar Iboh
legenda Simeulu yang tak pernah habis
dan tanah Pase yang mengawali aqidah ke bumi nusantara
suara senda pembuat emping, penyulam kasab dan kupiah riman di tanah Pidie
syair penari likok dari Pulo yang memabukkan

Rinduku padamu takkan pernah habis, Acehku
seteguk kopi panas dan sepotong jeumpahan di keude Beurawe,
kuah beulangong dan si manok di samahani
atau wajah-wajah bahagia pejual sirih dan pedagang kakilima
dengan panyot ceulot
di rusuk mesjid Baiturrahman yang melantunkan syair agung
Darussalam yang terus membuka pintu dunia
mengajarkan ilmu hati bagi sang penerus

Mencintaimu, Acehku
bagaikan suara azan bagi meunasah dan mesjid-mesjid
terus saja berkumandang setiap hari
mengalirkan kesejukan setiap hari
mengalirkan kesejukan dan kepasrahan pada sang Ilahi Rabbi

Aceh Kekasihku,
walau seribu perih menikam
dan secuil bahagia terus saja dirampas
aku akan selalu mencintaimu.

Lambhuk, 25 Februari 2007 (Wina SW1)

kanTipuccino

cintapuccinoposterDear nCha,

Aku akhirnya menonton juga cinTapuccino. Berdasarkan cerita dan gosip kau sebelumnya, pengambilan gambar yang singkat dan terburu-buru dsb, aku sudah siap mental... Hanya tinggal mengobati rasa penasaran, how low can u go?

Yang paling banyak dikeluhkan orang adalah penokohan Nimo. Hal itu memang tidak sempat dijelaskan dengan gamblang dalam buku, mungkin karena kau segan untuk menyatakan pendapat mengenai siapakah Nimo itu menurut kau sendiri, atau karena kau memang sudah keburu luluh sebelum sempat mengenal baik seorang Nimo? Atau agar bayangannya bisa disesuaikan dengan khayalan masing-masing pembaca cewek, sosok Nimo masih tetap tersamarkan, bahkan ketika Rahmi berhasil meraihnya. Ini kelemahan utama buku kau, yang seharusnya bisa ditebus dalam film.

Namun misinterpretasi penokohan Nimo menjadi mellow ala melayu dan imut-imut pula begitu, ternyata tidak separah yang aku duga. Masih bisa aku terima sebagai “logika dalam”: yah maklumlah, siapa sangka logat norak menyedihkan begitu memang selera si Rahmi bloon itu, misalnya. Kekurangannya adalah dalam mengambil sudut penyorotan untuk membingkai para pemain secara nyeni. Banyak kok teknik perfilman yang mampu mengangkat sosok keren seseorang dengan kemampuan akting pas-pasan, hanya dengan membuatnya menyunggingkan ujung bibir, memiringkan kepala, berbicara cukup sepatah dua patah kata, sudah dapat memberikan kesan misterius yang mempesona. Film China all stars biasanya bisa begitu.

Tapi yang terparah di sana adalah kegagalan naskah skenarionya mengadaptasi wacana yang timbul dalam karya kau itu.

Setidaknya, di dalam buku tergambarkan bagaimana obsesi seorang ‘Rahmi’ menjadikan seorang ‘Nimo’ --seperti apa pun dia-- sebagai “raison d’etre”nya. Rahmi tidak hanya mengimpikan Nimo dalam catatan harian berwarna pelangi yang terkunci rapi. Dia aktif bergerak maju dengan berusaha membuka kesempatannya sendiri: berjuang ‘menguntit’ Nimo masuk ekskul yang sama, terus kuliah di kampus yang sama, sampai kerja ke perusahaan yang sama segala...

Walaupun ujung-ujungnya, gara-gara selalu grogi dan salah tingkah, ia tidak pernah sanggup memanfaatkan kesempatan yang telah terbuka itu untuk berkenalan lebih dekat, dalam satu sisi hal tersebut positif, mendorongnya mengembangkan diri ke satu tujuan hidup.
Sampai suatu saat, berkat kehadiran Raka baik secara langsung maupun tidak langsung, Rahmi tersadar bahwa dia harus mulai menentukan jati diri, bukan sekadar menjiplak jalan hidup orang yang dikaguminya. Ia berbalik arah. Dan mungkin keputusan itulah justru hal yang membuat seorang Nimo mulai memperhitungkan Rahmi.

Alur seperti itu tidak diwujudkan dalam skenario film, entah terlewatkan, atau memang disengaja demi pembodohan bangsa.
Adegan-adegan sia-sia yang disorot seakan mengesankan bahwa apa yang terjadi pada diri Rahmi semuanya taken for granted. Dia hanya merokok demi menghindari konflik. Satu-satunya yang dia lakukan hanyalah ketika menggenjot gas mobil mencari toko surabi. Tali pengikat cerita film ini kok ya malah jadi surabi, bukan kopi. Filosofi mantap yang diajukan mengenai manis pahitnya cappuccino, pun tidak disinggung dengan tepat. Kalau begitu judulnya jangan cinTapuccino, tapi Serba-Serbi Surabi saja!


Seandainya ini adalah kanTipuccino...



Aku akan membuat adegan-adegan yang simetris bolak-balik antara masa sebagai anak remaja SMA sampai masa sebagai orang dewasa berpenghasilan. Satu catatan, harus ada perubahan gaya rambut, gaya busana, dan gaya bicara yang signifikan.

Aku akan menyimpulkan saja bahwa di balik berbagai kelebihan dirinya, Nimo itu orang yang egois, narsis, arogan (seperti Shuri dalam Basara, misalnya) tapi justru itulah daya tarik yang membuat Rahmi tetap cinta buta.

Aku akan bersusah payah mengekspos andil sebuah ‘ekskul keamanan’ dalam kekacauan ini. Bukan sekadar kilas balik lari-lari dalam hujan dan kena razia. Mungkin saja di antara Rahmi dan Nimo terjadi dilematika yang bisa disebut ‘para-Stockholm Syndrome’ (atau pseudo-? halah). Atau ada kesenjangan komunikasi antara yang mendiklat dan yang didiklat, sehingga walaupun sudah berhasil berjuang menjadi satu ekskul, satu kampus dan satu perusahaan, masih tetap ada jarak dan dinding pembatas.

Aku juga akan membuatnya lebih time-sensitive. Aduh, orang Bandung tahun 95 mah bicaranya sayah-kamuh, bukan elu-gue! Lalu bagaimana para tokoh utama berhasil melampaui berbagai gejolak krisis moneter, reformasi, tonggak-tonggak sejarah Indonesia? Apa pengaruhnya bagi mereka. Sempatkah mereka ikut bersemangat demonstrasi, atau tidak mau ambil pusing pada urusan politik?

Kebudayaan khas ‘Indonesia asli’ yang menjadi semboyan chicklit kau itu, akan aku olah lebih dari sekadar tempelan. Bagaimana mereka akan merencanakan pernikahan bukan di aula hotel yang berlatar bar minuman keras, melainkan di teras rumah ke halaman sampai menghalangi jalan raya. Bagaimana keberadaan orang tua, terutama nenek-nenek cerewet yang heboh itu ternyata berpengaruh jauh lebih kuat dalam keputusan-keputusan yang akan mereka ambil, daripada sekadar nasihat sambil lalu antara berhenti merokok demi calon suami atau kembali merokok gara-gara patah hati. Menyirih sajalah sekalian.

Lalu aku juga akan mendidik tokoh Rahmi, yang semasa SMA hanya mampu membandingkan seseorang dari penampilan luar, agar lebih menghargai sisi lain dari diri seseorang. Siapa tahu Reta sebenarnya cewek berbakat hebat! Seandainya tingkatan Reta memang hanya sebatas materi yang melekat di badannya, dan Nimo sempat menyukai Reta, masa sih Rahmi rela membuang usia demi mengejar seorang Nimo yang berselera rendah!

Selain itu, latar distro juga akan aku manfaatkan sebagai kesempatan membuat “fashion statement” mencetuskan suatu trend baru di masyarakat. Nodame Cantabile yang bercerita seputar dunia musik saja, bisa menggebrak dengan setelan home-made one-piecenya sehari-hari yang sederhana tapi unik itu! Cerita kali ini sudah jelas menyorot distro, tinggal dieksplorasi lebih jauh apa jenis baju yang dijual, disesuaikan dengan tokoh-tokohnya masing-masing. Ini bukan sekadar factory outlet, tapi perlu ada visi dan misi yang tegas dalam desain produknya, sesuai dengan nama Barbietch misalnya.

Patut disayangkan Cha, potensi yang banyak dari chicklit satu ini kau korbankan ke pasar komersial demi ‘tumbal’ untuk batu loncatan membuat film berikutnya kapan-kapan. Padahal, novel debutan lain yang digarap secara jarak jauh, bisa saja tuh menghasilkan film yang lumayan. Seandainya memang mau menumbalkannya, kenapa tidak sekalian saja kau serahkan kepada LFM untuk diolah oleh para amatiran, misalnya?

Tapi masih ada kesempatan memperbaiki, kan. Bikin saja sinetronnya, tapi jangan tanggung-tanggung lagi! See ya!

Senin, 24 September 2007

[Buku] 40 Hari di Eropa

40daysineuropeJudul: 40 Days in Europe: Kisah kelompok musik Indonesia menaklukkan daratan Eropa.

Ketika mengangkat kebudayaan angklung, dengan sasaran pembaca Indonesia, mengapa harus menggunakan judul bahasa Inggris?
Sok go-international?
Berusaha menyaingi chicklit?
Memangnya siapa sih yang ditaklukkan?
Menyedihkan rasanya, bahwa pola pikir terjajah seperti ini masih tetap melekat di kalangan remaja kita.
Membuat konser dalam negeri saja masih kelabakan, bisa-bisanya nekat berangkat ke londo sana.

Penulis: Maulana M. Syuhada

Cerita dalam buku ini adalah pengalaman sang penulis menggiring pasukan angklung almamater kami di enam negara eropa tiga tahun yang lalu. Berkat patah kaki gara-gara main bola akhir tahun lalu, beliau sempat cuti dan menyusun naskahnya dengan leluasa.
Darth Maul ini mantan ketua OSIS SMA angkatan saya. Manusia yang sangat aktif berorganisasi. Selama di sekolah beliau sendiri sama sekali tidak pernah ikut ekskul angklung kami. Baru setelah terdampar jauh di negeri seberang, beliau mulai menekuni kesenian. Akibatnya, guru-guru sekarang mengira beliau ini ketua KPA3 angkatan 96.

Penerbit: Bentang Pustaka

Mengapa mengambil penerbit dari Yogyakarta sedangkan cerita ini sepenuhnya berangkat dari Bandung? Karena Bentang Pustaka adalah lini yang menerbitkan novel Andrea Hirata, dan kompeten dalam mengolah memoar, katanya.

Jenis: Memoar

Pengelompokan buku ini ke dalam 'memoar' cukup menggelikan bagi saya karena sekitar setahun yang lalu seorang bos saya yang lain pernah bersikeras menolak istilah 'memoar' yang berarti kenangan. Bagi beliau, buku beliau merupakan 'catatan harian' karena ada bukti-bukti lengkap tertulis. Kebanyakan isi buku bos Maul ini juga diambil dari bukti-bukti tertulis, mengerahkan segenap cache dari hard disknya, jadi seharusnya juga bukan memoar.
Dan lebih membingungkan lagi ketika tercetak di sampulnya rekomendasi Ninit Yunita (novelis), satu-satunya pihak andalan dari kalangan awam (yang bukan akademisi ataupun orang kedutaan), bahwa
"Novel ini membuat saya ingin kembali menjadi siswa SMU!"
- entahlah memoar atau catatan harian, buku ini jelas berisi kejadian nyata, bukan novel.
- Anak-anak SMA SMUnya sendiri hanya anak bawang, pion-pion. Tokoh utamanya justru para sesepuh pengiringnya baik yang mahasiswa, lulus S1 maupun S2.
Setelah dikonfirmasi kepada sang penulis, beliau membela bahwa Ninit telah membaca naskah awalnya sebelum berkomentar. Apakah Ninit tidak tahu perbedaan antara catatan dan karangan, atau jangan-jangan memang ini strategi yang disengaja untuk mengecohkan dan meningkatkan penjualan? Kalau mengincar laris manis, kemas saja sebagai chicklit sekalian atuh!

Tebal: 572 halaman

Aduh, Harpot 1 sampai 4 saja belum setebal ini. Sebagian adalah akibat banyaknya berkas e-mail yang dikopipes mentah-mentah, tidak diatur sesuai ukuran halaman, sehingga terpatah-patah. Lalu balasan di bawahnya masih mengutip surat sebelumnya berturut-turut. Isinya pun kadang-kadang diulas juga sebagai rangkuman di dalam narasi, sehingga hal yang sama akan terbaca berulang-ulang dan melelahkan. E-mail berbahasa Inggris dibiarkan sementara bahasa asing lain diterjemahkan. Kalau konsisten menulis dengan bahasa Indonesia, seharusnya terjemahkan saja semua atau tidak sama sekali.
Fontnya kacau-balau. Huruf yang dipilih untuk membedakan e-mail, sms, dan tulisan tangan, tidak enak dibaca. Huruf miring dan tegak pun tercampur aduk karena salah atur.


Isi (spoiler abisss)


Padahal dengar-dengar sih ya, judul aslinya "30 tahun mencari cinta" tapi jangan harap menemukan kisah cinta yang menarik di sini. Ada sih disinggung kisah anak-anak memanfaatkan latar Eiffel buat jadian, atau bahwa sang penulis sempat patah hati dengan bule kampung, tapi itu pun hanya sepintas lalu, gak ada romantis-romantisnya acan.

Judul resminya 40 hari, tapi ceritanya merentang sepanjang 2 tahun dilengkapi kilas-kilas balik yang lebih mengekspos kemasyhuran diri pribadi sang penulis zaman menjadi ketua ini itu melaksanakan ana anu. Bikin buku lain saja, di buku ini nggak perlu itu mah!

Ada kerancuan yang timbul. Ketika setiap membeli barang kebutuhan sehari-hari saja beliau mempertimbangkan dengan konversi harga donner kebab, mengapa berani terus maju menyelenggarakan kegiatan yang telah dipastikan kekurangan dana?

Dari alur ceritanya ternyata ESA 2004 nyaris batal karena kegagalan tim memperoleh dukungan baik dari orang tua, alumni maupun pihak luar. Keberangkatan tetap terjadi karena sang penulis bersikeukeuh meyakinkan tim untuk meneruskan kegiatan, berhubung beliau terlanjur memesan tempat dan waktu di beberapa negara.
Beliau memang jenis orang keras kepala yang tidak pernah mau kenal kata mundur tiga langkah untuk ancang-ancang melakukan loncat jauh. Dalam beberapa keadaan antara hidup dan mati, itu suatu keunggulan karena beliau dipercaya banyak orang. Namun dalam keadaan tidak mendesak yang seharusnya bisa dibatalkan dengan baik-baik dan penuh pengertian, itu menjadi kelemahan.

Lalu ucapan puji-pujian kepada orang-orang kedutaan yang memberikan sumbangan pun diobral secara gombal. Lho kok baru minta uang setelah tiba, tidak dicolek sejak awal? Bukankah lobi-lobinya sudah sejak kapan tahu.

Mungkin akhirnya ada sepercik kemenangan dan pengalaman hidup yang diperoleh anak-anak selama di sana, tapi bahwa sempat sampai berutang sebesar sekian ribu euro, bagi saya itu kekalahan.
Angklung untuk mengamen, masih ok, tapi BUKAN UNTUK MENGEMIS.
Untungnya, tsunami yang menghempas turut membantu mereka meyakinkan pihak festival agar membebaskan utang tersebut. Kalau begitu bayarnya ke korban tsunami dong! Pertanggungjawabannya bukan kepada bule-bule, tapi kepada Yang di Atas!

Apakah dengan manual buku ini, ada yang bisa regenerasi dengan mengirimkan tim kembali ke sana? Banyak kelompok seni lain yang bisa sukses pentas ke eropa, baik yang dimodali sponsor dengan rapi, atau orang tua rela membiayai dengan ringan hati, maupun yang langsung ditanggung beres oleh KBRI setempat, dst, kenapa harus meneladani yang berutang. Masa, tiap keberangkatan tim angklung harus terjadi tsunami.

Kalaupun misalnya tujuan buku ini adalah untuk mengajak anak-anak belajar dari kesalahan, maka sasaran pembaca haruslah siswa SMU, tapi untuk itu cerita seperti ini masih perlu disadur, dikemas lagi untuk kepentingan yang lebih populer.


Penilaian


Bintang 1: Karena baik-buruknya cerita ini tetap berkaitan dengan angklung. Walaupun ternyata fokusnya adalah sang penulis dengan segenap lobi-lobinya, dan belum sampai ke tahap pengenalan terhadap jati diri angklung itu sendiri. Apa pun motivasinya, jarang-jarang orang patah kaki menyempatkan diri mengangkat tema ini.
Bahwa kegiatan beliau ini telah berbuah sebagai suatu karya, patut dicemburui...

Bintang 2: Karena berani malu demi melengkapi paparan. Walaupun setelah saya mengorek cerita para peserta yang lain dan menguping wawancara beliau di sana-sini, ternyata masih banyak lagi konflik internal penting yang dipendam, dan kebrutalan-kebrutalan anggota yang disensor, entah sengaja tidak dituliskan demi perdamaian abadi atau memang luput dari pengamatan karena hanya menggunakan satu sudut pandang.

Bintang 3: Karena saya kebagian buku gratisan bertanda tangan hasil antrian dan todongan di acara peluncuran, sehingga kalau tidak menambah bintang lagi, bisa-bisa saya digilas oleh para penggemar beliau yang tersebar di enam negara. Cape deeeeeh.
Tapi sebagai tebusannya, I regret that he just lost my vote in everything else. Not that it would affect him in any ways...

Ketika saya sampaikan pendapat awal saya terhadap buku ini, beliau bertahan dan menuduh saya over-cofident secara berulang-ulang (kurang satu n, mungkin sengaja ada maksud tersiratnya). Tapi sebagai yang mengalami suka-duka berjuang di pengorganisasian ekskul dengan kesehariannya, saya rasa pendapat baik anggota tim muhibah tersebut maupun yang berada di belakang layar, masing-masing perlu dipertimbangkan masak-masak dalam buku ini sebagai kegiatan bersama, bukan one man show. Bukankah itu intisari kegiatan angklung itu sendiri?
Pada dasarnya saya kecewa ketika tersirat bahwa beliau memperlakukan angklung lebih sebagai ajang membentuk citra diri, tantangan olahraga yang harus dimenangkan, atau tunggangan politik demi menembus diplomasi birokrasi. Kemurnian kesenimanan beliau sendiri sesungguhnya masih tanda tanya.

Jumat, 21 September 2007

Bubar Slugger

Sejak terpesona 20th CB, reuni selalu menjadi ancaman yang menakutkan... Syukurlah untuk kelompok yang satu ini, mereka belum begitu berubah. Kecuali sudah berperut buncit, berdompet tebal, dan berbuntut banyak... Ada juga rekan yang baru saja jadi seleb berkat menerbitkan buku (yang menurut rekan lainnya pasti berjudul 30 tahun mencari cinta... hyahaha haha haha)

Kumpul-kumpul 15 September maghrib di Atm, dilanjutkan dengan petualangan 'Pajri van Java'.





Rabu, 19 September 2007

Audisi-Audisi!

Audisi-audisi untuk para gadis manis penggemar manga.

Audisi Topeng Kaca


Bagi yang berminat menjadi tokoh utama (Maya atau Ayumi) dalam opera sandiwara musikal Garasu no Kamen (Topeng Kaca)...

Syarat: Pada bulan Agustus 2008 berusia sekitar 16-25 tahun, percaya diri dalam olah suara, siap latihan mulai Juni 2008 dan tampil di panggung mulai September 2008.

Batas waktu pendaftaran: 21 September 2007. Silakan klik di sini...
audisitopengkaca

Audisi 20th Century Boys


Bagi yang berminat menjadi tokoh utama Endou Kanna, sang primadona dalam film layar lebar 20th Century Boys...

Syarat: Usia berapa pun, asal mampu memerankan Kanna yang berusia sekitar 17-21 tahun. Bisa menyesuaikan jadwal pengambilan gambar sepanjang tahun 2008.

Batas waktu pendaftaran: 31 Oktober 2007. Silakan klik di sini...

audisi20thcenturyboys

Mohon maklum kalau segenap proses penerimaan berlangsung dalam bahasa Jepang... heuheuheu heuheu heuheu!

Kamis, 13 September 2007

Normalisasi Jepang

Kebijakan LN Indonesia terhadap Jepang yang 'normal'



Diskusi JF

Banyak orang Jepang sendiri tidak menyadari bahwa Jepang selama ini adalah negara yang terlucuti. Mereka tidak punya tentara, namun dengan demikian mereka juga tidak perlu menanggung beban keamanan, dan dapat fokus terhadap pembangunan ekonomi secara maksimal.

Perubahan resmi Badan Pertahanan Jepang menjadi Kementerian Pertahanan Jepang pada Januari 2007 disebut oleh (mantan) Perdana Menteri Abe Shinzo sebagai "sebuah peristiwa yang menandai berakhirnya rezim pascaperang dan akan meletakkan dasar membangun negara baru."
Perubahan tersebut berlangsung nyaris tanpa sorotan dari Indonesia. Ini menandakan bahwa 'normalisasi' Jepang bukan menjadi masalah di kalangan orang Indonesia.

Walaupun merasakan kejamnya pendudukan militer Jepang 1942-1945, sikap Indonesia terhadap sejarah perang Jepang, jauh lebih lunak dibandingkan sikap China dan Korea. Misalnya, Indonesia tidak pernah mempermasalahkan kunjungan Perdana Menteri Jepang ke Yasukuni.

Penyebabnya adalah:
  • Jepang mengakhiri kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia
  • Banyak pemuda dan pemimpin militer dilatih oleh Jepang
  • Sejak penegakan hubungan diplomatik pada tahun 1958, terbentuk hubungan ekonomi yang sangat dekat antara Indonesia dan Jepang: Jepang membayar perbaikan pascaperang, Jepang menjadi donor terbesar, investor utama, dan pasar penting bagi ekspor Indonesia.
  • Setelah 1965 sampai akhir Perang Dingin, Indonesia berada di kelompok antikomunis yang sama dengan Jepang, memandang China sebagai ancaman luar utama.

Indonesia menyambut hangat dan mendukung misi pertama Pasukan Perdamaian PBB Jepang. Walaupun begitu, Indonesia sebagaimana negara ASEAN lainnya menolak keras gerakan terhadap proyeksi kekuatan militer pertahanan agresif di pihak Jepang.

Indonesia menentang AS agar Jepang memikul sebagian beban keamanan dan meningkatkan patroli laut pada jarak 1000 nautikal mil, dan melawan keikutsertaan langsung Jepang dalam memastikan keamanan navigasi di Selat Malaka. Indonesia, Malaysia dan Singapura hanya akan menerima bantuan finansial dan teknis untuk meningkatkan kemampuan mereka masing-masing. Kekuatan Jepang diproyeksikan di atas pertahanan negaranya sendiri akan dipandang dengan kecurigaan oleh negara-negara Asia Tenggara.

Bagi Indonesia, hubungan segitiga China-Jepang-AS sangat penting untuk keamanan Asia-Pasifik yang lebih luas. Indonesia dan ASEAN sebagai satu kesatuan memilih keteraturan regional multipolar berdasarkan keseimbangan stabil ketiga struktur kekuatan. Jepang dapat bertindak sebagai pengimbang kebangkitan ekonomi militer China. Untuk itu, kebijakan luar negeri Jepang tidak boleh hanya didikte oleh Washington, melainkan harus siap menjadi penengah seandainya ada konflik antara AS dengan China.

Jepang harus memberitahukan negara tetangga termasuk Indonesia mengenai dampak perubahan nama Badan Pertahanan menjadi Kementerian Pertahanan, baik dalam doktrin, strategi dan sikap. Jepang perlu memastikan kepada negara tetangga bahwa menjadi 'normal' tidak berarti kembalinya ideologi militer, ekspansi dan agresi.

Selama Jepang berpegang pada komitmen perdamaian dan kerja sama, kebijakan luar negeri Indonesia tidak akan berubah. Jepang sangat penting bagi Indonesia, terutama dalam bidang ekonomi, dan di masa depan terbuka kemungkinan kerja sama dalam bidang pertahanan, sebagai sumber alternatif perangkat militer yang canggih, apalagi bila ada prospek transfer teknologi.

Rabu, 12 September 2007

Panon Hideung (Rusia)

Setelah bulan lalu puas mengata-ngatai si
Mata Hijau, Hidung Pesek, Pipi Berbintik (dan Rambut Merah..).
Kini, menyambut oom Putin, giliran si
Panon Hideung, Irung Mancung, Pipi Koneng, Putri Bandung.

Ini lagu rakyat Ukraina yang diterjemahkan sebagai lagu Sunda.
Selain lagu ini, Katusha, Kalinka, dst lagu-lagu versi pasukan merah, lumayan asyik untuk menemani bangun tidur saya.

(Btw, sayang mata saya cokelat euy. Sementara soal hidung, teman-teman bilang "Hidung kamu bukannya gak mancung Kan, cuma ketilep pipi kamu yang juga mancung..." Demikianlah jadi tidak bisa mengaku-ngaku memiliki lagu ini. Wahhh kok jadi fisik banget yah bahasan akhir-akhir ini???)



Очи чёрные


blackeyesОчи чёрные, очи жгучие,
Очи страстные и прекрасные,
Как люблю я вас, как боюсь я вас,
Знать увидел вас я не в добрый час.

Очи чёрные, очи пламенны
И монят они в страны дальные,
Где царит любовь, где царит покой,
Где страданья нет, где вражды запрет.

Не встречал бы вас, не страдал бы так,
Я бы прожил жизнь улыбаючись,
Вы сгубили меня очи черные
Унесли на век моё счастье.



Ochi chyornye, ochi zhguchie,
Ochi strastnye i prekrasnye,
Kak lyublyu ya vas, kak boyus' ya vas,
Znat' uvidel vas ya ne v dobryy chas.

Ochi chyornye, ochi plamenny
I monyat oni v strany dal'nye,
Gde tsarit lyubov', gde tsarit pokoy,
Gde stradan'ya net, gde vrazhdy zapret.

Ne vstrechal by vas, ne stradal by tak,
Ya by prozhil zhizn' ulybayuchis',
Vy sgubili menya ochi chernye
Unesli na vek moyo schast'e.

Lay lay lay lay lay lala
Lala lalay lala, lala lalay lala
Lay lay lay lay lay lala
Lala lalay lala, lala lala

Selasa, 11 September 2007

Taufiq Ismail dan Nasionalisme

taufiqMemang tahun ini tahun reuni. Minggu lalu saya menemui Taufiq Ismail (72), berlima dengan rekan kerja.
Sambutan yang cukup heboh bikin geer juga. Dahulu kala di masa balita saya memang sering ikut Ayah, teman seangkatan beliau, mampir meminjam komik Asterix dan majalah National Geographic ke rumah ini. Om Taufiq memperlihatkan kamar tempat saya menumpang dulu, kini telah dihuni oleh cucu pertama beliau.
Apa lagi ya... Oh ya! Chainya enak.

Tujuan utama sebenarnya adalah menemani bos melakukan wawancara bertema nasionalisme alias kebangsaan. Walah, PMP banget yah.

"Hmm, apa ya, sebagai anak usia 13 tahun, rasa kebangsaan itu tidak diajarkan di sekolah, tapi dialami langsung. Saat itu saya naik kapal bermuatan senjata selundupan dari Singapura, menerobos hutan bakau di perairan Sumatra... Begitu mencapai pelataran, terlihat Bendera Merah Putih di sana, rasa haru yang tercurah itulah nasionalisme bagi saya..." dan beliau pun menceritakan pengalamannya seputar masa agresi militer 1948, pengakuan kedaulatan 1949, dst.

Nah kalau pelajaran sejarah tidak mencukupi untuk membangkitkan nostalgia semacam itu di kalangan kaum muda, apakah kita sekarang perlu dijajah lagi, baru bisa nasionalime muncul di dalam kerangka berpikir kaum muda?

"Lho, penjajahan itu kan memang sudah berlangsung. Agen-agennya sangat ramah, penuh senyum menyapa, dan hadir di setiap rumah dalam bentuk kotak serba bisa. Televisi."

Lalu apa yang harus dilakukan agar kita kembali merdeka?

"Sudah banyak rekan-rekan yang bergerak dalam wacana itu, mungkin masih perlu mengerahkan lebih banyak orang lagi."

Bagaimana mengenai lagu kebangsaan yang relatif baru, seperti lagunya Cokelat, misalnya? Apakah rasa yang timbul dari sana bisa diasosiasikan dengan rasa kebangsaan yang dialami seputar perang kemerdekaan dulu?

"Wah, yang seperti apa ya? Saya tidak perhatikan. Nuansa rasa kaum muda memang berbeda dengan kaum tua. Tantangan yang dihadapi juga telah berbeda bentuk. Yah, daripada panjang berteori, mari kita simak apa kata si Toni..." dan mulailah beliau berpuisi.
Dikutip dari MAJOI, halaman 74.


KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS,
LALU KALIAN PAKSA KAMI MASUK MASA PENJAJAHAN BARU,
Kata Si Toni (1998)
...
Kalian paksa-tekankan budaya berutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia

...
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
...
dst (selengkapnya bisa digoogle sendiri tentu)



PS: Pesan sponsor: tolong dicamkan bahwa Taufiq Ismail itu ditulis dengan q seperti akyu, ya, jangan pakai k. Nah, lho, banyak kan yang sering salah?

Rabu, 05 September 2007

Burqini™ dalam Komik

opus0826

Setelah segala masalah karikatur di tahun silam, kini media massa Amerika ceritanya berhati-hati terhadap political correctness dalam komik sehingga memutuskan untuk menarik dua strip Opus tertanggal 26 Agustus dan 3 September. Komik tersebut dianggap menyinggung secara gender dan keagamaan. Karena ingin tahu, saya baca juga. Ternyata salah satunya menyebut-nyebut tentang Burqini™.

opus0903

Baru tahu saya bahwa baju renang semacam itu diberi istilah burqini. Rasanya selama ini --saya juga pernah tulis sebelumnya tentang pakaian semacam itu-- sebutannya cukup baju renang muslimah.

Istilah Burqini™ menjadi tenar ketika muncul kontroversi penjaga pantai muslimah Australia yang mengenakan baju buatan Ahiida ini.
Burqini™ dan kawan-kawan mungkin masih banyak dikecam oleh orang-orang yang merasa bahwa perempuan memang sebaiknya benar-benar dipisahkan. Di sitkom Little Mosque dulu juga salah satu episodenya sempat menampilkan baju ini, sebagai alternatif terakhir tidak adanya kolam renang khusus perempuan.

Yah dari hasil saya menyimak isi kartun di atas, sebagai humor asyik-asyik saja dan cukup seimbang, karena gaya hidup Amerika pun dikecam. Produser Burqini™ sendiri menyukainya dan tidak menganggap komik ini sebagai serangan yang menyinggung. Apalagi dengan begini komik ini jadi promosi penjualan Burqini™ dalam jaringan, kan lumayan. Bagaimana menurut Anda?

Situs Turki: Hasema
Situs Indonesia:Samira, Rafayra
Jilbab khusus olah raga: capsters.com