Selasa, 23 Januari 2007

Ada-ada saja, Nattou Miihaa



Nattou bisa dibilang "Tempe Jepang", dibuat dari kacang kedelai yang dibusukkan dalam bungkusan jerami.
Bahan makanan ini memang yang paling mengundang reaksi ekstrem.
Nattou umumnya merupakan makan pagi rutin sebagai pengganti lauk orang-orang Kantou (daerah timur Jepang: Tokyo dan sekitarnya) dan orang Hokkaido, bisa dirunut sejarahnya sejak sebelum zaman Edo.
Biasa diaduk dengan telur, mustard, shoyu dan daun bawang untuk teman makan nasi, atau dijadikan gunkan sushi atau makizushi.
Sedangkan masyarakat di kampung halaman kedua saya, yaitu Kansai (daerah barat: Osaka, Kyoto dan sekitarnya), umumnya membenci nattou, mungkin karena sumber daya alam melimpah sehingga lebih banyak pilihan bahan makanan lain yang jauh lebih enak. Tetapi mereka terkadang mengonsumsinya juga, karena dianjurkan sebagai menu makanan sekolah sesuai keputusan monbu(kagaku)sho.

Waktu saya di Kyoto, kebetulan ada pengrajin tempe profesional, menjual khusus di masjid dan tempat-tempat bahan makanan impor. Namun karena repot memesan dan mengolah tempe, saya terpaksa mengganti menu dengan nattou, yah sekali seminggu dua minggu. Setidaknya nattou bukan berbau pesing seperti petai atau jengkol, sehingga saya masih bisa tahan walaupun sebenarnya tidak suka. Yang sulit hanyalah ketika meragukan apakah ada tambahan zat yang tidak halal sebagai pengawet atau pelembut.
Ternyata, bahkan sensei (dosen) saya pun mengernyitkan dahi ketika memergoki saya sedang menyantapnya di kantin sekolah.
"Idih, kamu suka nattou? Dengan bau memuakkan begitu, mana benang-benang hifanya lengket menjuntai-juntai seperti ingus pula, menjijikkan! Orang Jepang saja benci, apalagi orang asing."
"Bukan begitu, sebenarnya tetap aneh sih terasa di lidah, tapi kan ini dibela-belain demi keseimbangan gizi, Sensei."


Awal tahun ini, sebuah siaran televisi yang cukup ternama di Jepang, "Hakkutsu: Aru-aru Daijiten II" (Tergali: Ensiklopedia Ada-ada II) mengemukakan penelitian yang mencengangkan:
Bahwa dengan mengonsumsi nattou dua porsi setiap harinya setelah dikocok dan didiamkan selama 20 menit, zat-zat yang terkandung di dalamnya akan meningkatkan metabolisme tubuh sedemikian rupa, menurunkan berat badan 3-4 kilogram hanya dalam dua minggu, dan membuat awet muda!!! Oh betapa idealnya.

It's smelly, slimy and Japan can't get enough...

Setahu saya program siaran ini memang banyak membual. Kalaupun penelitian yang dilakukan memang benar adanya, yang ditayangkan bukanlah dokumentasi penelitian asli, melainkan rekonstruksi yang dibuat-buat khusus untuk acara ini. Saya juga menyangka itu sudah rahasia umum, semua orang tahu. Tetapi, ternyata sekian banyak khalayak percaya dan setia menjadikan siaran ini sebagai referensi.
Terbukti selama dua minggu setelah penayangan tersebut, penjualan nattou meningkat pesat laku keras dan nattou pun dalam sekejap menghilang dari pasaran. Produsen pun pontang-panting tak mampu memenuhi permintaan masyarakat. Mereka berusaha mengingatkan berulang kali, bahwa memang nattou makanan yang sangat sehat, namun bukan merupakan elixir atau panacea yang menimbulkan keajaiban dalam sekejap.

Ternyata, sebelum minggu kedua berakhir, pihak produser, yaitu Kansai Terebi (saluran televisi dari... daerah pembenci nattou) menayangkan mengumumkan permintaan maaf terhadap adanya beberapa kebohongan dalam siaran tanggal 7 Januari tersebut.
Bahwa komentar dari profesor asing ahli nutrisi yang dikutip dalam tayangan tersebut sebenarnya tidak secara spesifik merujuk pada nattou, bahwa foto pengurusan badan "sebelum" dan "sesudah" sebenarnya menampilkan dua orang yang berbeda, bahwa eksperimen yang disebutkan belum pernah dilakukan, dan bahwa angka-angka perubahan metabolisme yang dimunculkan hanyalah rekayasa.
Masyarakat (terutama orang gemuk yang tidak suka nattou tapi nekad bersusah payah mengikuti program diet ini tentunya) kecewa berat. Akhirnya pasaran nattou kacau-balau, harga saham nattou anjlok, orang-orang kebingungan menghabiskan stok nattou yang sudah mereka sembunyikan di dalam kulkas selama beberapa hari terakhir, dan yang paling parah adalah hilangnya kredibilitas media televisi Jepang sebagai sumber informasi absah tepercaya.
Tentunya penayangan Aru-aru pun dihentikan, sponsornya ditarik.

(Wah kalau mengikuti alur 20cb jilid 18, hattori nattou yang sesungguhnya memang berkemampuan super bergizi tinggi, gara-gara namanya tercemarkan akibat pembatalan siaran televisi, akan dendam dan berencana menghancurkan dunia... hahaha arieru wa)

Ada-ada saja. Sudah jelas ARU-ARU itu artinya memang "ada-ada". Dasar para miihaa. Yang jelas saya malah ingin makan nattou lagi! Siapa yang mau menemani???

Sabtu, 20 Januari 2007

Anak-anak Abad 21

Tampaknya memang sedang meluncurkan promosi besar-besaran, Urasawa Naoki kemarin muncul di NHK Professional.

urasawanaoki

Urasawa Naoki, bintang dunia manga, memperoleh dukungan yang luas di seluruh dunia dengan jumlah terbitan di atas seratus juta eksemplar.
Itu adalah karena beliau mengutamakan raut wajah para tokohnya untuk menampilkan perasaan dari lubuk hati yang terdalam, bahkan kalau perlu beliau sendiri memerankan tokohnya, menggambar sambil becermin.
Bersama Nagasaki, sang editor, beliau menyusun cerita khas dari hasil pemikiran masing-masing secara terpisah yang kemudian ditubrukkan satu sama lain untuk diolah kembali. Bahwa pembaca paling kritis adalah dirinya sendiri, beliau berusaha mencapai kepuasan pribadi dalam pekerjaan.
Sampai batas waktu, Urasawa akan meneliti gerak-gerik tokoh manganya secara halus. Kadang-kadang ada juga kejadian harus menggambar ulang. Walaupun berada di papan atas, Urasawa tetap mendengarkan pendapat orang lain agar dapat membuat karya yang mengejutkan diri sendiri.
Teladannya ada dua, Tezuka Osamu (membuka wawasan mengenai kemungkinan manga yang tak terbatas) dan Bob Dylan (cara menapak hidup yang mengagumkan, tak peduli penolakan penonton, tetap bermusik sekehendak hati). Kini, dalam menyelesaikan 20cb, beliau terjepit di antara apa yang ditujunya dan memenuhi harapan pembaca.


Apakah "professional" menurut Urasawa?
Orang yang mempunyai batas waktu. Kemudian, menghadapi batas waktu tersebut ia berjuang sebaik-baiknya...
(Meh... Bukan saya deh)

Lucunya, tayangan ini berjudul: "Kokoro no mama ni, kouya wo ike" (Pergilah ke padang liar dengan sekehendak hati). Ingat di mana? Muncul di baris-baris lagu lama yang baru saja saya catatkan kemarin. Hmmm, mungkin memang lagu itu beken di masa mudanya.

Bab akhir sesungguhnya dari 20th Century Boys yang ditunggu-tunggu, telah muncul secara bertahap.
Tapi... tapiii? Kok ganti judul jadi 21st Century Boys??? Gubraggg...
Berarti yang kemarin itu memang tamat? Padahal begitu dibaca isi ceritanya, masih menyambung dengan baik dengan cerita sebelumnya: Kenji tidak mau lagi memainkan lagu ala Bob Lennon yang heboh itu: guutalala, suudalala...
boblennon

Ternyata dia bernasib sebagaimana kebanyakan seniman lainnya, keasyikan berkarya lupa olahraga! Bahunya pun turun dan ia harus mengikuti perawatan pijat intensif sehingga terpaksa mendiamkan manga ini selama setahun kemarin...
Dan terpaksalah kita bersabar menunggu, siapa sang "teman" di balik topeng? Bagaimana nasib kakaknya Kenji? Berhasilkah usaha sang polisi muda Chouchou? Ada apa di balik replika menara Expo 70 yang menyeramkan itu...?

Yang jelas skenario film tahun depan diawasi langsung oleh Urasawa (ach masa iyaaa), dan semoga saja cerita ini bisa tamat dengan sentausa, tidak telantar di tengah jalan seperti judul terakhir Pemuda Abad 20 Tintin yang kurang lebih mengambil tema sama: gerakan kepercayaan...
(Ngomong-ngomong, dalam dokumenter ini Urasawa tampak memakai dua macam kaos Tintin... Hehehe, gak penting ya?)


Google Video: [NHK] Professional Shigoto no Ryuugi #38

Jumat, 19 Januari 2007

Rabu, 17 Januari 2007

Konjiki Yasha

Januari 17, bila malam mendung, dinamakan "Kanichigumori" (Mendung Kanichi). Tanggal ini tercantum sebagai tanggal peristiwa perpisahan mengharukan di Atami, daerah pantai dekat Tokyo, antara Kanichi dan Omiya, tokoh dalam karya sastra peralihan abad 20, Konjiki Yasha 「金色夜叉」 (apa ya, artinya, setan emas).

Kepada Omiya yang telah mengkhianatinya, Kanichi sang marontis patah hati ini menyumpah: "Ingat, Miya-san, bulan satu tanggal tujuhbelas. Malam ini di tahun depan, aku pasti akan mengaburkan Rembulan dengan air mataku..." Tsah.

Saking tenarnya, sampai berkali-kali dipanggungkan dan difilmkan.

hydomiyakanichihydkonjikiyashaPeristiwa ini pun diabadikan sebagai patung objek wisata (paling?) terkenal di Atami, terletak di samping pohon cemara yang kabarnya telah berganti generasi.

(Btw, entah mengapa, kalau diperhatikan, gaya berpakaian yang lebih beken diadaptasi adalah yang bersandal bakiak dan mantel luar berkibar, ternyata beda dengan gambar di sampul buku asli... Hihihi gak penting kali yah.)

Nah sebenarnya aku gak terlalu paham mengenai literatur jadulnget gini, selain tertarik pada kenyataan bahwa ia adalah karya pergantian abad yang sangat digemari di masanya namun tak sempat diselesaikan oleh sang pengarang asli.

Ceritanya agak-agak ala Siti Nurbaya: Omiya telah bertunangan dengan seorang mahasiswa, Kanichi. Namun terbujuk oleh orangtua untuk menikah dengan orang lain demi harta (dan janji bahwa Kanichi akan disekolahkan?), meninggalkan Kanichi yang patah hati, putus sekolah dan malah membalas dendam dengan menjadi rentenir, melibatkan diri ke dunia uang yang sama sekali dibencinya. Suatu saat Omiya yang hidup sengsara (ditindas suami?) terpaksa meminta bantuan Kanichi...

Novel ini kemudian ditinggal mati oleh sang pengarang, Ozaki Koyo, ketika sedang terbit bersambung di koran, dan dilanjutkan oleh orang lain, namun mungkin kurang disetujui oleh penggemar karena seakan gak nyambung (?)...


Shinichi/Conan (di jilid 39, file 9) ketika menonton drama kisah Konjiki Yasha di televisi, dengan senyum soknya meyakinkan bahwa dalam perihal dirinya dan Ran, kisah mereka takkan tanpa akhir seperti itu... Artinya, lewat tokoh ini sang pengarang Aoyama Gosho juga meyakinkan pembaca bahwa beliau sudah punya cadangan untuk menghadapi hal yang tidak diharapkan?

***
hydscanoIngat ini gara-gara ternyata Hana yori Dango masih belum redup, dan musim ini dikemas lagi dalam seri drama Jepang yang kedua.
Sejujurnya dengan cerita picisan serta grafis kurang artistik, shojo manga ini bukan selera saya, tapi setidaknya ada satu, walaupun hanya satu, ilustrasinya yang cukup menarik hati, terkait dengan episode-episode awal yang melibatkan beberapa tendangan dan latr Atami, terinspirasi dari novel "Konjiki Yasha" tersebut.

Sabtu, 13 Januari 2007

Anak-anak Adam

Ternyata di album foto saya ada ini... Sempat-sempatnyaaa... Sepulang dari Wisata Kemanusiaan, sebuah Perjalanan ke Barat alias Saiyuuki versi pribadi. Wuih gileee kulit kami kelam banget saat itu! Ah gak penting.

adamwingsadamguyz

adamseatadamwindow

Rabu, 10 Januari 2007

Pemuda (Abadi) Abad 20

Kalau yang kemarin itu "anak-anak abad 20", yang ini sih "pemuda (abadi) abad 20".

Membuka-buka kembali koleksi komik yang sudah mulai berjamur... hiks...

22 Mei nanti, sang pengarang, Hergé almarhum dirayakan seabad kelahirannya. Dan hari ini Tintin, "bacaan untuk usia 7 sampai 77 tahun" walaupun telah berusia 78, lewat dari 77 tahun, masih berjaya.

Kabarnya untuk mengawali perayaan besar-besaran ini, Paris menggelar pameran Tintin di Pompidou dari 19 Desember kemarin sampai Februari 2007.

tintin-pompidou

Pameran ini juga menampilkan seorang seniman yang bermasalah, dari waktu ke waktu, dengan keraguan pada diri sendiri, yang menghentikan, mengabaikan atau melanjutkan proyek yang berbeda-beda, dan, yang dalam sebuah surat balasan terhadap pembaca di tahun 1954, menemukan dirinya membela diri bahwa ia menanamkan anti-Semitisme dalam salah satu tokohnya.


tintin-jpPameran berfokus pada karya titik balik pertama Tintin, "Lotus Biru". Ironis, karena ini karya yang memunculkan orang Jepang dan negaranya sebagai peran antagonis.
Untunglah, seperti pernah saya ceritakan juga sebelumnya, Tintin masih diterima orang Jepang, bahkan punya jaringan Tintin.co.jp(sementara Asterix hampir tidak dikenal).
Apakah mereka murni menyukai Tintin, atau kebetulan konsumtif saja?
tokotintin2tokotintin3

Nah, bagaimana dengan Tintin di Indonesia? Lingkaran jurnal tintin.com bulan ini menyebut negeri kita sebagai L'Indonésie: Un Pays Meurtri, merujuk pada kesesuaian gambaran dalam komik Tintin "Penerbangan 714 menuju Sydney" bahwa peristiwa pesawat hilang itu sudah sejak lama memang sering terjadi di Indonesia... Dikaitkan dengan kasus Adam Air, Tsunami 2004, Bom Bali... Otsch!!! Kalau begitu, bagaimana kabarnya para makhluk luar angkasa yang mendarat di kepulauan Sumba, ya?

tintin indonesia


Selasa, 09 Januari 2007

Subaru ・昴

Menanggapi permintaan tamu di papan jeritan, jadi ingat semboyan sebuah restoran hidangan laut yang akhir-akhir ini sering jadi tempat traktiran kantor "harga kaki lima, selera bintang lima" digambarkan dengan lima kaki dan lima bintang berderet...
Dan kejadian bulan lalu, waktu Anggun membahas tempat penyelenggaraan sebuah acara ke bagian umum.
"Berarti ini harga hotel bintang lima ya, bagaimana kalau kita pakai hotel bintang tujuh, harganya jadi berapa?"
"Idih neng, mana ada hotel bintang tujuh! Obat pusing, kali!"
... XD XD XD ...


subaruNah, Subaru adalah bahasa Jepangnya gugus Pleiades alias Seven Sisters, kelompok bintang di rasi Taurus yang disebut "Bintang Tujuh (bidadari)" putri-putri Atlas dan Pleione.

Kabarnya orang Jawa menyebutnya "Lintang Kartika" yang berarti bintangnya bintang.

Ada pula yang menyambungkan dengan kisah Jaka Tarub dan Nawangwulan ataupun tarian Bedhaya Ketawang walaupun belum ada bukti tertulis yang jelas menunjukkan keterkaitannya.

Karena seakan-akan terangkai dengan kuat, diasosiasikan dengan pengendalian kekuasaan, mirip mahkota kali ya sehingga acap disebut "Bintang Raja".

(Hokuto Sichisei dihitung bintang tujuh juga tapi kan Ursa Major alias Great Bear, lebih dikenal sebagai "Bintang Biduk" ya?)

Mungkin yang menanyakan tersasar ke sini karena kata "Subaru" tercantum dalam lirik lagu lain yang saya gemari, Chijou no Hoshi:
(kaze no naka no subaru = bintang tujuh di dalam angin)

Tapi lagu yang memang berjudul Subaru kebetulan saya lumayan tahu juga, gara-gara keseringan menemani para kakek-kakek karaoke.

Menilik liriknya mungkin tentang pemuda sakit paru-paru, kesasar saat meniti jalan hidup (???)
Kabarnya lumayan beken di masa saya bayi, sebagai pengiring iklan mobil (???)

Nadanya bisa didengar dari sini.


"Subaru" oleh Tanimura Shinji (1980)



目を閉じて 何も見えず  Me wo tojite nani mo miezu
哀しくて 目を開ければ  Kanashikute me wo akereba
荒野に 向かう道より  Kouya ni mukau michi yori
ほかに 見えるものはなし  Hoka ni mieru mono ha nashi

Menutup mata, tak terlihat apa-apa
Karena sedih mata dibuka
Selain jalan menuju padang liar
Tak ada benda lain yang dapat dilihat



嗚呼 砕け散る  A-a... kudake chiru
運命の 星たちよ  Sadame no hoshi tachi yo
せめて 密やかに  Semete hisoyaka ni
この身を 照らせよ  Kono mi wo terase yo

Wahai... bintang-bintang nasib yang hancur berkeping-keping
Setidaknya, terangilah diri ini diam-diam



我は行く  Ware ha yuku
蒼白き頬のままで  Aojiroki hoho no mama de
我は行く  Ware ha yuku
さらば昴よ   Saraba subaru yo

Kami berjalan, dengan pipi yang pucat kebiruan
Kami berjalan, selamat tinggal Bintang Tujuh



呼吸をすれば 胸の中  Iki wo sureba mune no naka
凩は 吠き続ける  Kogarashi ha nakitsuzukeru
されど 我が胸は熱く  Saredo waga mune ha atsuku
夢を 追い続けるなり  Yume wo oitsuzukeru nari

Kalau menghirup nafas ke dalam dada
Angin kutub terus bertiup
Namun dadaku terasa panas
Karena terus mengejar mimpi



嗚呼 さんざめく  A-a... sanzameku
名も無き 星たちよ  Na mo naki hoshi tachi yo
せめて 鮮やかに  Semete azayaka ni
その身を 終われよ  Sono mi wo oware yo

Wahai... bintang-bintang yang bertebaran tanpa nama
Setidaknya, akhirilah diri itu dengan gemilang



我も行く  Ware mo yuku
心の命ずるままに  Kokoro no meizuru mama ni
我も行く  Ware mo yuku
さらば昴よ  Saraba subaru yo

Kami berjalan, dengan sekehendak lubuk hati
Kami berjalan, selamat tinggal Bintang Tujuh


(N.B.: Selamat ulang tahun Professor Snape: hihihi, gak penting yah?)

Rabu, 03 Januari 2007

Shoshin Wasurubekarazu


      忘   初

      る   心

      べ

      か

      ら

      ず


Jangan biarkan diri merasa puas ketika memperoleh rasa percaya diri karena mulai terbiasa atau bertambah ahli terhadap sesuatu hal.

(Zeami)

Senin, 01 Januari 2007

Dua Jagoan Hijau

Heuheuheuh... Gambar yang cukup menyenangkan selama liburan kali ini.

piccolozoro

Keran dan Kaki

Keran


Entah apa yang terjadi, dua minggu terakhir ini kehidupan saya dihebohkan oleh keran patah. Pertama, sekitar seminggu sebelum natalan, di suatu shubuh ketika akan mematikan keran kamar mandi di kontrakan, kenop pemutarnya copot. Memang keran murahan, dari plastik, warnanya hijau pula, sangat tidak sesuai dengan warna keramik bak yang merah jambu. Untung saja, saya masih bisa memanfaatkan limpahan air untuk mencuci semua baju, mengepel seluruh pelosok lantai, sampai dua jam kemudian putranya ibu pemilik rumah sempat mampir untuk segera mengganti keran tersebut dengan... keran murahan berjenis sama, plastik biru muda. Walaupun masih tidak sesuai dengan keramik merah jambu itu, setidaknya sewarna dengan gayung saya yang berwarna biru (?!!!?)
Satu-satunya yang membingungkan, sekarang keran tersebut harus diputar ke arah kiri berlawanan arah jarum jam untuk menutup, dan ke kanan searah jarum jam untuk membuka. Apakah untuk meledek saya yang kidal?

Lalu tadi sore malam tahun baru, ketika hendak mengambil wudhu di keran bawah kamar mandi, hanya salah pelintir sedikit, tiba-tiba patah sak pipa-pipanya. Padahal tampaknya keran tersebut terbuat dari baja yang cukup kokoh. Karena terlanjur hari libur, terpaksa menunggu besok lusa untuk membetulkannya, dan sementara itu seluruh saluran air terpaksa ditutup untuk menghindari lelehan sia-sia karena sulit menyumbatnya.
Ada apa yaaa, dengan keran-keran sialan ini...

Kaki


Entah karma menertawakan bapak-bapak yang asam urat gara-gara senam aerobik di puncak, atau tele-empati terhadap teman SMA yang patah kaki gara-gara sepak bola (??)
Kemarin-kemarin ini saya terpelitek di tengah hujan, tiba-tiba kaki mendarat di tempat yang salah dan mengakibatkan benjol bengkakan di sekitar mata kaki dan pergelangan. Hanya merasa lemas sesaat, namun segera beranjak menyeret itu kaki, dan berusaha mencukupkan pengobatan hanya dengan parutan biji pala, counterpain, thrombophob.
Ternyata tidak berhenti sampai di situ. Beberapa hari kemudian, ketika sedang menjemput adik di tempat kerjanya, mata kaki pun belum berhenti bengkak, ternyata satu anak tangga ke lantai dua berbeda beberapa senti jaraknya dari yang lain, dan saya pun kehilangan keseimbangan dan sepasang tulang kering terantuk di beberapa tempat sejarak anak-anak tangga tersebut... Hiks dan bukan hanya menghijau, ini mah menghitam...
Belum lagi cakaran kucing-kucing yang menganggap kaki saya adalah pohon untuk dipanjati (tapi kalau luka-luka yang ini sih diterima dengan rela...)